Fungsi Mashdar (إعمال المصدر)Lengkap Contoh ‘Irab

Must Read

Macam-Macam Maa (ما), fungsi dan ‘Irabnya

Ada berapa banyak jumlah Maa (ما) dalam bahasa arab dan bagaimana cara penggunaanya dalam kalimat ?. Kira-kira seperti itu...

Mengenal Uslub Qasam (أُسْلُوْبُ القَسَمِ)

Materi uslub qasam (sumpah) yang akan kita bahas meliputi pengertian uslub qasam secara bahasa, istilah, rukun, jumlah (kalimat) qasam,...

Bahasa Arab Mudah atau Sulit?

Bahasa Arab Mudah atau Sulit?  Perkembangan bahasa arab sudah berlangsung lama, bahkan jauh sebelum masehi. Abbas al-Aqqad seperti dikutip...
TMBAhttps://bahasa-arab.com/
Belajar Bahasa Arab tidak semudah membalikan telapak tangan, butuh keseriusan dan istiqomah. Namun tidak ada kata terlambat jika kita ingin ingin mempelajarinya.

4.8
(354)

Fungsi Mashdar (إِعْماَلُ اْلمَصْدَرِ)

Mashdar terkadang dijadikan Mubtada, Maf’ul Mutlaq, Maf’ul Bih, Maf’ul Liajlih, Fa’il, Majrur dan lainya.Terlepas dari itu semua, pada materi kali ini kita akan fokus membahas Fungsi Mashdar dalam menashabkan Ma’mulnya/Maf’ul Bih ketika dia menempati posisi Fi’il.

Contoh Mashdar yang akan Kita pergunakan adalah Lafadz ضَرْبٌ

ضَرَبَ – يَضْرِبُ – ضَرْبًا

Perhatikan contoh berikut:

عَجَبْتُ مِنْ ضَرْبِكَ خَالدًا

Aku kagum ( عَجَبْتُ ). Dengan/dari pukulanmu ( مِنْ ضَرْبِكَ). Terhadap Kholid ( خَالدًا )

Siapa yang dipukul ? adalah Kholid. Siapa pelakunya ? adalah kamu. Apakah kata memukul termasuk kata kerja ? Ya betul adalah kata kerja. Bukankah kata kerja harus berupa Fi’il Madhi atau Mudhori’, mana mereka ? Ya, biasanya kata kerja berbentuk fi’il Madhi atau Mudhori. Namun pada contoh di atas, posisi yang seharusnya mereka berdua tempati, diganti dengan mashdar yang fungsinya sama seperti kedua fi’il tersebut.

إعمال المصدر وشروطه hide
4 Syarat Mashdar berfungsi
5 Mashdar antara Nakirah dan Makrifat
5.4 Mashdar Makrifat dengan Idhafat

Definisi Mashdar (تعريف المصدر)

Untuk definisi Mashdar dan cara pembentkanya, bisa dilihat pada materi Mashdar dan Cara Pembentukanya

Syarat Mashdar berfungsi

Syarat agar mashdar bisa berfungsi seperti fi’il dalam menashabkan ma’mulnya sebagai berikut:

Pertama: Mashdar harus menempati posisi Fi’il

أن يكون نائباً مناب الفعل

Contoh:

ضَرْبًا خَالدًا

Lafadz ضَرْبًا adalah Mashdar yang menempati posisi Fi’il ‘Amr dan berfungsi menashabkan Lafadz خَالدًا sebagai Objeknya. Apabila dikembalikan ke bentuk fi’il ‘Amrnya seperti ini:

(اضْرِبْ خَالدًا (ضَرْبًا خَالدًا

Pukulah Kholid

ضَرْبًا : مصدر ينوبُ عن فعله
خَالدًا : مفعول به

Ini adalah contoh mashdar ketika menjadi amil yang berfungsi menashabkan Maf’ul Bih. Dia di’irab sebagai pengganti posisi Fi’il ‘Amr.

Apakah ada kemungkinan lain untuk ‘Irab mashdar ضَرْبًا pada contoh di atas ?

Apabila lafadz ضَرْبًا tidak dianggap sebagai pengganti posisi fi’il ‘Amr, maka memungkunkan untuk di’Irab sebagai maf’ul mutlaq dengan memperkirakan fi’il yang dibuang.

