Pengertian Musnad Ilaih (المسند إليه) dan Ketentuan Hukumnya

Must Read

Peci Kepunyaan Juha

عِمَامَةُ جُحَاPeci Kepunyaan Juhaكَانَ لِجُحَا جَارٌ شَدِيْدُ البُخْلِ، كُلَّمَا رَأَى جُحَا رَاحَ يَحُثُّهُ بِعَدَمِ الإِنْفَافِ عَلى أَهْلِهِ حَتَّى يُصْبِحُ...

Juha dan Seorang Pencuri Bodoh

جُحَا وَاللَّصُّ الأَحْمَقُJuha dan Seorang Pencuri Bodohأَرَادَ لِصٌّ غَبِيٌّ أَنْ يَسْرِقَ بَيْتَ جُحَا، فَذَهَبَ إِليهِ في مُنْتَصَفِ اللَّيْلِ وَتَسَلَّقَهُ...

Juha dan Sepotong Daging Ajaib

جُحَا وَاللَّحْمُ العَجِيْبُJuha dan Sepotong Daging Ajaibاشْتَهَى جُحَا أَنْ يَأكُلَ لَحْمًا، فَذَهَبَ إلى الجَزَّارِ وَاشْتَرَى مِنْهُ قِطْعَةً مِنَ اللَّحْمِ،...
TMBAhttps://bahasa-arab.com/
Belajar Bahasa Arab tidak semudah membalikan telapak tangan, butuh keseriusan dan istiqomah. Namun tidak ada kata terlambat jika kita ingin ingin mempelajarinya.

5
(11)

Bismillahirahmanirahim. Pada materi sebelumnya kita sudah membahas objek pertama ilmu ma’ani yaitu ahwal al-isnadi al-khabari yang mencakup kalam khabari dan kalam insya’i. Selanjutnya kita akan membahas objek ilmu ma’ani yang kedua yaitu musnad ilaih.

I. Mafhum Musnad Ilaih

Dalam ilmu Nahwu, kita mengenal istilah jumlah ismiyyah (mubtada dan khabar) dan jumlah fi’liyyah (fi’il, fa’il dan maf’ul bih). Dalam ilmu balaghah, kedua pola kalimat seperti ini disebut dengan musnad dan musnad ilaih atau mahkum dan mahkum ilaih. Contoh

خَالِدٌ نَاجِحٌ
خَالِدٌ : مبتدأ / مسند إليه
نَاجِحٌ : خبر / مسند

جَاءَ خَالِدٌ
جَاءَ : فعل / مسند
خَالِدٌ : فاعل / مسند إليه

II. Definisi Musnad Ilaih (المُسْنَد إِلَيْهِ)

Secara bahasa musnad ilaih adalah shighah isim maf’ul dari kata kerja fi’il أَسْنَدَ. Musnad Ilaih berarti sesuatu yang disandarkan kepadanya. Sedangkan secara istilah adalah:

المسند إليه هو المبتدأ الذي له خبر و الفاعل و نوائبه و أسماء النواسخ

Musnad Ilaih adalah mubtada’ yang memiliki khabar, fa’il, naibul fa’il, dan isim-isim dari amil nawasikh seperti kana, inna dan dhanna. Artinya, kata/lafadz yang disebut dengan musnad ilaih pada kalimat dibatasi hanya ketika menduduki posisi-posisi berikut:

  • Fa’il

قَامَ خَالدٌ بالصلاةِ

خالد : مسند إليه

  • Naib al- Fa’il

ضُرِبَ خَالدٌ

  • Mubtada

خَالِدٌ نَاجِحٌ في الامتحان

  • Isim “كان” dan saudarinya

كَانَ خَالِدٌ نَاجِحًا في الامتحان

  • Isim “إن” dan saudarinya

إِنَّ خَالِدً لَنَاجِحٌ

  • Maf’ul pertama dari “ظن” dan saudarinya

ظَنَّ خَالِدٌ زَيْدًا نَاجِحًا في الامتحان

  • Maf’ul kedua dari “رأى” dan saudrinya

رأيت أَنَّ خَالِدًا نَاجِحًا في الامتحان

Ket: Dalam ilmu balaghah, kata خالد pada setiap macam contoh di atas disebut dengan musnad ilaih.

III. Keadaan Musnad Ilah (أحوال المسند إليه)

Keberadaan Musnad Ilah pada suatu kalimat tidak terlepas dari keadaan-keadaan yang terkait dengan penyebutan (الذكر), pembuangan (الحذف), penakirahan (التنكير), pengkhususan (التعريف), didahulukan (التقديم)، dan diakhirkan (التأخير).

1. Penyebutan Musnad Ilah (ذكر المسند إليه)

Alasan musnad ilaih pada suatu kalimat selalu disebutkan (tidak dibuang), karena dia merupakan unsur terpenting agar tidak menimbulkan salah faham. Meskipun pada praktiknya, musnad ilaih terkadang dibuang. Tujuan dari penyebutan musnad ilaih adalah berikut:

  • Pertama: Menambah kejelasan dan memantapkan si pendengar. Seperti firman Allah Ta’ala ( زيادة الإيضاح والتقرير للسامع)

Seperti firman Allah Ta’ala

أُوْلَٰٓئِكَ عَلَىٰ هُدًى مِّن رَّبِّهِمْ ۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ. البقرة ٥

“Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan merekalah orang-orang yang beruntung”

Perhatikan isim isyarah أُوْلَٰٓئِكَ yang diulang dan disebutkan dua kali. Secara kaidah nahwu, boleh saja membuang أُوْلَٰٓئِكَ (mubtada/musnad ilaih) yang kedua sebab sudah bisa diwakili oleh أُوْلَٰٓئِكَ yang pertama. Namun, tidak demikian menurut ilmu balaghah, sebab dengan diulangnya أُوْلَٰٓئِكَ kedua, justru akan menambah kejelasan dan kemantapan bagi si pendengar bahwa mereka yang mendapatkan petujuk,mereka itulah yang beruntung.

  • Kedua: Lemahnya pemahaman si pendengar (ضعف فهم السامع)

Alasan kedua musnad ilaih tidak dibuang sebab lemahnya pemahaman si pendengar sehingga mudnad ilaih tidak mungkin dibuang yang justru bisa menimbulkan salah faham. Contoh

ذهب….إلي المدرسة

Fa’il atau Musnad ilaih pada contoh di atas tidak tampak, maka sudah tentu akan menimbulkan banyak pertanyaan dan salah pemahaman sebab tidak dijelasalkan siapa yang pergi ke sekolah.

  • Ketiga: Merasa senang/Menyukai (التلذّذ)

Alasan ketiga musnad ilaih tidak dibuang sebab si mutakallim merasa senang dengan apa yang dia sebutkan. Ketika dia menyukai sesuatu, pasti akan senang menyebutnya. Misalkan, apakah khalid baik kepadamu? Ya, khalid baik kepadaku.

  • Keempat: Menghina (الإهانة)

هل سُجِنَ القَاتِلُ ؟ نعم، سُجِنَ القَاتِلُ

Apakah si pembunun telah dipenjara? ya, si pembunuh telah dipenjara.

  • Kelima: Penghormatan (التعظيم)

هَلْ حَضَرَ رئيسُ الجمهورية الاندونيسية ؟ نعم،حَضَرَ جوكو ويدودو

  • Keenam: Kagum (التعجب)

مَنْ يصارع الأسدَ ؟ قَالَ : خَالدٌ يصارع الأسدَ

Siapa yang bergulat dengan singa? Khalid yang bergulat dengan singa.

