Isytighal (الاشتغال) Hukum dan Syarat, Lengkap I’rab

4.9
(354)

Isytighal (الاشتغال)

Pada kesempatan kali ini kita akan membahas materi Isytighal, rukun, syarat dan contoh ‘irabnya.

Perhatikan rumus berikut:

Pola susunan normal dalam Bahasa Arab

(جملة فعلية (فعل + فاعل + مفعول به

فعل + اسم + اسم
ضَرَبَ خَالدٌ زَيْدًا
_______
(جملة اسمية (مبتدأ + خبر

اسم + اسم
خالد نَاجِحٌ

اسم + فعل + اسم
خَالدٌ ضَرَبَ زَيْدًا

اسم + اسم +اسم + اسم
خَالدٌ أَخُوهُ نَاجِحٌ

اسم + شبه جملة
خَالدّ أَمَامَ البَابِ/خَالدّ فِي البَيتِ

Pola susunan isytighal

(جملة اسمية (مفعول به + فعل + فاعل

اسم + فعل + فاعل + اسم ضمير رابط
خَالِدًا ضَرَبْتُهُ

اسم + فعل + فاعل+ اسم ظاهر + ضمير رابط
خَالِدًا ضَرَبْتُ أخَاه

اسم + فعل + فاعل + حرف جر + ضمير رابط
خَالِدًا أَعْجَبْتُ بِهِ

اسم + فعل + فاعل + حرف جر + اسم ظاهر + ضمير رابط
خَالِدًا أَعْجَبْتُ بِأخيه

اسم + فعل + اسم + ضمير رابط + اسم + ضمير رابط
خالدًا ضَرَبَ أبُوْهُ أَخَاهُ

Ayah (Kholid) telah memukul saudaranya (Kholid)

Stuktur kalimat isytighal tidak berbeda dengan jumlah ismiyyah (mubtada & khabar) karena sama-sama diawali dengan kata isim. Perbedaanya hanyalah dari peran (kedudukan i’rab ), dimana isim tersebut bisa dirafa’kan dan di’irab mubtada atau dinashabkan dan di’irab maf’ul bih.

Pelajari Kaidah Mubtada &Khobar 

Pada kaidah Isytighal, Isim yang posisinya diawalkan disebut dengan “Masyghul ‘Anhu” yang boleh di’irab sebagai mubtada atau maf’ul bih yang tentunya sesuai ketentuan dan syarat yang akan kita bahas.

1. Definisi Isytighal (تعريف الاشتغال)

اشتغال فعل أو ما يقوم مقام الفعل عن اسم متقدم عليه بضمير هذا الاسم ، أو بما نسب إلى ضميره أو ملابسه ، ولو تفرغ الفعل للاسم أو لما نسب إلى ضميره لنصبه لفظا أو محلا

Iystighal adalah pola susunan kalimat, dimana posisi isim pada suatu kalimat terletak sebelum fi’il. Kemudian fungsi dari fi’il dalam menashabkan maf’ul bih diganti dengan dhamir rabith /pengikat yang kembali kepada isim yang diawalkan.

Perhatikan:

خَالِدًا ضَرَبْتُهُ
اسم + فعل + فاعل + ضمير رابط لِخَالد

Fi’il dan fa’il pada contoh di atas sudah pasti membutuhkan objek yang harus mereka nashabkan. Namun, posisi objeknya yaitu Khalid berada diawal kalimat sehingg tidak bisa mereka nashabkan. Dengan demikian, diletakanlah dhamir pengikat yang sesuai dengan Khalid agar artinya sempurna.

Pertanyaanya adalah: Bagaimana dengan ‘irab kata Kholid ? apakah dia harus manshub atau marfu’ ?

Jawab: Keduanya diperbolehkan. Namun, ketika manshub dan berperan sebagai maf’ul bih, terdapat sesuatu yang hilang dan mesti diperkirakan. Artinya, tidak mungkin ujug-ujug manshub apabila tidak terdapat ‘amil yang menashabkanya.

قال ابن مالك
إن مضمر اسم سابق فعلا شغل # عنه بنصب لفظـــه أو المحــــل # فالسابق انصبه بفعــل أضــمرا # حتمــا مـوافق لما قد أظهرا

Jika Isim berada diposisi sebelum Fi’il, lalu Fi’il tersebut tidak bisa beramal sebagaimana mestinya, nashabkanlah isim yang posisinya diawalkan tersebut oleh fi’il yang disembunyikan (dibuang), yang perkiraan lafadznya sama dengan fi’il yang nampak setelah isim tersebut.

