Pembahasan Musnad (المسند) dan Ketentuanya

Must Read

Huruf Asli & Huruf Tambahan (Ilmu Sharf)

Huruf Asli & Huruf Tambahan (Ilmu Sharf) Mengetahui huruf asli dan tambahan pada suatu kata dalam bahasa arab sangat penting,...

Pengertian Al-Qalb Al-Makani (Ilmu Sharf)

Pengertian Al-Qalb Al-Makani (القلب المكاني) Al-Qalb Al-Makani (transposisi) adalah salah satu istilah yang terdapat dalam ilmu sharf. Imam As-Suyuthi dalam...

Pengertian Al-Mizan As-Sharfi (المِيْزَانُ الصَّرْفِي)

Pengertian Al-Mizan As-Sharfi (المِيْزَانُ الصَّرْفِي)   Mafhum Al-Mizan As-Sharfi Bagi kalian yang pernah belajar ilmu sharf pasti tidak asing dengan istilah 'mizan...
TMBAhttps://bahasa-arab.com/
Belajar Bahasa Arab tidak semudah membalikan telapak tangan, butuh keseriusan dan istiqomah. Namun tidak ada kata terlambat jika kita ingin ingin mempelajarinya.

5
(4)

Sebelum melanjutkan membaca materi musnad, sebaiknya pelajari terlebih dahulu materi musnad ilaih sebab keduanya menyambung dan masih termasuk pembahasan objek ilmu ma’ani kedua.

 

I. Definisi Musnad (المُسْنَد)

المسند هو الخبر، والفعل التام، واسم الفعل، المبتدأ الوصف المستغنى بمرفوعه عن الخبر، وأخبار النواسخ، والمصدر النائب عن الفعل

Musnad adalah khabar mubtada, mubtada yang tidak memiliki khabar, fi’il tam, isim fi’il, khabar dari amil nawasikh, mashdar pengganti fi’il. Artinya, lafad-lafadz yang menjadi musnad pada suatu kalimat dibatasi hanya bagi yang menduduki posisi-posisi berikut ini.

  • Khabar mubtada:

خَالِدٌ ناجِحٌ
خَالِدٌ :مسند إليه / مبتدأ
ناجِحٌ : مسند / خبر

  • Mubtada yang tidak memiliki khabar:

أَ نَاجِحٌ الرَّجُلُ
أ : أدة الاستفهام
ناجح : مسند / مبتدأ
الرَّجُلُ : فاعل سد مسد الخبر

Catatan: Untuk kaimat seperti أَ نَاجِحٌ الرَّجُلُ memiliki dua ketentuan ‘irab seperti di atas atau seperti berikut:

أَ نَاجِحٌ الرَّجُلُ
أ : أدة الاستفهام
ناجح : مسند / خبر مقدم
الرَّجُلُ : مسند إليه / مبتدأ مؤخر

Namun sesuai dengan pembahasan musnad ini, dimana yang menjadi salah satu objeknya adalah mubtada yang tidak memakai khabar, maka mengikuti ‘irab yang pertama.

  • Fi’il Tam:

جَاءَ خَالِدٌ
جَاءَ : فعل / مسند
خَالِدٌ : فاعل / مسند إليه

  • Isim Fi’il:

هَيْهَاتَ الظُلمُ
هَيْهَاتَ : اسم فعل / مسند
الظُلمُ : فاعل / مسند إليه

Lihat: Apa itu Isim Fi’il

  • Khabar Amil Nawasikh:

إنَّ خَالدًا نَاجِحٌ
إنَّ : حرف ناسخ
خَالدًا : اسم إن / مسند إليه
نَاجِحٌ : خبر إن / مسند

كَانَ خالدٌ ناجِحًا
كَانَ : حرف ناسخ
خَالدٌ : اسم كان / مسند إليه
نَاجِحًا : خبر كان / مسند

  • Mashdar pengganti fi’il:

فَإِذَا لَقِيتُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا فَضَرْبَ الرِّقَابِ. سورة محمد 4

ضَرْبَ : مصدر نائب عن فعله / مسند

Untuk perluasan bisa dilihat materi ilmu nahwu tentang Fungsi Mashdar dan Cara Pembentukan Mashdar

II. Keadaan – Keadaan Musnad (أحوال المسند)

Keberadaan Musnad pada suatu kalimat sama halnya seperti Musnad Ilaih yang tidak terlepas dari keadaan-keadaan yang terkait dengan penyebutan (الذكر), pembuangan (الحذف), penakirahan (التنكير), pengkhususan (التعريف), didahulukan (التقديم)، dan diakhirkan (التأخير).

