Pengertian Al-Mizan As-Sharfi (المِيْزَانُ الصَّرْفِي)

5
(14)

Pengertian Al-Mizan As-Sharfi (المِيْزَانُ الصَّرْفِي)

 

Mafhum Al-Mizan As-Sharfi

Bagi kalian yang pernah belajar ilmu sharf pasti tidak asing dengan istilah ‘mizan sharfi‘. Ya, istilah ini dipergunakan dalam bahasa arab untuk menimbang suatu kata, baik berupa kata kerja ( fi’il) maupun kata benda (isim) agar bisa diketahui pokok dasarnya ketika terjadi penambahan, pembuangan, pertukaran huruf dan lainya.

Agar mudah dalam menentukan pokok suatu kata, Ulama Sharf memilih tiga huruf sebagai penimbang atau perumpamaan yaitu huruf fa, ‘ain dan lam (الفاء، العين واللام). Dengan demikian, huruf pertama suatu kata disebut dengan fa’ kalimat, huruf kedua ‘ain kalimat, dan huruf ketiga lam kalimat. Seperti

ضَرَبَ -» فَعَلَ
ضَ | رَ | بَ
فَ | عَ | لَ

Kata ضَرَبَ diperumpamakan seperti فَعَلَ dimana (Dha = Fa’), (Ro = ‘Ain) dan (Ba = Lam). Yakni, kata ضَرَبَ disebut dengan istilah mauzun, dan kata فَعَلَ disebut dengan wazan.

Apakah wazan yang harus mengikuti mauzun atau sebaliknya?

Mauzun sudah lahir sebelum wazan dibuat. Kata-kata (mufradat) bahasa arab sudah dipergunakan sejak dahulu, baik dalam ucapan maupun tulisan, lalu setelahnya baru lahir kaidah tata bahasa (nahwu & sharf). Dengan demikian, wazan harus mengikuti mauzun ? Ya, wazan (فَعَلَ) harus mengikuti mauzun (ضَرَبَ), begitu juga dengan kata-kata lainya.

Contoh kata dasar فهم (tanpa harakat). Apakah mungkin kita mengetahui harakatnya dengan benar? Pada awalnya tentu tidak. Mungkin kita akan berasumsi fahuma, fahama, fahima, fihuma, fihima dll. Namun bagi Orang Arab hal sederhana seperti ini tidak akan sulit, mereka sudah pasti mengharakatinya dengan فَهِمَ tidak dengan فَهُمَ. Ketika diharakati dengan فَهُمَ tentu aneh di mata dan telinga mereka. Bahkan mungkin mereka tidak faham sama sekali apalagi ketika diucapkan. Seperti kita mengucapkan kata ‘rumah’ menjadi ‘rimoh’. Tentu kita tidak akan memahaminya.

Setelah diketahui bahwa harakat فهم yaitu فَهِمَ, selanjutnya Ulama Sharf menentukan wazan yang sesuai dengan harakatnya yaitu فَعِلَ. Artinya, setiap wazan mengikuti mauzunya, baik untuk kata-kata yang memiliki tiga huruf, empat huruf dan lima huruf.

Apa mungkin kita membuat wazan-wazan dengan mengikuti mauzun-mauzun yang sudah ada ?

Ya mungkin dan disinilah ilmu sharf berperan. Bahkan kita tinggal mengikuti kidah-kidah yang sudah dibuat oleh Ulama Sharf. Namun tidak dengan sebaliknya. Kita tidak mungkin membuat mauzun (suatu kata) yang belum jelas keabsahanya. Apakah mauzun yang kita buat itu lumrah dan umum digunakan orang arab atau justru ketika kita masukan kedalam wazan tertentu malah tidak bisa difahami mereka. Misalkan, kita membuat kalimat dengan kata اِنْفَهَمَ dengan dalih terdapat wazan انفعل. Tentu hal ini perlu penelusuran lebih mendalam pada kamus-kamus arab. Apakah kata اِنْفَهَمَ ada digunakan dan bisa dipahami? Untuk perubahan dari kata dasar فَهِمَ yang lumrah digunakan seperti menjadi استفهم / تفاهم / تفهّم / فَهَّم / أفهم

Apabila kita merujuk kamus arab, saya sendiri belum pernah menemukan kata اِنْفَهَمَ ditulis dalam sebuah kalimat. Bahkan dalam percakapan sehari-hari belum pernah mendengar kata itu dari orang arab. Artinya, bisa dipastikan tidak semua kata dasar bisa dirubah mengikuti wazan-wazan yang telah ulama sharf tentukan, sebab justru wazan-wazan inilah dibuat untuk mengikuti mauzun yang sudah ada sejak bahasa arab lahir.

