Kaidah Dzharaf [مفعول فيه]Lengkap dengan contoh dari AlQuran

Must Read

Macam-Macam Maa (ما), fungsi dan ‘Irabnya

Ada berapa banyak jumlah Maa (ما) dalam bahasa arab dan bagaimana cara penggunaanya dalam kalimat ?. Kira-kira seperti itu...

Mengenal Uslub Qasam (أُسْلُوْبُ القَسَمِ)

Materi uslub qasam (sumpah) yang akan kita bahas meliputi pengertian uslub qasam secara bahasa, istilah, rukun, jumlah (kalimat) qasam,...

Bahasa Arab Mudah atau Sulit?

Bahasa Arab Mudah atau Sulit?  Perkembangan bahasa arab sudah berlangsung lama, bahkan jauh sebelum masehi. Abbas al-Aqqad seperti dikutip...
TMBAhttps://bahasa-arab.com/
Belajar Bahasa Arab tidak semudah membalikan telapak tangan, butuh keseriusan dan istiqomah. Namun tidak ada kata terlambat jika kita ingin ingin mempelajarinya.

4.9
(500)
  1. Maf’ul Fih ( Dzharaf Zaman & Makan)

Perhatikan contoh berikut:

ضَرَبَ خَالِدٌ الكَلْبَ ثم جَلَسَ

Kholid telah memukul seekor anjing

Dari contoh di atas, Kita mengetahui bahwa sudah terjadi pemukulan yang dilakukan Kholid kepada anjing, lalu kemudian setelah itu Kholid duduk. Namun Kita tidak mengetahuinya, kapan pemukulan itu terjadi dan dimana tempat Kholid duduk.

Setelah kita tambahkan lafadz مساء dan lafadz أمام misalkan, seperti ini:

ضَرَبَ خَالِدٌ الكَلْبَ مساءً، ثم جَلَسَ أَمَامَ التِلْفَازِ

Maka terlahirlah petunjuk baru yang menunjukan bahwa pemukulan itu terjadi pada waktu sore dan bertempat di depan telivisi. Inilah yang dinamakan dengan Dzharf Zaman dan Makan (Maf’ul Fih).

Definisi Dzharaf (مفعول فيه)

الاسم الدال على الزمان أو المكان المنصوب باللفظ الدال على المعنى الواقع فيه المتضمّن معنى في الدالة على الظرفية

Isim yang menunjukan arti waktu atau tempat yang dinashabkan dengan lafadz yang menunjukan kepada terjadinya suatu perbuatan yang di dalamnya mengandung siratan makna Fii في (di)

Apakah setiap Isim yang menunjukan arti waktu dan tempat selalu di’irab sebagai Dzharfiyyah/Maf’ul Fih ?

Tidak, apabila belum memenuhi ketiga syarat berikut:

  • Harus mengandung siratan makna Fii yang secara lafadz tidak nampak.

Syarat in berlaku untuk dzharaf kategori Mutasharif yang kadang di’irab sebagai dzharfiyyah (maf’ul fih) dan terkadang tidak. Adapun dzharaf Ghair Mutasharif terutama yang Mabni, tidak memperkirakan makna Fii (di).

Begitu juga dengan dzharaf Makan Mukhtas, seperti: البيت، الدار، المدرسة dan lainya, meskipun mengandung siratan makna Fii, namun tidak bisa dii’rab sebagai maf’ul fih (dzharfiyyah) sebab harus selalu didahului Huruf Jar. Kecuali memenuhi syarat yang ditentukan. Contoh:

سكنت في البيت / ذهبت إلى المدرسة

Penjelasan istilah-istilah di atas akan diperjelas di bawah.

Lihat:

السيوطي، جلال الدين، الأشباه والنظائر في النحو، تحقيق دكتور عبد العال سالم مكرم، ج١,.ص ٨٢٦

قال ابن مالك

اَلظَّرْفُ وَقْتٌ أَوْ مَكَانٌ ضُمِّنَا  # فِي بِاطِّرَادٍ كَهُنَا امْكُثْ أَزْمُنَا

  • Harus menunjukan arti tempat/waktu yang terkait dengan suatu kejadian.

Syarat ini sudah pasti mutlak harus dimiliki setiap Isim ber’irab maf’ul fih, karena dzharaf merupakan makna pelengkap untuk menunjukan waktu dan tempat kejadian. Dimana setiap dzharaf mesti berta’alluq ( keterkaitan makna dengan suatu kejadian). Karenanya, dzharaf sebagai wadah (وعاء) yang tidak mungkin berdiri sendiri.

  • Mesti manshub dengan amilnya

Manshub baik secara dzhahir, taqdir, atau manshub secara tempat sebab alasan mabni, semuanya merupakan syarat mutlak untuk setiap Isim yang di’irab sebagai  (Maf’ul Fih). Kecuali dzharaf Makan Ghoir Mubham (Mukhtas) seperti yang telah disinggung di atas.

Manshubnya Isim yang dijadikan dzharaf tidak manshub dengan sendirinya, melainkan dinashabkan oleh Amil-Amil yang memiliki keterkaitan makna.

قال ابن مالك
فَانْصِبْهُ بِالْوَاقِعِ فِيْهِ مُظْهَرَا # كَانَ وَإِلاَّ فَانْوِهِ مُقَدَّرَا

Adapun tanda Nashab dzharaf tidak selalu Fathah Dzahirah, terdapat juga Muqadarrah dan mabni (fathah kasrah, sukun).

Apakah Isim-Isim dzharaf yang tidak memenuhi syarat di atas, tetap di’irab sebagai maf’ul fih?

Ketika Isim-Isim ini tidak memenuhi syarat di atas, mereka hanyalah Isim biasa yang hanya mengandung arti waktu dan tempat, tanpa ada keterkaitan dengan terjadinya suatu kejadian. Kedudukan I’rabnya disesuaikan dengan posisinya masing-masing dalam kalimat.

Perhatikan kedua contoh berikut:

جاء خالد يومَ السبت / جاء يومُ السبت

Kholid tiba hari sabtu / Hari sabtu telah tiba

Kedua Lafadz يوم sama-sama mengandung arti waktu, namun keduanya berbeda dari segi ‘irab.

  • Pada Lafadz يوم yang pertama, terdapat siratan makna Fii (di). Ketika artinya diterjemahkan dengan ( Kholid datang hari sabtu ataupun Kholid datang di hari sabtu), keduanya memiliki arti dan maksud yang sama.

Berbeda dengan Lafadz يوم kedua yang tidak terdapat siratan makna Fii. Apabila kita terjemahkan dengan (hari sabtu telah datang dan di hari sabtu telah datang). kedua maknanya menjadi berbeda dan keluar dari arti sebenarnya.

  • Pada Lafadz يوم pertama terkait dengan suatu kejadian yaitu datangnya Kholid, namun pada Lafadz يوم kedua tidak terkait dengan kejadian apapun.

Dengan begitu, dia tidak berhak di’irab sebagai maf’ul fih melainkan sebagai Fa’il, karena hanyalah sebuah nama yang menunjukan arti waktu.

Dari pemaparan di atas, bisa kita simpulkan bahwa setiap yang di’irab sebagai maf’ul fih adalah dzharaf baik zaman atau makan. Dan tidak setiap dzharaf (zaman & makan) di’irab sebagai dzharfiyyah (maf’ul fih).

Lihat:

انظر : شرح الرضي على الكفاية، تحقيق يوسف حسن عمر، ص ٤٧٨


Amil-Amil yang membuat nashab dzharaf

Berikut Amil-Amil yang membuat nashab dzharaf dan contoh ‘irabnya.

1. Fi’il (الفعل)

ذَهَبَ خَالدٌ يَوْمَ الجُمْعَةِ

Fi’ilnya nampak jelas lafadz ‘ذَهَبَ’

ذَهَبَ خَالدٌ يَوْمَ الجُمْعَةِ
ذَهَبَ: فعل ماضي مبني على الفتح
خَالدٌ: فاعل مرفوع بالضمة الظاهرة
يَوْمَ: ظرف زمان منصوب بالفتحة الظاهرة، وهو متعلق بالفعل ‘ذهب’. وهو مضاف
الجُمْعَةِ: مضاف إليه

2. Mashdar (المصدر)

السهرُ لَيلاً مُرْهِقٌ

Bergadang di waktu malam melelahkan.

السهر: مبتدأ مرفوع بالضمة الظاهرة
ليلا: ظرف زمان منصوب بالفتحة الظاهرة، وهو متعلق بالسهر
مرهق: خبر مرفوع بالضمة الظاهرة

3. Isim Fa’il (اسم الفاعل)

خالدٌ قَادِمٌ غدًا

Kholid akan datang besok

خالدٌ : مبتدأ مرفوع بالضمة الظاهرة
قَادِمٌ : خبر مرفوع بالضمة الظاهرة
غدا: ظرف زمان منصوب بالفتحة الظاهرة، وهو متعلق بقادم

4. Isim Maf’ul (اسم المفعول)

المدرسةُ مَفْتُوْحَةٌ صَبَاحًا وَمُغْلَقَةٌ مَسَاءً

Sekolah itu dibuka di pagi hari dan ditutup di sore hari.

صباحا: ظرف زمان منصوب بالفتحة الظاهرة، وشبه الجملة متعلق بمفتوح
مساء: ظرف زمان منصوب بالفتحة الظاهرة،  متعلق بمغلق

5. Sifat Muysabahah (صفة المشبهه)

خالدٌ حَلِيْمٌ عِنْدَ الغَضَبِ

Kholid bersikap toleran ketika marah.

عِنْدَ : ظرف زمان منصوب بالفتحة الظاهرة،   متعلق بحليم

6. Shighah Mubalaghah (صيغة المبالغة)

ِخالدٌ فَطِنٌ عندَ سِبَاقِ مهارةِ القراءة

Khilod sangat cerdas ketika lomba mahir membaca.

عِنْدَ : ظرف زمان منصوب بالفتحة الظاهرة،   متعلق بفطن

7. Isim Tafhdil (اسم التفضيل)

المريضُ اليومَ أحْسَن منه أمس

Hari ini orang sakit itu lebih baik dari hari kemarin

اليومَ : ظرف زمان منصوب بالفتحة الظاهرة،   متعلق بأحسن
أمس : ظرف زمان منصوب بالفتحة الظاهرة،   متعلق بأحسن

Catatan:

  • Posisi antara dzharaf dan amilnya boleh saling mendahului, tidak mesti dzharaf selalu berada di akhir.

Contoh:

حَالَةُ الجَوّ اليَوْمَ معتدلةٌ / اليومَ حالةُ الجو معتدلةٌ / حالةُ الجو معتدلةٌ اليومَ

Keadaan cuaca hari ini normal

  • Untuk mengetahui fungsi dari pada Amil-Amil di atas, bisa melihatnya pada materi sebelumnya ( Muystaq )

Untuk perluasan silahkan lihat:

انظر: عباس حسن، النحو الوافي، ج ٤، ص ٢٤٥

___________
Apakah boleh satu Amil untuk beberapa Dzharaf ?

Boleh, apabila dzharaf berbeda jenis (satu zaman dan satu lagi makan)

Contoh1:

رَأيتُكِ يَوْمَ الوَدَاعِ خَلْفَ جُدران المدرسةِ بَاكيَةً

Di hari perpisahan, aku melihatmu di berada di belakang dinding sekolah sambil menangis.

Lafadz يَوْمَ (zaman) dan Lafadz خَلْفَ (makan) keduanya terkait dengan satu peristiwa dengan amil yang sama yaitu رأي

Contoh2:

ِأنْتَظِرُكَ يومَ الجمعةِ أمامَ المدرسة

Aku akan menunggumu pada hari jumat di depan sekolah

يوم: ظرف زمان منصوب بالفتحة الظاهرة، وشبه الجملة متعلق بالفعل انتظر
الجمعة: مضاف إليه مجرور بالكسرة الظاهرة
أمام: ظرف مكان منصوب بالفتحة الظاهرة، وشبه الجملة متعلق بالفعل انتظر
البيت: مضاف إليه مجرور بالكسرة الظاهرة

Namun apabila kedua dzharaf sama jenis, tidak boleh. Contoh

أُقَابِلُكِ يَومَ السَبْتِ صَبَاحًا

Aku akan menemuimu dihari sabtu pada waktu pagi.