Perkiraanya seperti ini:

اضْرِبْ خَالدًا ضَرْبًا

Pukulah kholid dengan pukulan sebenarnya.

kedua: Posisi Mashdar Harus memungkinkan ditempati Ann atau Ma mashdariyyah + Fi’ilnya

أن يصح حلول (أن) مع فعل ، أو (ما) مع فعل محله

قال ابن مالك : إِنْ كَانَ فِعْلٌ مَعَ أَنْ أَوْ مَا يَحُلّ # مَحَلَّهُ وَلاسْمِ مَصْدَرٍ عَمَلْ

Syarat kedua agar mashdar bisa berfungsi seperti fi’il yaitu harus memungkinkan posisinya ditempati oleh ann (أن) atau ma (ما) mashdariyyah + fi’ilnya (Mashdar Muawwal). Contoh:

أعجبني ضَرْبُكَ خَالدًا

Pukulanmu terhadap Kholid membuatku kagum

أعجبني : فعل فاعل

ضَرْبُ : مصدر ينوبُ عن فعله، مرفوع ، علامة رفعه الضمة الظاهرة وهو مضاف

الكاف : ضمير متصل مبني على الفتح في محل جر مضاف إليه من إضافة المصدر إلى فاعله

خالدًا : مفعولاً به للمصدر (ضَرْبُ) وعلامة نصبه الفتحه الظاهره على آخره

Perhatikan Lafadz ضَرْب, dia adalah mashdar sebagai fa’il yang sedang berfungsi menashabkan Lafadz خَالدًا. Sekarang kita coba ganti posisi mashdar tersebut dengan أن dan ما mashdariyyah (mashdar muawwal). Hasilnya:

أَعْجَبَنِي أَنْ ضَرَبْتَ خَالدًا
أَعْجَبَنِي أَنْ تَضْرِبَ خَالدًا
أَعْجَبَنِي ما تَضْرِبُ خَالدًا

‘Irabnya:

أن/ما المصدرية و فعلها (مصدر مؤول) في محل الرفع فاعل

Ketiga: Mashdar tidak boleh ditashghir

أن لا يكون مصغرًا

Syarat ketiga agar mashdar bisa berfungsi seperti fi’il yaitu bentuknya tidak boleh ditashghir (Diperkecil) “Pendapat Mayoritas Ulama kecuali pada Syair. Contoh:

أَعْجَبَنِي ضُرَيْبُكَ خَالدًا ❌

Pukulan kecilmu terhadap Kholid telah membuatku kagum

Keempat: Tidak boleh terbatas

أن لا يكون محدودا

Maksud tidak boleh terbatas yaitu tidak dibatasi dengan hitungan tertentu. Misalkan dengan menggunakan bentuk mashdar Marrah yang hanya menunjukan 1 x atau beberapa x.

أَعْجَبَتْنِي ضَرْبَتُكَ خَالدًا ❌

Satu kali pukulanmu terhadap kholid telah membuatku kagum

أَعْجَبَتْنِي ضَرْبَاتُكَ خَالدًا ❌

Beberapa pukulanmu terhadap kholid telah membuatku kagum

Syarat Kelima: Tidak boleh disifati

أن لا يكون المصدر موصوفا

Syarat kelima agar mashdar bisa berfungsi seperti fi’il yaitu tidak boleh disifati.Contoh:

أَعْجَبَنِي ضَرْبُكَ الشَدِيْدُ خَالدًا ❌

Pada contoh ini, Mashdar ضَرْبُ tidak sah berfungsi menashabkan خالدًا karena dia sudah disifat dengan kata الشديد

Adapun apabila sifatnya terletak setelah ma’mul (isim yang dinashabkan), maka fungsinya kembali normal dan dibenarkan.

أَعْجَبَنِي ضَرْبُكَ خَالدًا الشَدِيْدُ ✔️

Syarat Keenam: Harus nampak

أن لا يكون المصدر محذوفا

Syarat keenam agar mashdar bisa berfungsi seperti fi’il yaitu mashdar tidak boleh dibuang lalu keberadaanya diperkirakan. Contoh:

أَعْجَبَنِي….زيدًا ❌

Syarat ketujuh: Tidak terpisah dengan ma’mulnya

ولا مفصولا من معموله بأجنبي

Syarat ketujuh agar mashdar bisa berfungsi seperti fi’il yaitu mashdar dan ma’mul (isim yang dinashabkan) dalam hal ini maf’ul bih tidak boleh terpisah dengan sesuatu yang lain. Misalkan terpisan dengan sifat seperti pada syarat kelima di atas atau terpisah dengan khobar inna seperti pada contoh berikut:

