Kaidah Tamyiz [تمييز] Lengkap Contoh ‘Irab

TMBA 3
4.8
(379)
Read Time7 Minutes, 54 Seconds

بسم الله الرحمن الرحيم

Pada kesempatan kali ini, Kita akan mengenal apa itu Tamyiiz, Jenis, Hukum ‘Irabnya.

Perhatikan contoh berikut:

فِي الفَصْلِ عِشْرُوْنَ طَالِبًا و عِشْرُوْنَ طَالِبَةً

Dikelas terdapat 20 siswa dan 20 siswi.

اِشْتَرَيْتُ عِشْرِيْنَ كَتَابًا

Aku telah membeli 20 buku

اِشْتَرَيْتُ كِيْلُو جَرَامًا رُزًّا

Aku telah membeli 1 kg beras

Kata siswa/siswi, buku dan beras, ketiganya adalah Tamyiiz yang berfungsi menjelaskan maksud dari Isim (kata samar ) sebelumnya.

Jika kata 20 & 1 kg tersebut tidak dilengkapi dengan ‘Tamyiiz’, kandungan maknanya masih samar (belum jelas) dan sangat mungkin melahirkan makna-makna berbeda.

Dalam kaidah Tamyiiz terdapat dua Istilah yaitu Tamyiiz (pembeda/penjelas) dan Mumayyaz (isim mubham yang dijelaskan kesamaranya)

عِشْرُونَ/عشرين/كيلو جرما : مُمَيَّزٌ
طالبًا/رزا/كتابا : تَمْيِيْزٌ

Pertama: Definisi Tamyiiz

إِسْمٌ يُذْكَرُ لِيُوَضِّحَ المَقْصُوْدَ مِنْ اسْمٍ سَابِقٍ مُبْهَمٍ يَصْلَحُ لِأَنْ تُرَادَ بِهِ أَشْيَاءٌ مُخْتَلِفْةٌ لَوْ أَنَّهُ لَمْ يُحَدَّدْ بِالتَمْيِيْزِ

Tamyiiz adalah Isim yang disebut untuk menjelaskan maksud dari pada Isim Mumayyaz (Mubham) yang terletak sebelumnya.

Dimana apabila Isim Mubham tersebut tidak dibatasi dengan Tamyiiz, maknanya samar dan mungkin melahirkan makna atau penafsiran berbeda

Kedua: Jenis Tamyiiz dilihat dari segi Mumayyaznya.

1. Tamyiiz Mufrad (مُفرد)

A. Mafhum Tamyiiz Mufrad

Tamyiiz Mufrad atau disebut juga dengan Tamyiiz Malfud atau Dzat adalah Tamyiiz yang berfungsi menjelaskan Isim Mubham (Mumayyaz) secara langsung.

Artinya, Isim yang dijadikan Mumayyaz Lafadznya nampak dan bentuknya Mufrad (bukan jumlah)

Harus difahami betul bahwa yang dimaksud Tamyiiz Mufrad bukan Tamyyiiznya sendiri yang Mufrad, melainkan Mumayyaznya, sebab bentuk Tamyiiz tidak ada berupa Jumlah Ismiyyah atau Fi’liyyah.

Dan harus difahami juga bahwa yang dimaksud dengan Mufrad disini bukan Mufrad (tunggal) lawanya Jamak, melainkan Mufrad dalam arti (bukan susunan Jumlah Ismiyyah/Fi’liyyah)

Isim-Isim yang dianggap samar dan membutuhkan penjelasan Tamyiiz pada umumnya adalah Isim yang berkaitan dengan Timbangan, Kiloan, Hitungan atau Luas Area.

Contoh:

اِشْتَرَيْتُ عِشْرِيْنَ قَلَمًا
اِشْتَرَيْتُ طِنًا رُزًّا
اِشْتَرَيْتُ هِكْتَارًا أَرْضًا
اِشْتَرَيْتُ مِتْرًا خَيْطًا

Kata عِشْرِيْنَ/طِنًا/هِكْتَارًا/مِتْرًا disebut dengan Isim Mubham Malfud/ Mufrad/Mumayyiz, Lafadznya nampak, bentuknya bukan jumlah dan masih mengandung makna samar.

