Tasybih dalam Ilmu Bayan: Pengertian, Rukun dan Jenisnya

Must Read

Huruf yang diucapakan namun tidak ditulis (ينطق ولا يكتب)

Bismillahirahmanirahim. Sambungan dari materi sebelumnya tentang 'Huruf Yang Ditulis Namun Tidak Diucapkan'. Sekarang kabalikanya yaitu 'diucapkan namun tidak ditulis'. Diantara...

Huruf yang ditulis namun tidak dibaca (يكتب ولا ينطق)

Dalam kaidah imla, terdapat huruf-huruf yang ditulis namun tidak diucapkan (ما يكتب ولا ينطق). Diantara huruf tersebut yang paling...

Perbedaan Hamzah Qatha’ dan Washal (همزة القطع والوصل)

Bisamillahirahmanirahim. Materi kaidah imla (penulisan) yang berkaitan dengan hamzah qatha' dan hamzah washal. Mengetahui kedua hamzah ini sangat penting...

4.7
(3)

Pengertian, Jenis & Rukun Tasybih

Seperti yang kita kaji di pembahasan sebelumnya dalam Ilmu Bayan dan Tiga Obyek Pembahasannya kita mengenal tiga pokok pembahasan dalam ilmu Bayan. Pada pembahasan kali ini kita akan membahas mengenai tasybih dalam ilmu Bayan. Pembahasan kali ini meliputi pengertian, rukun dan jenisnya. Namun pada tulisan ini kita tidak akan membahas keseluruhan jenisnya tapi hanya berdasarkan subjek dan pembandingnya (Musyabbah dan Musyabbah bih). Untuk memulai pembahasan mari kita telaah pengertian dan unsur dari tasybih.

Pengertian dan Unsurnya

Tasybih merupakan salah satu cara dalam menyampaikan sebuah makna sebuah gagasan. Secara bahasa tasybih bermakna tamsili yang kita artikan dengan penyerupaan atau perumpamaan. Sementara menurut ulama Bayan, tasybih adalah suatu istilah yang didalamnya terdapat pengertian penyerupaan atau keterikatan makna antara dua perkara (Musyabbah dan Musyabbah bih). Sementara makna yang mengikat keduanya kita kenal sebagai, Wajh al-Syibh. Lalu kata sambung antara dua perkara itu disebut, adat tasybih.

Tasybih termasuk dalam Ilmu Bayan merupakan teknik menjelaskan suatu makna dan saran untuk menjelaskan suatu sifat. Dengan menggunakan tasybih kita dapat memperjelas suatu makna yang tidak dapat diinderakan. Untuk lebih jelasnya ada tidak bentuk perumpamaan dalam tasybih:

  1. Perumpamaan sesuatu yang tidak dapat diindra dengan sesuatu yang dapat diindera.
  2. Mengungkapkan sesuatu yang tidak pernah terjadi dengan mempersamakannya dengan sesuatu yang terjadi.
  3. Mengungkapkan sesuatu yang tidak jelas dengan mempersamakannya dengan sesuatu yang jelas.

Untuk lebih jelasnya mari kita perhatikan misal sederhana dari Tasybih:

العلم كاالنور في الهداية

Ilmu bagaikan cahaya yang memberi petunjuk

Maka العلم adalah subjek (Musyabbah), النور adalah pembandingnya (Musabbah bih), ك kata sambung (adat tasybih), dan في الهداية makna yang mengikat dua perkara itu (Wajh al-Syibh). Dalam tasybih ini kita melihat bahwa yang berbicara mengungkapkan sesuatu yang tidak dapat diindra (العلم) ilmu dengan sesuatu yang dapat diindra  (النور) cahaya. Sehingga membuat pendengar mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai subjek utama yang disampaikan.

