Peristiwa Dibalik Bukit Gunung Uhud

Must Read

Huruf yang diucapakan namun tidak ditulis (ينطق ولا يكتب)

Bismillahirahmanirahim. Sambungan dari materi sebelumnya tentang 'Huruf Yang Ditulis Namun Tidak Diucapkan'. Sekarang kabalikanya yaitu 'diucapkan namun tidak ditulis'. Diantara...

Huruf yang ditulis namun tidak dibaca (يكتب ولا ينطق)

Dalam kaidah imla, terdapat huruf-huruf yang ditulis namun tidak diucapkan (ما يكتب ولا ينطق). Diantara huruf tersebut yang paling...

Perbedaan Hamzah Qatha’ dan Washal (همزة القطع والوصل)

Bisamillahirahmanirahim. Materi kaidah imla (penulisan) yang berkaitan dengan hamzah qatha' dan hamzah washal. Mengetahui kedua hamzah ini sangat penting...
TMBAhttps://bahasa-arab.com/
Belajar Bahasa Arab tidak semudah membalikan telapak tangan, butuh keseriusan dan istiqomah. Namun tidak ada kata terlambat jika kita ingin ingin mempelajarinya.

5
(15)

Belajar mengharokati dan terjemah ini disampaikan melalui group whatsapp dan Telegram TMBA.

مِنْ دُوْنِ أُحُدٍ

Peristiwa Dibalik Bukit Gunung Uhud

خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى الله عليه وسلّم إِلَى بَدْرٍ لِقِتَالِ الْمُشْرِكِيْنَ وَخَرَجَ مَعَهُ مَنْ حَضَرَ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ. خَرَجَ رَسُولُ ﷺ وَثَلاَثُ مِائَةٍ وَبِضْعَةُ عَشَرَ مِنْ أَصْحَابِهِ

Rasulullah ﷺ keluar menuju perang Badar untuk bertempur dengan kaum musyrikin. Beliau berangkat bersama sebagian kecil pasukan Muslimin yang berjumlah 313.uu

وَلَمْ يَعْلَمْ بِذٰلِكَ كَثِيْرٌ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ, خَرَجَ بَعْضُ الْمُسْلِمِيْنَ يَرْعَى إِبِلَهُ وَخَرَجَ بَعْضُهُمْ يَسْقِي زَرْعَهُمْ وَخَرَجَ بَعْضُهُمْ يَحْرُسُ بُسْتَانَهُ وَخَرَجَ بَعْضُهُمْ يَفْتَحُ دُكَّانَهُ

Mayoritas kaum Muslimin tidak ui hal ini. Dengan begitu, mereka ada yang keluar hanya untuk mengembala unta, menyiram tanaman, mencangkul dan ada pula yang membuka tokonya.

وَانْتَشَرُوْا فِي حَاجَاتِهِمْ لأَنَّهُمْ أَهْلُ جِدٍّ وَشُغُلٍ
وَلاَيَعْرِفُوْنَ أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ ﷺ خَارِجٌ إِلَى بَدْرٍ وَذَهَبَ أَنَسُ ابْنُ النَّضَرِ لِبَعْضِ شَأْنِهِ وَلاَ يَدْرِى أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ ﷺ خَارِجٌ اليَوْمَ إِلَى بَدْرٍ، لَوْ عَرَفَ الرَّجُلُ ذٰلِكَ لَمّا فَارَقَ رَسُوْلَ اللَّهِ ﷺ وَ لَمّا بَرَحَ مَجْلِسَهُ ذٰلِكَ اليَوْمِ. إِنَّهُ كَانَ حَارِيْصًا عَلَى الْجِهَادِ فِي سَبِيْلِ اللَّهِ. إِنَّهُ كَانَ حَارِيْصًا عَلَى الشَّهَادَةِ فِي سَبِيْلِ اللَّهِ

Mereka bertebaran untuk memenuhi keperluan sehari-hari sebab mereka orang-orang giat pekerja keras. Begitu juga dengan seorang pemuda bernama Anas Bin Nadhar dia pergi dengan kesibukanya tanpa mengetahui jika Rasulullah ﷺ hari ini keluar menuju perang Badar. Seandainya lelaki ini mengetahuinya, tentu dia tidak ingin berpisah dengan Rasulullah dan tidak meninggalkan majlis pada hari itu sebab dia berkeinginan berat untuk mati syahid di jalan Allah Ta’ala.