Lafadz صَبَاحًا di’irab sebagai badal dari dzharaf يَومَ karena keduanya dzharaf zaman

Lihat:

حاشية الصبان، ص ١٨٣
 أبو حبان الأندلوسي، مسائل النحو والصرف في تفسير البحر المحيط، ج ١، ص ٢٢٣
___________

Membuang Amil Dzharaf

Apakah Amil-Amil ini keberadaanya selalu nampak.?

Tidak, ada beberapa tempat dimana Amil-Amil ini wajib nampak dan boleh dibuang (tidak nampak)

  1. Amil yang menashabkan dzharf boleh dibuang apabila kalimatnya sudah bisa dimngerti dengan baik. Contoh seperti jawaban seseorang ketika ditanya

أنا : مَتَى تَذْهَبُ ؟ يَا خَالدٌ
خَالدٌ : يَوْمَ الخَمِيسِ

Khalid menjawab dengan membuang amil yang menashabkan dzharaf dan langsung mengucapkan hari kamis (dzharaf) sebab sudah sama-sama dimengerti. perkiraanya;

خَالدٌ : أَذْهَبُ يَوْمَ الخَمِيس

  1. Amil wajib dibuang dalam beberapa tempat berikut ini.
  • Apabila dzharaf menempati posisi Khabar

الامتحانُ غَدًا

Ujian akan berlangsung besok

الامتحان: مبتدأ مرفوع بالضمة الظاهرة
غدا: ظرف زمان منصوب بالفتحة الظاهرة متعلق بمحذوف خبر
تقدير : الامتحان حاصل غدا

Lafad حاصل adalah khobar yang dibuang dan diperkirakan lalu posisinya ditempati dzharaf. Ini sesuai dengan pendapat yang menganggap bahwa dzharaf wajib berta’alluq dengan amil. Meskipun sebagian pendapat menganggap bahwa dzharaf sendiri yang menjadi khabar.

Lihat:

شرح ابن عاقل، ج ١, ص ٥٢٨

  • Apabila dzharaf menempati Hal

رَأَيْتُكَ بَيْنَ المُجَاهِدِيْنَ فِي سَبِيْلِ اللَّهِ

Aku melihatmu berada diantara Para Mujahidin Fisabilillah.

رأيتك : فعل، فاعل، مفعول به
بين : ظرف مكان منصوب وعلامة نصبه الفتحة الظاهرة على آخره ، متعلق بمحذوف حال وهو مضاف.
المجاهدين : مضاف اليه مجرور بالياء لانه جمع مذكر سالم.
في سبيل الله : جار و مجرور

تقدير : رأيتك واقفا بين المجاهدين في سبيل الله

Lafad واقفا perkiraan untuk HAL yang dibuang dan yang kemudian ditempati dzharaf.

  • Apabila dzharaf menempati posisi na’at

اِشْتَرَى خالدٌ الكتابَ مِنْ مكتبةٍ أمامَ المدرسةِ

Kholid membeli buku dari perpustakaan yang berada didepan sekolah.

اشتري خالدٌ الكتابَ : فعل، فاعل، مفعول به
مِنْ مكتبةٍ : جار و مجرور
أمام المدرسةِ : ظرف مكان منصوب وعلامة نصبه الفتحة الظاهرة على آخره، متعلق بمحذوف صفة و هو مضاف.
المدرسةِ : مضاف اليه
تقدير : مِنْ مكتبةٍ كائنةٍ أمام المدرسةِ

Lafad كائنةٍ adalah perkiraan untuk sifat/na’at yang dibuang dan kemudian ditempati oleh dzharaf.

اشتري خالدٌ الكتابَ مِنَ المكتبة التي أمامَ المدرسةِ

Kholid membeli buku dari perpustakaan itu yang terletak/berada didepan sekolah.

اشتري خالدٌ الكتابَ : فعل، فاعل، مفعول به
مِنْ المكتبة : جار و مجرور
أمام المدرسةِ : ظرف مكان منصوب وعلامة نصبه الفتحة الظاهرة على آخره، متعلق بمحذوف صلة لا محل له من الإعراب و هو مضاف.
المدرسةِ : مضاف اليه
تقدير : اشتري خالدٌ الكتابَ مِنَ المكتبة التي تَقَعُ أمامَ المدرسةِ

Lafad تَقَعُ adalah perkiraan untuk Shilah Maushul yang dibuang kemudian posisinya ditempati dzharaf

  • Apabila dzharaf menempati Maysgul ‘Anhu ( مشغول عنه / مشتغل عنه)

يَوْمَ الخَميس صُمْتُ فِيْهِ

Di hari kamis aku berpuasa.

تقدير :صُمْتُ يَوْمَ الخَميس صُمْتُ فِيْهِ

Lafad صُمْتُ adalah perkiraan untuk مشغول عنه yang dibuang lalu posisinya ditempati dzharaf.

Baca: Kaidah Isytighal

  • Karena bersifat sima’i (sudah dari kalam arab), seperti : حينئذٍ الآن
    حين + إذ

Dua dzharaf disatukan menjadi satu kesatuan. Dalam hal ini, terkadang salah satu ‘Amil dibuang atau keduanya (Wajib)

تقدير : قد حدث ما تذكر حين إذ كان كذا، واسمع الآن

Yang kau ingat itu kejadian masa lalu tatkala bla, bla, sekarang dengarkanlah. bla bla

Lebih detail Lihat:

انظر : عباس حسن، النحو الوافي، ج ٢, ص ٢٤٧

Membuang Dzharaf dan Pengganti Posisinya

Apakah dzharaf memiliki pengganti ( نائب ) yang bisa mewakilinya ketika  dibuang ?

Ya, diantara Isim-Isim yang bisa mewakili posisi Dzhorof diantaranya:

1. Mashdar (مصدر)

Seringkali mashdar menjadi Mudhof Ilaih untuk dzharaf dan mewakili posisinya ketika dzharaf tersebut dibuang. Mashdar di’irab sebagai pengganti dari dzharaf dengan syarat Mashdar tersebut menjadi makna penjelas bagi dzharaf yang dibuang.

Contoh 1:

أنْتَظِرُكَ طُلُوْعَ الشَّمْسِ

Aku akan menunggumu diwaktu terbitnya matahari

Lafadz طُلُوْعَ adalah Mashdar sebagai wakil dari dzharaf yang dibuang. Maksud dari terbitnya matahari adalah waktu terbit. Kalimat perkiraanya:

أنْتَظِرُكَ (وَقْتَ) طُلُوْعِ الشَّمْسِ

أنْتَظِرُكَ : فعل، فاعل، مفعول به
طُلُوْعَ : ظرف زمان نيابة عن ظرف زمان مخدوف ( وقت ) وهو مضاف
الشَّمْسِ : مضاف إليه

Contoh 2:

جَلَسْتُ قَرْبَ خَالدٍ
تقدير : جَلَسْتُ مَكانَ قَرْبِ خَالدٍ

Aku duduk dekat kholid, artinya aku duduk ditempat dekat Kholid.

Lihat:

انظر : السيوطي، همع الهوامع في شرح جمع الجوامع ، ج ١، ص ١٧١

2. Isim ‘Ain ( اسم العين)

Isim ‘Ain mewakili posisi dzharaf ketika diidhofatkan kepada Mashdar, lalu dzharaf dan Mashdar yang Idhofat itu dibuang secara bersamaan dan kemudian posisinya ditempati Isim ‘Ain.

أَنْتَظِرُكَ الفَرْقَدَيْنِ

Aku akan menunggumu saat muncul kedua bintang itu.

تقدير : أَنْتَظِرُكَ وَقْتَ ظُهُوْرِ الفَرْقَدَيْنِ

Lafadz perkiraan وَقْتَ ظُهُوْرِ dibuang secara bersamaan dan posisinya ditempati Isim الفَرْقَدَيْنِ

3. Lafadz-Lafadz ( كل/بعض/عامة/نصف/ربع)

Apabila menemukan lafadz-lafadz seperti di atas, ‘irablah sebagai naib (pengganti dzharaf manshub) dengan syarat lafadz-lafadz tersebut diidhofatkan kepada Isim dzharaf.

سَهَرْتُ كُلَّ الليلِ -» أي في كل الليلة
كَتَبْتُ نِصْفَ السَاعةِ -» أي في نصف الساعة

Aku bergadang setiap malam, artinya aku bergadang disetiap waktu malam.

Aku menulis 1/2 jam, artinya aku menulis di waktu 1/2 jam.

4. Sifat

Naibul dzharfi selanjutnya yaitu sifat yabg terkadang mewakili dzharaf ketuka dibuang dibuang

صُمْتُ طَويلًا / وَقَفْتُ قَلِيْلًا
تقدير : صُمْتُ زَمَنًا طَويلًا / وَقَفْتُ وَقْتًا قَلِيْلًا

Lafadz طَويلًا adalah sebagai sifat untuk dzharaf yang dibuang lalu menempati posisinya


Jangan dulu pusing, kita baru muqodimmah :D. Pahami pelan-pelan dan baca bulak-balik.

Baik Kita lanjut ke pembagian dzharaf Zaman dan Makan dan akan dipisah agar tidak tercampur.

Pembagian macam -Macam Dzharaf

Pertama: Dzharaf Zaman

a). Dzharaf Zaman dilihat dari sisi kandungan makna

Dilihat dari kandungan maknanya dzharaf Zaman dibagi menjadi dua kelompok yaitu:

  • Zaman Mubham ( زمان مبهم )

هو كل اسم دل على ظرف زمان غير معلوم أو معين

Dzharaf zaman mubham yaitu setiap Isim yang kandungan maknanya masih umum ( tidak tertentu). Dzharaf-dzharaf zaman seperti ini belum diketahui masa dan priodenya berapa lama. Contoh :

أبَد / أَمَد / حين / وقت / زمان / لحظة / دهر / مدّة / بُرْهَة

Contoh:

أَمْضَي خَالِدٌ وَقْتًا طويلاً فِي طلبِ العِلْمِ

Kholid menghabiskan waktu lama dalam menimba ilmu.

Dzharaf-dzharaf zaman di atas semuanya dari kelompok Mubham namun akan beralih menjadi Mukhtas apabila diidhofatkan, seperti:

قوله تعالى
اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنفُسَ حِينَ مَوْتِهَا. سورة الزمار ٤٢

Allah memegang nyawa (seseorang) pada saat kematiannya

b. Zaman Mukhtas/Ghoir Mubham (مختص أو غير مبهم)

هو كل اسم دل على ظرف زمان مقدر ومعين

Dzharaf zaman mukhtas adalah setiap Isim yang menunjukan waktu tertentu (masa dan priodenya diketahui). Seperti:

ساعة/ دقيقة / يوم/ليلة/ أسبوع/شهر/سنة/ عام / عشية / ضحى / صيف / ربيع / خريف / شتاء / قرن /

Dzharaf-dzharaf zaman mukhtas seperti ini sudah ma’ruf kita ketahui jangka waktunya, satu jam adalah 60 menit, satu hari adalah 24 jam, dan seterusnya. Contoh:

أَنْتَظِرُكَ سَاعَةً تَحْتَ الشَّجَرةِ

Aku akan menunggumu satu jam dibawah pohon itu.

أَمْضَيْتُ فِي دِرَاسَةِ البَحْثِ العِلْمِي شَهْرًا

Aku menghabiskan waktu satu bulan dalam menyusun disertasi

قوله تعالى: اللَّهُ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ. سورة الحج ٦٩

Allah akan mengadili di antara kamu pada hari kiamat tentang apa yang kamu dahulu selalu berselisih padanya.

Kenapa disebut dengan Dzharaf Mukhtas ?