Dari contoh di atas dapat kita intisarikan bahwa suatu ungkapan dinamakan tasybih jika memenuhui syarat-syaratnya. Di antara unsur-unsur tasybih:

  1. Musyabbah, yaitu subjek yang hendak diserupakan.
  2. Musyabbah bih, yaitu suatu yang diserupai.

Kedua unsur di atas disebut tharafai al-tasybih.

  1. Wajh al-Syibh, yaitu sifat yang terdapat pada kedua pihak itu.
  2. Adat tasybih, yaitu huruf atau kata sambung antara dua perkara yang diserupakan.

Jenisnya berdasarkan Subjek dan Pembandingnya (Musyabbah dan Musyabbah bih)

Pembagian pertama berdasarkan Hissi dan Aqli atau pengindraannya. Adalah perumpamaan yang dapat dirasakan oleh salah satu dari indra manusia ataupun tidak dapat tapi bisa dinalar oleh akal manusia, seperti:

أنت كالشمس في الضياء

Engkau bercahaya bagaikan matahari.

Pada contoh di atas seseorang mengibaratkan lawan bicaranya seperti matahari yang bersinar. Baik subjek (musyabbah) maupun pembandingnya (muyabbah bih) dapat dindrakan dalam artian cahaya dapa dilihat dengan mata manusia. Sedangkan dalam misal lainnya, seperti:

العلم كالحياة

Ilmu itu bagaikan kehidupan

Sementara pada contoh kedua, baik subjek (musyabbah) maupun pembandingnya (musyabbah bih) tidak dapat dirasakan oleh indra manusia secara langsung. Namun hanya dapat dinalar oleh akal. Selanjutnya pada contoh:

طبيب السوء كالموت

Dokter yang jahat bagaikan kematian

Pada contoh ketiga kita dapat melihat bahwa subjek (musyabbah) dapat kita ketahui secara langsung dengan indera kita. Sementara pembandingnya tidak.

العلم كاالنور في الهداية

Ilmu bagaikan cahaya yang memberi petunjuk

Di contoh terkahir, subjek (musyabbah) tidak bisa ketahui dengan indra kita. Namun pembandingnya yaitu النور dapat kita lihat dengan mata kita.

Pembagian kedua berdasarkan mufrad dan murakkabnya , baik keduanya merupakan satu kata tunggal atau pun salah satunya adalah kalimat. Untuk lebih jelasnya mari kita telaah beberapa contoh berikut:

  1. Perumpamaan sesuatu yang mufrad (bentuk tunggal) dengan mufrad pula

Keduanya bentuk mufrad yang mutlak (tanpa qoyyid)

ضوؤه كالشمس

Cahayanya bagaikan Matahari

Baik subjek (musyabbah) maupun pembanding (musyabbah bih) terdiri dari kata tunggal ataupun kata majemuk yaitu ضوؤه (cahayanya) dan شمس (matahari).

Keduanya muqoyyad

الساعي بغير طائل كالراقم علي الماء

Orang yang berusaha dengan hal yang tiada faedahnya, seperti orang yang menulis diatas air.

Dapat diketahui bahwa bentuk taqyid diantaranya bisa dibentuk dengan idhafah, sifat, maful bih, hal, zharaf atau dengan lainnya, dan disyaratkan dalam qayyid itu hendaknya mempunyai pengaruh dan kesan pada wajah shabah.

Keduanya berbeda

كاللؤلؤ المنظوم ثغره

Gigi depannya seperti mutiara yang dirangkai.

  1. Perumpamaan Murakab dengan Murakkab

Selanjutnya tasybih yang terdiri dari kalimat  yang tidak terpisahkan:

كأنَ سُهيلاُ و النجُومُ وَرَاءَهُ # صُفُوفُ صَلاة قامَ فِيها إمامُها

Bintang Kanopus dan bintang dibelakangnya bagaikan shaf shalat dengan imam didepannya.

