Mengetahui Perbedaan Fashahah (الفصاحة) dan Balaghah (البلاغة) Dalam Bahasa Arab

Must Read

Maf’ul Ma’ah (المفعول معه), Hukum ‘Irab dan Ketentuanya

Bismillahirahmanirahim. In Syaa allah kita akan membahas materi maf'ul ma'ah beserta ketentuan dan kaidah 'irabnya. Perhatikan paragraf berikut: خَرَجَ خَالِدٌ وَطُلُوْعَ...

Macam-Macam Maa (ما), fungsi dan ‘Irabnya

Ada berapa banyak jumlah Maa (ما) dalam bahasa arab dan bagaimana cara penggunaanya dalam kalimat ?. Kira-kira seperti itu...

Mengenal Uslub Qasam (أُسْلُوْبُ القَسَمِ)

Materi uslub qasam (sumpah) yang akan kita bahas meliputi pengertian uslub qasam secara bahasa, istilah, rukun, jumlah (kalimat) qasam,...
TMBAhttps://bahasa-arab.com/
Belajar Bahasa Arab tidak semudah membalikan telapak tangan, butuh keseriusan dan istiqomah. Namun tidak ada kata terlambat jika kita ingin ingin mempelajarinya.

5
(22)

Unsur/Komponen Ilmu Bahasa Arab

Rasanya belum sempurna apabila belajar Bahasa Arab belum dilengkapi dengan mempelajari materi Ilmu Balaghah. Terdapat sekian banyak cabang ilmu untuk memahami bahasa arab dengan baik yang satu sama lain saling berhubungan. Seperti Ilmu Sharaf, Nahwu, Balghah (Bayan, Badi‘, Ma’ani) InsyaTarikh Adab, Sya’ir, Khat, Rasm, Qira’ah, Ta’bir, Kitabah dan lainya. Sebagaimana kita ketahui, bahwa Ilmu sharaf berfungsi untuk mempelajari perubahan wazan-wazan (bentuk kata) sesuai dhamir (kata ganti) masing-masing sebelum dirangkai menjadi sebuah kalimat yang benar. Contoh:

نَصَرَ – يَنْصُرُ – نَصْرًا

Dia telah menolong – Dia akan menolong – Pertolongan. Perubahan bentuk tashrif seperti ini diatur dengan ilmu sharf. Kemudian Ilmu nahwu berfungsi untuk mengetahui ‘irab (tanda baca) setiap kata-kata dalam rangkaian sebuah kalimat. Contoh:

نَصَرَ خَالِدٌ الكَلْبَ

Kholid menolong seekor anjing. Harakat khalid dhammah dan alkalba fathah diatur dengan ilmu nahwu. Kemudian Ilmu Balaghah yang mencakup tiga cabang ilmu, yaitu ilmu Ma’ani, Bayan dan Badi’.

  • Ilmu Ma’ani adalah ilmu yang memelihara kesalahan dalam mengungkapkan maksud mutakallim (pembicara) agar dapat diterima oleh mukhathab (lawan bicara). Artinya, ilmu ini akan menuntun si pembicara dalam mengutarakan arti kalimat yang benar kepada si pendengar.
  • Ilmu Bayan adalah ilmu yang memelihara dari lahirnya suatu kalimat yang tidak petunjuknya tidak terhadap arti kalimat yang dimaksud. Artinya, ilmu ini akan mengatur setiap perkataan yang diungkapkan agar sesuai dengan apa yang dimaksudkan.
  • Ilmu Badi‘ adalah ilmu yang digunakan untuk mempercantik dan memperindah suatu kalimat yang ditulis maupun diucapkan.

Ketiga cabang ilmu balaghah di atas, akan menjadi objek pembahasan kita ke depan, In Syaa Allah.

Suatu kata-kata atau kalimat apabila selaras secara lafadz berdasarkan Ilmu Ma’ani dan Bayan, maka disebut dengan fasih. Dan apabila selaras secara lafadz dan makna berdasarkan Ilmu Ma’ani dan Bayan dinamakan dengan baligh. Sebelum melangkah lebih jauh mempelajari Ilmu balaghah, penting bagi kita mengetahui terlebih dahulu istilah fashahah dan balaghah. Sebab keduanya merupakan ‘Umdah (pokok) dalam Ilmu balaghah. Istilah fashahah lebih umum dari istilah balaghah. Artinya, setiap fasih pasti baligh namun tidak dengan sebaliknya. Akan kita ketahui sesuai ta’rif masing-masing.

