Kaidah Ushlub Ististna dan Ketentuan ‘Irabnya (الاستثناء)

4.5
(4)

بسم الله الرحمن الرحيم

Sahabat TMBA yang dimulyakaan Allah S.W.T, semoga tetap semangat belajar Bahasa Arab.

Seperti yang sudah dijanjikan sebelumnya, pada kesempatan kali ini kita akan membahas kaidah ‘Ististna’ (الاستثناء), rukun dan hukum ‘irabnya.

ما هُوَ أُسْلُوْبُ الاِسْتِثْنَاء، وَمَا أَدَوَاتُهُ وَ أَنْوَاعُهُ وَحُكْمُ إِعْرَابِهِ ؟

Apa itu Ushlub Ististna, jenis dan perangkatnya berikut hukum ‘Irabnya ?

Perhatikan contoh-contoh berikut:

ذَهَبَ الطُّلاَّبُ إِلَى المَدْرَسَةِ إِلاَّ خَالِدًا
لَمْ يَحْضُرْ الطُّلاَّبُ إِلاَّ خَالِدٌ/خَالِدًا
جَلَسَ الطُّلاَّبُ عَلَى الكُرْسِي سِوَى خَالِدٍ
رَأَيْتُ الطلابَ فِى المَدْرَسَةِ غَيْرَ خَالِدٍ
رَجَعَ الطُّلاَّبُ إِلَى بُيُوْتِهِمْ عَدَا خَالِدًا/خَالِدٍ

Terjemah:

❄️ Para siswa pergi ke sekolah kecuali Kholid
❄️ Para siswa belum hadir kecuali Kholid
❄️ Para siswa duduk di atas kursi kecuali Kholid
❄️ Aku melihat para siswa di sekolah kecuali Kholid
❄️ Para siswa telah pulang ke rumahnya kecuali Kholid

Susunan seperti contoh-contoh di atas, yang di dalamnya terdapat lafadz ( إِلاَّ / غَيْرُ / سِوَى / عَدا ) dan saudarinya dinamakan dengan Ushlub Ististna.

I. Definisi & Rukun

إخراج ما يكون من الكلمة بواسطة أداة استثناء

Mengeluarkan sesuatu dari dalam kalimat dengan perantara alat pengecualian Illa dan saudarinya (إلاّ وَأخواتها)

Dalam Ushlub Ististna terdapat tiga istilah atau rukun yang terdiri dari Mustastna (مُسْتَثْنَى), Mustastna Minhu (مُسْتَثْنَى مِنْهُ) dan Perangkat Ististna ( أَدَوَات استثناء )

A. Mustastna (مُسْتَثْنَى)

مُسْتَثْنَى : هو اسم يذكر بعد ‘ إلا ‘ إو إحدى أخواتها يخالف ما قبلها في الحكم

Rukun pertama pada ushlub ististna adalah Mustastna yaitu isim yang posisinya terletak setelah perangkat Ististna yang status hukumnya dikecualikan.

B. Mustastna Minhu (مُسْتَثْنَى مِنْهُ)

المستثنى منه : هو الاسم الذي يمشي علي الحكم ويخرج منه المسثتنى

Mustastna Minhu adalah Isim yang sejalan dengan ketetapan hukum Ististna, dimana Mustastna merupakan bagian yang dikecualikan dari kelompok Mustastna Minhu

C. Adaawat Ististna ( أَدَوَات استثناء )

هي أَدَوَات لإخراج مُسْتَثْنَى مِن حكم مُسْتَثْنَى مِنْهُ مثل إلا، غير، خلا، سوى، عدا

Alat/perangkat yang berfungsi mengecualikan Mustastna terbagi kedalam empat jenis

a). Huruf (إلا)
b). Isim (غير و سوى)
c). Fi’il ( ليس , لا يكون)
d). Fi’il/Huruf ( عدا ، خلا ، حاشا) perbedaan pendapat

أدوات الاستثناء

Fungsi dan spesifiksi masing-masing akan diperluas dibawah.

Contoh:

ذَهَبَ الطُّلاَّبُ إِلَى المَدْرَسَةِ إِلاَّ خَالِدًا

❄️ Para siswa pergi ke sekolah kecuali Kholid

Para siswa: Mustastna Minhu
Kholid : Mustastna
Illa: Perangkat Ististna

II. Pola Kalimat Ististna

Pertama: Ististna Taam الاستثناء التام (Sempurna)

هو الاستثناء التام الذي يكون فيه المستثنى منه مذكوراً في الجملة أو يكون فيه أركان الثلاثة

Ististna Taam memiliki pola susunan kalimat sempurna. Artinya, rukun pada kalimat tersebut semuanya kumplit. Ada Mustastna Minhu, Mustastna dan Perangkat Ististna

Contoh:

ذَهَبَ الطُّلاَّبُ إِلَى المَدْرَسَةِ إِلاَّ خَالِدًا

الطُّلاَّبُ : مُسْتَثْنَى مِنْهُ
إِلاَّ : أداة استثناء
خَالِدًا : مُسْتَثْنَى


Kalimat “Ististna Taam” memiliki dua pola:

a). Taam Mujab تام موجب (Pola kalimat sempurna positif)

ما كانت جملته خالية من النفي وشبهه “وشبه النفي هنا: النهي؛ والاستفهام الذي يتضمن معنى النفي

Taam Mujib adalah pola kalimat sempurna yang tidak didahului perangkat Nafyi atau yang serupa seperti Nahyi seperti alat Istifham(bertanya) yang mengandung arti Nafyi.

Contoh:

ذَهَبَ الطُّلاَّبُ إِلَى المَدْرَسَةِ إِلاَّ خَالِدًا

Para siswa telah pergi ke sekolah kecuali Kholid

Contoh kalimat seperti ini disebut dengan kalimat Taam Mujib. Disebut Taam sebab ketiga rukunya sempurna dan disebut Mujib sebab tidak didahului perangkat Nafyi, Nahyi atau Istifham

b). Taam Manfi تام مَنْفِي (Pola kalimat sempurna negatif)

ما كانت جملته مشتملة على نفي أو شبهة

Taam Manfi adalah pola kalimat sempurna namun didahului perangkat Nafyi atau yang serupa seperti Nahyi dan Istifham yang mengandung arti Nafyi

Contoh:

مَا ذَهَبَ الطُّلاَّبُ إِلَى المَدْرَسَةِ إِلاَّ خَالِدًا

Para siswa tidak pergi ke sekolah kecuali Kholid

هَلْ تَأَخَّرَ الطُّلاَّبُ إِلاَّ خَالِدًا

Para siswa tidak terlambat kecuali kholid

Contoh kalimat seperti ini disebut dengan kalimat Taam Manfi. Disebut Taam sebab ketiga rukunya sempurna dan disebut Manfi sebab kalimatnya didahului perangkat Nafyi, Nahyi atau Istifham


Dari masing-masing Pola kalimat “Ististna Taam dan Manfi” terbagi menjadi dua jenis yaitu Muttashil dan Munqati’

a). Ististna Taam Muttashil استثناء تام متصل (Tersambung)

التام المتصل : وهو الذي يكون فيه المستثنى من جنس المستثنى منه

Disebut dengan Muttashil sebab Mustastna masih merupakan jenis/bagian dari Mustastna Minhu.

