Kaidah Isytighal (الاشتغال)

Must Read

Maf’ul Ma’ah (المفعول معه), Hukum ‘Irab dan Ketentuanya

Bismillahirahmanirahim. In Syaa allah kita akan membahas materi maf'ul ma'ah beserta ketentuan dan kaidah 'irabnya. Perhatikan paragraf berikut: خَرَجَ خَالِدٌ وَطُلُوْعَ...

Macam-Macam Maa (ما), fungsi dan ‘Irabnya

Ada berapa banyak jumlah Maa (ما) dalam bahasa arab dan bagaimana cara penggunaanya dalam kalimat ?. Kira-kira seperti itu...

Mengenal Uslub Qasam (أُسْلُوْبُ القَسَمِ)

Materi uslub qasam (sumpah) yang akan kita bahas meliputi pengertian uslub qasam secara bahasa, istilah, rukun, jumlah (kalimat) qasam,...
TMBAhttps://bahasa-arab.com/
Belajar Bahasa Arab tidak semudah membalikan telapak tangan, butuh keseriusan dan istiqomah. Namun tidak ada kata terlambat jika kita ingin ingin mempelajarinya.

4.7
(351)

Isytighal (الاشتغال)

Pada kesempatan kali ini kita akan membahas materi Isytighal, rukun, syarat dan contoh ‘irabnya.

Perhatikan rumus berikut:

Pola susunan normal dalam Bahasa Arab

(جملة فعلية (فعل + فاعل + مفعول به

فعل + اسم + اسم
ضَرَبَ خَالدٌ زَيْدًا
_______
(جملة اسمية (مبتدأ + خبر

اسم + اسم
خالد نَاجِحٌ

اسم + فعل + اسم
خَالدٌ ضَرَبَ زَيْدًا

اسم + اسم +اسم + اسم
خَالدٌ أَخُوهُ نَاجِحٌ

اسم + شبه جملة
خَالدّ أَمَامَ البَابِ/خَالدّ فِي البَيتِ

Pola susunan isytighal

(جملة اسمية (مفعول به + فعل + فاعل

اسم + فعل + فاعل + اسم ضمير رابط
خَالِدًا ضَرَبْتُهُ

اسم + فعل + فاعل+ اسم ظاهر + ضمير رابط
خَالِدًا ضَرَبْتُ أخَاه

اسم + فعل + فاعل + حرف جر + ضمير رابط
خَالِدًا أَعْجَبْتُ بِهِ

اسم + فعل + فاعل + حرف جر + اسم ظاهر + ضمير رابط
خَالِدًا أَعْجَبْتُ بِأخيه

اسم + فعل + اسم + ضمير رابط + اسم + ضمير رابط
خالدًا ضَرَبَ أبُوْهُ أَخَاهُ

Ayah (Kholid) telah memukul saudaranya (Kholid)

Stuktur kalimatnya tidak berbeda dengan Jumlah Ismiyyah (Mubtada Khobar) karena sama-sama diawali dengan Isim. Perbedaanya dari segi kedudukan ‘Irab Isim yang diawalkan antara dirafa’kan dan di’irab mubtada atau dinashabkan dan di’irab maf’ul bih.

Pelajari Kaidah Mubtada &Khobar 

Pada kaidah Isytighal, Isim yang posisinya diawalkan disebut dengan “Masyghul ‘Anhu” yang boleh di’irab sebagai Mubtada atau Maf’ul Bih. Tentunya sesuai ketentuan dan syarat yang akan kita bahas.

Definisi Isytighal (تعريف الاشتغال)

اشتغال فعل أو ما يقوم مقام الفعل عن اسم متقدم عليه بضمير هذا الاسم ، أو بما نسب إلى ضميره أو ملابسه ، ولو تفرغ الفعل للاسم أو لما نسب إلى ضميره لنصبه لفظا أو محلا

Iystighal adalah pola susunan kalimat dimana posisi Isim berada sebelum Fi’il. Kemudian fungsi dari Fi’il dalam menashabkan Maf’ulnya diganti dengan dhamir pengikat yang kembali kepada Isim yang posisinya didahulukan.

Perhatikan:

خَالِدًا ضَرَبْتُهُ
اسم + فعل + فاعل + ضمير رابط لِخَالد

Fi’il dan Fa’il pada contoh di atas sudah pasti membutuhkan objek yang harus mereka nashabkan. Namun posisi Mas Kholid berada diawal, jadi tidak bisa mereka nashabkan. Dengan demikian, diletakanlah dhamir pengikat yang sesuai untuk kata ganti Mas Kholid agar artinya sempurna.