1. Menyebutkan dan membuang Musnad (ذكر وحذف المسند)

a) Penyebutan musnad memiliki tujuan sebagai berikut:

  • Musnad tetap disebutkan karena mengikuti hukum asal (ككون ذكره هو الأصل). Contoh

العلمُ خيرٌ مِنَ المالِ

  • Musnad disebutkan untuk menunjukan atas lemahnya ingatan si pendengar (ضغف تنبّه السامع), sebagaimana Firman Allah:

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ. سورة إبراهيم 24

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) kelangit.” (QS. 14: 24).

Apabila musnad (lafazh ثَابِتٌ) dibuang, tentu pendengar tidak dapat memahaminya dengan baik karena lemah ingatannya. Dengan demikian musnad tetap ditampakan.

  • Musnad tetap disebutkan karena dia merupakan jawaban dari pertanyaan mukhathab (lawan bicara). Seperti Firman Allah.

قُلْ يُحْيِيهَا الَّذِي أَنشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيمٌ. سورة يس (79)

Katakanlah (Muhammad), “Yang akan menghidupkannya ialah (Allah) yang menciptakannya pertama kali. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk, (QS. Yasin: 79)

Ayat diatas sebagai jawaban dari pertanyaan yang tertera pada ayat sebelumnya yaitu ayat 78

مَن يُحْيِي الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ. سورة يس (78)

“Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang, yang telah hancur luluh?”.

b.) Pembuangan musnad memiliki tujuan sebagai berikut:

  • Musnad dibuang sebab terdapat qarinah/petunjuk (ظهور بدلالة القرائن) seperti yang terjadi pada musnad ilaih. Artinya, Musnad dibuang sebab adanya pertanda pada kalimat tersebut yang mudah diketahui si pendengar. Seperti Firman Allah:

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ۖ فَأَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ. سورة الزخروف (87)

Dan jika engkau bertanya kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab, “Allah,” jadi bagaimana mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah),” (QS. Az-Zukhruf: 87)

Jawaban dari مَّنْ خَلَقَهُمْ semestinya خلقهن اللهُ dengan mengulang kata خلق. Namun karena lafazh “خلق “telah disebutkkan sebelumnya dan menjadi qarinah, maka “خلق” sebagai musnad dalam jawaban tidak disebutkan lagi.

  • Meringkas perkataan sebab sempitnya konteks (ضيق المقام عن ذكره)

Membuang musnad dengan maksud meringkas, sebab situasi seperti sakit, pusing, sedih atau bahkan malas menjawab. Seperti syair berikut:

نحن بما عندنا وأنت بما عندك راض والرأي مختلف

Pada bait diatas terdapat musnad yang dibuang yaitu lafadz راضون dengan alasan meringkas atau perkataan terbatas. Lengkapnya seperti:

نحن بما عندنا راضون وأنت بما عندك راض والرأي مختلف

  • Karena telah banyak berlaku di kalangan orang Arab dalam bahasanya yang fashih (اتباع كثرة استعمال عند العرب). Seperti pada firman Allah:

يَقُولُ الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا لَوْلَا أَنتُمْ لَكُنَّا مُؤْمِنِينَ. سورة سبإ 31

Orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: “Kalau tidaklah karena kamu tentulah kami menjadi orang-orang yang beriman.” (QS. 34: 31).

