Kaidah Maf’ul Mutlaq (مفعول مطلق) Lengkap Dengan Contoh ‘Irabnya

2
Share Digroup Kesayangan Anda.

مفعول مطلق

Maf’ul Mutlaq

كيف حالكم يا أحبابي الكرام، أتمنّى أن تكونوا  بخير وفي رعاية  الله وحفظه

في هذه الفرصة نحن سنستمرّ درسنا تحت الموضوع ” مفعول مطلق” من حيث أنواعها و وحكمها واختلاف العلماء فيها مع الأمثلة الواضحة من القرآن الكريم

Materi Maf’ul Mutlaq tidak terlepas dari pada Mashdar. Alangkah baiknya pelajari Materi “Pembentukan Mashdar

Kemudian Materi “Fungsi Mashdar sebagai pengganti Fi’il

Seperti biasa, kita mulai dari definisi apa itu Maf’ul Mutlaq.

1. Definisi

Dari banyaknya definisi dan perbedaan Ulama didalamnya, Kita ambil satu definisi yang mencakup tiga fungsi dari pada Maf’ul Mutlaq.

المفعول المطلق هو المصدر الْمُنْتَصبُ الموافق للفعل في لفظه ويجيء بعد الفعل لتأكيده ، أو لبيان نوعه أو عدده

Maf’ul Mutlaq adalah Mashdar Manshub yang lafadznya sesuai dengan Fi’ilnya, dia diletakan setelah Fi’il untuk tujuan Taukid (mempertegas) atau memperjelas Jenis dan jumlah.

Perhatikan contoh berikut:

ضَرَبَ خَالِدٌ زَيْدًا ضَرْبًا

Kholid memukul Zaidan dengan pukulan sebenarnya.

Lafadz ضَرَبَ = Fi’il
Lafadz خَالِدٌ = Fa’il
Lafadz زَيْدًا = Maf’ul Bih
Lafadz ضَرْبًا = Maf’ul Mutlaq

Lafadz ضربًا berhak di’irab sebagai Maf’ul Mutlaq karna sudah sesuai dengan definisi diatas. Yaitu: “Bentuknya Mashdar, Lafadznya sesuai dengan Lafadz Fi’ilnya ( ض/ر/ب). Tujuanya juga sudah jelas yaitu untuk mempertegas.

Lalu apa perbedaan Maf’ul Mutlaq dan Mashdar ?

Mashdar lebih umum dari pada Maf’ul Mutlaq, setiap Maf’ul Mutlaq pasti bentuknya Mashdar dan tidak setiap Mashdar di’irab sebagai Maf’ul Mutlaq. Mashdar bisa saja menjadi Mubtada, Fa’il, Maf’ul Bih dll. Silahkan dilihat pada Materi sebelumnya tentang, “Fungsi Mashdar”

Kenapa disebut Maf’ul Mutlaq ?

Karena dia dinashabkan dengan ‘Amilnya (dalam hal ini Fi’il). Tanpa harus terdapat syarat tertentu.

Misalkan pada Fi’il Lazim, fi’il ini bisa Menashabkan Maf’ul Mutlaq tanpa syarat ( tanpa bantuan Huruf Jar). Berbeda ketika ingin menashabkan Maf’ul Bih, Fi’il Lazim ini membutuhkan bantuan Huruf Jar untuk bisa menashabkanya

Berdiri adalah kata kerja Lazim, dia tetap berfungsi sempurna dalam menashabkan Maf’ul Mutlaq, namun untuk bisa berfungsi menashabkan Maf’ul Bih, (dari “berdiri” menjadi “Mendirikan”), dia harus menggunakan bantuan Huruf Jar.

Contoh Fi’il Lazim menashabkan Maf’ul Mutlaq:

قَامَ خَالدٌ قَيَامًا

Kholid telah berdiri dengan berdiri yang benar (tegak).

Contoh Fi’il Lazim menashabkan Maf’ul Bih:

قَامَ خَالدٌ بصلاة المغربِ

Kholid telah mendirikan sholat Magrib.

2. Pembagian Fungsi Maf’ul Mutlaq

قال ابن مالك

تَوْكِيْدًا أَوْ نَوْعًا يُبِيْنُ أَوْ عَــــــدَدْ # كَسِرْتُ سَيْرَتَيْنِ سَيْرَ ذِيْ رَشَدْ

  • a. Untuk mempertegas

أَنْ يَكُوْنَ لِلتَأكِيْد

Fungsi pertama Maf’ul Mutlaq adalah untuk mempertegas perbuatan yang dilakukan.