Alhasil, apabila kata Khalid ingin kita nashabkan menjadi maf’ul bih, maka manshubnya dia yaitu dengan fi’il yang dibuang dan diperkiraan seperti berikut:

ضَرَبْتُ خَالدًا ضَرَبْتُهُ

Aku memukul Kholid (aku memukulnya)

Contoh dalam Al-Qur’an:

وَكُلَّ شَيْءٍ فَصَّلْناهُ تَفْصِيلاً سورة الإسراء ١٢

وَكُلَّ : مفعول به منصوب على الاشتغال لفعل محذوف, تقديره فصلنا كل شىء فَصَّلْناهُ

Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas

وَكُلَّ إِنسانٍ أَلْزَمْناهُ طائِرَهُ فِي عُنُقِهِ. سورة الإسراء ١٣

وَكُلَّ : مفعول به منصوب على الاشتغال لفعل محذوف, تقديره أَلْزَمْنا كُلَّ إِنسانٍ أَلْزَمْناهُ

Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. tafsirweb

2. Rukun dan Syarat Isytighal (أركان وشروط الاشتغال)

Dalam kaidah isytighal terdapat rukun yaitu masyghul ‘anhu, masyghul dan masyghul bih dengan rincian sebagai berikut:

a). Masyghul ‘Anhu (مشغول عنه)

Masyghul ‘anhu adalah Isim yang posisinya didahulukan dengan syarat sebagai berikut:

  • Isim tersebut harus didahulukan dari pada ‘amilnya. Jika tidak, maka keluar dari kaidah Isytighal.

ضَرَبْتُهُ خَالِدًا / ضَرَبْتُهُ خَالِدٌ

Apabila diakhirkan seperti ini, lafadz خَالِدًا manshub bukan karena Isytighal, melainkan berperan sebagai badal dari dhamir hu (الهاء) atau marfu’ sebagai mubtada muakkhar

  • Isim tersebut harus dari kategori yang bisa menerima dhamir pengikat. Pada pasal Isytighal ini yaitu maf’ul Bih. Tidak dari kategori isim manshub lainya seperti Tamyiz atau Hal, karena keduanya tidak menerima dhamir pengikat.
  • Isim tersebut harus benar-benar membutuhkan ‘amil yang menashabkanya.

فى البَيْتِ كَلبٌ فَاضْرِبْهُ

Di rumah ada anjing, pukulah dia.

Lafadz كَلبٌ tidak lagi membutuhkan ‘amil karena tanpa adanya Kalimat (فَاضْرِبْهُ ) dia sudah berada pada jumlah mufidah sebagai mubtada muakkhar. Artinya, dia tidak berhak dijadikan masyghul ‘anhu.

  • Isim tersebut harus makrifat atau nakirah mukhtashah (disifati). Artinya, ketika dijadikan maf’ul bih, dia juga harus memungkinkan dijadikan mubtada. Karena memang untuk pasal Isytighal ini tidak terlepas dari i’rab antara menjadi mubtada atau maf’ul bih. Maka dari itu, makrifat merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi

Pelajari apa itu nakirah mukhtas pada materi isim Makrifat dan Nakirah

Contoh:

خَالِدٌ ضَرَبْتُهُ / خَالِدًا ضَرَبْتُهُ
رَجُلُ طَوِيْلُ ضَرَبْتُهُ / رَجُلاً طَوِيْلاً ضَرَبْتُهُ
الرَجُلُ ضَرَبْتُهُ / الرَجُلَ ضَرَبْتُهُ

b). Masyghul (مشغول)

Masyghul adalah ‘amil yang berfungsi menashabkan dhamir pengikat. Amil-amil ini bermacam-macam, terkadang dari jenis Fi’il, Isim Fa’il atau Isim Maf’ul.