نَصَرَ اللَّهُ الْمُسْلِمِيْنَ فِي بَدْرٍ فَهَزَمُوْا الْمُشْرِكِيْنَ شَرَّ هَزِيْمَةٍ، وَاَمَدَّ اللَّهُ الْمُسْلِمِيْنَ بِأَلْفٍ مِنَ المَلاَئِكَةِ مُرْدَفِيْنَ. قَتَلَ الْمُسْلِمُوْنَ سَبْعِيْنَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ وَأَسَرُوْا مِنْهُمْ سَبْعِيْنَ وَقُتِلَ أَبُوْ جَهْلٍ بْنُ هِشَامٍ وَعُتْبَةُ بْنُ رَبِيْعَةَ وَقُتِلَ وَلِيْدُ بن عتبة وَ شَيْبَةُ بن ربيعة

Pada peristiwa perang Badar, Prajurit Muslimin berhasil menghancurkan pertahanan Prajurit Musyrikin dengan pertolongan Allah Ta’ala sampai formasi mereka kacau bercerai-berai. Allah Ta’ala melengkapi pasukan Muslimin dengan duyunan seribu Malaikat. Prajurit Muslim berhasil membunuh 70 Prajurit Musyrik termasuk Abu Jahal Bin Hisyam, ‘Utbah Bin Rabi’ah, Walid Bin ‘Utbah dan Syaibah Bin Rabi’ah dan 70 Prajurita lainya berhasil disandra.

كَانَ يَوْمُ بَدْرٍ يَوْمَ الْفُرْقَانِ وَ كَانَ يَوْمًا عَلَى الكَافِرِيْنَ عَسِيْرًا. رَضِيٕ اللَّهُ عَنْ أَصْحَابِ بَدْرٍ وَآتَاهُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَأَجْرًا كَبِيْرًا

Perang Badar disebut dengan hari Furqan dan hari paling sulit bagi orang-orang kafir. Semoga Allah Ta’ala meridhoi, mengampuni dan memberikan pahala besar kepada para prajurit Muslimin perang Badar

وَلَمَّا عَلِمَ أَنَسُ ابْنُ النَّضَرِ أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ ﷺ خَرَجَ إِلَى بَدْرٍ وَقَاتَلَ الْمُشْرِكِيْنَ وَمَعَهُ بَعْضُ الْمُسْلِمِيْنَ، وَعَلِمَ أَنَّ يَوْمَ بَدْرٍ كَانَ يَوْمَ الْفُرْقَانِ. يَوْمًا فَرَّقَ بَيْنَ أَوْلِيَاءِ الرَّحْمٰنِ وَ أَوْلِيَاءِ الشَّيْطَانِ. يَوْمًا ابْيَضَّتْ فِيْهِ وُجُوْهُ الْمُسْلِمِيْنَ وَاسْوَدَّتْ وُجُوْهُ الْمُشْرِكِيْنَ

Tatkala Anas Bin Nadhar mengetahui kepergian Rasulullah ﷺ dengan sebagian kecil kaum muslimin menuju perang Badar untuk bertempur dengan kaum Musyrikin dan dia juga mengetahui bahwa perang Badar ini merupakan hari furqan (Hari pemisah antara penolong Allah dan Syaitan), (Hari dimana wajah kaum Muslimin putih berseri dan wajah kaum Musyrikin hitam muram).

حَزِنَ أَنَسُ ابْنُ النَّضَرِ عَلَى غَيْبَتِهِ حُزْنًا شَدِيْدًا. وَجَاءَ إِلَى رَسُوْلِ اللَّهِ ﷺ مُتَأَسِفًا حَزِيْنًا وَقَالَ لَهُ :” يَا رَسُوْلَ اللَّهِ غِبْتُ عَنْ أَوَّلِ قِتَالٍ قَاتَلْتَ الْمُشْرِكِيْنَ، لئن اللَّهُ أَشْهَدَنِي قِتَالَ الْمُشْرِكِيْنَ لَيَرَيَنَّ اللَّهُ مَا أَصْنَعُ

Anas Bin Nadhar sangat sedih atas ketidakhadiranya lalu dia mendatangi Rasulullah ﷺ dengan penuh penyesalan dan kesedihan. “Wahai Rasulullah ﷺ Hamba tidak mengikuti pertempuran bersama Engkau melawan orang-orang Musyrikin, seandainya Allah Ta’ala mempersaksikan hamba bertempur dengan kaum Musyrikin, tentu akan melihat apa yang akan hamba perbuat kepada mereka”.

