Maf’ul Ma’ah (المفعول معه), Hukum ‘Irab dan Ketentuanya

Must Read

Maf’ul Ma’ah (المفعول معه), Hukum ‘Irab dan Ketentuanya

Bismillahirahmanirahim. In Syaa allah kita akan membahas materi maf'ul ma'ah beserta ketentuan dan kaidah 'irabnya. Perhatikan paragraf berikut: خَرَجَ خَالِدٌ وَطُلُوْعَ...

Macam-Macam Maa (ما), fungsi dan ‘Irabnya

Ada berapa banyak jumlah Maa (ما) dalam bahasa arab dan bagaimana cara penggunaanya dalam kalimat ?. Kira-kira seperti itu...

Mengenal Uslub Qasam (أُسْلُوْبُ القَسَمِ)

Materi uslub qasam (sumpah) yang akan kita bahas meliputi pengertian uslub qasam secara bahasa, istilah, rukun, jumlah (kalimat) qasam,...
TMBAhttps://bahasa-arab.com/
Belajar Bahasa Arab tidak semudah membalikan telapak tangan, butuh keseriusan dan istiqomah. Namun tidak ada kata terlambat jika kita ingin ingin mempelajarinya.

5
(12)

Bismillahirahmanirahim. In Syaa allah kita akan membahas materi maf’ul ma’ah beserta ketentuan dan kaidah ‘irabnya.

Perhatikan paragraf berikut:

خَرَجَ خَالِدٌ وَطُلُوْعَ الشَّمْسِ مِنْ بَيْتِهِ في السَّاعَةِ الخَامِسَةِ فَجْرًا للذهاب إلى عَمَلِهِ. وَ رَجَعَ خَالِدٌ وَغُرُوَبَ الشَّمْسِ في السَّاعَةِ السادسةِ مَسَاءً. هَكَذَا قَضَي أَيَّامَهُ كُلَّ يَوْمٍ إلا يوم الأحد

ذَاتَ صباحٍ قَرَّرَ خَالِدٌ أَنْ يغادرَ القَريةَ بَحْثًا عَنْ عَمَلٍ أَكثر رَبْحًا، فرأى ابنَهُ مازال نَائمًا وَلُعْبَتَهُ. ثُمَّ جلس خالدٌ على الكرسي مُنْتَظِرًا حتى يستيقظَ ابنُهُ من النَّومِ

Terjemah: Khalid keluar rumah bersamaan dengan terbitnya matahari pada pukul 5 pagi untuk bekerja. Dia pulang bersamaan dengan terbenamnya matahari pada pukul 6 sore. Begitulah Khalid menghabiskan hari-harinya kecuali hari minggu.

Suatu pagi Khalid memutuskan meninggalkan kampung halaman untuk mencari pekerjaan yang lebih menguntungkan. Dia melihat anaknya masih tidur bersama dengan mainanya. Khalid pun duduk di kursi sambil menunggu anaknya bangun tidur.

Apabila kita perhatikan dari kedua paragraf diatas, terdapat kata-kata seperti وَطُلُوْعَ الشَّمْسِ / وغُرُوَبَ الشَّمْسِ /  وَلُعْبَتَهُ yang ketiganya ber’irab manshub dan diawali dengan huruf wawu. Ini yang disebut dengan maf’ul ma’ah.

قال ابن مالك
يُنْصَبُ تَالِي الَوَاوِ مَفْعُولاً مَعَهْ # فِي نَحْوِ سِيْرِي وَالْطَّرِيْقَ مُسْرِعَهْ

“Nashabkan kalimat yang setelah wawu sebagai maf’ul ma’ah seperti contoh siri wat thoriqa musri’ah (Berjalanlah bersama jalan dengan cepat)”.

Pengertian Maf’ul Ma’ah (تعريف مفعول معه)

Dari banyaknya definisi Ulama Nahwu terkait maf’ul ma’ah, akan kita ambil satu ta’rif menurut Abbas Hasan dalam kitabnya An-Nahwu Al-Wafi, 2/305.

إنه اسم مفرد، فضله، قبله واو بمعنى مع مسبوقة بجملة فيها فعل أو ما يشبهه في العمل، وتلك الواو تدل نصا على اقتران الاسم الذي بعدها باسم آخر قبلها في زمان حصول الحدث

Maf’ul Ma’ah adalah isim mufrad, fadlah yang didahului huruf wawu bermakna مَعَ (bersama/beserta), dan didahului kalimat yang di dalamnya terdapat fi’il atau yang serupa dengan fi’il dalam beramal. Wawu ini menunjukan adanya kebersamaan antara isim sebelum dan sesudahnya dari sisi waktu terjadinya peristiwa.