Apa yang 20 itu ? apa yang 1 ton itu ? apa yang 1 hektar itu ? apa yang 1 meter itu ?

Maka dari itu, agar Isim-Isim ini terlepas dari kesamaranya, mereka memerlukan Tamyiiz ( kata penjelas) seperti قَلَمًا/رُزًّا/أَرْضًا/خَيْطًا. Sehingga maksud dari kandungan maknanya lebih spesifik, lengkap, dan jelas.

B. Hukum Manshub Tamyiiz Malfud/ Mufrad

Pada dasarnya Tamyiiz untuk kategori “Tamyiiz Malfud” harus Nakirah dan Manshub, namun terkadang beralih menjadi Majrur sebab didahului Huruf Jar atau Majrur sebab berada pada posisi Mudhaf Ilaih.

Berikut ketentuanya:

  1. Tamyiiz Mufrad ( yang Mumayyaznya berkaitan dengan Timbangan, Kilo atau Luas Area), boleh beralih dari kedudukan sebagai Tamyiiz menjadi Majrur.

Contoh:َ

اِشْتَرَيْتُ كَيْلَةَ رزًّا / اِشْتَرَيْتُ كَيْلَةَ رُزٍّ / اِشْتَرَيْتُ كَيْلَةَ مِن رُزٍّ

 اِشْتَرَيْتُ هكترًا أَرْضًا/  اِشْتَرَيْتُ هكترَ أرضٍ/  اِشْتَرَيْتُ هكترًا مِنْ أرضٍ

  1. Tamyiiz Mufrad ( yang Mumayyaznya berkaitan dengan Hitungan) dibagi menjadi tiga

a. Tamyiiz wajib beralih menjadi Majrur sebagai Mudhaf Ilaih dan bentuknya harus dirubah kedalam bentuk Jamak. Ini berlaku untuk hitungan 3-10.

اِشْتَرَيْتُ خَمْسَةَ كُتُبٍ

b. Tamyiiz wajib tetap Manshub dan dalam bentuk Mufrad. Ini berlaku untuk hitungan belasan & puluhan.

اِشْتَرَيْتُ خَمْسَةَ عَشَرَ كِتَابًا
اِشْتَرَيْتُ خَمْسَةَ وَعِشْرِيْنَ كِتَابًا

c. Tamyiiz wajib Majrur sebagai Mudhaf Ilaih dalam bentuk Mufrad. Ini berlaku untuk hitungan Ratusan & Ribuan

اِشْتَرَيْتُ مِائَةَ كِتَابٍ
اِشْتَرَيْتُ ألْفَ كِتَابٍ

Untuk perluasan pasal ‘Adad dan Ma’dud silahkan dihalaman berikut: Kaidah ‘Adad Ma’dud

C. Amil yang membuat Nashab Tamyiiz Malfud/Mufrad adalah Isim Mubham (Mumayyaz). Amil ini tidak boleh diakhirkan dari Tamyiiznya.

Contoh:

فِي الفَصلِ ثَلاثُونَ طَالبًا

ثَلاثُونَ : اسم مبهم / مميز / عامل
طَالبًا : تمييز

Tidak Boleh diputar balik seperti dibawah

فِي الفَصلِ طَالبًا ثَلاثُونَ

D. Apakah boleh Tamyiiz Mufrad lebih dari satu ?

Boleh, dengan menambahkan Huruf ‘Athaf (Lebih Afdhal) dan boleh juga tidak

فِي الفَصلِ ثَلاثُونَ طَالبًا و مُدَرِّسًا و طَالِبَةَ
فِي الفَصلِ ثَلاثُونَ طَالبًا مُدَرِّسًا طَالِبَةَ
_______________

2. Tamyiiz Jumlah (جملة)

A. Mafhul Tamyiiz Jumlah

Tamyiiz Jumlah atau disebut juga Tamyiiz Nisbah atau Malhud adalah Tamyiiz yang berfungsi menjelaskan kesamaran kalimat secara keseluruhan.