  • Karena kandungan maknanya khusus dan diketahui takaran masanya
  • Karena Idhofat
  • Karena dimasuki Lam Ta’rif

أنتظرك يَوْمًا / أنتظرك اليَوْمَ / أنتظرك يَوْمَ الخميس

Lafadz يْوْمٌ adalah umum, namun tetap Mukhtas karena takaran waktunya sudah diketahui, namun belum menunjukan hari tertentu kecuali ditambahkan ال atau Idhofat.

c. Zaman Muystaq

Zaman muystaq adalah Isim Dzharaf zaman yang dibentuk dari fi’il dengan berwazan مَفْعِل / مَفْعَل (menunjukan tempat kejadian)

Isim Zaman Muystaq apabila ingin di’irab sebagai dzharaf mesti memenuhi satu syarat yaitu mesti digunakan dalam suatu kalimat yang ‘amilnya harus dari Fi’il yang sama.

Contoh:

جَلَسْتُ مَجْلِسَ الضَيْفِ -»أي جَلَسْتُ زمانَ/وَقْتَ مَجْلِسِ الضَيْفِ

Aku duduk diwaktu duduknya tamu.

Jika berbeda Lafadz maka harus didahului huruf jar.

جَلَسْتُ في مَقْعَدِ الضَيْفِ

Aku duduk diwaktu duduknya tamu.

b). Dzharaf Zaman dari sisi penggunaannya

Dilihat dari sisi penggunaanya, dzharaf zaman diklasifikasikan menjadi dua kelimpok yaitu mutasharif dan ghair muthasarif

قال ابن مالك
وما يرى ظرفًا وغير ظرف # فذاك ذو تصرف في العرف

Maksud Mutasharif dan Ghair Mutasharif disini bukan seperti perubahan tashrif Fi’il Madhi-Mudhori’-‘Amr dan lainya. Namun istilah untuk klasifikasi Isim-Isim dzharaf Zaman antara yang selalu tetap manshub dan yang terkadang berpaling ke lain ‘irab ( Marfu’, Majrur atau Manshub selain dzharaf seperti menjadi Hal dan Maf’ul Bih).

1). Dzharaf Zaman Mutasharif (الظرفُ المُتَصَرِّفُ)

هو الذي لا يلازمُ النصبَ على الظرفيةِ ، وإنما يَتْرُكها إلى حالاتٍ أخرى من الإعراب فيكون مبتدأ وخبراً وفاعلاً ومفعولاً به

Dzharaf zaman mutasharif adalah Isim zaman yang tidak menetap dengan kenashabnya sebagai dzharfiyah, namun kadang berpindah kelain ‘Irab. Isim dzharaf Zaman seperti ini di’irab sesuai posisi dia dalam Jumlah. (Fa’il, Mubtada’, Khobar, Maf’ul Bih, Mudhof Ilaih)

Contoh1:

ذَهَبَ خَالدٌ إلى المدرسةِ يَومَ السَبْتِ

Lafadz يَومَ sebagai dzharaf Zaman Manshub (maf’ul fih)

Contoh2:

سيأتي يومٌ سعيدٌ نجتمع فيه

Lafadz يومٌ sebagai Fa’il Marfu’

Contoh3:

سِرْتُ نِصْفَ اليَوْمِ

Lafadz اليَوْمِ sebagai Mudhof Ilaih Majrur.

يَمينُك أوسعُ من شِمالِكَ

Lafadz يَمينُ sebagai Mubtada


Dzharaf Zaman Mutasharif dari sisi mu’rab dan mabni

  • Dzharaf zaman mutasharif mu’rab Munsharif.

Artinya, dzharaf zaman yang memiliki tanda ‘irab seperti pada umumnya. Rafa dengan dhammah, nashab dengan fathah dan majrur dengan kasrah dan menerima tanwin . Seperti:

يوم / شهر / سنة / أسبوع

  • Dzharaf zaman mutasharif mu’rab Ghoir Munshorif.

Artinya, dzharaf zaman yang memikiki tanda ‘irab majrur dengan fathah pengganti kasrah dan tidak menerima tanwin (kebalikan dari mutasharif di atas). Seperti:

غدوة / بكرة

Contoh:

لأسيرنّ الليلةَ إلى غدوةَ أو بكرةَ

Di malam ini, Sungguh aku akan berjalan sampai besok pagi.

||| Perluas tentang irab ghoir munsharif pada pasal Isim ghair munsharif

Syarat agar keduanya isim (غدوة dan بكرة) tetap menjadi Ghair Munsharif yaitu harus terdapat ta’yyin, tahdid atau batasan atas waktu yang dimaksud pada kalimat tersebut.

Seperti pada contoh di atas, Lafadz غدوةَ atau بكرة memiliki petunjuk dengan adanya kalimat ‘pada malam itu’. Artinya, waktu pagi yang terkait dengan perjalanan pada malam itu. Ini yang dimaksud dengan ta’yiin atau batasan

Apabila tidak ada ta’yiin seperti pada contoh di atas, maka kedua dzharaf ini masuk kategori Mutasharif – Mu’rab Munsharif, yang artinya menerima tanda majrur /khafad dengan kasrah.

قوله تعالى وَلَهُمْ رِزْقُهُمْ فِيْهَا بُكْرَةً وَّعَشِيًّا. سورة مريم ٦٢

Dan di dalamnya bagi mereka ada rezeki pagi dan petang.

Lihat:

– عباس حسن, النحو الوافي، ج ٢، ص ٢٦٠ – ٢٦٥ و ج ١، ص ٢٦١
– حاشية الصبان على شرح الأشمونى لألفية ابن ، ج ٢, أخر باب الظرف

  • Dzharaf zaman Mabni

Maksud dari Mabni yaitu tidak memiliki tanda ‘irab seperti isim pada umumnya, namun menetap dalam satu keadaan dimanapun dia posisinya. Misalkan, Mabni Sukun seperti ( إذ/ إذا)، Mabni Kasrah, (أمسِ) Mabni Dhommah (عَالُ) dan lainya.

Lebih detailnya terkait penggunaan dan contoh ‘irab dzharaf-dzharaf mabni ini akan diperjelas di bawah pada kategori khusus dzaharaf Mabni.

2). Dzharaf Zaman Ghair Muthasarif (غَيْر المُتَصَرِّفُ)

قال ابن مالك
ذِي التَّصَرُّفِ الَّذِي لَزِمْ  # ظَرْفِيَّةً أَوْ شِبْهَهَا مِنَ الْكَلْمِ

وهو الذي لا يستعمل إلا ظرفًا، ومنه ما يستعمل ظرفًا وقد يترك الظرفية ولا يسمى ظرفًا إلى شبهها

Dzharaf zaman ghair mutasharif adalah dzharaf zaman yang selalu setia dan menetap dengan kenashabanya sebagai Dzharfiyah yang tidak mungkin di’irab dengan yang lain dimanapun posisinya berada. Baik Mabni maupun Mu’rab. Kecuali apabila didahului Huruf Jar. Dzharaf macam ini masuk kategori Syibhul dzharaf atau Syibhul Jumlah Jar Majrur. Seperti:

قَطٌّ / عَوضٌ ) سَحَرَ

  • Lafadz قَطٌّ ( Dipergunakan untuk lampau, harus didahului Nafyi atau Istifham. Hukumnya Mabni Dhommah dan ‘irabnya dzharaf zaman.

Contoh:

هل خَدَعْتَ أحدًا قطٌ

Apakah kamu sama sekali tidak pernah menipu seseorang..?

ما خَدَعْتُ أحدًا قطٌ

Aku tidak menipu seseorang sama sekali sebelumnya.

  • Lafadz عَوْضٌ( Dipergunakan untuk mustaqbal, harus didahului Nafyi atau Istifham. Dihukumi Mu’rab apabila diidhofatkan dan dihukumi Mabni Dhommah apabila tidak sedang Idhofat. ‘irabnya sebagai dzharaf zaman. Ketentuan عوض persis seperti قَبْلُ nanti akan diperjelas di bawah.

Contoh:

لا أفعله عوضَ ذلك / لا أفعله عوضٌ

Aku tidak akan melakukaanya diwaktu yang akan datang

  • Lafadz سَحَرَ (artinya waktu sahur sebelum fajar). Dia dihukuni Mabni Fathah ketika dalam penggunaanya terdapat qarinah (indikasi) yang menunjukan pada waktu tertentu sehingga mengeluarkan dia dari kenakirahanya.

Contoh:

اسْتَيْقَظْتُ لَيْلَةَ الخَمِيْسِ سَحَرَ

Malam kamis aku bangun tidur diwaktu sahur.

Kalimat malam kamis merupakan qarinah yang menunjukan bahwa yang dimaksud dengan sahur ( سَحَرَ ) adalah sahur di malan kamis. Apabila qarinah ini hilang, maka lafadz سَحَرَ tidak Mabni Fathah lagi karena tidak menunjukan kepada waktu khusus. Dengan demikian , dia memungkinkan menjadi Majrur didahului huruf Jar dan bertanwin atau dimasuki Lam Ta’rif. Contoh:

إِنَّا أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ حَاصِبًا إِلَّا آلَ لُوطٍ ۖ نَجَّيْنَاهُمْ بِسَحَرٍ  سورة القمر ٣٤

Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang membawa batu-batu (yang menimpa mereka), kecuali keluarga Luth. Mereka Kami selamatkan sebelum fajar menyingsing

الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنْفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ . سورة العمران ١٧

Orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur.


Imam Al-Suyuti berkata: “Orang Arab memasukan Lafadz ذا dan ذات kedalam kategori dzharaf Ghair Muthasarif yang diidhofatkan kepada dzharaf Zaman”. Seperti :

ذَا صباحٍ / ذَاتَ صباحٍ / ذا يومٍ / ذاتَ يومٍ / ذات مرّةٍ

Begitu juga dengan menyatukan dua dzharaf tanpa Idhafat. Seperti:

صَبَاحَ مَسَاءَ / يَوْمَ يَوْمَ

Keduanya dihukumi Mabni Fathah karena tidak dimaksudkan Idhofat  Adapun apabila diidhofatkan, maka lafadz tersebut masuk jajaran dzharaf Mutasharif yang kadang menjadi dzharaf dan terkadang tidak. seperti yang sudah dijelaskan di atas.

Contoh dalam Sya’ir berikut:

وَلَوْلا يَوْمُ يَوْمٍ مَا أرَدْنَا، جَزاءك والفروض لها جزاء

Dia mengidhofatkan kedua lafadz يَوْمُ يَوْمٍ jadinya tidak mabni fathah lagi.

Lihat detail lihat:

انظر : السيوطي، همع الهوامع على شرح جمع الجوامع، ج ٢, ص ٢١٦

_____________
Dzharaf  Zaman Ghair Mutasharif dari segi mu’rab dan mabni

  • Dzharaf Zaman Ghair mutasharif Mu’rab Ghoir Munshorif

عَتمة / عشية / سَحَرَ / يَومَ يَوْمَ / صباحَ مساءَ

Lafadz-lafadz di atas adalah contoh Mu’rab yang masuk kategori Dzharaf Zaman Ghair mutasharif mu’rab ghair munshorif, dengan syarat tidak diihofatkan, bertanwin dan ditempeli Lam ta’rif. Apabila tidak memenuhi ke tiga syarat ini, maka beralih menjadi Dzharaf Zaman Ghair mutasharif  mu’rab Munsharif. Seperti yang sudah dijelaskan pada contoh lafadz سَحَرَ

  • Dzharaf Zaman Ghair mutasharif Mu’rab Munshorif

بكرة / ضحى / صحوة / سُحَير / صباح / مساء / ليل / نهار / / عشاء /

Lafadz-Lafadz di atas contoh Dzharaf Zaman Ghair mutasharif Mu’rab Munsharif. Untuk contoh penggunaan dan ‘irabnya akan dibahas dibawah.

  • Dzharaf Zaman Ghair mutasharif Mabni

Dzharaf kategori ini banyak sekali yang dihukumi Mabni, seperti Mabni Sukun ( لَدُنْ)، Mabni Dhommah ( مُنْدُ / قَطّ)، Mabni Fathah ( صباحَ مَساءَ/ يومَ يومَ

Lihat:

النحو الوافي، ج ٢، ص ٢٦٣
شرح الأشمونى، ج ١، ص ٤٨٩

Catatan: Dzhara Zaman Mabni pembahasan detailnya akan disatukan dengan dzharaf makan Mabni diakhir pembahasan.

