Pengertian Kalam Dalam Kitab (تيسير قواعد النحو وألفية ابن مالك)

TMBA
4.7
(43)
Read Time2 Minutes, 23 Seconds

بسم الله الرحمن الرحيم

رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّن لِّسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي

أيُّها الأصدقاء و الأحبة في الله، إن شاء اللّه نحن سنبدأ درس هذا الكتاب الذي ألفه الشيخ مصطفى محمود الأزهرى، اسم الكتاب هو تيسير قواعد النحو للمبتدءين، نحن سندرس معا، ربّنا يسهّل أمورنا جميعا

في الصفحة الثالثة والرابعة بدأ المؤلف في تأليفه بالموضوع عن تعريف الكلام وتوضيحه ما هو المراد با الكلام

Pengertian Kalam dalam Kitab TaisirulQawa’idi Nahwi & Alfiyah Ibnu Malik (Abū Fāris Daḥdāḥ)

1. Dalam Kitab Taisir

a. Pengertian Kalam

اَلْكَلَامُ : هو اَللَّفْظُ اَلْمُرَكَّبُ المُفيدُ بِالْوَضْعِ العربيِّ والقَصْدِ فائِدَةً يَحْسُنُ السُّكُوتُ عَلَيها

Perhatikan dalam definisi diatas terdapat 4 empat kriteria dalam membangun suatu kalam

b. Kriteria Kalam

  • Kriteria pertama:

أن يكونَ لفظاً

Lafadz اَللَّفْظُ (Ucapan) adalah:

الصَّوْت المُشْتَمِلُ على بَعْضِ الحُرُوفِ الهِجَائيةِ مثل عمر

Suatu kalimat harus terangkai dari bagian-bagian huruf hijaaiyyah baik secara haqiqi seperti kalimat عمر (ع – م – ر).

Ataupun secara hukum seperti Dhomir Mustatir, baik menunjukan suatu makna atau tidak. Karena bagaimanapun dhomir terangkai dari suatu yang diucapkan.

Maka dari sini, Ahli Nahwu berpendafat bahwa: “Bentuk tulisan dan isyarat bukan merupakan suatu kreteria dalam terbentuknya suatu kalam karna tidak diucapan.

  • Kriteria kedua:

أن يكونَ مركَّبا

Murakkab مُرَكَّبٌ (Tersusun)

مَا تَرَكَّبَ مِنْ كَلِمَتَيْنِ فــاكْثَرَ

Suatu kalimat harus tersusun dari pada dua kata atau lebih seperti اسْتَقِمْ (Kata kerja perintah)

Kalimat اسْتَقِمْ adalah Murakkab yang tersusun dari 2 kata ( Perintah dan kamu)

اسْتَقِمْ + أنت

  • Kriteria ketiga:

أن يكونَ مفيداً

Mufiid مُفِيْدٌ ( Berfaidah)

ما أَفَادَ فائِدَةً تَامَّةً لا يتشوف السَّامِعُ معها إلى شيءٍ بِحَيثُ يَحْسُنُ السُّكُوتُ مِن المُتَكَلِّمِ وَ السَّامِعِ عَلَيها

Sesuatu yang memberikan faidah sempurna yaitu sekiranya pendengar tidak memberikan suatu tanggapan. Artinya Mutakallim (Pembicara) dan pendengar) akan diam dan mengerti atas kalimat yang diucapkan.

  • Kriteria empat:

أن يكونَ موضوعاً بالوضْعِ العربيِّ والقصدِ

Makna yang ditetapkan orang arab dan dimaksud. Artinya suatu makna yang dimaksud dan ditetapkan oleh orang Arab (Mutakkalim). Dimana Lafadz tersebut memberikan suatu pengertian sempurna sehingga pendengar memahami maksud dari objek pembicaraan.

Perhatikan Contoh berikut:

الدينُ المعاملةُ

Agama adalah suatu hubungan

Susunan diatas sudah memenuhi keempat kriteria, ” Lafadz, murakkab, Mufiid dan kandungan makna yang disampaikan pembicara”

Jika seorang pembicara hanya mengucapkan kalimat الدينُ , tentunya lawan bicara (pendengar) tidak akan memahami maksudnya.