Syarat & ketentuan:

  • Apabila ‘amil ini dari jenis fi’il, dia tidak boleh terpisah dengan masyghul ‘anhu, seperti:

خَالدٌ أَنْتَ تَضْرِبُهُ
الرَجُلُ أَنْتَ تَسْمَعُهُ

Karena lafadz الرَجُلُ dan خَالدٌ (masyghul ‘anhu) dari amil lafadz تَضْرِبُ yang terpisah oleh dhamir أنت, maka dia tidak masuk kaidah Isytighal. Artinya, kedua isim خَالدٌ dan الرَجُلُ tetap berada pada lingkaran marfu’ sebagai mubtada.Terkecuali, apabila ‘amilnya dari jenis isim fa’il atau isim maf’ul, maka boleh terpisah seperti contoh berikut:

خَالدًا أَنْتَ ضَارِبُهُ الآن
الكتابَ أَنْتَ مُعْطَاهُ

Lihat referensi:

انظر : شرح التصريح : 1/305 ، وشرح المفصل : 2/34

  • ‘Amil-‘Amil ini harus dari kategori fi’il mutasharif atau isim muystaq seperti Isim fa’il, Isim Maf’ul, sifat muysabahhah dan sighah mubalaghah. Bukan dari Isim Jamid, huruf ataupun isim fi’il yang pada dasarnya tidak beramal menashabkan isim yang posisinya diawalkan.

Contoh1 :

خَالِدٌ إنّه فَاضِلُ

Lafadz خَالِدٌ tidak boleh manshub karna إنَّ adalah huruf yang tidak beramal menashabkan isim apabila posisinya diawalkan.

Contoh2 :

خَالِدٌ مَا أَفْضَلَهُ

Lafadz خَالِدٌ tidak boleh manshub karena lafadz مَا أَفْضَلُ adalah fi’il amid yang dipakai pada Uslub Ta’ajub yang tidak beramal menashabkan isim sebelumnya.

Catatan:

  • Khusus dalam penggunaan ‘amil dari jenis Isim fa’il dan sighat mubalaghah harus menunjukan waktu hadir dan mustaqbal. Artinya mesti terdapat kata tambahan yang menunjukan arti sekarang atau akan datang. Seperti:

الدَّرْسَ أَنَا مُذَاكِرُهُ الآن / الدَّرْسَ أَنَا مُذَاكِرُهُ غدًا

Aku sedang menghafal materi ini sekarang/ Aku akan menghafal materi ini besok

Namun, apabila ‘amil dari jenis isim fa’il dan sighat mubalaghah tersebut menunjukan waktu lampau, maka tidak boleh menashabkan masyghul ‘anhu sebagai maf’ul ih. Seperti contoh berikut:

الدَّرْسُ أَنَا مُذَاكِرُهُ أَمْسِ

Materi ini telah aku hafalkan kemarin

  • Khusus dalam penggunaan ‘amil dari jenis isim maf’ul, dia wajib nakirah tanpa alif lam ta’rif

الكتابُ/الكتابَ أَنْتَ مُعْطَاهُ ✔️

Tidak boleh seperti di bawah ini:

الكتابُ/الكتابَ أَنْتَ المُعْطَاهُ ❌

c). Masyghul Bih (مشغول به)

Masyghul Bih adalah dhamir pengikat yang secara makna kembali kepada isim yang diawalkan (masyghul ‘anhu)

Posisi dhamir pengikat boleh berada di tiga tempat sebagai berikut:

  • Terletak langsung setelah ‘amil (berada di tempat manshub)

خَالِدًا ضَرَبْتُهُ

  • Terhalang isim dzahir, dimana ia menjadi mudhaf Ilaih dari isim dzahir tersebut, seperti

خَالِدًا ضَرَبْتُ أخَاه

  • Terhalang huruf Jar, dimana ia menjadi objek dengan perantara huruf Jar karena ‘amilnya dari kategori fi’il lazim yang tidak bisa menashabkan maf’ul bih secara langsung, seperti

خَالِدًا أَعْجَبْتُ بِهِ
خَالِدًا مَرَرْتُ بِهِ

Aku kagum dengan kholid / Aku berpapasan dengan Kholid

Lihat referensi:

انظر : النحو العربى، ص ٤٠٢

3. Hukum Masyghul ‘Anhu (مشغول عنه)

Di sini akan dibahas mengenai hukum masyghul ‘anhu dari sisi kapan wajib dan boleh manshub atau marfu’.

a). Wajib Manshub berperan sebagai Maf’ul Bih

قال ابن مالك
وَالنَّصْبُ حَتْمٌ إِنْ تَلاَ السَّابِقُ مَا # يَخْتَصُّ بِالْفِعْلِ كَإِنْ وَحَيْثُمَا

Terdapat tiga posisi dimana masyghul ‘anhu hukumnya wajib manshub sebagai maf’ul bih

  • ketika masyghul ‘anhu didahului perangkat syarat (uslub syarat) yang khusus masuk pada isim, seperti إِنْ/حَيْثُمَا.