قَالَ أَنَسٌ ذٰلِكَ بِصَوْتٍ فِيْهِ الْحَزْنُ وَ فِيْهِ الشَّجَاعَةُ وَ فِيْهِ الإِيْمَانُ وَ فِيْهِ التَّوَكُّلُ عَلَى اللَّهِ. بَقِيَ أَنَسٌ يَنْتَظِرُ ذٰلِكَ اليَوْمَ الَّذْي يَشْفِي فِيْهِ نَفْسَهُ. بَقِيَ أَنَسٌ لَا يَطِيْبُ لَهُ طَعَامٌ وَلاَ شَرَابٌ وَلاَ يَسْكُنُ إِلى أَهْلٍ وَلاَ أَصْحَابٍ

Anas berkata demikian dengan suara penuh kesedihan, keberanian, keimanan dan tawakkal kepada Allah Ta’ala. Anas tetap menunggu hari itu yang hanya bisa mengobati dirinya. Dia merasa tidak enak makan dan minum, tidak menetap kepada keluarga dan juga sahabat-sahabat.

رَجَعَ الْمُشْرِكُوْنَ مِنْ بَدْرٍ وَقَدْ قُتِلَ مِنْهُمْ سَبْعُوْنَ وَأُسِرَ مِنْهُمْ سَبْعُوْنَ، وَرَجَعُوْا إِلَى مَكَّةَ وَقَدْ أَظْلَمَتْ لَهُمُ الدُّنْيَا وَضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الأَرْضُ. رَجَعُوْا إِلَى مَكَّةَ لاَ يَرْفَعُوْنَ رُؤُوْسَهُمْ مِنَ الخَجَلِ، لَقَدْ هُزِمُوْا منْكَرَةً فِي بَدْرٍ

Selepas pertempuran Badar yang menewaskan 70 tentara dan 70 lainya ditawan, Kaum Musyrikin kembali ke Makkah. Dunia terasa gelap bagi dan bumi terasa sempit bagi mereka. Mereka pulang ke Makkah menundukan kepala dari rasa malu atas kekalahan di Medan Badar.

مَاذَا يَقُوْلُ النَّاسُ عَنْ قُرَيْشٍ؟ لَقَدْ هَزَمَ ثَلاَثُ مِائَةٍ وَثَلاَثَةُ عَشَرَ رَجُلاّ أَلْفَ فَارسٍ مِنْ قُرَيْشٍ، أَيْنَ الَّذِي كُنَّا نَسْمَعُهُ مِنْ شَجَاعَةِ قُرَيْشٍ وَمِنْ فُرُوْسِيَةِ قُرَيْشٍ وَمِنْ عِزَّةِ قُرَيْشٍ، وَكَيْفَ تُوَاجِهُ قُرَيْشٌ، وَكَيْفَ يَخْفَى مِثْلُ بَدْرٍ عَلى النَّاسِ، وَكَيْفَ يَخْفَى قَتْلُ أَبِي جَهْلٍ وَقَتْلُ عُتْبَةَ عَلَى الْقَبَائِلِ

Apa yang akan dikatakan orang-orang tentang Qurais? Pasukan Muslimin yang hanya berjumlah 313 saja berhasil mengalahkan 1000 pasukan berkuda. Mana apa yang kita dengar dari keberanian orang-orang Qurais dan pasukan kavalerinya ? Mana kehormatan Qurais yang selama itu mereka dengungkan? Bagaimana Mereka menghadapi kenyataan ini? Bagaimana pertempuran seperti Badar bisa tersembunyi dari orang-orang? Bagaimana dengan matinya Abu Jahal, ‘Utbah dan kawan-kawan bisa menjadi sebuah rahasiah bagi Qabilah mereka

عَزَمَتْ قُرَيْشٌ عَلى أَنْ تَخْرُجَ مِنْ هٰذِهِ الْمُشْكِلَةِ، عَزَمَتْ عَلى أَنْ تَأْخُذَ ثَأْرَ بَدْرٍ وَ عَزَمَتْ عَلى أَنْ تَغْسِلَ عَارَ بَدْرٍ. إِنَّ هٰذَا هُوَ الْحَلُّ الوَاحِدُ، إِنَّ هٰذَا هُوَ الأَمْرُ الرَّشِيْدُ

Mereka (Kafir Qurais) menginginkan solusi dari masalah yang mereka hadapi dengan merencanakan balas dendam atas kekalahan dan kehinaan di perang Badar. Ini satu-satunya solusi dan ini hal yang rasional.