Kedua: Dzharaf Makan

Seperti halnya dzharaf Zaman, untuk dzharaf Makan juga dikasifikasikan menjadi beberapa kelompok.

a). Dzharaf Makan dilihat dari sisi kandungan makna

  • Dzharaf makan Mubham ( مبهم )

هو كل اسم دل على ظرف مكان غير معين أو محدود

Setiap Isim yang menunjukan tempat tidak tertentu.

Isim -isim yang termasuk dzharaf makan mubham dan disepakati Para Ulama seperti:

قُدَّامَ / وراء / عند / حذاء / إزَاء / هنا / تلقاء / ثَمَّ / لدى / وسط / بين /

-Isim -isim yang termasuk dzharaf makan Makan Mubham yang terdapat perbedaan pendapat. Seperti:

داخل / خارج / ظاهر / باطن/ جوف الدار / جانب / جهة / وجه / كنف

Karena pada dzharaf Makan Mubham terdapat perbedaan, maka dzharaf-dzharaf ini bisa menjadi di’irab maf’ul fih atau isim Majrur. Pendapat Mayoritas harus didahului huruf Jaf”.

قابلته داخل المدرسة / قابلته في داخل المدرسة

Lihat:

انظر : حاشية الخضري، باب: “الظرف” ج1

Terdapat isim-isim yang disebut dengan istilah Mulhaaqat Dzharaf Makan Mubham seperti Isim-Isim yang berhubungan dengan arah dan ukuran.

أمام – خلف – يمين – شمال- فوق – تحت– – جَنُوب – شَرْق – غَرْب –

الميل / الغلوة / الفرسخ /

  • Dzharaf Makan Ghoir Mubham ( مكان غير مبهم )

هو كل اسم دل على مكان معين وهذا النوع لا يكون إلا مجرورا

Setiap Isim yang menunjukan tempat tertentu.

Dzharaf Makan ghair mubham atau disebut juga dzharaf makan mukhtas termasuk isim yang mengandung makna tempat yang tidak menerima Manshub atau di’irab sebagai Dzharfiyah karena isim-isim ini dalam penggunaanya wajib didahului Huruf Jar (في), seperti:

الفصل/ البيت / الدار / البلد / غرفة /

Kecuali dalam dua keadaan:

  • Apabila ‘amil dzharaf makan mukhtas tersebut, Fi’ilnya menggunakan ( دَخل / سكن/ نزل). Karena dengan 3 fi’il inilah Orang Arab menashabkan setiap dzharaf Makan Mukhtas secara langsung. Contoh:

دخلت الدار / وسكنت البيت / ونزلت البلد

Meskipun sebaiknya untuk dzharaf-dzharaf makan seperti ini di’irab sebagai Maf’ul Bih (bukan sebagai maf’ul fih).

  • Apabila yang digunakan sebagai dzharaf Makan Mukhtas itu lafadz الشام dengan ‘amilnya berupa Fi’il Lafadz ذهب dan untuk Lafadz مكة dengan amilnya berupa Fi’il Lafadz تَوَجّه

Kenapa khusus dengan kedua kota الشام dan مكة dan kenapa dengan hanya menggunakan kedua lafadz ini ? karena itulah yang biasa dipakai oleh orang Arab terdahulu. Mereka langsung menashabkanya tanpa didahului Huruf Jar.

ذَهَبتُ الشَامَ / تَوَجَهْتُ مَكّةَ

Lihat:

انظر : عباس حسن، النحو الوافي، ج ٢، ص ٢٥٣ – ٢٥٥
____________

b). Dzharaf Makan dilihat dari sisi penggunaan

  • Dzharaf Makan Mutasharif

Setiap dzharaf Makan yang tidak selalu terikat untuk dijadikan Dzhorfiyah. I’rabnya berubah seperti pada dzharaf Zaman. (Mubtada, Khobar, Fa’il dll)

يمين / مكان / شمال / ذات شمال / ذات اليمين /

  • Dzharaf makan Ghoir Mutasharif

Setiap dzharaf Makan yang selalu di’irab Dzharfiyah (maf’ul fih) kecuali didahului Huruf Jar, maka menjadi Syibhul Jumlah (Jar Majrur)

بَدَلَ / فَوْقَ / تحتَ / أينَ / ثَمَّ / حَيْثُ / شَطْرَ /حَوْلَ /

Lalu apa perbedaan mendasar antara dzharaf makan Mutasharif dan Ghoir Mutasharif jika pada kenyataanya untuk kategori Ghair Mutasharif juga masih terdapat dzharaf yang tidak setia dengan kenashabanya dan berpindah ke lain ‘irab ?

Perbedaanya adalah: Dzharaf makan Mutashorif pindahnya ke berbagai macam ‘irab seperti (Mubtada, Khobar, Maful bih dll), sedangkan dzharaf makan ghair mutasharif pindahnya hanya ke satu ‘irab (Majrur).


Baik, Kita lanjutkan untuk memperdalam dzharaf Mabni dan Mu’rab. Perlu diketahui bahwa tidak semua dzharaf menetap dalam kemabnianya. Terkadang berubah menjadi Mu’rab dengan alasan tertentu. Jadi akan Kita bahas detail mulai spesifikasi, syarat dan contoh penggunaanya.

Dzharaf Antara Mabni dan Mu’rab

Pertama: Khusus Dzharaf Zaman

1. Idz ( ْإذ ) Tatkala

Spesifikasi:

  • Lafadz ini untuk menunjukan zaman lampau
  • Termasuk kategori dzharaf Zaman Mutasharif yang kadang dijadikan dzharaf dan kadang tidak.
  • Hukumnya Mabni Sukun
  • Harus diidhofatkan pada jumlah setelahnya.
  • Terdapat dua jenis (Isim dan Huruf)

Kedudukan ‘irab Idz إذ untuk kategori Isim, kedudukan ‘irabnya berbeda-beda. Kadang menjadi dzharaf (maf’ul fih), Mudhaf Ilaih, Maf’ul Bih, Badal Isytimal. Sedangkan untuk kategori huruf tidak ada mahal ‘irab baii menjadi huruf ta’liliyyah maupun fajaiyyah. Perhatikan contoh ‘irab berikut:

– Contoh ketika menjadi Dzhorof:

إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ. سورة الكهف ١٠

إِذْ : اسم ظرفي مبني على السكون في محل النصب على الظرفية الزمانية للماضي متعلق ب ‘عجبا’. مفعول فيه

أوى الفتية : في محلّ جرّ مضاف إليه

– Contoh ketika menjadi Mudhaf Ilaih:

رَبَّنا لا تُزِغْ قُلُوبَنا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنا وَهَبْ لَنا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ. العمران ٨

إِذْ : اسم ظرفي مبني على السكون في محل في محلّ جرّ مضاف إليه

– Contoh ketika menjadi Maf’ul Bih:

وَاذْكُرُوا إِذْ أَنْتُمْ قَلِيلٌ مُسْتَضْعَفُونَ فِي الْأَرْضِ. الأنفال ٢٦

إِذْ : اسم ظرفيّ مبني على السكون في محلّ نصب مفعول به

– Contoh ketika menjadi Badal Isytimal:

وَاذْكُرْ فِي الْكِتابِ مَرْيَمَ إِذِ انْتَبَذَتْ مِنْ أَهْلِها مَكاناً شَرْقِيًّا. مريم ١٦

إِذْ : اسم ظرفيّ مبنى على السكون في محلّ نصب بدل اشتمال من مريم أو من محذوف هو مضاف أي خبر مريم

Ketika Idz إذ masuk kategori Huruf, kedudukan ‘irabnya juga sama berbeda-beda. Kadang menjadi فجائية dan تعليلية.

– Contoh ketika menjadi huruf تعليلية

مَنَحْتُ خَالدًا الهَدِيَةَ إذْ نَجَحَ

Aku memberi kholid hadiah karna dia lulus

إِذْ : حرف تعليل مبنى على السكون لا محل له من الإعراب

– Contoh ketika menjadi huruf فجائية
Harus terletak setelah بَيْنَ / بَيْنَمَا

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ، إِذَ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ…..

إذْ: حرف مفاجأة مبنى على السكون لا محل له من الإعراب

Dari Umar Radhiallahu ‘anhu: “Ketika kami duduk di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba muncullah seorang pria yang sangat putih bajunya….

Terkait Idz إذ yang terletak setelah بَيْنَ / بَيْنَمَا terdapat tiga pendapat berbeda:

  • Menurut أبو الفتح عثمان بن جني :”Dzharaf Zaman/Makan”.
  • Menurut ابن مالك :”Huruf Fajaiyyah”.
  • Menurut أبو عبيدة و إبو قتيبة :”Huruf taukid tambahan”.

Lihat:

انظر : ابن مالك، شرح التسهيل، ص ١١٩

Di atas disebutkan bahwa إذ mengandung arti lampau atau biasa digunakan untuk waktu Lampau, Lalu kenapa pada Surah Ghafir Ayat 71 berta’aluq dengan Fi’il Mudhari’ yang mengandung arti hal /mustaqbal ?

الَّذِينَ كَذَّبُوا بِالْكِتَابِ وَبِمَا أَرْسَلْنَا بِهِ رُسُلَنَا ۖ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ (٧٠) إِذِ الْأَغْلَالُ فِي أَعْنَاقِهِمْ وَالسَّلَاسِلُ يُسْحَبُونَ ٧١

Jawab: Lafadz إذ disini berta’alluq (berhubungan) dengan fi’il يَعْلَمُونَ, yang mustaqbal secara lafadz dan madhi secara makna. Artinya, untuk menunjukan kebenaran haqiqi bahwa ‘adzab itu benar-benar nyata dan pasti. Namun seakan ‘adzab itu sudah menimpa mereka atas kebohongan yang mereka perbuat.

Lihat:

انظر : تفسير الوسيط لطنطاوي
انظر : تفسير الطبري
انظر : نصر الدين فارس، وعبد الجليل زكريا، المنتصف في النحو واللغة والإعراب، ص ١٢

2. Idza ( إذا ) Tatkala

Spesifikasi:

  • Lafadz ini untuk menunjukan zaman mustaqbal
  • Termasuk Isim Syarat yang tidak Menjazemkan Fi’ilnya
  • Termasuk kategori dzharaf Zaman Mutasharif yang kadang di’irab maf’ul fih dan kadang tidak.
  • Hukumnya Mabni Sukun
  • Terdapat dua jenis (Isim dan Huruf)
  • Jika sebagai dzharaf (maf’ul fih), dia khusus masuk pada Jumlah Fi’liyyah.

Ketika Idza إذا masuk kategori Isim, kedudukan ‘irabnya berbeda-beda. Kadang menjadi dzharaf, Hal dan Majrur.

– Contoh ketika menjadi dzharaf

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ تَقُومَ السَّمَاءُ وَالْأَرْضُ بِأَمْرِهِ ثُمَّ إِذَا دَعَاكُمْ دَعْوَةً مِنَ الْأَرْضِ… الروم ٢٥

إذا : اسم ظرفي مبنى على السكون في محل النصب علي الظرفية الشرطية الزمانية غير الجازمة للمستقبل

  • Contoh ketika menjadi Hal (Atas pendapat Ibnu Hisyam) Adapun pendapat Jumhur adalah dzharaf . Bisa lihat dalam kitab I’rab AlQuran  Tafsir إعراب لدعاسى

وَاللَّيْلِ إِذا يَغْشى . الليل ١

إِذا : اسم ظرفي مبنى على السكون في محل النصب حالا لأنها وردت بعد القسم

– Contoh ketika menjadi Majrur

حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَٰبُهَا. الزمر ٧٣

إِذَا : اسم ظرفي مبنى على السكون في محل الجر مجرور ب (حتى)

Dalam hal ini ada perbedaan pendapat antara إِذَا dii’rab sebagai Majrur disebabkan oleh حتى atau sebagai dzharaf dan حتى disebut sebagai Ibtidaiyyah.

Lihat:

انظر : نصر الدين فارس، وعبد الجليل زكريا، المنتصف في النحو واللغة والإعراب، ص ١٧

Terkadang Lafadz إذا menunjukan waktu lampau dan tidak mengandung makna syarat seperti dalam AlQuran.