Contoh:

قَامَ التَّلاَمِيْذُ إِلاَّ خَالدًا

Para pelajar berdiri kecuali Kholid. (Kholid adalah bagian dari pelajar)

فَحَصَ الطَّبِيْبُ الجِسْمَ إِلاَّ اليَدَ

Seorang dokter memeriksa tubuh kecuali tangan. (Tangan adalah bagian dari tubuh)

Contoh kalimat seperti ini disebut dengan Istisna Taam Muttashil.

b). Ististna Taam Munqoti‘ استثناء تام منقطع (Terputus)

التام المنقطع :هو الذي يكون فيه المستثنى غير المستثنى منه , أي ليس من جنسه

Disebut dengan Taam Munqoti’ sebab Mustastna bukan merupakan jenis/bagian dari Mustastna Minhu.

Contoh:

اِحْتَرَقَ البَيْتُ إِلاَّ الكُتُبَ

Rumah itu terbakar kecuali buku-buku. (Buku bukan bagian dari stuktur rumah)

جَاءَ الضُّيُوْفُ إِلاَّ سَيَّارَاتِهِمْ

Para tamu telah datang kecuali mobil-mobil mereka. (Mobil bukan merupakan jenis yang sama dengan tamu)

Dalam AlQuran:

لا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْواً إِلَّا سَلامًا. سورة مريم ٦٢

Mereka tidak mendengar perkataan yang tak berguna di dalam surga, kecuali ucapan salam ( salam/keselamatan bukan bagian dari pada hal yang tidak berguna)

فَسَجَدَ الْمَلآئِكَةُ كُلُّهُمْ أَجْمَعُونَ إِلاَّ إِبْلِيسَ. سورة الحجر ٣٠

Lalu seluruh malaikat-malaikat itu bersujud semuanya kecuali iblis (Iblis bukan jenis atau bagian dari malaikat), maka dari itu disebut dengan munqati’ (terputus)

Kedua: Ististna Mufarrag/Naaqis (استثناء مفرغ/ناقص)

هو: ما حذف من جملته المستثنى منه، والكلام غير موجب أو منفي

Ististna Naaqis memiliki pola susunan kalimat tidak sempurna (kebalikan dari Taam). Artinya, terdapat salah satu rukun yang hilang yaitu Mustastna Minhu.

Dengan demikian, kalimat seperti ini tidak dianggap masuk pada Ushlub Ististna sebab hilangnya fungsi dari pada Perangkat Ististna dalam menghukumi Isim yang berada diposisi setelahnya (Mustastna)

Lalu bagaimana dengan ‘Irab isim setelah perangkat ististna pada kalimat Naaqis?

Hukum Isim yang berada setelahnya di ‘Irab sesuai posisinya dalam kalimat, bisa menjadi Fa’il, Maf’ul Bih, Majrur dan lainya.

Dan bagaimana dengan ‘Irab perangkatnya itu sendiri pada kalimat Naaqis, apakah tetap disebut perangkat ististna atau berubah?

Untuk detail masing-masing perangkat dan hukum ‘irab isim setelahnya akan dibahas pada hukum ‘irab mustastna dibawah.

Catatan:

Perlu diperhatikan bahwa pola Ististna Mufarrag/Naaqis pada kebanyakan kasus biasanya terjadi pada susunan kalimat Nafyi (Negatif) meskipun terdapat juga contoh pada pola susunan kalimat (Positif) seperti dalam AlQuran

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ وَإِنَّها لَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخاشِعِينَ. البقرة ٤٥

Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan (shalat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.

الواو : عاطفة
استعينوا : فعل أمر مبنيّ على حذف النون بالصبر : جارّ ومجرور متعلّق ب استعينوا الصلاة : معطوف بالواو على الصبر مجرور مثله
الواو :حاليّة
إن : حرف مشبّه بالفعل للتوكيد
الهاء : اسم إنّ
اللام : هي المزحلقة تفيد التوكيد
كبيرة : خبر إنّ مرفوع
إلا : أداة حصر
على الخاشعين : جارّ ومجرور متعلّق ب كبيرة


Perhatkan Contoh ‘irab berikut:

مَا ذَهَبَ إِلَى المَدْرَسَةِ إِلاَّ خَالِدٌ

Tidak pergi ke sekolah kecuali Kholid

مَا : نافية
ذَهَبَ : فعل
إِلَى المَدْرَسَةِ : جار و مجرور
إِلاَّ : أداة الحصر
خَالِدٌ : فاعل

مَا اِشْتَرَيْتُ إِلاَّ سَيَّارَةً

Aku tidak membeli kecuali mobil

مَا : نافية
اِشْتَرَيْتُ : فعل + فاعل
إِلاَّ : أداة الحصر
سَيَّارَةً : مفعول به


مَا سَلَّمْتُ إِلاَّ عَلَى خَالِدٍ

Aku tidak bersalaman kecuali kepada kholid

مَا : نافية
سَلَّمْتُ : فعل + فاعل
إِلاَّ : أداة الحصر
عَلَى : حرف الجر
خَالِدٍ : مجرور

Ketiga contoh diatas disebut dengan Ististna Mufarrag Manfi atau Naaqis Manfi.


Kesimpulan pola kalimat ististna.

  1. Sempurna (تام) + Positif (موجب) + Muttashil (متصل)

ذَهَبَ الطُّلاَّبُ إِلَى المَدْرَسَةِ إِلاَّ خَالِدًا

Para siswa pergi ke sekolah kecuali kholid

Disebut sempurna sebab ketiga rukun kumplit, disebut positif sebab tidak didahului Nafyi dan sejenisnya, disebut muttashil sebab lafadz Mustastna (Kholid) bagian dari lafadz Mustastna Minhu (Para siswa)

  1. Sempurna (تام) + Negatif (منفي) + Muttashil (متصل)

مَا ذَهَبَ الطُّلاَّبُ إِلَى المَدْرَسَةِ إِلاَّ خَالِدًا

Para siswa tidak pergi ke sekolah kecuali kholid

Disebut sempurna sebab ketiga rukun kumplit, disebut negatif sebab didahului Nafyi, disebut muttashil sebab lafadz Mustastna (Kholid) bagian dari lafadz Mustastna Minhu (Para siswa)

  1. Sempurna (تام) + Positif (موجب) + Munqoti’ (منقطع)

اِحْتَرَقَ البَيْتُ إِلاَّ الكُتُبَ

Rumah itu terbakar kecuali buku-buku

Disebut sempurna sebab ketiga rukun kumplit, disebut positif sebab tidak didahului Nafyi dan sejenisnya, disebut Munqati’ sebab lafadz Mustastna (kitab) bukan bagian dari lafadz Mustastna Minhu (Rumah)