Atau menjelaskan sesuatu yang masih berhubungan dengan Isim Mubham yang berada dalam suatu kalimat.

Artinya, sesuatu yang akan diperjelas dengan Tamyiiz masih dianggap samar dan bukan merupakan bentuk Isim yang nampak seperti pada Tamyiz Mufrad, melainkan kesamaran makna suatu kalimat secara keseluruhan.

Maka dari itu, tamyiz ini disebut dengan istilah Tamyiiz Jumlah ( Bukan Tamyiiznya sendiri yang berbentuk Jumlah, melainkan Mumayyaznya).

Bagaimana kita bisa memahami bahwa kalimat yang akan dijelaskan dengan Tamyiiz itu masih mengandung arti samar ?

Kita bisa melihat dari makna kalimat keseluruhan.

Contoh 1:

حَسُنَ خَالدٌ

Kholid baik

Kalimat (Kholid baik) adalah susunan Jumlah (Fi’il & Fa’il) kandungan maknanya masih samar dan memungkinkan lahirnya multi tafsir.

Akan timbul pertanyaan-pertanyaan terkait dengan “sesuatu apa yang baik dari diri Kholid”. Apa prilakunya? fisiknya ? wajahnya ? karakternya? atau yang lainya.

Perhatikan! pada kalimat (حَسُنَ خَالدٌ) tidak nampak Lafadz/Kata/Isim Mubham seperti pada Tamyiiz Mufrad. Lafadz “Kholid” bukanlah Isim yang samar karena dia jelas menunjukan nama orang yang tidak memerlukan “Tamyiiz”.

Namun jika dilihat dari makna kalimat secara keseluruhan, terdapat suatu kesamaran makna dari pada sifat baik yang ada pada diri Kholid.

Maka dari itu, jumlah (حَسُنَ خَالدٌ) memerlukan penjelas (Tamyiiz) agar yang dimaksud menjadi jelas dan tidak menimbulkan pertanyaan.

حَسُنَ خَالدٌ خُلُقًا
حَسُنَ خَالدٌ وَجْهًا

Apa yang baik dari Kholid ? Oh, akhlaqnya, Oh wajahnya.

حَسُنَ خَالدٌ : فعل و فاعل / مميز
وَجْهًا : تمييز
______

B. Asal pola susunan Tamyiiz Jumlah:

Disini kita akan memahami asal pola susunan kalimat yang didalamnya terdapat Tamyiiz pada kategori (Tamyiiz Jumlah).

Isim yang dijadikan Tamyiiz dan Manshub pada susunan kalimat Tamyiiz Jumlah adalah berasal dari posisi kedudukan ‘sebagai Fa’il, Maf’ul Bih dan Mubtada.

Artinya, susunan kalimat tersebut bisa dibulak balik tanpa merubah maksud (makna kalimat).

Mari Kita buktikan:

Contoh1:

حَسُنَ خَالدٌ وَجْهًا

Tamyiiz وَجْهًا berasal dari posisi Fa’il. Pola susunan diatas (Fi’il + Fa’il + Tamyiiz)

Sekarang coba letakan وَجْهًا menjadi berada diposisi Fa’il, menjadi

حَسُنَ وَجْهُ خَالدٍ

Pola susunan diatas (Fi’il + Fa’il (Mudhof) + Mudhof Ilaih)

Kedua pola susunan diatas jelas memiliki perbedaan dari segi ‘irab, namun keduanyan sama dari makna kalimat. Diartikan dengan “wajah kholid baik atau kholid baik wajahnya atau wajahnya kholid baik” tidak ada perbedaan sama sekali.