ضَرَبَ خَالِدٌ زَيْدًا ضَرْبًا / قُمْتُ قِيَامًا

Fungsi Lafadz ضَرْبًا dan قِيَامًا adalah untuk mempertegas Fi’il. Keduanya di’irab sebagai Maf’ul Mutlaq

  • b. Untuk memperjelas jenis/macam

أَنْ يَكُوْنَ لِبَيَانِ النَوْعِ إما بوصفه أو إضافته أو بإدخال حَرْفِ التَّعْرِيْفِ عَلَيْهِ

Fungsi kedua Maf’ul Mutlaq adalah untuk memperjelas jenis, baik dengan disifati, diidhofatkan atau dimasuki Lam Ta’rif.

– Contoh memperjelas dengan disifati:

ضَرَبَ خَالِدٌ زَيْدًا ضَرْبًا شَدِيْدًا

ضربا : مفعول مطلق منصوب وموصوف

Kholid memukul zaidan dengan pukulan keras.

– Contoh memperjelas dengan diidhofatkan:

سَارَ خَالِدٌ سَيْرَ زَيْدٍ

سير : مفعول مطلق منصوب ومضاف

Kholid berjalan seperti berjalanya Zaid

– Contoh memperjelas dengan dimasuki Lam Ta’rif:

ضَرَبَ خَالِدٌ زَيْدًا الضَرْبَ

الضَرْبَ : مفعول مطلق منصوب ودخول حَرْفِ التَّعْرِيْفِ عَلَيْهِ

Terkait perbedaan Pendapat Ulama apakah Mashdar Boleh dimasuki Lam Ta’rif sudah disinggung pada Materi ‘Fungsi Mashdar‘.

  • c. Untuk memperjelas jumlah bilangan

أَنْ يَكُوْنَ لِبَيَانِ العَدَدِ

Fungsi ketiga Maf’ul Mutlaq adalah untuk memperjelas jumlah perbuatan yang dilakukan.

ضَرَبَ خَالِدٌ زَيْدًا ضَرْبَةً

Kholid Memukul zaid satu kali pukulan

ضَرَبَ خَالِدٌ زَيْدًا ضَرْبَاتٍ

Kholid Memukul zaid beberapa kali pukulan

Point a,b dan c, semuanya di’irab dengan Maf’ul Mutlaq.

3. Hukum Tastniyah dan Jamak Maf’ul Mutlaq

حكم تثنية مفعول مطلق وجمعه

  • Untuk Maf’ul Mutlaq yang berfungsi mempertegas, hukumnya tidak boleh terdapat bentuk Tastniyah dan Jamak “Pendapat yang disepakati Ulama”

قال ابن مالك
وَمَــــــا لِتَوْكِيْــــدٍ فَوَحِّــــــدْ أَبَـــدَا

Adapun Mashdar yang berfaedah Taukid, maka mufradkanlah selamanya.

Jadi tidak boleh seperti ini:

ضَرَبَ خَالِدٌ زَيْدًا ضَرْبَيْنِ

  • Untuk Maf’ul Mutlaq yang berfungsi memperjelas jenis/macam, hukumnya (Sima’i) tidak boleh terdapat bentuk Tastniyah dan Jamak. “Pendapat Imam Sibawaih”

Adapun pendapat ” Imam Ibnu Malik”. Hukumnya boleh terdapat bentuk Tastniyah dan Jamak.

قال ابن مالك
وَثَـنِّ وَاجْمَـــــعْ غَيْـــــرَهُ وَأَفْـــــرِدَا

Contoh Maf’ul Mutlaq Tastniyah:

ضَرَبَ خَالِدٌ زَيْدًا ضَرْبَيْنِ مُخْتَلِفَيْنِ، ضَرْبًا عَنِيْفًا وَ ضَرْبًا خَفِيْفًا وَضَرَبْتُهُ ضُرُوْبًا مُخْتَلِفَةً

ضَرْبَيْنِ : مفعول مطلق منصوب وعلامته الياء لأنه مثنى وهو موصوف

ضُرُوْبًا : مفعول مطلق منصوب وعلامته الفتحة لأنه جمع التكسير وهو موصوف

Kholid memukul zaid dua x jenis pukulan, satu x jenis pukulan keras dan satu x jenis pukulan ringan. Dan aku memukul zaid dengan beberapa jenis pukulan berbeda.

Lafadz ضَرْبَيْنِ = Bentuk Tastniyah yang disifati dengan مُخْتَلِفَيْنِ (Untuk menunjukan jenis). Dia Manshub dengan ي (Maf’ul Mutlaq)

Lafadz ضُرُوْبًا = Bentuk Jamak Taksir yang disifati dengan مُخْتَلِفَةً (Untuk menunjukan jenis). Dia Manshub dengan Fathah (Maf’ul Mutlaq).

Contoh Maf’ul Mutlaq Jamak:

Dalam AlQuran:

قوله تعالى
وَتَظُنُّونَ بِاللَّهِ الظُّنُونَا. سورة الأحزاب ١٠

Kalian berprasangka terhadap Allah dengan bermacam-macam prasangka.