وَلَمَّا بَلَغَ رَسُوْلُ اللَّهِ ﷺ خُرُوْجَ المُشْرِكِيْنَ مِنْ مَكَّةَ، جَمَعَ أَصْحَابَهُ وَقَالَ لَهُمْ :” مَاذَا تَرَوْنَ ؟ هَلْ نُقَاتِلُهُمْ فِي الْمَدِيْنَةِ أَوْ نَخْرُجُ إِلَيْهِمْ ؟

Tatkala Rasulullah ﷺ menyampaikan bahwa kaum Musyrikin keluar dari Makkah (untuk balas dendam), Beliau mengumpulkan Para Sahabat lalu bersabda: “Bagaimana pendapat kalian ? Apakah kita akan bertempur dengan mereka di dalam kota Madinah atau kita keluar (menghadang) mereka?

وَكَانَ مِنْ رَأيِ الشُّيُوْخِ أَنْ يَبْقَى الْمُسْلِمُوْنَ فِي الْمَدِيْنَةِ وَكَانَ ذٰلِكَ مَايَرَاهُ النَبِيُّ ﷺ، وَهٰذَا هُوَ الرَّأْيُ. وَكَانَ الشبَّانُ يَرَوْنَ أَنْ يَخْرُجَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنَ الْمَدِيْنَةِ، وَتَنَازَلَ رَسُوْلُ اللَّهُ ﷺ إلَى رَأْيِهِمْ وَخَرَجَ مِنَ الْمَدِيْنَةِ

Para Pemuka Kaum Muslimin dan Rasulullah sendiri berpendapat akan tetap bertahan dalam kota. Namun Para Pemuda berpendapat Kaum Muslimin harus keluar dari Kota Madinah. Rasulullah pun mengikuti pendapat mereka dan keluar dari Madinah.

وَلَمَّا كَانَ فِي الطَّرِيْقِ انْعَزَلَ عَبْدُ اللَّهِ بنِ أُبَيٍّ بِنَحْوِ ثُلُثِ الْعَسْكَرِ، وَكَانَ رَأيُهُ أَنْ لاَ يَخْرُجُ رَسُوْلُ اللَّهُ ﷺ مِنَ الْمَدِيْنَةِ وَقَالَ : ” تُخَالِفُنِي وَتَسْمَعُ مَنْ غَيْرِي” وَهَكَذَا كَانَ الْمُسْلِمُوْنَ سَبْعَ مِائَةٍ فِيْهِمْ خَمْسُوْنَ فَارِسًا

ketika pasukan Muslimin di perjalanan, Abdullah bin Ubay bin Salul memilih kembali bersama sepertiga pasukannya yang berjumlah sekitar 300 tentara sebab dia termasuk orang yang berpendapat tidak perlu keluar dari kota Madinah. Lalu berkata:” Engkau tidak setuju denganku malah mendengar selain aku”. Dengan demikian, pasukan Muslimin hanya tersisa 700 tentara termasuk 50 pasukan berkuda.

وَاسْتَعْمَلَ رَسُوْلُ اللَّهُ ﷺ عَبْدُ اللَّهِ بنِ زُبَيْرٍ عَلى الرمَّاةِ – وَكَانُوْا خَمْسِيْنَ، وَأَمَرَهُ وَأَصْحَابَهُ أَنْ يَلْزَمُوْا مَرْكَزَهُمْ وَأمَرَ رَسُوْلُ اللَّهُ ﷺ الرمَّاةَ أَنْ يَرْمُوْا الْمُشْرِكِيْنَ لِئَلاَّ يَأتُوُا الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ وَرَائَهِمْ، وَأَعْطَى اللوَاءَ مُصْعَبَ بنَ عُمَيْرٍ سَيْفًا وَدَفَعَ سَيْفَهُ إِلَى أَبِي دَجَانَةَ وَكَانَ شُجَاعًا بَطَلاً

Rasulullah ﷺ mempergunakan (menunjuk) 50 prajurit pemanah dibawah komando Abdulah Bin Jubair dan memerintahkan mereka supaya tetap siaga berada pada posisi mereka untuk memanah orang-orang Musyrikin agar tidak datang dari arah belakang pasukan Muslimin. Kemudian Rasulullah ﷺ memberikan sebilah pedang kepada Brigadir Mus’ab Bin ‘Umair namun diserahkan lagi kepada Abu Dujanah (Dia adalah seorang pahlawan pemberani).