Penjelasan Ta’rif dan Syarat Maf’ul Ma’ah (شرح التعريف وشروطه)

Dari ta’rif diatas, terdapat beberapa point yang menjadi syarat agar isim yang terletak setelah huruf wawu tersebut bisa di’irab manshub sebagai maf’ul ma’ah.

Syarat pertama: Maf’ul ma’ah mesti berupa isim mufrad (bukan fi’il ataupun jumlah fi’liyyah dan ismiyyah). Contoh

سِرْتُ وَطُلُوْعَ الشَمْسِ / جَاءَ خَالِدٌ وَالأَصْدِقَاءَ

Aku berjalan bersamaan dengan terbitnya matahari / Khalid datang beserta kawan-kawan.

Kata طُلُوْعَ dan الأَصْدِقَاءَ keduanya isim mufrad dan berhak di’irab manshub sebagai maf’ul ma’ah. Artinya, apabila setelah huruf wawu bukan berupa isim mufrad, maka dia tidak di’irab maf’ul ma’ah seperti contoh berikut.

سِرْتُ وَالشَّمْسُ طَالِعَةٌ

Aku berjalan (dalam keadaan) matahari terbit).

Jumlah/kalimat الشَّمْسُ طَالِعَةٌ adalah susunan jumlah ismiyyah yang di’irab sebagai Hal Jumlah.

Pertanyaanya, apabila الشَّمْسُ طَالِعَةٌ di’irab sebagai hal jumlah, lalu siapa yang menjadi sahibul hal ? Pertanyaan ini akan dijawab pada penjelasan dibawah yang berhubungan dengan pendapat sebagian Ulama Nahwu terkait bahwa maf’ul ma’ah boleh berupa jumlah.

Lihat referensi:

رأي ابن هشام في حاشية الصبان، ج٢ ، ص١٩٣
ابن هشام، شرح شذور الذهب، ص ٢٣٨-٢٤٠

Syarat kedua: Wawu yang mendahului isim mufrad yang di’irab maf’ul ma’ah mesti mengandung arti مَعَ (beserta).

Demikian juga, apabila yang mendahului isim mufrad tersebut bukan huruf wawu, meskipun mengandung arti beserta/bersama, dia tidak di’irab maf’ul ma’ah seperti contoh berikut.

جاءَ خالدٌ مَعَ زَيْدٍ / اشْتَرَيْتُ الدَارَ بِأَثَاثِهَا

Khalid datang bersama zaid / aku membeli rumah beserta (dengan) perkakasnya.

Lihat referensi:

ابن مالك، شرح عمدة الحافظ وعدة اللافظ، ص ٢٩٠

Syarat ketiga: Isim yang di’irab maf’ul ma’ah mesti fadhlah (bukan pokok) dalam suatu kalimat. Artinya, suatu kalimat akan tetap berfaidah sempurna meskipun maf’ul ma’ah dibuang. Contoh

سِرْتُ وَطُلُوْعَ الشَمْسِ -» سِرْتُ
جَاءَ خَالِدٌ وَالأَصْدِقَاءَ -» جَاءَ خَالِدٌ

Kalimat aku berjalan dan Khalid datang, keduanya tetap sempurna dan bisa dimengerti meskipun maf’ul ma’ah dibuang. Maka sebabnya, maf’ul ma’ah pada ta’rif diatas disebut dengan fadhlah bukan ‘umdah, sebab apabila ‘umdah (pokok/inti) maka ketika dia dibuang akan mengacaukan makna kalimat, misalkan.

اشۡتَرَكَ خَالدٌ وَزَيْدٌ -» اشۡتَرَكَ خَالدٌ

Khalid dan Zaid bermusyarakah (kerjasama). Ketika kata زَيْدٌ dibuang, tentu menjadi kalimat tidak sempurna sebab Zaid termasuk bagian dari pihak inti. kerjasama tidak akan terjalin kecuali antara dua pihak

Lihat referensi:

ابن هشام، قطر الندى، ص ٢٣١
ابن مالك، شرح الكافية الشافية، ص ٦٨٧

Syarat keempat: Kalimat sebelum maf’ul ma’ah mesti kalimat sempurna, baik terdiri dari fi’il atau yang serupa dengan fi’il dari segi makna, huruf dan fungsinya, seperti isim fa’il. Contoh

سِرْتُ وَطُلُوْعَ الشَمْسِ / أنا سَائِرٌ وَطُلُوْعَ الشَمْسِ

Artinya, fi’il dan isim fa’il dianggap berfungsi dalam menashabkan maf’ul ma’ah sebab keduanya memiliki arti, huruf dan fungsi yang sama. Berbeda dengan contoh berikut

هَذَا كتابٌ وَ هٰذه سيّارةٌ
كُلُّ مُدَرِّسٍ وَ طُلاَبُهُ

Sebab kalimat sebelum هٰذه سيّارةٌ dan طُلاَبُهُ bukan berupa fi’il atau yang semisal fi’il, maka keduanya tidak di’irab maf’ul ma’ah. Lafadz هَذَا adalah isim isyarah yang bisa dikatakan semakna dengan fi’il yang berarti أشير namun huruf dan fungsinya berbeda. Begitu juga dengan كُلُّ yang sama sekali tidak terdapat fi’il yang semakna dan sehuruf denganya.

