Mengenal Haal (حال) dan Sohibul Haal (صاحب الحال)

1
Share Digroup Kesayangan Anda.

بسم الله الرحمن الرحيم

في هذا الوقت سنتعرف على الحال من حيث مفهومه وأنواعه وأحكامه وشروطه

حال وصاحب الحال

Pada materi (Haal) terdapat dua istilah yang disebut dengan Haal dan Sahibul Haal. Mari kita mulai dari definisi.

1. Definisi Haal

الحَالُ هُوَ (فَضْلَةٌ) وَصْفُ هَيْئَةِ الشيء حِيْنَ وُقُوْعِ الْفِعْل وَيَكُوْنُ الحَالُ منصوبًا دائماً

Haal adalah Fadhlah (Sifat yang menjelaskan kondisi seseorang atau sesuatu ketika perbuatan itu terjadi. Kedudukan ‘irab seseorang atau sesuatu yang dijadikan Sohibul Haal, terkadang memiliki kedudukan sebagai Fa’il, Maf’ul Bih, Mubtada, Mudhaf ‘ilah, Maf’ul Ma’ah, Maf’ul Fih dll.

قال ابن مالك
الْحَالُ وَصْـفٌ فَضْلَةٌ مُنْتَصِبُ # مُفْهِمُ في حَـالِ كَفَرْداً أَذْهَبُ

Maksud Fadhlah disini yaitu: Bahwa (Haal) dalam suatu kalimat (bukan pokok), artinya hanyalah sebagai pelengkap. Suatu kalimat akan tetap sempurna mespikun tanpa keberadaan (Haal).

Namun pada kenyataanya, (Haal) sering kali menjadi عُمْدَة (pokok) atau bagian penting dari kalimat, artinya, ketika (Haal) ditiadakan atau tidak dipergunakan, dampaknya bisa menjadikan makna kalimat tidak sempurna bahkan merusak makna kalimat secara keseluruhan.

Contoh:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ. النساء ١٤٢

Terjemah: “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri…..”.

Kalimat terputus sampai mereka berdiri….

Jika Lafadz كُسَالَىٰ sebagai (Haal) dibuang yaitu ( Mereka berdiri dalam kondisi bermalas-malasan). Maka maksud dari pada Ayat tidak sempurna dalam menjelaskan kondisi orang munafik ketika meraka melakukan ibadah shalat. Jadi Lafadz كُسَالَىٰ adalah satu kesatuan atau bagian yang tidak dapat dipisahkan ( عمدة)

Ayat Ini menjelaskan kondisi orang-orang munafiq, mereka melakukan sesuatu yang diperintahkan hanyalah sebatas untuk menutupi sifat kemunafikan, termasuk dalam urusan ibadah shalat. Lebih lagi dengan urusan kewajiban lain yang berhubungan dengan Mu’amalah, tentu akan lebih liar sifat munafiqnya. Shalat dia laksanakan, berjamaah ikut, pengajian tak tertinggal, namun dibalik itu semua hanyalah tipu daya mereka.

Kesimpulan: Bahwa Haal adalah Fadhlah (bukan pokok) dan Haal adalah harus menggunakan bentuk Isim (Musytaq), bukanlah merupakan suatu kemestian. Ini hanya dilihat dari pada keumuman, karena pada kenyataaanya (Haal) keluar dari pada (Fadhlah) menjadi (‘Umdah) seperti yang terjadi pada contoh Ayat diatas. Dan (Haal) keluar juga dari pada bentuk (Musytaq) menjadi (Jaamid). Ini akan kita perluas dibawah, apa itu Haal Musytaq & Jaamid dan syarat apa saja yang mesti terpenuhi.

2. Pembagian Haal dilihat dari segi (Apakah dia merupakan suatu kondisi menetap atau berubah).

a. Menetap (الثابتة)

هي التي تبين هيئة شيء تلازمه غالبًا ولا تكاد تفارقه

Adalah Haal yang menjelaskan kondisi sesuatu, dimana kondisi tersebut merupakan sesuatu yang lazim/mesti melekat pada diri Sohibul Haal.

رأيتُ أباك رحيمًا بك

Aku melihat bapakmu dalam kondisi sayang kepadamu

Kasih sayang adalah suatu kondisi yang secara fitrah melekat pada diri seorang ayah. Artinya kondisi seperti ini tidak mungkin terpisahkan dari Sohibul Haal. Maka disebut dengan Haal Tsabit.

b. Berubah/berpindah (المنتقلة)

هي التي تبين هيئة شيء لا تلازمه ولكن تفارقه وتتغير

Adalah Haal yang menjelaskan kondisi sesuatu, dimana kondisi tersebut tidak selamanya melekat pada diri Sohibul Haal. Kapan saja dan dimana saja bisa muncul, namun dia terbatas keberadaanya.

رأيتُ خَالدًا ضَاحكًا/باكيًا/مُبتَسِمًا
رأيتُ خَالدًا راكبا/ماشيًا/جاريًا

Aku melihat Kholid (dalam kondisi) ketawa/Menangis/tersenyum

Aku melihat Kholid ( dalam kondisi) menunggang/berjalan/berlari

Ketawa, menangis dan tersenyum bukan kondisi yang selalu ada dan terus menerus melekat pada diri Sohibul Haal (Kholid). Namun suatu kondisi yang terkadang datang dan juga pergi. Apa jadinya jika mas Kholid tertawa atau menangis seumur hidup (tidak mungkin). Begitu juga dengan berlari dan berjalan, tidak mungkin dilakukan terus menerus tanpa henti. Maka kondisi seperti ini disebut dengan Haal Muntaqil (Ghoir Tsabit)

انظر : النحو الوافى، ج٢ ،ص ٣٦٧

3. Fungsi Haal

a. Memperjelas (مبيّن)

Fungsi Haal pertama yaitu memperjelas kondisi Sahibul Haal. Ketika fungsinya sebagai penjelas, keberadaannya akan berpengaruh dalam melahirkan makna kalimat baru. Artinya, jika terdapat dua kalimat, satu memiliki Haal dan yang satunya tidak, tentu kedua makna kalimat akan berbeda. Misalkan, Kholid datang dengan Kholid datang sambil menangis sangat jelas perbedaan maknanya.

b. Memperkuat (مؤكّد)

Fungsi Haal kedua yaitu memperkuat. Ketika fungsinya sebagai penguat, keberadaannya tidak terlalu berpengaruh terhadap makna kalimat secara keseluruhan.