Pertanyaanya adalah: Bagaimana dengan ‘irab kata Kholid ? apakah dia harus Nashab atau Rafa ?

Jawab: Keduanya diperbolehkan, namun ketika dijadikan nashab dan dijadikan maf’ul bih, berarti ada sesuatu yang hilang dan mesti diperkirakan. Tidak mungkin ujug-ujug manshub apabila tidak terdapat ‘amil yang menashabkanya.

قال ابن مالك
إن مضمر اسم سابق فعلا شغل # عنه بنصب لفظـــه أو المحــــل # فالسابق انصبه بفعــل أضــمرا # حتمــا مـوافق لما قد أظهرا

Jika Isim berada diposisi sebelum Fi’il, lalu Fi’il tersebut tidak bisa beramal sebagaimana mestinya, nashabkanlah Isim yang posisinya diawalkan tersebut oleh Fi’il yang disembunyikan (dibuang), yang perkiraan lafadznya sama dengan Fi’il yang nampak setelah isim tersebut.

Alhasil, apabila kata Khalid ingin kita nashabkan menjadi maf’ul bih, maka manshubnya dia yaitu dengan fi’il yang dibuang dan diperkiraan seperti berikut:

ضَرَبْتُ خَالدًا ضَرَبْتُهُ

Aku memukul Kholid (aku memukulnya)

Contoh dalam AlQuran:

وَكُلَّ شَيْءٍ فَصَّلْناهُ تَفْصِيلاً سورة الإسراء ١٢

وَكُلَّ : مفعول به منصوب على الاشتغال لفعل محذوف, تقديره فصلنا كل شىء فَصَّلْناهُ

Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas

وَكُلَّ إِنسانٍ أَلْزَمْناهُ طائِرَهُ فِي عُنُقِهِ. سورة الإسراء ١٣

وَكُلَّ : مفعول به منصوب على الاشتغال لفعل محذوف, تقديره أَلْزَمْنا كُلَّ إِنسانٍ أَلْزَمْناهُ

Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya.

Rukun dan Syarat Isytighal

1. Masyghul ‘Anhu (مشغول عنه)

Masyghul ‘anhu adalah Isim yang posisinya didahulukan dengan syarat sebagai berikut:

  • Isim tersebut harus didahulukan dari pada ‘Amilnya. Jika tidak, maka keluar dari kaidah Isytighal.

ضَرَبْتُهُ خَالِدًا / ضَرَبْتُهُ خَالِدٌ

Apabila diakhirkan seperti ini, lafadz خَالِدًا manshub bukan karena Isytighal, melainkan Badal dari dhomir Hu ( ه) atau Marfu sebagai Mubtada Muakhor

  • Isim tersebut harus dari kategori yang bisa menerima dhomir pengikat. Pada pasal Isytighal ini yaitu maf’ul Bih. Tidak dari kategori Isim manshub lainya Tamyiz atau Hal karena keduanya tidak menerima dhamir pengikat.
  • Isim tersebut harus benar-benar membutuhkan ‘amil untuk menashabkanya.

فى البَيْتِ كَلبٌ فَاضْرِبْهُ

Di rumah ada anjing, pukulah dia.

Lafadz كَلبٌ tidak lagi membutuhkan ‘amil karena tanpa adanya Kalimat (فَاضْرِبْهُ ) dia sudah berada pada Jumlah Mufidah sebagai (Mubtada Muakkhar) dengan Khobar muqaddam. Artinya, dia tidak berhak dijadikan Masyghul ‘Anhu.

  • Isim tersebut harus Makrifat atau Nakirah Mukhtashah (disifati). Artinya, ketika dijadikan Maf’ul Bih, dia juga harus memungkinkan dijadikan Mubtada. Karena memang untuk pasal Isytighal ini tidak terlepas dari ‘Irab antara menjadi Mubtada atau Maf’ul Bih. Maka dari itu, Makrifat merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi

Pelajari apa itu nakirah mukhtas pada materi isim Makrifat dan Nakirah

Contoh:

خَالِدٌ ضَرَبْتُهُ / خَالِدًا ضَرَبْتُهُ
رَجُلُ طَوِيْلُ ضَرَبْتُهُ / رَجُلاً طَوِيْلاً ضَرَبْتُهُ
الرَجُلُ ضَرَبْتُهُ / الرَجُلَ ضَرَبْتُهُ

Keadaan ‘Irab Rafa’ atau Nashab untuk Isim-Isim yang diawalkan ini (Masyghul ‘Anhu) keduanya diperbolehkan.

