Share Digroup Kesayangan Anda.

بسم الله الرّحمٰن الرّحيم

Seperti biasanya definisi tidak usah dihafal guling2, cukup dimengerti dan perbanyak contoh untuk latihan dan perluasan.

مرحبا بكم أحبتنا، كما قلت من قبل، نحن سنستمرّ الدرس و نبحث عن موضوع جديد بعنوان ‘ المبتدأ والخبر بالتفصيل من حيث سنتناول أحكامهما وقواعدهما الإعرابية المختلفة مع أمثلة تسهّل عليكم الفهم


PEMBAHASAN PERTAMA (MUBTADA)

المبتدأ : هو اسم مرفوع يقع أول الجملة غالبا

Definisi: Mubtada adalah Isim marfu (dengan dhomah, alif atau wawu) yang isim tersebut biasanya terletak diawal kalimat.

Contoh: الطلابُ أذكياءُ (Para pelajar cerdas). Lafadz الطلابُ adalah mubtada karena merupakan isim dan berada diawal kalimat dengan tanda rafa (dhomah).

Contoh lain:
الطَالِبُ نشيطٌ
أنْتَ مَاهرٌ
هُوَ عظيمٌ
العلمُ نورٌ
الطَالبَانِ مُجْتَهِدَانِ
الطالبُوْنَ مجتهدون

Lihat susunan dalam Ayat AlQuran berikut, ada ditemukan 4 mubtada dan 4 khobar.

إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۚ فَالَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ قُلُوبُهُم مُّنكِرَةٌ وَهُم مُّسْتَكْبِرُونَ

إِلهُكُمْ : مبتدأ
إِلهٌ : خبر
فَالَّذِينَ : مبتدأ
لا يُؤْمِنُونَ : لا نافية ومضارع مرفوع بثبوت النون والواو , خبر
قُلُوبُهُمْ : مبتدأ
مُنْكِرَةٌ : خبر
وَهُمْ : مبتدأ
مُسْتَكْبِرُونَ : خبر

Contoh diatas meunjukan bahwa susunan dalam bahasa arab tidak akan terlepas dari yang disebut Jumlah ismiyah/fi’liyah. (susunan jumlah ismiyah terdiri dari mubtada dan khobar, sedangkan susunan fi’liyah terdiri dari kata kerja-subjek-objek.

Lanjut….

Bentuk isim yang biasa dijadikan mubtada:

1. Terdiri dari Isim Sorih dan Dzohir( seperti nama orang, binatang, tumbuhan, benda hidup/mati, محمدٌ جميلٌ، القلمُ فوقَ المكتب

2. Terdiri dari Isim Maushul وَالَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِنَا

3. Terdiri dari Isim Isyarah هذا كتابٌ

4. Terdiri dari Dhomir Rafa Munfashil انت ماهر، انت عادل

5. Terdiri dari Istifham ( yang biasa dipakai untuk bertanya seperti:

ايُّ الطلاب نجح فى الامتحان

Siswa mana yang lulus ujian

ماذا في الحقيبة

Ada apa didalam tas itu

Ket:

Tidak semua istifham yang terletak diawal kalimat kedudukanya menjadi mubtada, adapula yang menjadi khobar atau dhorof seperti:

اَيْنَ بَيْتُكَ

Dimana rumah mu.

Dalam hal ini اين kedudukanya menjadi khobar muqadam sebab setelahnya berupa isim yaitu بيتك sebagai mubtada yang diakhirkan.

اَيْنَ أقمت صلاة المغرب

Dimana kamu mendirikan sholat magrib.

اين disini menjadi dzorof makan (tempat) sebab setelahnya berupa kata kerja.

كيف، هل، أ، متى. ايان dkk.

I’rab masalah Istifham akan dibahas khusus supaya lebih fokus. Dalam materi kali ini yang penting kita mengetahui bahwa bentuk mubtada ada yang terdiri dari bentuk istifham seperti diatas.

6. Terdiri dari masdar muawwal ( isim masdar yang ditakwil kedalam bentuk susunan fi’liyah yaitu huruf ان masdsriyah masuk kedalam kata kerja dan menasabkanya)

contoh:

وأنْ تصوموا خيرٌ لكم

Lafadz تصوموا adalah bentuk susunan fi’liyah dari masdar muawwal yaitu صيامكم maka dalam hal ini I’rab kalimat وأنْ تصوموا menjadi mubtada dan lafadz خير menjadi khobar dengan taqdir

صيامكم خيرلكم

أنْ مصدرية، دخلت على الفعل المضارع فنصبته، وعلامة نصبه حذف النون. والمصدر المؤوّل منها ومن الفعل بعدها، أي: (صيامُكم) مبتدأ، خبرُه (خيرٌ)

Lanjut….