جَاءَ الطُّلابُ كُلُّهُمْ جَمِيْعًا

Lafadz جَمِيْعًا adalah Haal berfungsi Taukid. Ada dan tiadanya جَمِيْعًا, tidak memberikan faidah signifikan.

Dalam AlQuran:

قوله : وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَن فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا. يونس ٩٩

Terjemah: Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi (dalam kondisi mereka seluruhnya)

4. Apakah Fungsi Haal hanya memperjelas atau memperkuat Sohibul Haal saja atau ada sesuatu yang lain ?

Dari penjelasan diatas kita fahami bahwa, Haal berfungsi menjelaskan/memperkuat kondisi (Sohibul Haal). Namun tidak hanya berlaku untuk Sohibul Haal, terkadang (Haal) juga berfungsi menjelaskan kondisi sesuatu selain Sohibul Haal.

a. Hal Haqiqi ( Berfungsi menjelaskan kondisi Sohibul Haal secara langsung)

قَام خالدٌ بالصلاة خَاشِعًا

Kata Khusuk menjelaskan kondisi kholid sebagai Sohibul Haal ketika melaksanakan sholat

Dalam AlQuran:

قوله تعالى : انفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ. التوبة ٤١

Lafafz خِفَافًا menjelaskan kondisi Sohibul Haal yaitu Dhomir أنتم ( Kalian) yang ada pada fi’il ‘amr انفِرُوا

Terjemah: Keluarlah kalian (wahai kaum Mukminin), untuk berjihad di jalan Allah, dalam kondisi sulit maupun mudah.

b. Hal Sababi ( Berfungsi menjelaskan kondisinsesuatu, dimana sesuatu itu masih berhubungan dengan Sohibul Haal.

قَام خالدٌ بالصلاة خَاشِعًا قَلْبُهُ

Kholid mendirikan sholat dalam kondisi hatinya khusuk.

Kata Khusuk adalah Haal yang menjelaskan kondisi hati Kholid. Sohibul Haal tetap Kholid, hanya saja yang dijelaskan oleh Haal yaitu kondisi sesuatu yang keberadaanya masih terkait dengan Sohibul Haal (kholid).

Dalam AlQuran:

قوله : خُشَّعًا أَبْصَٰرُهُمْ يَخْرُجُونَ مِنَ ٱلْأَجْدَاثِ كَأَنَّهُمْ جَرَادٌ مُّنتَشِرٌ. القمر ٧

Lafadz خُشَّعًا sebagai Haal yang menjelaskan kondisi pandangan Sohibul Hal yaitu Dhamir هم (mereka) pada Fi’il يَخْرُجُونَ

Terjemah: Kondisi pandangan mereka tertunduk, ketika mereka keluar dari kuburan, seakan-akan mereka belalang yang beterbangan.

5. Sohibul Haal

Siapa Sohibul Haal ?

Sohibul Haal (yang kondisinya dijelaskan/diperkuat) yaitu seseorang atau sesuatu, baik kedudukan dia sebagai Fa’il, Maf’ul Bih, Naibul Faail, Mubtada, Mudhof Ilaih dan lainya.

Perhatikan contoh-contoh berikut

– Contoh Fa’il menjadi Sohibul Haal:

جَاءَ خَالدٌ رَاكِبًا الخَيْلَ

Kholid datang dalam kondisi menunggang kuda.

خَالدٌ -»» صاحب الحال
رَاكِبًا -»» حال

Lafadz رَاكِبًا menjelaskan kondisi Kholid (Sohibul Haal) ketika dia datang. Dimana kedudukan خَالدٌ sebagai Fa’il.

– Contoh Maf’ul Bih menjadi Sohibul Haal:

رَأيْتُ الطِفْلَ بَاكِيًا

Aku melihat anak itu dalam kondisi menangis.

الطِفْلَ -»» صاحب الحال
بَاكِيًا -»» حال

Lafadz بَاكِيًا menjelaskan kondisi seorang anak (Sohibul Haal) ketika aku melihat dia. Dimana kedudukan الطِفْلَ sebagai Maf’ul Bih

– Contoh Fa’il dan Maf’ul sekaligus menjadi Sohibul Haal:

فَحَصَ الطَّبِيْبُ خَالدًا جَالِسَيْنِ

Dokter memeriksa Kholid dalam kondisi keduanya duduk.

الطَّبِيْبُ و خَالد -»» صاحب الحال
جَالِسَيْنِ -»» حال

Lafadz جَالِسَيْنِ menjelaskan kondisi dokter dan kholid (Keduanyan Sohibul Haal), ketika terjadi pemeriksaan. Dimana kedudukan خَالد sebagai Maf’ul Bih dan الطَّبِيْبُ sebagai Fa’il.

– Contoh Maf’ul Ma’ah menjadi Sohibul Haal:

ياخالدُ لاَ تَسِرْ و اللَّيْلَ مُظْلِمًا

Hai Kholid, janganlah kau berjalan beserta malam dalam kondisi gelap.

Lafadz مُظْلِمًا menjelaskan kondisi malam (Sohibul Haal) ketika terjadi larangan untuk berjalan. Dimana lafadz اللَّيْلَ sebagai Maf’ul Ma’ah.