Sejalan dengan kaidah nahwu yang berlaku, bahwa wajib hukumnya membuang khabar (musnad) dari musnad ilaih (mubtada) apabila didahului oleh lafadz لولا. Dalam bahasa kita seperti:

لَولاَ خالدٌ لَأَتَيْتُكَ

Seandainya Zaid (ada) tentu aku akan menemuimu. Dengan membuang kata موجود sebagai khabar (musnad) dari خالد mubtada (musnad ilaih). Maka Ayat diatas pun apabila ditampakan menjadi seperti berikut:

لَوْلَا أَنتُمْ موجودون لَكُنَّا مُؤْمِنِينَ

  • Menghindarkan sesuatu yang tidak berguna (الاحتراز عن العبث), seperti Firman Allah:

وَأَذَانٌ مِّنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى النَّاسِ يَوْمَ الْحَجِّ الْأَكْبَرِ أَنَّ اللَّهَ بَرِيءٌ مِّنَ الْمُشْرِكِينَ ۙ وَرَسُولُهُ. سورة التوبة 3

Dan satu maklumat (pemberitahuan) dari Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia pada hari haji akbar, bahwa sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrik

Disebabkan lafadz بَرِيءٌ telah disebutkan diawal, yang kemudian lafadz وَرَسُولُهُ ber’athaf kepada اللَّهَ yang diartikan Allah dan Rasulnya, maka penyebutan بَرِيءٌ setelah وَرَسُولُهُ tidak diperlukan lagi

2. Menjadikan ma’rifat dan nakirah Musnad (تعريف وتنكير المسند)

a. Mema’rifatkan musnad memiliki tujuan sebagai berikut:

لإفادة السامع حكما معلوما عنده على أمر أخر مثله بإحدى طرق التعريف

Untuk memberikan faidah kepada si pendengar, yang telah mengetahui isi berita dengan hal lain yaitu dengan cara dima’rifatkan, baik dengan alif lam atau idhafat. Seperti

هَذا بَيْتُ زَيْدٍ

Ini rumah milik Zaid

Pada dasarnya, mukhathab (si pendengar) telah mengetahui bahwa rumah itu kepunyaan Zaid, namun dengan diijadikanya ma’rifat yang disandarkan kepada Zaid, maka si pendengar mendapatkan faidah dengan mengetahui hubungan berita tersebut dengan diri Zaid

Berbeda apabila lafadz بيت tetap dinakirahkan, seperti:

هَذا بَيتٌ لِزَيْدٍ

Ini rumah milik zaid

Meskipun dari sisi terjemah keduanya sama, namun ada perbedaan kandungan makna. Apabila kita mengatakan هَذا بيتُ زيدٍ maka kita dan lawan bicara sama-sama mengetahui, bahwa rumah itu milik Zaid. Namun apabila kita mengatakan هذا بيتٌ لِزيدٍ maka kita menunjuk suatu rumah (umum) dan bermaksud memberitahu si pendengar bahwa rumah itu milik Zaid

Untuk lebih detail lihat kitab (كتاب اللامات لزجاجي), hal 62 terkait pasal Lam Malak.

b. Menakirahkan musnad memiliki tujuan sebagai berikut:

  • Musnad dinakirahkan untuk tujuan penyesuaian dengan musnad ilaih, karena musnad ilaih terkadang juga berupa berupa isim nakirah. Seperti perkataan:

تِلْمِيذٌ مجْتهدٌ وَاقِفٌ أمامَ المدرسةِ

Seorang siswa yang rajin dia berdiri di depan sekolah.

تِلْمِيذٌ : مسند إليه + منعوت
مجْتهدٌ : نعت
وَاقِفٌ : مسند

Musnad dari isim nakirah menyesuaikan dengan musnad ilaih dari isim nakirah meskipun drajat kenakirahanya berbeda. Lihat pada kaidah ilmu nahwu Nakirah dan Ma’rifat

  • Untuk memberikan faidah tafkhim / pengagungan (تفخيم), seperti:

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ. سورة البقرة 2

Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (QS. Al-Baqarah: 2)

Lafadz هُدًى sebagai khabar kedua (musnad) dari ذَٰلِكَ dalam bentuk nakirah untuk tujuan penggagungan Al-Quran

3. Mendahulukan dan mengakhirkan musnad (تقديم وتأخير المسند)

a. Mendahulukan Musnad

  • Musnad didahulukan dari musnad ilaih terjadi apabila musnad terdiri dari lafadz yang memiliki hak untuk diletakan diawal kalimat. Seperti

قَامَ خَالِدٌ / أَيْنَ الطَّريقُ ؟

قَامَ : مسند / فعل
خَالِدٌ : مسند إليه / فاعل
أَيْنَ : مسند / خبر مقدم
الطَّريقُ : مبتدأ مؤخر