قوله تعالى : إِنَّهُ عَلَى رَجْعِهِ لَقَادِرٌ (٨) يَوْمَ تُبْلَى السَّرَائِرُ. سورة الطارق ٨-٩

Sesungguhnya Allah benar-benar kuasa untuk mengembalikannya (hidup sesudah mati). Pada hari dinampakkan segala rahasia

Lafadz رَجْع adalah mashdar yang berada pada posisi sedang majrur dengan huruf jar. Dia tidak berfungsi menashabkan lafadz يَوْمَ sebab terpisah oleh Khobar inna lafadz لَقَادِرٌ. Jadi Nashabnya يَوْمَ bukan sebab dinashabkan oleh mashdar melainkan dia adalah nashab sebagai dzharaf.

Syarat kedelapan: Tidak boleh diakhirkan

أن لا يكون المصدر مؤخرا عن معموله

Syarat kedepalan agar mashdar bisa berfungsi seperti fi’il yaitu posisi mashdar  tidak boleh diakhirkan dari ma’mulnya (Maf’ul Bih).

أَعْجَبَنِي خَالدًا ضَرْبُكَ ❌

Mashdar antara Nakirah dan Makrifat

قال ابن مالك : بِفِعْلِهِ الْمَصْدَرَ أَلْحِقْ فى الْعَمَلْ #  مُضَافاً أَوْ مُجَرَّداً أَوْ مَعَ أَلْ

Masdar berfungsi seperti fi’ilnya dalam menashabkan ma’mul (maf’ul bih), baik dia sendirian (nakirah), diidhafatkan (menjadi Mudhaf), atau dimasuki alif lam ta’rif.

Mashdar Nakirah Bertanwin

أن يكون المصدر المنون أو مجرّد عن الإضافة و ال تعريف

Mashdar nakirah bertanwin dan tidak sedang menjadi mudhaf ataupun dimasuki alif lam ta’rif. Penggunaan Mashdar seperti ini, lebih diutamakan dari pada beralif lam. Contoh:

قوله تعالى : أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ (14) يَتِيماً ذَا مَقْرَبَةٍ (15) سورة البلد

إِطْعَامٌ : مصدر نوعه مجرّد (نكرة) ينوبُ عن فعله ، مرفوع و علامة رفعه الضمة الظاهرة و فاعله مخدوف

يَتِيماً : مفعول به لمصدر إطعام

تقدير : أو إطعامه / أن يطعم في يوم ذي مسغبة يتيما

Atau memberi makan pada suatu hari ketika terjadi kelaparan. kepada anak yatim yang ada hubungan kerabat.

Lafadz إِطْعَامٌ adalah Mashdar Nakirah Bertanwin sebagai pengganti Fi’il dalam menashabkan Lafadz يَتِيماً sebagai Maf’ul Bih.

Mashdar Makrifat dengan alif lam

أن يكون معرٌفا ب ال التعريف

Apabila dalam penggunaan mashdar dimasuki alif lam ta’rif, menurut mayoritas ulama” hukumnya lemah atau Syad “. Contoh:

أَعْجَبَنِي الضَرْبُ خَالدًا

الضَرْبُ : مصدر نوعه معرّف ب (ال) ينوبُ عن فعله ، مرفوع و علامة رفعه الضمة الظاهرة و فاعله مخدوف

خالدًا : مفعول به لمصدر الضَرْب

تقدير : أَعْجَبَنِي ضَرْبُكَ خالدًا
_______

عَجَبْتُ مِنَ الضَرْبِ خَالدًا

الضَرْبِ : مصدر نوعه معرّف ب (ال) ينوبُ عن فعله وهو مجرور بمن، و فاعله مخدوف

خالدًا : مفعول به لمصدر الضَرْب

تقدير : عَجَبْتُ مِنْ ضَرْبِكَ خالدًا

Lafadz الضَرْبُ adalah Mashdar Makrifat dengan Alif Lam Ta’rif sebagai pengganti Fi’il dalam menashabkan Lafadz خالدًا

Perbedaan Ulama terkait Mashdar Makrifat dengan Alif Lam Ta’rif

  • Pendapat سيبويه “Hukumnya boleh digunakan dan berfungsi seperti fi’ilnya”.
  • Pendapat الكوفي ” Hukumnya tidak boleh digunakan dan tidak berfungsi seperti fi’ilnya”.
  • Pendapat الفارسي ” Hukumnya boleh digunakan namun kurang tepat.
  • Pendapat ابن طلحة ” Hukumnya boleh apabila dalam ma’mulnya (maf’ul bih) terdapat dhamir.

