Kaidah Mendahulukan Isim Sebelum Fi’il (الاشتغال)

2
Share Digroup Kesayangan Anda.

بسم الله الرحمن الرحيم

الاشتغال
Isytighol

Pada kesempatan kali ini kita akan membahas materi Isytighol, rukun, syarat dan contoh ‘irabnya.

Pola Susunan normal dalam Bahasa Arab yaitu 

(جملة فعلية (فعل + فاعل + مفعول به

فعل + اسم + اسم
ضَرَبَ خَالدٌ زَيْدًا
_______
(جملة اسمية (مبتدأ + خبر

اسم + اسم
خالد نَاجِحٌ

اسم + فعل + اسم
خَالدٌ ضَرَبَ زَيْدًا

اسم + اسم +اسم + اسم
خَالدٌ أَخُوهُ نَاجِحٌ

اسم + شبه جملة
خَالدّ أَمَامَ البَابِ/خَالدّ فِي البَيتِ

Pola susunan isytighal yaitu:

(جملة اسمية (مفعول به + فعل + فاعل

اسم + فعل + فاعل + اسم ضمير رابط
خَالِدًا ضَرَبْتُهُ

اسم + فعل + فاعل+ اسم ظاهر + ضمير رابط
خَالِدًا ضَرَبْتُ أخَاه

اسم + فعل + فاعل + حرف جر + ضمير رابط
خَالِدًا أَعْجَبْتُ بِهِ

اسم + فعل + فاعل + حرف جر + اسم ظاهر + ضمير رابط
خَالِدًا أَعْجَبْتُ بِأخيه

اسم + فعل + اسم + ضمير رابط + اسم + ضمير رابط
خالدًا ضَرَبَ أبُوْهُ أَخَاهُ

Ayah (Kholid) telah memukul saudaranya (Kholid)

Stuktur kalimatnya tidak berbeda dengan Jumlah Ismiyyah (Mubtada Khobar) karena sama-sama diawali dengan Isim. Perbedaanya dari segi kedudukan ‘Irab Isim yang diawalkan.

Pelajari Kaidah Mubtada &Khobar dihalaman berikut

Dalam kaidah Isytighal, Isim yang posisinya diawalkan disebut dengan “Masyghul ‘Anhu” yang boleh di’irab sebagai Mubtada atau Maf’ul Bih. Tentunya sesuai ketentuan dan syarat yang akan kita bahas dibawah.

Isytighal ini ibarat permen coklat rasa strowbery. Stuktur kalimatnya Jumlah Ismiyyah, namun maknanya jumlah Fi’liyyah.

Kira-kira gambaran polanya seperti itu supaya mudah dimengerti.
__________

Pertama: Definisi

اشتغال فعل أو ما يقوم مقام الفعل عن اسم متقدم عليه بضمير هذا الاسم ، أو بما نسب إلى ضميره أو ملابسه ، ولو تفرغ الفعل للاسم أو لما نسب إلى ضميره لنصبه لفظا أو محلا

Adalah pola susunan kalimat dimana Isim berada diposisi sebelum Fi’il. Kemudian fungsi dari Fi’il dalam menashabkan Maf’ulnya diganti dengan Dhomir pengikat yang kembali kepada Isim yang posisinya didahulukan.

Perhatikan:

خَالِدًا ضَرَبْتُهُ
اسم + فعل + فاعل + ضمير رابط لِخَالد

Fi’il dan Fa’il pada contoh diatas, sudah pasti membutuhkan objek yang harus mereka nashabkan. Karena posisi Mas Kholid berada diawal, jadi tidak bisa mereka Nashabkan. Akhirnya diletakanlah Dhomir Pengikat yang sesuai dengan Mas Kholid untuk menyempurnakan misinya.

Kemudian bagaimana Nasib Mas Kholid ? apakah dia harus Nashab atau Rafa ?

Keduanya diperbolehkan, namun ketika dijadikan Nashab, berarti ada sesuatu yang hilang dan mesti diperkirakan. Tidak mungkin ujug-ujug Manshub jika tidak terdapat ‘Amil yang menashabkanya.