– Contoh Dzhorof (Maf’ul Fih) menjadi Sohibul Haal:

سَارَ خَالدٌ اللَّيلَ مُظْلِمًا

Kholid berjalan dimalam dalam kondisi gelap.

Lafadz مُظْلِمًا menjelaskan kondisi malam (Sohibul Haal) ketika kholid berjalan. Dimana lafadz اللَّيلَ sebagai Maf’ul Fih (Dzhorof)

– Contoh Naibul Fa’il menjadi Sohibul Haal:

يُشربُ الماءُ سَاخِنًا

Air itu diminum dalam kondisi panas

Lafadz سَاخِنًا menjelaskan kondisi air (Sohibul Haal) ketika diminum. Dimana lafadz الماءُ sebagai Naibul Fa’il

– Contoh Mudhof Ilaih menjadi Sohibul Haal:

تَمَتَعْتُ بِجَمَالِ الحَدِيْقَةِ واسعةً

Aku senang dengan keindahan taman (dimana kondisi taman itu luas)

Lafadz واسعةً menjelaskan kondisi Taman (Sohibul Haal), dimana lafadz الحَدِيْقَةِ sebagai Mudhaf Ilaih.

Bagaimana jika واسعةً dijadikan Na’at (Sifat) ?

Boleh dengan syarat harus mengikuti ‘irab الحَدِيْقَةِ dari berbagai segi. Misalkan:

تَمَتَعْتُ بِجَمَالِ الحَدِيْقَةِ الوَاسِعَةِ

Nanti dibahas dibawah apa perbedaan Haal dan Na’at berikut contohnya.

Kesimpulan: Haal bisa menjelaskan kondisi siapa-pun tanpa memandang kedudukan ‘Irab Shibul Haal.

6. Apakah boleh Sohibul Haal Nakirah ?

Pada dasarnya Sohibul Hal itu harus Makrifat seperti pada Isim yang dijadikan contoh-contoh Sohibul Haal diatas, baik Makrifat sebab Isim ‘Alam, Isim Dhomir atau makrifat dengan bantuan Al Ta’rif maupun Idhofat. Namun terkadang juga Sohibul Haal berbentuk Nakirah.

Syarat jika Sohibul Haal Nakirah:

a. Jika Sohibul Haal Nakirah, dia harus diakhirkan dari pada Haal

جَاءَ بَاكِيًا رَجُلٌ

Seorang lelaki datang dalam kondisi menangis.

b. Jika Sohibul Haal Nakirah, dia harus didahului Nafyi, Nahyi atau Istifham

أَ رَجُلٌ جَاءَ بَاكِيًا
مَا جَاءَ رَجُلٌ بَاكِيًا
كيفَ جاء رجلٌ باكيًا؟

c. Jika Sohibul Haal Nakirah, dia harus disifati atau Idhofat

جَاءَ رَجُلٌ نَاجِحٌ مُبْتَهِجًا

Seorang lelaki sukses datang dalam kondisi senang.

d. Jika Sohibul Haal Nakirah, Bentuk Haal harus Jumlah

جَاءَ رَجُلٌ وَهُوَ يَبْكِى

Seorang lelaki datang dalam kondisi sedang menangis.

e. Jika Sohibul Haal Nakirah, Bentuk Haal harus Jaamid (Bukan Muystaq seperti Isim Fa’il dkk)

جَاءَ رَجُلٌ بُكَاءً

Point ini nanti diperluas pada pasal “Apakah Haal Bentuk Jaamid atau Musytaq”

7. Pembagian Haal

Pada semua contoh diatas, jika diperhatikan dengan baik, kata yang dijadikan Haal semuanya berbentuk Mufrad. Dibuat seperti itu untuk memudahkan pemahaman kita sebelum lebih mendalam lagi.

Sekarang Kita masuk ke pembagian bentuk Haal:

a. Haal Mufrod

Haal Mufrad adalah Haal yang bentuknya bukan berupa Jumlah atau Syibh Jumlah, dia terbatas dengan bentuk Tunggal, Mutsana dan Jamak.

Contoh:

جاء الطالبُ راكبًا
جاء الطالبَانِ رَاكِبَيْنِ
جَاءَ الطَّالبُونَ رَاكِبِيْنَ

راكبًا : حال منصوب وعلامة نصبه الفتحة
رَاكِبَيْنِ : حال منصوب وعلامة نصبه الياء لأنه مثنى
رَاكِبِيْنَ : حال منصوب وعلامة نصبه الياء لأنه جمع مذكر سالم

Ketiga Lafadz راكبًا/رَاكِبَيْنِ/رَاكِبِيْنَ adalah Haal bentuk Mufrad (Tunggal, Mutsana dan Jamak)

b. Haal Jumlah

Haal Jumlah adalah Haal yang bentuknya berupa Jumlah, baik Ismiyyah atau Fi’liyyah

– Contoh Haal Jumlah Ismiyyah:

جَاءَ خَالدٌ وَهُوَ يَبْكِي

Kholid datang dalam kondisi dia menangis

Lafadz وَهُوَ يَبْكِي adalah Jumlah Ismiyyah (Mubtada dan Khobar ), kedudukan jumlah tersebut sebagai Haal bagi Kholid

‘Irab lengkapnya seperti ini:

جاء خالد : فعل و فاعل
و : واو الحال حرف مبني على الفتح لا محل له
هو : مبتدأ
يبكي : خبر
جملة وهو يبكي : الجملة الاسمية من المبتدأ والخبر في محل نصب حال لخالد

Dalam AlQuran:

وَإِذْ وَاعَدْنَا مُوسَىٰ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً ثُمَّ اتَّخَذْتُمُ الْعِجْلَ مِن بَعْدِهِ وَأَنتُمْ ظَالِمُونَ