الظُّنُونَا : مفعول مطلق منصوب وعلامته الفتحة لأنه جمع التكسير ودخول حرف التعريف عليه

Lafadz الظُّنُونَا Bentuk Jamak Taksir dari Mufrad ظَنّ، kedudunya sebagai Maf’ul Mutlaq yang dimasuki Lam Ta’rif.

  • Untuk Maf’ul Mutlaq yang berfungsi memperjelas jumlah bilangan, hukumnya boleh terdapat bentuk Tastniyah dan Jamak “Pendapat ini disepakati Ulama”

ضَرَبَ خَالِدٌ زَيْدًا ضَرْبَةً / ضَرَبَ خَالِدٌ زَيْدًا ضَرْبَتَيْنِ / ضَرَبَ خَالِدٌ زَيْدًا ضَرْبَاتٍ / ضَرَبَ خَالِدٌ زَيْدًا ضُرُوْبًا

Mufrod – ضَرْبَةً
Tastniyah – ضَرْبَتَيْنِ
Jamak – ضَرْبَاتٍ/ضُرُوْبًا

4. ‘Amil Maf’ul Mutlaq

Nashabnya Maf’ul Mutlaq tidak dengan sendirinya, melainkan terdapat ‘Amil yang membuat menashabkanya.

قال ابن مالك
بِمِثْلِهِ أَوْ فِعْلٍ أَوْ وَصْفٍ نُصِــــبْ # وَكَوْنُهُ أَصْـلاً لِهَذَيْنِ انْتُخِــــــبْ

Maf’ul Mutlaq dinashabkan dengan sesamanya atau Fi’il atau sifat ,
Dan bentuk mashdar adalah asal keduanya (Fi’il & Sifat) ini pendapat yang dipilih.

Sedikit perluasan Bait Alfiyah ini.

Para Ulama berbeda pendapat terkait apakah Mashdar dibentuk dari Fi’il ataukah Fi’il yang terlahir dari Mashdar.

Siapa yang ada terlebih dahulu, Mashdar atau Fi’il ?

  • Pendapat Pertama (Ulama Bashrah):

Mashdar adalah bentuk asal, sedangkan Fi’il dan Sifat adalah terlahir dari bentuk Mashdar. Karena Fi’il dan Sifat mengandung makna kejadian (peristiwa) sekaligus Makna Zaman (Lampau, Hal, Mustaqbal). Adapun Mashdar hanya mengandung makna peristiwa tanpa waktu. Hal Ini menunjukan bahwa keduanya adalah cabang dari pada Mashdar.

  • Pendapat Kedua (Ulama Kufah):

Fi’il dan sifat adalah bentuk asal, sedangkan Mashdar adalah cabang.

Bangunan adalah Mashdar. Dengan adanya suatu fisik bangunan, berarti telah terjadi proses. Karna tidak mungkin ada fisik bangunan jika tidak melibatkan, siapa si pembangun, kapan dibangun, dimana dibangun dan dengan menggunakan alat apa.

  • Pendapat Ketiga (Imam Abu Bakar Talhah):

Mashdar dan Fi’il keduanya adalah bentuk asal.

  • Pendapat Keempat (Sebagian Ulama Bashrah):

Fi’il dibentuk dari Mashdar dan Sifat dibentuk dari Fi’il.

  • Pendapat Jumhur (Mayoritas) mengikuti Pendapat Pertama (Ulama Basrah) sebagaimana terteda dalam Bait Alfiyah diatas.
    ____________

Baik, kita lanjut ke inti pembahasan “Amil-Amil yang menashabkan Maf’ul Mutlaq

  • Mashdar

‘Amil pertama yang menashabkan Maf’ul Mutlaq adalah Mashdar, baik secara Makna dan Lafadz atau secara Makna tanpa Lafadz

– Secara makna dan lafadz

Contoh:

قوله تعالى
قالَ اذْهَبْ فَمَنْ تَبِعَكَ مِنْهُمْ فَإِنَّ جَهَنَّمَ جَزاؤُكُمْ جَزاءً مَوْفُوراً. سورة الإسراء ٦٥

(Allah) berfirman, “Pergilah, barang siapa di antara mereka yang mengikuti kamu, maka sungguh, neraka Jahanamlah balasanmu semua, sebagai pembalasan yang cukup.

جَزاءً مَوْفُوراً : مفعول مطلق منصوب و موصوف

Lafadz جَزاءً adalah Maf’ul Mutlaq dan Lafadz جَزاؤ (Mashdar) sebagai ‘Amilnya yang menashabkanya. Antara mereka berdua terdapat kesamaan dari segi Makna dan Lafadz yaitu ( ج/ز/ا/ء )

– Secara makna tanpa lafadz

Contoh:

أَعْجَبَنِي إِيْمَانُكَ بالرسول تَصْدْيْقًا

Imanmu terhadap Rasul sebagai pembenaran telah membuatku kagum

Lafadz تَصْدْيْقًا adalah Naib Maf’ul Mutlaq dan lafadz إِيْمَانُكَ (Mashdar) sebagai ‘Amilnya yang menashabkanya. Antara mereka berdua hanya sama dari segi Makna namun Lafadz berbeda.

