Mengenal Kana dan Saudarinya كان وأخواتها

Must Read

Macam-Macam Maa (ما), fungsi dan ‘Irabnya

Ada berapa banyak jumlah Maa (ما) dalam bahasa arab dan bagaimana cara penggunaanya dalam kalimat ?. Kira-kira seperti itu...

Mengenal Uslub Qasam (أُسْلُوْبُ القَسَمِ)

Materi uslub qasam (sumpah) yang akan kita bahas meliputi pengertian uslub qasam secara bahasa, istilah, rukun, jumlah (kalimat) qasam,...

Bahasa Arab Mudah atau Sulit?

Bahasa Arab Mudah atau Sulit?  Perkembangan bahasa arab sudah berlangsung lama, bahkan jauh sebelum masehi. Abbas al-Aqqad seperti dikutip...
TMBAhttps://bahasa-arab.com/
Belajar Bahasa Arab tidak semudah membalikan telapak tangan, butuh keseriusan dan istiqomah. Namun tidak ada kata terlambat jika kita ingin ingin mempelajarinya.

4.9
(596)

باب كان وأخواتها

Sebelum mempelajari materi ini sebaiknya kenali terlebih dahulu materi tentang Mubtada & Khabar supaya pembahasanya menyambung dan lebih mudah difahami.

Baik sekarang kita akan mengenal siapa mereka كان وأخواتها (Kana & saudarinya) dan bagaimana perubahan hukum i’rab mubtada dan khobar apabila dimasuki mereka.

Perhatikan contoh berikut:

كَانَ الطَّالِبُ مجتهدًا
أَصْبَحَ الجَوُّ بَارِدًا
بَاتَ الطَّالِبُ نَائِمًا

lafadz كان، أصبح ، بات semuanya adalah Af’aal Naasikhah (الأفعال الناسخة كان وأخواتها) yang biasa masuk pada struktur Jumlah Ismiyah (Mubtada & Khobar)

Definisi (كان وأخواتها)

تدخل كان وأخواتها على المبتدأ والخبر فترفع المبتدأ ويسمى اسمها ، وتنصب الخبر ويسمى خبرها

Kana (كان) dan saudarinya terkadang masuk kepada Jumlah Ismiyyah (Mubtada & Khobar) yang kemudian merubah nama Isim yang pada awalnya disebut Mubtada menjadi Isim Kana (كان) dan merubah nama Khabar menjadi Khabar Kana (كان) sekaligus merubah hukum ‘Irabnya dari Rafa’ menjadi Nashab.

Contoh sebelum dimasuki Kaana:

 الطَّالِبُ مُجْتَهِدٌ
الجوُّ بَارِدٌ
الطَّالِبُ نَائِمٌ

Contoh setelah dimasuki Kaana dan saudarinya

كَانَ الطَالِبُ مُجْتَهِدًا
أَصْبَحَ الجوُّ باردًا
بَاتَ الطَالِبُ نائمًا

Baik, sudah sangat jelas dan difahami dari perubahan ketiga lafadz مجتهد, بارد, نائم yang asalnya ber’irab rafa’ menjadi nashob.

Pada definisi di atas disinggung bahwa Fi’il-Fi’il ini terkadang masuk pada Jumlah Ismiyah (Mubtada dan Khobar). Artinya tidak setiap Jumlah Ismiyyah boleh dimasuki Kana dan saudarinya apabila:

  • Mubtada terdiri dari Isim yang wajib berada diawal kalimat (tidak boleh didahului apapun) seperti Mubtada berupa Isim Syarat, Isim Istifham, Kam Khobariyyah, Maa Ta’ajubiyyah.
  • Mubtadanya masuk kategori yang wajib dibuang. Ini terjadi ketika Khobarnya berupa Na’at Maqtu

Contoh:

رَأيتُ خَالدًا الكَرِيْمُ

Lafadz Alkarimu bukan Na’at namun dia Khobar dari Mubtada yang wajib dibuang. Perkiraanya

رَأيتُ خَالدًا هُو الكَرِيْمُ

Maka dalam hal ini, susunan tersebut tidak bisa dimasuki Kaana dan saudarinya.

رَأيتُ خَالدًا كَان الكَرِيْمُ ❌

Syarat Umum Terkait Kana Wa Akhwatuha

  • Kaana dan saudarinya tidak berfungsi kecuali diawalkan dari Isimnya (Mubtada). Akan diperluas pada pasal taqdim dan Takhir dibawah.
  • Mubtada dan Khobar mesti disebutkan (tidak sah apabila keduanya atau salah satu dibuang) kecuali untuk كان dan لَيْسَ .Akan diperluas pada pasalnya masing-masing.
  • Apabila Kana dan Saudarinya berupa Fi’il Madhi, lalu Khobarnya berupa Jumlah Fi’liyyah Mustaqbal (Mudhari’), maka Khobar ini bermakna Madhi sebab mengikuti  zamanya Kaana dan Saudarinya.

Contoh:

كَانَ العَصْفُوْرُ يُغَرِّدُ
أَصْبَحَ العَصْفُوْرُ يُغَرِّدُ

Lafadz يُغَرِّدُ adalah Khobar Kaana/Asbaha, bentuknya zaman hal atau Mustaqbal namun secara makna harus mengikuti makna lampau Kaana/Asbaha.

Jadi diartikan seperti ini: “Burung telah berkicau” / “Burung telah berkicau diwaktu pagi”. Terkecuali Lafadz يُغَرِّدُ dimasuki Sin dan Saufa (س / سوف) yang menunjukan zaman mustaqbal.

Baca juga : Kaidah dan ketentuan Na’at Man’ut

Ketentuan & Spesifikasi Kana & Saudarinya

Kaana dan saudarinya berjumlah 13 Fi’il yaitu

كان / ظل / بات / أصبح / أضحْى / أمسى – صار – ليس / زال / برح / فتئ / انفك / دام

1. Kaana (كان)

  • Berfungsi merafakan Isim dan menashabkan Khabar

قال ابن مالك
تَرْفَعُ كَانَ الْمُبْتَدَا اسْمَاً وَالْخَبَرْ تَنْصِبُهُ كَكَانَ سَيِّدَاً عُمَرْ

Kana berfungsi merafa’kan Mubtada’ sebagai isimnya dan menashabkan Khobarnya, seperti contoh: Kaana Sayyidan ‘Umaru (Umar adalah seorang tuan)

  • Kana mengandung pengertian bahwa Mubtada sebagai Isimnya seakan disifati dengan Khobar.

Contoh:

كَانَ الطِفْلُ مُجْتَهِدًا

Kalimat ini berfaidah memberikan pemahaman bahwa si Anak disifati dengan kata rajin yang terjadi di masa lampau.

  • Kaana terkadang bermakna صَارَ (menjadi)

Contoh:

جُمِّدَ المَاءُ فَكَانَ ثَلجًا

Air dibekukan lalu menjadi es

Dalam AlQuran:

وَفُتِحَتِ السَّمَاءُ فَكَانَتْ أَبْوَابًا، وَسُيِّرَتِ الْجِبَالُ فَكَانَتْ سَرَابًا. سورة النبأ ١٩

 فَكَانَتْ أي: صَارَتْ

Lihat Referensi:

عباس حسن، النحو الوافي، ج١, ص٥٤٨

  • Kana terkadang tidak terikat dengan zaman atau waktu tertentu, baik lampau, hal atau mustaqbal.

Contoh:

كَانَ اللَّهُ غَفُوْراً رَحِيْمًا

Maha pengampun dan kasih sayang Allah S.W.T tidak terbatas dan tidak terikat oleh waktu.

  • Meskipun pada umumnya Kana digunakan sebagai Fi’il Naqis (tidak sempurna), namun dia terkadang  digunakan sebagai Fi’il Tam dengan makna حصل/ظهر/وجد

Contoh:

أَشْرَقَتْ الشَّمْسُ فَكَانَ النُّوْرُ

Matahari telah terbit, maka sinar nampak

  • Kana terkadang hanya sebagai zaidah/tambahan (tidak memiliki fungsi) dan tidak memiliki posisi dalam ‘Irab apabila terletak pada uslub ta’ajub

قال ابن مالك
وَقَدْ تُزَادُ كَانَ فِي حَشْوٍ كَمَا كَانَ أَصَحَّ عِلْمَ مَنْ تَقَدَّمَا

Contoh:

مَا كَانَ أَحْسَنَ خَلْقَهُ

Alangkah baik akhlaknya

  • Huruf Nun pada Kana terkadang dibuang apabila Kana berupa Fi’il Mudhari’ yang didahului Perangkat Jazm

قال ابن مالك
وَمِنْ مُضَارِعٍ لِكَانَ مُنْجَزِمْ تُحُذَفُ نُوْنٌ وَهْوَ حَذْفٌ مَا الْتُزِمْ

Huruf Nun dari Fi’il Mudhari’ كَان ketika Jazm suka dibuang, namun ini tidaklah musti (boleh)

Contoh:

لَمْ أَكُ أعْلَمُ أَنَّكَ تُحِبُّ هٰذِهِ المَرأةَ

Aku tak tahu bahwa kau mencintai perempuan ini.

Lihat contoh membuang nun dari kana di area diskusi

Jadi boleh dibuang dan boleh tetap ada

لَمْ يَكُ ✔️
لَمْ يَكُنْ⁩ ✔️ ⁩

  • Kana terkadang dibuang sekaligus Isimnya apabila terletak setelah In atau Lau (إِنْ/لو) Syartiyah

قال ابن مالك
وَيَحْذِفُوْنَهَا وَيُبْقُوْنَ الْخَبَر وَبَعْدَ إِنْ وَلَوْ كَثِيْرَاً ذَا اشْتَهَرْ

Mereka “Orang Arab”, membuang kaana berikut isimnya dan hanya menyisakan khobar. Demikian ini sering terjadi yaitu ketika Kana berada setelah “Huruf In (إن) Syarthiyah” atau “lau (لَوْ) syarthiyah”.

Contoh:

كُلٌّ يُحَاسَبُ عَلى عَمَلِهِ، إِنْ خَيْرًا فَخَيْرٌ وَإِنْ شَرًّا فَشَرٌّ

Semua akan diperhitungkan atas ‘amalnya, apabila (amalnya) baik maka balasanya baik, apabila (amalnya) jelek maka balasanya jelek.

Apabila ditampakan:

إِنْ كَانَ عَمَلُهُ خَيْرًا فَجَزَاؤُهُ خَيْرٌ وَإِنْ كَانَ عَمَلُهُ شَرًّا فَجَزَاؤُهُ شَرٌّ

Tashrif fi’il كَانَ

Kana seperti Fi’il biasa pada umumnya memiliki bentuk tashrif berbeda-beda. Terdapat tiga perubahan bentuk ketika dia beramal Merafakan Isim dan Menashabkan Khobar yaitu dalam bentuk Fi’il Madhi, Mudhari‘ dan ‘Amr

Tashrif Lughawi Fi’il كان Madhi:

هو كَانَ / هما كَانَا / هم كَانُوا / هِي كَنَتْ / هما كَانَتَا / هُنَّ كُنَّ /أَنْتَ كُنْتَ / أنتُما كُنْتُمَا / أنتم كُنْتُمْ / أنتِ كُنْتِ / أنتما كُنْتُمَا / أنتُنَّ كُنْتُنَّ / أنا كُنْتُ / نَحْنُ كُنَّا

Tashrif Lughawi Fi’il كان Mudhari’

هو يَكُونُ / هما يَكُونَانِ / هم يَكُونُونَ / هي تَكُونُ / هما تَكُونَانِ / هُنَّ يَكُنَّ / أنتَ تَكُونُ / أنتما تَكُونَانِ / أنتم تَكُونُونَ / أنتِ تَكُونِينَ / أنتما تَكُونَانِ / أنتُنَّ تَكُنَّ / أنا أكون / نحن نكون

Tashrif Lughawi Fi’il كان ‘Amr

أنتَ كُنْ / أنتما كُوْنَا / أنتم كُوْنُوا / أنتِ كُونِي / أنتما كُوْنَا / أنتُنَّ كُنَّ

Contoh:

كَانَ الطِفْلُ مُجْتَهِدًا

Anak itu terbukti rajin

يَكُوْنُ الطِفْلُ مُجْتَهِدًا

Anak itu sedang terbukti rajin

كُنْ مُجْتَهِدًا

Rajinlah kau

 Contoh ‘Irab كان

كَانَ الجَوُّ بَارِدًا

كَانَ : فعل ماضي ناقص مبنى على الفتح
الجَوُّ : اسم كان مرفوع وعلامته الضمة لأنه اسم مفرد
بَارِدًا : خبر كان منصوب وعلامته الفتحة لأنه اسم مفرد

كُنْ مُجْتَهِدًا

كُنْ : فعل أمر ناقص  مبني على السكون ، واسم كان ضمير مستتر تقديره أنت
مُجْتَهِدًا : خبر كان منصوب بالفتحة

2. Zalla (ظَلَّ)

  • Zalla pada umumnya mengandung makna (senantiasa,masih, tetap) pada waktu siang.

Contoh:

ظَلَّ طَقْسُ اليَوْمِ مُعْتَدِلاً

Cuaca hari ini sedang/rata-rata

  • Zalla terkadang bermakna صَارَ ( menjadi)

Contoh:

وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ بِالْأُنْثَى ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا

  • Zalla terkadang menjadi Fi’il Taam bermakna دَامَ

Contoh:

ظَلَّ الحَرُّ

Masih panas

Tashrif ظَلَّ

Tashrif Lughawi Fi’il zalla Madhi:

هو ظَلَّ / هما ظَلَّا / هم ظَلُّوا / هِي ظَلَّتْ / هما ظَلَّتَا / هُنَّ ظَلِلْنَ /أَنْتَ ظَلِلْتَ / أنتُما ظَلِلْتُمَا / أنتم ظَلِلْتُمْ / أنتِ ظَلِلْتِ / أنتما ظَلِلْتُمَا / أنتُنَّ ظَلِلْتُنَّ / أنا ظَلِلْتُ / نَحْنُ ظَلِلْنَا

Tashrif Lughawi Fi’il zalla Mudhari’:

هو يَظَلُّ / هما يَظَلَّانِ / هم يَظَلُّونَ / هي تَظَلُّ / هما تَظَلَّانِ / هُنَّ يَظْلَلْنَ / أنتَ تَظَلُّ / أنتما تَظَلَّانِ / أنتم تَظَلُّونَ / أنتِ تَظَلِّينَ / أنتما تَظَلَّانِ / أنتُنَّ تَظْلَلْنَ / أنا أَظَلُّ / نحن نَظَلُّ

Tashrif Lughawi Fi’il zalla ‘Amr:

أنتَ ظَلَّ / أنتما ظَلَّا / أنتم ظَلُّوا / أنتِ ظَلِّي / أنتما ظَلَّا / أنتُنَّ اِظْلَلْنَ

Contoh ‘Irab zalla

ظَلَّ الطَّالِبَانِ رَاسِبَيْنِ

Dua siswa tetap/masih gagal  

ظَلَّ: فعل ماضٍ ناقص مبني على الفتح
الطَّالِبَانِ: اسم ظَلَّ مرفوع علامته الألف لانه مثنى
رَاسِبَيْنِ: خبر ظَلَّ منصوب علامته الياء لانه مثنى

3. Asbaha أَصْبَحَ

  • Asbaha pada umumnya mengandung makna waktu terjadi diwaktu pagi

Contoh:

أَصْبَحَ السَّاهِرُ مُتْعِبًا

Orang yang bergadang menjadi lelah (diwaktu pagi)

  • Asbaha banyak dipenggunakan bermakna صَارَ (menjadi)

Contoh:

أَصْبَحَ خَالدٌ مُدَرِّسًا

Kholid menjadi seorang guru

Asbaha disini tidak bermakna waktu dipagi hari, namun menunjukan terjadinya kholid menjadi guru.

  • Asbaha terkadang menjadi Fi’il Tam

Contoh:

يَاخَالدُ أَصْبَحْتَ

Hai Kholid, kau sudah berada diwaktu pagi.

Tashrif fi’il أَصْبَحَ

Tashrif Lughawi Fi’il Madhi:

هو أَصْبَحَ / هما أَصْبَحَا / هم أَصْبَحُوا / هِي أَصْبَحَتْ / هما أَصْبَحَتَا / هُنَّ أَصْبَحْنَ /أَنْتَ أَصْبَحْتَ / أنتُما أَصْبَحْتُمَا / أنتم أَصْبَحْتُمْ / أنتِ أَصْبَحْتِ / أنتما أَصْبَحْتُمَا / أنتُنَّ أَصْبَحْتُنَّ / أنا أَصْبَحْتُ / نَحْنُ أَصْبَحْنَا

Tashrif Lughawi Fi’il Mudhari’:

هو يُصْبِحُ / هما يُصْبِحَانِ / هم يُصْبِحُونَ / هي تُصْبِحُ / هما تُصْبِحَانِ / هُنَّ يُصْبِحْنَ / أنتَ تُصْبِحُ / أنتما تُصْبِحَانِ / أنتم تُصْبِحُونَ / أنتِ تُصْبِحِينَ / أنتما تُصْبِحَانِ / أنتُنَّ تُصْبِحْنَ / أنا أُصْبِحُ / نحن نُصْبِحُ

Tashrif Lughawi Fi’il ‘Amr:

أنتَ أَصْبِحْ / أنتما أَصْبِحَا / أنتم أَصْبِحُوا / أنتِ أَصْبِحِي / أنتما أَصْبِحَا / أنتُنَّ أَصْبِحْنَ

Contoh ‘Irab أصبح

أصبح الطَّالبُ يَفْهَمُ

أصبح : فعل ماض ناقص مبني على الفتح
الطَّالبُ : اسم أصبح مرفوع وعلامة رفعه الضمة الظاهرة في آخره
يفهم : فعل مضارع مرفوع وعلامة رفعه الضمة الظاهرة على آخره وفاعله ضمير مستتر تقديره هو ، والجملة من الفعل والفاعل خبر أصبح

4. Adha أَضْحَى

  • Adha pada umumnya mengandung makna waktu terjadi diwaktu Duha

Contoh:

أَضْحَى خَالدٌ سَقْيًا عَلى زِراعَتِهِ

Kholid telah menyiram tanaman pada waktu duha

  • Adha banyak dipenggunakan bermakna صَارَ (menjadi)

Contoh:

أَضْحَى المَيْدَانُ الصِنَاعِي مَطْلُوْبًا للاستثمار

Kawasan industri dicari buat investasi

  • Adha terkadang menjadi Fi’il Tam

Contoh:

أَضْحَى النائِمُ

Orang yang tidur (telah masuk waktu duha)

Tashrif Fi’ilأَضْحَى

Tashrif Lughawi Fi’il Madhi:

هو أَضْحَى / هما أَضْحَيَا / هم أَضْحَوْا / هِي أَضْحَتْ / هما أَضْحَتَا / هُنَّ أَضْحَيْنَ /أَنْتَ أَضْحَيْتَ / أنتُما أَضْحَيْتُمَا / أنتم أَضْحَيْتُمْ / أنتِ أَضْحَيْتِ / أنتما أَضْحَيْتُمَا / أنتُنَّ أَضْحَيْتُنَّ / أنا أَضْحَيْتُ / نَحْنُ أَضْحَيْنَا

Tashrif Lughawi Fi’il Mudhari’:

هو يُضْحِي / هما يُضْحِيَانِ / هم يُضْحُونَ / هي تُضْحِي / هما تُضْحِيَانِ / هُنَّ يُضْحِينَ / أنتَ تُضْحِينَ / أنتما تُضْحِيَانِ / أنتم تُضْحُونَ / أنتِ تُصْبِحِينَ / أنتما تُضْحِيَانِ / أنتُنَّ تُضْحِينَ / أنا أُضْحِي / نحن نُضْحِي

Tashrif Lughawi Fi’il ‘Amr:

أنتَ أَضْحِ / أنتما أَضْحِيَا / أنتم أَضْحُوا / أنتِ أَضْحِي / أنتما أَضْحِيَا / أنتُنَّ أَضْحِينَ

Contoh ‘Irab fi’il أضحى

أَضْحَي الطَّالبُ ذَهَبَ إلى المدرسةِ

أَضْحَي : فعل ماض ناقص مبني على الفتح المقدر على الياء
الطَّالبُ : اسم أَضْحَي مرفوع وعلامة رفعه الضمة الظاهرة في آخره
ذَهَبَ : فعل ماض مبني على الفتح وفاعله ضمير مستتر تقديره هو ، والجملة من الفعل والفاعل خبر أَضْحَي
إلى المدرسةِ : جار مجرور متعلق بفعل ذَهَبَ

5. Amsaa أَمْسَى

  • Amsaa pada umumnya mengandung makna waktu terjadi diwaktu sore

Contoh:

أَمْسَى خَالدٌ فَارِحًا لِمُقَابَلَةِ زُمَلائِه فِي الحَفلةِ

Pada waktu sore kholid senang untuk bertemu dengan kawan-kawanya di pesta

  • Amsaa banyak dipenggunakan bermakna صَارَ (menjadi)

Contoh:

سَأَلَ الشُرْطِيُ اللّصَ المَجْهُوْلَ فَأمْسَى مَعْلُوْمًا

Polisi mengintrogasi pencuri tidak dikenal lalu (menjadi) diketahui.

  • Adha terkadang menjadi Fi’il Tam

Contoh:

أَمْسَى الصائمُ

Orang yang berpuasa (telah masuk waktu sore)

Tashrif Fi’il أمْسَى

Tashrif Lughawi Fi’il Madhi:

هو أَمْسَى / هما أَمْسَيَا / هم أَمْسَوْا / هِي أَمْسَتْ / هما أَمْسَتَا / هُنَّ أَمْسَيْنَ /أَنْتَ أَمْسَيْتَ / أنتُما أَمْسَيْتُمَا / أنتم أَمْسَيْتُمْ / أنتِ أَمْسَيْتِ / أنتما أَمْسَيْتُمَا / أنتُنَّ أَمْسَيْتُنَّ / أنا أَمْسَيْتُ / نَحْنُ أَمْسَيْنَا

Tashrif Lughawi Fi’il Mudhari’:

هو يُمْسِي / هما يُمْسِيَانِ / هم يُمْسُونَ / هي تُمْسِي / هما تُمْسِيَانِ / هُنَّ يُمْسِينَ / أنتَ تُمْسِي / أنتما تُمْسِيَانِ / أنتم تُمْسُونَ / أنتِ تُمْسِينَ / أنتما تُمْسِيَانِ / أنتُنَّ تُمْسِينَ / أنا أُمْسِي / نحن نُمْسِي

Tashrif Lughawi Fi’il ‘Amr:

أنتَ أَمْسِ / أنتما أَمْسِيَا / أنتم أَمْسُوا / أنتِ أَمْسِي / أنتما أَمْسِيَا / أنتُنَّ أَمْسِينَ

Contoh ‘Irab أمسى

أَمْسَى خَالدٌ فَارِحًا

أَمْسَى : فعل ماض ناقص مبني على الفتح المقدر على الياء
خَالدٌ : اسم أَمْسَى مرفوع وعلامة رفعه الضمة الظاهرة في آخره
فَارِحًا : خبر أَمْسَى منصوب وعلامة نصبه الفتحة الظاهرة في آخره

6. Bata (بَاتَ)

  • Bata pada umumnya mengandung makna terjadi peristiwa pada waktu sepanjang malam

Contoh:

بَاتَ الضَّيْفُ نائماً في بيتِ خَالدٍ

Tamu itu semalamam tidur di rumah Kholid

  • Bata terkadang menjadi Fi’il Tam

Contoh:

بَاتَتْ السَّيَّارةُ فِي المَوْقِفِ

Mobil bermalam di terminal

Tashrif Fi’il بَاتَ

Tashrif Lughawi Fi’il Madhi:

هو بَاتَ / هما بَاتَا / هم بَاتُوا / هِي بَاتَتْ / هما بَاتَتَا / هُنَّ بِتْنَ /أَنْتَ بِتَّ / أنتُما بِتُّمَا / أنتم بِتُّمْ / أنتِ بِتِّ / أنتما بِتُّمَا / أنتُنَّ بِتُّنَّ / أنا بِتُّ / نَحْنُ بِتْنَا

Tashrif Lughawi Fi’il Mudhari’:

هو يَبِيتُ / هما يَبِيتَانِ / هم يَبِيتُونَ / هي تَبِيتُ / هما تَبِيتَانِ / هُنَّ يَبِتْنَ / أنتَ تَبِيتُ / أنتما تَبِيتَانِ / أنتم تَبِيتُونَ / أنتِ تَبِيتِينَ / أنتما تَبِيتَانِ / أنتُنَّ تَبِتْنَ / أنا أَبِيتُ / نحن نَبِيتُ

Tashrif Lughawi Fi’il ‘Amr:

أنتَ بِتْ / أنتما بِيتَا / أنتم بِيتُوا / أنتِ بِيتِي / أنتما بِيتَا / أنتُنَّ بِتْنَ

Contoh ‘Irab بات

يَبِيْتُ الطَّالبُوْنَ نَائِمِيْنَ فِي الخَيْمَةِ

يبيت : فعل مضارع ناقص مرفوع
الطَّالبُوْنَ : اسم يبيت مرفوع علامته الواو لانه جمع مذكر سالم
نَائِمِيْنَ : خبر يبيت منصوب علامته الياء لانه جمع مذكر سالم

g. Shara (صار)

  • Shara mengandung makna perubahan/pergantian/menjadi

Contoh:

صَارَ الخَشَبُ بَابًا

Kayu berubah menjadi pintu

Kalimat ini berfaidah memberikan pemahaman bahwa A setelah melalui proses berubah menjadi B

  • Shara terkadang bermakna menetap/tetap (استقرّ)

Contoh:

صَارَ الأَمْرُ إِلَيْكَ

Kepadamu urusan itu menetap

إلى اللَّهِ تَصِيْرُ الأُمُوْر

Kepada Allah lah kembali (menetap) semua urusan

  • Khabar Shara tidak boleh berupa Jumlah Fi’liyyah dari Fi’il Madhi

Lihat Contoh perbandingan:

صَارَ المُتَكَلِّمُ سَكَتَ❌

صَارَ الجَالسُ وَقَفَ❌

صَارَ المُتَكَلِّمُ يَسْكُتُ ⁦✔️

صَارَ الجَالسُ يَقِفُ⁦✔️

  • Terdapat sedikitnya 11 Fi’il yang semakna dan memiliki fungsi sama seperti Shara (صار) diantar yaitu:

آضَ / رَجَعَ / عَادَ / اسْتَحَال / حَارَ / ارْتَدَّ / تَحَوَّلَ / رَاحَ

Contoh:

آضَ الغلامُ شابًّا / تَحَوَّلَ القطنُ نَسِيْجاً

Lihat referensi:

عباس حسن، النحو الوافي ، ج١،ص٥٥٧

Tashrif Fi’il صَار

Tashrif Lughawi Fi’il Madhi:

هو صَارَ / هما صَارَا / هم صَارُوا / هِي صَارَتْ / هما صَارَتَا / هُنَّ صِرْنَ /أَنْتَ صِرْتَ / أنتُما صِرْتُمَا / أنتم صِرْتُمْ / أنتِ صِرْتِ / أنتما صِرْتُمَا / أنتُنَّ صِرْتُنَّ / أنا صِرْتُ / نَحْنُ صِرْنَا

Tashrif Lughawi Fi’il Mudhari’:

هو يَصِيرُ / هما يَصِيرَانِ / هم يَصِيرُونَ / هي تَصِيرُ / هما تَصِيرَانِ / هُنَّ يَصِرْنَ / أنتَ تَصِيرُ / أنتما تَصِيرَانِ / أنتم تَصِيرُونَ / أنتِ تَصِيرِينَ / أنتما تَصِيرَانِ / أنتُنَّ تَصِرْنَ / أنا أَصِيرُ / نحن نَصِيرُ

Tashrif Lughawi Fi’il ‘Amr:

أنتَ صِرْ / أنتما صِيرَا / أنتم صِيرُوا / أنتِ صِيرِي / أنتما صِيرَا / أنتُنَّ صِرْنَ

Contoh ‘Irab صار

تَصِيْرُ الفَتَاتَانِ شَابَّتَيْنِ

تصير: فعل مضارع ناقص مرفوع
الفتاتان: اسم اصبح مرفوع علامته الألف لانه مثنى
شابتين: خبر تصير منصوب علامته الياء لانه مثنى

8. Laisa (لَيْسَ)

  • Laisa mengandung makna pengecualian yang menunjukan pada waktu hal (sekarang).

Contoh:

لَيْسَ الكَذْبُ مَحْمُوْدًا

Berbohong itu tidak terpuji

  • Apabila Laisa ingin dimasukan pada waktu Madhi atau Mustaqbal, mesti ditambahkan kata yang menunjukan kedua zaman tersebut.

Contoh:

لَيْسَ خَالدٌ مُسَافِرًا أَمْسِ

Kholid kemarin tidak bepergian

لَيْسَ خَالدٌ مُسَافِرًا غُدًا

Kholid besok tidak akan bepergian

  • Laisa tidak digunakan menjadi Fi’il Tam
  • Khobar Laisa tidak boleh didahulukan

مُجْتَهِدًا لَيْسَ الطَّالبُ❌

  • Laisa hanya memiliki bentuk Tashrif Fi’il Madhi saja (Tidak terdapat Mudhari’ dan ‘Amr)
  • Khobar Laisa boleh ditempeli Huruf Ba (الباء) Zaaidah apabila ‘Laisa’ tidak berada bersama Huruf Ististna

Contoh:

لَيْسَ الغَضَبُ بِمَحْمُوْدٍ✔️

ليس الغِثَى إلا بغِنَى النفس❌

Tashrif لَيْسَ

Tashrif Lughawi Fi’il Madhi:

هو لَيْسَ / هما لَيْسَا‎ / هم لَيْسُوا‎ /

هِي لَيْسَتْ‎ / هما لَيْسَتَا‎ / هُنَّ لَسْنَ‎ /أَنْتَ لَسْتَ‎ / أنتما لَسْتُمَا‎ / أنتم لَسْتُمْ‎ / أنتِ لَسْتِ‎ / أنتما لَسْتُمَا‎ / أنتُنَّ لَسْتُنَّ‎ / أنا لَسْتُ‎ / نَحْنُ لَسْنَا

Contoh ‘Irab ليس

لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُسَيْطِرٍ

لست : فعل ماضٍ مبني على السكون لاتصاله بضمير المخاطب وهو في محل رفع اسم ليس
عليهم : جار ومجرور متعلقان ب ليس
بمسيطر : الباء حرف جر زائد، مسيطر مجرور لفظاً منصوب محلاً لانه خبر لست

Lihat Referensi:

عباس حسن، النحو الوافي، ج١ ،ص ٥٦٢

9. Zaala (زال)

  • Zala mengandung makna “continue” (terus menerus, masih, senantiasa) yang dalam penggunaanya mesti didahului Huruf Nafyi atau Nahyi

Contoh:

لاَ يَزَالُ خَالدٌ واقفاً
لا يَزَالُ الخَطِيْبُ مُتَكَلِّمًا
مَا زَالَ اللَّهُ رَحِيْماً بِعِبَادِهِ
لاَ تَزَلْ بَعِيْدًا عَنِ الطُغْيَانِ

  • Khobar Zala tidak boleh berupa Jumlah Fi’liyyah apabila Fi’ilnya Madhi

Contoh:

مَازَالَ المَطَرُ نَزَلَ
مَازَالَ المَطَرُ يَنْزِلُ ⁦✔️⁩

  • Khobar Zala tidak boleh terletak setelah Nafyi

Contoh:

مَازَالَ المَرِيْضُ إِلاَّ مُتَأَلِّمًا❌

  • Huruf Nafyi pada زال boleh dibuang dengan syarat Nafyi tersebut berupa huruf لاَ dan berada diposisi jawab qosam

Contoh:

وَاللَّهِ يَزَالُ الخَمْرُ مَحْرُوْمًا حَتَّى يومِ القيامة

تقدير : لا يزال

  • Zala yang berfungsi sebagai Nasikh/Naqis dalam Merafakan Mubtada dan menashankan Khobar adalah زَال yang Tashrif Fi’il Mudhari’nya يَزَالُ bukan yang يَزِيْلُ atau يَزُوْلُ (ketiganya berbeda makna). Silahkan periksa di kamus.

زَالَ / يَزَالُ -» فعل نَاقص و ناسخ⁦

زَالَ / يَزِيْلُ / زَيْل -» فعل متعدى إلى مفعول به

زَالَ / يَزُوْلُ / زِوَال -» فعل لازم

  • Zala tidak dipegunakan sebagai Fi’il Tam

Tashrif زَالَ

Tashrif Lughawi Fi’il Madhi:

هو زَالَ / هما زَالَا / هم زَالُوا / هِي زَالَتْ / هما زَالَتَا / هُنَّ زِلْنَ /أَنْتَ زِلْتَ / أنتما زِلْتُمَا / أنتم زِلْتُمْ / أنتِ زِلْتِ / أنتما زِلْتُمَا / أنتُنَّ زِلْتُنَّ / أنا زِلْتُ / نَحْنُ زِلْنَا

Tashrif Lughawi Fi’il Mudhari’:

هو يَزَالُ / هما يَزَالَانِ / هم يَزَالُونَ / هي تَزَالُ / هما تَزَالَانِ / هُنَّ يَزَلْنَ / أنتَ تَزَالُ / أنتما تَزَالَانِ / أنتم تَصِيرُونَ / أنتِ تَزَالِينَ / أنتما تَزَالَانِ / أنتُنَّ تَزَلْنَ / أنا أَزَالُ / نحن نَزَالُ

10. MaBariha, MaAnfakka, MaFatia (ما برح / ما انفك / ما فتئ)

قال ابن مالك

فَتىء وَانْفَكَّ وَهذِي الأَرْبَعَهْ لِشِبْهِ نَفْي أوْ لِنَفْي مُتْبَعَهْ

Fati-a (senantiasa) Infakka (senantiasa). Adapun yang empat ini (Zaala Bariha Fati-a Infakka) harus didahului Nafyi atau Nahyi

Makna dan spesifikasi sama seperti زَالَ hanya terdapat perbedaan dalam Tashrif  Fi’il Mudhari’nya dan juga perbedaan dari segi kegunaanya. Untuk ketiga fi’il Naqis ini terkadang dipakai menjadi Fi’il Tam tidak seperti Zala.

Contoh;

وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِفَتَاهُ لَا أَبْرَحُ

11. Dama (دَامَ)

  • Berfungsi seperti كان dan kawanya hanya memiliki syarat yaitu

وَمِثْلُ كَانَ دَامَ مَسْبُوْقَاً بِمَا كَأَعْطِ مَا دُمْتَ مُصِيْبَاً دِرْهَمَاً

Semisal Kaana dalam merafa’kan Mubtada’ dan menashabkan khobar, Lafafz Daama (دَامَ) juga dengan syarat didahului dengan Maa mashdariyyah-zharfiyyah, seperti contoh ” A’thi Maa Dumta Mushiiban Dirhaman (berikan uang selama kau punya)

  • Dama mengandung makna Istimrar (Continue/senantiasa/selagi) sampai batas tertentu, yang dalam penggunaanya mesti didahului Ma Mashdariyyah Dzharfiyyah ( ما مصدرية ظرفية)

Contoh:

يُفِيْدُ الأَكْلُ مَا دَامَ المَرْءُ جَائِعًا

Makan berfaidah selagi seseorang merasa lapar.

  • Dama mesti menggunakan bentuk Madhi seperti contoh diatas (Bukan menggunakan Fi’il Mudhari’ يَدُوْمُ sebab yang berfungsi hanyalah Fi’il Madhi.
  • Apabila Dama tidak didahului Ma Mashdariyyah Dzharfiyyah, maka dia menjadi Fi’il Lazim dan tidak beramal dalam Merafakan Mubtada dan Menashabkan Khobar.

Contoh:

دَامَ خَالدٌ رَاكِبًا

Lafadz رَاكِبًا bukan Khobar Dama melainkan Hal

  • Apabila Dama (دَامَ) dimasuki Dhamir Rafa’ Mutaharik, huruf د mesti Dhammah dan Alif dibuang.

Contoh:

دَامَ -» دُمْتُ / دُمْتُمْ / دُمْتَ

  • Apabila Khobar Dama berupa Jumlah Fi’liyyah, fi’ilnya tidak boleh Madhi sebab Dama berfaidak Continue

Contoh:

مَادَامَ خَالدٌ رَكِبَ السَّيَّارةَ ❌

مَادَامَ خَالدٌ يَرْكَبُ السَّيَّارةَ⁦ ✔️

  •  Khobar Dama tidak boleh didahulukan

Contoh:

مَادَامَ حَيًّا خَالِدٌ ❌

⁦✔️⁩مَادَامَ خَالدٌ حَيًّا

Tashrif دَامَ

Tashrif Lughawi Fi’il Madhi:

هو دَامَ / هما دَامَا / هم دَامُوا / هِي دَامَتْ / هما دَامَتَا / هُنَّ دُمْنَ /أَنْتَ دُمْتَ / أنتما دُمْتُمَا / أنتم دُمْتُمْ / أنتِ دُمْتِ / أنتما دُمْتُمَا / أنتُنَّ دُمْتُنَّ / أنا دُمْتُ / نَحْنُ دُمْنَا

Contoh ‘Irab دام

اعملْ مَا دُمْتَ قادراً 

اعملْ : فعل الأمر مبني على السكون، اسمه ضمير مستتر تقديره أنتَ
مَا : حرف مصدرية ظرفية
دُمْتَ : فعل ماضٍ ناقص مبني على السكون، والضمير المتصل في محل رفع اسم ما دام
حياً : خبر ما دام منصوب


Jenis Khobar Kana dan Saudarinya

Tidak berbeda dengan Khobar biasa sebelum dimasuki Kaana dan Saudarinya, Khobar memiliki tiga bentuk yaitu Mufrad, Jumlah (Ismiyyah & Fi’liyyah) dan Syibhul Jumlah). Silahkan lihat dalam pasal Khabar.

  • Contoh Khobar Kaana Mufrod (مفرد)

كَانَ الطَّالِبُ مُجْتَهِدًا
كَانَ الطَّالِبَانِ مُجْتَهِدَيْن
كَانَ الطَّالِبُوْنَ مُجْتَهِدِيْن

  • Contoh Khobar Kana Jumlah Ismiyyah

كَانَ الطَّالِبُ عِلْمُهُ نَافِعٌ

  • Contoh Khobar Kaana Jumlah Fi’liyyah

كَانَ الأُسْتَاذُ يُعَلِّمُ تَلاَمِيْدَه

  • Contoh Khobar Kaana Syibhul Jumlah (Dzharaf & Jar Majrur)

سَيَظِلُّ الإنسانُ فى الصِّرَاعِ
كَانَتْ الغَوَّاصَةُ تَحْتَ المَاءِ

Taqdim & Takhir كان وأخواتها

Sebagaimana dalam kaidah Mubtada dan Khobar, kaidah mendahulukan dan mengakhirkan boleh dilakukan dengan syarat dan ketentuan.

a. Antara Fi’il Nasikh/Naqis dengan Isimnya.

Jumhur Ulama Nahwu berpendapat bahwa Isim tidak boleh mendahului Fi’il Nasikh

خَالِدٌ كَانَ مُجْتَهِدًا ❌

كَان خَالدٌ مُجْتَهِدًا ✔️

Lihat Referensi:

الشيوطي، همع الهوامع، ج١، ص ١١٨
عباس حسن، النحو الوافي، ج١, ص ٥٦٩

b. Antara Khobar, Isim Nasikh dan Fi’il Nasikh

1. Apabila Khobar berupa Jumlah (Ismiyyah / Fi’liyyah)

  • Khobar Jumlah yang tidak terdapat Dhamir ‘Aid (kembali) kepada Isim Nasikh, maka Khobar lebih baik diakhirkan dari Isim dan Fi’il Nasikh

Contoh:

كَانَ خَالدٌ يَدْرُسُ

  • Khobar Jumlah yang terdapat Dhamir ‘Aid (kembali) kepada Isim Nasikh, maka Khobar Wajib diakhirkan

Contoh:

كَانَ خَالدٌ أَبُوْهُ قَائِمٌ⁦✔️⁩
أَبُوْهُ قَائِمٌ كَانَ خَالدٌ❌
كَانَ خَالدٌ يَمُرُّ زَيْدٌ بِهِ⁦✔️⁩
يَمُرُّ زَيْدٌ بِهِ كَانَ خَالدٌ ❌

2. Apabila Khobar berupa Mufrad

a. Wajib diakhirkan

  • Khobar Mufrad wajib diakhirkan apabila akan terjadi kesalahfahaman atau sulit membedakan antara Isim Nasikh dan Khobar Nasikh

Contoh:

كَانَ شَرِيْكِي أَخِي

Kolegaku adalah saudaraku

صَارَ أُسْتَاذِي رَفِيْقِي فِى العَمَلِ

Ustadzku menjadi kawanku dalam bekerja.

Apabila kedua Khobar أَخِي/رَفِيْقِي diawalkan kemudiam takut membuat salah faham sebab akan merubah makna kalimat, maka wajib hukum keduanya diakhirkan dari Isim Nasikh

  • Khobar Mufrad wajib diakhirkan dari Isim dan Fi’il Nasikh apabila dia dikecualikan

Contoh:

مَاكَانَ خَالدٌ إلّا طَالِبًا

Tidaklah terbukti kholid kecuali dia seorang pelajar

b. Wajib didahulukan

  • Khobar Mufrad wajib didahulukan dari Isim Nasikh apabila Isim tersebut diidhafatkan kepada Dhamir yang kembali untuk Khobarnya (Posisi khobar berada diantara Fi’il Nasikh dan Isim Nasikh

Contoh:

يُعْجِبُنِى أَنْ يَكُوْنَ لِلْعَمَلِ أَهْلُهُ ⁦✔️⁩
لِلْعَمَلِ : خبر كان مقدم وجوبا
أَهْلُهُ : اسم كان مؤخر وجوبا

يُعْجِبُنِى أَنْ يَكُوْنَ أَهْلُهُ لِلْعَمَلِ❌

  • Khobar Mufrad wajib didahulukan dari Fi’il Nasikh apabila dia berupa Isim yang mempunyai Hak untuk berada diawal kalimat, seperti isim Istifham dan Kam Khobariyyah. ( Posisi Khobar diawal – Fi’il Nakish – Isim Nakish). Dengan catatan Fi’il Nakish tidak didahului Nafyi dan atau bukan Fi’il Nakish لَيْسَ

Contoh:

أَيْنَ كَانَ خَالِدٌ ؟✔️
أَيْنَ مَا كَانَ خَالِدٌ ؟❌

  • Khobar Mufrad wajib diakhirkan atau berada diantara Isim dan Fi’il Nakish, apabila Fi’il Nakish didahului perangkat/alat yang mempunyai Hak untuk disimpan diawal kalimat

Contoh:

هَلْ أَصْبَحَ المَرِيْضُ صَحِيْحًا ⁦✔️

هَلْ أَصْبَحَ صَحِيْحًا المَرِيْضُ ⁦✔️

Apakah orang yang sakit itu sudah menjadi sehat ? Apakah sudah menjadi sehat orang sakit itu ? Keduanya boleh dan dibenarkan.

Catatan:

  1. Apabila Khobar Mufrad menjadi ‘Amil untuk Ma’mul (kata yang terletak setelahnya) baik Rafa atau Nashab, maka ketika posisi khobar  ingin diawalkan dari Isim dan Fi’il Nasikh, terdapat dua ketentuan
  • Apabila Ma’mulnya Rafa’ 

Perhatikan contoh:

كَانَ الرَّجُلُ نَبِيْلاً مَقْصُدُهُ

Lelaki itu terbukti maksudnya baik

كَانَ : فعل ماقص/ناسخ
الرَّجُلُ : اسم كان
نَبِيْلاً : خبر كان + عامل
مَقْصُدُهُ : معمول + فاعل

Lafadz نَبِيْلاً adalah Khobar كان, dia juga ‘Amil untuk Ma’mul yang ber’irab Rafa’ yaitu lafadz مَقْصُدُهُ yang kedudukanya sebagai Fa’il dari lafadz نَبِيْلاً

Apabila khobar نَبِيْلاً ingin diawalkan, maka harus satu paket dengan lafadz مَقْصُدُهُ seperti dibawah

نَبِيْلاً مَقْصُدُهُ كَانَ الرَّجُلُ✔️
نَبِيْلاً كَانَ الرَّجُلُ مَقْصُدُهُ❌

  • Apabila Ma’mulnya Nashab

Perhatikan contoh:

أَضْحَى الرَّجُلُ رَاكِباً الطَّيَّارَةَ

Lelaki itu naik pesawat diwaktu pagi

Lafadz رَاكِباً adalah Khobar أَضْحَى, dia juga ‘Amil untuk Ma’mul ber’irab Nashab yaitu lafadz الطَّيَّارَةَ yang kedudukanya sebagai Maf’ul Bih dari lafadz رَاكِباً

Apabila khobar رَاكِباً ingin diawalkan, maka terdapat dua kemungkinan:

a. Disatukan dengan Ma’mulnya lafadz الطَّيَّارَةَ (Susunan Fasih) seperti:

رَاكِباً الطَّيَّارَةَ أَضْحَى الرَّجُلُ ✔️

b. Dipisah dengan Ma’mulnya lafadz الطَّيَّارَةَ (Susunan Ghoir Fasih/Jelek)

رَاكِباً أَضْحَى الرَّجُلُ الطَّيَّارَةَ ✔️

  1. Permasalahan mendahulukan Ma’Mul sendirian tanpa Khobar yang menjadi ‘Amilnya.

قال ابن مالك
وَلاَ يَلِي العَامِلَ مَعْمُولَ الخَبَرْ إِلَّا إِذَا ظَرْفاً أَتَى أَوْ حَرْفَ جَرّ

Ma’mul Khobar tidak boleh mendahului ‘Amil kecuali apabila Ma’mul berupa Syibhul Jumlah (Dzharaf / Jar Majrur

Perhatikan contoh2 berikut:

كَانَ نَبِيْلاً الرَّجُلُ مَقْصُدُهُ ❌
أَضْحَى الطَّيَّارَةَ الرَّجُلُ رَاكِباً ❌

Kedua contoh diatas tidak boleh sebab yang menjadi Ma’mul bukan dzharaf atu jar majrur

بَاتَ الطَّيْرُ نائماً عَلى الأَشْجَارِ ✔️
بَاتَ عَلى الأَشْجَارِ الطَّيْرُ نائماً ✔️
بَاتَ الطَّيْرُ نائماً فَوْقَ الأَشْجَارِ ✔️
بَاتَ فَوْقَ الأَشْجَارِ الطَّيْرُ نائماً ✔️

Burung tidur semalaman diatas pohon

Keduanya diperbolehkan dan bisa dibulak balik.

Lihat Referensi:

عباس حسن، النحو الوافي، ج١, ص -٥٧٥-٥٧٣

Status كان وأخواته sebagai Zaidah (tambahan)

Sudah kita ketahui bahwa Fi’il كَان termasuk Naqis dan Juga Tam dan Juga Zaaidah. Disini kita akan mengetahui Posisi-posisi yang biasa ditempati كان dimana dia berstatus sebagai Zaidah (Ketika dia tidak berfungsi dalam hal apapun, baik merafakan Isim dan Menashabkan khobar, merafakan Fa’il dll)

  • Berada diantara Mubtada dan Khobar

Contoh:

خَالدٌ كَانَ مُجْتَهِدٌ

خَالدٌ : مبتدأ
كَانَ : زائدة
مُجْتَهِدٌ : خبر

Contoh:

لَمْ يَتَكَلَّمْ كَانَ غَيْرُكَ

Tak ada yang bicara selain mu

يَتَكَلَّمْ : فعل
كَانَ : زائدة
غَيْرُكَ : فاعل

Contoh:

أُكَلِّمُ الَّذِيْ كَانَ عَرَفْتُهُ

Aku mengatakan yang aku tau

الَّذِيْ : اسم موصول
كَانَ : زائدة
عَرَفْتُهُ : صلة موصول

  • Berada diantara Man’ut dan Na’at

Contoh:

قَصَدْتُ لِزِيَارَةِ صَدِيْقٍ كَانَ مَرِيْضٍ

Aku bermaksud mengunjungi seorang kawan yang sakit

صَدِيْقٍ : منعوت
كَانَ : زائدة
مَرِيْضٍ : نعت

  • Berada diantara Ma’thuf dan Ma’tuf ‘Alaih

Contoh:

الصَّدِيْقُ مُخْلِصٌ فِى الشَّدَةِ كَانَ وَالرِخَاءِ

kawan itu adalah ikhlas dalam ketika susah dan bahagia.

فِى الشَّدَةِ : معطوف عليه
كَانَ : زائدة
وَالرِخَاءِ : معطوف

  • Berada diantara Huruf Jar dan Majrur

Contoh:

القَلَمُ عَلَى كَانَ المَكْتَبِ

Pena itu diatas meja

عَلَى : حرف الجار
كَانَ : زائدة
المَكْتَبِ : مجرور

  • Berada diantara Ma Ta’Ajubiyyah dan Fi’ilnya

Contoh:

مَا كَانَ أَطْيَبَ كَلاَمَكَ

Alangkah baik ucapanmu

مَا : تعجبية
كَانَ : زائدة
أَطْيَبَ : فعل التعجب

Lihat Referensi:

عباس حسن، النحو الوافي،ج١ ص٥٨٢


Contoh Af’aal Nasikhah dalam AlQuran

قوله تعالى : وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا النساء ٩٦

قوله تعالى : ولا يزالون مختلفين هود ١١٨

قوله تعالى : لن نبرح عليه عاكفين  طه

قوله تعالى : وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا. سورة مريم ٣١

Demikian pembahasan singkat tentang pasal كان وأخواتها atas segala kekurangan silahlan dirujuk referensi diatas.

Walahu’alam.

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 4.9 / 5. Vote count: 596

No votes so far! Be the first to rate this post.

3 COMMENTS

Tinggalkan Komentar

Latest News

Macam-Macam Maa (ما), fungsi dan ‘Irabnya

Ada berapa banyak jumlah Maa (ما) dalam bahasa arab dan bagaimana cara penggunaanya dalam kalimat ?. Kira-kira seperti itu...

Mengenal Uslub Qasam (أُسْلُوْبُ القَسَمِ)

Materi uslub qasam (sumpah) yang akan kita bahas meliputi pengertian uslub qasam secara bahasa, istilah, rukun, jumlah (kalimat) qasam,...

Uslub Kiasan/Kinayah ( أسلوب الكناية)

Dalam Bahasa Arab terdapat banyak Uslub (Gaya Bahasa) diantaranya: - أسلوب النفي / أسلوب الاستفهام / أسلوب الشرط / أسلوب النداء / أسلوب الكناية /أسلوب...

Percakapan bahasa arab tentang etika bertamu (آداب الزّيارة)

Alhamdulillah latihan mendengar video bahasa arab tanpa text sudah sampai pada bagian ke#6. Kemajuan yang sangat luar biasa dari para peserta latihan, jika pada awal...

5 Tanda [علامات الاسم] Isim Dalam Kitab Alfiyah

Bait ke#10 Syarh Alfiyah Ibnu Malik; Abū Fāris Daḥdāḥ. قال ابن مالك بِالْجَرِّّ وَالتَّنْوينِ وَالنِّدَا وَأَلْ # وَمُسْنَدٍ لِلاسْمِ تَمْيِيزٌ حَصَلْ Pasa bait sebelumnya Kita sudah mengetahui komponen...

Bahasa Arab (Aku Suka Anggur)

زِرَاعَةُ العِنَبِ Menanam Anggur العِنَبُ يُعْتَبَرُ مِنْ أَحَدِ الفَوَاكِهِ اللَّذِيْذَةِ وَ المَشْهُوْرَةِ فِي العَالَمِ مُنْذُ قَدِيْمِ الزَّمَانِ وَيَتِمُّ تَنَاوُلُهُ طَازِجًا أَوْ بِاسْتِخْدَامِهِ العَصِيْرَ كَمَا فَعَلَهُ القُدَمَاءُ Anggur...

More Articles Like This