  • Ketujuh: Memanjangkan perkataan (بساط الكلام)

Memanjangkan perkataan sebab berharap perhatian penuh dari si pendengar. Seperti jawaban Nabi Musa atas pertanyaan Allah Ta’ala:

وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَٰمُوسَىٰ (17)قالَ هِيَ عَصايَ أَتَوَكَّؤُا عَلَيْها وَأَهُشُّ بِها عَلى غَنَمِي وَلِيَ فِيها مَآرِبُ أُخْرى (18). سورة طه

“dan apakah yang ada ditangan kananmu, wahai Musa?”. Dia (Musa) berkata “ Ini adalah tongkatku, aku bertumpu padanya dan aku merontokkan (daun-daun) dengannya untuk (makanan) kambingku, dan bagiku masih ada manfaat yang lain”

2. Pembuangan Musnad Ilaih (حذف المسند إليه)

Membuang musnad ilaih pada dasarnya tidak sesuai dengan kaidah dasar, sebab musnad ilaih merupakan unsur terpenting dalam kalimat sebagaimana telah disinggung di atas. Namun, hal ini bisa terjadi dengan tujuan tertentu yang tentunya tidak terlepas dari rahasiah balaghah.

Pembuangan musnad ilaih dari suatu kalimat terkadang tampak ketika di’irab dan bisa diperkirakan, seperti kalimat (أهلا وسهلا), dimana fi’il dan fa’il telah dibuang dengan perkiraan (جئت أهلا ونزلت مكانا سهلا). Bisa dilihat pada materi nahwu ‘maf’ul bih dan maf’ul mutlaq’

Pembuangan musnad ilaih juga terkadang tidak tampak sama sekali ketika di’irab, namun akan tampak setelah kandungan maknanya kita perdalam. Contoh.

يُعْطِي وَيَمْنَعُ

Dia memberi dan mencegah

Kalimat seperti di atas, ketika kita ‘irab tentunya tidak akan nampak apa yang telah dibuang. Namun akan nampak setelah diperdalam pengertian dan hubunganya dengan yang lain. Misalkan

يُعْطِي مَا يَشاءَ وَيَمْنَعُ مَا يَشاءَ

Berikut sebab dan tujuan musnad ilaih dibuang:

  • Adanya qarinah/petunjuk (ظهور بدلالة القرائن)

Musnad ilaih dibuang sebab adanya pertanda pada kalimat tersebut yang mudah diketahui si pendengar. Contoh:

فَأَقْبَلَتِ امْرَأَتُهُ فِي صَرَّةٍ فَصَكَّتْ وَجْهَهَا وَقَالَتْ عَجُوزٌ عَقِيمٌ. سورة الذاريات ٢٩

“Kemudian istrinya datang tercengang, lalu menepuk mukanya sendiri seraya berkata, (aku adalah) seorang perempuan tua yang mandul”.

Kata Anna (أنا) adalah musnad ilaih/mubtada yang tidak tampak pada ayat di atas, sebab sudah jelas petunjuknya. Perkiraanya adalah: أنَا عَجُوزٌ عَقِيمٌ

  • Menutupi sesuatu dari selain mukhatab (إخفاء الأمر عن غير المخاطب

Bermaksud menutupi sesuatu kepada orang-orang dari selain mukhathab (orang yang diajak bicara). Misalkan seseorang berkata: “telah sukses” dengan maksud yang sukses itu adalah Khalid dan hanya ditujukan kepada orang yang telah sama-sama mengetahuinya.

  • Meringkas perkataan sebab sempitnya konteks (ضيق المقام عن إطالة الكلام)

Membuang musnad ilaih dengan maksud meringkas, sebab situasi seperti sakit, pusing, sedih atau bahkan malas menjawab. Contoh

قَالَ لِي كَيْفَ أَنْتَ قُلتُ عَلِيْلٌ # سَهَرٌ دَائمٌ وَحُزْنٌ طَوِيْلٌ

Dia berkata kepadaku : “Bagaimana keadaanmu?”. Aku berkata” Aku sakit” # susah tidur dan sedih tak berujung”.

Pada ungkapan sya’ir di atas terdapat dua musnad ilaih yang dibuang yaitu kata أنَا dan حَالي. Kalimat lengkapnya seperti berikut

قَالَ لِي كَيْفَ أَنْتَ قُلتُ أَنا عَلِيْلٌ # حَالِي سَهَرٌ دَائمٌ وَحُزْنٌ طَوِيْلٌ

  • Menguji kadar ingatan pendengar (اختبار مقدار تنبّه السامع)

Alasan membuang musnad ilai lainya yaitu sebab menguji lawan bicara. Apakah dia bisa mengetahui dengan apa yang dimaksud atau tidak. Contoh

نُوْرُهُ مُسْتَفَادٌ مِنْ نُوْرِ الشَّمْسِ

“Sinarnya diperoleh dari sinar matahari”

Perkiraan untuk musnad ilaih yang dibuang adalah kata bulan (القمر)

  • Musnad Ilaih sudah jelas diketahui haqiqatnya (كون المسند إليه معينا معلوما حقيقيا). Contoh

عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْكَبِيرُ الْمُتَعَالِ. سورة الرعد ٩

(Allah) Yang mengetahui semua yang gaib dan yang nyata; Yang Maha besar, Maha tinggi. (QS. Ar-Ra’d: 9)

Lafadz ‘Allah’ adalah musnad ilaih (mubtada) yang tidak perlu disebutkan kembali, sebab sudah jelas hanya Allah lah yang mengetahui semua hal gaib dan nyata. Perkiraanya:

اللهُ عَالِمُ الْغَيْبِ

  • Sebab takut ( الخوف منه)

Musnad ilaih dibuang sebab alasan takut apabila disebutkan, contoh

ضُرِبَ خَالِدٌ

Khalid telah dipukul

Si pembicara tidak menyebut fa’il (pelaku)/musnad ilaih sebab dia merasa takut, lalu dia sembunyikan dengan cara memajhulkan fi’il ضرب perkiraanya:

ضَرَبَ زَيدٌ خَالِدًا

Zaid memukul khalid.

  • Mengikuti kebiasaan orang arab membuangnya (اتباع الاستعمال الوارد على تركه). Contoh

نِعْمَ الزَّعِيْم خَالدٌ

Sebaik-baiknya pemimpin (dia) khalid. Maksudnya هُوَ خَالدٌ dengan membuang musnad ilaih/mubtada dhamir هُوَ. Perkiraanya:

نِعْمَ الزَّعِيْم هُوَ خَالدٌ

3. Mema’rifatkan Musnad Ilaih (تعريف مسند إليه)

Pada dasarnya, musnad ilaih harus ma’rifat (khusus), sebab dia berstatus sebagai mahkum ‘alaih (Orang yang dihukumi) yang tentunya harus jelas dan diketahui agar menjadi pengertian yang baik. Banyak cara untuk mema’rifatkan musnad ilaih seperti mengungkapkan dengan isim ‘alam, dhamir, isim maushul, menambahkan huruf alif lam, idhafat dan nida. Semua itu tentunya memiliki tujuan yang berbeda sebagaimana penjelasan berikut:

A. Musnad ilaih makrifat dalam bentuk dhamir

Mema’rifatkan musnad ilaih dalam suatu kalimat boleh dengan menggunakan tiga bentuk dhamir yaitu mutakallim (orang pertama), mukhathab (orang kedua) dan ghaib (orang ketiga). Dari ketiga bentuk dhamir diatas, tingkatan ma’rifat tertinggi yaitu mutakallim, lalu mukhattab dan ghaib.