Apakah Mubtada bentuknya makrifat (khusus) atau nakirah (umum)…?

Bentuk isim mubtada bisa dari isim nakiroh dengan syarat sebagai berikut:

1. Jika mubtada didahului huruf istifham maka boleh nakiroh. Contoh:
أَ قَلَمٌ عَلَى المَكْتَبِ

Apakah pena diatas meja (Lafadz قلم menjadi mubtada meski nakirah karna didahului sebuah pertanyaan)

2. Jika mubtada didahului huruf لا pengecualian (لا النفي), contoh :

لا مُتَبَطِّلٌ في المجموعة

Tidak ada yang bermalas-malasan dalam group.

3. Jika mubtada diakhirkan dan khobarnya didahulukan, lalu didalam khobarnya terdapat huruf jar (شبه الجملة). Contoh:

فى الفَصْلِ طَالِبٌ

Seorang siswa didalam kelas

4. Jika mubtada diakhirkan dan khobarnya berupa dzorof lalu didahulukan. Contoh:

عِنْدَكَ قلمٌ، عِنْدَكَ فلوسٌ

5. Jika mubtada berupa isim syarat. Contoh:

مَنْ يَجْتَهِدْ فى تَعَلُّمِ اللُّغةِ العَرَبِيَةِ يَنْجَحْ

Barang siapa yang bersungguh2 dalam belajar bahasa arab maka akan sukses.

Coba kita I’rab:

من: اسم شرط جازم مبني على السكون في محل رفع مبتدأ

Man: Isim syarat jazm, mabni sukun ditempat rafa yaitu sebagai mubtada.

يجتهد: فعل مضارع مجزوم بمن وعلامة جزمه السكون وهو فعل الشرط والفاعل ضمير مستتر وجوبا تقديره هو

Yantahidu: fi’il mudhori’ sekaligus syarat yang dijazemkan dengan sukun karena masuknya huruf مَنْ, subjeknya berupa dhomir yang wajib tersembunyi, taqdirnya هو

فى: حرف الجر = Huruf jar

تَعَلُّمِ اللُّغةِ العَرَبِيَةِ : مجرور بحرف الجر “في”

ينجح: فعل مضارع مجزوم بمن وعلامة جزمه السكون وهو فعل جواب الشرط والفاعل ضمير مستتر وجوبا تقديره هو

Fi’il mudhari’ sebagai jawab syarat

وجملتا الشرط وجوابه في محل رفع خبر المبتدأ

6. Jika mubtada terdiri dari isim nakiroh yang disifati. Point ini sangat penting mengingat sering ditemukan susunan kalimat yang mubtadanya terdiri dari nakiroh namun tidak bersifat.

Contoh:

طالبٌ مجتهدٌ في الفصل

kedudukan kata طالبٌ adalah mubtada dan boleh nakiroh karena ada sifat sesudahnya yaitu kata مجتهدٌ rajin. Jika kata مجتهدٌ misalkan dibuang menjadi طالبٌ maka susunan seperti ini tidak sah dan menyalahi aturan kaidah bahasa arab dalam hal ini jika dijadikan sebagai mubtada.

7. Jika mubtada terdiri dari (ماالتعجبية) Ma T’ajibiyah)

Apa itu ما التعجبية ?

هو التعبير عن الشعور او الانفعال لأمر ما إعجابا به بصيغة وزن ” ما أَفْعَلَ / أَفْعِلْ ب

Redaksi untuk mengungkapkan emosional /rasa takjub terhadap sesuatu dengan menggunakan wazan af’ala ( أفْعَلَ) atau af’il bi (أَفْعِلْ بِ)

ما أَجْمَلَ وأَجْمِلْ ب

ما + فعل الماضى على وزن أفْعَلَ او على وزن أَفْعِلْ بِ

contoh:
مَا أَجْمَلَ وَجْهَكَ
Alangkah tampanya wajah mu

Contoh diatas adalah redaksi ungkapan takjub yang kedudukanya dalam menjadi mubtada.

Mari kita ‘Irab:

ما : التعجبية مبني في محل رفع مبتدأ بمعنى شيء عظيم

Ma berada diposisi sebagai rafa yaitu mubtada yang mengandung arti takjub.

أَجْمَلَ: فعل ماض مبني على الفتح، والفاعل ضمير مستتر وجوبا تقدير (هو) يعود على ما التعجبية.

Af’al adalah fiil madhi berwazan أفْعَلَ mabni fatah, subjeknya wajib disembunyikan yaitu (هو)

المتعجب منه: ويعرب مفعولا به

Wajhaka adalah Objek yang diungkapkan sebagai maf’ul bih, dan susunan أَجْمَلَ وَجْهَكَ merupakan khobar mubtada jumlah fi’liyah.