Lihat referensi:

ابن هشام، أوضح المسالك، ج٢, ص ٢١٠

Syarat kelima: Isim yang di’irab maf’ul ma’ah mesti berada dalam satu pristiwa/pekerjaan dan satu waktu dengan orang yang ditemaninya. Contoh

جَاءَ خَالِدٌ وَ زَيْدًا

Khalid telah datang bersamaan dengan Zaid. Artinya, khalid dan Zaid datang secara bersamaan dalam satu waktu. Berbeda apabila kata Zaid dirafa’kan dan dianggap ma’tuf seperti

جَاءَ خَالِدٌ وَ زَيْدٌ

Khalid dan Zaid telah datang. Artinya, khalid dan zaid datang namun tidak berarti bersamaan. Bisa berbeda waktu meskipun beberapa detik. Lihat perluasan pada kaidah ‘athaf dan ma’tuf

Lihat referensi:

الأستراباذى، شرح كافية ابن الحاجب، ج٢, ص٣٦

Amil Maf’ul Ma’ah (عامل ناصب مفعول معه)

Sebagaimana maf’ul-maf’ul lainya seperti maf’ul bih, maf’ul liajlih, maf’ul mutlaq dan maf’ul fih, nashabnya maf’ul ma’ah tidak terlepas dari amil-amil yang menashabkan dia.

Dalam hal ini, Ulama Nahwu berbeda pendapat terkait amil-amil yang menashabkan maf’ul ma’ah.

Pendapat pertama: Madzhab Imam Sibawaih (mayoritas Ulama Basrah)

Amil yang menashabkan maf’ul ma’ah yaitu fi’il atau yang serupa dengan fi’il melalui perantara huruf wawu”. Mereka beralasan bahwa fi’il ini meskipun bukan muta’adi, namun dengan perantara huruf wawu dia bisa menashabkan maf’ul ma’ah seperti memuta’adikan fi’il-fi’il lazim dengan perantara huruf hamzah pada خَرَجَ menjadi أخْرَجَ (keluar -> mengeluarkan) atau seperti dengan perantara huruf jar pada خَرَجَ menjadi خَرَجَ بِهِ (keluar denganya) atau seperti dengan menggandakan huruf tengah pada خَرَجَ menjadi خَرَّجَ

Lihat referensi:

الأستراباذى، شرح كافية ابن الحاجب، ج٢, ٣٧
سيبويه، الكتاب، ج١, ص ٢٩٧
عبد القاهر الجرجانى، كتاب المقتصد في شرح الإيضاح، ج١, ص ٦٥٩

Pendapat diatas diamini beberapa Ulama Nahwu seperti Ar- Radhi dalam kitabnya ‘syarh al-kafiyah, As-Suyuthi dalam kitab ‘ham’ul hawami’. Begitu juga dengan Imam Ibnu Malik dalam alfiyahnya.

قال ابن مالك
بِمَا مِنَ الْفِعْلِ وَشِبْهِهِ سَبَقْ ذَا # الْنَّصْبُ لاَ بِالْوَاوِ فِي الْقَوْلِ الأحقّ

“Amil yang menashabkan maf’ul ma’ah itu dari fi’il atau syibhul fi’il, tidak dengan wawu menurut pendapat yang terbenar (jumhur)”.

Lihat referensi:

الرضي، شرح الكافية ابن الحاجب، ج٢, ص٣٧
السيوطي، همع الهوامع، ج٢, ١٧٦

Diatas disebutkan bahwa amil yang menashabkan maf’ul ma’ah yaitu fi’il atau syibhul fi’il (yang serupa dengan fi’il). Lalu apa saja yang termasuk syibhul fi’il ?

a. Isim Fa’il, seperti

خَالدٌ سَائِرٌ وَطُلُوْعَ الشَّمْسِ

Khalid berjalan bersamaan dengan terbitnya matahari

b. Isim Maf’ul, seperti

خَالِدٌ مُكْرَمٌ وَأَخَاهُ

Khalid dihormati bersama saudaranya

c. Mashdar, seperti

سَيْرُكَ وَطُلُوْعَ الشَّمْسِ فِي الصَّبَاحِ مُفِيْدٌ لِلجِسْمِ

Perjalananmu bersamaan dengan terbitnya matahari di waktu pagi, bermanfaat untuk tubuh

d. Isim Fi’il, seperti

رُوَيْدَكَ وَالمَرِيْضَ

Mesti lemah lembut bersama orang sakit

Adapun untuk sifat musyabahah dan isim tafdhil, keduanya tidak menjadi amil yang menashabkan maf’ul ma’ah sebagaimana tidak menjadi amil dalam menashabkan maf’ul bih.