2. Masyghul (مشغول)

Masyghul adalah ‘amil yang berfungsi menashabkan dhamir pengikat. Amil-amil ini bermacam-macam, terkadang dari jenis Fi’il, Isim Fa’il atau Isim Maf’ul.

Syarat:

  • Apabila ‘amil ini dari jenis fi’il, dia tidak boleh terpisah dengan Masyghul ‘Anhu. Misalkan:

خَالدٌ أَنْتَ تَضْرِبُهُ
الرَجُلُ أَنْتَ تَسْمَعُهُ

Karena lafadz الرَجُلُ dan خَالدٌ (Masyghul ‘Anhu) dan ‘Amilnya Lafadz تَضْرِبُ, terpisah oleh Dhomir أنت, maka dia tidak berhak masuk kaidah Isytighal dan dinashabkan. Jadi kedua isim خَالدٌ dan الرَجُلُ tetap berada pada lingkaran Rafa sebagai Mubtada.

Terkecuali, apabika ‘amilnya dari jenis Isim Fa’il atau Isim Maf’ul, maka boleh terpisah seperti contoh berikut:

خَالدًا أَنْتَ ضَارِبُهُ الآن
الكتابَ أَنْتَ مُعْطَاهُ

Lihat referensi:

انظر : شرح التصريح : 1/305 ، وشرح المفصل : 2/34

  • ‘Amil-‘Amil ini harus dari kategori Fi’il Mutasharif atau isim muystaq seperti Isim Fa’il, Isim Maf’ul, Sifat Muysabahah dan Syigh Mubalaghah. Bukan dari Isim Jamid, Huruf ataupun Isim Fi’il yang pada dasarnya tidak beramal menashabkan Isim yang diawalkan posisinya.

Contoh1 :

خَالِدٌ إنّه فَاضِلُ

Lafadz خَالِدٌ tidak boleh manshub karna إنَّ adalah huruf yang tidak beramal menashabkan isim apabila posisinya diawalkan.

Contoh2 :

خَالِدٌ مَا أَفْضَلَهُ

Lafadz خَالِدٌ tidak boleh manshub karena lafadz مَا أَفْضَلُ adalah Fi’il Jamid yang dipakai pada Uslub Ta’ajub yang tidak beramal menashabkan isim sebelumnya.

Catatan:

  • Khusus dalam penggunaan ‘Amil dari jenis Isim Fa’il dan Sighat Mubalaghah harus menunjukan waktu Hadir dan Mustaqbal. Artinya mesti ada kata tambahan yang menunjukan arti sekarang atau akan datang. Seperti:

الدَّرْسَ أَنَا مُذَاكِرُهُ الآن / الدَّرْسَ أَنَا مُذَاكِرُهُ غدًا

Aku sedang menghafal materi ini sekarang/ Aku akan menghafal materi ini besok

Namun apabika ‘Amil dari jenis Isim Fa’il dan Sighat Mubalaghah ini menunjukan waktu lampau. Maka tidak boleh menashabkan Masyghul ‘Anhu sebagai Maf’ul Bih. Seperti contoh berikut:

الدَّرْسُ أَنَا مُذَاكِرُهُ أَمْسِ

Materi ini telah aku hafalkan kemarin

  • Khusus dalam penggunaan ‘Amil dari jenis Isim Maf’ul, dia wajib nakirah tanpa alif lam ta’rif

الكتابُ/الكتابَ أَنْتَ مُعْطَاهُ

Tidak boleh seperti di bawah ini:

الكتابُ/الكتابَ أَنْتَ المُعْطَاهُ

3. Masyghul Bih (مشغول به)

Masyghul Bih adalah dhamir pengikat yang secara makna kembali kepada Isim yang diawalkan (Masyghul ‘Anhu)

Posisi dhamir pengikat boleh berada di tiga tempat:

  • Terletak langsung setelah ‘Amil (Berada ditempat Manshub)

خَالِدًا ضَرَبْتُهُ

  • Terhalang Isim Dzahir ( menjadi mudhaf Ilaih dan berada di tempat majrur yang diidhofatkan pada Isim dzhahir di tempat manshub)

خَالِدًا ضَرَبْتُ أخَاه

  • Terhalang huruf Jar (Menjadi Objek dengan perantara Huruf Jar karena ‘Amilnya Fi’il Lazim)

خَالِدًا أَعْجَبْتُ بِهِ
خَالِدًا مَرَرْتُ بِهِ

Aku kagum dengan kholid / Aku berpapasan dengan Kholid

Lihat referensi:

انظر : النحو العربى، ص ٤٠٢

Hukum Masyghul ‘Anhu (مشغول عنه)

Di sini akan dibahas mengenai hukum Masyghul ‘Anhu dari sisi kapan wajib nashab atau rafa, dan kapan dia boleh Nashab atau Rafa.