  1. Sempurna (تام) + Negatif (منفي) + Munqoti’ (منقطع)

مَا اِحْتَرَقَ البَيْتُ إِلاَّ الكُتُبَ

Rumah itu tidak terbakar kecuali buku-buku

Disebut sempurna sebab ketiga rukun kumplit, disebut negatif sebab didahului Nafyi, disebut Munqati’ sebab lafadz Mustastna (kitab) bukan bagian dari lafadz Mustastna Minhu (Rumah)

  1. Tidak sempurna ( ناقص) + Negatif (منفي)

مَا اِشْتَرَيْتُ إِلاَّ سَيَّارَةً

Aku tidak membeli kecuali mobil

Disebut tidak sempurna sebab tidak memiliki Mustastna Minhu, disebut Negatif sebab didahului Nafyi

Lihat referensi:

عباس حسن، النحو الوافي، ج٢, ص ٣١٨

أنواع الاستثناء


III. Hukum ‘Irab Mustastna (مستثنى)

Mustasna (yang dikecualikan) memiliki hukum ‘irab berbeda-beda tergantung perangkat Ististna yang dipergunakan.

A. Hukum ‘Irab Mustastna dengan Huruf Illa (إِلاَّ)

1). Apabila Huruf Illa (إِلاَّ) hanya tunggal ( tidak diulang-ulang), maka Mustastna memiliki 3 hukum ‘irab

a). Pada kalimat Taam Mujab (Kalimat sempurna Positif) baik Muttashil atau Munqati’, menurut Mayoritas Ulama: ” ‘Irab Mustastna wajib Manshub”

Contoh;

كَتَبْتُ الرَّسَائِلَ إِلاَّ رِسَالَةً وَاحِدَةً
تَنَاوَلْتُ الطَّعَامَ إِلاَّ المَاءَ

b). Pada Kalimat Taam Manfi (Kalimat sempurna negatif) baik Muttashil atau Munqati’, hukum ‘Irab Mustastna boleh Manshub atau boleh mengikuti harkat ‘irab Mustastna Minhu dari segi Marfu’، manshub dan Majrur, dimana isim yang pada awalnya adalah Mustastna berubah menjadi Badal.

Perhatikan Contoh dan ‘Irabnya.

  • Ketika manshub sebagai Mustastna

مَا ذَهَبَ الطُّلاَّبُ إِلَى المَدْرَسَةِ إِلاَّ خَالِدًا
إِلاَّ : أداة الاستثناء
الطُّلاَّبُ : مستثنى منه
خَالِدًا : مستثنى

⁦⁦مَا رَأَيْتُ الطُّلاَّبَ إِلاَّ خَالِدًا ✔️
إِلاَّ : أداة الاستثناء
الطُّلاَّبَ : مستثنى منه
خَالِدًا : مستثنى

مَا سَلَّمْتُ عَلَى الطُّلاَّبِ إِلاَّ خَالِدًا ✔️
إِلاَّ : أداة الاستثناء
الطُّلاَّبِ : مستثنى منه
خَالِدًا : مستثنى

  • Ketika mengikuti Isim sebelumnya dalam keadaan Marfu’ sebagai badal

مَا ذَهَبَ الطُّلاَّبُ إِلَى المَدْرَسَةِ إِلاَّ خَالِدٌ✔️
إِلاَّ : أداة الحصر
الطُّلاَّبُ : مبدل منه
خَالِدٌ : بدل بعض من كل

  • Ketika mengikuti Isim sebelumnya dalam keadaan Manshub sebagai badal

مَا رَأَيْتُ الطُّلاَّبَ إِلاَّ خَالِدًا ✔️
إِلاَّ : أداة الحصر
الطُّلاَّبُ : مبدل منه
خَالِدًا : بدل بعض من كل

  • Ketika mengikuti Isim sebelumnya dalam keadaan Majrur sebagai badal

مَا سَلَّمْتُ عَلَى الطُّلاَّبِ إِلاَّ خَالِدٍ ✔️
إِلاَّ : أداة الحصر
الطُّلاَّبِ : مبدل منه
خَالِدٍ : بدل بعض من كل

c). Pada Kalimat Mufarag/Naqis, hukum ‘Irab Mustastna disesuaikan dengan posisinya dalam kalimat. Bisa sebagai Fa’il, Maf’ul Bih dan lainya.

Perhatikan contoh dan ‘irabnya.

مَا ذَهَبَ إِلَى المَدْرَسَةِ إِلاَّ خَالِدٌ ✔️
إِلاَّ : أداة الحصر
خَالِدٌ : فاعل

مَا اِشْتَرَيْتُ إِلاَّ سَيَّارَةً✔️
إِلاَّ : أداة الحصر
سَيَّارَةً : مفعول به

مَا سَلَّمْتُ إِلاَّ عَلَى خَالِدٍ✔️
إِلاَّ : أداة الحصر
خَالِدٍ : مجرور

Perangkat Illa إِلاَّ Ististna pada kalimat Mufarag/Naqis sama sekali tidak berfungsi seperti yang sudah dibahas diatas, sebab kalimat tersebut tidak memiliki Mustastna Minhu (keluar dari kaidah ushlub ististna). Oleh karnanya, lafadz Mustastna (خالد/سيارة) di’irab sesuai posisi dalam kalimat dan Perangkat Illa إِلاَّ dinamakan dengan Perangkat Hasr (أداة الحصر)


Bagaimana cara membedakan Illa إِلاَّ ististna dengan Illa إِلاَّ hasr ?

  • Illa إِلاَّ ististna mengandung makna pengecualian secara umum sedangkan Illa إِلاَّ hasr mengandung makna pengecualian secara khusus.
  • Illa إِلاَّ ististna tidak masuk pada kalimat naaqis, sedangkan Illa إِلاَّ hasr justru terjadi pada Naaqis dan harus negatif.

Cara termudah membedakan keduanya yaitu dengan cara membuang huruf illa إِلاَّ dan atau Huruf Nafyi dari kalimat tersebut. Apabila setelah dibuang memiliki arti yang masih bisa dimengerti, berarti itu illa إِلاَّ hasr. Namun apabila tidak dimengerti berarti illa إِلاَّ ististna

Perhatikan contoh1:

جاء الطلابُ إلا خالدا ⁦⬅️⁩ جاء الطلابُ خالدا
ما جاء الطلابُ إلا خالدا ⁦⬅️⁩ جاء الطلابُ خالدا
رأيت الطلابَ إلا خالدا ⁦⬅️⁩ رأيت الطلابَ خالدا
ما رأيت الطلابَ إلا خالدا ⁦⬅️⁩ رأيت الطلابَ خالدا

Pada keempat contoh ini bisa dipastikan jenis illa إِلاَّ ististna sebab setelah dibuang, arti dari pada kalimat tidak dimengerti

Perhatikan contoh2:

ما جاء إلا خالدٌ ⁦⬅️⁩ جاء خالدٌ

Pada contoh ini dipastikan jenis illa إِلاَّ hasr sebab setelah dibuang, arti dari pada kalimat bisa dimengerti.