Contoh:

حَيْثُمَا خالدًا قَابَلْتَهُ فَأَنَا أُرَحِّبُ بَهِ

Dimanapun kau bertemu Kholid, maka aku akan menyambutnya.

إِنْ خَالدًا قَابَلْتَهُ فَأَنَا أُرَحِّبُ بَهِ

Jika kau menemui Kholid, maka aku akan menyambutnya.

  • ketika masyghul ‘anhu didahului perangkat Istifham (selain istifham hamzah).

Kenapa Hamzah tidak masuk ? karena dia tidak dikhususkan untuk fi’il seperti Istifham lainya.

أَ زَيدٌ فِي البيتِ
أ نَجَحَ زَيدٌ

Apakah zaid dirumah ? / apakah zaid lulus ?

Dan ketika hamzah ini masuk pada isim, dia tidak mengharuskan Isim tersebut wajib manshub، sebab boleh juga marfu’. Namun, ber’irab manshub lebih diutamakan. Contoh:

فَقَالُوٓا۟ أَبَشَرًۭا مِّنَّا وَٰحِدًۭا نَّتَّبِعُهُۥٓ إِنَّآ إِذًۭا لَّفِى ضَلَٰلٍۢ وَسُعُرٍ. سورة القمر ٢٤

أَ : الهمزة حرف استفهام
بَشَرًا : مفعول به منصوب على الاشتغال
…..تقدير : أَ نَّتَّبِعُ بَشَرًا مِّنَّا

Jadi terjemahnya seperti ini:

Maka mereka berkata, “Bagaimana kita akan mengikuti seorang manusia di antara kita? Sungguh, kalau begitu kita benar-benar telah sesat dan gila.

Lihat referensi:

انظر : النحو العربى، ص ٤١٣ /٤٢٨

Contoh:

هَلْ كِتَابًا اِشْتَرَيْتَهُ؟
التقدير : هل اشتريت كتابا؟

مَتَى صَدِيْقَكَ زُرْتَهُ ؟
التقدير ‘ متى زرت صديقك ؟

أين القَلَمَ وَجَدْتَهُ ؟
التقدير : أين وَجَدْتَ القَلَمَ

Lihat artikel terkait:

  • ketika masyghul ‘anhu didahului perangkat ‘aradh atau tahdidh (أداة العرض/أداة التحضيض) seperti أَلَا/هلّا/ لوما/ ألّا (apakah tidak, ketahuilah, mengapa tidak, ingatlah). Contoh:

أَلاَ الدَّرْسَ تُذَاكِرُهُ

Mengapa kau tidak menghafal pelajaran.

هَلّا الصَّدِيْقَ أَكْرَمْتَهُ

Mengapa kau tidak menghormati kawan

Perangkat ألا، هلّا ini melahirkan makna berbeda-beda sesuai tujuan pemakaianya, lebih lengkap pelajari materi “Gaya Bahasa ‘Aradh, Tahdidh dan Taubiikh”.

Baca juga: Kaidah Maf’ul Bih

Di atas disebutkan bahwa syarat isim yang didahulukan wajib manshub yaitu ketika didahului perangkat syarat, istifham dan ‘ardh dari jenis yang dikhususkan masuk pada fi’il. Lalu apakah isim tersebut mutlak wajib manshub ? Bukankah perangkat-perangkat di atas terkadang juga masuk pada isim, lalu dimana kekhususanya ?

Jawab:

  • Perangkat-perngkat di atas pada dasarnya dikhususkan masuk pada fi’il. Maksudnya, apabila pada susunan kalimat terdapat isim dan fi’il, maka  fi’il lebih berhak menempati posisi setelah perangkat di atas.

Perhatikan dan bandingan ketiga contoh berikut:

هَلْ خالدٌ قائمٌ

Pada contoh ini tidak terdapat fi’il, jadi isim berhak menempati posisi setelah هل. Ini adalah susunan mubtada dan khabar (Jumlah Ismiyyah)

هل قام خالدٌ

Pada contoh ini terdapat fi’il dan isim secara bersamaan, dimana posisi fi’il setelah هل sangat tepat karna itu adalah hak istimewa fi’il. Menurut “Jumhur Ulama” susunan seperti ini disebut dengan fasih.