Lihat referensi:

حاشية الصبان، ج٢, ص ١٩٦
حاشية الخضري، ج١, ص٢٩٦

Dalam kalam arab (sima’i) terdapat isim yang dinashabkan dan dijadikan maf’ul ma’ah, sedangkan secara dzahir tidak didahului dengan ‘amil-amil seperti diatas. Yakni ketika isim tersebut terletak setelah isim ma (ما) dan kaifa (كيف) istifhamiyyah. Namun kejadian seperti ini jarang ditemukan dan kebanyakan mereka merafa’kanya. Contoh

مَا أَنْتَ وَخَالِدًا / كَيْفَ أَنْتَ وَخَالِدًا

Apa kau bersama khalid ? / Bagaimana kau bersama dengan Khalid ?

Terkait masalah ini, ibnu malik berkata “Terdapat fi’il yang tersembunyi dan diperkirakan yaitu fi’il naqis kana (كان). Lengkapnya

مَا كُنْتَ أَنْتَ وَخَالِدًا / كَيْفَ كُنْتَ أَنْتَ وَخَالِدًا

قال ابن مالك
وَبَعْدَ مَا اسْتِفْهَامٍ أوْ كَيْفَ نَصَبْ # بِفِعْلِ كَوْنٍ مُضْمَرٍ بَعْضُ الْعَرَبْ

“Setelah ma istifham atau kaifa sebagian orang arab menashabkan dengan fiilnya masdar kaun yang tersimpan”.

Pendapat kedua: Menurut Imam Al-Akhfasy al-Ausath

“Nashabnya maf’ul ma’ah sebab dia menempati posisi dzharaf kata مع yang posisinya diganti oleh wawu. Seperti قُمْتُ وَخَالِدًا yang asalnya adalah قُمْتُ مَعَ خَالِدٍ . Setelah wawu berada di tempat مع, wawu ini tidak tidak memiliki mahal ‘irab sebab dia huruf. Dengan demikian mahal ‘irab nashabnya diambil alih oleh isim yang terletak setelah wawu. Pada contoh diatas yaitu Zaid. Maka jadilah si Zaid ini berada di tempat nashab sebagai maf’ul ma’ah. Namun nashabnya dia bukan dengan amil fi’il melalui perantara wawu seperti pendapat jumhur, melainkan sebab menempati posisi dzharaf kata مع

Lihat referensi:

الأنبارى، الإنصاف في مسائل الخلاف، ج١, ص٢٤٩
شرح المفصل لابن يعيش ج١,ص٤٤٠

Pendapat ketiga: Menurut Imam Az-Zajjaji

“Nashabnya maf’ul ma’ah dengan fi’il tersembunyi yang terletak setelah wawu”. Seperti kalimat اسْتَوَى المَاءُ وَالخَشْبَةَ yang asalnya اسْتَوَى المَاءُ وَ لاَبَسَ الخشبةَ dengan alasan bahwa استوى adalah fi’il lazim dan huruf wawu tidak bisa menjadi perantara untuk menjadikanya muta’addi. Dengan memperkirakan fi’il yang dibuang yaitu لاَبَسَ, maka isim setelahnya bisa manshub.

Pendapat ini ditolak dan dianggap lemah oleh Mayoritas Ulama sebab dalam hal ini tidak ada alasan untuk menyembunyi fi’il. Jikalau memang perkiraanya seperti itu, maka الخشبةَ lebih berhak di’irab maf’ul bih.

Lihat referensi:

الأنبارى، أسرار العربية، ١٠٨

Pendapat keempat: Menurut Al-Hasan Al-Jurjani

“Maf’ul Ma’ah manshub oleh huruf wawu dengan syarat wawu tersebut didahului oleh fi’il sebab secara dzat wawu tidak beramal kecuali menjadi perantara untuk fi’il sebelumnya”. Pendapat ini dilemahkan Jumhur sebab huruf wawu dalam hal ini sama sekali tidak beramal baik menyendiri maupun dikaitkan dengan fi’il. Kecuali huruf-huruf jar yang beramal menjarkan kata setelahnya seperti wawu qasam.

Lihat referensi:

شرح الأشمونى، ج١, ص٤٩٢
عبد القاهر الجرجانى، الجمل ٧٦-٧٧

Hukum Isim yang terletak setelah wawu (حالات الاسم الواقع بعد الواو)

Isim yang terletak setelah wawu memiliki lima hukum ‘irab yaitu

Pertama: Wajib dinashabkan sebagai maf’ul ma’ah dan huruf wawu disebut dengan ma’iyyah dengan syarat sebagai berikut.