||| Baca juga Kaidah Ushlub Kinayah


2. Apabila Huruf Illa (إِلاَّ) diulang-ulang, maka Isim Mustastna yang terletak setelah Huruf Illa (إِلاَّ) yang kedua memiliki beberapa hukum ‘irab dengan ketentuan sebagai berikut.

a). Maksud dari pengulangan Huruf Illa (إِلاَّ) adalah sebagai Taukid Lafdzi yang dipisah dengan huruf Wawu ‘Athaf, maka hukum ‘irab Isim yang terletak setelah Huruf Illa (إِلاَّ) yang kedua di’irab sebagai Ma’tuf kepada Isim yang terletak setelah Huruf Illa (إِلاَّ) yang pertama. Dan Huruf Illa (إِلاَّ) kedua ini karna dianggap taukid lafdzi, maka tidak berfungsi lagi sebagaimana perangkat ististna

Contoh:

أُحِبُّ رُكُوْبَ السُّفُنِ إِلاَّ الشَّرَاعِيَةَ، وَإِلاَّ الصَّغِيْرَةَ

Aku suka naik kapal laut kecuali perahu layar dan kecil.

‘Irab Lafadz الصغيرة Ma’tuf kepada Mustasna lafadz الشراعية bukan sebagai Mustasna dari huruf Illa (إِلاَّ) yang kedua.

Perhatikan ‘irabnya:

أُحِبُّ : فعل + فاعل
رُكُوْبَ السُّفُنِ : مضاف مضاف إليه + مفعول به + مسنثنى منه
إِلاَّ : أداة الاستثناء
الشَّرَاعِيَةَ : مستثنى
وَ : حرف العطف
إِلاَّ : توكيد لفظي
الصَّغِيْرَةَ : معطوف على الشَّرَاعِيَةَ

b). Maksud dari pengulangan Huruf Illa (إِلاَّ) adalah sebagai Taukid Lafdzi namun tidak dipisah dengan huruf Wawu ‘Atfah, maka hukum ‘irab Isim yang terletak setelah Huruf Illa (إِلاَّ) yang kedua di’irab badal atau ‘athaf bayan.

Contoh:

مَا جَاءَ القَوْمُ إِلاَّ مُحَمَّدًا/مُحَمَّدٌ إِلاَّ الأَمِيْنَ/الأَمِيْنُ

Perhatikan ‘irabnya:

ما : حرف نفي
جاء القوم : فعل + فاعل + مستثنى منه
إلا : أداة الاستثناء
محمدا/محمد : مستثنى
إلا : توكيد لفظي
الأمين/الأمين : بدل كل من كل / عطف بيان

Bait Alfiyaahnya (Ibnu Malik) berkata:

وَأَلْغِ إلاَّ ذَاتَ تَوْكِيْدٍ كَلاَ # تَمْرُرْ بِهِمْ إلاَّ الْفَتَى إِلاَّ الْعَلاَ

c). Maksud dari pengulangan Huruf Illa (إِلاَّ) adalah bukan sebagai Taukid Lafdzi melainkan dianggap sebagai perangkat Ististna baru. Maka hukum ‘irab Isim yang terletak setelah Huruf Illa (إِلاَّ) yang kedua atau ketiga memiliki beberapa hukum.

1). Pada kalimat Taam Mujab (Kalimat sempurna positif), semua Isim mustasna wajib manshub.

Contoh:

جَاءَ الطُّلاَبُ إِلاَّ خَالِدًا، إِلاَّ زيدًا، إِلاَّ محمدًا

Para siswa datang kecuali kholid, zaid dan muhammad.

Perhatikan ‘irabnya:

جاء : فعل
الطلاب : فاعل + مستثنى منه
إلا : أداة الاستثناء
خالدًا : مستثنى
إلا : أداة الاستثناء
زيدًا : مستثنى
إلا : أداة الاستثناء
محمدًا : مستثنى

2). Pada kalimat Taam Manfi (Kalimat sempurna negatif), semua Isim mustasna boleh manshub apabila mustastna minhu diakhirkan

Contoh:

ما جاء إلا خالدًا، إلا زيدًا، إلا محمدًا الطُّلاَبُ✔️

Perhatikan ‘irabnya:

ما : حرف نفي
جاء : فعل
إلا : أداة الاستثناء
خالدًا : مستثنى
إلا : أداة الاستثناء
زيدًا : مستثنى
إلا : أداة الاستثناء
محمدًا : مستثنى
الطلاب : فاعل + مستثنى منه مؤخر

Namun apabila Mustastna Minhu tidak diakhirkan, maka salah satu dari isim mustastna boleh rafa’ sebagai badal

Contoh:

ما جاء الطلابُ إلا خالدٌ، إلا زيدًا، إلا محمدًا✔️

ما : حرف نفي
جاء : فعل
الطلاب : فاعل + مستثنى منه + مبدل منه
إلا : أداة الحصر
خالدٌ : بدل
إلا : أداة الاستثناء
زيدًا : مستثنى
إلا : أداة الاستثناء
محمدًا : مستثنى

Bait Alfiyaahnya (Ibnu Malik) berkata:

وَإِنْ تُكَرَّرْ لاَ لَتْوِكِيْدٍ فَمَعْ # تَفْرِيْغٍ الْتَّأْثِيْرَ بِالْعَامِلِ دَعْ # فِي وَاحِدٍ مِمَّا بِإِلاَّ اسْتُثْنِي # وَلَيْسَ عَنْ نَصْبِ سِوَاهُ مُغْنِي

Lihat referensi:

عباس حسن، النحو الوافي ج٢, ص ٣٤٠

B. Hukum ‘Irab Mustastna dengan Isim Ghoir dan Siwa (غير و سوى)

Penggunaan Isim Ghoir pada Ushlub Ististna dibandingkan dengan isim Siwa lebih sedikit, sebab Ghoir pada asalnya digunakan sebagai Na’at

Contoh

أَقْبَلْتُ عَلَى رَجُلٍ غَيْرِ خَالِدٍ

رَجُلٍ : منعوت
غَيْرِ : نعت + مضاف
خَالِدٍ : مضاف إليه

Aku menjumpai seseorang selain kholid.

خَرَجَ خَالِدٌ مِنْ لَجْنَةِ الاِمْتِحَانِ بِوَجْهٍ غَيْرِ الَّذِي دَخَلَ بِهِ

Kholid keluar dari ruangan testing dengan wajah (yang bukan) seperti ketika masuk.

صرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ. سورة الفاتحة ٧

غَيْرِ : نعت للَّذِينَ أو بدل من الضمير في ” عليهم” أو للَّذِينَ

Kenapa Ghoir bisa dijadikan na’at, sedangkan Na’at harus dibentuk dari isim Musytaq (bukan jamid) ? Yaitu dengan memperkirakan lafadz Ghoir kedalam bentuk Musytaq bermakna Mughayir (مغاير)

Menentukan hukum ‘irab mustastna menggunakan perangkat Ghoir dan Siwa (غير و سوى) sangat mudah, sebab semua isim yang berada setelah posisi Ghoir dan Siwa hukumnya wajib ber’irab majrur sebagai Mudhaf Ilaih. Namun permasalahnya ada pada Ghoir dan Siwa itu sendiri، Apakah ber’irab Marfu, Manshub atau Majrur? Sebab keduanya adalah isim yang harus memiliki keduduka ‘irab,

Ghoir dan Siwa (غير و سوى) memiliki dua fungsi rangkap yaitu dari segi lafadz mereka termasuk jajaran perangkat ististna karna dianggap masih semakna dengan Illa (إلا) dan dari segi hukum ‘Irab keduanya dihukumi seperti ‘irab mustastna yang dikecualikan dengan perangkat Illa (إلا). Artinya, harokat ‘irab kedua isim ini sama persis seperti harokat ‘irab isim mustastna setelah Illa (إلا). Dengan demikian status ‘irab kedua isim ini sebagai Mustastna dan sekaligus Mudhaf.

Perhatikan perbandingan contoh ketika masih menggunakan perangkat Illa (إلا) dan sesudah diganti dengan Ghoir dan Siwa (غير وسوى)

نَجَحَ الطُّلاَّبُ إِلاَّ خَالِدًا ⬅️نَجَحَ الطُّلاَّبُ غيرَ خالدٍ

Contoh perbedaan ‘irab kaduanya:

نجح : فعل
الطلاب : فاعل + مستثنى منه
إلا : أداة الاستثناء
خالدًا: مستثنى منصوب وعلامة نصبه الفتحة الظاهرة

نجح : فعل
الطلاب : فاعل + مستثنى منه
غيرَ : مستثنى منصوب، وعلامة نصبه الفتحة الظاهرة + مضاف
خالدٍ : مضافًا إليه مجرورًا، وعلامة جره الكسرة الظاهرة على آخره

Contoh lain:

رَأَيْتُ الطُّلاَبَ غيرَ خالدٍ
مَا رَأَيْتُ الطُّلاَبَ غيرَ خالدٍ
ما سلّمتُ على الطلابِ غيرَ/غَيْرِ خالدٍ

Sebab Ghoir dan Siwa (غير و سوى) dari segi ‘irab sama seperti ‘irab Mustastna dengan Illa (إلا). Oleh karnanya, harokat kedua isim ini dipengaruhi oleh bentuk kalimat pola ististna.

a). Apabila kalimatnya Taam Mujab (Kalimat sempurna positif), maka harakat keduanya harus Manshub sebagai Mustastna. Untuk Ghoir (غير) dengan fathah dzahirah dan untuk Siwa (سوى) dengan fathah muqaddarah

Contoh:

رأيت الطلاب غيرَ خالدٍ ✔️

رأيت : فعل + فاعل
الطلابَ : مفعول به + مستثنى منه
غيرَ : مستثنى منصوب، وعلامة نصبه الفتحة الظاهرة، وهو مضاف
خالدٍ : مضاف إليه

رأيت الطلاب سوى خالدٍ ✔️

رأيت : فعل + فاعل
الطلابَ : مفعول به + مستثنى منه
سوى : مستثنى منصوب علامته الفتحة المقدرة على آخره وهو مضاف
خالدٍ : مضاف إليه مجرور

b). Apabila kalimatnya Taam Manfi (Kalimat sempurna negatif), maka harakat Ghoir dan Siwa (غير و سوى) boleh Manshub sebagai Mustastna atau boleh mengikuti harakat ‘irab Isim sebelumnya dan dianggap sebagai badal

Contoh (Ghoir) dalam keadaan Manshub menjadi Mustastna:

ما رأيت الطلاب غيرَ خالدٍ ✔️

ما : نافية
رأيت : فعل + فاعل
الطلابَ : مفعول به + مستثنى منه
غيرَ : مستثنى منصوب، وعلامة نصبه الفتحة الظاهرة، وهو مضاف
خالدٍ : مضاف إليه مجرور

Contoh (Ghoir) dalam keadaan Marfu menjadi Badal:

ما نجح الطُّلابُ غيرُ خالدٍ ⁦✔️

ما : نافية
نجح : فعل
الطلابُ + فاعل + مبدل منه
غيرُ : بدل مرفوع، وعلامة رفعه الضمة الظاهرة، وهو مضاف
خالدٍ : مضاف إليه مجرور

Lihat tafsir dan ‘irab ayat AlQuran berikut:

لا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّه. سورة النساء ٩٥

Contoh (Siwa) dalam keadaan Marfu menjadi Badal:

ما نجح الطلاب سوى خالد⁦✔️⁩

ما : نافية
رأيت : فعل + فاعل
الطلاب : مفعول به + مبدل منه
سوى : بدل مرفوع وعلامته الضمة المقدرة على آخره وهو مضاف
خالدٍ : مضاف إليه

Contoh (Siwa) dalam keadaan manshub menjadi Mustastna:

ما نجح الطلابُ سوى خالدٍ ⁦✔️⁩

ما : نافية
نجح : فعل
الطلابُ : فاعل + مستثنى منه
سوى : مستثنى منصوب، وعلامة نصبه الفتحة المقدرة، وهو مضاف
خالدٍ : مضاف إليه مجرور

c). Apabila kalimatnya Naqis Manfi/Mufarag Manfi /Kalimat tidak sempurna Negatif (keluar dari ushlub ististna), harakat Ghoir dan Siwa tergantung posisinya dalam kalimat. Ini sama halnya dengan Hukum Mustastna dengan Illa (إلا) pada kalimat Naqis/Mufarag yang sudah dibahas diatas. Alhasil, kedudukan ‘irab Ghoir dan Siwa bisa menjadi Fa’il, Naibul Fa’il, Maf’ul Bih dan lainya.

Contoh:

ما نجح غيرُ خالدٍ ✔️
غيرُ : فاعل مرفوع وعلامته الضمة الظاهرة

ما نجح سوى خالدٍ ✔️
سوى : فاعل مرفوع بضمة مقدرة على آخره

ما رأيتُ غيرَ خالدٍ⁦✔️⁩
غير : مفعول به وعلامته الفتحة الظاهرة

ما رأيت سوى خالدٍ⁦✔️⁩
سوى : مفعول به وعلامته الفتحة المقدرة على آخره

ما مَرَرْتُ بغيرِ خالدٍ⁦✔️⁩
بغير : مجرور بحرف الجر وعلامته الكسرة الظاهرة

ما مررت بِسِوَى خالدٍ⁦✔️⁩
سوى : مجرور بحرف الجر وعلامته الكسرة المقدرة على آخره

Dalam AlQuran:

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ. سورة آل عمران ٧٥

الواو: حرف استئناف مبني على الفتح لا محل له من الإعراب

من: اسم شرط جازم مبنيّ على السكون في محلّ رفع مبتدأ

يبتغِ: (فعل الشرط) فعل مضارع مجزوم، وعلامة جزمه حذف حرف العلّة من آخره، والفاعل ضمير مستتر وجوبًا تقديره هو