Artinya benar bahwa, lafadz وَجْهًا yang dijadikan (Tamyiiz) salah satunya berasal dari posisi Fa’il

Contoh2:

وَفَجَّرْنَا الأَرْضَ عُيُوناً. سورة القمر ١٢

Tamyiiz عُيُوناً berasal dari posisi Maf’ul Bih. Pola susunan diatas (Fi’il + Fa’il + Maf’ul Bih + Tamyiiz)

Sekarang coba letakan عُيُوناً menjadi berada diposisi Maf’ul Bih, menjadi

فَجَّرْنَا عُيُونَ الأَرْضِ

Pola susunan diatas (Fi’il + Fa’il + Maf’ul Bih (Mudhaf) + Mudhaf Ilaih)

Apakah terdapat perbedaan dari segi ‘irab ? ya sangat jelas. Apakah terdapat perbedaan dari segi Makna ? Tidak berbeda (keduanya tetap memiliki makna yang sama).

Kami menyemburkan bumi (mata airnya) / Kami menyemburkan mata air bumi.

Ingat ! Ini contoh AlQuran, jadi jangan sampai dibaca dengan posisi dibulak balik. Kita cukup mengetahui bahwa kaidahnya seperti ini. Kecuali untuk contoh dari kalimat sehari-hari, boleh lah dijungkir balik 😀

Contoh 3:

أنَا أَكْثْرُ مِنْكَ سَيَارةً

Tamyiiz سَيَارةً berasal dari Posisi Mubtada. Pola susunan diatas (Mabtada + Khobar + Jar Majrur + Tamyiiz)

Sekarang coba letakan سَيَارةً menjadi berada diposisi Mubtda

سَيَارتِي أَكْثْرُ مِنْ سَيَارتِكَ

Pola susunan diatas (Mubtada dan Mudhaf + Mudhaf Ilai + Khobar + Jar Majrur + Mudhaf dan Mudhaf Ilaih)

Mobilku lebih banyak dari mobilmu / aku lebih banyak darimu (mobilnya)

Catatan:

  •  Point ini penting difahami, sebab berhubungan dengan Hukum ‘Irab Tamyiiznya sendiri, apakah wajib Manshub atau beralih ke Majrur.
  •  Tidak semua Tamyiiz dalam kategori (Tamyiiz Jumlah) selalu bisa diputar balik dan berasal dari ketiga Posisi diatas (Fa’il, Maful Bih dan Mubtada). Ada juga yang tidak berasal dari posisi apapun dan ketika posisi susunan kalimatnya dirubah malah membuat makna kalimat menjadi rusak. Akan dicontohkan dibawah.

C. Hukum Nashab Tamyiiz Jumlah

1. Wajib Nashab untuk Tamyiiz yang berasal dari Fa’il, Maf’ul Bih dan Mubtada seperti pada contoh diatas.

2. Wajib Nashab untuk Tamyiiz yang terletak setelah Fi’il Tafhdil dengan catatan: “Tamyiiz ini secara makna adalah Fa’il atau ketika posisi Tamyiiz ini dirubah menjadi berada diposisi Fa’il, dia tidak merubah makna kalimat keseluruhan”

Contoh:

خَالِدٌ أََحْسَنُ خُلُقًا

Kholid lebih baik (prilakunya)

الأستَاذُ أَكْثَرُ خِبْرَةً

Ustadz lebih banyak (pengalamanya)

Ketika susunan dirubah:

خَالِدٌ حَسُنَ خُلُقُهُ

Kholid baik prilakunya

الأستَاذُ كَثُرَتْ خِبْرَتُهُ

Ustadz banyak pengalamanya.

Adapun jika Tamyiiz ini secara Makna bukan Fa’il ( ketika susunan kalimatnya dirubah, dia akan melahirkan makna berbeda bahkan rusak), maka Tamyiiz ini wajib beralih menjadi Majrur sebagai Mudhof Ilaih dari Mudhaf Fi’il Tafdhil tersebut.