هَلْ خالدٌ قام

Pada contoh ini terdapat isim dan fi’il secara bersamaan, dimana posisi isim didahulukan, padahal fi’il lebih berhak menempatinya. Bukan berarti salah. Namun, menurut “Jumhur Ulama” susunan seperti ini kurang fasih”.

  • Menashabkan Isim yang berada setelah perangkat khusus fi’il tidaklah mutlak. Ini hanya berlaku ketika posisi isim diawalkan dari fi’il agar memenuhi kriteria untuk bisa disebut dengan masyghul ‘anhu. Adapun jika tidak, maka tidak ada kewajiban untuk menashabkanya, meskupun Isim terletak setelah perangkat-perangkat di atas.

b). Wajib marfu’ berperan sebagai mubtada

قال ابن مالك
وَإنْ تَلاَ السَّابِقُ مَا بِالاِبْتِدَا # يَخْتَصُّ فالرَّفْعَ الْتَزِمْهُ أَبَدَا # كَذَا إِذَا الْفِعْلُ تَلاَ مَا لَمْ يَرِدْ # مَا قَبْلُ مَعْمُولاً لِمَا بَعْدُ وُجِدْ

  • Masyghul ‘Anhu wajib marfu’ ketika didahului perangkat Idza Fazaaiyyah ( إذا فجاءية) dan أمَّا Syartiyyah yang keduanya khusus masuk pada Isim (mubtada).

Lihat pembahasan idza fajaiyyah pada materi dzharaf (maf’ul fih)

Contoh1:

وَصَلْتُ إلى البيت فَإذا الثعبانُ يَضْرِبُهُ خالدٌ

Aku sampai rumah, tiba-tiba kholid sedang memukul ular.

Lafadz الثعبان adalah masyghul ‘anhu yang wajib marfu’ sebagai mubtada karena didahului perangkat idza fazaaiyyah yang khusus masuk pada isim

Contoh ‘Irab:

وصلت : وصل فعل ماض مبني على السكون لاتصاله بـ تاء الفاعل ،وتاء الفاعل ضمير متصل مبني على الضم في محل رفع
إلى البيت : جر ومجرور متعلق يفعل وصل
فإذا : الفاء: حرف مبني على الفتح لا محل له من الإعراب. إذا : الفجائية
الثعبانُ : مبتدأ مرفوع ، وعلامة رفعه الضمة الظاهرة
يَضْرِبُهُ : يضرب فعل مضارع مرفوع وعلامة رفعه الضمة الظاهرة
الهاء : ضمير متصل مبني على الضم في محل نصب وهو رابط لاسم المقدم
خالدٌ : فاعل مؤخر مرفوع ، وعلامة رفعه الضمة الظاهرة

Contoh2:

وَأَمَّا ثَمُودُ فَهَدَيْناهُمْ. سورة فصلت : ١٧

وَ : الواو حرف عطف
أَمَّا : حرف شرط
ثَمُودُ : مبتدأ
فَ : الفاء واقعة في جواب الشرط
هَدَيْناهُمْ : فعل وفاعله ومفعوله
جملة “فَهَدَيْناهُمْ” : خبر

Lihat artikel terkait: Perbedaan Idz dan Idza dan Cara Penggunaanya Dalam Kalimat

  • Masyghul ‘anhu wajib marfu’ sebagai mubtada ketika dia dan masyghul (‘amil), terpisah oleh Isim atau huruf yang tidak beramal menashabkan isim sebelumnya.

Isim-Isim atau huruf pemisah ini seperti, isim syarat, isim istifham, Lam Ibtida, ‘ard, tahdidh, kam khabariyyah، isim maushul, wawu qosam, ta’ajub, huruf nasikh kana waakhwatuha atau inna waakhwwtuha dan huruf ma nafyi.

Perhatikan setiap contoh:

المسجدُ هَلْ صَليتَ فيها؟

Apakah kau sholat di mesjid ?