Apabila yang mendahui huruf wawu berupa jumlah fi’liyyah atau ismiyyah dan makna dari kalimat secara keseluruhan harus benar-benar memberikan pemahaman bahwa huruf wawu tersebut adalah wawu ma’iyyah bukan wawu ‘athaf. Contoh

مَاتَ خَالدٌ وَطُلُوْعَ الشَّمْسِ / خَالدٌ مَائِتٌ وَطُلُوْعَ الشَّمْسِ

Wawu pada kalimat وَطُلُوْعَ الشَّمْسِ sudah pasti wawu ma’iyyah dan طُلُوْعَ الشَّمْس maf’ul ma’ah sebab sudah memenuhi syarat diatas. Yakni didahului jumlah, dan secara makna kalimat keseluruhan sejalan dengan yang dimaksud.

Khalid meninggal bersamaan dengan terbitnya matahari. Artinya, hanya Khalid yang meninggal. Berbeda apabila merfa’kan kalimat طُلُوْعُ الشَّمْس dengan menganggap wawu sebagai huruf ‘athaf lalu diartikan ‘khalid dan terbitnya matahari meninggal’. Tentu makna kalimat menjadi rusak sebab terbit matahari tidak ikut meninggal dengan khalid.

Lihat referensi:

ابن مالك، شرح الكافية والشافية، ص٦٩٣
السيوطى، همع الهوامع، ص١٢-١٨

Kedua: Lebih utama dinashabkan sebagai maf’ul ma’ah, meskipun boleh menjadi ‘athaf dalam beberapa keadaan berikut.

  • Ketika dijadikan sebagai ‘athaf dianggap lemah dari pada maf’ul ma’ah. Yakni, ketika meng’athafkan isim kepada dhamir rafa’ muttashil atau muqaddar (dhamir yang diperkirakan) tanpa adanya taukid atau sesuatu yang menjadi pemisah. Contoh

قُمْتُ وَزَيْدًا / اذْهَبْ وَزَيْدًا

Aku berdiri bersamaan dengan Zaid / pergilah bersama Zaid.

Kata zaid diatas lebih utama dinashabkan sebagai maf’ul ma’ah sebab jika dia dirafa’kan mengikuti dhamir yang menjadi fa’il pada fi’il قُمْتُ dan اذْهَبْ secara kaidah dinggap lemah. Kecuali apabila ditaukid atau dipisah terlebih dahulu misalkan.

قُمْتُ أنا وَزَيْدٌ / اذْهَبْ أنتَ وَزَيْدٌ

Dalam Al-Qur’an:

فَاذْهَبْ أَنتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلَا إِنَّا هَاهُنَا قَاعِدُونَ. المائدة ٢٤

…pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti disini saja”.

لَوْ شَآءَ ٱللَّهُ مَآ أَشْرَكْنَا وَلَآ ءَابَآؤُنَا. الأنعام ١٤٨

…Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami”.

Berkaitan dengan point ini, Ibnu Malik berkata:

والنّصْبُ إنْ لم يَجُزْ العَطْفُ يَجِبْ # أوِ اعْتَقِدْ إضْمَارَ عَامِلٍ تُصِبْ

“Apabila isim yang terletak setelah wawu tidak boleh diathafkan maka wajib dibaca nashab menjadi maf’ul ma’ah, atau dibaca nashab dengan amil yang tersembunyi”.

Lihat referensi:

ابن مالك، شرح الكافية الشافية، ص٣٩٦
السيوطى، همع الهوامع، ج١, ص٣٨٠
حاشية الخضرى، ج١, ص٢٩٨

  • Apabila dinashabkanya sebagai maf’ul ma’ah merupakan tujuan yang dimaksud oleh mutakallim (si pembicara). Contoh

لاَ تَأْكُلْ السَّمَكَ وَ اللَّبَنَ

Disini muttakallim bermaksud melarang ‘Jangan makan ikan secara bersamaan dengan susu’. Bukan jangan memakan ikan dan susu.

Ketiga: Wajib dijadikan sebagai ‘athaf dan tidak boleh nasbah sebagai maf’ul ma’ah dengan ketentuan.

  • Apabila yang mendahului huruf wawu berupa mufrad (bukan jumlah).

أَنْتَ وَ ابْنُكَ / كُلُّ الطُّلاَّبِ وَ الطَّالِبَاتِ

Tidak boleh menashabkan isim setelah wawu (ابنك dan الطالبات) sebagai maf’ul ma’ah sebab tidak adanya amil yang mendahuluinya. Ini menurut Jumhur Ulama.