1. Wajib Nashab sebagai Maf’ul Bih

قال ابن مالك
وَالنَّصْبُ حَتْمٌ إِنْ تَلاَ السَّابِقُ مَا # يَخْتَصُّ بِالْفِعْلِ كَإِنْ وَحَيْثُمَا

Terdapat tiga posisi dimana Masyghul ‘Anhu hukumnya wajib nashab sebagai Maf’ul Bih

  • ketika Masyghul ‘Anhu didahului perangkat syarat yang khusus masuk pada isim seperti إِنْ/حَيْثُمَا.

Contoh:

حَيْثُمَا خالدًا قَابَلْتَهُ فَأَنَا أُرَحِّبُ بَهِ

Dimanapun kau bertemu Kholid, maka aku akan menyambutnya.

إِنْ خَالدًا قَابَلْتَهُ فَأَنَا أُرَحِّبُ بَهِ

Jika kau menemui Kholid, maka aku akan menyambutnya.

  • ketika Masyghul ‘Anhu didahului perangkat Istifham (selain Istifham Hamzah).

Kenapa Hamzah tidak masuk ? karena dia tidak dikhususkan untuk fi’il seperti Istifham lainya.

أَ زَيدٌ فِي البيتِ
أ نَجَحَ زَيدٌ

Apakah zaid dirumah ? / apakah zaid lulus ?

Dan ketika Hamzah ini masuk pada Isim, dia tidak mengharuskan Isim tersebut wajib nashab، boleh juga rafa. Akan tetapi ber’irab nashab lebih diutamakan. Contoh:

فَقَالُوٓا۟ أَبَشَرًۭا مِّنَّا وَٰحِدًۭا نَّتَّبِعُهُۥٓ إِنَّآ إِذًۭا لَّفِى ضَلَٰلٍۢ وَسُعُرٍ. سورة القمر ٢٤

أَ : الهمزة حرف استفهام
بَشَرًا : مفعول به منصوب على الاشتغال
…..تقدير : أَ نَّتَّبِعُ بَشَرًا مِّنَّا

Jadi terjemahnya seperti ini:

Maka mereka berkata, “Bagaimana kita akan mengikuti seorang manusia di antara kita? Sungguh, kalau begitu kita benar-benar telah sesat dan gila.

Lihat referensi:

انظر : النحو العربى، ص ٤١٣ /٤٢٨

Contoh:

هَلْ كِتَابًا اِشْتَرَيْتَهُ؟
التقدير : هل اشتريت كتابا؟

مَتَى صَدِيْقَكَ زُرْتَهُ ؟
التقدير ‘ متى زرت صديقك ؟

أين القَلَمَ وَجَدْتَهُ ؟
التقدير : أين وَجَدْتَ القَلَمَ

  • ketika Masyghul ‘Anhu didahului perangkat ‘Aradh atau Tahdidh (أداة العرض/أداة التحضيض) seperti أَلَا/هلّا/ لوما/ ألّا (apakah tidak, ketahuilah, mengapa tidak, ingatlah). Contoh:

أَلاَ الدَّرْسَ تُذَاكِرُهُ

Mengapa kau tidak menghafal pelajaran.

هَلّا الصَّدِيْقَ أَكْرَمْتَهُ

Mengapa kau tidak menghormati kawan

Perangkat ألا، هلّا ini melahirkan makna berbeda-beda sesuai tujuan pemakaianya, lebih lengkap pelajari materi Gaya Bahasa ‘Aradh, Tahdidh dan Taubiikh. Jadi untuk penggunaanya dan terjemahnya tidak terbatas pada contoh yang dipakai di atas.

Baca juga: Kaidah Maf’ul Bih

Perluasan:

Di atas disebutkan bahwa syarat isim yang didahulukan wajib manshub yaitu ketika didahului perangkat syarat, itifham dan ‘ardh dari jenis yang dikhususkan masuk pada Fi’il، sehingga ketika masuk pada Isim dia harus menashabkab isim tersebut.

Apakah nashabnya Isim ini mutlak wajib ? bukankah perangkat-perangkat di atas terkadang juga masuk pada Isim, lalu dimana kekhususanya ?

Jawab:

  • Perangkat-perngkat di atas pada dasarnya dikhususkan masuk pada fi’il. Maksudnya, apabila pada susunan kalimat terdapat Isim dan Fi’il, maka  fi’il lebih berhak menempati posisi setelah perangkat di atas.