وَإِذا رَأَوْا تِجارَةً أَوْ لَهْواً انْفَضُّوا إِلَيْها وَتَرَكُوكَ قائِماً. الجمعة ١١

Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah)

Maknanya menunjukan bahwa bubarnya mereka dari Khutbah Rasul Muhammad sudah terjadi dan mereka tidak akan kembali. Karna mereka lebih mementingkan perdagangan dan permainan. kecuali tersisa dari mereka 14 orang atau 40 orang dalam sebagian riwayat.

Lihat:

انظر : تفسير ابن عاشور

Ketika Lafadz Idza إذا masuk kategori Huruf, maka menjadi huruf فجائية yang tidak memiliki mahal ‘irab. Ini menurut sebagian Ulama seperti Ahli Kuffah dan Ibnu Malik (الكوفيون و ابن مالك), dan menurut sebagian lagi إذا Fazaaiyyah termasuk Isim ( الكسائي وسيبيويه)

Perluas masalah idza fajaiyyah pada materi uslub syarat dan uslub istifham

Nanti kita bahas dalam pasal khusus, disini hanya sekilas saja, bahwa ‘irab إذ dan إذا tidak hanya sebagai Dzhorfiyah.

3. Alaan ( الآن) sekarang

Spesifikasi:

  • Mabni Fathah
  • Masuk kategori dzharaf ghair Mutasharif yang hanya berubah ‘irab ketika dimasuki Huruf Jar
  • Selalu dimasuki alif lam
  • Menunjukan waktu hal (sekarang)
  • Tidak ada bentuk Tastniyah dan Jamak

Menurut sebagian Ulama: ” Asal katanya dari أوان، huruf waw ditukar Alif lalu dibuang karna bertemu dua suku, lalu tambahkan alif lam

افعلْ الآن -» افعلْ في هذا الوقت

Apakah الآن Isim atau Huruf ?

Dia adalah Isim, tandanya bisa dimasuki Alif Lam Ta’rif dan bisa dimasuki Huruf Jar seperti :

حتى الآن / إلى الآن / منذ الآن / من الآن

Perhatikan perbedaan Contoh ‘irabnya ketika dimasuki huruf jar dan tidak:

أَذْهَبُ الآن
الآن : اسم ظرفي مبني على الفتح في محل النصب على الظرفية الزمانية للحال، متعلق بالفعل ‘ أَذْهَبُ’

أَجْتَهِدُ من الآن فصاعدًا
من : حرف جر
الآن : اسم ظرفي مبني على الفتح في محل جر بحرف الجر، شبه الجملة( الجار والمجرور) متعلق بالفعل ‘ أَجْتَهِدُ’

4. Amsi (أمس) Kemarin

Spesifikasi:

  • Termasuk Isim Ma’rifat meski tidak dimasuki alif lam
  • Termasuk Isim Zaman Mutasharif yang kadang di’irab dzharaf (maf’ul fih) dan terkadang tidak
    – Apabila sedang di’irab dzharaf (maf’ul fih) dia dihukumi Mabni Kasrah

Contoh:

ذَهَبْتُ إلى المدرسةِ أَمْسِ

Kemarin aku telah pergi kesekolah

أَمْسِ : اسم ظرفي مبني على الكسر في محل النصب على الظرفية الزمانية، متعلق بالفعل ‘ ذهب’

Apabila dimasuki alif lam atau didahului Huruf Jar, maka di’irab apapun bisa seperti mubtada, isim kana, majrur dll.  Contoh:

لَقَيْتُ خَالدًا بالأمسِ في المدرسةِ

Aku ketemu kholid kemarin di sekolah

بالأمسِ : اسم ظرفي مجرور وعلامة جره الكسرة الظاهرة وهو شبه جملة ( الجار و المجرور) متعل بالفعل لقي

Contoh lain berada pada posisi marfu’ dan manshub sebagai isim kana dan inna

كان الأمسُ طيّبًا / إنّ الأمسَ طيّبٌ

الأمس : اسم ظرفي مرفوع وعلامة رفعه الضمة الظاهرة اسم كان

الأمس : اسم ظرفي منصوب وعلامة نصبه الفتحة الظاهرة اسم إن

Lihat:

انظر :
– عباس حسن, النحو الوافي، ج٢, ص ٢٨٢
السيوطي، الهمع، ج٢, ص ١٣٨

5. Ayyana (أيَّانَ) Kapan/kapankah

Lafadz أيَّانَ asalnya أَيُّ أوَان. Huruf Hamzah dan salahsatu Huruf ي dibuang. Menjadi أَيُوَان، lalu huruf و ditukar dengan ي kemudian idghamkan menjadi أيَّانَ

Lalu apa bedanya متى dengan أيَّانَ ?
Lafadz متى lebih banyak dipergunakan karena lebih ringan ketika diucapkan. Penggunaan أيَّانَ lebih kepada bertanya sesuatu hal yang besar/luar biasa.

Lihat:

انظر : شرح المفصل في صنعة الإعراب، ج ٢, ص ٥٠٣

Spesifikasi:

  • Mengandung makna mustaqbal
  • Termasuk Isim Istifham
  • Termasuk Isim Syarat yang menjazemkan 2 fi’il
  • Mabni Fathah

يَسْأَلُ أَيَّانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ. القيامة ٦

Dia bertanya, “Kapankah hari Kiamat itu?”

أَيَّانَ : اسم استفهام مبنى على الفتح في محل نصب على الظرفية الزمانية متعلق بمحذوف خبر مقدم

Disamping أَيَّانَ sebagai Isim Istifham, dia juga termasuk Isim syarat yang menjazemkan 2 fi’il. Contoh:

أيّانَ تُسَاعِدْ الآَخَرِيْنَ يُسَاعِدْكَ اللَّهُ

Bilamana kau membantu orang lain, maka Allah akan membantumu.

6. Bainamaa / Bainaa ( بَيْنَا / بَيْنَمَا)

Kedua Lafadz ini asalnya بَيْنَ (dzharaf Makan) bermakna وَسَط, lalu ketika ditambahkan Alif dan Mim menjadi bermakna إذْ (tatkala) dan masuk jajaran dzharaf Zaman Ghair Mutasharif. Ketika di’irab bisa disatukan antara بين dan ما atau dipisah.

Spesifikasi:

  • Sebelum dimasuki ma, dihukumi Mu’rab Manshub, dan ketika masuk ما, menjadi mabni Sukun
  • Harus idhafat kepada Jumlah (Ismiyyah/Fi’liyyah).
  • Membutuhkan jawaban untuk menyempurnakan makna karena mengandung makna syarat
  • Mengandung makna kejutan مفاجأة
  • Termasuk Dzharaf Zaman Ghair Mutasharif.

Contoh:

بَيْنَا/بَيْنَمَا نَحْنُ في الطريقِ جَاءَ الأُسْتَاذُ
بَيْنَا/بَيْنَمَا كُنَا نَلْعَبُ جَاءَ الأُسْتَاذُ

Tatkala kami dijalan, tiba-tiba ustadz datang / Tatkala kami bermain, tiba-tiba ustadz datang

Bisa juga dengan menambahkan إذ فجائية menjadi (إِذْ جَاءَ الأُسْتَاذُ)

Contoh ‘Irabnya ketika disatukan:

بَيْنَا/بَيْنَمَا : اسم ظرفي مبنى على السكون في محل نصب على الظرفية الزمانية

Contoh ‘irabnya ketika dipisah:

بين : ظرف منصوبٌ وعلامة نصبه الفتحة

ما : كافَّةٌ عن العمل مَبنيَّةٌ على السُّكون لا محلَّ لها من الإعراب
ما : حرفٌ زائدٌ مَبنىٌّ على السُّكون لا محلَّ له من الإعراب

Karna dalam بَيْنَا/بَيْنَمَا nempel Huruf Alif dan Mim Zaaidah (tambahan), yang berfungsi untuk إشْبَاع/كافَّةٌ “Ibnu Malik”, maka dianggap cukup untuk mewakili syarat Idhofatnya dan tidak perlu kepada jumlah Fi’liyyah/Ismiyyah setelahnya. Oleh karna itu Jumlah yang terletak setelah بَيْنَا/بَيْنَمَا, berstatus Marfu sebagai Ibtida (permulaan)

7. Raitsa / Raitsama ( رَيْثَ / رَيْثَمَا)

kedua Lafadz ini adalah bentuk Mashdar dari kata kerja

رَاث – يَرِيثُ – رَيْثًا

Asal artinya yaitu lambat/melambatkan/lama menunggu, namun setelah masuk kategori Dzharaff Zaman, arti yang dimaksud adalah takaran waktunya (hingga/sampai).

Contoh:

اِنْتَظِرْنِي رَيْثَ / رَيْثَمَا جِئْتُكَ
أي اِنْتَظِرْنِي قَدْرْ مُدّةِ مَجِيْئِي

Tunggulah hingga aku datang.

Apabila fi’il setelah رَيْثَ / رَيْثَمَا dari jenis fi’il madhi, maka رَيْثَ / رَيْثَمَا dihukumi mabni fathah dan apabila mudhari’ dihukumi manshub dengan fathah.

Lihat:

انظر : مصطفى الغلايينى، جامع الدروس العربية، ج ٣, ص ٦٥

9. Hina ( حِيْنَ ) Ketika

Spesifikasi:

  • Termasuk dzharaf zaman mubham mutasharif (Terkadang di’irab sebagai dzharaf dan terkadang tidak).
  • Harus diidhofatkan baik kepada Mufrad atau Jumlah setelahny
  • Bentuk jamaknya أَحْيَان
  • Mabni Fathah ketika menjadi dzharaf dan Mu’rab ketika selain dzharaf.

Contoh yang diidhofatkan kepada Jumlah:

وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ حِينَ تَقُومُ. سورة الطور ٤٨

Dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri

Contoh yang diidhofatkan kepada Mufrod:

اللَّهُ يَتَوَفَّى الأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا. سورة الزمر ٤٢

حِينَ : اسم ظرفي مبنى على الفتح في محل نصب على الظرفية الزمانية متعلق بالفعل ‘يَتَوَفَّى’

Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya.

Contoh yang didahului Huruf Jar:

وَدَخَلَ الْمَدِينَةَ عَلَىٰ حِينِ غَفْلَةٍ مِّنْ أَهْلِهَا. سورة القصص ١٥

عَلَىٰ حِينِ : شبه جملة ( الجار والمجرور

Contoh ketika حِينَ keluar dari Dzharfiyah dan di’irab sesuai kedudukanya dalam kalimat.

هَلْ أَتى عَلَى الْإِنْسانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئاً مَذْكُوراً. سورة الدهر ١

حِينٌ : فاعل مرفوع

تُؤْتِي أُكُلَها كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّها وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ. سورة إبراهيم ٢٥
كُلَّ : ظرف زمان
حِينٍ : مضاف إليه مجرور

Lafadz حِينٍ jadi Mudhaf Ilaih dan Lafadz كُلَّ yang mewakilinya menjadi dzharaf. Lihat: “kaidah di atas tentang Isim-Isim yang mewakili posisi dzharaf”.

10. ‘Aod ( عَوْض)

Lafadz ini bentuk Mashdar dari عَاضَ – يَعُوْضُ عَوْض

Ini sudah dibahas sekilas di atas, disini akan ditambahkan lagi kekuranganya berikut contoh ‘irabnya.

Spesifikasi:

  • Mengandung استغراق المستقبل (Meniadakan Zaman Mustaqbal)
  • Termasuk dzharaf Zaman ghair Muthasarif
  • Mabni Dhommah jika tidak idhafat, seperti ‘irab قبل dan dihukumi mu’rab apabila Idhafat
  • Harus didahului Nafyi atau Istifham

Contoh ketika diidhofatkan, tanda ‘irabnya fathah (Mu’rab)

لا أفعله عوضَ ذلك

Aku tidak akan melakukaanya diwaktu yang akan datang

عوضَ : اسم ظرفي منصوب بالفتح وعلامته الفتحة الظاهرة على الظرفية الزمانية متعلق بالفعل ‘أفعل’

Contoh ketika tidak idhafat, tanda ‘irabnya Mabni Dhammah.