Lafadz قَامَ dan أَيْنَ lebih berhak berada diawal kalimat, sebab dia adalah fi’il madhi dan dzharaf yang dijadikan alat istifham. Namun selain alasan diatas, musnad juga terkadang didahulukan dari musnad ilaih untuk tujuan sebagai berikut:

  • Mengkhususkan musnad ilah (التخصيص بالمسند إليه) Seperti:

وَلِلّٰهِ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَيَوْمَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ يَوْمَىِٕذٍ يَّخْسَرُ الْمُبْطِلُوْنَ

Dan milik Allah kerajaan langit dan bumi. Dan pada hari terjadinya Kiamat, akan rugilah pada hari itu orang-orang yang mengerjakan kebatilan (dosa). (QS. Al-Jasiyah: 27)

Ayat diatas memberikan pengertian, bahwa segala sesuatu, baik di bumi maupun di langit adalah milik Allah (mengkhususkan atas kepemilikan Allah).

  • Tanbih (تنبيه) yaitu mengingatkan bahwa musnad berkedudukan sebagai khabar, bukan sebagai sifat. Seperti syair Hasan Bin Tsabit yang memuji Nabi S.A.w.

لَهُ هِمَمٌ وَلاَ مُنْتَهَى لِكِبَارِهَا # وَهِمَّتُهُ الصُّغْرَى أَجَلُّ مِنَ الدَّهْرِ

“Baginya banyak cita-cita dan tidak berpenghabisan karena banyaknya, dan cita-citanya yang kecil-kecil lebih besar dari pada masa (memakan waktu yang banyak untuk melaksanakannya).”

Lafadz له adalah khabar (musnad) yang diletakan setelah همم (muntada/musnad ilaih) yang apabila posisinya dibalik menjadi همم له, maka akan timbul anggapan bahwa همم adalah muntada (musnad ilaih) dan له adalah sifat dari همم karena ism nakirah (himamun) selalu membutuhkan sifat.

  • Tafa’ul (تفاؤل) yaitu optimisme atau mengharapkan kebaikan, seperti syair berikut:

سَعِدْتُ بِغُرَّةِ وَجْهِكَ الأيَّامُ # وَتَزَيَّنَتْ بِبَقَائِكَ بِبَقَائِكَ الأعوامُ

“Berbahagialah hari-hari itu dengan sebuah tanda di mukamu, dan menjadi indah sepanjang tahun dengan adanya kamu ”.

Lafadz سعدت adalah musnad yang didahulukan karena untuk tujuan mendapatkan kebaikan.

  • Tasywwiq (تشويق) yaitu membuat rindu kepada yang akan datang. Artinya, musnad didahulukan agar mendorong rasa rindu kepada musnad ilaih. Seperti Firman Allah:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang… sungguh (terdapat tanda-tanda) keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan”. (QS. 2: 164).

  • Membatasi (قصر المسند إليه على المسند) yaitu berfaidah membatasi musnad ilaih dari pada musnad. Seperti

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ. أي دينكم مقصور عليكم وديني مقصور علي

b. Mengakhirkan musnad

Tujuan dari mengakhirkan musnad adalah sebab mengikuti hukum asli dengan menempatka musnad selalu berada setelah musnad ilaih. Sedang tujuan lainnya, tercantum pada materi mendahulukan musnad ilaih.

Catatan:

Contoh-contoh khabar (musnad) yang bentuknya berupa syibhul jumlah atau jar majrur adalah menurut pendapat sebagian Ulama. Sementara yang lain berpendapat : “Apabila susunan kalimat terdiri dari syibhul jumlah atau jar majrur, maka yang menjadi Khabar (musnad) adalah sesuatu yang dibuang dan diperkirakan.

Misalkan pada contoh diatas yang menjadi khabar/musnad adalah lafadz فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ (didahulukan), namun berbeda dengan pendapat lain yang menganggap bahwa musnad telah dibuang dan mesti diperkirakan. Perhatikan contoh sederhana untuk perbandingan kedua pendapat:

إِنَّ فِي الدار خالدٌ

إِنَّ : حرف ناسخ
فِي الدار : خبر إن /مسند مقدم
خالدٌ : اسم إن مؤخر

إِنَّ : حرف ناسخ
فِي الدار : جر مجرور
خبر / مسند : محذوف تقديره كَائِنٌ/موجود
خالدٌ : اسم إن مؤخر

Perdalam pada materi nahwu Syibhul Jumlah dan Ta’alluq, Mubtada dan Khabar.