Dalam perumpamaan ini apabila susunannya diubah, maka makna dari tasybihnya pun akan berubah. Jadi satu bagian dengan bagian lainnya adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

  1. Perumpamaan Mufrad dengan Murakkab

وكأن محمر الشقي  #  ىق إذا تصوب أو تصعد

أعلام ياقوت نشر  #  ىن علي رماج من زبرجد

Seolah-olah bunga yang merah, tatkala condong ke bawah atau ke atas, laksana bendera bendera yaqut yang dikibarkan di atas tombak-tombak dari zabarjad.

Pada syair di atas ada penyerupaan bunga mawar dengan bendera yakut yang dibentang diatas ujung tombak dari Zabarjad. Wajah shabahnya ialah keadaan yang membuktikan suatu keadaan yang membuktikan suatu keindahan yang sama-sama elok kelihatannya.

  1. Perumpamaan Murakkab dengan mufrad, Seperti contoh

الماء المالح كالسم

Air yang asin itu seperti racun

Pembagian ketiga, berdasarkan dari musyabbah dan musyabbah bih dari segi bilangnya. Dalam pembagian ini setidaknya ada empat pembagian yaitu: malfuf, mafruq, taswiyah dan jamak. Untuk lebih jelasnya mari kita telaah keempat pembagiannya beserta contohnya.

1. Tasybih Malfuf

Maksudnya mendatangkan beberapa musyabbah terlebih dahulu dengan menggunakan huruf athaf atau sebagainya, lalu musyabbah bih-nya atau sebaliknya. Atau bisa diartikan :

جمع كل طرف منهما مع مثله، كجمع المشبه مع المشبه و المشبه به مع المشبه به بحيث يؤتى بالمشبهات اولا، ثم بالمشبهات بها ثانيا

Mengumpulkan masing-masing ujung keduanya dengan semisalnya, seperti mengumpulkan musyabbah dengan musyabbah, dan musyabbah bih dengan musyabbah bih. Gambarannya adalah pertama kali mengemukakan beberapa musyabbah, lalu selanjutnya menghadirkan beberapa musyabbah bih.

Seperti mensifati burung elang yang suka memangsa burung lain, sebagaimana dalam syi’ir dibawah ini :

كأن القلوب الطير رطبا ويابسا  #  لدى وكرها العناب والخشف البالي

Hati-hati burung dalam keadaan basah dan kering di dalam sarangnya, tampak seperti anggur dan kurma busuk.

2. Tasybih Mafruq

Maksudnya adalah mendatangkan musyabbah dan musyabbah bih lalu musyabbah dan musyabbah bih lainnya, atau bisa diartikan :

جمع كل مشبه مع ما شبه به

Mengumpulkan setiap musyabbah bersama musyabbah bih. Seperti ucapan penyair :

النثرمسك والوجوه دنا  #  نير وأطراف الأكف عنم

Semerbak bau harum wanita itu laksana minyak kasturi, dan wajah-wajah sepeerti dinar, dan jari-jarinya seperti dahan pohon merah yang halus (pohon anam).

3. Tasybih Taswiyah

Yaitu berbilangnya musyabbah bukan pada musyabbah bih-nya, contoh :

صدغ الحبيب وحالي  #  كلاهما كالليالي

Rambut kekasih yang terurai ke pelipis dan keadaanku, keduannya laksana beberapa malam

4. Tasybih Jamak

Yaitu berbilangnya musyabbah bih bukan pada musyabbah nya, contoh :

كأنما يبسم عن لؤلؤ # منضد أو برد أو أقاح

Seolah-olah kekasih tersenyum dengan menampakkan gigi seperti mutiara yang dirangkai rapi, atau seperti hujan air beku atau bunga uqhuwan.

Bunga ukhuwan yaitu bunga yang tumbuh semerbak baunya yang dikelilingi daun putih dan ditengahnya berwarna kuning.

Sekian penjelasan mengenai tasybih dalam ilmu Bayan. Pada tulisan selanjutnya kita akan membahas jenis-jenis tasybih lebih lengkap.

Lihat referensi:

  • Jawahirul Balaghah, karya Syekh Sayyid Ahmad Al-Hasyimi, hal 216-230

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 4.7 / 5. Vote count: 3

No votes so far! Be the first to rate this post.