وَدَارَتْ رَحْى الْحَرْبِ، وَكَانَتِ بِدَايةُ الْحْرْبِ اسْتلاَء الْمُسْلِمِيْنَ عَلى الكُفَّارِ، وَانْهَزَمَ عَدُوُّ اللَّهِ وَ وَلُّوْا مُدْبِرِيْنَ حَتَّى انْتَهُوْا إِلَى نِسَائَهِمْ، وَلَكِن للأسفِ لَمْ يَحْفَظِه الرُّمَّاةُ قَوْلَ رَسُوْلِ اللَّهِ ﷺ وَعَمِلُوْا بِرَأْيِهِمْ، لَقَدْ أَمَرَهُمْ رَسُوْلُ اللَّهُ ﷺ أَنْ يَلْزَمُوْا مَرْكَزَهُمْ لَوْ فَعَلُوْا ذٰلِكَ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَلَكِنْ ذٰلِكَ لَمْ يَكُنْ

||| Baca juga, Kisah Persembunyian di Gua Tsur

Perang pun mulai berkobar, situasi awal pertempuran di dominasi oleh pasukan Muslimin. Mereka berhasil memukul mundur pasukan kafir kocar-kacir sampai pada barisan perempuan. Namun sangat disayangkan, pasukan pemanah mengabaikan perintah Rasulullah ﷺ untuk tetap berada pada posisi mereka. Seandainya mereka melakukan apa yang diperintahkan tentu lebih baik bagi mereka, namun hal itu tidak terjadi.

لَمَّا رَأَى الرُّمَّاةُ هَزِيْمَةَ الْكُفَّارِ تَرَكُوْا مَرْكَزَهُمْ، وَقَالُوْا: ” يَاقَوْمُ الْغَنِيْمَةَ ! الْغَنِيْمَةَ. وَذَكَّرَهُمْ أَمِيْرُهُمْ عَبْدُ اللَّهِ بنُ جُبَيْرٍ عَهْدَ رَسُوْلِ اللَّهِ ﷺ وَقَالَ : ” أَلَمْ يَقُلْ لَكُمْ رَسُوْلُ اللَّهُ ﷺ الْزَمُوْا مَرْكَزَكُمْ ؟ وَلَكِن أَصْحَابُ عَبْدِ اللَّهِ لَمْ يَسْمَعُوْا قَوْلَهُ، وَظَنُّوْا أَنَّ الْمُشْرِكِيْنَ قَدْ انْهَزَمُوْا وَأَنَّهُمْ لاَ يَرْجِعُوْنَ.

Tatkala pasukan pemanah melihat orang-orang kafir terpukul mundur, mereka meninggalkan markas dan berkata: “Ya kalian semua, ayo kita ambil harta rampasan!. Abdulah Bin Jubair selaku komandan pasukan pemanah mencoba mengingatkan “Bukankah Rasulullah berpesan kepada kalian agar tetap berada pada posisi kalian?. Namun mereka tidak mendengar dan tidak memperdulikan peringatan tersebut sebab mereka menyangka jika orang-orang kafir sudah kalah dan tidak akan kembali.

فَلِمَاذَا نَبْقَى فِي مَكَانِنَا ؟ وَهَا أُوْلئك أَصْحَابُنَا يَأْخُذُوْنَ الْغَنِيْمَةَ. إِنَّ الْحَرْبَ قَدْ انْتَهَتْ وَرَاحَ الْمُشْرِكُوْنَ، فَمَا مَعْنَى الْبَقَاءِ هُنَا إِذَنْ ؟ وَذَهَبَ هَؤُلاَءِ وَبَقِيَ عَبْدُ اللَّهِ بنُ جُبَيْرٍ وَمَنْ مَعَهُ مِنْ أَصْحَابِهِ يَحْفَظُوْنَ الثَّغْرَ. رَضِي اللَّهُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ وَعَفَا عَنْ أَصْحَابِهِ.

Kenapa kita mesti tetap berada disini? Lihatlah kawan-kawan kita mengambil harta rampasan. Perang telah selesai dan mereka sudah pergi. Apa artinya kita masih berada disini? Mereka meninggalkan Abdulah Bin Jubair dan sebagian kecil sahabatnya berjaga di puncak bukit Uhud.
Semoga Allah Ta’ala meridhoi Abdullah dan mengampuni pada sahabatnya.

وَكَرَّرَ فُرْسَانُ الْمُشْرِكِيْنَ فَوَجَدُوْا الثَّغْرَ خَالِيًا قَدْ خَلاَ مِنَ الرُّمَّاةِ فَدَخَلُوْا مِنْهُ وَاجْتَمَعُوْا، وَقُتِلَ عَبْدُ اللَّهِ بنُ جُبَيْرٍ وَمَنْ بَقِيَ مِنْ مَعَهُ مِنْ أَصْحَابِهِ

Pasukan kavaleri kaum Musyrikin mulai kembali melancarkan serangan, mereka mendapati puncak bukit kosong dari penjagaan pasukan pemanah Muslimin. Dengan demikian, mereka berhasil masuk dan menghimpun kekuatan disana. Abdullah Bin Jubair gugur dengan prajurit Muslimin yang masih tersisa.