خَالدٌ إِنْ قَابَلْتَهُ فَأَنَا أُرَحِّبُ بَهِ

Jika kau menemuinya ( Kholid), aku akan menyambutnya

الدَّرْسُ ألا تُذَاكرُهُ

Mengapa kau tidak menghafalnya (pelajaran)

الصديقُ هَلّا أَكْرَمْتَهُ

Mengapa kau tidak menghormati dia (kawan)

 !الأموالُ كَمْ أَنْفَقْتَهَا

Berapa banyak (Banyak sekali) kau menginfakan harta !

الثَعبَانُ الَّذِى ضَرَبْتَهُ قَدْ مَاتَ

Ular yang kau pukul sudah mati

المُجْتَهِدُ واللَّهِ لَأُكَافِئَنَّهُ

Demi Allah aku akan memberikan hadiah kepadanya (orang rajin)

الصَّدِيْقُ مَا أَكْرَمَهُ

Alangkah mulyanya dia (seorang kawan)

الصَّدِيْقُ إِنِّى احْتَرَمْتُهُ

Sungguh aku menghormari dia (seorang kawan)

المُجْتَهِدُ لَقَدْ كَافأتُهُ

Sungguh aku telah memberikan hadiah kepadanya (orang rajin)

الصَّدِيْقُ مَاضَرَبْتُهُ قَطٌّ

Aku tidak pernah memukul dia (seorang kawan) sebelumnya /sama sekali.

Contoh ‘Irab:

المسجدُ : مبتدأ مرفوع ، وعلامة رفعه الضمة الظاهرة
هل : أداة استفهام مبني على السكون لا محل له من الإعراب
صليت : فعل ماض مبني على السكون لاتصاله بـ تاء الفاعل ، والتاء ضمير متصل مبني على الفتح في محل رفع فاعل
فيها : جار ومجرور متعلق بـ (صليت) وجملة صليت” في محل رفع خبر المبتدأ
  • Masyghul ‘anhu wajib marfu’ ketika didahului huruf wawu hal

جِئْتُ وَالبَيْتُ يَمْلُؤُهُ الضُّيُوْفُ

Aku datang dalam keadaan rumah dipenuhi tamu.

Lafadz البيت adalah masyghul ‘anhu yang wajib marfu’ sebagai mubtada karena dahului huruf wawu hal.

Contoh ‘Irab:

جئتُ : فعل ماض مبني على السكون لاتصاله بتاء الفاعل ، والتاء ضمير متصل مبني على الضم في محل رفع فاعل .
و : واو الحال ، حرف مبني على الفتح لا محل له من الإعراب
البيت : مبتدأ مرفوع ، وعلامة رفعه الضمة الظاهرة
يملؤه : فعل مضارع مرفوع ، وعلامة الرفع الضمة
ه : ضمير مبني على السكون في محل نصب مفعول به
الضيوف : فاعل مرفوع وعلامة رفعه الضمة
جملة (يملؤه) في محل رفع خبر المبتدأ
الجملة الاسمية (والبيت يملؤه الضيوف ) في محل نصب حال

c). Boleh memilih antara Marfu’ atau Manshub

قال ابن مالك
وَإِنْ تَلاَ الْمَعْطُوفُ فِعْلاً مُخْبَرَا # بِهِ عَنِ اسْمٍ فَاعْطِفَنْ مُخَيَّرَا

  • Masyghul ‘anhu boleh marfu’ atau manshub ketika posisinya berada setelah kalimat, dimana ia di’athafkan kepada kalimat tersebut, seperti

خَالدٌ قَامَ أَبُوْهُ و زَيْدٌ أَكْرَمْتُهُ

Pada contoh di atas terdapat dua kalimat: ( Ayah Kholid berdiri dan Zaid yang aku hormati)

Kalimat زَيْدٌ أَكْرَمْتُهُ ma’tuf kepada kalimat خَالدٌ قَامَ أَبُوْهُ , dimana kaidah berkata: “lafadz Zaid sebagai masyghul ‘anhu boleh manshub (زَيْدًا) dan atau marfu’ (زَيْدٌ)

Contoh ‘Irab:

خَالدٌ : مبتدأ
قَامَ أَبُوْهُ : فعل و فاعل
جملة قَامَ أَبُوْهُ : خبر
و : حرف عطف
زَيْدٌ : مبتدأ
أَكْرَمْتُهُ : خبر
جملة زَيْدٌ أَكْرَمْتُهُ : معطوفة على جملة اسمية قبلها
زَيْدًا : مفعول به منصوب على الاشتغال
أَكْرَمْتُهُ : خبر
جملة زَيْدًا أَكْرَمْتُهُ : معطوفة على جملة فعلية قبلها