  • Apabila kalimat diawali dengan fi’il yang mengandung arti musyarakah/kerjasama. Seperti

اشۡتَرَكَ خَالدٌ وَزَيْدٌ ✔️

Khalid dan Zaid bekerjasama

اشۡتَرَكَ خَالدٌ وَزَيْدًا ❌

  • Apabila dalam suatu kalimat terdapat qarinah (tanda) bahwa wawu tersebut adalah wawu ‘athaf. Seperti

جَاءَ خَالدٌ وَزَيْدٌ قَبْلَهُ / بَعْدَهُ

Kata قَبْلَهُ / بَعْدَهُ adalah pertanda bahwa khalid dan zaid datang tidak serentak. Artinya, terdapat jeda waktu kedatangan mereka berdua. Sedangkan wawu ma’iyyah tidak memiliki jeda waktu (Mesti datang secara bersamaan). Maka dengan demikian, mas zaid mesti di’athafkan (bukan maf’ul ma’ah).

Lihat referensi:

ابن هشام، أوضح المسالك، ج٢, ص٢١٤

Keempat: Lebih utama dijadikan ‘athaf dari maf’ul ma’ah. Seperti

جَاءَ خَالِدٌ وَ زَيْدٌ

Imam Malik berkata:

والعَطفُ إنْ يُمكِنُ بلا ضَعْفٍ أَحَقُّ # والنصبُ مُختَارٌ لَدى ضَعْفِ النَّسَقِ

“Mengathafkan isim yang terletak setelah wawu hukumnya lebih utama dari pada dijadikan maf’ul ma’ah apabila tidak ada kelemahan dari sisi lafadz atau makna. Dan membaca nashqb pada isim yang terletak setelah wawu (dengan menjadi maf’ul ma’ah ) itu hukumnya dipilih ketika lemah diathaf nasaqkan”

Format/Bentuk Gambaran Maf’ul Ma’ah (صور المفعول معه)

Pada syarat maf’ul ma’ah diatas telah disebutkan bahwa maf’ul ma’ah mesti berupa mufrad (bukan jumlah baik ismiyyah atau fi’liyyah).Ya, pendapat ini yang disepakati Jumhul Ulama. Namun, terdapat pendapat lain yang memperbolehkan format maf’ul ma’ah berupa fi’il ataupun jumlah.

  1. Maf’ul Ma’ah berupa Isim Mufrad

Untuk penjelasanya dan contohnya bisa dilihat kembali pemaparan diatas

  1. Maf’ul Ma’ah berupa Fi’il mudhari’

Sebagian Ulama menashabkan fi’il mudhari’ yang terletak setelah wawu dan di’irab maf’ul ma’ah dengan ketentuan wawu tersebut mengandung arti مع dan makna kalimat secara keseluruhan berada dalam satu waktu (kebersamaan).

Hal ini terjadi ketika wawu terletak setelah kata perintah, nahyi, istifham, nafyi, tamanny, syarat, jaza’, ‘ardh.

Contoh setelah perintah:

اذْهَبْ وَأَذْهَبَ إلى المدرسةِ

Pergilah kau bersamaan denganku pergi ke sekolah.

Contoh setelah nahyi:

وَلَا تَلْبِسُوا۟ ٱلْحَقَّ بِٱلْبَٰطِلِ وَتَكْتُمُوا۟ ٱلْحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ. البقرة ٤٢

Huruf wawu sebelum تَكْتُمُوا۟ bisa disebut ‘athaf dan تَكْتُمُوا۟ sendiri majzum sebab ma’tuf kepada تَلْبِسُوا۟. Bisa juga wawu ma’iyyah dan تَكْتُمُوا۟ manshub sebagai maf’ul ma’ah sebab adanya huruf أن yang tersembunyi sebelumnya. Ada juga Ulama yang berpendapat wawu hal.

Apabila diterjemahkan dengan 3 opsi diatas menjadi seperti ini.

Athaf: “Dan janganlah kalian campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui”.

Maf’ul Ma’ah: “Dan janganlah kalian campur adukkan yang hak dengan yang bathil beserta kalian sembunyikan kebenaran itu, sedang kalian mengetahuinya”.

Hal: “Dan janganlah kalian campur adukkan yang hak dengan yang bathil dalam keadaan kalian sembunyikan kebenaran itu, sedang kalian mengetahuinya”.

Contoh setelah istifham:

أَلَمْ أَكُ جَارَكُمْ وَيَكُوْنَ بَيْنِي وَبَيْنكُمْ المودّةُ والإخَاءُ

Contoh setelah tamanny:

فَقَالُوا۟ يَٰلَيْتَنَا نُرَدُّ وَلَا نُكَذِّبَ بِـَٔايَٰتِ رَبِّنَا وَنَكُونَ مِنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ

Mereka berkata: “Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) serta tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman”, (tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan).