قال ابن مالك
إن مضمر اسم سابق فعلا شغل # عنه بنصب لفظـــه أو المحــــل # فالسابق انصبه بفعــل أضــمرا # حتمــا مـوافق لما قد أظهرا

Jika Isim berada diposisi sebelum Fi’il, lalu Fi’il tersebut tidak bisa beramal sebagaimana mestinya, nashabkanlah Isim yang posisinya diawalkan tersebut oleh Fi’il yang disembunyikan (dibuang), yang perkiraan lafadznya sama dengan Fi’il yang nampak.

Alhasil, jika ‘Irab Mas Kholid ingin kita Nashabkan, maka manshubnya dia yaitu dengan Fi’il yang dibuang dan diperkiraan seperti berikut:

ضَرَبْتُ خَالدًا ضَرَبْتُهُ

Aku memukul Kholid (aku memukulnya)

Contoh dalam AlQuran:

وَكُلَّ شَيْءٍ فَصَّلْناهُ تَفْصِيلاً سورة الإسراء ١٢

وَكُلَّ : مفعول به منصوب على الاشتغال لفعل محذوف, تقديره فصلنا كل شىء فَصَّلْناهُ

Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas

وَكُلَّ إِنسانٍ أَلْزَمْناهُ طائِرَهُ فِي عُنُقِهِ. سورة الإسراء ١٣

وَكُلَّ : مفعول به منصوب على الاشتغال لفعل محذوف, تقديره أَلْزَمْنا كُلَّ إِنسانٍ أَلْزَمْناهُ

Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya.
___________

Kedua: Rukun dan Syarat Isytighal

1. Masyghul ‘Anhu (مشغول عنه) Adalah Isim yang posisinya didahulukan.

Syarat:

  • Isim tersebut harus didahulukan dari pada ‘Amilnya. Jika tidak, maka keluar dari kaidah Isytighal.

ضَرَبْتُهُ خَالِدًا / ضَرَبْتُهُ خَالِدٌ

Jika diakhirkan seperti ini, lafadz خَالِدًا Manshub bukan karena Isytighal, melainkan Badal dari dhomir Hu ( ه) atau Marfu sebagai Mubtada Muakhor

  • Isim tersebut harus dari kategori yang bisa menerima Dhomir Pengikat, dalam pasal Isytighal ini yaitu Maf’ul Bih. Tidak dari kategori Isim Manshub seperti Tamyiz atau Hal karena keduanya tidak menerima Dhomir Pengikat.
  • Isim tersebut harus benar-benar membutuhkan ‘Amil untuk menashabkanya.

فى البَيْتِ كَلبٌ فَاضْرِبْهُ

Dirumah ada anjing, pukulah dia.

Lafadz كَلبٌ tidak lagi membutuhkan ‘Amil karena tanpa adanya Kalimat (فَاضْرِبْهُ ) dia sudah berada dalam Jumlah Mufidah sebagai (Mubtada Muakkhar) dengan Khobar Muwoddam (Syibh Jumlah). jadi dia tidak berhak dijadikan Masyghul ‘Anhu.

  • Isim tersebut harus Makrifat atau Nakirah Mukhtashah (disifati). Artinya, ketika dijadikan Maf’ul Bih, dia juga harus memungkinkan dijadikan Mubtada. Karena memang untuk Pasal Isytighal ini tidak terlepas dari ‘Irab antara menjadi Mubtada atau Maf’ul Bih. Maka dr itu, Makrifat merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi

Contoh:

خَالِدٌ ضَرَبْتُهُ / خَالِدًا ضَرَبْتُهُ
رَجُلُ طَوِيْلُ ضَرَبْتُهُ / رَجُلاً طَوِيْلاً ضَرَبْتُهُ
الرَجُلُ ضَرَبْتُهُ / الرَجُلَ ضَرَبْتُهُ

Keadaan ‘Irab Rafa atau Nashab untuk Isim-Isim yang diawalkan ini (Masyghul ‘Anhu) keduanya diperbolehkan.

2. Masyghul (مشغول) Adalah ‘Amil yang beramal menashabkan Dhomir Pengikat. Bentuknya terkadang berupa Fi’il, Isim Fa’il atau Isim Maf’ul.