Alhasil, wazan-wazan yang ada adalah gambaran untuk kata-kata yang sudah jelas keberadaanya, baik dalam kalam Arab seperti Syair, Natsr atau Hadits dan Al-Qur’an.

Baca Juga:

Kenapa Ulama Sharf memilih ketiga huruf fa, ‘ain dan lam (فَعَلَ) ?

Mereka tidak memilih huruf lain, misalkan min, kaf dan nun (مَكَنَ), justru memilih fa, ‘ain dan lam (فعل) sebagai mizan sharfi.

Pertama: Sebab lafadz فَعَلَ secara makna mengandung arti luas. Setiap pekerjaan atau peristiwa apapun bisa dikatakan sebuah pekerjaan. Seseorang makan, minum, mandi, shalat, zakat, puasa, semuanya disebut dengan فعل (perbuatan/perbuatan).

Kedua: Sebab ketiga huruf ini sudah mewakili semua huruf hijaiyyah ketika kita ucapkan dari makharajnya. Fa’ dipilih mewakili huruf yang keluar dari bibir, ‘Ain dipilih mewakili huruf yang keluar dari tenggorokan, dan lam mewakili huruf dari lidah.

Ketentuan Wazan dan Mauzun

a). Mizan sharfi hanyalah berlaku untuk kategori isim mutamakin dan fi’il mutasharif. Tidak berlaku untuk isim mabni (seperti isim dhamir, isim isyarah), fi’il jamid dan huruf.

b). Apabila kata (mauzun) terdiri dari tiga huruf asli, maka wazan dibuat sama persis sesuai dengan mauzunya dari segi harakat (dhammah, fathah, kasrah) dan sukun. Seperti

كَرُمَ -» فَعُلَ
فَتَحَ -» فَعَلَ
فَهِمَ -» فَعِلَ
بَيْتٌ -» فَعْلٌ
زَيْدٌ -» فَعْلٌ
قَلَمٌ -» فَعَلٌ

c). Apabila kata (mauzun) terdiri dari empat atau lima huruf asli, maka wazan dibuat dengan menambahkan satu lam atau dua lam kalimat. Seperti

دَحْرَجَ -» فَعْلَلَ
جَعْفَرٌ -» فَعْلَلٌ
سَفَرْجَلٌ -» فَعْلَّلٌ
صُرْصُرٌ -» فُعْلُلٌ

d). Apabila kata (mauzun) memiliki pengulangan huruf, maka wazan juga dibuat sama dengan pengulangan huruf. Seperti

قَدَّمَ -» فَعَّلَ
أَخَّرَ -» فَعَّلَ
كَرَّمَ -» فَعَّلَ

e). Apabila kata (mauzun) memiliki penambahan huruf, baik satu, dua atau lebih, maka mauzun dikembalikan terlebih dahulu ke bentuk asalnya yaitu 3 huruf sesuai fa’, ‘ain dan lam. Lalu setelahnya ditambahkan huruf zaidah (tambahan) pada wazan yang akan dibuat.

Seperti mauzun أَكْرَمَ berwazan أَفْعَلَ dia memiliki penambahan satu huruf yaitu hamzah. Dikembalikan terlebih dahulu kedalam bentuk asalnya yaitu كَرُمَ berwazan فَعُلَ. Lalu setelahnya ditambahkan hamzah menjadi أَكْرَمَ berwazan أَفْعَلَ

Atau seperti mauzun اِسْتَغْفَرَ berwazan اِسْتَفْعَلَ dia memiliki penambahan tiga huruf yaitu alif, sin dan ta. Dikembalikan terlebih dahulu kedalam bentuk asalnya yaitu غَفَرَ berwazan فَعَلَ. Lalu setelahnya ditambahkan huruf alif, sin dan ta menjadi اِسْتَغْفَرَ berwazan اِسْتَفْعَلَ

f). Apabila pada kata (wazan) terdapat huruf yang dibuang, maka pada wazan juga harus dibuang.

Seperti قِ bentuk fi’il ‘amr dari وَقَى berwazan فَعَلَ, maka قِ berwazan عِ sebab fa’ dan lam kalimah dibuang pada mauzunya.