لا أفعله عوضٌ

عوضٌ : اسم ظرفي مبنى على الضمة في محل نصب على الظرفية الزمانية متعلق بالفعل ‘أفعل’

11. Qottun ( قَطّ) Sama sekali /sebelumnya

Spesifikasi:

  • Mengandung استغراق الماضي (Meniadakan Zaman Lampau)
  • Termasuk dzharaf Zaman Ghair Muthasarif
  • Dihukumi mabni dhommah
  • Penggunaanya dalam kalimat harus didahului Nafyi atau Istifham

Contoh:

هل خَدَعْتَ أحدًا قطٌ

Apakah kamu sama sekali tidak pernah menipu seseorang..?

ما خَدَعْتُ أحدًا قطٌ

Aku sama sekali tidak pernah menipu seseorang.

قط: اسم ظرفي مبني على الضم في محل النصب على الظرفية الزمانية متعلق بالفعل ‘خدع’

12. Mata ( متى) kapan

Spesifikasi:

  • Mabni Sukun
  • Digunakan untuk Zaman Lampau dan Mustaqbal
  • Termasuk Isim Istifham
  • Termasuk Isim Syarat yang menjazemkan dua fi’il
  • Dalam penggunaanya terkadang didahului Huruf Jar

Contoh:

Ketika متى sebagai Isim Istifham (alat bertanya) dan di’irab dzharaf.

متى ذَهَبْتَ إلى المدرسةِ /متى تَذْهَبُ إلى المدرسةِ

Kapan kamu sudah/akan pergi ke sekolah ?

متى : اسم استفهام مبنى على السكون في محل النصب على الظرفية الزمانية متعلق بالفعل ‘ذهب’

Contoh Ketika متى sebagai Isim Syarat dan di’irab dzharaf zaman

متى تُذَاكِرْ دُرُوْسَكَ تَنْجَحْ في الامتِحَانِ

Manakala kamu menghafal pelajaranmu, maka kamu akan lulus dalam ujian.

متى : اسم الشرط الجازم مبنى على السكون في محل النصب على الظرفية الزمانية متعلق بالفعل ‘ذاكر’

Contoh ketika متى didahului Huruf Jar

إلى مَتى سَتَفْعَلُ مَا نَهَا اللَّهُ عَنْهُ ورسولُهُ

Sampai kapan kau akan melakukan yang Allah dan Rasulnya larang ?

وحَتّى متى يبقى الضّال في ضلالهِ

Sampai kapan orang sesat berada dalam kesesatanya ?

إلى/حتى مَتى : شبه جملة ( الجار والمجرور ) متعلق ‘فعل/يبقى’

lihat:

انظر : مصطفى الغلايينى، جامع الدروس العربية، ج ٣, ص ٦٠

13. Lamma (لَمَّا ) Ketika/tatkala

Spesifikasi:

  • Termasuk Isim syarat yang tidak menjazemkan dan membutuhkan jawaban untuk menyempurnakan maknanya
  • Fi’il setelahnya berupa fi’il madhi (Ittifaq Ulama)
  • Mabni Sukun
  • Terkadang berta’alluq kepada ‘Amil yang menjadi Jawabanya.
  • Terkadang jawabanya dibuang
  • Terkadang bermakna إلا Ististna (pengecualian)
  • Terkadang Jawabanya memakai إذا فجاءية atau الفاء رابطة

Contoh:

فَلَمَّا نَجَّاكُمْ إِلَى الْبَرِّ أَعْرَضْتُمْ. الإسراء ٦٧

Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling.

الفاء: حرف عطف
لَمَّا : اسم ظرفي بمعنى حين متضمّن معنى الشرط مبني على السكون في محل النصب على الظرفية الزمانية متعلق بفعل جوابه ‘أَعْرَضْتُمْ’

Contoh ketika Jawaban dari pada لَمَّا memakai إذا فجاءية atau الفاء رابطة

فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذا هُمْ يُشْرِكُونَ. العنكبوت ٦٥

فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ فَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ . لقمان ٣٢

Contoh ketika Jawabanya dibuang

فَلَمَّا ذَهَبُواْ بِهِ وَأَجْمَعُوٓاْ أَن يَجْعَلُوهُ فِى غَيَٰبَتِ ٱلْجُبِّ . يوسف ١٥

وجواب ( لمّا ) محذوف دلّ عليه { أن يجعلوه في غيابت الجب

والتقدير : جعلوه في الجب وهو من الإيجاز الخاص بالقرآن فهو تقليل في اللّفظ لظهور المعنى

Lihat:

انظر : تفسير ابن عاشور

Contoh ketika menjadi Huruf yang menjazemkan

وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ. العمران ١٤٢

وَلَمَّا : حرف نفي وجزم وقلب مبني على السكون

Contoh ketika لَّمَّا bermakna إلا Ististna (pengecualian)

إِن كُلُّ نَفْسٍ لَّمَّا عَلَيْهَا حَافِظٌ. سورة الطارق ٤

Tidak ada suatu jiwapun melainkan ada penjaganya. (At-Tariq.

لَّمَّا : حرف للحصر بمعنى إلّا مبني على السكون

Baca: Kaidah uslub Ististna dan Uslub syarat

14. Mudz dan Mundzu (مُذْ & مُنْذُ)

Spesifikasi:

  • Lafadz مُنْذُ Mabni Dhommah
  • Lafadz مُذْ Mabni Sukun
  • Keduanya terdapat dua macam (Isim dan Huruf)
  • Isim setelahnya bisa Marfu, Majrur baik berupa Jumlah (Ismiyyah /Fi’liyyah)

a. Ketika Isim setelah مُنْذُ/مُذْ ber’irab Marfu.

Contoh:

مَا رَأَيْتُهُ مُذْ/مُنْذُ يَوْمُ الجمعة أو يَوْمَانِ

Aku tidak melihat dia sejak hari jumat/sejak dua hari.

Dalam hal ‘irabnya terdapat 4 Madzhab:

  • Pendapat Pertama:

(المبرد، وابن السراج والفارسي. ونقله ابن مالك عن البصريين)

Kedua Lafadz مُنْذُ/مُذْ sebagai Mubtada dan Isim setelahnya sebagai Khabar. Dengan memperkirakan مُنْذُ/مُذْ adalah Isim makrifat dengan makna أول الوقت / أول انقطاع الرؤية

مَا رَأَيْتُهُ أول انقطاع الرؤية يَوْمُ الجمعة أو يَوْمَانِ

Jadi ‘irabnya:

مَا رَأَيْتُهُ مُذْ/مُنْذُ يَوْمُ الجمعة أو يَوْمَانِ
مُذْ/مُنْذُ : مبتدأ
يوم الجمعة/ أو يَوْمَانِ : خبر

  • Pendapat Kedua:

الأخفش، والزجاج، وطائفة من البصريين

Kedua Lafadz مُنْذُ/مُذْ sebagai dzharfiyyah yang menempati posisi Khabar. Isim Marfu setelahnya adalah Mubtada. Dengan perkiraan:

مَا رَأَيْتُهُ بيني وبين لقائه يومان

Jadi ‘irabnya:

مَا رَأَيْتُهُ مُذْ/مُنْذُ يَوْمُ الجمعة أو يَوْمَانِ
مُذْ/مُنْذُ : خبر مقدم (شبه جملة)
يَوْمُ الجمعة أو يَوْمَانِ : مبتدأ مؤخر

  • Pendapat Ketiga:

مذهب الكوفيين واختاره السهيلي

Kedua Lafadz مُنْذُ/مُذْ sebagai dzharfiyyah yang diidhofatkan, lalu Isim Marfu setelahnya adalah Fa’il dari Fi’il yang diperkirakan:

مَا رَأَيْتُهُ مُذْ/مُنْذُ كان يومان

Jadi ‘irabnya:

مُذْ/مُنْذُ : ظرف زمان مضاف
كان : فعل ناقص
يومان : فاعل
جملة كان يومان : مضاف إليه

Terjemahnya: “Aku tidak melihat dia sejak dua hari”.

  • Pendapat Keempat:

بعض الكوفيين

Isim Marfu setelahnya adalah Khabar dari Mubtada yang dibuang dengan mentaqdirkan kedua Lafadz مُنْذُ/مُذْ sebagai Mubtada dengan makna الزمان الذي هو

نقله ابن يعيش عن الفراء. قال: لأن منذ مركبة من من وذو التي بمعنى الذي

ما رأيته من الزمان الذي هو يومان

Jadi ‘irabnya:

الذي هو : مبتدأ
يومان : خبر

b. Ketika Isim setelah مُنْذُ/مُذْ ber’irab Majrur.

Contoh:

مَا رَأَيْتُهُ مُذْ/مُنْذُ

Dalam hal ‘irabnya terdapat 2 Madzhab:

  • Pendapat Pertama: (Jumhur)

Kedua Lafadz مُنْذُ/مُذْ adalah huruf Jar yang khusus menjarkan Isim Zaman

مَا رَأَيْتُهُ مُذْ/مُنْذُ يَوْمِ الجمعةِ / يَوْمَيْنَ
مُذْ/مُنْذُ : حرف الجار
يَوْمِ الجمعةِ / يَوْمَيْنَ : مجرور

  • Pendapat Kedua:

Kedua Lafadz مُنْذُ/مُذْ adalah di’irab dzharfiyyah (maf’ul fih) sejakigus menjadi Mudhaf yang berada ditempat Nashab dan Isim setelahnya disebut Mudhaf Ilaih. Maka dalam hal ini, kedua Lafadz tersebut adalah Isim

مَا رَأَيْتُهُ مُذْ/مُنْذُ أَرْبَعَةِ أَيامٍ
مُذْ/مُنْذُ : ظرف زمان مبنى على الضمة في محل النصب وهو مضاف
أَرْبَعَةَ أَيامٍ : مضاف إليه

c. Ketika Isim setelah مُنْذُ/مُذْ berbentuk Jumlah, kebanyakan Jumlah Fi’liyyah.

Contoh:

مَا رَأَيْتُكَ مُذْ/مُنْذُ ضَرَبْتَ خَالدًا

Aku tidak melihatmu semenjak kau memukul kholid.

Dalam hal ‘irabnya terdapat 2 Madzhab:

  • Pendapat Pertama: (سيبويه)

Kedua Lafadz مُنْذُ/مُذْ adalah dzharaf (maf’ul fih) yang Idhofat kepada Jumlah setelahnya

مَا رَأَيْتُكَ مُذْ/مُنْذُ ضَرَبْتَ خَالدًا
مُذْ/مُنْذُ : ظرف زمان مبنى على الضمة في محل النصب وهو مضاف
ضَرَبْتَ : مضاف إليه

  • Pendapat Kedua:

Kedua Lafadz مُنْذُ/مُذْ adalah Mubtada dengan memperkirakan Khabar yang dibuang, dimana khobar tersebut diidhofatkan kepada Jumlah setelahnya

Perkiraanya:

مَا رَأَيْتُكَ مُذْ/مُنْذُ زمانُ ضَرَبْتَ خَالدًا

‘Irabnya:

مُذْ/مُنْذُ :مبتدأ
زمانُ : خبر وهو مضاف
جملة ضَرَبْتَ خَالدًا : مضاف إليه

Kesimpulan terkait منذ

والمختار أن مذ ومنذ إن وليهما مرفوع، أو جملة، فهما ظرفان مضافان إلى الجملة. وإن وليهما مجرور فهما حرفان وهذا اختيار ابن مالك في التسهيل. وقد بينته في شرحه. وهذا القدر كاف هنا. والله أعلم

Pendapat terpilih dan raajih adalah: “Bahwa jika Isim setelah Lafadz مذ ومنذ ber’irab Marfu baik berupa mufrad atau Jumlah, maka kedua lafadz مذ ومنذ adalah Isim dzharaf yang di’irab sebagai dzharfiyyah (maf’ul fih) yang posisinya sedang diidhofatkan kepada Jumlah kata/kalimat setelahnya. Adapun jika Isim setelahnya ber’irab Majrur, maka kedua lafadz مذ ومنذ adalah Huruf jar”.