Syarat:

  • Jika ‘Amil ini berbentuk Fi’il, dia tidak boleh terpisah dengan Masyghul ‘Anhu. Misalkan:

خَالدٌ أَنْتَ تَضْرِبُهُ
الرَجُلُ أَنْتَ تَسْمَعُهُ

Karena lafadz الرَجُلُ dan خَالدٌ (Masyghul ‘Anhu) dan ‘Amilnya Lafadz تَضْرِبُ, terpisah oleh Dhomir أنت, maka dia tidak berhak masuk kaidah Isytighal dan dinashabkan. Jadi خَالدٌ dan الرَجُلُ tetap berads dilingkaran Rafa sebagai Mubtada.

Terkecuali jika ‘Amilnya berbentuk Isim Fa’il atau Isim Maf’ul, maka boleh terpisah. Seperti:

خَالدًا أَنْتَ ضَارِبُهُ الآن
الكتابَ أَنْتَ مُعْطَاهُ

انظر : شرح التصريح : 1/305 ، وشرح المفصل : 2/34

  • ‘Amil-‘Amil ini harus dari kategori Fi’il Mutasharif ataupun Isim Fa’il, Isim Maf’ul dan Syigh Mubalaghah. Bukan dari Isim Jaamid, Huruf ataupun Isim Fi’il yang pada dasarnya tidak beramal menashabkan Isim yang diawalkan posisinya.

Contoh1 :

خَالِدٌ إنّه فَاضِلُ

Lafadz خَالِدٌ tidak boleh Manshub karna إنَّ adalah Huruf yang tidak beramal menashabkan isim sebelumnya.

Contoh2 :

خَالِدٌ مَا أَفْضَلَهُ

Lafadz خَالِدٌ tidak boleh Manshub karena lafadz مَا أَفْضَلُ adalah Fi’il Jaamid (Sighat Ta’ajub) yang tidak beramal menashabkan isim sebelumnya.

Catatan:

  • Khusus dalam penggunaan ‘Amil yang berbentuk Isim Fa’il dan Sighat Mubalaghah harus menunjukan waktu Hadir dan Mustaqbal. Seperti:

الدَّرْسَ أَنَا مُذَاكِرُهُ الآن / الدَّرْسَ أَنَا مُذَاكِرُهُ غدًا

Aku sedang menghafal materi ini sekarang/ Aku akan menghafal materi ini besok

Jika ‘Amil Isim Fa’il dan Sighat Mubalaghah ini menunjukan waktu lampau. Maka tidak boleh menashabkan Masyghul ‘Anhu sebagai Maf’ul Bih. Seperti contoh berikut:

الدَّرْسُ أَنَا مُذَاكِرُهُ أَمْسِ

Materi ini telah aku hafalkan kemarin

Pelajari materi Isim Fa’il pada halaman berikut

  • Khusus dalam penggunaan ‘Amil yang berbentuk Isim Maf’ul, dia wajib Nakirah tanpa ال Ta’rif

الكتابُ/الكتابَ أَنْتَ مُعْطَاهُ

Tidak boleh seperti dibawah ini:

الكتابُ/الكتابَ أَنْتَ المُعْطَاهُ

Pelajari Materi Isim Maf’ul pada halaman berikut

3. Masyghul Bih (مشغول به) Adalah dhommir pengikat yang secara makna kembali kepada Isim yang diawalkan (Masyghul ‘Anhu)

Posisi Dhomir pengikat boleh berada ditiga posisi:

  • Terletak langsung setelah ‘Amil (Berada ditempat Manshub)

خَالِدًا ضَرَبْتُهُ

  • Terhalang Isim Dzhohir ( menjadi Mudhof Ilaih dan berada ditempat Majrur yang diidhofatkan pada Isim Dzhohir ditempat Manshub)

خَالِدًا ضَرَبْتُ أخَاه

  • Terhalang Huruf Jar (Menjadi Objek dengan perantara Huruf Jar karena ‘Amilnya Fi’il Lazim)

خَالِدًا أَعْجَبْتُ بِهِ
خَالِدًا مَرَرْتُ بِهِ

Aku kagum dengan kholid / Aku berpapasan dengan Kholid

Lihat:

انظر : النحو العربى، ص ٤٠٢

Kenali apa itu Dhomir dan macamnya dihalaman berikut

__________

Ketiga: Hukum Masyghul ‘Anhu (مشغول عنه)

Disini akan dibahas mengenai Hukum Masyghul ‘Anhu dari sisi kapan Wajib Nashab atau Rafa, dan kapan dia boleh Nashab atau Rafa.