Jadi disini untuk ‘Irab تَصْدْيْقًا bukan Maf’ul Mutlaq, melainkan “Niyabah” (pengganti) Maf’ul Mutlaq karena lafadznya berbeda dengan ‘Amilnya. Nnti diperjelas dibahas dibawah.

  • Fi’il

‘Amil kedua yang menashabkan Maf’ul Mutlaq adalah Fi’il

Contoh:

قوله تعالى
مِّنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ ۖ فَمِنْهُم مَّن قَضَىٰ نَحْبَهُ وَمِنْهُم مَّن يَنتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا

Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya).

تَبْدِيلًا : مفعول مطلق منصوب لتأكيد

Lafadz تَبْدِيلًا adalah Maf’ul Mutlaq dan lafadz بَدَّلُوا (Fi’il) sebagai ‘Amil yang menashabkanya.

Syarat Fi’il yang bisa dijadikan ‘Amil untuk Maf’ul Mutlaq:

  • – Harus Fi’il yang Mutasharif (bukan Jaamid) seperti Fi’il عسى dan ليس tidak bisa menashabkan Maf’ul Mutlaq.
  • – Harus Fi’il Taam (bukan Naaqis) seperti كان dkk tidak bisa. Meskipun menurut sebagian pendapat, Fi’il ini kadang Taam.

كان خالد ناجحا كونًا

Lafadz كونًا tidak sah menjadi Maf’ul Mutlaq.

  • – Bukan Fi’il yang menghapus Fungsi Mubtada dan Khobar, seperti ظَنَّ dkk

ظننت خالدا ناجحا ظَنّا

Lafadz ظَنّا tidak sah menjadi Maf’ul Mutlaq.

  • – Bukan Fi’il Ta’ajub, seperti

مَا أجْمَلَ المَنَاظِر جملاً

Lafadz جملاً tidak sah menjadi Maf’ul Mutlaq.

  • Sifat

‘Amil ketiga yang menashabkan Maf’ul Mutlaq adalah Sifat. Mencakup Isim Fa’il, Isim Maf’ul dan Syigh Mubalagah.

Adapun untuk Isim Tafdhil dan Sifat Musyabahah tidak termasuk ‘Amil yang menashabkan Maf’ul Mutlaq kecuali menurut Ibnu Hisyam.

– Contoh untuk ‘Amil Isim Fa’il:

وَالصَّافَّاتِ صَفًّا. سورة الصافات ١

صَفًّا : مفعول مطلق منصوب عامله اسم فاعل الصَّافَّاتِ

Demi (rombongan) yang ber shaf-shaf dengan sebenar-benarnya],

وَالذَّارِيَاتِ ذَرْوًا. سورة الذاريات ١

Demi (angin) yang menerbangkan debu dengan kuat

مفعول مطلق منصوب عامله عامله اسم فاعل الذاريات

Lafadz صَفًّا dan ذَرْوًا Maf’ul Mutlaq dan Isim Fa’il الصَّافَّاتِ dan الذاريات
sebagai ‘Amil yang menashabkanya.

Contoh sederhana:

أنا ضَارِبٌ زيداً ضرباً

Aku memukul zaidan dengan sebenarnya pukulan.

Lafadz ضرباً Maf’ul Mutlaq dan Isim Fa’il Isim Fa’il ضَارِبٌ sebagai ‘Amil yang menashabkanya.

– Contoh untuk ‘Amil Isim Maf’ul:

خَالِدٌ مَضْرُوْبٌ ظَرْبًا

Kholid dipukul dengan sebenarnya pukulan

Lafadz ضرباً Maf’ul Mutlaq dan Isim Maf’ul مَضْرُوْبٌ sebagai ‘Amil yang menashabkanya.

– Contoh untuk ‘Amil Syigh Mubalaghah:

خَالدٌ فَرِحٌ فَرْحًا

Lafadz فَرْحًا Maf’ul Mutlaq dan Isim Syigh Mubalaghah فَرِحٌ sebagai ‘Amil yang menashabkanya.

5. Apakah bentuk Mashdar yang dijadikan Maf’ul Mutlaq mesti dari kata/huruf yang sama seperti Fi’ilnya ?

Tidak mesti, dalam hal ini terbagi menjadi tiga bagian.

  • Bentuk Mashdar yang dijadikan Maf’ul Mutlaq adalah hasil pembentukan dari Fi’ilnya.