غيرَ: مفعول به منصوب، وعلامة نصبه الفتحة الظاهرة على آخره، وهو مضاف

الإسلام: مضاف إليه منصوب، وعلامة نصبه الكسرة الظاهرة على آخره

Bait Alfiyaahnya (Ibnu Malik) berkata:

وَاسْتَثْنِ مَجْرُورًا بِغَيْرٍ مُعْرَبَا # بِمَا لِمُسْتَثْنًى بِإِلاَّ نُسِبَا # وَلِسِوًى سُوًى سَوَاءٍ اجْعَلاَ # عَلَى الأَصَحِّ مَا لِغَيْرٍ جُعِلاَ

Lihat referensi:

سيبويه، الكتاب، ج٢, ص٣٤٣

C. Hukum ‘Irab Mustastna dengan Laisa dan La Yakun ( ليس ولا يكون)

Kedua Fi’il ini adalah Fi’il Nasikh saudarinya Kana (كان). Keduanya masuk jajaran perangkat ististna sebab masih dianggap memiliki makna serupa dengan Illa (إلا).

Hukum ‘Irab Isim Mustastna yang dikecualikan dengan kedua Isim ini wajib manshub sebab secara bersamaan dianggap sebagai Khobar Laisa atau La Yakun, dimana keduanya beramal seperti Fi’il كان yaitu merafakan Isim pertama dan menashabkan isim kedua.

Apabila Kedua Fi’il ini dijadikan ististna, menurut pendapat mayoritas ulama termasuk Imam Sibawaihi dan Ibnu Siraj: ” Hanya terjadi pada kalimat Taam Mujab Muttashil dan Taam Manfi Muttashil (kalimat sempurna positif dan negatif yang terhubung)”.

Contoh pada kalimat Taam Mujab Muttashil:

جَاءَ الطُّلاَبُ مِنَ المَدْرَسَةِ لَيْسَ خَالِدًا

Para siswa telah datang selain/bukan/kecuali Kholid

جاء : فعل
الطلاب : فاعل + مستثنى منه
ليس : أداة استثناء مبنية على الفتح بمعنى (إلا)
من المدرسة : جار مجرور
خالدا : مستثنى منصوب علامته الفتحة (خبر ليس)
_______
اِنْسَحَبَ الجُنُوْدُ مِنَ المَعْرَكَةِ لاَ يَكُوْنُ القائدَ

Para prajurit mundur dari medan perang selain/bukan/kecuali komandan

انسحب : فعل
الجنود : فاعل + مستثنى منه
لا يكونُ : أداة استثناء بمعنى (إلا) / فعل ناسخ واسمه ضمير مستتر تقديره هو
من المعركة : جار مجرور
القائدَ : مستثنى منصوب علامته الفتحة (خبر لا يكونُ)

Contoh pada kalimat Taam Manfi Muttashil :

مَا أَخَدْتُ الكُتُبَ لَيْسَ كتابًا

Aku tidak mengambil buku2 selain 1 buku.

مَا أَخَدْتُ الكُتُبَ لاَ يَكُوْنُ كتابًا

Catatan:

  • Perlu diketahui bahwa La Yakun (لا يكون) apabila dianggap perangkat ististna hanya berlaku apabila bentuknya berupa Fi’il Mudhari’ dan didahului huruf Nafyi La (لا) bukan huruf nafyi lain seperti (لن/لم/لما)
  • Lafadz ( ليس /لا يكون ) terkadang dalam kondisi tertentu dijadikan Na’at seperti yang terjadi pada (غير)

Contoh:

جَاءَ رَجُلٌ لاَ يَكُوْنُ / لَيْسَ خَالدًا

جاء : فعل
رجل : فاعل
ليس / لا يكون : أداة استثناء + نعت لرجل في محل الرفع
خالدًا : مستثنى / خبر ليس أو خبر لا يكون


رأيت رَجُلاً لاَ يَكُوْنُ / لَيْسَ خَالدًا

ليس / لا يكون : أداة استثناء + نعت لرجل في محل النصب


مررت برجلٍ لاَ يَكُوْنُ / لَيْسَ خَالدًا

ليس / لا يكون : أداة استثناء + نعت لرجل في محل الجر

Lihat referensi:

المبرد، المقتضب، ص٤٤٨
عباس حسن، النحو الوافي، ج٢, ص٣٥٣-٣٥٨

||| Baca juga Kaidah Ushlub Syarat

D. Hukum ‘Irab Mustastna dengan Haasya, Kholaa, ‘Adaa ( خلا، عدا، حاشا)

Menurut Ulama Basrah: “ketiga lafadz ini adalah huruf jar yang berfungsi menjadikan ‘irab isim yang berada diposisi setelahnya dalam keadaan Majrur secara lafadz, meskipun secara makna masih dianggap Mustastna sebab dikecualikan dengan ketiga lafadz ini”.

Dengan demikian, ketiga lafadz ini menurut mereka : ” Tdak boleh dimasuki Maa Mashdariyyah sebab masuk jajaran huruf”.

Contoh:

حَضَرَ الطُّلاَبُ حَاشَا طَالِبٍ ⁦✔️⁩
حَضَرَ الطُّلاَبُ ما حَاشَا طالبًا ⁦❌

Perhatikan ‘Irabnya.

حضر : فعل ماض مبني على الفتحة الظاهرة في آخره
الطلاب : فاعل مرفوع
حاشا : حرف جر
طالبٍ : اسم مجرور بحاشا ، وعلامة جره الكسرة الظاهرة في آخره وهو مستثنى في المعنى

Kemudian menurut Ulama Kuffah termasuk pendapat Imam As Suyuthi dan Ibnu Hisyam: ” ketiga lafadz ini termasuk fi’il yang mengandung makna Illa (إلا) dan boleh dimasuki Maa Mashdariyyah”.

Apabila ketiga Fi’il ini dijadikan perangkat ististna, ketiganya berfungsi menjadikan ‘irab isim setelahnya dalam keadaan Manshub sebagai Mustastna atau Maf’ul Bih

Contoh:

حَضَرَ الطُّلاَبُ حَاشَا طالبًا ⁦✔️⁩
حَضَرَ الطُّلاَبُ حَاشَا طالبًا ⁦⁦✔️⁩

Perhatikan ‘Irabnya.

حضر : فعل ماض مبني على الفتحة الظاهرة في آخره
الطلاب : فاعل مرفوع
ما : مصدرية
حاشا : فعل ماض للاستثناء مبني على الفتحة المقدرة على الألف منع من ظهورها التعذر ، والفاعل ضمير مستتر وجوبا تقديره هو
طالبًا : مستثنى منصوب / مفعول به منصوب بالفتحة الظاهرة في آخره

Catatan:

Menurut Ulama Kuffah ” Apabila ketiga Fi’il ini dijadikan perangkat ististna, hanyalah terjadi pada kalimat Taam Mujab Muttadhil dan Manfi Muttashil”.