1. Wajib Nashab sebagai Maf’ul Bih

قال ابن مالك
وَالنَّصْبُ حَتْمٌ إِنْ تَلاَ السَّابِقُ مَا # يَخْتَصُّ بِالْفِعْلِ كَإِنْ وَحَيْثُمَا

Terdapat tiga posisi dimana Masyghul ‘Anhu hukumnya wajib Nashab sebagai Maf’ul Bih. Yaitu ketika didahului Alat/Perangkat yang biasanya khusus masuk pada Fi’il. Seperti Isim Syarat, Istifham dan ‘Ardh/Tahdidh.

  • ketika Masyghul ‘Anhu didahului Perangkat Syarat seperti إِنْ/حَيْثُمَا.

Contoh:

حَيْثُمَا خالدًا قَابَلْتَهُ فَأَنَا أُرَحِّبُ بَهِ

Dimanapun kau bertemu Kholid, maka aku akan menyambutnya.

إِنْ خَالدًا قَابَلْتَهُ فَأَنَا أُرَحِّبُ بَهِ

Jika kau menemui Kholid, maka aku akan menyambutnya.

  • ketika Masyghul ‘Anhu didahului Perangkat Istifham (selain Istifham Hamzah).

Kenapa Hamzah tidak masuk ? karena dia tidak dikhususkan untuk Fi’il seperti Istifham lainya.

أَ زَيدٌ فِي البيتِ
أ نَجَحَ زَيدٌ

Apakah zaid dirumah ? / apakah zaid lulus ?

Dan ketika Hamzah ini masuk pada Isim, dia tidak mengharuskan Isim tersebut wajib nashab، boleh juga rafa. Akan tetapi ber’irab nashab lebih diutamakan.

Contoh:

فَقَالُوٓا۟ أَبَشَرًۭا مِّنَّا وَٰحِدًۭا نَّتَّبِعُهُۥٓ إِنَّآ إِذًۭا لَّفِى ضَلَٰلٍۢ وَسُعُرٍ. سورة القمر ٢٤

أَ : الهمزة حرف استفهام
بَشَرًا : مفعول به منصوب على الاشتغال
…..تقدير : أَ نَّتَّبِعُ بَشَرًا مِّنَّا

Jadi terjemahnya seperti ini:

Maka mereka berkata, “Bagaimana kita akan mengikuti seorang manusia di antara kita? Sungguh, kalau begitu kita benar-benar telah sesat dan gila.

انظر : النحو العربى، ص ٤١٣ /٤٢٨

Contoh:

هَلْ كِتَابًا اِشْتَرَيْتَهُ؟
التقدير : هل اشتريت كتابا؟

مَتَى صَدِيْقَكَ زُرْتَهُ ؟
التقدير ‘ متى زرت صديقك ؟

أين القَلَمَ وَجَدْتَهُ ؟
التقدير : أين وَجَدْتَ القَلَمَ

  • ketika Masyghul ‘Anhu didahului Perangkat ‘Aradh atau Tahdidh (أداة العرض/أداة التحضيض) seperti أَلَا/هلّا/ لوما/ ألّا (apakah tidak, ketahuilah, mengapa tidak, ingatlah).

Contoh:

أَلاَ الدَّرْسَ تُذَاكِرُهُ

Mengapa kau tidak menghafal pelajaran.

هَلّا الصَّدِيْقَ أَكْرَمْتَهُ

Mengapa kau tidak menghormati kawan

Perangkat ألا، هلّا ini melahirkan makna berbeda-beda sesuai tujuan pemakaianya, lebih lengkap pelajari materi Gaya Bahasa ‘Aradh, Tahdidh dan Taubiikh. Jadi untuk penggunaanya dan terjemahnya tidak terbatas pada contoh yang dipakai diatas.
_________

Materi lengkap soal Maf’ul Bih bisa dilihat dihalaman berikut

Perluasan:

Diatas disebutkan bahwa, Alat/Perangkat Syarat, Istifham dan ‘Ardh adalah Alat yang dikhususkan masuk pada Fi’il، sehingga ketika masuk pada Isim dia harus Nashab.