قَعَدَ خَالدٌ قُعُوْدًا

  • Bentuk Mashdar yang dijadikan Maf’ul Mutlaq berbeda Lafadz dengan Lafadz Fi’ilnya.

قَعَدَ خَالدٌ جُلُوْسًا

  • Bentuknya bukan Mashdar, melainkan Isim Mashdar

وَاللَّهُ أَنبَتَكُم مِّنَ الْأَرْضِ نَبَاتًا

Lafadz نَبَاتًا Maf’ul Mutlaq namun dia bukan Mashdar dari Fi’il أَنْبَتَ yang seharusnya إنْبَاتًا. Lafadz نَبَاتًا adalah Isim Mashdar.

Untuk Point b dan c nanti masuknya pada pembahasan Niyabah ‘An Maf’ul Mutlaq (Pengganti posisi Maf’ul Mutlaq). Akan diperjelas dibawah.

6. Hukum Fungsi satu ‘Amil untuk dua Maf’ul Mutlaq

(حُكْمُ العَامِلِ فِي مَصْدَرَيْنِ (مُأكّدا و مُبَيِّنا

Terdapat dua pendapat berbeda terkait masalah bolehnya satu ‘Amil menashabkan dua Maf’ul Mutlaq.

  • Hukumnya tidak boleh “Jumhur Ulama” termasuk pendapat (الأخفش، المبرد، ابن السراج ).
  • Hukumnya boleh ( السيرافي, ابن طاهر، ابو القاسم بن القاسم )

Contoh:

ضَرَبَ خَالدٌ زَيْدًا ضَرْبًا ضَرْبَتَيْنِ

  • Menurut pendapat pertama: “Lafadz ضَرْبًا di’irab Maf’ul Mutlaq Muakkid, sedangkan ضَرْبَتَيْنِ di’irab sebagai Badal dari ضَرْبًا. Artinya tidak berkumpul dua Maf’ul Mutlaq dari satu ‘Amil”.
  • Menurut pendapat kedua: “Lafadz ضَرْبًا di’irab sebagai Maf’ul Mutlaq Muakkid dan begitu juga dengan Lafadz ضَرْبَتَيْنِ di’irab dengan Maf’ul Mutlaq Mubayyin ‘Adad (menjelaskan jumlah). Keduanya dinashabkan oleh ‘Amil yang sama yaitu Fi’il ضَرَبَ

7. Pengganti posisi Maf’ul Mutlaq.

ما يَنُوْبُ عَن المفعول المطلق

قال ابن مالك
وَقَدْ يَنُوْبُ عَنْهُ مَــــــــا عَلَيْهِ دَلّ # كَجِدَّ كُلَّ اْلجِدِّ وَافْرَحِ اْلجَــــــذَلْ

  • Sifat

Pengganti pertama yang biasa menempati posisi Maf’ul Mutlaq adalah Sifat dari pada Maf’ul Mutlaq itu sendiri.

Contoh:

نَامَ خَالدٌ كَثِيْرًا
انتشر السلام سريعاً
سِرْتُ طَوِيْلاً
ضَرَبَ خَالدٌ زَيْدًا شَدِيْدًا

Semua lafadz كَثِيْرًا/سريعاً/طَوِيْلاً/شَدِيْدًا adalah pengganti posisi Maf’ul Mutlaq setelah dibuang.

Asalnya:

نَامَ خَالدٌ نَوْمًا كَثِيْرًا
اِنْتَشَرَ الإِسْلَامُ انْتِشَارًا سريعاً
سِرْتُ سَيْرًا طَوِيْلاً
ضَرَبَ خَالدٌ زَيْدًا ضَرْبًا شَدِيْدًا

Dalam meng’irabnya seperti ini:

كَثِيْرًا/سريعاً/طَوِيْلاً/شَدِيْدًا : صفة منصوبة نِيابة عن المفعول المطلق

  • Jumlah

Pengganti kedua yang biasa menempati posisi Maf’ul Mutlaq adalah jumlah/hitunganya.

Contoh:

ضَرَبَ خَالدٌ زَيْدًا خَمْسَ ضَرَبَاتٍ

Kholid memukul zaid dengan 5x pukulan

رَكَعْتُ لِلَّهِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ

Aku rukuk kepada Allah dengan 4x rukuk

خَمْسَ / أَرْبَعَ : منصوبان نِيابة عن المفعول المطلق

Dalam AlQuran:

فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً. سورة النور ٤

Maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera

Lafadz ثَمَانِينَ adalah pengganti posisi Maf’ul Mutlaq yang menjelaskan jumlah hitungan.

ثَمَانِينَ : نائب مفعول مطلق منصوب بالياء لأنه ملحق بجمع المذكر السالم

  • Lafadz كُلّ/جَمِيْع dan بَعْض

Pengganti ketiga yang biasa menempati posisi Maf’ul Mutlaq adalah Lafadz كُلّ dan بَعْض yang diidhofatkan kepada Maf’ul Mutlaq.