Contoh:

عَجَبْتُ مِنَ الضَرْبِ عَدُوكَ / أَعْجَبَنِي الضَرْبُ عَدُوَكَ

تقدير : عَجَبْتُ مِنَ ضَرْبِكَ عَدُوكَ / أَعْجَبَنِي ضَرْبُكَ عَدُوكَ

Mashdar Makrifat dengan Idhafat

أن يكون مضافاً

Mashdar diidhafatkan dan menjadi Mudhaf. Mashdar seperti ini paling banyak digunakan baik dalam Al-Quran, Hadist dan Syair.

Berikut gambaran ketika Mashdar diidhafatkan (Menjadi Mudhaf) dan Hukum ‘Irab untuk (Mudhaf Ilaihnya).

قال ابن مالك : وَجُرَّ مَا يَتْبَعُ مَا جُرَّ وَمَنْ #  رَاعَى فى الاتْبَاعِ الْمَحَلَّ فَحَسَنْ

Lafadz yang menjadi Mudhaf Ilaih dari pada mudhaf mashdar, boleh dua ‘Irab yaitu majrur atau manshub ditempat Majrur.

  • Mashdar berada di posisi mudhaf dan fa’il di posisi mudhaf Ilaih, lalu setelahnya maf’ul bih. (Susunan seperti ini banyak digunakan)

Contoh:

وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُم بِبَعْضٍ لَّفَسَدَتِ الْأَرْضُ. سورة البقرة ٢٥١

دَفْعُ : مصدر ينوب عن فعله ، وهو مبتدأ مرفوع خبره محذوف تقديره موجود ، وهو مضاف

اللهِ : لفظ الجلالة مضاف إليه مجرور لفظًا علامة جره الكسرة الظاهرة و مرفوع محلًا (أو في المعنى) على أنه فاعل لمصدر “دَفْعُ”

النَّاسَ : مفعول به منصوب للمصدر دفع

والتقدير : ولولا أن يدفع الله الناس

Lafadz دَفْعُ adalah mashdar yang menjadi wakil dari pada fi’il (berfungsi seperti fi’il). Kedudukan ‘irabnya sebagai mubtada sekaligus mudhaf.

Lafadz اللهِ sebagai mudhaf Ilaih secara Lafadz/mahal dan sekaligus sebagai fa’il secara makna dari mashdar دَفْعُ

Lafadz النَّاسَ sebagai Maf’ul Bih yang dinashabkan oleh Mashdar دَفْعُ

  • Mashdar berada di posisi Mudhaf lalu maf’ul bih berada di posisi mudhaf Ilaih, kemudian setelahnya fa’il (Susunan seperti ini sedikit digunakan)

Contoh:

قوله -صلى الله عليه وسلم: “وحِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا.” أخرجه البخاري في المسند

حِجُّ : مصدر ينوب عن فعله , و هو مبتدأ مرفوع ، وعلامة رفعه الضمة وهو مضاف

البيت : مضاف إليه مجرور لفظًا علامة جره الكسرة الظاهرة و منصوب محلًا (أو في المعنى) على أنه مفعول به لمصدر “حِجُّ”

مَنِ : اسم موصول مبنيّ في محلّ جرّ لفظا وهو فاعل في المعنى لمصدر حِجُّ

والتقدير : وَ أَنْ يَحِجَّ البَيْتَ المُسْتَطِيْعُ إِلَيْهِ سَبِيلًا

Lafadz حِجُّ adalah mashdar yang menjadi wakil dari pada fi’il (berfungsi seperti fi’il). Kedudukan ‘irabnya sebagai mubtada sekaligus mudhaf.

Lafadz البيت sebagai Mudhaf Ilaih secara Lafadz/mahal dan sekaligus sebagai Maf’ul Bih secara Makna dari Mashdar حِجُّ

Lafadz مَنْ Isim Maushul berada di tempat majrur secara lafadz/mahal, dan sekaligus menjadi fa’il secara makna dari Mashdar حِجُّ

Jadi terjemahnya seperti ini: Menunaikan Ibadah Haji adalah kewajiban orang (Manusia) yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah.

  • Mashdar berada di posisi Mudhaf dan Fa’il di posisi Mudhaf Ilah, lalu setelahnya Maf’ul Bih namun tidak nampak.