Apakah Nashabnya Isim ini mutlak wajib ? bukankah perangkat-perangkat diatas biasa masuk juga pada Isim, lalu dimana kekhususanya ?

Jawab:

  • Perangkat diatas pada dasarnya dikhususkan masuk pada Fi’il, ketika dalam susunan kalimat yang secara bersamaan terdapat Isim dan Fi’il, artinya Fi’il lebih berhak menempati posisi setelah Perangkat diatas.

Perhatikan dan bandingan ketiga contoh berikut:

هَلْ خالدٌ قائمٌ

Pada contoh ini tidak terdapat Fi’il, jadi Isim berhak menempati posisi setelah هل. Ini adalah Susunan Mubtada dan Khobar (Jumlah Ismiyyah)

هل قام خالدٌ

pada contoh ini terdafat Fi’il dan Isim secara bersamaan, dimana posisi Fi’il setelah هل sangat tepat karna itu adalah hak Prerogatif Fi’il. Menurut “Jumhur Ulama” disebut dengan susunan Fasyih. Ini adalah Fi’il dan Fa’il (Jumlah Fi’liyyah)

هَلْ خالدٌ قام

Pada contoh ini terdapat Isim dan Fi’il secara bersamaan, dimana posisi Isim didahulukan. Padahal Fi’il lebih berhak menempatinya.

Menurut “Jumhur Ulama” susunan seperti ini kurang Fasih. Artinya ketika lafadz خالدٌ dijadikan Mubtada kurang tepat dan tidak Fasih karena terdapat Fi’il dan Istifham yang merupakan Alat Khusus masuk pada Fi’il . Lalu bagaimana ‘Irabnya ?

Lafadz خالدٌ adalah Fa’il dari Fi’il yang dibuang secara wajib lalu diperkirakan dengan gambaran Fi’il yang tertera.

هل: حرف استفهام
خالدٌ : فاعل لفعل محذوف وجوباً يفسره المذكور

  • Nashabnya Isim yang berada diposisi Alat/Perangkat Khusus Fi’il seperti diatas tidaklah mutlak. Ini hanya berlaku ketika Isim Muqoddam (diawalkan), memenuhi kriteria untuk bisa disebut dengan Masyghul ‘Anhu. Adapun jika tidak, maka tidak ada kewajiban untuk menashabkanya, meskupun Isim terletak setelah perangkat-perangkat diatas.
    _________

Pelajari Materi Istifham dan ‘Irabnya dihalaman berikut

2. Wajib Rafa’ sebagai Mubtada

قال ابن مالك
وَإنْ تَلاَ السَّابِقُ مَا بِالاِبْتِدَا # يَخْتَصُّ فالرَّفْعَ الْتَزِمْهُ أَبَدَا # كَذَا إِذَا الْفِعْلُ تَلاَ مَا لَمْ يَرِدْ # مَا قَبْلُ مَعْمُولاً لِمَا بَعْدُ وُجِدْ

  • Masyghul ‘Anhu wajib Marfu ketika didahului Perangkat Idza Fazaaiyyah ( إذا فجاءية) dan أمَّا Syartiyyah. Keduanya khusus masuk pada Isim (Mubtada).

Pembahasan tentang اذا masuk pada Pasal Dzhorof, untuk lebih detail silahkan lihat dihalaman berikut

Contoh1:

وَصَلْتُ إلى البيت فَإذا الثعبانُ يَضْرِبُهُ خالدٌ

Aku sampai rumah, tiba-tiba kholid sedang memukul ular.

Lafadz الثعبان adalah Masyghul ‘Anhu yang wajib Rafa menjadi Mubtada karena didahului Perangkat Idza Fazaaiyyah yang Khusus masuk pada Isim Mubtada.