Contoh:

سَارَ خَالِدٌ بَعْضَ السَيْرِ

Kholid berjalan sebagian perjalanan

Dalam AlQuran:

فَلا تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ. سورة النساء ١٢٩

كُلَّ : منصوب نِيابة عن المفعول المطلق وهو مضاف
الْمَيْلِ : مضاف إليه مجرور

Sebenarnya tidak terbatas pada lafadz كُلّ/جَمِيْع/بعض. Bahkan semua bentuk Isim dengan syarat diidhofatkan kepada Maf’ul Mutlaq. Maka sah di’irab sebagai Maf’ul Mutlaq. Misalkan

اِجْتَهَدَ خَالِدٌ غَايةَ الاجْتِهادِ
عَاشَ خَالِدٌ أَجْمَلَ عيْشَةٍ

  • Isim Isyarah

Pengganti keempat yang biasa menempati posisi Maf’ul Mutlaq adalah Isim Isyarah

ضَرَبَ خَالدٌ زَيْدًا ذلك الضَرْبَ

ذا : اسم إشارة مبني على السكون في محل النصب نِيابة عن المفعول المطلق واللام للبعد والكاف للخطاب

الضَرْبَ : بدل

  • Dhomir yang maknanya kembali kepada Maf’ul Mutlaq

Pengganti kelima yang biasa menempati posisi Maf’ul Mutlaq adalah Dhomir

مِنكُمْ فَإِنِّي أُعَذِّبُهُ عَذَابًا لَّا أُعَذِّبُهُ أَحَدًا مِّنَ الْعَالَمِينَ. سورة المائدة ١١٥

Perhatikan Dhomir Hu (ه) pada أُعَذِّبُهُ dia adalah Dhomir yang Maknanya kembali kepada Maf’ul Mutlaq. Jadi dia di’Irab sebagai Pengganti dari posisi Maf’ul Mutlaq

الهاء : ضمير متصل في محل نصب نائب مفعول مطلق لعودته إليه

  • Alat

Pengganti keenam yang biasa menempati posisi Maf’ul Mutlaq adalah Alat yang dipakai. Misalkan dalam memukul seperti:

ضَرَبَ خَالدٌ زَيْدًا سَوْطًا
رمي خَالدٌ سَهَمًا

سوطا/سهما : منصوبان نِيابة عن المفعول المطلق

 :تقدير
ضَرَبَ خَالدٌ زَيْدًا ضربَ سوطٍ
رمي خَالدٌ رَمْيَ سهمٍ

Kholid memukul zaid dengan atau ( bagaikan)pukulan cambuk

Kholid melempar zaidan dengan atau (bagaikan) lemparan anak panah

  • Sinonim

Pengganti ketujuh yang biasa menempati posisi Maf’ul Mutlaq adalah Sinonim bentuk Mashdar.

Contoh:

قَعَدَ خَالدٌ جُلُوسًا
فَرحَ خَالدٌ سُرُوْرًا

جُلُوسًا/سُرُوْرًا : مصدران منصوبان نِيابة عن المفعول المطلق

Kedua Lafadz جُلُوسًا dan سُرُوْرًا di’irab sebagai pengganti Maf’ul Mutlaq, karena Lafadznya tidak sesuai dengan Lafadz Fi’ilnya (memakai sinonim).

  • Ayyu Istifham

Pengganti kedelapan yang biasa menempati posisi Maf’ul Mutlaq adalah أيّ Istifham.

Contoh:

أَيَّ قراءةٍ قرأتَهُ

Bacaan mana yang kau telah baca

Dalam AlQuran:

وَسَيَعْلَمُ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَيَّ مُنقَلَبٍ يَنقَلِبُونَ. سورة الشعراء ٢٢٧

Dan orang-orang yang zalim kelak akan tahu ke tempat mana mereka akan kembali.

أَيَّ : استفهام، منصوب بالفتحة نِيابة عن المفعول المطلق وهي مضاف

  • Isim Mashdar

Pengganti kesembilan yang biasa menempati posisi Maf’ul Mutlaq adalah Isim Mashdar.

Sekilas perbedaan Mashdar dengan Isim Mashdar adalah

Mashdar mengikuti Wazan Tashrif, adapun Isim Mashdar tidak mengikuti. Jadi ada pengurangan Huruf pada Isim Mashdar.