وَصَلَ الْمُشْرِكُوْنَ إِلَى رَسُوْلِ اللَّهُ ﷺ وَجَرَحُوْا وَجْهَهُ وَكَسَرُوْا رُبَاعِيَّتَهُ وَرَمَوْهُ بِالْحِجَارَةِ حَتَّى وَقَعَ فِي حُفْرَةٍ

Prajurit Musyrikin menerobos ke arah Rasulullah ﷺ dan berhasil melukai wajah dan mematahkan gigi geraham-Nya. Mereka melempari Beliau dengan batu sampai terperosok kedalam lubang.

فَأَخَذَ عَلِيُّ بنُ طَالبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِيَدِ رَسُوْلِ اللَّهُ ﷺ وَاحْتَضَنَهُ طَلْحَةُ بنُ عُبَيْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، وَنَشَبَتْ حَلْقَتَانِ مِنْ حِلَقِ الْمِغْفَرِ فِي وَجٍهِ رَسُوْلِ اللَّهُ ﷺ فَانْتَزَعَهُمَا أَبُو عُبَيْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَعَضَّ عَلَيْهِمَا حَتَّى سَقَطَتْ ثَنِيَّتَاهُ

Kemudian Ali Bin Abi Thalib memegang tangan Rasulullah ﷺ lalu dipeluk oleh Talhah Bin ‘Ubaidillah. Dua keping lingkaran rantai topi besi yang menutupi wajah Rasulullah menyobek pipi-Nya, lalu Talhah mencabutnya dengan gigitan sampai kedua gigi gerahamnya jatuh terlepas.

وَتَقَدَّمَ الْمُشْرِكُوْنَ إِلَى رَسُوْلِ اللَّهُ ﷺ وَأَرَدُوْا شَرًّا، وَأَبَى اللُّهُ ذٰلِكَ وَالْمُؤْمِنُوْنَ، وَحَالَ دُوْنَ رَسُوْلِ اللَّهُ ﷺعَشْرَةٌ مِنَ الصَّحَابَةِ. دَافَعَ أَبُو دَجَانَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ رَسُوْلِ اللَّهُ ﷺ بِظَهْرِهِ والنَبلُ يَقَعُ فِيْهِ وَهُوَ لاَ يَتَحَرَّكُ. وَدَافَعَ عنه طَلْحَةُ بنُ عُبَيْدِ اللَّهِ بِيَدِهِ والنَبلُ يَقَعُ فِيْهَا حَتَّى شُلَّتْ

Kaum Musyrikin terus maju ke arah dimana Rasulullah berada, mereka berniat melakukan hal yang lebih buruk. Namun Allah Ta’ala dan kaum Muslimin tidak menghendaki hal itu. Ketika itulah puluhan kaum muslimin segera mengelilingi Rasulullah ﷺ. Abu Dujana menggunakan punggungnya sebagai perisai melindungi Rasulullah yang mengakibatkan rantai gandulan besi musuh menghantamnya. Begitu pula dengan Talhah melindungi Rasulullah ﷺ dengan tanganya sampai pincang dihantam gandulan besi.

وَبَقِيَ رسولُ الله ﷺ فِي سَبْعَةٍ مِنٕ الأنصارِ وَ رَجُلَيْنِ مِنْ قُرَيْشٍ فَقَالَ: “مَنْ يَرُدُّهُمْ عَنِّي وَلَهُ الْجَنَّةَ”. فَتَقَدَّمَ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَقَاتَلَ حَتَّى قُتِلَ. ثُمَّ هَجَمُوْا فَقَالَ :” مَنْ يَرُدُّهُمْ عَنِّي وَلَهُ الْجَنَّةَ وَهُوَ رَفِيْقِي فِي الْجَنَّةِ فَلَْمْ يَزَلْ كَذٰلَكَ حَتَّى قُتِلَ السَّبْعَةُ

Dalam situasi Rasulullah ﷺ masih dikelilingi 7 Sahabat dari Anshar dan dua lelaki dari Qurais. Beliau bersabda: “Barang siapa yang melawan mereka karna membelaku, maka Syurga bagi dia. Lalu seorang lelaki dari Anshar bertempur hingga gugur. Kemudian Beliau bersabda: “Barang siapa yang melawan mereka karna membelaku, maka baginya Surga dan menjadi pendampingku. Rasulullah ﷺ terus mengucapkan kalimat itu hingga gugurlah ketujuh orang tersebut.