Mafhum Al-Fashahah (الفصاحة)

Dalam kitab Jawahirul Balaghah karya Sayyid Ahmad Al-Hasyimi disebutkan bahwa yang dimaksud dengan fashahah sebagai berikut

الفصاحة في اللغة هي البيان والظهور كما قال الله تعالى في سورة القصص آية ٣٤ ” وَأَخِي هَارُونُ هُوَ أَفْصَحُ مِنِّي لِسَانًا فَأَرْسِلْهُ مَعِيَ رِدْءًا يُصَدِّقُنِي ۖ إِنِّي أَخَافُ أَن يُكَذِّبُونِ”

Menurut bahasa, fashahah berarti al-bayan dan al-zhuhr (terang dan jelas), sebagaimana Firman Allah Ta’ala :” Dan saudaraku Harun, dia lebih fasih lidahnya daripada aku, maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku untuk membenarkan (perkataan)ku; sungguh, aku takut mereka akan mendustakanku.” (QS. Al-Qasas: 34) Menurut istilah, fashahah adalah:

عبارة عن الألفاظ البينة والظاهرة المتبادرة إلى الفهم والمأنوسة الاستعمال بين الكتاب والشعراء لمكان حسنها

“Suatu ungkapan kata-kata yang jelas serta mudah dipahami dan banyak dipergunakan (tidak asing) di kalangan para penulis dan penyair, karena keindahannya”. Artinya, sesuatu kata yang menurut pendengaran dirasa enak didengarkan dan juga indah, maka masuk istilah fashahah. Fashahah meliputi tiga objek yaitu pada kata-kata, pada kalimat dan pada mutakallim (orang yang bicara).

a. Fashahah Al-Kalimat (فصاحة الكلمة)

Kata-kata bisa disebut fasih apabila terhindar dari ketiga kategori berikut:

  • Tanafur al-Huruf (تنافر الحروف)

تنافر الحروف هو وصف في الكلمة يوجب ثقلها على السمع وصعوبة أداءها باللسان بسبب كون حروف الكلمة متقاربة المخارج

Adalah kata-kata yang terdiri dari rangkaian huruf-huruf yang sulit diucapkan oleh lidah akibat dekatnya dalam makhraj (tempat keluar bunyi huruf). Tingkat kesulitanya ada yang ringan seperti kata النَّقْنَقَةُ (suara kodok), النُّقَاحُ (air tawar jernih), مُسْتَثْزِرَاتٌ (menjulang tinggi). Ada juga yang tingkatanya sangat sulit seperti الظَّشُّ (tempat kasar), الهُعْخُعُ (area gembala unta).

  • Mukhalafah Al- Qiyas (مخالفة القياس)

كون الكلمة غير جارية على القانون الصرفي المستنبط من كلام العرب

Yaitu kata-kata yang bertentangan dengan aturan kaidah ilmu sharaf yang berlaku sebagaimana dari orang arab. Contoh kata الأجْلَلُ yang seharusnya الأجَلُّ (maha tinggi) dengan mengidghamkan huruf lam. Kemudian kata بُوْقَاتٌ yang merupakan bentuk jamak muannats salim dari بُوْقٌ yang seharusnya dijamak kedalam jamak taksir menjadi أَبْوَاقٌ. Kedua contoh seperti ini tidak dikatakan fashahah sebab menyalahi aturan kaidah sharaf pada umumnya. Terdapat kata-kata yang dikecualikan (tetap fashahah) meskipun tidak sesuai aturan kaidah sharaf seperti kata مَشْرِقٌ dan مَغْرِبٌ (huruf ro kasrah) yang seharusnya مَشْرَقٌ dan مَغْرَبٌ (huruf ro fathah) yang keduanya menunjukan tempat (tashrif isim makan)

  • Gharabah (غَرَابة)

كون الكلمة غير ظاهرة المعنى ولا مألوفة الاستعمال عند العرب الفصحاء

Yaitu kata-kata asing yang memiliki arti tidak jelas dan tidak banyak dipergunakan di kalangan orang Arab fasih, sehingga untuk mengetahui arti tersebut perlu mura’jaah kembali mu’jam dan kamus arab. Contoh seperti kata تَكَأْكَأَ yang berarti اجْتَمَعَ (berkumpul) dan kata اِفْرَنْقَعَ yang berarti اِنْصَرَفَ (bubar) pada syair Isa Bin ‘Amr Annahwi :