Perhatikan perbedaan ‘Irab kedua kalimat di atas, tatkala Zaid marfu’ ( زَيْدٌ أَكْرَمْتُهُ), berarti di’athafkan kepada jumlah ismiyyah sebelumnya (خَالدٌ قَامَ أَبُوْهُ) dan tatkala Zaid manshub ( زَيْدًا أَكْرَمْتُهُ), berarti di’athafkan kepada jumlah fi’liyyah ( قَامَ أَبُوْهُ)


d). Diutamakan Marfu’

  • Masyghul ‘anhu lebih diutamakan marfu’ sebagai mubtada dari pada manshub sebagai maf’ul bih ketika dia tidak didahului apapun.

Contoh:

خَالدٌ ضَرَبْتُهُ

Meskipun Lafadz خَالدٌ boleh manshub dengan memperkirakan ‘amil yang dibuang. Namun, dengan marfu’ dan tanpa ada perkiraan akan lebih utama (Jumhur Ulma).

قال ابن مالك
و الرفع في غير الذي مر رجح # فما أبيح افعل ودع ما لم يبح

قوله تعالى
جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا. الرعد ٢٣


e). Diutamakan Manshub

  • Masyghul ‘anhu lebih diutamakan manshub sebagai maf’ul bih dari pada marfu’ sebagai mubtada, ketika ‘amilnya berupa perintah dan larangan, atau ketika ia didahului hamzah istifham yang sudah dijelaskan di atas.

قال ابن مالك
و اختير نصب قبل فعل ذي طلب # وبـــعدمـــا إيـلاؤه الفعل غلب # وبعد عاطف بلا فصـــل على   معمــــول فعل مـــستقر أولا

Contoh:

خَالدًا لا تَضْرِبْهُ

Jangan pukul Kholid

خَالدًا اِضْرِبْهُ

Pukulah kholid

خَالدًا : مفعول به منصوب على الاشتغال ، وعلامة نصبه الفتحة الظاهرة لفعل محذوف دل عليه المذكور.
تقدير : اِضْرِبْ خَالدًا
اِضْرِبْهُ : فعل أمر مبني على السكون ، والهاء : ضمير متصل مبني على الضم ، في محل نصب مفعول به ، والفاعل ضمير مستتر وجوبا ، تقديره :أنت
  • Apabila dengan manshubnya masyghul ‘anhu, akan melahirkan makna yang nampak jelas.

Contoh:

قوله تعالى
إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْناهُ بِقَدَرٍ. سورة القمر ٤٩

Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran/taqdir

Lafadz كُلَّ adalah masyghul ‘anhu sebagai maf’ul bih, dimana ia lebih diutamakan manshub dari pada marfu’) dengan tujuan menampakan makna yang lebih jelas, bahwa segala sesuatu itu diciptakan oleh Allah S.W.T.

Contoh ‘Irabnya:

إِنَّا : إن + اسم إن
كُلَّ : مفعول به منصوب على الاشتغال لفعل محذوف و مضاف إلى شيء
شَيْ ءٍ : مضاف إليه
خَلَقْناهُ : فعل ماض وفاعله ومفعوله
بِقَدَرٍ : جر مجرور

Lalu mana kabar inna pada kalimat di atas ? Jawab: Khabar inna yaitu fi’il yang dibuang dan diperkirakan, dimana ia amil yang menashabkan masyghul ‘anhu)

Perkiraanya:

إِنَّا خَلَقْنَا كُلَّ شَئٍ خَلَقْناهُ بِقَدَرٍ

إِنَّا : إن + اسم إن
خَلَقْنا : الجملة الفعلية المقدرة وهي خبر إن

Hai orang-orang Qodariyyah, hai orang-orang Qurais yang telah mendustakan Taqdir Allah !

ketahuilah bahwa Kami menciptakan segala sesuatu sesuai yang Kami taqdirkan, bahkan sebelum sesuatu itu ada, kami sudah menentukanya. Tidak ada sesuatu apapun diseluruh alam semesta ini baik alam atas maupun alam bawah, kecuali hanya Kami yang menciptakanya.