  • Contoh mutakallim (orang pertama), seperti sabda Rasulullah S.A.W

أَنَا النَّبِيُ لاَ كَذَب، أَنَا ابْنُ عَبْدُ المُطَلب

أَنَا : مسند إليه
النَّبِيُ : مسند

Akulah Nabi yang tidak berdusta, Aku putra Abdul Muthalib.

  • Contoh mukhattab:

وَأَنْتَ الَّذِي أَخْلَفْتَنِي مَا وَعَدْتَنِي # وَأَشَمْتَ بِي مَنْ كَانَ فِيْكَ يَلُوْمُ

وَأَنْتَ : مسند إليه
الَّذِي أَخْلَفْتَنِي : مسند

Engkaulah yang mengingkariku, apa yang kau janjikan kepadaku # Dan telah kecewa lantaran aku orang yang mencela kepadamu.

  • Contoh ghaib (orang ketiga):

وَٱتَّبِعْ مَا يُوحَىٰٓ إِلَيْكَ وَٱصْبِرْ حَتَّىٰ يَحْكُمَ ٱللَّهُ ۚ وَهُوَ خَيْرُ ٱلْحَٰكِمِينَ. يونس 109

وَهُوَ : مسند إليه
خَيْرُ : مسند

Catatan:

1). Dhamir mukhathab dapat dipergunakan dalam tiga keadaan:

  • Musyahad Muayyan (مشاهد معين). Lawan bicara tertentu yang dapat dilihat dengan indra), seperti أَنْتَ اسْتَرْقَقْتَنِي بِإِحْسَانِكَ (kau mengasihaniku dengan kebaikanmu).
  • Ghair Musyahad Muayyan (غير مشاهد معين ). Lawan bicara tertentu namun tidak dapat dilihat dengan indra dikarenakan sudah melekat dalam hati yang seakan-akan berada dihadapan, seperti: لاَ إلَهَ إِلاَّ أَنْتَ (Tidak ada Tuhan kecuali Engkau).
  • Musyahad Ghair Muayyaan (مشاهد غير معين ). Dapat dilihat dengan indra namun tidak dikhususkan untuk orang tertentu. Artinya bersifat umum tanpa ditunjukan kepada orang tertentu. Akan tetapi dia hanyalah dijadikan sebagai pengganti. Contoh dalam syair Al-Mutanabbi:

إِذَا أَنْتَ أَكْرَمْتَ الكَرِيْمَ مَلَكْتَهُ # وَإِنْ أَنْتَ أَكْرَمْتَ اللَّئِيْمَ تَمَرَّدَا

“Jika kau muliakan orang baik, niscaya engkau dapat menguasainya…“, Namun jika kau muliakan orang buruk, niscaya dia akan melunjak (lancang)…“

Contoh dalam Al-Qur’an:

وَلَوْ تَرَىٰٓ إِذْ وُقِفُوا۟ عَلَى ٱلنَّارِ فَقَالُوا۟ يَٰلَيْتَنَا نُرَدُّ وَلَا نُكَذِّبَ بِـَٔايَٰتِ رَبِّنَا وَنَكُونَ مِنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ. الأنعام 27

Dan seandainya engkau (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, mereka berkata, “Seandainya kami dikembalikan (ke dunia), tentu kami tidak akan mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-An’am: 27)

Dhamir mukhathab pada ayat di atas menunjukkan, bahwa yang menjadi khithab Allah S.W.T adalah Nabi Muhammad S.A.W namun berlaku bagi semua orang yang hadir dan mendengarkan khitab tersebut di hari qoyamat kelak. Khithab tersebut dengan cara menjadikan Nabi Muhammad S.A.W sebagai badal dari para umatnya.

Lihat Tasfir Ibnu ‘Asyur:

الخطاب للرسول عليه الصلاة والسلام لأنّ في الخبر الواقع بعده تسلية له عمّا تضمّنه قوله :” وهم ينهون عنه وينأون عنه.” الأنعام : 26 ويشترك مع الرسول في هذا الخطاب كلّ من يسمع هذا الخبر .

2). Pada dasarnya, dhamir diletakan mengikuti marji’ (isim dzahir) yang kemudian diganti oleh dhamir. Namun, terkadang dhamir diletakan terlebih dahulu karena tujuan tertentu. Seperti, memantapkan pendengar terhadap lafadz yang terletak setelah dhamir. Contoh:

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَد

Katakanlah: “Dialah Allah yang maha esa”.

Setelah kita mengetahui uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa musnad ilaih makrifat dengan berupa isim dhamir dimaksudkan membicarakan 3 golongan yaitu mutakallim, mukhathab, ghaib.

B. Musnad Ilaih makrifat dalam bentuk isim alam (‘alamiyah).

Dalam ilmu nahwu, isim alam termasuk isim ma’rifat yang secara jelas dan spesifik namanya disebutkan tanpa adanya batasan tertentu.

Diantara tujuan musnad ilah dimakrifatkan dengan isim alam (penyebutan nama) yaitu:

  • Ihdlar (الإحضار)

إحضار معناه في ذهن السامع باسمه الخاص ليمتاز عما عداه

Memberi kesan pada hati pendengar tentang diri seseorang yang dikemukakan dengan nama aslinya, agar dapat menjadi pembeda dari selainya. Seperti Firman Allah Ta’ala:

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ. البقرة 127

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan pondasi Baitullah bersama Ismail, (seraya berdoa), “Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 127)

يرفع : مسند
إِبْرَاهِيمُ : مسند إليه

Pada ayat di atas, secara jelas musnad ilah dikemukakan dalam bentuk makrifat isim alam dengan penyebutan nama asli Nabi Ibrahim. Tentu hal ini meninggalkan kesan pada kita, bahwa Dialah ‘ Nabi Ibrahim yang meninggikan Baitullah. (bukan Ibrahim lain)

  • At-tabarruk (التبرك), mendapatkan berkah, contoh seperti perkataan أَكْرَمَنِي untuk menjawab sebuah pertanyaan:

هَلْ أَكْرَمَكَ الله ؟ الله أَكْرَمَنِي

Apakah Allah memulyakanmu ? Semoga Allah memulyakanku.

  • Almadh Fil Alqab (المدح في الألقاب), pujian atas laqab (julukan seseorang), seperti:

جَاءَ شُجَاع / جَاء نصر

Telah datang si pemberani / telah datang nashr

  • Al Ihanah (الإهانة), menghinakan, seperti perkataan جاء صخر
  • Optimisme (التفاؤل) seperti perkataan جاء سرور (kegembiraan telah datang)
  • Pesimisme (التشاؤم) seperti perkataan حربٌ في البلاد
  • At taladzdzudz ( التلذذ), merasa enak mengucapkanya seperti perkataan syair berikut:

بالله يا ظبياتِ القاعِ قُلْنَ لَنَا # لَيلَيَ مِنكُنَّ أم ليلى مِن البشر

“Wahai wanita-wanita cantik, katakanlah kepada kami, adakah lailaku diantara kalian.”

  • Kinayah (الكناية), sindiran terhadap kebaikan atau keburukan seseorang seperti أبو لهب فعل كذا

Lihat referensi:

جواهر البلاغة ص 111

C. Musnad Ilaih makrifat dalam bentuk isim maushul

Isim maushul merupakan isim yang berfungsi memperjelas dan menjadikan ma’rifat suatu kalimat. Contoh

الَّذِي كَانَ مَعَنَا أَمس سَافرٌ

Orang yang bersama kita kemarin adalah seorang musafir.