Misalkan Mashdar dari Fi’il أَعْطَى adalah إِعْطَاءً، sedangkan bentuk Isim Mashdarnya عَطَاءً

أَعْطَى » عَطَاءً
أَنْبَت » نَبَاتاً
أَبْلَغ » بَلاغاً
اغْتَسَل » غُسْلاً
تَكَلَّمَ » كَلَامًا

Contoh:

وَاللَّهُ أَنبَتَكُم مِّنَ الْأَرْضِ نَبَاتًا. سورة نوح ١٧

نَبَاتًا : اسم مصدر منصوب بالفتحة نِيابة عن المفعول المطلق

Lafadz نَبَاتًا di’irab sebagai pengganti posisi Maf’ul Mutlaq
___________

8. Hukum Membuang ‘Amil Maf’ul Mutlaq

  • Membuang ‘Amil pada Maf’ul Mutlaq yang berfungsi Taukid.

Pertama: Pendapat Ibnu Malik (ابن مالك)

قال
وَحَذْفُ عَامِلِ الْمُؤَكِّــــدِ امْتَنَـــــعْ # وَفِيْ سِـــوَاهُ لِدَلِيْــــــلٍ مُتَّسَــــــعْ

Hukum membuang ‘Amil pada Maf’ul Mutlak yang berfungsi Taukid (Mempertegas) adalah tidak boleh. Adapun pada Maf’ul Mutlak yang berfungsi memperjelas Jenis dan Bilangan, hukumnya diperbolehkan.

Kedua: Pendapat Ibnu Nadzim ( ابن الناظم)

أنّ عامل المفعول المطلق المؤكّد قد يخدف إما جوازا أو وجوبا كما هو الحال في حذف عامل المفعول المطلق المبيّن للنوع أو للعدد

Hukum membuang ‘Amil pada Maf’ul Mutlak yang berfungsi Taukid (Mempertegas) terkadang boleh atau wajib. Sebagaimana terjadi pada Maf’ul Mutlak yang berfungsi memperjelas Jenis dan Bilangan.

Terkait perbedaan pendapat ini, untuk lebih jelas silahkan buka kitab Nahwu Alwafi, Jilid 2, Hal 220.

  • Membuang ‘Amil pada Maf’ul Mutlaq yang berfungsi memperjelas Jenis dan Bilangan.

– Hukumnya Boleh dibuang ketika menjawab sebuah pertanyaan.

Contoh 1:

كَيْفَ ضَرَبْتَ زَيْدًا ? ضَرْبًا شَدِيْدًا

Bagaimana kau memukul Zaid ? Dengan pukulan keras

Lafadz ضَرْبًا شَدِيْدًا adalah Maf’ul Mutlaq yang berfungsi menjelaskan jenis pukulan. ‘Amilnya boleh dibuang, kalimat sempurnanya seperti ini:

كَيْفَ ضَرَبْتَ زَيْدًا ? ضَرَبْتُهُ ضَرْبًا شَدِيْدًا

Contoh 2:

كَمْ مَرّةً ضَرَبْتَ زَيْدًا ؟ ضَرْبَتَيْنِ / ضَرَبَاتٍ

Berapa kali kau memukul Zaid ? dua x atau beberapa kali.

Lafadz ضَرْبَتَيْنِ / ضَرَبَاتٍ adalah Maf’ul Mutlaq yang berfungsi menjelaskan jumlah pukulan. ‘Amilnya boleh dibuang, Kalimat sempurnanya seperti ini:

كَمْ مَرّةً ضَرَبْتَ زَيْدًا ؟ ضَرَبْتُهُ ضَرْبَتَيْنِ / ضَرَبَاتٍ

– Hukumnya Wajib dibuang ketika:

  • Bentuk Mashdar yang dijadikan Maf’ul Mutlaq tidak ada bentuk Fi’ilnya.

Contoh seperti kata-kata berikut:

وَيْلٌ / وَيْحٌ / وَيْبٌ
وَيْلَ زَيْدٍ / وَيْلاً لِزَيْدٍ

Celaka Zaid

Untuk arti وَيْحٌ bisa bermakna وَيْلَ atau bermakna رحم (mengasihi)

Lafadz وَيْلَ adalah pengganti Maf’ul Mutlaq yang ‘Amilnya wajib
dibuang karena وَيْلَ tidak memiliki bentuk Fi’il.

Lafadz وَيْلَ boleh juga Rafa sebagai Mubtada seperti pada Ayat AlQuran:

وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ
وَيْلٌ : مبتدأ مرفوع

Celaka bagi orang-orang yang berbuat curang.

  • Bentuk Mashdar yang dijadikan Maf’ul Mutlaq mirip Mutsana (menunjukan arti dua) dan diidhofatkan.