Lihat referensi:

– الأنبارى، الانصاف في مسائل الخلاف بين النحويين والكوفيين، ٢٧٨-٢٨٠
– عباس حسن، النحو الوافي، ج٢, ص٣٥٤ed

Kesimpulan pendapat diatas:

a). Apabila Haasya, Kholaa, ‘Adaa ( خلا، عدا، حاشا) tidak didahului Maa Mashdariyyah, hukum ‘irab isim setelahnya boleh dua keadaan.

  • Boleh Manshub

جَاءَ الطُّلاَبُ حَاشَا خالدًا ⁦✔️⁩
جَاءَ الطُّلاَبُ عَدَا خالدًا⁦✔️⁩
جَاءَ الطُّلاَبُ خَلاَ خالدًا⁦✔️⁩

  •  Boleh Majrur

جَاءَ الطُّلاَبُ حَاشَا خالدٍ⁦✔️⁩
جَاءَ الطُّلاَبُ عَدَا خالدٍ⁦✔️⁩
جَاءَ الطُّلاَبُ خَلاَ خالدٍ⁦✔️⁩

b). Apabila Haasya, Kholaa, ‘Adaa ( خلا، عدا، حاشا) didahului Maa Mashdariyyah, maka hukum ‘irab isim setelahnya hanya boleh manshub

جَاءَ الطُّلاَبُ ما حاشا خالدًا⁦✔️⁩
جَاءَ الطُّلاَبُ ما عدا خالدًا⁦✔️⁩
جَاءَ الطُّلاَبُ ما خلا خالدًا⁦✔️⁩
جَاءَ الطُّلاَبُ ما حاشا خالدٍ⁦❌
جَاءَ الطُّلاَبُ ما عدا خالدٍ⁦❌
جَاءَ الطُّلاَبُ ما خلا خالدٍ⁦❌

Catatan:

Huruf Maa Mashdariyah masuk pada حاشا sangat jarang ditemukan dan bahkan menurut mayoritas ulama termasuk dilarang.


IV: Membuang perangkat ististna dan atau Mustastna

Mayoritas ulama tidak membenarkan membuang perangkat ististna pada kalimat apapun baik Taam Mujib, Manfi, Muttashil dan Munqati’

Bagaimana dengan membuang mustastna ? Boleh dengan ketentuan sebagai berikut:

a). Makna atau maksud dari pada kalimat sudah bisa difahami

b). Hanya berlaku pada kalimat ististna dengan perangkat Illa dan Ghoir ( إلا و غير)

c). Harus didahului Laisa (ليس)

Contoh:

قَبَضْتُ عَشَرَةً لَيْسَ غَيْرُ

Asalnya seperti ini.

قبضت عشرة، ليس المقبوض غَيْرَ ذلك

atau

قبضت عشرة، ليس المقبوض غَيْرَهُ

‘Irab:

قبضت : فعل + فاعل
عشرة : مفعول به + مستثنى منه
ليس : فعل ناقص من أخوات كان و اسمه مضمر
غير : خبر ليس + أداة الاستثناء + المستثنى + مضاف
مضاف إليه : مخدوف

Kenapa harakat غَيْرُ dhammah, bukanya menjadi khobar ليس yang seharusnya fathah ? Diharokati mabni dhammah agar menjadi pertanda bahwa terdapat Mudhaf Ilah yang dibuang, dimana Mudhaf Ilah tersebut pada asalnya adalah Mustastna. Sama seperti ‘irab قبل dan بعد pada pembahasan Maf’ul Fiih ( Dzharaf) yang sudah kita bahas sebelumnya.

Bisa juga asal kalimatnya dibalik seperti dibawah namun ‘irabnya berbeda.

قبضت عشرة، ليس غَيْرُ ذلك مقبوضا

atau

قبضت عشرة، ليس غَيْرُها مقبوضا

‘irab:

قَبَضْتُ عَشَرَةً لَيْسَ غَيْرُ

قبضت : فعل + فاعل
عشرة : مفعول به + مستثنى منه
ليس : فعل ناقص من أخوات كان
غير : اسم ليس + أداة الاستثناء + المستثنى + مضاف
مضاف إليه : مخدوف
خبر ليس : مخدوف

Catatan:

Mudhaf Ilah yang dibuang pada dasarnya adalah Mustasna. Kenapa menjadi Mudhaf Ilah ? sebab didahului perangkat ististna غير lalu ghoir di’irab seperti ‘irabnya mustatsna seperti yang sudah dijelaskan diatas.

V. ‘Irab kalimat tauhid (لا إله إلا الله)

kalimat diatas masuk kategori Ististna Naqis/Mufarag (Tidak memiliki Mustastna Minhu). Artinya keluar dari kaidah ististna, dimana huruf إلا tidak lagi berfungsi sebagai mana mestinya dalam menghukumi ‘irab isim setelahnya.

Perhatikan juga diawal kalimat terdapat لا Nafyi Liljinsi yang berfungsi seperti إِنَّ ( Menashabkan Isim pertama dan Marafa’kan isim kedua). Artinya kalimat diatas berupa jumlah ismiyyah.

Isim pertama yang dinashabkan oleh لا Nafyi Liljinsi yaitu lafadz إِلَهَ dan Isim kedua yang seharusnya berada diposisi Rafa’ sebagai Khobar La (لا) dibuang yaitu lafadz حقٌّ atau كائن atau لنا

Kenapa dibuang ?

قال ابن مالك في “شرح التسهيل” أكثر ما يحذف الحجازيون خبر “لا” مع “إلا” مثل لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ

Lafadz yang palng banyak dibuang oleh Orang Arab Hijaz adalah Khobar La (لا) ketika bersamaan dengan Illa (إلا). Seperti لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ/ لا فتى إلا خالد / لا بأس / لا حول ولا قوة dll

Setelah kita ketahui semua unsur pada kalimat tersebut, selanjutnya kita akan menentukan ‘irab lafadz الله apakah Rafa’ atau Nashab?

1. Lafadz الله Rafa’

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ

Alasan pertama:

Terdapat khobar La (لا) yang dibuang yaitu lafadz حَقٌّ atau كائن lalu lafadz اللَّهُ kedudukan ‘irabnyab sebagai Badal yang berada ditempat rafa’ dari lafadz إِلَهَ sebelum dimasuki La (لا) yang asalnya rafa’ (إِلَهُ)

Apabila ditulis seperti ini:

إِلَهُ – كائن – اللَّهُ ⬅️ لاَ إِلَهَ كائن إِلاَّ اللَّهُ

‘Irabnya:

لا: لا النافية للجنس
إِلَهَ: إسم (لا) منصوب على الفتح في محل نصب، و خبرها مخدوف بمعنى “كائن/حق ” مرفوع بالضمة
إلا: أداة الحصر
اللهُ : لفظ الجلالة بدل من اسم “لا” قبل دخولها مرفوع بالضمة

Alasan kedua:

Terdapat khobar La (لا) yang dibuang yaitu lafadz حَقٌّ atau كائن lalu lafadz اللَّهُ kedudukan ‘irabnya sebagai Badal yang berada ditempat rafa’ dari dhamir yang berada pada khobar yang dibuang.