Perhatikan dan bandingan ketiga contoh berikut:

هَلْ خالدٌ قائمٌ

Pada contoh ini tidak terdapat Fi’il, jadi Isim berhak menempati posisi setelah هل. Ini adalah Susunan Mubtada dan Khobar (Jumlah Ismiyyah)

هل قام خالدٌ

pada contoh ini terdapat fi’il dan Isim secara bersamaan, dimana posisi Fi’il setelah هل sangat tepat karna itu adalah hak istimewa Fi’il. Menurut “Jumhur Ulama” susunan seperti ini disebut dengan fasih. Ini adalah Fi’il dan Fa’il (Jumlah Fi’liyyah)

هَلْ خالدٌ قام

Pada contoh ini terdapat Isim dan Fi’il secara bersamaan, dimana posisi Isim didahulukan, padahal Fi’il lebih berhak menempatinya. Bukan berarti salah, namun menurut “Jumhur Ulama” susunan seperti ini kurang fasih.

  • Menashabkan Isim yang berada setelah perangkat khusus fi’il tidaklah mutlak. Ini hanya berlaku ketika Isim posisi isim diawalkan dari fi’il agar memenuhi kriteria untuk bisa disebut dengan Masyghul ‘Anhu. Adapun jika tidak, maka tidak ada kewajiban untuk menashabkanya, meskupun Isim terletak setelah perangkat-perangkat di atas.

2. Wajib Rafa’ sebagai Mubtada

قال ابن مالك
وَإنْ تَلاَ السَّابِقُ مَا بِالاِبْتِدَا # يَخْتَصُّ فالرَّفْعَ الْتَزِمْهُ أَبَدَا # كَذَا إِذَا الْفِعْلُ تَلاَ مَا لَمْ يَرِدْ # مَا قَبْلُ مَعْمُولاً لِمَا بَعْدُ وُجِدْ

  • Masyghul ‘Anhu wajib marfu’ ketika didahului perangkat Idza Fazaaiyyah ( إذا فجاءية) dan أمَّا Syartiyyah yang keduanya khusus masuk pada Isim (Mubtada).

Lihat pembahasan idza fajaiyyah pada materi dzharaf (maf’ul fih)

Contoh1:

وَصَلْتُ إلى البيت فَإذا الثعبانُ يَضْرِبُهُ خالدٌ

Aku sampai rumah, tiba-tiba kholid sedang memukul ular.

Lafadz الثعبان adalah Masyghul ‘Anhu yang wajib Rafa menjadi Mubtada karena didahului Perangkat Idza Fazaaiyyah yang Khusus masuk pada Isim Mubtada.

Contoh ‘Irab:

وصلت : وصل فعل ماض مبني على السكون لاتصاله بـ تاء الفاعل ،وتاء الفاعل ضمير متصل مبني على الضم في محل رفع

إلى البيت : جر ومجرور متعلق يفعل وصل

فإذا : الفاء: حرف مبني على الفتح لا محل له من الإعراب. إذا : الفجائية

الثعبانُ : مبتدأ مرفوع ، وعلامة رفعه الضمة الظاهرة

يَضْرِبُهُ : يضرب فعل مضارع مرفوع وعلامة رفعه الضمة الظاهرة

الهاء : ضمير متصل مبني على الضم في محل نصب وهو رابط لاسم المقدم

خالدٌ : فاعل مؤخر مرفوع ، وعلامة رفعه الضمة الظاهرة

Contoh2:

وَأَمَّا ثَمُودُ فَهَدَيْناهُمْ. سورة فصلت : ١٧

وَ : الواو حرف عطف
أَمَّا : حرف شرط
ثَمُودُ : مبتدأ
فَ : الفاء واقعة في جواب الشرط
هَدَيْناهُمْ : فعل وفاعله ومفعوله
جملة “فَهَدَيْناهُمْ” : خبر

  • Masyghul ‘Anhu wajib Marfu sebagai mubtada’ ketika dia dan Masyghul (‘Amil), terpisah oleh Isim atau huruf yang tidak beramal menashabkan Isim sebelumnya.

Isim-Isim pemisah ini seperti, Isim Syarat, Isim Istifham, Lam Ibtida, ‘Ard, Tahdidh, Kam Khobariyyah، Isim Maushul, Wawu Qosam, Ta’ajub, Huruf Nasikh seperti إنَّ/كَانَ, Maa Nafyi.

Perhatikan setiap contoh:

المسجدُ هَلْ صَليتَ فيها؟

Apakah kau sholat di mesjid ?