Diantara tujuan musnad ilah ma’rifat dengan isim maushul adalah:

  • At tasywiq (التشويق), Menumbuhkan rasa ingin tahu terhadap sesuatu, yakni ketika maksud dari pada shilah maushul adalah hukum yang dirasa aneh seperti syi’ir berikut ini

والّذِي حَارَتْ البريّةُ فِيْهِ # حيوانٌ مستحدثٌ مِنْ جمادٍ

“Sesuatu yang membingungkan manusia, adalah kehidupan hewan (manusia) yang tercipta dari air mani”.

  • Ikhfaul Amri ‘An Ghair Mukhathab (إخفاء الأمر عن غير المخطب) yaitu merahasiakan suatu hal dari selain mukhathab, seperti

وَأَخَدْتُ مَا جَادَ الأميرُ # وقضيتُ حاجاتي كما أهوى

“Aku telah mengambil apa yang sang raja darmakan dan akupun menunaikan hajat- hajatku, sebagaimana ia inginkan.”

  • At tanbih ‘Ala Khata Al-Mukhatahab (التنبيه على خطاء المخطب) yaitu memperingati atas kesalahan mukhathab seperti Firman Allah Ta’ala:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوا لَهُ ۚ إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ لَن يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ ۖ وَإِن يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لَّا يَسْتَنقِذُوهُ مِنْهُ ۚ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُ. الحج 73

Wahai manusia! Telah dibuat suatu perumpamaan. Maka dengarkanlah! Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, mereka tidak akan dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Sama lemahnya yang menyembah dan yang disembah. (QS. Al-Hajj: 73)

  • At tanbih ‘Ala Khata Ghair Al-Mukhatahab (التنبيه على خطاء غير المخطب) yaitu memperingati atas kesalahan selain mukhathab seperti perkataan berikit:

إِنَّ الّتِي زَعَمْتْ فُؤَدَكَ مَلَّهَا خُلِقَتْ هَوَاكَ كَمَا خُلِقَتْ هَوَى لَهَا

“Wanita yang berhasrat merebut hatimu telah bosan lalu hasratmu dicipta seperti yang engkau inginkan”.

Dalam Al-Quran

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ (40) فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ (41). النازعات

“Dan barangsiapa yang takut akan kebesaran dan keagungan Tuhannya, yang mengendalikan diri dari hawa nafsu, tempat tinggalnya adalah surga yang menyenangkan.”

  • Ta’dzimul Mahlum ‘alaih (تعظيم شأن محكوم به), menganggap angung kedudukan mahkum bih, seperti perkataan Penyair Al-Farazdaq:

إنّ الّذي سمك السماءَ بنى لنا # بيتا دعائمه أَعَزُّ وَأَطْوَلُ

Sesungguhnya Zat yang meninggikan langit adalah yang mendirikan rumah untuk kita yang tiang-tiangnya lebih mulia dan lebih panjang.” Artinya, Zat Allah yang mengangkat langit dan yang telah memberikan kita kemuliaan lebih kuat dan besar dari segala kemuliaan.

  • At tahwil Ta’dziman au Tahqiran (التهويل تعظيما أو تحقيرا), mengejutkan karena mengagungkan atau menghinakan. Contoh Firman Allah Ta’ala:

فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ بِجُنُودِهِ فَغَشِيَهُم مِّنَ الْيَمِّ مَا غَشِيَهُمْ. طه 78

“Kemudian Fir‘aun dengan bala tentaranya mengejar mereka, tetapi mereka digulung ombak laut yang menenggelamkan mereka”. (QS. Taha: 78)

  • Istihjan At Tashrih Bi Al Ismi (استهجان التصريح بالاسم), menganggap hina dalam mengungkapkan nama. Contoh

الّذي رَباني أبي

Orang yang memeliharaku adalah ayahku.

  • Al Isyarah Ila khair Minatsawab Wal’iqab (الإشارة إلى الوجه يبنى عليه الخير من الثواب والعقاب), isyarat kepada suatu ketentuan pahala atau siksa. Firman Allah Ta’ala:

ٱلْمُلْكُ يَوْمَئِذٍۢ لِّلَّهِ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ ۚ فَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ فِى جَنَّٰتِ ٱلنَّعِيمِ. الحج 56

“Kekuasaan pada hari itu ada pada Allah, Dia memberi keputusan di an-tara mereka. Maka orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan berada dalam surga-surga yang penuh kenikmatan”. (QS. Al-Hajj: 56)

  • At Taubih (التوبيخ), mencela. Contoh:

الذي أحسن إليك قد أسأتَ إليه

Orang-orang yang bersikap baik kepadamu ,sungguh engkau telah berbuat buruk terhadapnya.

  • Al Ibham (الإبهام), menyamarkan. Contoh:

لِكُلِّ نَفْسٍ مَا قَدَمَتْ

“Setiap jiwa akan mendapat balasan dengan apa yang telah ia perbuat.”

  • Al Istighraq (الاستغراق), berusaha tenggelam atau menghabiskan waktu dan menunjukan kesibukan. Contoh

الذين يَأتُونَكَ أَكْرِمْهُمْ

“Orang-orang yang datang kepadamu, maka hormatilah mereka.”

D. Musnad Ilaih makrifat dengan tambahan Alim Lam Ta’rif (ال التعريف)

Alif lam merupakan salah satu perangkat untuk mema’rifatkan suatu kata. Sebagaimana kita ketahui bahwa, terdapat dua jenis alif lam yaitu Alif Lam Al’Ahdiyyah dan Alif Lam Al Jinsiyyah.

Mema’rifatkan musnad ilah dengan kedua lam ini memiliki tujuan sebagai berikut:

1). Musnad Ilah dengan Alif Lam Ta’rif Al ‘Ahdiyyah

Menjadikan ma’rifat Musnad ilaih dengan al ta’rif al ahdiyyah bertujuan untuk memberikan isyarat terhadap individu (fard) yang telah diketahui dengan alasan bahwa:

  • Individu (fard) tersebut telah disebut pada kalimat sebelumnya secara jelas (sharih), sehingga disebut dengan “al ta’rif ‘ahdi sharih”. (ال التعريف العهدي) Seperti firman Allah Ta’ala:

كَمَا أَرْسَلْنَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ رَسُولًا (15) فَعَصَىٰ فِرْعَوْنُ الرَّسُولَ (16). سورة المزمل

Sebagaimana kami telah mengutus dahulu seorang rasul kepada Firaun, maka Fir’aun mendurhakai rasul itu. ( al-Muzammil ; 15-16).

Alif lam pada kata ‘الرسول ‘ di atas merupakan “al ta’rif ‘ahdi sharih” yaitu pengulangan kata rasul pada ayat 15 dan 16 yang keduanya adalah rasul yang sama yaitu Nabi Musa AS.

  • Individu (fard) tersebut disebut secara talwih (sindiran), sehingga disebut dengan “al ta’rif ‘ahdi kina’i” (ال التعريف الكنائى) . Seperti Firman Allah Ta’ala:

فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ إِنِّي وَضَعْتُهَا أُنثَىٰ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنثَىٰ. سورة العمران 36

“Maka tatkala istri Imran melahirkan anaknya, dia pun berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan.”

Penyebutan kata الذَّكَرُ (laki-laki) pada ayat sebelumnya yaitu ayat 35 tidak disebutkan secara jelas, namun dia diisyaratkan dengan huruf “ما”, yang berarti janin laki-laki.

إِذْ قَالَتِ امْرَأَتُ عِمْرَانَ رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّي ۖ إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (35)

“(Ingatlah) ketika istri Imran berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak (laki-laki) yang dalam kandunganku menjadi hamba yang mengabdi kepadamu. Maka terimalah (nazar itu) dariku. Sungguh Engkaulah yang Maha Mendengar dan Mengetahui.”