Contoh:

خَالِدٌ أَكْبَرُ طَالِبٍ فِي الفَصْلِ

Kholid siswa paling besar dikelas

Coba kita rubah susunanya dengan meletakan kata طَالِبٍ pada posisi Fa’il, apakah benar akan melahirkan makna berbeda.

خَالِدٌ كَبُرَ طَالِبُهُ فِي الفَصْلِ

Benar sangat berbeda bahkan maknanya menjadi rusak tidak dimengerti. Artinya, lafadz طَالِبٍ lebih berhak dan bahkan wajib Majrur sebagai Mudhaf Ilaih dari pada Manshub sebagai Tamyiiz karena secara makna dia bukan atau tidak bisa dijadikan Fa’il.

Bagaimana jika setelah Fi’il Tafhdil tersebut terdapat Isim yang sudah menempati posisi Mudhaf Ilah, bagaimana nasib Tamyiiz ?

Jika kasusnya seperti itu, maka Tamyiiz wajib Manshub.

Contoh:

خَالِدٌ أَكْبَرُ الطُلاَبِ جِسْمًا

Badan Kholid yang paling besar dintara para siswa

Terjemah Santri;

Kholid lebih besar dari para siswa, Apanya yang besar ? badanya.

D. Amil yang membuat Nashab Tamyiiz pada kategori (Tamyiiz Jumlah) adalah Fi’il dan sejenisnya (seperti Isim- Isim Muaytaq)

Boleh mengakhirkan ‘Amil-‘Amil ini dari Tamyiiznya, namun lebih baik tetap diawalkan dan Tamyiiz diakhirkan.

يقول ابن مالك
وعامل التمييز قدم مطلقًا # والفعل ذو التصريف نزرًا سبقًا

Maksud Bait ini adalah bahwa ‘Amil- ‘Amil, baik pada Tamyiiz Mufrad maupun Jumlah, mutlaq harus didahulukan dari pada Tamyiiznya.

Meskipun terkadang pada Tamyiiz Jumlah suka ditemukan ‘Amil-‘Amil yang diakhirkan. Itu penomana langka dan hanya terjadi dalam Syair

E. Apakah boleh Tamyiiz pada kategori (Tamyiiz Jumlah) lebih dari satu ?

Boleh dengan syarat wajib menambahkan Huruf ‘Athaf

جَمُلَ خَالدٌ جِسْمًا وَ وَجْهًا

Kholid keren body dan wajahnya / Kholid body dan wajahnya keren


Ketiga: Contoh ‘Irab Tamyiiz

اِشْتَرَى خَالدٌ أَرْبَعِيْنَ كِتَابًا

اِشْتَرَى : فعل ماض مبني على الفتحة الظاهرة في آخره
خالد : فاعل مرفوع بالضمة الظاهرة في آخره
أَرْبَعِيْنَ : مفعول به منصوب بالياء لأنه ملحق بجمع المذكر السالم وهو مميز
كتاباتمييز منصوب بالفتحة الظاهرة في آخره
_______

اِزْدَادَ المُتَعَلِّمُ عَلْمًا

اِزْدَادَ : فعل ماض مبني على الفتحة الظاهرة في آخره وهو عامل لتمييز
المُتَعَلِّمُ : فاعل مرفوع بالضمة الظاهرة في آخره
عَلْمًا : تمييز
جملة اِزْدَادَ المُتَعَلِّمُ : مميز

Keempat: Contoh Tamyiiz dalam AlQuran

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ. سورة الزلزلة

خيرا : تمييز منصوب بالفتحة الظاهرة في آخره

Barangsiapa yang mengerjakan (kebaikan) seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.

إِذْ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ يَٰٓأَبَتِ إِنِّى رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِى سَٰجِدِينَ. سورة يوسف ٤

كَوْكَبًا : تمييز منصوب بالفتحة الظاهرة في آخره

Tatkala Yusuf berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas (bintang), matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku”.