مَالَكُمْ تَكَأْكَأتُمْ عَلَيَّ كَتَكَأْكُئِكُمْ عَلى ذِي جِنَّةٍ، اِفْرَنْقِعُوْا عَنِّي

“Apa yang membuat sekalian mengerumuni-ku seperti mengerumuni orang gila, bubarlah kalian dariku” Kata-kata akan menjadi asing/gharabah meskipun diambil dari kata yang lumrah dan banyak dipergunakan, apabila dalam memposisikanya dalam kalimat tidak tepat. Ini dinamakan dengan ‘gharabah isti’mal (غرابة الاستعمال). Kata-kata yang tidak asing secara lafadz namun mengandung banyak pengertian yang kemudian diletakan dalam suatu kalimat tanpa adanya indikasi atau petunjuk sehingga orang lain sulit menemukan maksud yang sebenarnya dari kata tersebut. Contoh seperti kata مُسَرَّجٌ pada bait syair Ru’bah Bin ‘Ajaj:

وَمُقْلَةً وَحَاجِبًا مُزَجِّجًا وَفَاحِمًا وَمُرْسِنًا مُسَرَّجًا

Bola mata yang bulunya seperti bulan sabit, rambut hitam dan hidung yang mancung. Untuk memaknai kata مُسَرَّجًا cukup sulit sebab memiliki banyak pengertian, gemilang, berkilau, cemerlang dan bahkan nama sebuah pedang. Dianggap sulit sebab tidak adanya petunjuk dari kata lain dalam kalimat yang sekiranya bisa dijadikan sandaran. Berbeda apabila dalam sebuah kalimat terdapat petunjuk seperti kata غَزَّرَ pada Firman Allah Ta’ala surat Al-A’raf ayat 157:

فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنزِلَ مَعَهُ ۙ أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Meski kata عَزَّرُوه memiliki dua pengertian yaitu mengagungkan dan menghinakan, namun masih terdapat petunjuk yang masih berada dalam satu kalimat yaitu kata وَنَصَرُوهُ yang berarti menolong. Dengan demikian, mencari makna yang tepat dan pantas untuk kata عَزَّرُوا tidak terlalu sulit.

b. Fashahah Al-Kalam (فصاحة الكلام)

Kalam/Kalimat yang fasih yaitu kalimat yang setiap kata-katanya terhindar dari beberapa kategori berikut:

  • Tanafur Al-Kalimat (تنافر الكلمات متجمعة)

أن تكون الكلمة ثقيلة من تركيبها على بعضها على السمع، عسر النطق بها متجمعة على اللسان وإن كان كل جزء منه على انفراده فصيحا

Tanafur al-kalimat yaitu kalimat yang tersusun dari kata-kata yang sulit diucapkan dan berat didengar akibat hurufnya terlalu berdekatan secara makhraj. Meskipun kalimat tersebut terdiri dari kata-kata yang pada dasarnya termasuk fasih. Contoh

كَرِيْمٌ مَتَى أمْدَحْهُ أمْدَحْهُ والوَرَى # مَعِي وَإذا ما لُمتُهُ لُمتُهُ وَحْدي

“Dia itu mulia. Kapan saja aku memujinya, orang lain juga ikut memujinya bersamaku. Dan ketika aku mencelanya, hanya aku sendirian yang melakukan itu sementara orang lain tidak.” Kesulitan pada syair di atas yaitu terjadi pada kata أمْدَحْهُ yang makhraj hurufnya sama yaitu ح dan ه , ditambah dengan dua kali pengulangan yang mengakibatkan sulit diucapkan (terlalu berdekatan).