  • Individu/satuan (fard) telah diketahui secara nyata di hadapan mukhathab sehingga disebut dengan “al ta’rif ‘ahdi hudlur” (ال التعريف الحضورى). Seperti Firman Allah Ta’ala:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا. سورة المائدة 3

“Pada hari ini telah Ku sempurnakan untuk kamu agamamu”.

Kata اليوم (Hari) yang dimaksud pada ayat di atas adalah hari ‘arafah pada haji wada’. Hari itu telah diketahui dan nyata bagi mukhathab.

2). Musnad Ilaih dengan Alif Lam Ta’rif Al Jinsiyyah (haqiqah)

Menjadikan ma’rifat Musnad ilaih dengan al ta’rif al jinsiyyah memiliki beberapa maksud yaitu:

  • Isyarat terhadap sesuatu secara umum tanpa memandang individunya (satuan). Al ta’rif seperti ini disebut dengan “lam al-jins” (لام الجنس), karena isyarat yang dimaksud adalah hakekat jenis sesuatu. Seperti perkataan:

الإنسانُ حَيَوَانٌ نَاطِقٌ / الذّهَبُ أثمنُ من الفضّةِ

Manusia adalah hewan yang dapat berfikir / Emas lebih berharga dari perak

  • Isyarat terhadap hakikat sesuatu dengan memandang keadaan sebagian individu secara samar (tidak ditentukan), apabila terdapat qarinah. Al ta’rif seperti ini disebut dengan “lam al ‘ahd al-dzihn”, (لام العهد الذهنى) karena yang diisyaratkan telah diketahui dalam hati. Seperti firman Allah:

قَالَ إِنِّي لَيَحْزُنُنِي أَن تَذْهَبُوا بِهِ وَأَخَافُ أَن يَأْكُلَهُ الذِّئْبُ وَأَنتُمْ عَنْهُ غَافِلُونَ. يوسف (13

“Berkata Ya`qub; “Sesungguhnya kepergian kamu bersama Yusuf amat menyedihkanku dan aku khawatir kalau-kalau dia dimakan serigala, sedang kamu lengah daripadanya.”

Kalimat أَن يَأْكُلَهُ (memakannya), adalah sebagai qarinah yang menunjukkan, bahwa serigala (الذِّئْبُ) secara umum (tidak dimaksudkan serigala tertentu). Artinya, tanpa memandang satuan dari jenis serigal, sebab hanya dilakukan oleh
sebagian serigala. Dengan demikian, Ulama Bayan menganggapnya nakirah, meskipun pada dasarnya secara lafadz sudah ma’rifat.

  • Isyarat terhadap hakikat sesuatu dengan memandang semua Individunya. Al ta’rif seperti ini disebut dengan “lam istighraq”, yang di
    antara tanda-tandanya adalah bisa diletakan kata “istitsna‟ (pengecualian) setelahnya dan kalimat tersebut memungkinkan ditempati dengan kata “kullun” (keseluruhan)”.

Lam ta’rif istighraqi sendiri memiliki dua jenis yaitu haqiqi dan ‘urfi.

Lam ta’rif istighraqi haqiqi ialah mengiayaratkan kepada setiap individu yang mencakup lafadz secara bahasa, karena adanya qarinah, baik secara haliyyah atau lafzdiyyah.

Contoh Istighraq Haqiqi Haliyyah:

عالم الغيب الشهادة

أي كل الغيب والشهادة

Contoh Istighraq Haqiqi Lafdziyyah:

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ

“demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian”. (QS. 103: 1 – 2).

أي كل إنسان بديل الاستثناء بعده

Lam ta’rif istighraqi ‘urfi ialah mengiayaratkan kepada setiap individu yang dibatasi secara adat dalam kondisi tertentu.

إنما يخشى الله من عباده العلماء

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya, hanyalah Ulama” QS. 35: 28).

Yang dimaksud Ulama‟ pada ayat di atas adalah orang-orang yang mengetahui kebesaran dan
keutamaan Allah.

جمع الأمير التجار وألقى عليهم نصائحه

Yang dimaksud dengan raja mengumpulkan para pedagang yaitu para pedagang yang ada di wilayah kerajaan, bukan pedagang secara keseluruhan di dunia.

E. Musnad Ilaih makrifat berupa isim isyarah ( اسم الإشارة)

Pada dasarnya, isim isyarah berfungsi memperjelas keadaan musyarilaih (sesuatu yang diisyaratkan), baik dekat, sedang, jauh. Baik berada dihadapan, dapat dirasakan, dapat dilihat dengan indra maupun tidak. Hal ini terjadi ketika mutakallim maupun mukhathab tidak mengetahui nama atau sifat-sifat yang terdapat pada musyar ilaih tersebut. Contoh

هذا خالدٌ / ذاك محمدٌ / ذلك زيدٌ

Ini (jarak dekat) khalid / itu (jarak sedang) Muhammad / itu (jarak jauh) Zaid

Mema’rifatkan musnad ilaih dengan isim isyarah pada suatu kalimat mempunyai beberapa tujuan balaghah sebagai berikut:

  • Ta’dzim Musyar Ilaih (تعظيم درجة مشار إليه), yaitu mengangungkan kedudukan atau derajat musyar ilaih dalam jarak dekat, seperti Firman Allah Ta’ala:

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا. الإسراء

Sungguh, Al-Qur’an ini memberi petunjuk ke (jalan) yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang mukmin yang mengerjakan kebajikan, bahwa mereka akan mendapat pahala yang besar, (QS. Al-Isra’: 9)

Atau mengangungkan derajat musyar ilaih dalam jarak jauh, seperti Firman Allah Ta’ala:

قَالَتْ فَذَٰلِكُنَّ الَّذِي لُمْتُنَّنِي فِيهِ ۖ وَلَقَدْ رَاوَدتُّهُ عَن نَّفْسِهِ فَاسْتَعْصَمَ ۖ وَلَئِن لَّمْ يَفْعَلْ مَا آمُرُهُ لَيُسْجَنَنَّ وَلَيَكُونًا مِّنَ الصَّاغِرِينَ. يوسف

Dia (istri Al-Aziz) berkata, “Itulah orangnya yang menyebabkan kamu mencela aku karena (aku tertarik) kepadanya, dan sungguh, aku telah menggoda untuk menundukkan dirinya tetapi dia menolak. Jika dia tidak melakukan apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya dia akan dipenjarakan, dan dia akan menjadi orang yang hina.” (QS. Yusuf: 32)

  • Tahqir (التحقير), meremehkan/menghinakan musyar ilaih / musnad ilah dalam jarak dekat, seperti Firman Allah Ta’ala:

لاَهِيَةً قُلُوبُهُمْ ۗ وَأَسَرُّوا النَّجْوَى الَّذِينَ ظَلَمُوا هَلْ هَٰذَا إِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ ۖ أَفَتَأْتُونَ السِّحْرَ وَأَنتُمْ تُبْصِرُونَ. الأنبياء

Hati mereka dalam keadaan lalai. Dan orang-orang yang zalim itu merahasiakan pembicaraan mereka, “(Orang) ini (Muhammad) tidak lain hanyalah seorang manusia (juga) seperti kamu. Apakah kamu menerima sihir itu padahal kamu menyaksikannya?” (QS. Al-Anbiya’: 3)

Atau menghinakan dalam jarak jauh, seperti Firman Allah Ta’ala:

فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ. الماعون

Maka itulah orang yang menghardik anak yatim, (QS. Al-Ma’un: 2)

  • Tanbih (التنبيه), yaitu mengingatkan pendengar, bahwa musyar ilaih (musnad ilaih) berhak mempunyai sifat-sifat yang akan diletakan setelah isim isyarah (musnad). Firman Allah Ta’ala:

أُوْلَٰٓئِكَ عَلَىٰ هُدًى مِّن رَّبِّهِمْ ۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ. البقرة

Merekalah yang mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. Al-Baqarah: 5)

  • Idzhar al-istighrab (إظهار الاستغراب)، yaitu menampakah rasa aneh. Contoh

كَمْ عاقلٍ عاقلٍ أَعْيَتْ مَذَاهِبُهُ # وَجَاهِلٍ جَاهِلٍ تَلْقَاهُ مَرْزُوْقًا

“Betapa banyak orang yang berakal sempurna, usaha kehidupannya lemah. Dan betapa banyak orang bodoh yang anda jumpai terpenuhi rejeki.”