Terjemah: Dan (ingatlah), ketika Kami berjanji kepada Musa (memberikan Taurat, sesudah) empat puluh malam, lalu kamu menjadikan anak lembu (sembahan) sepeninggalnya dan kamu adalah orang-orang yang zalim. (Kalian berada dalam kondisi sebagai orang2 zalim)

وَأَنتُمْ ظَالِمُونَ : الجملة الاسمية من المبتدأ والخبر في محل نصب حال

– Contoh Haal Jumlah Fi’liyyah

رَأيْتُ خَالدًا يَضْرِبُ الطِفْلَ

Aku melihat Kholid dalam kondisi dia memukul seorang anak

Lafadz يَضْرِبُ الطِفْلَ adalah Jumlah Fi’liyyah (Fi’il’ Fa’il dan Maf’ul Bih ). Kedudukan Jumlah tersebut sebagai Haal bagi Kholid

‘Irab lengkapnya seperti ini:

رَأيْتُ خَالدًا : فعل, فاعل, مفعول به
يَضْرِبُ الطِفْلَ : فعل و فاعل
جملة يَضْرِبُ الطِفْلَ : الجملة الفعلية من الفعل الفاعل والمفعول به في محل نصب حال لخالد

Dalam AlQuran:

وَإِذْ نَجَّيْنَاكُم مِّنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ سُوءَ الْعَذَابِ يُذَبِّحُونَ أَبْنَاءَكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَاءَكُمْ ۚ وَفِي ذَٰلِكُم بَلَاءٌ مِّن رَّبِّكُمْ عَظِيمٌ. البقرة ٤٩

Jumlah يَسُومُونَكُمْ sebagai Haal bagi Fir’aun dan pengikutnya.

Terjemah: Dan (ingatlah) ketika Kami menyelamatkan kamu dari (Fir‘aun dan) pengikut-pengikut Fir‘aun. (Dalam kondisi) Mereka menimpakan siksaan yang sangat berat kepadamu. Mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu dan membiarkan hidup anak-anak perempuanmu. Dan pada yang demikian itu merupakan cobaan yang besar dari Tuhanmu.

يَسُومُونَكُمْ : الجملة الفعلية من فعل،فاعل ومفعول به في محل نصب حال

c. Hal Syibhul Jumlah

Haal Syibhul Jumlah adalah Haal yang bentuknya berupa Dzhorof atau Jar Majrur.

– Contoh Haal Dzhorof:

رأى خَالدٌ العَصْفُوْرَ فَوْقَ الشَّجَرَةِ

Kholid melihat burung ( burung tersebut terbukti kondisinya) berada diatas pohon. ( Terjemahnya agak sedikit detail seperti ini supaya mudah difahami), bahwa dalam susunan tersebut terdapat Khobar yang dibuang.

Lafadz فَوْقَ adalah Dzhorof yang menjadi Haal bagi lafadz العَصْفُوْرَ

‘Irab lengkapnya seperti ini:

رأى خَالدٌ العَصْفُوْرَ : فعل، فاعل، مفعول به
فَوْقَ : شبه جملة ظرف وهو مضاف
الشَّجَرَةِ : مضاف إليه
شبه جملة فَوْقَ الشَّجَرَةِ : على الظرفية في محل نصب حال لعصفور

– Contoh Haal Jar Majrur

Samakan saja cotohnya dengan Dzhorod hanya diganti dengan huruf Jar على

رأى خَالدٌ العَصْفُوْرَ عَلى الشَّجَرَةِ

Artinya sama seperti contoh Dzhorof, hanya beda dari segi ‘irab

رأى خَالدٌ العَصْفُوْرَ : فعل، فاعل، مفعول به
عَلى الشَّجَرَةِ : شبه جملة جار مجرور
شبه جملة عَلى الشَّجَرَةِ : جار و مجرور في محل نصب حال لعصفور

Sekilas perbedaan pendapat terkait Haal berbentuk Syibh Jumlah:

Pertama: Yang menjadi Haal adalah Dzhorof dan Jar Majrur itu sendiri.

Kedua: Yang menjadi Haal yaitu Lafadz yang dibuang, karena Syibhul Jumlah wajib memiliki keterkaitan kejadian.

Perkiraanya seperti ini:

رأى خَالدٌ العَصْفُوْرَ مُسْتَقِرًّا فَوْقَ/على الشَّجَرةِ

مُسْتَقِرًّا : حال منصوب ومخدوف وجوبًا

||| Perdalam materi Syibhul Jumlah disini

8. Apakah boleh Haal makrifat. ?

Pada dasarnya Haal harus Nakirah dan Manshub, karena jika Haal Makrifat, akan terjadi Iltibas (kesamaran) apakah dia sebagai Haal atau Na’at. Maka dari itu, pendapat Jumhur Ulama tidak memperbolehkan Hal Nakirah. Namun ada juga sebagian yang memperbolehkan meskipun hanya makrifat secara lafadz, sedangkan secara makna tetap Nakirah.

Contoh:

نَظَفَ خَالدٌ البيْتَ وَحْدَهُ

Kholid membersihkan rumah dalam kondisi dia seorang diri.

Lafadz وَحْدَهُ makrifat secara lafadz sebab idhofat kepada dhamir ه, namun secara makna tetap dianggap nakirah dengan cara perkiraanya dialihkan kedalam bentuk Nakirah yang semakna yaitu مُنْفَرِدًا

تأويل : نَظَفَ خَالدٌ البيْتَ مُنْفَرِدًا

Dalam AlQuran:

فَلَمَّا رَأَوْا بَأْسَنَا قَالُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَحْدَهُ وَكَفَرْنَا بِمَا كُنَّا بِهِ مُشْرِكِينَ. غافر ٨٤

وَحْدَهُ : حال منصوب

Terjemah: Maka tatkala mereka melihat azab Kami, mereka berkata: “Kami beriman hanya kepada Allah (dalam kondisi Allah itu hanya satu, tisak bersekutu) dan kami kafir kepada sembahan-sembahan yang telah kami persekutukan dengan Allah”.