خَالدٌ إِنْ قَابَلْتَهُ فَأَنَا أُرَحِّبُ بَهِ

Jika kau menemuinya ( Kholid), aku akan menyambutnya

الدَّرْسُ ألا تُذَاكرُهُ

Mengapa kau tidak menghafalnya (pelajaran)

الصديقُ هَلّا أَكْرَمْتَهُ

Mengapa kau tidak menghormati dia (kawan)

 !الأموالُ كَمْ أَنْفَقْتَهَا

Berapa banyak (Banyak sekali) kau menginfakan harta !

الثَعبَانُ الَّذِى ضَرَبْتَهُ قَدْ مَاتَ

Ular yang kau pukul sudah mati

المُجْتَهِدُ واللَّهِ لَأُكَافِئَنَّهُ

Demi Allah aku akan memberikan hadiah kepadanya (orang rajin)

الصَّدِيْقُ مَا أَكْرَمَهُ

Alangkah mulyanya dia (seorang kawan)

الصَّدِيْقُ إِنِّى احْتَرَمْتُهُ

Sungguh aku menghormari dia (seorang kawan)

المُجْتَهِدُ لَقَدْ كَافأتُهُ

Sungguh aku telah memberikan hadiah kepadanya (orang rajin)

الصَّدِيْقُ مَاضَرَبْتُهُ قَطٌّ

Aku tidak pernah memukul dia (seorang kawan) sebelumnya /sama sekali.

Contoh ‘Irab:

المسجدُ : مبتدأ مرفوع ، وعلامة رفعه الضمة الظاهرة

هل : أداة استفهام مبني على السكون لا محل له من الإعراب

صليت : فعل ماض مبني على السكون لاتصاله بـ تاء الفاعل ، والتاء ضمير متصل مبني على الفتح في محل رفع فاعل

فيها : جار ومجرور متعلق بـ (صليت) وجملة صليت” في محل رفع خبر المبتدأ

  • Masyghul ‘Anhu wajib marfu’ ketika didahului Huruf Wawu Hal

جِئْتُ وَالبَيْتُ يَمْلُؤُهُ الضُّيُوْفُ

Aku datang dalam keadaan rumah dipenuhi tamu.

Lafadz البيت adalah Masyghul ‘Anhu yang wajib Rafa’ sebagai Mubtada karena dahului Wawu Hal.

Contoh ‘Irab:

جئتُ : فعل ماض مبني على السكون لاتصاله بتاء الفاعل ، والتاء ضمير متصل مبني على الضم في محل رفع فاعل .

و : واو الحال ، حرف مبني على الفتح لا محل له من الإعراب

البيت : مبتدأ مرفوع ، وعلامة رفعه الضمة الظاهرة

يملؤه : فعل مضارع مرفوع ، وعلامة الرفع الضمة

ه : ضمير مبني على السكون في محل نصب مفعول به

الضيوف : فاعل مرفوع وعلامة رفعه الضمة

جملة (يملؤه) في محل رفع خبر المبتدأ

الجملة الاسمية (والبيت يملؤه الضيوف ) في محل نصب حال


3. Boleh memilih antara Rafa atau Nashab

قال ابن مالك
وَإِنْ تَلاَ الْمَعْطُوفُ فِعْلاً مُخْبَرَا # بِهِ عَنِ اسْمٍ فَاعْطِفَنْ مُخَيَّرَا

  • Masyghul ‘Anhu boleh Marfu atau Manshub ketika dia berada di posisi setelah Jumlah dan di’athafkan kepada Jumlah tersebut.

Contoh:

خَالدٌ قَامَ أَبُوْهُ و زَيْدٌ أَكْرَمْتُهُ

Pada contoh di atas terdapat 2 jumlah: ( Ayah Kholid berdiri dan Zaid yang aku hormati)

Jumlah زَيْدٌ أَكْرَمْتُهُ di’athafkan kepada Jumlah خَالدٌ قَامَ أَبُوْهُ yang melahirkan kaidah bahwa: “lafadz Zaid sebagai Masyghul ‘Anhu boleh Nashab (زَيْدًا) dan atau Rafa’ (زَيْدٌ)

Contoh ‘Irab:

خَالدٌ : مبتدأ
قَامَ أَبُوْهُ : فعل و فاعل
جملة قَامَ أَبُوْهُ : خبر
و : حرف عطف
زَيْدٌ : مبتدأ
أَكْرَمْتُهُ : خبر
جملة زَيْدٌ أَكْرَمْتُهُ : معطوفة على جملة اسمية قبلها

زَيْدًا : مفعول به منصوب على الاشتغال
أَكْرَمْتُهُ : خبر
جملة زَيْدًا أَكْرَمْتُهُ : معطوفة على جملة فعلية قبلها