  • Ta’ridh Bighabawati Al-Mukhathab (تعريض بغباوة المخاطب), yaitu menyindir kebodohan mukhathab. Contoh

أُوْلَئِكَ أَبَائِي فَجَاءَنِي بِمِثْلِهِمْ # إِذَا جَمَعْتَنَا يَا جَرِيْرُ المَجَامِعُ

“Mereka itulah bapak-bapakku, Maka datangkanlah kepadaku hai jarir semisal mereka, Ketika beberapa perkumpulan, Telah menghimpun kelompok kami”.

F. Musnad Ilaih ma’rifat dengan idhafat

Mema’rifatkan musnad ilaih dengan cara diidhafatkan/disandarkan kepada kata lain, menurut ilmu balaghah mengandung beberapa tujuan yang dimaksud yaitu:

  • Ihdlar Fi Dzihni As-Saami’ (إحضار في ذهن السامع), yaitu sebagai cara untuk menghadirkan musnad ilaih di hati pendengar secara singkat, contoh:

جَاءَ وَلَدِيِ

Anaku telah datang

Kalimat seperti di atas lebih singkat apabila dibandingkan dengan kalimat berikut. Contoh

جَاءَ الوَلَدُ الّذي لِي

  • Ta’dzim Mudhaf wa Mudhaf Ilaih (تعظيم مضاف ومضاف إليف) yaitu mengagungkan mudhaf dan mudhaf ilaih. Contoh

أُمَةُ مُحَمَّدٍ مَرْحُوْمَةٌ

Umat Nabi Muhammad adalah orang yang dirahmati.

الأَمِيْرُ تِلْمِيْذِي

Sang Raja adalah muridku

Umat adalah mudhaf dan Muhammad adalah mudhaf Ilah. Kata umat disandarkan kepada muhammad untuk tujuan pemulyaan. Begitu juga dengan tilmidz yang disandarkan kepada -aku. Tilmidz adalah mudhaf dan aku adalah mudhaf ilaih. Kata ‘aku’ secara langsung mendapatkan kemulyaan sebab idhafat dengan tilmidz, dimana tilmidz itu adalah sang raja.

  • Tahqir Mudhaf wa Mudhaf Ilaih (تحقير مضاف و مضاف إليه)، yaitu menghinakan mudhaf dan mudhaf ilaih. Contoh

وَلَدُ اللصِّ قَادِمٌ / صَدِيْقُ خَالدٍ لَصٌّ

Anak pencuri telah datang / Kawan Khalid adalah seorang pencuri

  • Al-Ikhtishar (الاختصار), yaitu meringkas. Seperti syair Ja’far Bin ‘Ulbah Al-Haritsi ketika sedang berada di penjara Makkah.

هَوَايَ مَعَ الرَّكْبِ اليَمَانِيْنَ مُصْعِدُ # جَنِيْبٌ وَجُثْمَانِي بِمَكَّةَ مُوْثَقُ

“Kekasihku beserta rombongan penunggang kendaraan bangsa Yaman, berjalan jauh mengembara, sedangkan diriku diikat di Makkah”.

Syair di atas diucapkan ketika penyair sedang berada di penjara di Makkah karena membunuh seseorang. Pada suatu hari, datang kafilah dari negeri Yaman yang di antaranya adalah seorang kekasihnya. Ketika kafilah itu akan kembali ke Yaman, ia mengatakan syairnya yang ia mulai dengan kata هَوَايَ. Ungkapan ini lebih ringkas dibandingkan menggunakan perkataan الذي أهوى sebab diungkapkan pada situasi mendesak dan kesusahan yang menimpa dirinya.

G. Musnad Ilaih ma’rifat dengan nida

Diantara sebab mema’rifatkan musnad ilaih dengan nida yaitu

  • Tidak adanya tanda tertentu untuk mengenal mukhathab sehingga dia dipanggil menggunakan perangkat nida, seperti يَا رَجُلٌ / يَا طَالِبٌ (Wahai anak laki / wahai pelajar. Kedua perkataan seperti ini sudah menjadi ma’rifat.
  • Sebagai isyarat yang menunjukan kepada sebab (illat) atau alasan mukhatab dipanggil. Contoh

يَا طَالِبُ اُكْتُبْ الدَّرْسَ / يَا تِلْمِيْدُ اِجْلِسْ عَلى الكِرسي

Wahai pelajar, tulislah pelajaran ini / Wahai pelajar, duduklah di kursi ini

4. Menakirahkan Musnad Ilah (تنكير مسند إليه)

Pada umumnya musnad ilaih harus berupa isim ma‟rifat. Namun karena suatu sebab, seperti tidak mengetahuinya mutakallim terhadap bentuk-bentuk ma’rifat yang harus digunakan, maka musnad ilaih boleh berupa ism nakirah. Tentunya hal ini tidak terlepas dari tujuan-tujuan yang hendak dicapai yaitu untuk menunjukkan jenis sesuatu, untuk menunjukkan banyaknya individu, dan untuk menunjukkan satuan yang sedikit.

  • Taksir (التكثير), yaitu menunjukkan bahwa musnad ilaih berjumlah banyak sehingga tidak dapat dinyatakan dalam satuan (individu). Seperti firman Allah:

وَإِن يُكَذِّبُوكَ فَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِّن قَبْلِكَ ۚ وَإِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الْأُمُورُ . سورة فاطر

“Dan jika mereka mendustakan kamu (sesudah kamu beri peringatan), maka sungguh telah didustakan pula Rasul-Rasul sebelum kamu…” (QS. 35: 4).

Kata رسل pada ayat di atas adalah musnad ilaih dalam bentuk isim nakirah. Dimaksudkan bahwa Rasul-rasul yang didustakan sebelum Nabi Muhammad S.A.W jumlahnya banyak hingga tidak disebutkan satuanya.

  • Qasdu Al-Ifrad (قصد الإفراد), yaitu menerapkan hukum terhadap satu individu yang tidak tertentu dari banyaknya individu sesuai dengan
    bentuk lafadznya musnad ilaih, baik satu jika berupa isim mufrad, dua jika isim tatsniyah, atau banyak jika jam’a‟. Seperti رجل (satu lelaki), رجلان (dua lelaki), dan رجال (tiga lelaki). Seperti firman Allah:

وَجَاءَ مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ رَجُلٌ يَسْعَىٰ قَالَ يَا قَوْمِ اتَّبِعُوا الْمُرْسَلِينَ. سورة يس

“Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki dengan bergegas-gegas…” (QS. 36: 20).

kata رَجُلٌ adalah musnad ilaih berupa isim nakirah, yang tentunya masih umum. Namun yang dumaksud dan ditunjuk adalah satu individu yaitu Habib al-Najjar.