Contoh:

وَما كانَ اسْتِغْفارُ إِبْراهِيمَ لِأَبِيهِ إِلاَّ عَنْ مَوْعِدَةٍ وَعَدَها إِيَّاهُ. سورة التوبة ١١٤

اسْتِغْفارُ : مصدر ينوب عن فعله , وهو اسم كان

إِبْراهِيمَ : مضاف إليه مجرور بالفتحة لأنه ممنوع من الصرف, و مرفوع محلًا (أو في المعنى) على أنه فاعل لمصدر “اسْتِغْفارُ”

مفعول به : مخدوف

تقدير : وَما كانَ أن يستغفر إِبْراهِيمَ ربَّهُ

Lafadz اسْتِغْفارُ adalah Mashdar yang menjadi wakil dari pada Fi’il, dia sebagai Isim Kaana sekaligus Mudhaf.

Lafadz إِبْراهِيمَ sebagai mudhaf Ilaih secara lafadz/mahal dan sekaligus sebagai Fa’il secara makna dari mashdar اسْتِغْفارُ

Lafadz ربَّهُ adalah maf’ul bih yang dibuang dari Mashdar اسْتِغْفارُ

Terjemahnya: Dan tidaklah permohonan ampunan Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya melainkan hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu.


Semoga bermanfaat, segala kekurangan silahkan merujuk referensi di bawah. Wallahu’alam

29-08-2019

المراجع

انظر : شرح تصريح على التوضيح، ج٢, باب إعمال المصدر
انظر : شرح قطر الندى ص ٢٦٦
انظر : التسهيل ص ١٤٢
انظر : شرح الناظم ص ٢٩٧
انظر :الارتشاف، ج٣ ،ص ١٧٧
انظر : همع الهوامع ،ج٢/ ٩٣

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 4.8 / 5. Vote count: 354

No votes so far! Be the first to rate this post.

3 COMMENTS

  1. Mas, tanya
    Di atas menerangkan kalau mashdar itu (mshdar yg ber amal fiil tentunya) nggak boleh terpisah dari ma’mulnya.
    Lalu, pada contoh dari ayat al-qur’an yang sampean paparkan, mashdarnya terpisah dari ma’mulnya. اطعام & يتيما
    Ini bagaimana?
    Matur suwun

Tinggalkan Komentar

Latest News

Macam-Macam Maa (ما), fungsi dan ‘Irabnya

Ada berapa banyak jumlah Maa (ما) dalam bahasa arab dan bagaimana cara penggunaanya dalam kalimat ?. Kira-kira seperti itu...

Mengenal Uslub Qasam (أُسْلُوْبُ القَسَمِ)

Materi uslub qasam (sumpah) yang akan kita bahas meliputi pengertian uslub qasam secara bahasa, istilah, rukun, jumlah (kalimat) qasam,...

Mengenal ‘Irab Isim Lima (أسماء الخمسة)

الأسماء الخمسة Isim Lima قال ابن مالك وَارْفَعْ بَوَاوٍ وانْصِبَنَّ بِالأَلِف # واجْرُرْ بِيَاءٍ مَا مِنَ الأسْمَا أَصِفْ # منْ ذَاكَ ذُو إنْ صُحْبَةً أَبَانَا # وَالْفَمُ...

Definisi dan ‘Irab Isim Mutsanna (المُثَنَّى)

Mutsanna (مثني) Perhatikan contoh mutsanna berikut:  ذَهَبَ الطَّالِبَانِ إِلَى المَدْرَسَةِ / رَأَيْتُ الطَّالِبَيْنِ أَمَامَ المَدْرَسَةِ / سَلِّمْ عَلى الطَّالِبَيْنِ الجَالِسَيْنِ أَمَامَ المَدْرَسَةِ Dua siswa pergi ke sekolah...

Kitab Syarh Qawa’idul ‘Irab [Ibnu Hisyam]

Satu lagi Kitab yang wajib Antum baca sebagai pecinta kaidah nahwu & sharaf yaitu kitab Qawa'idul 'Irab karya Ibnu Hisyam yang sudah disyarah oleh...

Perubahan Bentuk Kata Kerja (Fi’il) Dalam Bahasa Arab

بسم الله الرحمن الحيم PEMBAHASAN FI'IL فعل (KATA KERJA) Kata kerja (fi'il) dalam bahasa arab dikelompokan menjadi beberapa kategori dilihat dari segi zaman (waktu), jumlah huruf,...

More Articles Like This