Perhatikan ‘irab نُكَذِّبَ

وَلا نُكَذِّبَ : الواو واو المعية ، لا نافية ، نكذب مضارع منصوب بأن المضمرة بعد واو المعية ، والفاعل نحن

Namun demikian, Sebagian Ulama Nahwu menetapkan bahwa apabila fi’il mudhari’ terletak setelah wawu, dia memiliki 3 keadaan ‘irab.

  • Menashabkan fi’il mudhari’ dan dianggap maf’ul ma’ah seperti pada katentuan diatas. Contoh

لاَ تَغْضَبْ وَتَتْرَكَ خالدً

Jangan kau marah serta meninggalkan khalid.

  • Ittiba’ dalam arti wawu dianggap sebagai huruf ‘athaf dan fi’il mudhari’ mengikuti ‘irab fi’il mudhari’ sebelumnya baik untuk rafa’ dan jazm tergantung amil yang memasukinya. Contoh

لاَ تَغْضَبْ خالدًا وَتَضْرَبْهُ، أي لاَ تَغْضَبْ خالدًا وَلا تَضْرَبْهُ

Jangan memarahi khalid dan jangan memukulnya.

  • Merafa’kan fi’il mudhari’ dan menganggap wawu sebagai isti’naf (permulaan). Artinya, kalimat pertama dan kedua tidak berhubungan dalam hal ‘irab. Contoh

لَمْ تَزُرْنِي وَ أَكْرَمُكَ

Kau tidak mengunjungiku, aku menghormatimu.

3. Maf’ul Ma’ah berupa jumlah

Diantara Ulama Nahwu Qudama, mereka ada yang memperbolehkan maf’ul ma’ah berupa jumlah seperti contoh berikut.

جاء خالدٌ وَالشَّمْسُ طَالِعَةٌ

Mereka menjadikan Jumlah ismiyyah وَالشَّمْسُ طَالِعَةٌ sebagai maf’ul ma’ah, sedangkan menurut Jumhur yaitu jumlah hal. Mereka beralasan bahwa apabila kalimat tersebut dijadikan Jumlah hal, maka sama sekali tidak menjelaskan atau memperkuat keadaan Khalid sebagai sahibul hal. Ini pendapat “Shadrul Afadhil” muridnya Imam Zamahsyari.

Pendapat ini dibantah oleh Jumhur Ulama termasuk Ibnu Hisyam dalam kitabnya Al-Mughani Al-Labib. Beliau berkata: ” Kalimat وَالشَّمْسُ طَالِعَةٌ adalah jumlah Hal Sababi yang tidak menjelaskan langsung keadaan sahibul hal. Jadi kalimat lengkapnya setelah ditakwil seperti ini

جاء خالدٌ طَالِعَةُ الشَّمْسِ عِنْدَ مَجِيْئِهِ

Artinya, terbitnya matahari merupakan suatu keadaan ketika khalid datang. Ini yang dimaksud jumlah hal sababi menurut jumhur. Lihat pada materi Hal dan Sahibul Hal.

Lebih detail lihat referensi.

ابن هشام، مغني اللبيب، ٦٠٦
السيوطى، همع الهوامع، ج٢, ص١٧٩

Hukum Mendahulukan Maf’ul Ma’ah dari Amil dan Sahibnya (تقديم المفعول معه عن عامله وصاحبه)

Jumhur Ulama tidak memperbolehkan mendahulukan Maf’ul Ma’ah dari ‘amilnya seperti contoh berikut.

وَطُلُوعَ الشمسِ خَرَجَ خَالدٌ ❌

Dan tidak juga memperbolehkan mendahulukan Maf’ul Ma’ah dari sahibnya seperti contoh berikut.

خَرَجَ وَطُلُوعَ الشمسِ خَالدٌ ❌

Contoh Praktik Meng’irab Maf’ul Ma’ah (نماذج إعراب المفعوب معه)

استوى الماءُ والخشبةَ

استوى : فعل ماض مبني على الفتحة المقدرة على آخره ، منع من ظهورها التعذر
الماء : فاعل مرفوع بالضمة الظاهرة في آخره
والخشبة : الواو : واو المعية مبني على الفتح ، الخشبة : مفعول معه منصوب بالفتحة الظاهرة على آخره

خالدٌ سائرٌ وَطُلُوعَ الشمسِ

خالدٌ : مبتدأ مرفوع بالضمة الظاهرة في آخره
سائر : خبر ( اسم الفاعل ) مرفوع بالضمة الظاهرة في آخره
وَطُلُوعَ : الواو : واو المعية مبني على الفتح ، طُلُوعَ : مفعول معه منصوب بالفتحة الظاهرة على آخره وهو مضاف
الشمسِ : مضاف إليه مجرور

رُوَيْدَكَ وَالمريضَ

رُوَيْدَ : اسم فعل أمر مبني على الفتح
الكَاف : ضمير مبني على الفتح في محل جر مضاف إليه
الواو : واو المعية مبني على الفتح
المريضَ : مفعول معه منصوب بالفتحة الظاهرة على آخره