Perhatikan perbedaan ‘Irab kedua Jumlah di atas, tatkala Zaid Rafa’ ( زَيْدٌ أَكْرَمْتُهُ), berarti di’athafkan kepada Jumlah Ismiyyah (خَالدٌ قَامَ أَبُوْهُ) dan tatkala Zaid Nashab ( زَيْدًا أَكْرَمْتُهُ), berarti di’Athafkan kepada Jumlah Fi’liyyah ( قَامَ أَبُوْهُ)


4. Diutamakan Rafa’

  • Masyghul ‘Anhu lebih diutamakan ber’irab Rafa’ sebagai Mubtada dari pada Nashab sebagai Maf’ul Bih ketika dia tidak didahului apapun.

Contoh:

خَالدٌ ضَرَبْتُهُ

Meskipun Lafadz خَالدٌ boleh keadaan Nashab dengan memperkirakan ‘Amil yang dibuang, namun dengan keadaan Rafa’ dan tanpa ada perkiraan akan lebih utama (Jumhur Ulma).

قال ابن مالك
و الرفع في غير الذي مر رجح # فما أبيح افعل ودع ما لم يبح

قوله تعالى
جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا. الرعد ٢٣


5. Diutamakan Nashab

  • Masyghul ‘Anhu lebih diutamakan ber’irab Nashab sebagai Maf’ul Bih dari pada Rafa’ sebagai Mubtada, ketika ‘Amilnya berupa Perintah dan Larangan. Atau didahului Hamzah Istifham yang sudah dijelaskan di atas.

قال ابن مالك
و اختير نصب قبل فعل ذي طلب # وبـــعدمـــا إيـلاؤه الفعل غلب # وبعد عاطف بلا فصـــل على   معمــــول فعل مـــستقر أولا

Contoh:

خَالدًا لا تَضْرِبْهُ

Jangan pukul Kholid

خَالدًا اِضْرِبْهُ

Pukulah kholid

خَالدًا : مفعول به منصوب على الاشتغال ، وعلامة نصبه الفتحة الظاهرة لفعل محذوف دل عليه المذكور.

تقدير : اِضْرِبْ خَالدًا

اِضْرِبْهُ : فعل أمر مبني على السكون ، والهاء : ضمير متصل مبني على الضم ، في محل نصب مفعول به ، والفاعل ضمير مستتر وجوبا ، تقديره :أنت

  • Ketika dengan dinashabkanya Masyghul ‘Anhu, melahirkan makna yang nampak jelas.

Contoh:

قوله تعالى
إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْناهُ بِقَدَرٍ. سورة القمر ٤٩

Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran/taqdir

Lafadz كُلَّ adalah Masyghul ‘Anhu sebagai Maf’ul Bih (Lebih diutamakan Nashab dari pada Rafa). Untuk menampakan makna yang jelas bahwa segala sesuatu itu diciptakan oleh Allah S.W.T.

Contoh ‘Irabnya:

إِنَّا : إن + اسم إن
كُلَّ : مفعول به منصوب على الاشتغال لفعل محذوف و مضاف إلى شيء
شَيْ ءٍ : مضاف إليه
خَلَقْناهُ : فعل ماض وفاعله ومفعوله
بِقَدَرٍ : جر مجرور

Lalu mana Kobarnya ?
Khobar إن yaitu Fi’il yang dibuang dan ditaqdir (yang menashabkan Masyghul ‘Anhu)

Taqdiranya:

إِنَّا خَلَقْنَا كُلَّ شَئٍ خَلَقْناهُ بِقَدَرٍ

إِنَّا : إن + اسم إن
خَلَقْنا : الجملة الفعلية المقدرة وهي خبر إن

Tafsirnya:

Hai orang-orang Qodariyyah, hai orang-orang Qurais yang telah mendustakan Taqdir Allah !

ketahuilah bahwa Kami menciptakan segala sesuatu sesuai yang Kami taqdirkan, bahkan sebelum sesuatu itu ada, kami sudah menentukanya. Tidak ada sesuatu apapun diseluruh alam semesta ini baik alam atas maupun alam bawah, kecuali hanya Kami yang menciptakanya.

Tidak ada sekutu bagi Kami dalam menciptakan semuanya. Kami menciptakan berdasarkan ketentuan yang telah terdahulu dan berdasar waktu dan ukuran yang ditetapkan.