  • Dha’fu Ta’lif (ضعف التأليف) /Susunan kalimat lemah

أن يكون الكلام جاريا على خلاف ما اشتهر من القوانين النحو المعتبر عند جمهور العلماء كوصل الضميرين مع أنه يجب الفصل. أو الإضمار قبل ذكر مرجعه لفظا ورتبة

Yaitu kalimat yang tidak sejalan dengan aturan kaidah nahwu yang berlaku di mayoritas ulama. Seperti menghubungkan dua isim dhamir yang seharusnya terdapat pemisah. Contoh:

خالتِ البلادُ من الغزالة ليلها # فأعاضهاك اللهُ كي لا تحزنا

Menyatunya dua dhamir ه dan ك pada kalimat فأعاضهاك merupakan penyebab kalimat tersbut tidak fasih Atau menyebut kata ganti (dhamir) sebelum menyebut lafazh yang digantinya (zhahir). Contoh:

ولو أنّ مجدا أخلدَ الدهرَ واحدا # من الناس أبقى مجدُهُ الدهرَ مُطْعِمًا

Seandainya kehormatan manusia itu penyebab kekal hidup di dunia, maka tentu Mut’im (salah seorang tokoh musyrikin) lebih patut dari yang lain. Dhamir ه pada مجدُهُ pengganti dari مُطْعِمًا yang posisinya diawalkan sehingga syair di atas tidak fasih sebab tidak sejalan dengan aturan umum kaidah nahwu.

  • At-ta’qid (التعقيد)

Suatu kalimat yang maksudnya tidak jelas dan sulit untuk di fahami baik secara lafadz maupun makna a. Ta’qid lafdzi ( التعقيد اللفظي )

هو كون الكلام خفي الدلالة على المعنى المراد به بحيث تكون الألفاظ غير مرتبة على وفق ترتيب المعاني

Yaitu kalimat yang tidak dapat memberikan makna yang dimaksud karena lafazh-lafazhnya tidak tersusun sesuai dengan susunan maknanya. Seperti adanya taqdim dan takhir (mendahulukan sesuatu yang mestinya diakhirkan atau sebaliknya). Dan atau memisahkan kalimat dengan sesuatu yang semestinya tidak dipisahkan. Contoh posisi lafadz yang semestinya diawalkan malah diakhirkan sehingga kalimat tersebut sulit di fahami. Seperti pada Syair Mutanabbi berikut:

جَفَخَتْ وَهُمْ لاَ يَجْفَخُوْنَ بِهَا بِهِمْ # شِيَمٌ عَلى الحَسَبِ الأغرَّ دلائلُ

Syair ini tidak tersusun dengan baik sesuai susunan maknanya dan juga terdapat taqdim (mendahulukan) dan takhir (mengakhirkan) yang bukan pada tempatnya. Bahkan bukan suatu keharusan yang akibatnya menyulitkan orang memahaminya. Adapun Susunan yang benar adalah:

جَفَخَتْ بِهِمْ شِيَمٌ دلائلُ عَلى الحَسَبِ الأغرَّ وَهُمْ لاَ يَجْفَخُوْنَ بِهَا

Contoh dalam kalimat sehari-hari:

مَا أكَلَ إِلاَّ وَاحِدًا خَالدٌ مَعَ رَغِيْفًا صَدِيْقِهِ

Tidak makan satu kholid bersama roti kawanya. Susunan membingungkan ! Susunan yang benar adalah

مَا أكَلَ خَالدٌ مَعَ صَدِيْقِهِ إِلاَّ رَغِيْفًا وَاحِدًا

Kholid dan kawanya tidak makan kecuali hanya satu roti. b. Ta’qid Maknawi (التعقيد المعنوي)

كون التركيب خفي الدلالة على المعنى المراد لخلل في انتقال الذهن من المعنى الأصلي إلى المعنى المقصود بسبب اللوازم البعيدة المفتقرة إلى وسائط كثيرة مع عدم الظهور القرائن الدالة على المقصود

Ta’qid maknawi yaitu susunan kalimat yang pengertian maknanya tidak jelas. Seperti menggunakan majaz atau kinayah (kiasan) yang tidak tepat sehingga membutuhkan proses pemikiran dan juga tanpa adanya indikasi yang dapat menunjukan terhadap maksud sebenarnya. Contoh dalam syair Abbas Al-Ahnaf:

سَأَطْلُبُ بُعْدَ الدَّاِر عَنْكُمْ لِتقْرُبُوْا  #  وَتَسْكُبُ عَيْنَايَ الدُّمُوْعُ لِتَجْمُدَا