Namun ketika sudah ditambahkan kalimat المعاملةُ, maka akan melahirkan suatu makna yang bisa dimengerti dari kedua belah pihak.

Demikian sekilas tentang apa itu kalam dalam Kitab “تيسير قواعد النحو”. Selanjutnya dipertemuan yang akan datang kita akan masuk kedalam klasifikasi ‘Kalam’ kedalam 3 jenis yaitu Isim, Fi’il dan Huruf

|||Baca materi Isim dan Pembagianya

2. Dalam Kitab AlFiyah

Syarah Alfiyah Ibnu Malik; Abū Fāris Daḥdāḥ.

كَلاَمُــنَا لَفْــظٌ مُفِيْدٌ كَاسْــتَقِمْ # وَاسْمٌ وَفِعْلٌ ثُمَّ حَرْفٌ الْكَلِمْ

Dalam bait ke#7 ini menjelaskan pengertian Kalam menurut perspektif Ilmu Nahwu yaitu suatu lafadz yang memberikan suatu faidah seperti lafadz اسْــتَقِمْ (Fi’il Amr + أنت).

Perhatikan ‘Struktur Bagan Kalam’ diatas. Menjelaskan bahwa Kalam terangkai dari dua komponen berbeda yaitu:

a. Al’Umdah (العُمْدَة)

ما لايستقيم الكلام بغيره إِذا حُذفَ ، وهي خِلاف الفضلة

Kalam tidak akan terbentuk jika salah satu dari Musnad atau Musnad Ilai dibuang. Artinya jika Mubtada harus ada Khobarnya dan Jika Fi’il harus ada Fa’ilnya.

Misalkan:

يَعْلَمُ اللّهُ

  • Fi’il Mudhori’ يَعْلَمُ (Musnad)
  • Lafadz Jalaalah اللّهُ (Fa’il/Musnad Ilaih).

Susunan kalam seperti ini disebut dengan (عُمْدَةُ الجُمْلَةِ)

b. Alfadhlah ( الفَضْلَةُ)

ما يستقيم الكلام بغيره إِذا حُذفَ

Suatu Kalam ( عُمْدَةُ الجُمْلَةِ) tetap berdiri sendiri meski tanpa Fadhlah Jumlah ( فضلة الجُمْلَةِ), baik dari kelompok Manshubat seperti Maful Bih, Dzorof, Tamyiz, Hal, Mustastna dll atau Majruraat seperti Jar Majruf, Idhofat, Taabi’ Majrur ”Athaf, Na’at, taukid  dan Tawaabi’ (yang mengikuti tanda ‘irab sebelumnya)

Contoh:

هم فيها خالدون

Mereka kekal berada didalamnya

هم خالدون فيها

Disebut dengan عُمْدَةُ الجُمْلَةِ karena didalamnya terdapat Musnad dan Musnad Ilaih (Mubtada dan Khobar)

Disebut dengan فضلة الجُمْلَةِ karena didalamnya terdapat kelompok Majruraat (Huruf Jar dan Majrur).

Jadi dalam susunan diatas meski tidak terdapat lafadz فيها, akan tetap disebut dengan Kalam, karena فضلة الجُمْلَةِ hanyalah sebagai pelengkap makna.

Adapun jika dalam suatu susunan terdapat lebih dari 2 komponen, misalkan (Fi’il, Fa’il, Maful Bih, Na’at, Haal dan lainya), maka kalimat tersebut dinamakan dengan Jumlah, Paragraf, Alinea dan Nash.

Semoga bermanfaat

0 0

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 4.7 / 5. Vote count: 43

Tinggalkan Komentar

Next Post

Percakapan Bahasa Arab Tentang Sedekah (الصدقة)

4.7 (43) Alhamdulillah latihan mengasah kemampuan mendengar B. Arab bagian ke#1 dengan judul “Sedekah” sudah selesai dilaksanakan via group Whatsapp & Instagram. Insya Allah akan Kita lanjutkan bagian ke#2 dengan judul “Akhlaq”. Dalam video pertama, hiwar (percakapan) dilakukan oleh 5 orang yaitu Kakek, Nenek, Anak (pr), Anak (lk) dan Penjual […]
error: Content is protected !!