  • Qasdu An Nau’iyyah (قصد النوعية), yaitu menjelaskan terhadap banyaknya jenis musnad ilaih. Seperti perkataan:

لكل داءٍ دواءٌ

Setiap penyakit terdapat obatnya. Artinya, untuk setiap jenis dari penyakit, terdapat pula jenis obatnya.

  • Taqlil (التقليل), yaitu menunjukan sedikitnya makna musnad ilaih. Seperti Firman Allah Ta’ala:

يَقُولُونَ لَوْ كَانَ لَنَا مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ مَّا قُتِلْنَا هَاهُنَا. سورة آل عمران 154

“Mereka berkata, “Sekiranya ada sesuatu yang dapat kita perbuat dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini.”

  • Ta’dhim (التعظيم), yaitu mengagungkan musnad ilaih, karena tidak dapat diungkapkan dengan bentuk ism ma’rifat. Seperti Firman Allah Ta’ala:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ. سورة الروم 30

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. [Ar Rum : 30].

  • Tahqir (التحقير), contoh

حَاجِبٌ عَنْ كُلِّ شَيْءٍ يَشِينُهُ # وَلَيْسَ لَهُ عَنْ طَالِب الْعُرْفِ حَاجب

له حاجب عظيم يحْجُبُه عن كلّ أمر يَشِينُه، وليس له حاجبٌ ما ولو كان حقيراً يَحجب عنه طالب المعروف، بسبب أنه جواد لا يردّ طالب معروف.

  • Ikhfa’ul ‘Amri (إخفاء الأمر) yaitu merahasiakan sesuatu, seperti perkataan:

قال رجلٌ إنّك انحرفتَ عن الصواب

Seorang lelaki berkata, “Engkau telah menyimpang dari kebenara”.

Pada contoh di atas, musnad ilaih disamarkan agar dia tidak ditimpa hal yang tidak diinginkan.

5. Mendahulukan dan Mengakhirkan Musnad Ilaih (تقديم وتأخير مسند إليه)

a). Mendahulukan Musnad Ilaih (تقديم مسند إليه)

Secara tata letak atau posisinya, musnad ilaih didahulukan dari pada musnad sebab merupakan mahkum ‘alaih (yang dihukumi), Adapun kedudukan selain keduanya hanyalah sebagai pengikut musnad ilaih dan musnad, karenanya, tawabi’ tidak boleh mendahului keduanya.

Dalam hal mendahulukan suatu kata dalam kalimat tidak terlepas dari empat tujuan, yaitu:

  • Penambahan makna baru disertai perbaikan lafazhnya. Seperti firman Allah:

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ (22) إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

“Wajah-wajah (orang mu‟min) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannya mereka melihat.” (QS. 75: 22 – 23).

Pada ayat di atas mendahulukan إِلَىٰ رَبِّهَا sebelum نَاظِرَةٌ yang secara balaghah berfaidah takhshish yang melahirkan makna baru. Yakni, mengkhususkan pandangan orang-orang Mu’min hanyalah kepada Allah.S.W.T disertai susunan bagus dan adanya tanasuq al-saj’ (تناسق السجع) pada akhir setiap ayat.

  • Penambahan makna baru disertai perbaikan lafazhnya. Seperti firman Allah:

بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُن مِّنَ الشَّاكِرِينَ. الزمر (66)

Karena itu, hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termamsuk orang-orang yang bersyukur. (QS. 39: 66).

Makna baru pada ayat di atas adalah adanya takhshish, yang ditandai dengan mendahulukan maf’ul bih lafadz (Allah), namun tanpa disertai perbaikan lafazh. Artinya, pengkhususan untuk beribadah kepada Allah dan hanya Dia-lah yang wajib disembah.

  • Mendahulukan dan mengakhirkan tidak berbeda (tidak ada kekhususan tertentu. Contoh

وكانت يدي ملأي به ثم أصبحت # بحمدي إلٓهي وهي منه سليب

تقدير : ثم أصبحت وهي منه سليب بحمدي إلٓهي

  • Mendahulukan dan mengakhirkan bisa merusak makna (تعقيد اللفظي). Seperti mendahulukan sifat dari maushuf atau shilah dari maushul.

Setiap kata yang disusun pada setiap kalimat tidak mungkin ditulis dan diucapkan secara bersamaan, namun ada diantaranya yang harus didahulukan, dan ada juga yang harus diakhirkan. Musnad ilaih didahulukan dari pada musnad, selain karena sesuai dengan hukum asalnya, juga karena beberapa sebab, yaitu:

a). Mempercepat kabar yang menggembirakan (تعجيل المسرّة), seperti perkataan:

العفوُ عَنْكَ صَدَرَ بِهِ الأمرُ

“Kata maaf darimu menimbulkan lahirnya sesuatu (yang menyenangkan)”

b). Mempercepat kabar yang menyusahkan (تعجيل المساءة)، seperti perkataan:

القصاصُ حكم به القاضي

Qishas telah ditetapkan hakim

c). Mendorong mengetahui musnad, jika musnad ilaih dikemukakan dengan pengertian yang aneh (تشويق إلى المتأخر إذا كان المتقدم مشعرا بالغرابة), seperti syair Abu Al-Ala’ Al-Ma’ry yang mengatakan:

والّذِي حَارَتْ البريّةُ فِيْهِ # حيوانٌ مستحدثٌ مِنْ جمادٍ

“Sesuatu yang membingungkan manusia, adalah kehidupan hewan (manusia) yang tercipta dari air mani”.

d).Taladzdzudz (التلذذ), yaitu merasa nyaman ketika mengucapkan) dan tasyrîf (memuliakan musnad ilaih), seperti kata-kata:

ليلي وصلت وسلمي هجرت

Laila datang dan Salma pergi.

محمدٌ حبيبنا

Muhammad adalah kekasih kita

e). Tabarruk (التبرك)، yaitu mengambil berkah. Seperti

اسم الله اهتديت به

f). Takhshish (التخصيص), yaitu berfaidah mengkhususkan musnad ilaih ketika didahului nafyi dan musnad berupa fi’il yang fa’il-nya berupa dhamir yang kembali pada musnad ilaih. Seperti perkataan:

ما أنا قلت هذا

“Saya tidak mengatakan hal ini”.
Maksudnya, khusus saya tidak mengatakan hal ini. Sebab perkataan di atas telah dikhususkan untuk diri pribadi, maka tidak sah apabila dikatakan seperti berikut:

ما أنا قلت هذا ولا غيري

“Saya tidak mengatakan hal ini dan tidak pula selainku”

Sebab, perkataan “Saya tidak mengatakan hal ini” mafhumnya adalah dikatakan untuk yang lain. Sedangkan perkataan “tidak pula selainku”, mantuqnya adalah tidak dikatakan untuk selainku. Dengan demikian, terjadilah kontadiksi pola kalimat negatif dan positif.

Musnad ilaih ketika didahului nafyi (negatif), dan musnad ketika berupa fi’il, terjadi dalam 3 keadaan/tempat:

  • Musnad ilah ma’rifat berupa isim dzahirah terletak setelah nafyi.. Contoh

ما خالد فعل هذا

  • Musnad Ilaih ma’rifat berupa isim dhamir terletak setelah nafyi. Contoh

ما أنا قلتُ هذا

  • Musnad Ilah nakirah berupa isim dzahirah terletak setelah nafyi. Contoh

ما تلميذ حفظ الدرس

Adapun apabila musnad ilaih tidak didahului nafyi, dan musnad tetap dalam bentuk fi’il yang fa’il-nya berupa dhamir yang kembali pada musnad ilaih, maka berfaidah tqwiyah al hukmy (تقوية الحكم) yaitu menguatkan hukum musnad ilaih. Contoh.