“Aku akan mencari persinggahan (tempat tinggal) yang jauh dari kalian agar kalian menjadi dekat # Air Kedua mataku bercucuran karena membeku (bahagia).” Penyair di atas menggunakan kata تجمد sebagai kiasan dari ungkapan rasa bahagia. Pada umumnya kata ini dipergunakan untuk kiasan dari ungkapan kesusahan, kesulitan dan kesedihan yang aslinya bermakna kering/membeku. Dengan menggunakan kiasan yang terlalu jauh, maksud si penyair di atas sulit dimengerti kecuali melalui proses tahap pemikiran, “bahwa keringnya mata, berarti keringnya air mata; keringnya air mata, berarti tidak ada kesusahan, dan tidak ada kesusahan, berarti tanda adanya kegembiraan”.

c. Fashahah Al-Mutakallim (فصاحة المتكلم)

فصاحة المتكلم عبارة عن الملكة التي يقتدر بها صاحبها على التعبير المقصود بكلام فصيح في أي غرض كان

Pembicara yang fasih yaitu seseorang yang memiliki kepiawaian dan kemampuan mengungkapkan maksud dan tujuannya dengan kalimat yang fasih dalam berbagai situasi dan kondisi.

Mafhum Al-Balaghah (البلاغة)

لغةً : البلاغة في اللغة الوصول والانتهاء

Menurut bahasa, balaghah bermakna sampai tujuan. Contoh

بَلَغَ خَالدٌ مُرَادَهُ أي وَصَلَ إِلَيْهِ

Kholid telah sampai pada tujuanya.

اصطلاحا : تأدية المعنى الجليل واضحا بعبارة صحيحة فصحيحة لها في النفس أثر حلاب مع ملاءمة كل كلام للموطن الذي يقال فيه والأشخاص الذين يخاطبون

Menurut istilah, balaghah ialah “Mengemukakan maksud dengan penuturan bahasa yang jelas, benar dan fasih (membekas/meresap dalam hati) dan sesuai dengan hal (keadaan) dan juga lawan bicara”. Dari ta’rif di atas dapat diketahui, bahwa pengertian balaghah lebih luas dibanding fashahah. Karena disamping menggunakan bahasa atau lafadz yang jelas, benar dan fashih, balaghah juga secara makna harus dapat meresap pada hati dan sesuai dengan situasi dan kondisi lawan bicara. Berbeda dengan fashahah yang mencakup tiga objek yaitu kata, kalimat dan mutakallim (pembicara). Untuk balghah hanya digunakan pada dua objek yaitu kalimat (kalam) dan mutakallim (pembicara).

a. Balaghah Al-Kalam (بلاغة الكلام)

البلاغة في الكلام مطابقته لما يقتضيه حال الخطاب مع فصاحة ألفاظها، مفردها ومركبها

Kalimat yang balig adalah kalimat yang fashih dan selaras dengan مقتضى الحال (keselarasan antara kata-kata yang dikemukakan dengan situasi dan keadaan lawan bicara). Artinya, singkat, padat dan jelas sesuai tuntutan.

ما معنى مقتضى الحال ؟ هو ما يدعو إليه الأمر الواقع أي ما يستلزمه مقام الكلام وأحوال المخاطب.

Pengertian Muqtadla Hal (مقتضى الحال) Muqtadla berarti tuntutan dan hal berarti keadaan/situasi. Artinya, seorang pembicara didorong untuk menyampaikan isi hatinya sesuai dengan situasi dan kondisi. Misalkan kholid akan merayu seseorang. Merayu disebut dengan istilah ‘Hal‘ atau Maqam (keadaan/situasi/kondisi) yang cendrung menuntut ungkapan panjang lebar dengan memperindah kata-kata. Tuntutan ungkapan panjang lebar disebut dengan Muqtadla. Jadi Kholid selaku orang yang akan merayu, dia harus mengungkapkan kata rayuan sebagaimana tuntutan. Demikian juga apabila suatu keadaan menuntut kholid untuk mengungkapkan perkataan dengan ringkas, maka dia harus menyesuaikanya.

b. Balaghah Al-Mutakallim (بلاغة المتكلّم)

بلاغة المتكلم هي ملكة في النفس يقتدر صاحبها بها على تأليف كلام بليغ مطابق لمقتضى الحال

Pembicara yang baligh adalah orang yang memiliki malakah (kepiawaian/kecakapan) dalam merangkai kalimat yang baligh sesuai dengan tuntutan.