Perluasan pendapat ini, lihat:

انظر: البيان، ج ٢, ص ٢٢١

9. Apakah bentuk Haal ( Muystaq atau Jaamid).

Pada kebanyakan kasus, bentuk Haal adalah Musytaq ( dibentuk dari Isim Fa’il, Isim Maf’ul, Sifat Musyabahah dan Syigh Mubalaghah). Namun ada juga yang bentuknya (Jaamid) dan kebanyakan ditemukan dalam Syair.

قال ابن مالك

وَكَـوْنـُهُ مُنْتَقِـلاً  مُشْتَقًّـا #  يَغْلِـبُ لَكِنْ لَيْسَ مُسْتَحَقـَّا # وَيَكْـثُرُ الْجُمُـودُ فى سِعْـرٍ وَفى # مُبْـدِى تـَأَوُّلٍ بِـلاَ تَكَلُّفِ # كَبِعْـهُ مُـدًّا  بِكَـذَا يَداً  بِيَـدْ # وَكَرَّ زَيْدٌ أَسَـداً أَىْ كَأَسَـدْ

– Contoh Haal bentuk Musytaq

جَاءَ خَالدٌ فَارِحًا
جَاءَ خَالدٌ مَسْرُوْرًا
جَاءَ خَالدٌ حَزِيْنًا

Contoh Haal bentuk Jaamid

يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا خُذُوا حِذْرَكُمْ فَانْفِرُوا ثُباتٍ أَوِ انْفِرُوا جَمِيعاً. النساء ٧١

Lafadz ثُباتٍ berkedudukan sebagai Haal yang bentuknya Jaamid (bukan Isim Fa’il dkk)

Haal berbentuk Jaamid dikategorikan menjadi dua bagian.

a. Harus dialihkan (ditaqdir) lafadznya kedalam bentuk Musytaq, ketika ditemukan dalam posisi sebagai berikut:

– Ketika Haal Jaamid menunjukan suatu harga

Contoh:

بِعْ الفواكهَ كَيْلَةً بِعِشْرِيْنَ روبيةً

Jualah buah-buahan ini 1 kg dengan 20 rupiah

Perkiraanya adalah dengan memposisikan kata (مُسَعَّراً) sebagai Haal

بِعْ الفواكهَ مُسَعَّراً لِكُلِّ كَيْلَةٍ بِعِشْرِيْنَ روبيةً

Jualah buah-buahan ini (dalam kondisi harga) untuk setiap 1 kg dengan uang 20 rupiah

– Ketika Haal Jaamid menjadi Musyabah Bih ( diserupakan )

Contoh:

كَرَّ خَالدٌ عَلَى العَدُوِّ أسَدًا

Perkiraanya adalah dengan memposisikan kata ( مُشَبِّهاً)

كَرَّ خَالدٌ عَلَى العَدُوِّ مُشَبِّهاً الأَسَدَ

Kholid menyerang musuh (dalam kondisi, dia) menyerupai singa

– Ketika Haal Jaamid berada dalam posisi Tartiib

Contoh:

دَخَلَ القومُ بَيْتَ خَالدٍ رَجُلاً رَجُلاً
دَخَلَ القومُ بَيْتَ خَالدٍ رجُلَيْنِ رجُلَيْنِ

Perkiraanya adalah dengan memposisikan kata مُرُتَّبًا / مُرَتَّبَيْن

دَخَلَ القومُ بَيْتَ خَالدٍ مُرُتَّبًا مُرُتَّبًا
دَخَلَ القومُ بَيْتَ خَالدٍ مُرَتَّبَيْن مُرَتَّبَيْن

Sekelompok orang masuk rumah kholid dalam kondisi (mereka) masuk satu orang – satu orang / dua orang- dua orang

– Ketika Haal Jaamid berupa Mashdar Sarih (asli)

Contoh:

رأيْتُ خَالدًا جَرْيًا / مَشْيًا / بُكَاءً

Perkiraanya yaitu dengan mengqiyaskan/mengalihkan bentuk mashdar tersebut kedalam bentuk Isim Musytaq, disini dicontohkan isim Fa’il.

رأيْتُ خَالدًا جَارِيًا / مَاشِيًا /بَاكِيًا

Dalam AlQuran:

إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَىٰ ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا ۖ وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا. النساء ١٠

Lafadz ظُلْمًا adalah Haal, maksudnya ظَالِمًا

b. Tidak dialihkan kedalam bentuk Musytaq (tetap dalam keadaan bentuk Jaamid) ketika ditemukan dalam posisi seperti berikut:

– Ketika Haal Jaamid disifati

Contoh:

إِنَّا أَنْزَلْناهُ قُرْآناً عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ. يوسف ٢

Lafadz قُرْآناً adalah Haal berbentuk Isim Jaamid yang disifati dengan عَرَبِيًّا jadi tidak ada pengalihan lafadz dengan bentuk Musytaq.

Terjemah: Sesungguhnya Kami menurunkan (Al-Qur`ān) dalam keadaan/kondisi berupa AlQuran Berbahasa Arab supaya kalian bisa memahami maknanya.

– Ketika Haal Jaamid menunjukan suatu bilangan

Contoh:

اُكْتُمِلَ العَمَلُ عَشْرِيْنَ يَوْمًا، وَتَمَّ عَدَدُ العَامِلِيْنَ فِيْهِ ثَلاَثِيْنَ عَامِلًا

Pekerjaan selesai 20 hari dengan jumlah pekerja 30 orang

Lafadz عشرين dan ثلاثين keduanya menunjukan ‘Adad (bilangan) yang kedudukanya sebagai Haal dan keduanya tidak diperkiraan kedalam bentuk Musytaq.