Lebih detail, lihat:

انظر :  المرادي المصري، ص ٥٠٠

Kedua: Khusus Dzharaf Makan

1. Haitsu (حَيْثُ)

Sekiranya/sebagaimana/dimana saja

Spesifikasi:

  • Mabni Dhommah
  • Dalam penggunaanya kebanyakan diidhofatkan kepada Jumlah. (Pendapat Jumhur)
  • Terkadang didahului Huruf Jar من/إلى dan di’irab menjadi Syibh Jumlah (Jar Majrur)
  • Terkadang ditempeli huruf Ma ما Zaidah yabg merubah fungsingnya menjadi Isim Syarat yang menjazemkan dua fi’il.

Contoh:

وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوهُمْ وَأَخْرِجُوهُمْ مِنْ حَيْثُ أَخْرَجُوكُمْ. البقرة ١٩١

Dan bunuhlah mereka dimana saja kau temui mereka, dan usirlah mereka dimana saja mereka telah mengusir kamu.

حَيْثُ : اسم ظرفي مبني على الضم في محل النصب على الظرفية المكانية متعلق بالفعل وَاقْتُلُوهُمْ، وهو مضاف

والجملة ‘ثَقِفْتُمُوهُمْ’ في محل جر مضاف إليه

مِنْ حَيْثُ : شبه الجملة (الجار والمجرور) متعلقان بالفعل أخرجوهم. وهو مضاف

والجملة ‘أَخْرَجُوكُمْ’ في محل جر مضاف إليه.

Contoh sederhana:

قِفْ حَيْثُ خالدٌ وَاقِفٌ
قِفْ : فعل الأمر
حَيْثُ : ظرف مكان في محل النصب وهو مضاف
خالدٌ : مبتدأ
وَاقِفٌ : خبر
جملة ‘خالدٌ وَاقِفٌ’ في محل الجر، مضاف إليه

وَقَفْتُ حَيْثُ وَقَفَ خالدٌ
وَقَفْتُ : فعل، فاعل
حَيْثُ : ظرف مكان في محل النصب وهو مضاف
وَقَفَ خالدٌ : فعل، فاعل
جملة ‘ وَقَفَ خالدٌ’ في محل الجر، مضاف إليه

Adakalanya Lafadz حيث ditempeli huruf Ma ما Zaaidah dan merubah fungsingnya menjadi Isim Syarat yang menjazemkan dua fi’il. Contoh:

وَحَيْثُ ما كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ. البقرة ١٥٠

حيثما : اسم شرط جازم مبني على السكون في محل نصب على الظرفية المكانية

كُنْتُمْ : كان واسمها وهي في محل جزم فعل الشرط

فَوَلُّوا : الفاء رابطة لجواب الشرط ولوا فعل أمر مبني على حذف النون والواو فاعل والجملة في محل جزم جواب الشرط

2. Hunaa ( هُنَا) disini

Isim Isyarah untuk menunjukan tempat dekat.

Spesifikasi:

  • Termasuk Isim Isyarah
  • Termasuk Dzharaff Makan Ghair Mutasharif
  • Mabni Sukun
  • Terkadang imasuki Haa ها Tanbiih
  • Terkadang dimasuki لام البعد
  • Terkadang didahului huruf Jar من/إلى

قال ابن مالك

أوْ هاهُنَا أشِرْ إلِى # دَانِى الْمكَانِ وَبِهِ الْكَافَ صِلاَ # فِي البُعْدِ أوْ بِثَمَّ فُهْ أوْ هَنَّا # أوْ بِهُنَالِكَ انْطِقَنْ أوْ هِنَّا

Isim Isyarah berupa هُنَا dan هَهُنَا menunjukkan tempat yang dekat, dan jika menunjukan tempat yang jauh, harus ditambah huruf kaf khithab, seperti هُنَاكَ dan هَهُنَاكَ

Contoh:

هل أنت تَسْكُنُ هُنَا أو هُنَاكَ

Apakah kau tinggal disini atau disana ?

هَهُنَا/ هَهُنَاكَ / هِنَّا/ الثُعْبَانُ

Di isini/di sana ada ular

Contoh dimasuki huruf jar:

الدخولُ مِنْ هُنَا و الخروج من هُنَاكَ

Masuk dari sini dan keluar dari sana.

Untuk penggunaan هُنَالِكَ (jika menambahkan Lam) tidak boleh memakai ها tanbiih. Lebih detail pelajari pada materi Isim Isyarah.

Contoh dimasuki ها tanbiih: Dalam Alquran:

قَالُوا يَا مُوسَىٰ إِنَّا لَنْ نَدْخُلَهَا أَبَدًا مَا دَامُوا فِيهَا ۖ فَاذْهَبْ أَنْتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلَا إِنَّا هَاهُنَا قَاعِدُونَ. سورة المائدة ٢٤

Mereka berkata: “Hai Musa, kami sekali sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada didalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti disini saja”.

إِنَّاهَاهُنَا قَاعِدُونَ
(إنّ) حرف مشبّه بالفعل
(نا) ضمير في محلّ نصب اسم إنّ
(ها) حرف تنبيه
(هنا) اسم إشارة ظرف مكان مبني على السكون في محلّ نصب متعلّق ب قاعدون
(قاعدون) وهو خبر إنّ مرفوع وعلامة الرفع الواو.

Bagaimana apabila posisi هنا berada di awal kalimat, bagaimana ‘irabnya ?

Contoh:

هُنَا مَيدانُ الرياضةِ

Disini ada stadion olahraga

Jawab:

Lafadz هُنَا adalah Isim Isyarah dan dzharaf Makan yang termasuk Ghair Mutasharif (selalu jadi dzharf) kecuali hanya apabila didahului huruf Jar, yang ‘irabnya menjadi Syibhu Dzharaf (syibhul Jumlah).

Menurut pendapat pertama: Bahwa pada contoh di atas terdapat Khabar muqaddam yang dibuang dengan memperkirakan kata مستقرّ

Jadi I’rabnya:

هُنَا مَيدانُ الرياضةِ
هُنَا : اسم إشارة ظرف مكان مبني على السكون في محلّ نصب على الظرفية المكانية متعلّق بخبر مخدوف مقدم تقديره مستقرّ في هذا المكان
مَيدانُ الرياضةِ : مبتدأ مؤخر

قال عباس حسن : “وإن كان المشار إليه مكاناً أتينا بكلمة: “هُنَا” وهي إشارة وظرف مكان معًا فهي مبنية على السكون -أو غيره على حسب لغاتها- في محل نصب؛ لأنها ظرف غير متصرف -كما سلف- تقول؛ هنا موظف العلم؛ أي: في هذا المكان”.

Menurut pendapat kedua: Huna sbagai khabar muqaddam dan maidanulriyadhah sebagai mubtada muakhar.

انظر : عباس حسن، النحو الوافى، ج١، ص ٣٣٥

3. Tsamma ( ثَمَّ) disana (jauh)

Spesifikasi:

  • Termasuk Isim Isyarah untuk menunjukan tempat jauh
  • Mabni Fathah
  • Termasuk dzharaf ghair Mutasharif (selalu jadi dzharaf) kecuali apabila didahului huruf Jar dan  menjadi Syibhu dzharaf (syibhul Jumlah)
  • Terkadang dimasuki تأء التأنيث menjadi ثَمَّةَ/ثَمّتَ
  • Terkadang didahului huruf Jar من

Contoh:

ثَمَّ مَيدانُ الرياضةِ / ثَمَّةَ ميدانُ الرياضةِ

Di sana (jauh) ada stadion olah raga.

وَمِنْ ثَمَّ/ثَمَّةَ ذَهَبْنَا

Dari sana kita pergi.

Untuk ‘irabnya sama dengan هنا, hanya ada sedikit perbedaan pendapat terkait apakah ثَمَّةَ diidhofatkan kepada Isim/jumlah setelahnya atau tidak. ? Menurut sebagian Ulama:” Hukumnya harus Idhafat”. Dann menurut sebagian:”Hukumnya tidak Idhafat”.

Dalam Alquran:

وَإِذا رَأَيْتَ ثَمَّ رَأَيْتَ نَعِيماً وَمُلْكاً كَبِيراً. سورة الإنسان ٢٩

4. Aina ( أَيْنَ) dimana

Spesifikasi:

  • Termasuk Isim Istifham
  • Termasuk Isim syarat yang menjazemkan 2 fi’il
  • Mabni Fathah
  • Terkadang didahului Huruf Jar من/إلى
  • Terkadang ditempeli huruf ما zaidah untuk taukid

Contoh:

أَيْنَ خَالدٌ ؟/ أين كـنتَ ؟/ إلى أَيْنَ تَذْهَبُ؟ / مِنْ أَيْنَ جئت ؟

Dimana Kholid?/Dimana kau?/kemana kau akan pergi?

أَيْنَ خَالدٌ
أين : اسم استفهام مبني على الفتح في محل نصب على الظرفية المكانية متعلق بخبر مقدم محذوف, تقديره موجود

خَالدٌ : مبتدأ مؤخر

Contoh ketika dimasuki ما zaaidah dan menjadi Isim Syarat:

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِككُّمُ الْمَوْتُ. سورة النساء ٧٨

أَيْنَما: اسم شرط جازم مبني على السكون في محل نصب على الظرفية المكانية متعلق بتكونوا التامة أو بخبرها إن كانت ناقصة

تَكُونُوا: فعل مضارع تام والواو فاعل أو مضارع ناقص والواو اسمها وهو مجزوم بحذف النون لأنه فعل الشرط

يُدْرِكْكُمُ الْمَوْتُ : فعل مضارع مجزوم لأنه جواب الشرط ومفعوله وفاعله والجملة لا محل لها جواب شرط غير مقترن بالفاء الرابطة لجواب الشرط أو بإذا الفجائية


Khusus Dzharaf Zaman dan Makan (Mu’rab dan Mabni)

1. Qobla dan Ba’da ( قبل و بعد )

Spesifikasi:

  • Mu’rab Ketika idhafat
  • Mabni Dhammah Ketika tidak idhafat (Mudhof Ilaih dibuang)
  • Terkadang didahului huruf Jar

a. lafadz قبل dihukumi (Mu’rab Manshub tidak bertanwin) apabila lafadz Mudhaf Ilaih nampak dan maknanya diniatkan

كَتَبَ خَالدٌ الرسالةَ قَبْلَ/بَعْدَ المساءِ
قَبْلَ/بعد : ظرف زمان منصوب على الظرفية متعلق بالفعل ‘كتب’ وهو مضاف
المساءِ : مضاف إليه
_______
كَتَبَ خَالدٌ الرسالةَ مِنْ قَبْلِ/بعدِ المساءِ
مِنْ قَبْلِ/بعدِ : اسم مجرور وعلامة جره الكسرة وهو مضاف
المساءِ : مضاف إليه

b. lafadz قبل dihukumi (Mu’rab Manshub tanpa tanwin) apabila lafadz Mudhaf Ilaih dibuang, namun lafadz tersebut dan maknanya masih diniatkan. Hanya saja dengan diperkirakan. Dalam hal ini, lafadz قَبْلَ/بَعْدَ boleh Nashab sebagai dzharfiyyah atau Majrur (keduanya tanpa tanwin karena berniat memperkirakan mudhaf Ilaih yang dibuang)

كَتَبَ خَالدٌ الرسالةَ قَبْلَ/بَعْدَ
قَبْلَ/بعد : ظرف زمان منصوب على الظرفية متعلق بالفعل ‘كتب’ وهو مضاف
و مضاف إليه مخدوف تقديره قَبْلَ/بَعْدَ المساءِ
________
كَتَبَ خَالدٌ الرسالةَ مِنْ قَبْلِ/بعدِ
مِنْ قَبْلِ/بعدِ : اسم مجرور وعلامة جره الكسرة وهو مضاف و مضاف إليه مخدوف تقديره قَبْلَ/بَعْدَ المساءِ

c. lafadz قبل dihukumi (Mu’rab Manshub Bertanwin) apabila Lafadz dan Makna Mudhaf Ilaih tidak diniatkan idhafat. Dalam hal ini, lafadz قَبْلَ/بَعْدَ boleh manshub bertanwin sebagai dzharfiyyah atau Majrur bertanwin.