Lanjut…..

Apakah boleh mubtada dibuang…?

Ketentuan membuang mubtada bisa boleh dan wajib.

A. Hukumnya boleh jika.

1. Jawaban dari sebuah pertanyaan (في جواب الاستفهام)
contoh:

كيف حالك ؟

bagaimana kabar mu
jawabanya boleh langsung بخيرٍ jika ditaqdir mubtadanya menjadi حالي بخيرٍ.

Contoh dalam Alquran:

وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْحُطَمَةُ – نَارُ اللَّهِ الْمُوقَدَةُ

Jawabanya langsung dengan نَارُ اللَّهِ الْمُوقَدَةُ tanpa ditampakan mubtadanya yaitu kalimat الحطمة
susunan taqdirnya adalah

وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْحُطَمَةُ # الحطمة نار الله الموقدة

2. Jika terletak setelah huruf (فاء الجواب)

contoh:

من نجح في الامتحان فله

Siapa yang sukses/lulus dalam ujian, maka kelulusan tersebut buat dia

jika mubtadanya ditampakan akan menjadi seperti ini:

من نجح في الامتحان فنجاحه له

Contoh dalam Alquran:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ

Barang siapa berbuat baik, maka amalnya tersebut untuk dirinya.

jika ditaqdir mubtadanya menjadi:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَعمله لِنَفْسِهِ

3. Jika terletak setelah kalimat (قال) contoh:

بعدما نجح الطالب المجتهد في دراسته قال: نتيجة الجديّ و النشاط

Sesudahnya siswa yang rajin itu sukses dalam pelajaranya, berkata: ini hasil dari keseriusan dan giat/ rajin.

Jika mubtadanya ditampakan akan menjadi

قال: هي نتيجة الجديّ و النشاط

Contoh dalam Alquran:

وَقَالُوا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ / تقديره وَقَالُوا هي أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ

B. Hukumnya wajib jika

1. Mubtada wajib dibuang jika terletak sebelum kata sifaf yang dikhususkan untuk sebuah pujian, celaan atau mengasihi.

النعت المقطوع إلى الرفع لإفادة المدح ، أو الذم ، أو الترحم

contoh:

مَرَرْتُ بالطّالِبِ المَاهِرُ

Saya melewati pelajar yang mahir

ابْتَعِدْ عَنْ الرَّجُلِ الخَبِيْثُ

jauhilah lelaki jahat itu

تَصَدَقْتُ عَلَى الفَقِيْرِ المِسْكِيْنُ

Saya bersedekah kepada faqir yang miskin.

Dari ke3 contoh diatas sekilas harakat sifat dalam kalimat المَاهِرُ, الخَبِيْثُ, المِسْكِيْنُ adalah salah karena seharusnya berharokat mengikuti isim yang disifatinya yaitu menjadi

مَرَرْتُ بالطّالِبِ المَاهِرِ
ابْتَعِدْ عَنْ الرَّجُلِ الخَبِيْثِ
تَصَدَقْتُ عَلَى الفَقِيْرِ المِسْكِيْنِ

Namun kaidah berkata lain karena alasan diatas yaitu untuk tujuan memuji, mencela dan mengasihani maka dalam susunan tersebut ada kata yang wajin dibuang yaitu mubtada dengan taqdir:

هو المَاهِرُ
هو الخَبِيْثُ
هو المِسْكِيْنُ

2. Mubtada wajib dibuang jika khobarnya berbentuk isim masdar.
Contoh: صَبْرٌ جَمِيْلٌ

susunan diatas adalah jumlah ismiyah yang mubtadanya wajib dibuang karna bentuk khobarnya isim masdar, jika ditaqdir menjadi صبري صَبْرٌ جَمِيْلٌ

Contoh dalam Alquran:

مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۚ وَبِئْسَ الْمِهَادُ

مَتاعٌ : خبر لمبتدأ محذوف أي: عيشهم متاع
قَلِيلٌ : صفة

NEXT…

– KAPAN MUBTADA WAJIB DIAKHIRKAN DAN KAPAN KHOBAR WAJIB DIDAHULUKAN.

#Silahkan jika ada pertanyaan diajukan dikolom komentarm

والله المستعان
شكرا…
تحريرا فى ٧ أغسطس ٢٠١٨ وتم نشره فى مجموعة نصيحة مهارة تعلّم اللغة العربية عبر الواتس اب & فيسبوك

أخوكم فى الله

سوريامان بن أدين

Apakah postingan ini cukup membatu?

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *