Mengenal Kaidah Uslub Ta’ajjub (أُسْلُوْبُ التَّعَحُّبِ)

Must Read

Huruf yang diucapakan namun tidak ditulis (ينطق ولا يكتب)

Bismillahirahmanirahim. Sambungan dari materi sebelumnya tentang 'Huruf Yang Ditulis Namun Tidak Diucapkan'. Sekarang kabalikanya yaitu 'diucapkan namun tidak ditulis'. Diantara...

Huruf yang ditulis namun tidak dibaca (يكتب ولا ينطق)

Dalam kaidah imla, terdapat huruf-huruf yang ditulis namun tidak diucapkan (ما يكتب ولا ينطق). Diantara huruf tersebut yang paling...

Perbedaan Hamzah Qatha’ dan Washal (همزة القطع والوصل)

Bisamillahirahmanirahim. Materi kaidah imla (penulisan) yang berkaitan dengan hamzah qatha' dan hamzah washal. Mengetahui kedua hamzah ini sangat penting...
TMBAhttps://bahasa-arab.com/
Belajar Bahasa Arab tidak semudah membalikan telapak tangan, butuh keseriusan dan istiqomah. Namun tidak ada kata terlambat jika kita ingin ingin mempelajarinya.

5
(35)

Uslub Ta’ajjub (أُسْلُوْبُ التَّعَحُّبِ) dalam Ilmu Nahwu

ذَاتَ يَوْمٍ، ذَهَبَ خَالِدٌ وَصَديقُهُ أحمدُ إلى شاطيء البحرِ لِقَضَاءِ العطلة المدرسية. شاهدا في طريقهما المناظر الطبيعية الجميلة. قال خالدٌ : مَا أَجْمَلَ هٰذِهِ المناظرَ، فَأجَابَهُ أحمدُ : نَعم، سَرَّتْنِي هٰذه الرحْلَةُ المُمْتِعَةُ، وقال: أَعْظِمْ بِقُدْرَةِ اللَّهِ

Suatu saat Khalid dan Ahmad pergi ke sebuah pantai untuk menghabiskan liburan sekolah. Di perjalanan, mereka berdua melihat panorama indah. Kholid berkata: “Alangkah indahnya panorama ini.” Ahmad menjawab: ” Ya, Tamasya menyenangkan – Betapa agungnya kekuasaa Allah.

Pada paragraf di atas terdapat kata مَا أَجْمَلَ dan أَعْظِمْ ب kedua pola ini disebut dengan uslub ta’ajjub (ungkapan rasa kagum).

Mafhum Uslub Ta’ajjub (مفهوم التعجب)

Secara bahasa att’ajjub adalah bentuk mashdar dari kata kerja تَعَجَّبَ – يَتَعَجَّبُ – تَعَجُّبٌ yang berarti takjub, kagum, merasa wah dan sejenisnya.

Secara istilah ilmu nahwu, att’ajjub adalah

هُوَ أُسْلُوْب يَسْتَعْمِل لِلتَّعْبِيْرِ عَنْ الدَّهْشَةِ أَو استِعْظَام فِي شَيْئٍ مَا

Gaya bahasa yang dipakai dalam mengungkapkan rasa kagum terhadap sesuatu.

Macam-macam Att’ajjub (أنواع أسلوب التعجب)

Att’ajjub memiliki dua macam yaitu yang bersifat sima’i dan qiyasi. Att’ajjub sima’i artinya ungkapan takjub tanpa mengikuti aturan wazan tertentu sebab sudah bawaan dari kalam arab, baik berupa wahyu AlQuran, Hadist atau Syair.

Att’ajjub sima’i terkadang diungkapkan dengan menggunakan perangkat istifham, nida, mashdar, fi’il berwazan فَعُل dll. Bahkan mencakup setiap ungkapan takjub yang hanya tersirat dari kandungan makna tanpa adanya tanda shighah tertentu.

  • Dengan menggunakan huruf nida
    يا لك، أو يا له، أو يا لها

فيالك بحرًا لم أجد فيه مشربًا # وإن كان غيري واجدًا فيه مسبحًا

  • Dengan menggunakan fi’il عجب

عجبت لمن يشتري المماليك بماله # ولا يشتري الأحرار بكريم فعاله

  • Dengan menggunakan mashdar عجيب

عجِيب، هذا المنظر جميل

  • Dengan menggunakan wazan أفعَلَ tanpa mim.

أحسنتَ قولًا

  • Dengan menggunakan wazan فَعُلَ

كَبُرَتْ كَلمةٌ تَخْرُجُ مِنْ فَمِّ الجَاحِدِ

Uslub Ta’ajjub Sima’i dalam Al-Quran dan Hadist

كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ. البقرة ٢٨
وَأَصْحَابُ الشِّمَالِ مَا أَصْحَابُ الشِّمَالِ. الواقعة ٤١
القارعة ما القارعة وما أدراك ما القارعة. القارعة ١-٣

قَالَ رَسُولُ اللّهِ صلى الله عليه وسلم: سُبْحَانَ الله إِنَّ الْمُؤْمِنَ لاَ يَنْجَسُ

Att’ajjub sima’i tidak terhitung banyaknya sebab tidak memiliki format khusus. Selagi lafadz dan kandungan maknanya menunjukan arti takjub, maka masuk kategori att’ajjub sima’i.

Adapun Att’ajjub qiyasi, para ulama nahwu mengaturnya dengan format atau wazan مَا أَفْعَلَ dan أفْعِلْ بِ yang akan menjadi objek pembahasan kita.

Format Uslub Att’ajjub Al-Qiyasy (صيغة التعجب القياسي)

:قال ابن مالك
بِأفْعَلَ انْطِقْ بَعْدَ مَا تَعَجُّبَا # أوْ جِئْ بِأفْعِلْ قَبْلَ مَجْرُورٍ ببَا

Ucapkanlah dengan wazan af’al yang terletak setelah Ma sebagai ungkapan rasa kagum, atau dengan wazan af’il sebelum Majrur dengan ba’

Dalam mengungkapkan rasa takjub kita bisa menggunakan dua shighah berwazan مَا أَفْعَلَ dan أفْعِلْ بِ

Wazan مَا أَفْعَلَ terdiri dari isim Ma (ما) Ta’ajubiyyah bermakna شيء atau sesuatu + Af’al (أَفْعَلَ) fi’il madhi jamid.

Wazan أفْعِلْ ب terdiri dari Af’il (أَفْعِلْ) fi’il ‘amar atau fi’il madhi dalam bentuk fi’il amr + Huruf jar Ba (الباء)

Untuk melengkapi kedua shighah di atas, maka harus ditambahkan kata atau kalimat yang diletakan setelah fi’il ta’ajjub yang disebut dengan istilah Muta’ajjib Minhu (sesuatu yang dikagumi). Contoh

مَا أَجْمَلَ هَذَا الورْدَ / مَا أَعْظَمَ شَعْبَنَا / مَا أَحْسَنَ خَالِدًا / مَا أَوْسَعَ الحَدِيْقَةَ

أَجْمِلْ بِهَذَا الورْدِ / أَعْظِمْ بِشَعْبِنَا / أَحْسِنْ بِخَالِدٍ / أَوْسِعْ بِالحَدِيْقَةِ

Alangkah indahnya bunga ini / Betapa besarnya negri kita / Alangkah baiknya khalid / Alangkah luasnya taman ini.

Kata-kata seperti هَذَا الورْدَ / شَعْبَنَا / خَالِدًا / الحَدِيْقَةَ disebut dengan Muta’ajjib Minhu

Syarat Shighah Ta’ajjub (شروط صيغة التعجب)

:قال ابن مالك

وَصُغْهُمَا مِنْ ذِي ثَلاَثٍ صُرِّفَا # ً قَابِلِ فَضْلِ تَمَّ غَيْرِ ذِي انْتِفَا # وَغَيْرِ ذِي وَصْفٍ يُضَاهِي أَشْهَلا # َ وَغَيْرِ سَالِكٍ سَبِيْلَ فُعِلاَ

Untuk merubah fi’il menjadi kedua shighah ta’ajjub أَفْعَلَ dan أَفْعِلْ terdapat 8 syarat yang harus dipenuhi

  • Mesti dari fi’il madhi (bukan mudhari’ atau amr)
  • Mesti dari fi’il madhi tsulasi mujarrad ( 3 huruf) Contoh.

جَمُلَ -» أَجْمَلَ / أَجْمِلْ
حَسُنَ -» أَحْسَنَ / أَحْسِنْ
كَرُمَ -» أَكْرَمَ / أَكْرِمْ
قَبِحَ -» أَقْبَحَ – أَقْبِحْ

Kecuali fi’il madhi tsulasi majid yang memiliki tambahan 1 huruf berwazan أفْعَلَ seperti أعطى، أقفر، أظلم، أولى dkk. Menurut sebagian Ulama boleh dibentuk langsung menjadi Fi’il ta’ajjub. Contoh

أعطى -» ما أعطى التقي
أقفر -» ما أقفر الصحراء
أظلم -» ما أظلم عقول الجهلاء

  • Mesti dari fi’il yang memiliki makna mufadholah, seperti: bagus -lebih bagus, baik-lebih baik, jelek-lebih jelek dsb. Dan dari fi’il yang menerima variasi arti atau perubahan arti, seperti kata mati, tenggelam, buta dan lainya tidak bisa dibentuk menjadi fi’il takjub. Sebab tdk mungkin diartikan lebih buta, lebih mati, lebih tenggelam dll.
  • Mesti dari fi’il yang bisa ditashrif (mutasharif). Artinya, bukan dari fi’il jamid yang tidak memiliki perubahan madhi, mudhari, amr dll seperti لَيْسَ، عَسَى ، نِعْمَ ، بِئْسَ
  • Mesti dari fi’il mabni ma’lum (bukan mabni majhul)
  • Mesti dari fi’il tam (sempurna), bukan dari fi’il naqis seperti fi’il كَانَ dan sudarinya.
  • Mesti dari fi’il mutsbat (positif) ‘bukan negatif’ Contoh negatif :

لاَ يُهْمِل / مَا فَازَ / مَا عَاجَ

  • Bukan dari fi’il yang mengandung kata sifat berwazan أَفْعَلَ ketika mudzakkar dan berwazan فَعْلاَء ketika muannats seperti kata sifat untuk warna

أَحْمَرُ – حَمْرَاءُ
أَخْضَرُ – خَضْرَاءُ
أَصْفَرُ – صَفْرَاءُ
أَزْرَقُ – زَرْقَاء

مَا أَحْمَرَ الوَردَةَ ❌
أَحْمِرْ بِالوردةِ ❌

Atau kata yang mengandung sifat cacat seperti أَعْوَرُ untuk mudzakkar dan عَوْرَاءُ untuk muannats yang berarti buta

مَا أَعْوَرَ خَالدًا ❌
أَعْوِرْ بِخَالدٍ ❌

Cara Menta’ajjubkan Fi’il yang tidak memenuhi syarat

:قال ابن مالك
وَأَشْدِدَ أو أَشَدَّ أَو شِبْهُهُمَا # يَخْلُفُ مَا بَعْضَ الشُّرُوطِ عَدِ مَا # وَمَصْدَرُ العَادِمِ بَعْدُ يَنْتَصِبْ # وَبَعْدَ أَفْعِل جَرُّهُ بِالبَا يَجِبْ # وَبِالنُّدُورِ احْكُمْ لِغَيْرِ مَا ذُكِرْ # وَلاَ تَقِسْ عَلَى الَّذِي مِنْهُ أُثِرْ

Berikut langkah untuk membentuk shighat ta’ajjub dari fi’il yang tidak memenuhi syarat di atas.

  • Apabila fi’il jamid (bukan mutasharif) dan fi’il yang tidak menerima variasi makna, keduanya tidak bisa dibentuk menjadi fi’il ta’ajjub. Contoh

مَا أَلْيَسَ خَالِدً ❌
مَا أَمْوَتَ خَالِدً ❌

  • Apabila fi’il tsulasi majid (lebih dari 3 huruf) seperti اِجْتَهَدَ / انْتَصَرَ / ابْتَهَجَ dll, dan fi’il yang mengandung kata sifat berwazan أَفْعَلَ (mudzakkar) dan berwazan فَعْلاَء (muannats), langkahnya dengan menambahkan fi’il yang sudah memenuhi syarat seperti أَكْثَرَ / أَكْبَرَ / أَعْظَمَ/ أَحْسَنَ / أَشَدَّ kemudian fi’il tsulasi majid dan yang mengandung kata sifat tersebut dirubah menjadi bentuk mashdar sharih atau mashdar muawwal dan diletakan setelah fi’il ta’ajjub. Contoh

مَا أَكْثَرَ ابْتِهَاجَ خَالِدٍ / مَا أَكْثَرَ أَنْ يَبْتَهِجَ خَالِدٌ
أَكْثِرْ بِابْتِهَاجِ خَالِدٍ / أَكْثِرْ بِأَنْ يَبْتَهِجَ خَالِدٌ

Betapa/alangkah gembiranya khalid

مَا أَعْظَمَ اِرْتِفَاعَ الجِبَالِ / مَا أَعْظَمَ أَنْ يَرْتَفِعَ الجِبَالُ
أَعْظِمْ بِارْتِفَاعِ الجِبَالِ / أَعْظِمْ بِأَنْ يَرْتَفِعَ الجِبَالُ

Alangkah tingginya gunung ini

  • Apabila fi’il mabni majhul dan atau fi’il manfi, langkahnya dengan menambahkan fi’il yang sudah memenuhi syarat seperti di atas أَكْثَرَ / أَكْبَرَ / أَعْظَمَ/ أَحْسَنَ / أَشَدَّ / أجمل kemudian kedua fi’il mabni majhul dan atau fi’il manfi dirubah menjadi mashdar sharih atau mashdar muawwal dan diletakan setelah fi’il ta’ajjub. Contoh

مَا أَجْمَلَ أَنْ يُثَابَ المُؤْمِنُ لِعَمَلِهِ / أَجْمِلْ بِأَنْ يُثَابَ المُؤْمِنُ لِعَمَلِهِ

Alangkah indahnya seorang mu’min diberikan pahala sebab amalanya.

مَا أَحْسَنَ أَنْ لاَ تُهْمِلَ دُرُوْسَكَ / أَحْسِنْ بِأَنْ لاَ تُهْمِلَ دُرُوْسَكَ

Alangkah baiknya kau tak mengabaikan pelajaran

  • Apabila fi’il naqis, langkahnya sama seperti di atas. Contoh

ما أَكْثَرَ كونَ الباطلِ زهوقاً / ما أَكْثَرَ أَنْ يَكُوْنَ الباطلُ زهوقاً

أكْثِرْ بكونِ الباطلِ زهوقاً / أكْثِرْ بِأَنْ يَكُوْنَ الباطلُ زهوقاً

Macam-macam Muta’ajjib Minhu (المتعجّب منه)

Di atas disebutkan bahwa Muta’ajjib Minhu (sesuatu yang dikagumi) adalah kata atau kalimat yang terletak setelah fi’il ta’ajjub. Muta’ajjib Minhu memiliki banyak macam diantaranya berupa isim dzahir, dhamir dan bahkan berupa kalimat.

  • Contoh Muta’ajjib Minhu isim dzahir :

مَا أَجْمَلَ خَالِدًا / أَجْمِلْ بِخَالِدٍ

  • Contoh Muta’ajjib Minhu isim dhamir:

خَالدٌ مَا أجمَلَهُ / خَالدٌ أَجْمِلْ بِهِ

  • Contoh Muta’ajjib Minhu isim isyarah:

مَا أَجْمَلَ هَذِهِ الحَدِيْقَةَ / أَجْمِلْ بِهَذِهِ الحَدِيْقَةِ

  • Contoh Muta’ajjib Minhu isim maushul:

مَا أَعْظَمَ الَّذِي يُطْعِمُ الفَقِيْرَ / أَعْظِمْ بِالَّذِي يُطْعِمُ الفَقِيْرَ

Alangkah agungnya orang yang memberi makan fakir

  • Contoh Muta’ajjib Minhu mashdar muawwal.

مَا أَحْسَنَ أَنْ نَتَّحِدَ / أَحْسِنْ بِأَنْ نَتَّحِدَ

Alangkah baiknya kita bersatu

‘Irab Shighah Ta’ajjub (إعراب صيغة التعجب)

1. Shighah مَا أَفْعَلَ

Isim Ma mabni sukun dan di’irab sebagai mubtada, fi’il ta’ajjub أَفْعَلَ fi’il madhi jamid mabni fathah dengan dhamir mustatir هو yang kembali ke ma (ما).

Lalu lafadz yang terletak setelah fi’il ta’ajjub, baik berupa kata satuan (mufrad) atau kalimat, di’irab sebagai maf’ul bih manshub. Kemudian gabungan kalimat dari fi’il ta’ajjub + muta’ajjib minhu di’irab sebagai khobar jumlah fi’liyyah.

:قال ابن مالك
وَتِلْوَ أفْعَلَ انْصِبَنَّهُ كما # أوْفَى خَلِيلَيْنَا وَأصْدِقْ بِهِمَا

Nashabkanlah kata/kalimah yang terletak sesudah wazan af’al seperti: “Ma Aufaa Khalilaina Wa Ashdiq Bi hima”.

2. Shighah أَفْعِلْ بِهِ

Untuk ‘irab format kedua yaitu أَفْعِلْ بِهِ ulama nahwu berbeda pandangan.

  • Pertama: Shighah أَفْعِلْ adalah fi’il madhi yang bentuknya menyerupai fi’il ‘amr. Kemudian huruf yang terletak setelah fi’il ta’ajjub yaitu huruf jar (الباء) adalah huruf zaidah dan kata atau kalimat setelahnya di’irab fa’il yang berada pada posisi majrur.
  • Kedua: Shighah أَفْعِلْ adalah fi’il amr asli, fa’ilnya adalah dhamir mustatir أنت lalu huruf (الباء) adalah huruf jar asli dan kata/kalimat setelahnya di’irab majrur.

Lihat An-nahwu al-wafi, Abbas Hasan, Jilid 3, H 345.

Berikut contoh ‘Irab ushlub ta’ajjub:

مَا أَعْظَمَ القُرْآنَ

مَا : اسم نكرة تامة مبني على السكون (بمعنى شيء) في محل رفع مبتدأ
أَعْظَمَ : فعل ماضٍ مبني على الفتح ، فاعله مستتر يعود إلى ما
القُرْآنَ : مفعول به منصوب بالفتحة الظاهرة في آخره ، والجملة من الفعل والفاعل والمفعول به في محل رفع خبر المبتدأ
________

أَوْسِعْ بِحَدِيْقَةِ المَدْرَسَةِ

Versi pendapat pertama;

أَوْسِعْ : فعل ماض جاء على صورة الأمر مبني على فتح مقدر على آخره منع من ظهوره السكون الذي اقتضته صيغة الأمر وهو فعل التعجب
الباء : الباء : حرف جر زائد
الحديقة : اسم مجرور لفظاً مرفوع محلاً ، على أنه فاعل أَوْسِعْ وهو مضاف
المَدْرَسَةِ : مضاف إليه مجرور وعلامته الكسرة الظاهرة، والجملة من الفعل والفاعل والمفعول به في محل رفع خبر المبتدأ

Versi pendapat kedua:

أَوْسِعْ : فعل الأمر مبني على السكون، والفاعل ضمير مستتر تقديره أنت
الباء : الباء : حرف الجر الأصلي
الحديقة : اسم مجرور بالبا وهو مضاف
المَدْرَسَةِ : مضاف إليه مجرور وعلامته الكسرة الظاهرة، والجملة من الفعل والفاعل في محل رفع خبر المبتدأ
___________

مَا أَكْثَرَ ابْتِهَاجَ خَالِدٍ

مَا : اسم نكرة تامة مبني على السكون (بمعنى شيء) في محل رفع مبتدأ
أكثر : فعل ماضٍ مبني على الفتح ، فاعله مستتر يعود إلى ما
ابْتِهَاجَ : مفعول به منصوب بالفتحة الظاهرة في آخره وهو مضاف
خَالِدٍ : مضاف إليه مجرور، والجملة من الفعل والفاعل والمفعول به في محل رفع خبر المبتدأ
_________

مَا أَقْبَحَ أَنْ تُهْمِلَ دُرُوْسَكَ

مَا : اسم نكرة تامة مبني على السكون (بمعنى شيء) في محل رفع مبتدأ
أَقْبَحَ : فعل ماضٍ مبني على الفتح ، فاعله مستتر يعود إلى ما
أن : حرف مصدري ونصب
تُهْمِلَ : فعل مضارع منصوب بأن ، وعلامة نصبه الفتحة الظاهرة في آخره
دُرُوْسَكَ : مفعول به ( لتُهْمِلَ ) منصوب بالفتحة الظاهرة في آخره وهو مضاف، والكاف مضاف إليه.
أن مصدرية والفعل المضارع وفاعله بتأويل مصدر مفعول به لأقبح ، التقدير : ما أقبحَ إِهْمَالَ دُرُوْسِكَ
فعل ‘أقبح’ وما بعدها في محل رفع خبر المبتدأ

Ketentuan khusus terkait fi’il ta’ajjub dan muta’ajjib minhu

  • Antara fi’il ta’ajjub dan muta’ajjib minhu tidak boleh terpisah dengan apapun kecuali dzharaf atau jar majrur

:قال ابن مالك
وَفَصْلُهُ بِظَرْفٍ أو بِحَرْفِ جَرّ # مُسْتَعْمَلٌ وَالخُلفُ فِي ذَاكَ اسْتَقَرْ

ما أضيع حقًا المودة عند من لا وفاء له ❌
ما أضيع في بلادنا المودة عند من لا وفاء له ✔️
مَا أَجْمَلَ مَسَاءً الحَدِيْقَةَ ⁦✔️⁩

  • Tidak boleh mendahulukan muta’ajjib minhu dari fi’il ta’ajjub

:قال ابن مالك
وَفِعْلُ هَذَا البَابِ لَنْ يُقَدَّمَا # مَعْمُولُهُ وَوَصْلَهُ بِهِ الزَمَا

مَا خَالِدًا أَجْمَلَ ❌

  • Muta’ajjib minhu mesti makrifat atau nakirah (mahdhah) yang disifati atau diidhafatkan. Lihat Kaidah Nakirah Makrifat

مَا أجْمَلَ طَالِبًا ❌
مَا أجْمَلَ طَالِبَ العلْمِ ⁦✔️⁩
مَا أجْمَلَ طَالِبًا رَاجَعَ دُرُوْسَهُ ⁦✔️⁩

  • Muta’ajjib minhu boleh dibuang pada kedua shighah ta’ajjub apabila berupa dhamir dan adanya qarinah (indikasi) atas dibuangnya dhamir tersebut.

جزى اللَّهُ عني -والجزاء بفضله خيرًا. ما أَعْظَمَ

Asalnya أَعْظَمَهُ (Alangkah agungnya Allah Ta’ala)

  • Khusus untuk Muta’ajjib minhu dari shighah ta’ajjub أَفْعِلْ بِ boleh dibuang bersamaan dengan huruf jar الباء

أَسْمِعْ بِهِمْ وَأَبْصِرْ -» أَسْمِعْ بِهِمْ وَأَبْصِرْ بِهِمْ

  • Fi’il ta’ajjub tidak terkait dengan waktu lampau meski bentuknya madhi. Dan fi’il ta’ajjub juga berstatus jamid (tidak ada mudhari’ dan amr) meskipun pada awalnya berstatus mutasharif.

:قال ابن مالك : وَفِي كِلاَ الفِعْلَيْنِ قِدْمَاً لَزِمَا # مَنْعُ تَصَرُّفٍ بِحُكْم حُتِمَا

  • Boleh menambahkan كَانَ zaidah diantara Ma ta’ajubiyyah dan fi’il ta’ajjub. Seperti

مَا كَانَ أَجْمَلَ الطَّالِبَ

  • Boleh membuang huruf jar (الباء) dari أَفْعِلْ بِ apabila Muta’ajjib minhu berupa mashdar muawwal. Contoh

أَحْسِنْ أَنْ يَكُوْنَ مُتَّحِدًا ⁦✔️⁩
أَحْسِنْ بِأَنْ يَكُوْنَ مُتَّحِدًا ⁦✔️⁩

Ushlub Ta’ajjub Qiyasi dalam Al-Quran

أَسْمِعْ بِهِمْ وَأَبْصِرْ يَوْمَ يَأْتُونَنَا ۖ لَٰكِنِ الظَّالِمُونَ الْيَوْمَ فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ. مريم ٣٨

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَىٰ وَالْعَذَابَ بِالْمَغْفِرَةِ ۚ فَمَا أَصْبَرَهُمْ عَلَى النَّارِ. البقرة ١٧٥

قُتِلَ الْإِنسَانُ مَا أَكْفَرَهُ. عبس ١٧

Referensi:

النحو الوافي،  حسن، ج٣, ص ٣٤٠-٣٦٦

Wallahu’alam

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 35

No votes so far! Be the first to rate this post.