Demikian pembahasan kaidah isytighal, atas segala kekuranganya bisa merujuk referensi berikut di bawah. Wallahu’alam


المراجع

انظر : النحو العربى، ص ٤٠٠-٤٢٠
انظر : همع الهوامع، ج٢, ص ١١٣
لنظر : وشرح الكافية للرضي، ج١, ص ٤٠٦
انظر : المقتضب للمبرد، ج٣, ص ٢٢٥
انظر : سيبويه، ج١, ص ١٣٤
انظر : شرح التصريح، ج١، ص٣٠٥
انظر : شرح المفصل، ج٢ ، ٣٤


Zizo 18/08/2019
TMBA

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 4.7 / 5. Vote count: 351

No votes so far! Be the first to rate this post.

Recomended

Kitab Jami’udurus Alarabiyyah

عنوان الكتاب: جامع الدروس العربية  المؤلف: مصطفي الغلاييني  حالة الفهرسة: غير مفهرس  الناشر: المكتبة العصرية  سنة النشر: ١٤١٥ - ١٩٩٤  عدد المجلدات: ٣  رقم الطبعة: ٣٠  عدد الصفحات: ٩٠٢  الحجم (بالميجا): ١٣ Kitab...

Akhirnya dapat juga beasiswa [Terjemah]

Sambungan latihan terjemah ke#9 Text bahasa indonesia yang harus diterjemahkan oleh semua peserta kelompok belajar (TMBA Lanjutan via WhatsApp) Text: Meskipun Aku tidak sabar menanti hasil testing...

Juha dan seorang pencuri

جُحَا وَاللَّصُ Juha & Seorang Pencuri كَانَ جُحَا يَمْتَلِكُ مَتْجَرًا كَبِيْرًا يُدِرُّ عَلَيْهِ رِبْحًا وَفِيْرًا ، وَ كَانَ يَعْمَلُ لَدَيْهِ رَجُلٌ يُسَاعِدُهُ فِى إِدَارَةِ المَتْجَرِ Juha memiliki...

Isim Maf’ul (اسم مفعول)

Isim Maf'ul (اسم مفعول) قال ابن مالك وكُلُّ ما قُرِّرَ لاسمِ فاعلِ # يُعْطَى اسمَ مَفعولٍ بلا تَفاضُلِ Hukum-hukum yang ada pada isim fa’il juga ditetapkan pada...

3 COMMENTS

  1. Assalamualaikum. apakah perbedaan atau manfaat menggunakan pola sebegini dari مفعول به مقدم atau mubtada yg khabarnya jumlah filiyah?

Tinggalkan Komentar

Latest News

Maf’ul Ma’ah (المفعول معه), Hukum ‘Irab dan Ketentuanya

Bismillahirahmanirahim. In Syaa allah kita akan membahas materi maf'ul ma'ah beserta ketentuan dan kaidah 'irabnya. Perhatikan paragraf berikut: خَرَجَ خَالِدٌ وَطُلُوْعَ...

Macam-Macam Maa (ما), fungsi dan ‘Irabnya

Ada berapa banyak jumlah Maa (ما) dalam bahasa arab dan bagaimana cara penggunaanya dalam kalimat ?. Kira-kira seperti itu...

Juha dan Tetangga Pelit

جُحَا وَ الجَارُ البَخِيْلُ Juha dan Tetangga Pelit كَانَ يَسْكُنُ بِجِوَارِ جُحَا رَجُلٌ غَنِيٌّ وَ لَكِنَّهُ بَخِيْلٌ، وَ قَدْ تَعَوَّدَ هَذَا الجَارُ اسْتِعْمَالَ حَاجَاتِ غَيْرِهِ مِنَ...

Kitab Nahwu Wadhih [Free Download]

Kitab Nahwu Wadhih karya Doktor. Ali Al-Jarimi dan Doktor. Musthafa Amin asal Mesir adalah kitab Nahwu yang diperuntukan untuk pemula. Dalam penyajianya kitab ini...

Liburan Akhir Pekan (العُطْلَة الأُسْبُوعِيَّة)

العُطْلَة الأُسْبُوعِيَّة Libur Akhir Pekan بَعْدَ انْتِهَاءِ عُمَرَ مِنْ عَمَلِهِ خَرَجَ مُسْرِعًا فَشَاهَدَهُ صِدِيْقُهُ عَلِيٌّ فَنَادَاهُ "Setelah Umar selesai dari pekerjaanya, dia lantas bergegas keluar. Ali kawanya...

Tasybih dalam Ilmu Bayan: Pengertian, Rukun dan Jenisnya

Pengertian, Jenis & Rukun Tasybih Seperti yang kita kaji di pembahasan sebelumnya dalam Ilmu Bayan dan Tiga Obyek Pembahasannya kita mengenal tiga pokok pembahasan dalam...

Sponsored Articles

More Articles Like This