Masih banyak lagi yang belum tertulis, jika Antum ingin mengetahui lebih banyak, silahkan lihat:

النحو الوافى، ج٢, ص ٣٧٠
همع الهوامع، ج ٢، ص ٢٩٥
أوضح المسالك، ج ٢, ص ٣٠٠

10. Kesesuaian antara Haal dan Sohibul Haal

a. Untuk Haal Haqiqi

Haal Haqiqi dan Sohibul Haal harus sesuai dari segi Mufrad, Mutsana, Jamak, Mudzakar dan Muannats seperti yang berlaku pada Na’at.

Contoh:

جاءَ الطالبُ رَاكِبًا
جاءَ الطالبان رَاكِبَيْنِ
جاءَ الطالبُوْنَ رَاكِبِيْنَ
جاءَتْ الطالبَةُ رَاكِبَةً
جاءَتْ الطالبَتَانِ رَاكِبَتَيْنِ
جاءَتْ الطالبَاتُ رَاكِبَاتٍ

Kecuali dalam dalam beberapa keadaan berikut:

– Ketika Sohibul Haal berupa Jamak Ghoir Aqil. Keadaan seperti ini sudah tidak asing bagi Antum meski baru belajar B. Arab, bahwa 1 Jamak Ghoir Aqil = 1 Mufradah muannatsah.

Contoh:

قَرَأْتُ الكُتُبَ نَافِعَةً

Aku membaca kitab-kitab (dalam kondisi kitab tersebut bermanfaat)

Boleh juga menggunakan bentuk Jamak, seperti:

قَرَأْتُ الكُتُبَ نَافِعَاتٍ
قَرَأْتُ الكُتُبَ نَوَافِعَ

– Ketika Lafadz Haal berupa lafadz-lafadz yang penggunaan sama, baik untuk Mudzakar atau Muannats.

Contoh:

عَرَفْتُ المُؤْمِنَ صَبُوْرًا
عَرَفْتُ المُؤْمِنَةُ صَبُوْرًا

Lafadz صَبُوْرًا biasa lumrah digunakan untuk Muanats dan Mudzakar.

– Ketika Lafadz Haal berupa Fi’il Tafhdil yang tidak diidhofatkan atau tidak berAlif Lam

Contoh

رَأيتُ خَالِدًا أَتْقَى

Aku melihat kholid (dalam kondisi dia lebih bertaqwa)

– Ketika Lafadz Haal berupa Mashdar.

جَرَى الطالبُ سُرْعَةً
جَرَى الطالبَةُ سُرْعَةً
جَرَى الطالبان سُرْعَةً
جَرَى الطالبُوْنَ سُرْعَةً
جَرَى الطالبَاتُ سُرْعَةً

Boleh juga menyesuaikan, jika penggunaan Mashdar tersebut tidak asing dan banyak digunakan ketika dirubah kedalam bentuk Mutsana atau Jamak. Misalkan kata عَدْلٌ

رأيْتُ الوالي عدلًا
ِرأيْتُ الوَالِيَيْنِ عَدْلَيْن
رأيْتُ الولاة عُدُوْلًا

b. Untuk Haal Sababi

Untuk Haal Sababi hukumnya wajib sesuai dengan Isim Mafru yang terletak setelahnya dari segi Mudzakar, Muannats dan Mufrad saja, Adapun untuk bentuk Tastniyah dan Jamak tidak disesuaikan

Contoh:

قَامَ خَالدٌ بالصلاةِ خَاشِعًا قَلْبُهُ
قَامَ المُسْلِمُوْنَ بالصلاةِ خَاشِعَةً قُلُوْبُهُمْ

Perhatikan Lafadz Haal خَاشِعًا dan خَاشِعَةً keduanya menyesuaikan dengan قلب dan قلوب dari segi Mufrad, Mudzakar dan Muannats.

Lalu apa bedanya Haal dengan Na’at ?

Keadaan ‘Irab Haal selalu Manshub meskipun Sohibul Haal dalam keadaan Marfu. Dan pada lazimnya, Haal harus Nakirah. Adapun Na’at dia selalu mengikuti Man’utnya dari segi apapun (Rafa, Nashab, Jar, Nakirah, Makrifat, Mufrad, Mutsana, Jamak dll).

Perhatikan perbandingan Haal dan Na’at:

Contoh Haal:

جاءَ الطالبُ رَاكِبًا
جاءَ الطالبَانِ رَاكِبَيْنِ
جاءَ الطالبُوْنَ رَاكِبِيْنَ
جاءَ طالبٌ رَاكِبًا
جاءَ طالبَانِ رَاكِبَيْنِ
جاءَ طالبُوْنَ رَاكِبِيْنَ
رأيتُ الطالبَةَ رَاكِبَةً
رأيتُ الطالبَاتِ رَاكِبَاتٍ

Contoh Na’at:

جاءَ الطالبُ الرَاكِبُ
جاءَ الطالبَانِ الرَاكِبانِ
جاءَ الطالبُوْنَ الرَاكِبُوْنَ
جاءَ طالبٌ رَاكِبٌ
جاءَ طالبَانِ رَاكِبانِ
جاءَ طالبُوْنَ رَاكِبُوْنَ
رأيتُ الطالبَةَ الرَاكِبَةَ
رأيتُ الطالبَاتِ الرَاكِبَاتِ

Untuk materi Na’at dan Man’ut, Insya Allah akan kita bahas pada pasal khusus.

11. Apakah boleh Haal dibuang ?

Pada dasarnya Haal harus nampak dan disebut karena berfungsi menjelaskan Sohibul Haal atau yang terkait dengan Sohibul Haal.

a. Wajib nampak (tidak boleh dibuang) dalam keadaan berikut:

– Ketika Haal berada diposisi setelah إلا

مَا أَحَبَّ العَالِمُ إِلاَّ نَافِعًا بِعِلْمِهِ لِغَيْرِهِ

Seorang ulama tidaklah senang kecuali (dalam kondisi) memanfaatkan Ilmunya untuk orang lain.