Referensi:

جواهير البلاغة 120
كتاب اللامات، 60
إعراب وتفسير القرآن لدعاسى

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 4

No votes so far! Be the first to rate this post.

Recomended

Juha dan Sepotong Daging Ajaib

جُحَا وَاللَّحْمُ العَجِيْبُ Juha dan Sepotong Daging Ajaib اشْتَهَى جُحَا أَنْ يَأكُلَ لَحْمًا، فَذَهَبَ إلى الجَزَّارِ وَاشْتَرَى مِنْهُ قِطْعَةً مِنَ اللَّحْمِ، فَلَمَّا عَادَ إلى البَيْتِ طَلَبَ...

Akhirnya dapat juga beasiswa [Terjemah]

Sambungan latihan terjemah ke#9 Text bahasa indonesia yang harus diterjemahkan oleh semua peserta kelompok belajar (TMBA Lanjutan via WhatsApp) Text: Meskipun Aku tidak sabar menanti hasil testing...

Mengenal Uslub Qasam (أُسْلُوْبُ القَسَمِ)

Materi uslub qasam (sumpah) yang akan kita bahas meliputi pengertian uslub qasam secara bahasa, istilah, rukun, jumlah (kalimat) qasam, jawab qasam baik ismiyyah dan...

Mengenal Kata Sambung (Isim Maushul) Dalam Bahasa Arab

Isim Maushul (الاسم الموصول) 1. Definisi / Mafhum Isim Maushul Isim Maushul adalah Isim Mubham (samar) yang membutuhkan suatu kalimat penjelas yang dinamakan dengan (Shilah Maushul)...

Tinggalkan Komentar

Latest News

Huruf Asli & Huruf Tambahan (Ilmu Sharf)

Huruf Asli & Huruf Tambahan (Ilmu Sharf) Mengetahui huruf asli dan tambahan pada suatu kata dalam bahasa arab sangat penting,...

Pengertian Al-Qalb Al-Makani (Ilmu Sharf)

Pengertian Al-Qalb Al-Makani (القلب المكاني) Al-Qalb Al-Makani (transposisi) adalah salah satu istilah yang terdapat dalam ilmu sharf. Imam As-Suyuthi dalam...

Hukum Menyandarkan Isim Kepada Iya (ي) Mutakalim

حكم إضافة الأسماء إلى (ياء المتكلم) قال ابن مالك آخِـــــــــرَ مَـا أُضِيفَ لِلْيَا اكْسِرْ إِذَا # لَمْ يَكُ مُعْتَلاًّ كَرَامٍ وَقَـذَى # أَوْ يَكُ كابْنَيْنِ وَزَيْدِيْنَ...

Berburu Beasiswa Arab [Terjemah]

Sambungan latihan terjemah "Aku mencari beasiswa Bahasa Arab Bagian1 تدريب الترجمة من اللغة الاندونيسية إلى اللغة العربية Pertemuan ke#5 Text: Dengan menyebut nama Allah, aku pasrah kepada-Nya, tiada...

Syarah Kitab Jurumiyah [Abu Ziyad Muhammad]

هذا الكتاب المسمى (الـمُبْـهِـرُ فِي شرح نظم الآجرومية لِعُبَيْدِ رَبِّهِ) بسم الله الرحمن الرحيم الحَمْدُ لِلَّهِ الرَّافِعِ لِأَوْلِيَائِهِ، الخَافِضِ لِأَعْدَائِهِ، المُقَدَّسِ بِصِفَاتِهِ وَأَسْمَائِهِ، وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ...

Juha dan Seorang Pencuri Misterius

جُحَا والسّارِقُ الخَفِيُ Juha dan Seorang Pencuri Misterius خَرَجَ أَحَدُ جِيْرَانِ جُحَا يَبْحَثُ عَنْ طُيُوْرِهِ الَّتي سُرِقَتْ مِنْ بَيْتِهِ وَرَاحَ يَسْأَلُ عَنْهَا كُلَّ مَنْ يُقابِلُهُ Salah seorang...

More Articles Like This