Tidak ada sekutu bagi Kami dalam menciptakan semuanya. Kami menciptakan berdasarkan ketentuan yang telah terdahulu dan berdasar waktu dan ukuran yang ditetapkan.

Demikian pembahasan kaidah isytighal, atas segala kekuranganya bisa merujuk referensi berikut di bawah. Wallahu’alam


المراجع

انظر : النحو العربى، ص ٤٠٠-٤٢٠
انظر : همع الهوامع، ج٢, ص ١١٣
لنظر : وشرح الكافية للرضي، ج١, ص ٤٠٦
انظر : المقتضب للمبرد، ج٣, ص ٢٢٥
انظر : سيبويه، ج١, ص ١٣٤
انظر : شرح التصريح، ج١، ص٣٠٥
انظر : شرح المفصل، ج٢ ، ٣٤

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 4.9 / 5. Vote count: 354

No votes so far! Be the first to rate this post.

Isim Isyarah, Definisi, Pembagian dan I’irabnya

 الإسم الإشارة (Kata Tunjuk)1. Definisi Isim Isyarah أسماء الإشارة هي أحد أنواع المعارف الستة، وهي أهم الأسماء المعرفة والمبنية والتي تستخدم للقريب والبعيد،...

Mengetahui apa itu I’rab (إعراب) dan Tandanya.

بسم الله الرحمن الرحيم Bagi Antum yang baru terjun belajar bahasa arab pasti merasa bingung dengan perubahan harakat huruf akhir sebuah kata...

Juha Memiliki Sebuah Paku

جُحَا يَمْلِكُ مِسْمَارًاJuha Memiliki Sebuah Pakuكَانِ لِجُحَا جَارٌ ثَقِيْلٌ يَسْكُنُ فِي بَيْتٍ مُجَاوِرٍ لِبَيْتِ جُحَا، وَقَدْ اعْتَادَ الجَارُ مُضَايَقَةَ جُحَا بِصِفَةٍ مُسْتَمِرَّةٍ وافْتِعَالِ المُشَاجَرَاتِJuha...

Juha dan Clotehan Orang-Orang

جُحَا وَكَلاَمُ النَّاسِJuha dan Clotehan Orangقَالَ جُحَا لِابْنِهِ : هٰذَا يَوْمٌ جَمِيْلٌ يَا أَمِيْرُ، فَالشَّمْسُ مُشْرِقَةٌ وَالسَّمَاءُ صَافِيَةٌ، وَلِذَا فَإِنِّي سَأَذْهَبُ إِلى سُوْقِ القَرْيَةِ...

Kaidah Maf’ul Liajlih (مفعول لأجله) Lengkap Dengan Contoh ‘Irabnya

Maf'ul Liajlih ( مفعول لأجله ) Pada materi sebelumnya kita sudah selesai membahas Maf'ul Bih ( مفعول به ), Maf'ul Fih ( مفعول فيه )...

Cerpen Keluargaku Bahagia Bahasa Arab

قِصَّةٌ قَصِيْرَةٌ عَنْ عَائِلَتِى الْسَعِيدَةِ  Cerpen Keluargaku Bahagiaأسْرتِي الْصَغِيْرَةُ تَتَكَوَّنُ مِنْ خَمْسَةِ أَفْرَادٍ, مِنْهَا الْأَبُ وَ كُنْتُ أبًّا, وَالْأُمُ, وَاِبْنِى اسمُهُ مُحَمَّد زيدان عُمْرُهُ سِتُّ...

3 COMMENTS

  1. Assalamualaikum. apakah perbedaan atau manfaat menggunakan pola sebegini dari مفعول به مقدم atau mubtada yg khabarnya jumlah filiyah?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Fi’il Mu’tal Lafif Mafruq ( المعتل اللفيف المفروق)

Fi'il Mu'tal Lafif Mafruq ( المعتل اللفيف المفروق) Lengkap Tashrif Lanjutan dari pembahasan fi'il mu'tal mitsal, mu'tal ajwaf dan mu'tal...

I’rab kalimat (ربا،دينا، نبيا)Pada Bacaan Dzikir Pagi/Petang

Pertanyaan dari Ukhty Nur Hasanah terkait i'rab kalimat pada bacaan dzikir Pagi/PetangBagaimanakah i'rab kalimat رَبًّا, دِيْنًا,نَبِيًّا pada bacaan dzikir...