‘Irabnya:

لا: لا النافية للجنس
إِلَهَ: إسم (لا) منصوب على الفتح في محل نصب، و خبرها مخدوف بمعنى “كائن/حق ” مرفوع بالضمة
إلا: أداة الحصر
اللهُ : لفظ الجلالة بدل من من الضمير المستكن فيه

Alasan ketiga:

Terdapat khobar La (لا) yang dibuang yaitu lafadz حَقٌّ atau كائن lalu lafadz إِلاَّ اللَّهُ (merangkap) kedudukan ‘irabnya sebagai sifat bermakna غير dari lafadz إله sebelum dimasuki la (لا)

‘Irabnya:

لا: لا النافية للجنس
إِلَهَ: إسم (لا) منصوب على الفتح في محل نصب، و خبرها مخدوف بمعنى “كائن/حق ” مرفوع بالضمة
إلا اللهُ : نعت نعت بمعنى “غير “من إله قبل دخول لا نافية للجنس

Lihat dalam ‘irab AlQuran ketika غير dan إلا menjadi Na’at

مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ. سورة هود ٨٤

لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا. سورة الأنبياء ٢٢

2. Lafadz الله Nashab

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهَ

Alasan pertama:

Terdapat khobar La (لا) yang diperkirakan yaitu lafadz في الوجود dan lafadz الله sebagai mustastna manshub. (Kalimat Taam Manfi).

Apabila ditulis seperti ini

لاَ إِلَهَ فِي الوُجُوْدِ إِلاَّ اللَّهَ

‘Irabnya:

لا: لا النافية للجنس
إِلَهَ: إسم (لا) منصوب على الفتح في محل نصب، و خبرها مقدر بمعنى “فِي الوُجُوْد
إلا: أداة الاستثناء
اللهُ : لفظ الجلالة مستثنى

Alasan kedua:

Terdapat khobar La (لا) yang dibuang yaitu lafadz حَقٌّ atau كائن lalu lafadz إِلاَّ اللَّهَ (merangkap) sebagai sifat dari lafadz إله setelah dimasuki La Liljinsi.

‘Irabnya:

لا: لا النافية للجنس
إِلَهَ: إسم (لا) منصوب على الفتح في محل نصب، و خبرها مخدوف بمعنى “كائن/حق ” مرفوع بالضمة
إِلاَّ اللَّهُ: نعت بمعنى “غير” بعد دخول لا نافية للجنس

Kedua pendapat ini tidak rajih sebab pada kebanyakan kalam arab termasuk AlQuran dan Hadist selalu merafa’kan lafadz الله sebagai badal

Banyak contoh serupa seperti pada hadist berikut :

لا حمي إلا الله ولرسوله – المسند ج٤,ص٢٨ – والبخاري، جهاد ١٤٦
لا حليمَ إلا ذو عَشرة ولا حكم إلا ذو تجربة – المسند ج٣,ص٨ – الترمذي ،بر ٨٦
لا صلاة إلا بفاتحة الكتاب – الترمذي، مواقيت ٦٩
لا صلاة لجار المسجد إلا في المسجد – الترمذي، مواقيت ٦٩
لا نكاح إلا بوليّ – المسند، ج٢, ص ٢٥٠
اللهم لا خير إلا خيرك ولا إله غيرك، الموطأ، صفة النبي، ٢٤

Lihat referensi:

السيوطي, عقود الزبرجد في إعراب الحديث النبوي، ص ٢٤٣

Bagaimana dengan ‘Irab (لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ)…?

‘Irabnya lafadz Ghoir sama seperti lafadz الله pada لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ bisa Badal atau Na’at dari lafadz إله namun dia juga merangkap sekaligus Mudhaf dan Dhamir الهاء setelahnya sebagai mudhaf Ilaih.

لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ

لا: لا النافية للجنس
إِلَهَ: إسم (لا) منصوب على الفتح في محل نصب، و خبرها مخدوف بمعنى “كائن/حق ” مرفوع بالضمة
غير: بدل/نعت إما بعد دخول لا نافية للجنس أو قبلها وهو مضاف
الهاء : مضاف إليه

Kesimpulan:

Kaidah Ushlub Ististna cukup kompleks sebab melibatkan banyak perbedaan pendapat ulama nahwu. Bagi kita Thalabul’ilmi – sekiranya cukup mengambil intinya saja. Namun apabila ingin memperdalam akan lebih baik, silahkan bisa merujuk referensinya.

Perangkat Ististna yang paling banyak digunakan terutama dalam AlQuran dan Hadist adalah Illa (إلا) sebab dia merupakan induk dari semua perangkat. Didalam AlQuran sendiri Illa (إلا) disebutkan sekitar 175x dan Ghoir (غير) 25X.

Meskipun penjelasan ini sangat singkat, semoga mudah dimengerti dan bermanfaat.

Referensi:

عباس حسن، النحو الوافي، ج٢, ص ٣١٥ باب الاستثناء

أبي عبد االله محمد بن أحمد الأنصاري القرطبي: اختصار، دار الكتب العربي، بيروت، ط1 ،1985 . م

ابن عصفور الإشبيلي: شرح جمل الزجاج، تح: أنس بدوي،دار إحياء التراث العربي، بيروت،

الانباري أبو البركات : الإنصاف في مسائل الخلاف بين النحويين البصريينوالكوفيين

ابن الحاجب أبو عمرو عثمان: الكافية في النحو،شرح: رضي الدين محمد بن الحسن
الاستراباذي، دار الكتب العلمية، بيروت 1989

الحسين قاسم المرادي: الجني الداني في حروف المعاني،تحقيق : فخر الدين قباه ومحمد نديم فاضل ،دار الكتب العلمية، بيروت، لبنان،ط1،1992. م

ابن السراج أبو بكر محمد سهل: الأصول في النحو، تح: عبد الحسين القتيلي، مؤسسةالرسالة ، لبنان، ط3 ، 1988 . م

عبد عادل سالم مكرم: تطبيقات نحوية و بلاغية، مؤسسة الرسالة، بيروت،ط2 ،1992 . م

أبي الفتح عثمان بن جني: اللمع في اللغة العربية

ابن يعيش الدين بن علي بن يعيش الحلبي النحو: شرح المفصل، عالم الكتب، بيروت،1980 م

أحمد مختار عمر: النحو الأساسي، دار السلاسل، الكويت، ط4 ، 1994. م

إيمان محمد أمين الكيلاني : دور المعنى في توجيه القاعدة النحوية من خلال كتب معاني
القرآن ، دار وائل للنشر، ط1 ، 2000. م

الزركشي بدر الدين ابن عبد االله محمد بن بدر بن عبد االله الشافعي، البحر المحيط في
أصول الفقه ، ضبط: محمد ناصر، دار الكتب العلمية، لبنان، ط1 ،1997 م

13.02.2020
Zizo – TMBA

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 4.5 / 5. Vote count: 4

No votes so far! Be the first to rate this post.

2020-02-13

Tinggalkan Komentar