– Ketika Haal tidak mungkin dibuang karna akan merusak makna kalimat keseluruhan, seperti yang sudah dibahas sekilas pada definisi Haal diatas.

Contoh dua ayat AlQuran berikut:

قوله : وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلاةِ قَامُوا كُسَالَى

قوله : وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لاعِبِينَ

Lafadz كُسَالَى dan لاعِبِينَ adalah Haal yang wajib ada dan tidak boleh dibuang karena merusak makna.

– Ketika Haal berada diposisi Jawaban untuk sebuah pertanyaan

Contoh:

قال أحمد : كَيْفَ جَاءَ خالِدٌ ؟
قال زيد : غَاضِبًا

Ahmad: Bagaimana kondisi kholid ketika datang ?

Zaid: Sambil marah

Lafadz غَاضِبًا wajib ada karna merupakan jawaban zaid untuk Ahmad. Kecuali Zaid bisu, tdk bisa menulis, tidak pandai isyarat. Yaa tak mungkin lah ditanya jika kondisinya seperti itu. 😀

b. Boleh dibuang

Haal boleh dibuang ketika terdapat indikasi bahwa Haal telah dibuang.

Contoh:

يَدْخُلُ خَالِدٌ بَيْتًا : السلام عليكم ورحمة الله

Lafadz السلام عليكم adalah petunjuk bahwa (Haal) telah dibuang, karena salam ini merupakan sesuatu yang diucapkan, berarti (Haal) yang dibuang adalah Lafadz قائلا

تقدير : يَدْخُلُ خَالِدٌ بَيْتًا قائلا : ” السلام عليكم ورحمة الله “.

Dalam AlQuran:

قوله تعالى : وَالْمَلائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ، سَلامٌ عَلَيْكُمْ

أي:قائلين: سلام عليكم

وقال تعالى: وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا

أي: قائلين ربنا تقبل منا

12 ‘Amil Haal

Haal ber’irab Manshub tidak dengan sendirinya, melainkan dinashabkan oleh ‘Amil-‘Amil.

Siapa mereka ?

1. ‘Amil Haqiqi:

a. Fi’il (Madhi, Mudhari’ dan ‘Amr)

عُدْ إلى البيتِ راكِبًا / جاء راكِبًا / سَيَجِيءُ راكِبًا

Semua Lafadz راكِبًا sebagai Haal yang dinashabkan oleh ketiga Fi’il diatas.

عُدْ / جاء / سَيَجِيءُ : عامل
أنت / هو / هو : صاحب الحال
راكِبًا : حال

b. Isim Musytaq ( Isim Fa’il, Isim Maf’ul, Sifat Musyabahah, Shigh Mubalaghah)

خَالِدٌ مُسَافِرٌ مَاشِيًا

مُسَافِرٌ : عامل
خَالِدٌ : صاحب الحال
مَاشِيًا : حال

خالدٌ مَضْرُوْبٌ بَاكِيًا

مَضْرُوْبٌ : عامل
خَالِدٌ : صاحب الحال
بَاكِيًا : حال

2. ‘Amil Maknawi:

a. Isim Isyarah

هَذَا كِتَابُكَ نَافِعًا

Ini kitabmu (kondisinya bermanfaat)

تقدير : أشير
هَذَا : عامل
كتاب : صاحب الحال
نَافِعًا : حال

b. Isim Istifham

كَيْفَ أنْتَ رَاكِبًا السيارةَ مَن سُوربايا إلى جاكرتا ؟

Bagaimana kau (dalam kondisi)naik mobil dari surabaya ke Jakarta ?

تقدير : أتساءل
كَيْفَ : عامل
أنْتَ : صاحب الحال
رَاكِبًا : حال

c. Perangkat Tamaanni

لَيْتَكَ مُسْتَقِيْمًا

Semoga kau dalam kondisi Istiqomah

تقدير : أتمنّى
لَيْتَ : عامل
ك : صاحب الحال
مُسْتَقِيْمًا : حال

d. Isim Fi’il ‘Amr

صَهْ جَالِسًا

Diam kau sambil (dalam kondisi) duduk.

تقدير : اُسْكُتْ
صَهْ : عامل
أنت : صاحب الحال
جَالِسًا : حال

Perluasan,l lihat:

النحو الوافى، ج ٢, ص ٣٨٢ و ج١,ص٣٦٢

13. Apakah boleh posisi Haal diawalkan atau diakhirkan dari Sohibul Haal ?

a. Wajib diakhirkan

– Haal wajib diakhirkan jika Haal dibatasi dengan Huruf إِلّا (pengecualian)

وَمَا نُرْسِلُ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ. الكهف ٥٦

Terjemah: Dan tidaklah kami mengutus para rasul kami, melainkan dalam keadaan sebagai pemberi kabar gembira (untuk orang-orang yang taat kepada kami dengan kenikmatan yang abadi) dan sebagai pemberi peringatan keras (terhadap orang-orang yang berbuat maksiat dengan siksaan yang pedih).

مُبَشِّرِينَ : حال منصوب وعلامته الياء لأنه جمع مذكر سالم

– Haal wajib diakhirkan jika Sohibul Hal dalam keadaan Majrur dengan Idhofat (Menjadi Mudhaf Ilaih)

أَعْجَبَنِي شَكْلُ القَمَرِ وَاضِحًا

Bentuk bulan ( dalam kondisi jelas) telah membuatku kagum

lafadz القَمَرِ Majrur sebagai Mudhaf Ilaih, dia juga sebagai Sohibul Haal, maka lafadz وَاضِحًا sebagai Haal tidak boleh didahulukan dari Sohibul Haal.