Recomended

Saling Membantu Dengan Sesama (Cerpen Anak B. Arab)

مُسَاعَدَةُ الآخَرِيْنَ Membantu Orang Lain اِجْتَمَعَتِ الأُسْرَةُ عَلَى مَائِدَةِ الطَّعَامِ لِتَنَاوُلِ الْغَذَاءِ. الأَطْعِمَةُ كَثِيْرَةٌ تَزِيْدُ عَنْ حَاجَةِ الأُسْرَةِ Sebuah keluarga sudah berkumpul di meja makan untuk menyantap...

Cara Pembentukan Mashdar

Apa itu Mashdar...?  :قال ابن مالك اَلْمَصْدَرُ اسْمُ مَا سِوَى الزَّمَانِ مِنْ # مَدْلُولَيِ الْفِعْلِ كَأَمْنٍ مِنْ أَمِنْ # بِمِثْلِهِ أَوْ فِعْلٍ أوْ وَصْفٍ نُصِبْ # وَكَوْنُهُ أَصْلاً لِهذَيْنِ انْتُخِبْ Definisi...

Pengertian Kalam Dalam Kitab (تيسير قواعد النحو وألفية ابن مالك)

بسم الله الرحمن الرحيم رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّن لِّسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي أيُّها الأصدقاء و الأحبة في الله، إن شاء اللّه...

Cara Meningkatkan Kemampuan Bahasa Arab

بسم الله الرحمن الرحيم Lanjutan cerita sebelumnya, Teknik Belajar Bahasa Arab Masih cerita ketika masa kuliah di Bandung selang beberapa bulan pasca bertemu Sang Motivator. Bahasa...

Tinggalkan Komentar

Latest News

Huruf yang diucapakan namun tidak ditulis (ينطق ولا يكتب)

Bismillahirahmanirahim. Sambungan dari materi sebelumnya tentang 'Huruf Yang Ditulis Namun Tidak Diucapkan'. Sekarang kabalikanya yaitu 'diucapkan namun tidak ditulis'. Diantara...

Huruf yang ditulis namun tidak dibaca (يكتب ولا ينطق)

Dalam kaidah imla, terdapat huruf-huruf yang ditulis namun tidak diucapkan (ما يكتب ولا ينطق). Diantara huruf tersebut yang paling...

Definisi Kalam Khabari (الكلام الخبري) Fungsi dan Tujuanya

Objek pembahasan pertama ilmu ma'ani yaitu ahwal isnad al-khabari (أحوال الإسناد الخبري) yaitu berkaitan dengan suatu kalimat khabari (berita/informasi). Lihat artikel sebelumnya: 8 Objek...

Orang yang memberi banyak tidak pelit sedikit

الَّذِي يُعْطِي الكَثِيْرَ لاَ يَبْخَلُ بِالقَلِيْلِ Orang yang memberi banyak tidak pelit apalagi sedikit  كَانَ مِنْ عَادَةِ جُحَا أَنْ يدْعُوَ اللَّهَ عِنْدَ كُلِّ صَلاةٍ وَيَطْلُبَ مِنْهُ...

Mengetahui Kata kerja Perintah (Fi’il ‘Amr)

KATA KERJA PERINTAH فعل الأمر Bentuk redaksi perintah didalam Bahasa Arab terdapat 4 bentuk antara lain: الأمر / الطلب يأتي بأربعة صيغٍ 1. Dengan redaksi bentuk Fi'il Amr...

Cara Penulisan Isim Maa ما Istifham jika didahului huruf jar

Membuang Huruf Alif dari لِمَا dan عَمَّا Pertanyaan dari Ukhty 'Arfah via whatsapp Pertanyaan Pertama: Kenapa huruf Alif dibuang dari Isim ما istifham yang seharusnya عَمَّا...

Sponsored Articles

More Articles Like This