مَرَّ أَنَسٌ بِقَوْمٍ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ قَدْ أَلْقَوْا بِأَيْدِيْهِمْ فَقَالَ: ” مَا تَنْتَظِرُوْنَ ” ؟ فَقَالُوْا : قُتِلَ رَسُوْلُ اللَّهُ ﷺ فقالَ: مَا تَصْنَعُوْنَ بِالْحَيَاةِ بَعْدَهُ ؟ قُوْمُوْا وَمُوْتُوْا عَلى مَا مَاتَ عَلَيْهِ ! ثم قَالَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعْتَذِرُ إِلَيْكَ مِمَّا صَنَعَ هَؤُلَاءِ يَعْنِي الْمُسْلِمِينَ وَأَبْرَأُ إِلَيْكَ مِمَّا جَاءَ بِهِ الْمُشْرِكُونَ

Anas Bin Nadhar Radiyallahu’anhu berjalan melewati pasukan muslimin yang sedang terdiam lalu berkata: ” Apa yang kalian sedang tunggu?. Mereka menjawab :”Rasulullaah ﷺ telah gugur. Anas berata: “Apa yang akan kalian perbuat di kehidupan selanjutnya ? berdirilah kalian semua dan mati syahidlah sebagaimana Rasulullah Gugur. “Kemudian berkata:”Ya Allah, aku minta maaf dari apa yang mereka lakukan (Para Sahabatnya) dan aku serahkan kepada-Mu apa yang diperbuat oleh orang-orang musyrik.”

فَتَقَدَّمَ بِسَيْفِهِ فَلَقِيَ سَعْدَ بْنَ مُعَاذٍ فَقَالَ أَيْنَ يَا سَعْدُ إِنِّي أَجِدُ رِيحَ الْجَنَّةِ دُونَ أُحُدٍ فَمَضَى فَقُتِلَ فَمَا عُرِفَ حَتَّى عَرَفَتْهُ أُخْتُهُ بِشَامَةٍ أَوْ بِبَنَانِهِ وَبِهِ بِضْعٌ وَثَمَانُونَ مِنْ طَعْنَةٍ وَضَرْبَةٍ وَرَمْيَةٍ بِسَهْمٍ

Kemudian ia maju dengan sebilah pedangnya hingga ia bertemu Sa’ad bin Mu’adz, dia lalu berujar, “Dimanakah wahai Sa’d, sungguh aku mendapati bau surga di belakang Uhud.” Saat perang usai, ia gugur dan tidak ada yang mengenali jasadnya selain saudara perempuannya dengan tanda atau jari-jemari yang ada pada dirinya, yang didapati (dalam jasadnya) sebanyak delapan puluh lebih tikaman tombak, sabetan pedang, dan tusukan panah.”

رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَيْكَ يَا أَنَسُ ! فَلْيَكُنْ الرِّجَالُ هَكَذَا ! وَ هَكَذَا فَلْيَكُنْ الأَبْطَالُ !

Semoga Rahmat Allah Ta’ala tercurahkan kepada Engkau wahai Anas, begitu juga dengan Para Prajurit dan Pahlawan Muslim.

Kosa-kata (مفردات)

IndonesiaArab
Menggembalaرَعَى - يَرْعَى
Mencangkulحَرَسَ - يَحْرُسُ
Bertekad kuatحَرَصَ - يَحْرِصُ عَلى
Menaklukanهَزَمَ - يَهْزِمُ
Mengulurkan/Melengkapiأَمَدَّ - يُمِدُّ
Membedakan/Memisahkanفَرَّقَ - يُفَرِّقُ
Menjadi putihابْيَضَّ - يَبْيَضُّ
Menjadi hitamاسْوَدَّ - يَسْوَدُّ
Bersedihحَزِنَ - يَحْزَنُ
Menungguانْتَظَرَ - يَنْتَظِرُ
Mengisolasi انْعَزَلَ - يَنْعَزِلُ
Melemparرَمَى - يَرْمِى
Menguasaiاِسْتَوْلَى - يَسْتَوْلِيْ عَلَى
Menjagaحَفِظَ - يَحْفَظُ
Kosongخَلاَ - يَخْلُو
Memecahkanكَسَرَ - يكْسِرُ
Menggigitعَضَّ - يَعُضُّ عَلى
Bergerakتَحَرَّكَ - يَتَحَرَّكُ
Mencabutانْتَزَعَ - يَنْتَزِعُ
Majuتَقَدَّمَ - يَتَقَدَّمُ

Latihan:

Buatlah kalimat sempurna menggunakan salah satu kata berikut

يَرْعَى / يَحْرُسُوَجْهٌ

Tulis jawaban latihan di kolom komentar

 

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 15

No votes so far! Be the first to rate this post.