Contoh:

لَبَّيْكَ اللهم لَبَّيْكَ

Lafadz لَبَّيْكَ adalah bentuk Mashdar mirip Mutsana karena menunjukan dua, bentuk Fi’ilnya berasal dari

لَبَّ – يَلُبّ – لَبّ
أَي أَنا مقيمٌ على طاعتك

Irabnya:

لَبَّيْ : نائب مفعول مطلق لفعل محذوف تقديره ( أُلَبِّي تلبية بعد تلبية ) منصوب وعلامة نصبه الياء لأنه جاء على صورة المثنى

الكاف : ضمير بارز متصل مبني في محل جر مضاف إليه

(و المعنى ( أُلَبِّيْكَ تَلْبِيَةً بَعْدَ تَلْبِيَة

Lafadz لَبَّيْ bentuk Mashdar dari Fi’il لَبَّ, asalnya لَبَّا (Menunjukan Mutsana Rafa) menjadi لَبَّيْ (Menunjukan Mutsana Nashab). Amilnya wajib dibuang, kedudukanya sebagai pengganti Maf’ul Mutlaq, Manshub, tandanya ي sebab mirip dengan Mutsana, dia juga sebagai Mudhof.

Takdiranya:

أُلَبِّيْكَ تَلْبِيَةً بَعْدَ تَلْبِيَةٍ

  • Bentuk Mashdar yang dijadikan Maf’ul Mutlaq, terdiri dari Mashdar yang mesti harus Idhofat.

Contoh

سُبْحَانَ اللَّهِ

سبحان : نائب عن مفعول مطلق منصوب وعلامة نصبه الفتحة الظاهرة وهو مضاف

الله : لفظ الجلالة مضاف إليه مجرور بالكسرة الظاهرة

تقديره : أُسَبِّحُ سُبْحَانَ اللّهِ

Lafadz سُبْحَانَ adalah bentuk Mashdar dari Fi’i سَبَحَ، Amilnya wajib
dibuang, kedudukanya sebagai pengganti Maf’ul Mutlaq, dia selalu diidhofatkan.
_______

Penggunaan Maf’ul Mutlaq pada percakapan sehari-hari, sebenarnya sering kita lakukan. Bagi yang belum mengetahui mungkin tidak menyadarinya. Misalkan

شُكْرًا / عَفْوًا / أيْضًا / حَمْدًا /

Semua kata-kata diatas adalah di’irab sebagai Maf’ul Mutlaq yang ‘Amilnya wajib dibuang (Sima’i).

شُكْرًا لَكَ -» أَشْكُرُكَ شُكْرًا
حَمْدًا لِلَّه -» أَحْمَدُ اللَّهَ حَمْدًا
نَجَحَ خَالدٌ وأنا أيْضًا -» نَجَحَ خَالدٌ وأنا آضَ أيْضًا

شُكْرًا : مفعول مطلق منصوب بفعل محذوف وجوبًا تقديره أَشْكُرُكَ شُكْرًا


TMBA 31-08-2019
Zizo

Semoga bermanfaat, atas segala kekurangan silahkan merujuk referensi dibawab:

المراجع

انظر: المقتضب، ج٣, ص ٢٠٤
انظر : همع الهوامع، ج١, ص ١٨٧-١٨٩
انظر : شرح المفصل، ج١, ص ١١٢-١١٨
انظر : شرح الرضى على الكافية، ج١ ص ١١٤
انظر : شرح الأشمونى، ج٢، ص ٣١٨-٣٢٥
انظر : شرح ابن عاقيل، ج١, ص ٥٠٧
انظر : شرح التسهيل، ج٢, ص ١٨٠-١٨٦
انظر : النحو الوافي، ج٢, ص ٢١٨-٢٣٣

Apakah postingan ini cukup membatu?

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

TMBA

Belajar Bahasa Arab tidak semudah membalikan telapak tangan, butuh keseriusan dan istiqomah. Namun tidak ada kata terlambat jika kita ingin ingin mempelajarinya.

2 thoughts on “Kaidah Maf’ul Mutlaq (مفعول مطلق) Lengkap Dengan Contoh ‘Irabnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Berbelanja Dipasar (Percakapan Bahasa Arab)

Tue Sep 3 , 2019
Buku ” Ta’bir Silsilah Ta’lim Al- Lughah Al-Arabiyyah Mustawa Dua”   (كتاب تعبير سلسلة تعليم اللغة العربية (المستوى الثانى Buku yang diterbitkan Universitas Islam Muhammad bin Su’ud ini sangat kayak dengan kosa-kata yang biasa dipakai percakapan sehari-hari, Jadi sayang sekali jika tidak belajar dengan serius meskipun via online. Buku ini […]

TMBA (Tips Mahir Berbahasa Arab)

TMBA adalah website edukasi untuk mahir berbahasa arab dengan cepat. Materi dikemas dengan sajian konversasi dan interaksi sesama anggota melalui group whatsapp dan facebook. Kajian Grammer Nahwu & Sharaf, latihan membaca, menulis, mendengar dan latihan terjemah. Selengkapnya

Share digroup kesayangan Anda

Berlangganan Artikel TMBA Via Email

Masukan email address untuk menerima artikel terbaru dari situs TMBA (Tips Mahir Berbahasa Arab)

Join 27 other subscribers

error: Content is protected !!