– Haal wajib diakhirkan jika ‘Amilnya berupa Mashdar Sharih

مِنَ الخَيْرِ إِنْجَازُكَ العَمَلَ سَرِيْعًا

إِنْجَازُ : عامل
ك : صاحب الحال
سَرِيْعًا : حال

تقدير : مِنَ الخَيْرِ أن تُنْجِزَ العملَ سَرِيْعًا

– Haal wajib diakhirkan jika ‘Amilnya berupa ‘Amil Maknawi, seperti Isim Isyarah, Isim Istifham, Tamanna, Tasybih.

هٰذا كِتَابُكَ جَدِيْدًا

ini adalah kitabmu (dalam kondisi baru)

تقدير : أشير
هذا : عامل بمعنى أشير ( عامل معنوى)
كتاب : صاحب الحال
جديدا : حال

b. Wajib didahulukan

– Haal wajib didahulukan jika Sohibul Haal dibatasi dengan إلا

مَا فازَ نَاجِحًا إلا المجتَهِدُ

Tidak beruntung (dalam kondisi sebagai orang sukses) kecuali seorang yang rajin

Disini posisi Sohibil Haal yaitu المجتَهِدُ dibatasi dengan إلا ، maka Haal نَاجِحًا wajib didahulukan.

Lihat:

النحو الوافى،ج٢, ص ٣٨٠

c. Boleh keduanya (didahulukan / diakhirkan)

– Haal boleh didahulukan atau diakhirkan selain yang masuk kategori wajib diatas.

جاء خالدٌ مبتسمًا / جاء مبتسمًا خالدٌ

kholid datang sambil (dalam kondisi) tersenyum

14. Apakah boleh satu Sohibul Haal memiliki beberapa Haal ?

Boleh, dengan syarat maknanya tidak kontradiksi dan tidak memakai Wawu ‘Athaf

رأيتُ خَالدًا غَاضِبًا بَاكِيًا حَزِيْنًا

غَاضِبًا : حال منصوب
بَاكِيًا : حال منصوب
حَزِيْنًا : حال منصوب

Aku melihat kholid sambil (dalam kondisi) marah, menangis, sedih. Ketiga Haal ini menjelaskan keadaan Kholid diwaktu bersamaan.

Contoh tidak boleh karna maknanya kontradiksi seperti ini:

رأيتُ خَالدًا راكبًا مَاشِيًا

Mana yang betul, apakah sambil nunggang atau sambil berjalan.

Adapun jika dipisah dengan Wawu ‘Athaf, maka Isim Manshub yang kedua dan ketiga bukan sebagai Haal, melainkan Ma’tuf kepada Haal pertama.

رأيتُ خَالدًا راكبًا و بَاكِيًا و حَزِيْنًا

راكبًا : حال منصوب
و بَاكِيًا : معطوف
وحَزِيْنًا : معطوف

15. Apakah boleh satu Haal untuk beberapa Sohibul Haal ?

Boleh, jika terdapat petunjuk secara lafadz. Misalkan

قَابَلَ خالدٌ زَيْدًا جَالِسَيْنِ

Lafadz جَالِسَيْنِ Haal untuk dua Sohibul Haal (Kholid dan Zaid), petunjuk disini terlihat dari pada bentuk Lafadz Haal Mutsana (menunjukan 2 orang).

تقدير : قَابَلَ خالدٌ راكِبًا, زَيْدًا راكِبًا

Adapun jika tidak ada petunjuk sama sekali, menurut pendapat Jumhur tidak boleh. Misalkan:

قَابَلَ خالدٌ زَيْدًا جَالِسًا

Karna lafadz جَالِسًا hanya menunjukan satu orang, jadi akan sulit menentukan siapa yang duduk, kholid atau zaid. Meskipun menurut sebagian Ulama boleh saja dengan menjadikan Isim yang posisinya dekat dengan Haal sebagai Sohibul Hal. Pada contoh diatas yaitu زَيْدًا


Demikian Materi ‘Haal’ atas segala kekurangan silahkan merujuk kitab aslinya. Semoga bermanfaat.

Pertanyaan boleh dilontarkan dikolom komentar.

TMBA 15-09-2019
Zizo

Apakah postingan ini cukup membatu?

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

TMBA

Belajar Bahasa Arab tidak semudah membalikan telapak tangan, butuh keseriusan dan istiqomah. Namun tidak ada kata terlambat jika kita ingin ingin mempelajarinya.

One thought on “Mengenal Haal (حال) dan Sohibul Haal (صاحب الحال)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Percakapan [Bahasa Arab] Mencari Apartemen

Sun Sep 15 , 2019
Hiwar lanjutan hal: 51, 58, 65 & 75 Buku Ta’bir Silsilah Ta’lim Al- Lughah Al-Arabiyyah Mustawa Dua عَبْدُ اللَّهِ يُرِيْدُ سَكَنًا Abdullah Mencari Apartemen Abdullah: “Assalamu’alaikum”. Utsman: “Wa’alaikumsalam Warahmatullah”. Dimana kau Abdullah ?, kau terlambat mengunjungi kita dan aku tidak melihat kau sejak lama ? Abdullah: “Maaf, hari-hari ini aku […]

TMBA (Tips Mahir Berbahasa Arab)

TMBA adalah website edukasi untuk mahir berbahasa arab dengan cepat. Materi dikemas dengan sajian konversasi dan interaksi sesama anggota melalui group whatsapp dan facebook. Kajian Grammer Nahwu & Sharaf, latihan membaca, menulis, mendengar dan latihan terjemah. Selengkapnya

Share digroup kesayangan Anda

Berlangganan Artikel TMBA Via Email

Masukan email address untuk menerima artikel terbaru dari situs TMBA (Tips Mahir Berbahasa Arab)

Join 27 other subscribers

error: Content is protected !!