يسرُنِّي حضورُكَ وَخَالِدًا

يسرُنِّي : فعل مضارع مرفوع وعلامته الضمة
والنون للوقاية والياء ضمير متصل مبني في محل نصب مفعول به
حضورُ : فاعل مرفوع وعلامته الضمة وهو مضاف
الكَاف : مضاف إليه
الواو : واو المعية مبني على الفتح
خَالِدًا : مفعول معه بالفتحة الظاهرة على آخره

Latihan Soal

Dari contoh kalimat berikut ini, tentukan mana maf’ul bih, maf’ul mutlaq, maf’ul liajlih, maf’ul fih dan maf’ul ma’ah ?

ضربتُ ضربا خالدا بسوطٍ نهارا هنا تأديبًا وطلوع الشمس

Demikian pembahasan singkat materi maf’ul ma’ah, semoga bermanfaat. Atas segala kekurangan, silahkan merujuk kitab yang dijadikan referensi.

Catatan: Banyak sekali pendapat yang terkadang membingungkan, jadi sebaiknya ambil bagian pokok yang disepakati menurut mayoritas. Selabihnya untuh sekedar menambah pengetahuan.

Wallahu’alam.

تحريرا في ١٥ / ١٠ / ٢٠٢٠

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 12

No votes so far! Be the first to rate this post.

Recomended

Mengenal Kana dan Saudarinya كان وأخواتها

باب كان وأخواتها Sebelum mempelajari materi ini sebaiknya kenali terlebih dahulu materi tentang Mubtada & Khabar supaya pembahasanya menyambung dan lebih mudah difahami. Baik sekarang kita...

Kitab Silsilah Al-Arabiyyah Baina Yadaika [Full Download]

Kitab Silsilah Al-Arabiyyah Baina Yadaika termasuk salah satu buku panduan terbaik yang dirancang dengan metode sempurna untuk untuk non arabic. Buku ini memiliki empat level...

Kaidah Isytighal (الاشتغال)

Isytighal (الاشتغال) Pada kesempatan kali ini kita akan membahas materi Isytighal, rukun, syarat dan contoh 'irabnya. Perhatikan rumus berikut: Pola susunan normal dalam Bahasa Arab (جملة فعلية (فعل...

Kitab Syarh Qawa’idul ‘Irab [Ibnu Hisyam]

Satu lagi Kitab yang wajib Antum baca sebagai pecinta kaidah nahwu & sharaf yaitu kitab Qawa'idul 'Irab karya Ibnu Hisyam yang sudah disyarah oleh...

Tinggalkan Komentar

Latest News

Maf’ul Ma’ah (المفعول معه), Hukum ‘Irab dan Ketentuanya

Bismillahirahmanirahim. In Syaa allah kita akan membahas materi maf'ul ma'ah beserta ketentuan dan kaidah 'irabnya. Perhatikan paragraf berikut: خَرَجَ خَالِدٌ وَطُلُوْعَ...

Macam-Macam Maa (ما), fungsi dan ‘Irabnya

Ada berapa banyak jumlah Maa (ما) dalam bahasa arab dan bagaimana cara penggunaanya dalam kalimat ?. Kira-kira seperti itu...

Demi Uang Lima Perak

مِنْ أَجْلِ خَمْسَةِ قُرُوْشٍ Demi Uang Lima Qurs/Perak ذَاتَ يَوْمٍ ذَهَبَ جُحَا إِلَى البَقًَالِ لِشِرَاءِ بَعْضِ طَلَبَاتِ بَيْتِهِ، فَطَلَبَ البَقًَالُ مَبْلَغًا كَبِيْرًا ثَمَنًا لَهَا. قَالَ جُحَا...

Kaidah Isytighal (الاشتغال)

Isytighal (الاشتغال) Pada kesempatan kali ini kita akan membahas materi Isytighal, rukun, syarat dan contoh 'irabnya. Perhatikan rumus berikut: Pola susunan normal dalam Bahasa Arab (جملة فعلية (فعل...

Pesan Untuk Baginda Rasulullah S.A.W

Latihan terjemah ini hasil kesimpulan yang disampaikan melalui group Telegram TMBA. Semoga Ikhwah semua tetap semangat. Silahkan bergabung رِسَالَةٌ إِلى رَسُوْلِ اللَّهِ ﷺ Pesan untuk Baginda...

Uslub Kiasan/Kinayah ( أسلوب الكناية)

Dalam Bahasa Arab terdapat banyak Uslub (Gaya Bahasa) diantaranya: - أسلوب النفي / أسلوب الاستفهام / أسلوب الشرط / أسلوب النداء / أسلوب الكناية /أسلوب...

Sponsored Articles

More Articles Like This