Contoh ‘Irab:

وصلت : وصل فعل ماض مبني على السكون لاتصاله بـ تاء الفاعل ،وتاء الفاعل ضمير متصل مبني على الضم في محل رفع

إلى البيت : جر ومجرور متعلق يفعل وصل

فإذا : الفاء: حرف مبني على الفتح لا محل له من الإعراب. إذا : الفجائية

الثعبانُ : مبتدأ مرفوع ، وعلامة رفعه الضمة الظاهرة

يَضْرِبُهُ : يضرب فعل مضارع مرفوع وعلامة رفعه الضمة الظاهرة

ه : ضمير متصل مبني على الضم في محل نصب وهو رابط لاسم المقدم

خالدٌ : فاعل مؤخر مرفوع ، وعلامة رفعه الضمة الظاهرة

Contoh2:

وَأَمَّا ثَمُودُ فَهَدَيْناهُمْ. سورة فصلت : ١٧

وَ : الواو حرف عطف
أَمَّا : حرف شرط
ثَمُودُ : مبتدأ
فَ : الفاء واقعة في جواب الشرط
هَدَيْناهُمْ : فعل وفاعله ومفعوله
جملة “فَهَدَيْناهُمْ” : خبر

  • Masyghul ‘Anhu wajib Marfu ketika dia dan Masyghul (‘Amil), terpisah oleh Isim/Huruf yang tidak beramal menashabkan Isim sebelumnya.

Isim-Isim pemisah ini seperti, Isim Syarat, Isim Istifham, Lam Ibtida, ‘Ard, Tahdidh, Kam Khobariyyah، Isim Maushul, Wawu Qosam, Ta’ajub, Huruf Nasikh seperti إنَّ/كَانَ, Maa Nafyi.

Perhatikan setiap contoh:

المسجدُ هَلْ صَليتَ فيها؟

Apakah kau sholat dimesjid ?

خَالدٌ إِنْ قَابَلْتَهُ فَأَنَا أُرَحِّبُ بَهِ

Jika kau menemuinya ( Kholid), aku akan menyambutnya

الدَّرْسُ ألا تُذَاكرُهُ

Mengapa kau tidak menghafalnya (pelajaran)

الصديقُ هَلّا أَكْرَمْتَهُ

Mengapa kau tidak menghormati dia (kawan)

 !الأموالُ كَمْ أَنْفَقْتَهَا

Berapa banyak (Banyak sekali) kau menginfakan harta !

الثَعبَانُ الَّذِى ضَرَبْتَهُ قَدْ مَاتَ

Ular yang kau pukul sudah mati

المُجْتَهِدُ واللَّهِ لَأُكَافِئَنَّهُ

Demi Allah aku akan memberikan hadiah kepadanya (orang rajin)

الصَّدِيْقُ مَا أَكْرَمَهُ

Alangkah mulyanya dia (seorang kawan)

الصَّدِيْقُ إِنِّى احْتَرَمْتُهُ

Sungguh aku menghormari dia (seorang kawan)

المُجْتَهِدُ لَقَدْ كَافأتُهُ

Sungguh aku telah memberikan hadiah kepadanya (orang rajin)

الصَّدِيْقُ مَاضَرَبْتُهُ قَطٌّ

Aku tidak pernah memukul dia (seorang kawan) sebelumnya /sama sekali.

Contoh ‘Irab:

المسجدُ : مبتدأ مرفوع ، وعلامة رفعه الضمة الظاهرة

هل : أداة استفهام مبني على السكون لا محل له من الإعراب

صليت : فعل ماض مبني على السكون لاتصاله بـ تاء الفاعل ، والتاء ضمير متصل مبني على الفتح في محل رفع فاعل

فيها : جار ومجرور متعلق بـ (صليت) وجملة صليت” في محل رفع خبر المبتدأ

  • Masyghul ‘Anhu wajib Marfu ketika didahului Huruf Wawu Hal

جِئْتُ وَالبَيْتُ يَمْلُؤُهُ الضُّيُوْفُ

Aku datang dalam keadaan rumah dipenuhi tamu.

Lafadz البيت adalah Masyghul ‘Anhu yang wajib Rafa’ sebagai Mubtada karena dahului Wawu Hal.

Contoh ‘Irab:

جئتُ : فعل ماض مبني على السكون لاتصاله بتاء الفاعل ، والتاء ضمير متصل مبني على الضم في محل رفع فاعل .