أنت لا تبخل

Kau jangan bakhil

Pada contoh di atas, terjadi penyandaran fi’il (musnad) kepada dhamir mukhathab أنت sebagai (musnad ilaih), dimana dhamir pada kata تبخل kembali kepada أنت. Dengan demikian, status musnad ilaih di atas telah diperkuat dengan musnadnya.

Musnad ilaih ketika tidak didahului nafyi (negatif), dan musnad ketika berupa fi’il, terjadi dalam 6 keadaan/tempat:

  • Musnad Ilaih ma’rifat berupa isim dzahirah terletak sebelum nafyi. Contoh

خالد ما فعل هذا

  • Musnad Ilaih ma’rifat berupa isim dzahirah tanpa didahului nafyi. Contoh

خالدٌ فعل هذا

  • Musnad Ilaih ma’rifat berupa isim dhamir terletak sebelum nafyi. Contoh

أنا ما فعلت هذا

  • Musnad Ilaih ma’rifat berupa isim dhamir tanpa didahului nafyi. Contoh

أنا فعلت هذا

  • Musnad Ilaih nakirah berupa isim dzahirah terletak sebelum nafyi. Contoh

رجل ما فعل هذا

  • Musnad Ilaih nakirah berupa isim dzahirah terletak sebelum nafyi. Contoh

تلميذ حضر اليوم في المدرسة

g). Ta’mim (التعميم), yaitu memberlakukan secara umum, baik umum al-salbi (عموم السلب) atau salbi al-umum (سلب العموم).

  • Umum al-salbi atau disebut dengan syumul al nafyi (peniadaan secara keseluruhan) ditandai dengan mendahulukan kata yang mengandung arti umum seperti كل dan جميع sebelum musnad ilaih, kemudian perangkat nafyi sebelum musnad. Maksud yang terkandung adalah menafyikan setiap fard (individu) secara umum dari setiap fard sehingga tidak ada celah untuk satu individu yang ketinggalan.

Contoh

كل ظالم لا يفلح

Setiap orang dzhalim tidak akan bahagia. Artinya, tidak ada satu fard pun dari orang dzalim yang akan bahagia.

كل تلميذ لا ينجح في امتحانه

Setiap siswa tidak lulus dalam ujian. Artinya, tidak ada satupun siswa yang lulus.

  • Salbi Al-Umum atau disebut nafyu al-syumul (peniadaan secara sebagian) ditandai dengan mendahulukan perangkat nafyi, kemudian setelahnya kata yang mengandung arti umum seperti كل dan جميع. Dengan demikian, masih mungkin sekali meninggalkan hal kecil dari fard yang tertinggal.

لم ينجح كل تلميذ

Umumnya, setiap siswa tidak lulus

Secara keseluruhan tidak ada siswa yang lulus, namun masih terdapat sebagian kecil yang lulus.

b). Mengakhirkan Musnad Ilaih (تأخير مسند إليه)

Mengakhirkan musnad ilaih erat kaitanya dengan dengan mendahulukannya. Dengan demikian, musnad ilaih boleh diakhirkan jika terdapat sebab-sebab untuk mendahulukan musnad, sebagaimana yang akan dibahas pada pasal musnad dan ahwalnya.

Wallahu’alam.

Sumber;

جواهر البلاغة، أحمد الهاشمي، ص 99-130

 

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 11

No votes so far! Be the first to rate this post.

Recomended

Juha dan Raja (جُحَا وَالمَلِكُ)

جُحَا وَالمَلِكُJuha dan Seorang Rajaذَاتَ يَوْمٍ، كَانَ جُحَا يَجْلِسُ مَعَ المَلِكِ فِي قَصْرِهِ، حِيْنَمَا قَالَ المَلِكُ مُدَاعِبًا جُحَا ؛ أَتَسْتَطِيْعُ يَا جُحَا أَنْ تَمْضِيَ...

Syarah Kitab Jurumiyah [Abu Ziyad Muhammad]

هذا الكتاب المسمى (الـمُبْـهِـرُ فِي شرح نظم الآجرومية لِعُبَيْدِ رَبِّهِ)بسم الله الرحمن الرحيمالحَمْدُ لِلَّهِ الرَّافِعِ لِأَوْلِيَائِهِ، الخَافِضِ لِأَعْدَائِهِ، المُقَدَّسِ بِصِفَاتِهِ وَأَسْمَائِهِ، وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ...

Terjemah Bait Alfiyah Ibnu Malik

Biografi Ibnu MalikJika Kalian pernah mondok di pesantren pasti tidak akan asing dengan nama legendaris seperti Imam Ibnu Malik. Ya Beliau adalah Syeikh Al-Alamah...

Isim Ma’rifat & Nakirah (khusus dan umum)

بسم الله الرحمن الرحيمPada kesempatan kali ini kita akan mengenal apa itu Isim Ma’rifat (Khusus) & Isim Nakiroh (Umum)Perhatikan contoh berikut:فِى الحَدِيْقَةُ رَجُلٌ /...

Tinggalkan Komentar

Latest News

Peci Kepunyaan Juha

عِمَامَةُ جُحَاPeci Kepunyaan Juhaكَانَ لِجُحَا جَارٌ شَدِيْدُ البُخْلِ، كُلَّمَا رَأَى جُحَا رَاحَ يَحُثُّهُ بِعَدَمِ الإِنْفَافِ عَلى أَهْلِهِ حَتَّى يُصْبِحُ...

Juha dan Seorang Pencuri Bodoh

جُحَا وَاللَّصُّ الأَحْمَقُJuha dan Seorang Pencuri Bodohأَرَادَ لِصٌّ غَبِيٌّ أَنْ يَسْرِقَ بَيْتَ جُحَا، فَذَهَبَ إِليهِ في مُنْتَصَفِ اللَّيْلِ وَتَسَلَّقَهُ...

Juha Mengetahui Jalan

جُحَا يَعْرِفُ الطَّرِيْقَJuha mengetahui Jalanاحْتَاجَتْ زَوْجَةُ جُحَا إلى بَعْضِ الحَطَبِ لِكَى تُوْقِدَ نارًا تَطْهُو عَلَيْهَا الطَّعَامُ. فَذَهَبَ جُحَا لِيَحْتَطِبَ مِنْ مَكَانٍ تَكْثُرُ بِهِ الأَشْجَارُIstri...

Kalam Insya’ (الكلام الإنْشِائُى) Thalabi dan Ghair Thalabi Dalam Ilmu Ma’ani

Kalam Insya' (الكلام الإنْشِائُى)Materi ini lanjutan dari pembahasan objek ilmu ma'ani yang pertama yaitu kalam/kalimat. Pembahasan sebelumnya terkait kalam khabari, tujuan dan fungsinya,  selanjutnya...

Mengetahui Perbedaan Fashahah (الفصاحة) dan Balaghah (البلاغة) Dalam Bahasa Arab

Unsur/Komponen Ilmu Bahasa ArabRasanya belum sempurna apabila belajar Bahasa Arab belum dilengkapi dengan mempelajari materi Ilmu Balaghah. Terdapat sekian banyak cabang ilmu untuk memahami...

Kuah Kelinci (مَرَقُ الأَرْنَبِ) Kisah Juha

مَرَقُ الأَرْنَبِKuah Kelinciحَمَلَ أَحَدُ الفَلاّحِيْنَ أَرْنَبًا وَذَهَبَ بِهِ إلَى جُحَا وَأَخَذَ ! يَطْرُقُ البَابَSeorang petani membawa seekor kelinci kepada Juha lalu dia mengetuk pintuفَتَحَ...

Sponsored Articles

More Articles Like This