Recomended

Hujan adalah karunia (Bahasa Arab)

Tidak diragukan lagi bahwa Hujan adalah berkah dan karunia Allah Subhanahuwata'allah bagi semua makhluk hidup di muka bumi ini. Dengan air hujan semua kebutuhan air...

Demi Uang Lima Perak

مِنْ أَجْلِ خَمْسَةِ قُرُوْشٍ Demi Uang Lima Qurs/Perak ذَاتَ يَوْمٍ ذَهَبَ جُحَا إِلَى البَقًَالِ لِشِرَاءِ بَعْضِ طَلَبَاتِ بَيْتِهِ، فَطَلَبَ البَقًَالُ مَبْلَغًا كَبِيْرًا ثَمَنًا لَهَا. قَالَ جُحَا...

Kaidah Isytighal (الاشتغال)

Isytighal (الاشتغال) Pada kesempatan kali ini kita akan membahas materi Isytighal, rukun, syarat dan contoh 'irabnya. Perhatikan rumus berikut: Pola susunan normal dalam Bahasa Arab (جملة فعلية (فعل...

Kaidah Munada/Nida (منادى) Lengkap Contoh ‘Irab

بسم الله الرحمن الرحيم Pada materi kali ini, Insya Allah kita akan mengenal المنادى dari mulai bentuk, jenis dan kaidahnya. Tentu dilengkapi dengan cara meng'irab...

Tinggalkan Komentar

Latest News

Huruf yang diucapakan namun tidak ditulis (ينطق ولا يكتب)

Bismillahirahmanirahim. Sambungan dari materi sebelumnya tentang 'Huruf Yang Ditulis Namun Tidak Diucapkan'. Sekarang kabalikanya yaitu 'diucapkan namun tidak ditulis'. Diantara...

Huruf yang ditulis namun tidak dibaca (يكتب ولا ينطق)

Dalam kaidah imla, terdapat huruf-huruf yang ditulis namun tidak diucapkan (ما يكتب ولا ينطق). Diantara huruf tersebut yang paling...

Huruf yang diucapakan namun tidak ditulis (ينطق ولا يكتب)

Bismillahirahmanirahim. Sambungan dari materi sebelumnya tentang 'Huruf Yang Ditulis Namun Tidak Diucapkan'. Sekarang kabalikanya yaitu 'diucapkan namun tidak ditulis'. Diantara huruf-huruf yang paling populer dibuang...

Unsur Kalimat (Isim, Fi’il dan Huruf)

بسم الله الرحمن الرحيم ما هو علم العربية أو ما هي قواعد العربية...؟ علمٌ تُعرفُ به أحوالُ الكلماتِ مفردةً مركّبةً غايته عصمة المتكلّم والكاتب عن الخطاء...

Ketika Juha Keras Kepala

جُحَا عَنِيْدٌ جِدًّا Juha keras kepala كَانَ جُحَا يَجْلِسُ مَعَ امْرَأَتِهِ ، ثُمَّ قَالَ لَهَا : انْهَضِى وَ ضَعِى العَلِيْقَ لِلْحِمَارِ ، قَالَتْ : انْهَضْ أَنْتَ...

Juha Sang Pemberani

جُحَا شُجَاعٌ جِدًّا Juha Sangat Pemberani عُرِفَ جُحَا بِشَجَاعَتِهِ ، وَ إِقْدَامِهِ عَلَى العَمَلِ بِهِمَّةٍ وَ نَشَاطٍ بَيْنَ أَهْلِ قَرْيَتِهِ ، لِمَا كَانَ يَحْكِيْهِ عَنْ نَفْسِهِ...

Sponsored Articles

More Articles Like This