و : واو الحال ، حرف مبني على الفتح لا محل له من الإعراب

البيت : مبتدأ مرفوع ، وعلامة رفعه الضمة الظاهرة

يملؤه : فعل مضارع مرفوع ، وعلامة الرفع الضمة

ه : ضمير مبني على السكون في محل نصب مفعول به

الضيوف : فاعل مرفوع وعلامة رفعه الضمة

جملة (يملؤه) في محل رفع خبر المبتدأ

الجملة الاسمية (والبيت يملؤه الضيوف ) في محل نصب حال

___________

3. Boleh memilih antara Rafa atau Nashab

قال ابن مالك
وَإِنْ تَلاَ الْمَعْطُوفُ فِعْلاً مُخْبَرَا # بِهِ عَنِ اسْمٍ فَاعْطِفَنْ مُخَيَّرَا

  • Masyghul ‘Anhu boleh Marfu atau Manshub ketika dia berada diposisi setelah Jumlah dan di’Athafkan kepada Jumlah tersebut.

Contoh:

خَالدٌ قَامَ أَبُوْهُ و زَيْدٌ أَكْرَمْتُهُ

Pada contoh diatas terdapat 2 jumlah: ( Ayah Kholid berdiri dan Zaid yang aku hormati)

Jumlah زَيْدٌ أَكْرَمْتُهُ di’Athafkan kepada Jumlah خَالدٌ قَامَ أَبُوْهُ yang melahirkan kaidah bahwa: “lafadz Zaid sebagai Masyghul ‘Anhu boleh Nashab (زَيْدًا) dan atau Rafa’ (زَيْدٌ)

Contoh ‘Irab:

خَالدٌ : مبتدأ
قَامَ أَبُوْهُ : فعل و فاعل
جملة قَامَ أَبُوْهُ : خبر
و : حرف عطف
زَيْدٌ : مبتدأ
أَكْرَمْتُهُ : خبر
جملة زَيْدٌ أَكْرَمْتُهُ : معطوفة على جملة اسمية قبلها

زَيْدًا : مفعول به منصوب على الاشتغال
أَكْرَمْتُهُ : خبر
جملة زَيْدًا أَكْرَمْتُهُ : معطوفة على جملة فعلية قبلها

Perhatikan perbedaan ‘Irab kedua Jumlah diatas, tatkala Zaid Rafa’ ( زَيْدٌ أَكْرَمْتُهُ), berarti di’Athafkan kepada Jumlah Ismiyyah (خَالدٌ قَامَ أَبُوْهُ) dan tatkala Zaid Nashab ( زَيْدًا أَكْرَمْتُهُ), berarti di’Athafkan kepada Jumlah Fi’liyyah ( قَامَ أَبُوْهُ)

___________

4. Diutamakan Rafa’

  • Masyghul ‘Anhu lebih diutamakan ber’irab Rafa’ sebagai Mubtada dari pada Nashab sebagai Maf’ul Bih ketika dia tidak didahului apapun.

Contoh:

خَالدٌ ضَرَبْتُهُ

Meskipun Lafadz خَالدٌ boleh keadaan Nashab dengan memperkirakan ‘Amil yang dibuang, namun dengan keadaan Rafa’ dan tanpa ada perkiraan akan lebih utama (Jumhur Ulma).

قال ابن مالك
و الرفع في غير الذي مر رجح # فما أبيح افعل ودع ما لم يبح

قوله تعالى
جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا. الرعد ٢٣

____________

5. Diutamakan Nashab

  • Masyghul ‘Anhu lebih diutamakan ber’irab Nashab sebagai Maf’ul Bih dari pada Rafa’ sebagai Mubtada, ketika ‘Amilnya berupa Perintah dan Larangan. Atau didahului Hamzah Istifham yang sudah dijelaskan diatas.

قال ابن مالك
و اختير نصب قبل فعل ذي طلب # وبـــعدمـــا إيـلاؤه الفعل غلب # وبعد عاطف بلا فصـــل على   معمــــول فعل مـــستقر أولا

Contoh:

خَالدًا لا تَضْرِبْهُ

Jangan pukul Kholid

خَالدًا اِضْرِبْهُ

Pukulah kholid

خَالدًا : مفعول به منصوب على الاشتغال ، وعلامة نصبه الفتحة الظاهرة لفعل محذوف دل عليه المذكور.

تقدير : اِضْرِبْ خَالدًا

اِضْرِبْهُ : فعل أمر مبني على السكون ، والهاء : ضمير متصل مبني على الضم ، في محل نصب مفعول به ، والفاعل ضمير مستتر وجوبا ، تقديره :أنت

  • Ketika dengan dinashabkanya Masyghul ‘Anhu, melahirkan makna yang nampak jelas.