Recomended

Pentingnya Olahraga (Dialog Bahasa Arab)

الرِّيَاضَةُ البَدَنِيَّةُ Olahraga لاَحَظَ سُلَيْمَانُ أَنَّ زَمِيْلَهُ إِسْمَاعِيْلَ لَمْ يَقُمْ مِنَ السَّرِيْرِ مَعَ أَنَّهُ أَيْقَظَهُ قَبْلَ نِصْفِ سَاعَةٍ، فَقَرُبَ مِنْهُ وَ دَارَ بَيْنَهُمَا الحِوَارُ التَّالِي Sulaiman memperhatikan...

Syarah Kitab Jurumiyah [Abu Ziyad Muhammad]

هذا الكتاب المسمى (الـمُبْـهِـرُ فِي شرح نظم الآجرومية لِعُبَيْدِ رَبِّهِ) بسم الله الرحمن الرحيم الحَمْدُ لِلَّهِ الرَّافِعِ لِأَوْلِيَائِهِ، الخَافِضِ لِأَعْدَائِهِ، المُقَدَّسِ بِصِفَاتِهِ وَأَسْمَائِهِ، وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ...

Definisi dan ‘Irab Isim Mutsanna (المُثَنَّى)

Mutsanna (مثني) Perhatikan contoh mutsanna berikut:  ذَهَبَ الطَّالِبَانِ إِلَى المَدْرَسَةِ / رَأَيْتُ الطَّالِبَيْنِ أَمَامَ المَدْرَسَةِ / سَلِّمْ عَلى الطَّالِبَيْنِ الجَالِسَيْنِ أَمَامَ المَدْرَسَةِ Dua siswa pergi ke sekolah...

Kitab Sina’atul ‘Irab [Syekh Utsman Ibnu Jinny]

عنوان الكتاب: سر صناعة الإعراب  المؤلف: عثمان بن جني أبو الفتح  المحقق: حسن هنداوي  حالة الفهرسة: غير مفهرس  عدد المجلدات: 1 الناشر : دار القلم اسمه مؤلف كتاب (سر صناعة الإعراب)...

Tinggalkan Komentar

Latest News

Huruf yang diucapakan namun tidak ditulis (ينطق ولا يكتب)

Bismillahirahmanirahim. Sambungan dari materi sebelumnya tentang 'Huruf Yang Ditulis Namun Tidak Diucapkan'. Sekarang kabalikanya yaitu 'diucapkan namun tidak ditulis'. Diantara...

Huruf yang ditulis namun tidak dibaca (يكتب ولا ينطق)

Dalam kaidah imla, terdapat huruf-huruf yang ditulis namun tidak diucapkan (ما يكتب ولا ينطق). Diantara huruf tersebut yang paling...

Kaidah Maf’ul Liajlih (مفعول لأجله) Lengkap Dengan Contoh ‘Irabnya

Maf'ul Liajlih ( مفعول لأجله ) Materi sebelumnya kita sudah selesai membahas Maf'ul Bih ( مفعول به ), Maf'ul Fih ( مفعول فيه ) dan...

Juha dan Tetangga Rakus

جُحَا وَ الجَارُ الطَّماعُ Juha dan Tetangga Rakus كَانَ لِلجَارِ الطَّمَاعِ مَزْرَعَةٌ غَنِيَّةٌ بِأَشْجَارِ الفَاكِهَةِ ، وَ مَزْرُوْعَاتٍ أُخْرَى مُتَنَوِّعَةٍ وَ كَانَ يُجَاوِرُ مَزْرَعَتَهُ مّزْرَعَةٌ أَكْبَرُ...

Ilmu Nahwu (Sejarah dan Perkembanganya)

Ilmu Nahwu Gramatika bahasa Arab atau juga disebut dengan istilah Ilmu Nahwu (علم النحو) sejak awal perkembangannya sampai saat ini masih tetap menjadi bahan kajian...

Mengetahui ‘Irab Fi’il Mudhari’ [الفعل المضارع]Lengkap Tashrif Lughawi

Fi'il Mudhari' (الفعل المضارع) Pembahasan 'Fiil Madhi sudah kita lalui, selanjutnya kita akan membahas Fi'il Mudhari' mulai definisi, tashrif lughawi dan ketentuan hukum 'irabnya. Definisi Fi'il...

Sponsored Articles

More Articles Like This