Atau seperti قُلْ fi’il ‘amr dari قَالَ berwazan فَعَلَ, maka قُلْ berwazan فُلْ sebab ‘ain kalimah dibuang pada mauzunya.

g). Apabila pada kata (mauzun) terdapat penambahan huruf, dimana huruf tersebut merupakan hasil pergantian dari huruf ta menjadi tha pada wazan اِفْتَعَلَ، maka wazan tetap mengikuti huruf asli.

Seperti kata اِضْطَرَبَ asalnya اِضْتَرَبَ dimana ta diganti dengan tha, maka dia berwazan اِفْتَعَلَ bukan اِفْطَعَلَ

Catatan: Kenapa terjadi pembuangan, penggantian huruf? Jawabanya nnti pada pembahasan ‘illal, hazf dan qalb.

h). Apabila pada kata (mauzun) terjadi pemindahan huruf (القلب المكاني), maka pada wazan juga mesti dibuat sama (pindah).

Seperti kata جَبَذَ yang asalnya جَذَبَ berwazan فَعَلَ, maka جَبَذَ berwazan فَلَعَ

i). Apabila pada kata (mauzun) terjadi pertukaran huruf, maka wazan tetap pada keadaan aslinya.

Seperti قَالَ yang asalnya قَوَلَ dengan pergantian waw menjadi alif, maka قَالَ tetap berwazan فَعَلَ bukan فَوَلَ

Wallahu’alam.

Rujukan:

الصرف الكافى، أيمن أمين عبد الغني. ص 26

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 14

No votes so far! Be the first to rate this post.

Kisah Pembawa Sampah (حامل القمامة)

قِصَّةُ حَامُلِ القُمَامَةِKisah Pembawa Sampahفِي الصَباح الباكرِ خَرَجَ الفَهدُ مِنْ بَيْتِهِ يَمْشِي بخَطَّى ثابتةٍ كي يَصْطَادَ طعاما له ولِأُسْرَتِهِ. لَمَّا رَأَتْهُ الحيواناتُ اِرْتَعَدَتْ خَوْفًا...

Dialog Mencari Apartemen (Bahasa Arab)

Hiwar lanjutan hal: 51, 58, 65 & 75 Buku Ta'bir Silsilah Ta'lim Al- Lughah Al-Arabiyyah Mustawa Duaعَبْدُ اللَّهِ يُرِيْدُ سَكَنًاAbdullah Mencari Apartemenعَبْدُ الله :...

Juha yang baik hati

جحا طَيْبُ القَلْبِJuha yang baik hatiكَانَ جُحَا يَعْمَلُ فِى جَمْعِ الحَطَبِ ، وَ كَانَتْ زَوْجَتُهُ تَعْمَلُ بِغَزْلِ الكَتَّانِ فِى البَيْتِ , وَ كَانَ فَقِيْرَيْنِ...

Kitab Qawa’id Imla (Free Download)

Kitab Qawa'id Imla karya Prof Doktor Abdujawwad Attayyib adalah kitab yang membahas tentang cara penulisan (Imla) bahasa arab yang benar, dimulai dari Hamzah (hamzah...

Huruf yang ditulis namun tidak dibaca (يكتب ولا ينطق)

Dalam kaidah imla, terdapat huruf-huruf yang ditulis namun tidak diucapkan (ما يكتب ولا ينطق). Diantara huruf tersebut yang paling popoler adalah alif dan wawu.1....

Mengenal ‘Irab Isim Lima (أسماء الخمسة)

الأسماء الخمسة Isim Limaقال ابن مالكوَارْفَعْ بَوَاوٍ وانْصِبَنَّ بِالأَلِف # واجْرُرْ بِيَاءٍ مَا مِنَ الأسْمَا أَصِفْ # منْ ذَاكَ ذُو إنْ صُحْبَةً أَبَانَا # وَالْفَمُ...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

I’rab kalimat (ربا،دينا، نبيا)Pada Bacaan Dzikir Pagi/Petang

Pertanyaan dari Ukhty Nur Hasanah terkait i'rab kalimat pada bacaan dzikir Pagi/PetangBagaimanakah i'rab kalimat رَبًّا, دِيْنًا,نَبِيًّا pada bacaan dzikir...

Hal dan Amilnya Dalam Surah Maryam 29

Pertanyaan dari Ukhty Nur (Malaysia) terkait hal dan na'at.Pertanyaan pertama: Apakah kata مختلف pada Surah Fatir Ayat 27 adalah...