Contoh:

قوله تعالى
إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْناهُ بِقَدَرٍ. سورة القمر ٤٩

Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran/taqdir

Lafadz كُلَّ adalah Masyghul ‘Anhu sebagai Maf’ul Bih (Lebih diutamakan Nashab dari pada Rafa). Untuk menampakan makna yang jelas bahwa segala sesuatu itu diciptakan oleh Allah S.W.T.

Contoh ‘Irabnya:

إِنَّا : إن + اسم إن
كُلَّ : مفعول به منصوب على الاشتغال لفعل محذوف و مضاف إلى شيء
شَيْ ءٍ : مضاف إليه
خَلَقْناهُ : فعل ماض وفاعله ومفعوله
بِقَدَرٍ : جر مجرور

Lalu mana Kobarnya ?
Khobar إن yaitu Fi’il yang dibuang dan ditaqdir (yang menashabkan Masyghul ‘Anhu)

Taqdiranya:

إِنَّا خَلَقْنَا كُلَّ شَئٍ خَلَقْناهُ بِقَدَرٍ

إِنَّا : إن + اسم إن
خَلَقْنا : الجملة الفعلية المقدرة وهي خبر إن

Tafsirnya:

Hai orang-orang Qodariyyah, hai orang-orang Qurais yang telah mendustakan Taqdir Allah !

ketahuilah bahwa Kami menciptakan segala sesuatu sesuai yang Kami taqdirkan, bahkan sebelum sesuatu itu ada, kami sudah menentukanya. Tidak ada sesuatu apapun diseluruh alam semesta ini baik alam atas maupun alam bawah, kecuali hanya Kami yang menciptakanya.

Tidak ada sekutu bagi Kami dalam menciptakan semuanya. Kami menciptakan berdasarkan ketentuan yang telah terdahulu dan berdasar waktu dan ukuran yang ditetapkan.

_________

المراجع

انظر : النحو العربى، ص ٤٠٠-٤٢٠
انظر : همع الهوامع، ج٢, ص ١١٣
لنظر : وشرح الكافية للرضي، ج١, ص ٤٠٦
انظر : المقتضب للمبرد، ج٣, ص ٢٢٥
انظر : سيبويه، ج١, ص ١٣٤
انظر : شرح التصريح، ج١، ص٣٠٥
انظر : شرح المفصل، ج٢ ، ٣٤

والله أعلم، وصلى الله وسلم على نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين

_____
Zizo 18/08/2019
TMBA

Apakah postingan ini cukup membatu?

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

TMBA

Belajar Bahasa Arab tidak semudah membalikan telapak tangan, butuh keseriusan dan istiqomah. Namun tidak ada kata terlambat jika kita ingin ingin mempelajarinya.

2 thoughts on “Kaidah Mendahulukan Isim Sebelum Fi’il (الاشتغال)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Kaidah Maf'ul Liajlih (مفعول لأجله) Lengkap Dengan Contoh 'Irabnya

Mon Aug 19 , 2019
بسم الله الرحمن الرحيم Maf’ul Liajlih ( مفعول لأجله ) Macam-macam Maf’ul dalam Bahasa Arab ? Maf’ul Bih ( مفعول به ) Maf’ul Fih ( مفعول فيه ) Maf’ul Liajlih ( مفعول لأجله ) Maf’ul Ma’ah ( مفعول معه ) Maf’ul Mutlaq ( مفعول مطلق ) Pada materi sebelumnya, sudah […]

TMBA (Tips Mahir Berbahasa Arab)

TMBA adalah website edukasi untuk mahir berbahasa arab dengan cepat. Materi dikemas dengan sajian konversasi dan interaksi sesama anggota melalui group whatsapp dan facebook. Kajian Grammer Nahwu & Sharaf, latihan membaca, menulis, mendengar dan latihan terjemah. Selengkapnya

Share digroup kesayangan Anda

Berlangganan Artikel TMBA Via Email

Masukan email address untuk menerima artikel terbaru dari situs TMBA (Tips Mahir Berbahasa Arab)

Join 27 other subscribers

error: Content is protected !!