Kelima: Perbedaan Tamyiiz dan Haal

Antara Tamyiiz dan Haal terdapat sisi persamaan dan juga perbedaan.

a. Sisi Persamaan

Keduanya berbentuk Isim, Nakirah, Manshub, Fadhlah dan Menjadi penjelas.

رجع خالد من مدرسته مسرورا فلما رأى ما فوق المكتب فَازداد سرورًا

Lafadz مسرور Haal (Nakirah, Manshub, Fadhlah dan Penjelas)

Lafadz سرورا Tamyiiz (Nakirah, Manshub, Fadhlah dan Penjelas)

Fadhlah = Bukan Pokok Kalimat (Pelengkap)

b. Sisi Perbedaan

  •  Tamyiiz semua bentuk Maufrad, adapun Haal terdapat bentuk Mufrad, Jumlah dan Syibhul Jumlah
  •  Tamyiz hanya merupakan Fadhlah (Pelengkap) sedangkan Haal terkadang beralih menjadi ‘Umdah (Pokok).
  • Pada (Tamyiiz Jumlah) tidak boleh memiliki banyak Tamyiiz kecuali disekat Huruf ‘Athaf, sedangkan dalam Haal boleh keduanya.

 حَسُنَ خالدٌ وَجْهًا وَ جِسْمًا (Tamyiiz)
جاء خالدٌ غَاضِبًا و بَاكيًا / جاء خالدٌ غَاضِبًا بَاكيًا (Haal)

  • Pada (Tamyiiz Mufrad) tidak boleh mengakhirkan ‘Amil, sedangkan dalam Haal boleh keduanya.
  • Bentuk Tamyiiz umumnya Jaamid, sedangkan Haal Musytaq
  • Tamyiiz hanya berfungsi memperjelas, sedangkan Haal terkadang berfungsi memperkuat

Untuk lebih memahami perbedaan keduanya (Tamyiiz dan Haal), pelajari Materi Haal pada halaman berikut. Kaidah Haal


Latihan:

  1. Tambahkan Tamyiiz pada kalimat berikut:

……اِزْدَادَ الطَّالبُ
……أَعْجَبَنِي الطَّالبُ
……طَابَتْ الحَدِيْقَةُ

  1. Rubah pola susunan berikut dengan menjadikan Lafadz سكان dan طباع sebagai Tamyiiz:

زاد سكان البلاد
اختلفت طباع الناس

3.Rubah pola susunan berikut dengan menjadikan Lafadz أجورًا menjadi Maf’ul Bih

وفيت العمال أجورًا


Demikian sekilas pembahasan tentang Tamyiiz, semoga bermanfaat.

Zizo 19-09-2019

انظر : النحو الوافى،ج ٢, ص ٤٠٠-٤٥٠

3 0

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 4.8 / 5. Vote count: 379

3 thoughts on “Kaidah Tamyiz [تمييز] Lengkap Contoh ‘Irab

  1. Assamualaikum tuan,
    tulisan dalam Bahasa Arab perlu dibesarkan saiz fond nya. Saya tidak dapat membacanya dengan jelas kerana saiznya yang agak kecil. Harap mendapat respond yang cepat dari pihak tuan.

    Wassalam

Tinggalkan Komentar

Next Post

Liburan Akhir Pekan (العُطْلَة الأُسْبُوعِيَّة)

4.8 (379) العُطْلَة الأُسْبُوعِيَّة Libur Akhir Pekan بَعْدَ انْتِهَاءِ عُمَرَ مِنْ عَمَلِهِ خَرَجَ مُسْرِعًا فَشَاهَدَهُ صِدِيْقُهُ عَلِيٌّ فَنَادَاهُ “Setelah Umar selesai dari pekerjaanya, dia lantas bergegas keluar. Ali kawanya melihat dia lalu memanggilnya” عَلِيٌّ : لِمَاذَا تُسْرِعُ يَا عُمَرُ ؟ مَاذَا بِكَ ؟ Ali : ” Hai Umar, Kenapa kau […]
error: Content is protected !!