Artikel ini awal perkenalan sebelum kita membahas inti dari pada ilmu Balaghah yaitu Ilmu Ma’ani, Bayan dan Badi’ yang In Syaa Allah akan menyusul.

Baca: 8 Objek Pembahasan Ilmu Ma’ani

Referensi: Kitab Jawahirul Balaghah hal, 18-40. Karya: Assayid Ahmad Al-Hasyimi, Bairut, Maktabah Al-‘Ashriyyah. Tahqiq: Syekh Dr. Yusuf as-Shumili.

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 22

No votes so far! Be the first to rate this post.

Recomended

Asiknya Liburan Idul Fitri (Hiwar Bahasa Arab)

ِعِيْدُ الفِطْر Idul Fitri جَوْنُ شَابٌّ فَرَنْسِيٌّ يُحِبُّ الرِّحْلاَتِ والاِطِّلاعَ، زَارَ العِرَاقَ لِدِرَاسَةِ اللُّغَةِ العَرَبِيَّةِ فَتَعَرَّفَ عَلَى (قَاسِمِ), زَمِيْلِهِ فِي الجَامِعَةِ John seorang pemuda Prancis, dia hoby...

Mengenal ‘Irab Isim Lima (أسماء الخمسة)

الأسماء الخمسة Isim Lima قال ابن مالك وَارْفَعْ بَوَاوٍ وانْصِبَنَّ بِالأَلِف # واجْرُرْ بِيَاءٍ مَا مِنَ الأسْمَا أَصِفْ # منْ ذَاكَ ذُو إنْ صُحْبَةً أَبَانَا # وَالْفَمُ...

Isim Zaman & Makan (زمان و مكان)

Isim Zaman & Makan (زمان و مكان) Definisi Isim Zaman & Makan اسم الزمان مشتق أو مأخوذ من حروف الفعل ليدل على زمان حدوث الفعل و...

Kompetisi Dua Saudara (قصة الطفولة)

مُسَابَقَةُ بَيْنَ شَقِيْقَيْنِ Kompetisi Dua Saudara Kisah ini menceritakan bagaimana Baginda Rasulullah bersenda gurau dan bermain dengan penuh kasih sayang bersama anak-anak kecil pada waktu itu. قَالَ...

Tinggalkan Komentar

Latest News

Maf’ul Ma’ah (المفعول معه), Hukum ‘Irab dan Ketentuanya

Bismillahirahmanirahim. In Syaa allah kita akan membahas materi maf'ul ma'ah beserta ketentuan dan kaidah 'irabnya. Perhatikan paragraf berikut: خَرَجَ خَالِدٌ وَطُلُوْعَ...

Macam-Macam Maa (ما), fungsi dan ‘Irabnya

Ada berapa banyak jumlah Maa (ما) dalam bahasa arab dan bagaimana cara penggunaanya dalam kalimat ?. Kira-kira seperti itu...

Juha dan Seekor Keledai Yang Hilang

جُحَا وَ الحِمَارُ النَّاقِصُ Juha dan seekor keledai yang hilang كَانَ مِنْ عَادَةِ أَهْلِ بَلْدَةِ جُحَ أَنْ يَتَنَاوَلُوا فِى الذِّهَابِ مِنْ بَلْدَتِهِمْ إِلى البَلْدَةِ المُجَاوِرَةِ ،...

Percakapan Bahasa Arab Tentang Sedekah (الصدقة)

Alhamdulillah latihan mengasah kemampuan mendengar B. Arab bagian ke#1 dengan judul "Sedekah" sudah selesai dilaksanakan via group Whatsapp & Instagram. Insya Allah akan Kita...

Macam-Macam Maa (ما), fungsi dan ‘Irabnya

Ada berapa banyak jumlah Maa (ما) dalam bahasa arab dan bagaimana cara penggunaanya dalam kalimat ?. Kira-kira seperti itu pertanyaan yang masuk via email...

Ketentuan Mashdar Muawwal (مصدر مؤول)

بسم الله الرحمن الرحيم Kaidah Harokat Huruf Hamzah Pada إنّ Antara Kasrah dan Fathah Penulisan hamzah pada إنّ (Kasrah) dan pada أَنّ (Fathah) sudah diatur dalam...

Sponsored Articles

More Articles Like This