كَتَبَ خَالدٌ الرسالةَ قَبْلاً/ بَعْدًا
قَبْلاً/ بَعْدًا : ظرف زمان منصوب على الظرفية متعلق بالفعل ‘كتب’
و مضاف إليه مخدوف لفظا ومعنا
_______
كَتَبَ خَالدٌ الرسالةَ مِنْ قَبْلٍ/ مِنْ بَعْدٍ
مِنْ قَبْلٍ/ مِنْ بَعْدٍ : اسم مجرور وعلامة جره الكسرة
و مضاف إليه مخدوف لفظا ومعنا

d. lafadz قبل dihukumi (Mabni Dhommah) apabila Lafadz Mudhaf Ilaih dibuang dan tidak diniatkan. Namun secara makna masih diniatkan idhafat. Dalam hal ini di’irab sebagai dzharfiyyah mabni dhammah.

كَتَبَ خَالدٌ الرسالةَ قَبْلُ
قَبْلُ : ظرف مبني على الضم في محل النصب متعلق بالفعل ‘كتب’
و مضاف إليه مخدوف لفظا دون المعنى

كَتَبَ خَالدٌ الرسالةَ مِنْ قَبْلُ
مِنْ قَبْلُ : ظرف مبني على الضم في محل جر. لأن قبلها حرف جر متعلق بالفعل ‘كتب’
و مضاف إليه مخدوف لفظا دون المعنى

Contoh dalam AlQuran:

فِي بِضْعِ سِنِينَ ۗ لِلَّهِ الْأَمْرُ مِن قَبْلُ وَمِن بَعْدُ ۚ وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ. سورة الروم ٤

Dalam beberapa tahun lagi. Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman.

2. Dzharaf-Dzharaf Makan yang berhubungan dengan arah (أسماء الجهات )

Untuk dzharaf-dzaharaf ini sama halnya seperti  قبل/بعد terkadang Mu’rab atau Mabni, terkadang didahului huruf Jar dan terkadang dibuang mudhof ilaihnya.

تحت / فوق / أمام / قدّام / وراء / شمال / يمين / يسار

3. Awwal (أوّل) Pertama

Spesifikasi:

  • Termasuk dzharaf zaman mutasharif (terkadang di’irab dzharfiyyah dan terkadang tidak)
  • Terkadang Mu’rab /Mabni
  • Terkadang dimasuki huruf jar

Contoh menjadi mubtada:

أوّلُ الحُبِّ نَظْرةٌ ثُمَّ يَنْمُو
أوّلُ : مبتدأ

Awal cinta itu berupa pandangan lalu berkembang….

Contoh menjadi isim inna:

إِنَّ أَوَّلَ مَا أَفْعَلُ بِهِ اليَوْمَ صَلَاةُ الصبح
أَوَّلَ : اسم إن

Awal sesuatu yang akan aku kerjakan pada hari ini adalah shalat subuh.

Contoh menjadi dzharfiyyah:

وَنُقَلِّبُ أَفْئِدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَنَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ

أَوَّلَ: ظرف زمان متعلق بالفعل ‘ يُؤْمِنُوا’

Perhatikan perbedaan ‘irab lafadz أوّل pada contoh di atas. Semuanya berbeda-beda menyesuaikan dengan posisinya. Ini artinya bahwa lafadz أوّل adalah Mu’rab Mutasharif. Jika Lafadz أوّل dijadikan dzharaf, maka ikuti seperti ‘irabnya قبل/بعد baik ketika idhofat maupun tidak.

4. Duna (دُوْنَ) maknanya dekat, namun kadang bermakna ‘selain’

Spesifikasi:

  • Menurut sebagian Ulama bahwa lafadz دُوْنَ termasuk dzharaf makan Ghir Munsharif (Sibawaih dan Ulama Bashrah)
  • Menurut yang lainya termasuk dzharaf makan munsharif (Imam Akhfas dan Ulama Kuffah)
  • Terkadang Mu’rab /Mabni
  • Terkadang dimasuki huruf jar

Terlepas dari perbedaan kedua pendapat di atas, untuk lafadz دُوْنَ ‘irabnya seperti قبل/بعد baik ketika idhafat maupun tidak.

اِجْلِسْ دونَ خَالدٍ

Duduklah dekat Kholid

الحياةُ بدونِ الحُبِّ تصبح بلا معنى

Hidup tanpa cinta tak bermakna.

Dalam AlQuran:

وَأَنَّا مِنَّا الصَّالِحُونَ وَمِنَّا دُونَ ذَٰلِكَ ۖ كُنَّا طَرَائِقَ قِدَدًا. سورة الجن ١١

أَنَّا : أن واسمها
مِنَّا : خبر مقدم
الصَّالِحُونَ : مبتدأ مؤخر والجملة الاسمية خبر أنا وجملة أنا معطوفة على ما قبلها
وَمِنَّا :خبر مقدم
دُونَ : ظرف متعلق بمبتدأ مؤخر حسب ابن هشام في الشذور
ذلِكَ : مضاف إليه والجملة الاسمية معطوفة على ما قبلها
كُنَّا : كان واسمها
طَرائِقَ : خبرها
قِدَداً : صفة طرائق والجملة حال
_______

Dzharaf-Dzharaf Rangkap

Maksud dzharaf rangkap yaitu dzharaf yang terkadang menjadi dzharaf zaman atau dzharaf makan.

1. Annaa ( أنَّى ) Bagaimaa/dimana/kapan saja

Spesifikasi:

  • Dipergunakan untuk zaman dan makan
  • Termasuk Isim Istifham
  • Termasuk Isim Syarat yang menjazemkan 2 fi’il
  • Mabni Sukun
  • Terkadang di’irab sebagai Hal

Contoh ketika dipergunakan sebagai alat Istifham bermakna كيف dan di’irab sebagai dzharafiyyah

يا مَرْيَمُ أَنَّى لَكِ هذا قالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ الله إِنَّ الله يَرْزُقُ مَنْ يَشاءُ بِغَيْرِ حِسابٍ. سورة العمران ٤٧

أَنَّى : اسم استفهام مبنى على السكون في محل النصب على الظرفية المكانية متعلق بمحذوف خبر

“Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.

Contoh ketika dijadikan perangkat syarat bermakna أين dan di’irab sebagai  dzharfiyyah

أَنَّى تَسْكُنْ سَوْفَ أحْضُرْ لِزِيَارَتِكَ

أَنَّى : اسم شرط مبنى على السكون في محل النصب على الظرفية المكانية متعلق بالفعل ‘سكن’

Dimana kamu berdomisili, aku akan hadir mengunjungimu.

Contoh ketika dipergunakan sebagai alat bertanya dan di’irab sebagai Hal bermakna كيف

قالَ أَنَّى يُحْيِي هذِهِ اللَّهُ بَعْدَ مَوْتِها. سورة البقرة ٢٥٩

أَنَّى : اسم استفهام في محل النصب حال

“Bagaimana Allah menghidupkan kembali (negeri) ini setelah hancur?”

2. Ladai (لَدَى) bermakna عند (kepunyaan, dihadapan, disisi/didepan/yang ada pada)

Spesifikasi:

  • Dipergunakan untuk zaman dan makan
  • Mabni sukun
  • Wajib idhafat kepada dhamir atau Isim kecuali Jumlah
  • Ketika idhafat kepada dhamir, huruf alif diganti dengan Iya. Seperti contoh berikut:

لَدَيْنَا/لَدَيْكَ/لَدَيَّ -» لَدَىْ خَالدٍ/لَدَىْ البابِ

Contoh ketika di’irab sebagai dzharaf Makan (maf’ul fih).

مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا ۖكُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ. سورة الروم ٣٢

كلُّ حِزْبٍ : مبتدأ
بما : جار مجرور
لَدَيْهِمْ : ظرف مكان مبنى على السكون في محل النصب على الظرفية المكانية
فَرِحُونَ : خبر

Yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.

وَاسْتَبَقَا الْبابَ وَقَدَّتْ قَمِيصَهُ مِنْ دُبُرٍ وَأَلْفَيا سَيِّدَها لَدَى الْبابِ قالَتْ ما جَزاءُ مَنْ أَرادَ بِأَهْلِكَ سُوءاً إِلاَّ أَنْ يُسْجَنَ أَوْ عَذابٌ أَلِيمٌ. سورة يوسف ٢٥

لَدَى الْبابِ : ظرف مكان مبنى على السكون في محل النصب على الظرفية المكانية
الْبابِ : مضاف إليه

Dan keduanya berlomba menuju pintu dan perempuan itu menarik baju gamisnya (Yusuf) dari belakang hingga koyak dan keduanya mendapati suami perempuan itu di depan pintu. Dia (perempuan itu) berkata, “Apakah balasan terhadap orang yang bermaksud buruk terhadap istrimu, selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan siksa yang pedih?”

Contoh ketika di’irab sebagai dzharaf zaman (maf’ul fih) bermakna حين (ketika):

سأزُوْرُكَ لَدَيْ عَوْدَتِي

Aku akan mengunjingimu ketika waktu kepulanganku

Contoh dalam ungkapan sehari-hari:

الكتَابُ لَدَىْ خَالدٍ

Kitab itu kepunyaan kholid

الكتَابُ : مبتدأ
لَدَىْ : ظرف مكان مبنى على السكون في محل النصب على الظرفية المكانية متعلق بمخدوف خبر تقديره ” الكتَابُ مُسْتَقِرٌّ لَدَىْ خَالدٍ. وهو مضاف
خَالدٍ : مضاف إليه

خَالدٌ وَاقِفٌ لَدَى البَابِ

Kholid berdiri dipinggir pintu

خَالدٌ : مبتدأ
وَاقِفٌ : خبر
لَدَى : ظرف مكان مبنى على السكون في محل النصب على الظرفية المكانية متعلق ب واقف وهو مضاف
الباب : مضاف إليه
البَابِ

3. Ladun( لَدُنْ)bermakna عند ( sisi/kepunyaan/pinggir dll)

Spesifikasi:

  • Dipergunakan untuk zaman dan makan
  • Mabni sukun
  • Wajib Idhafat baik kepada dhamir, Isim dzhahir dan berupa kalimat
  • Termasuk dzharaf ghair mutasharif
  • Dalam penggunaanya kebanyakan didahului Huruf Jar من

Contoh ketika Idhafat kepada dhamir:

رَبَّنا لا تُزِغْ قُلُوبَنا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنا وَهَبْ لَنا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ. سورة العمران ٨

مِنْ لَدُنْكَ : اسم مبنيّ على السكون في محلّ جرّ متعلّق ب (هب)/ جار و مجرور (شبه جملة)

Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)”.

Contoh ketika Idhafat kepada Isim Dzhahir Mufrod

كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِن لَّدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ. سورة هود ١

مِن لَّدُنْ : اسم مبنيّ على السكون في محلّ جرّ متعلّق ب (فُصِّلَتْ)/ جار و مجرور (شبه جملة)
حَكِيمٍ : مضاف إليه
خَبِيرٍ : بدل من حكيم أو نعت له مجرور

Contoh penggunaan sehari-hari:

ذَهَبَ خَالدٌ إلى المدرسة لَدُنْ طُلُوْعِ الشَّمْسِ

Kholid pergi ke sekolah ketika terbit matahari.

أعطيتُ خَالدًا مِن لَدُنِّي كتاباً

Aku memberi kholid kitab miliku.

أعطينا خَالدًا من لدنّا كتابًا

Kami memberi kholid buku milik kita (yang ada dikita)

Apa perbedaan لَدُنِّي dan لَدُنّا ?

Ladafz لَدُنّا terdiri dari (لَدُنْ + dhamir نا), lalu diidghomkan menjadi لَدُنّا

Lafadz لَدُنِّي terdiri dari (لَدُنْ + نون وقاية + dhomir ي mutakallim), menjadi لَدُنِّي

4. Ma’a (مَعَ) beserta

Spesifikasi;

  • Dipergunakan untuk zaman dan makan
  • Mu’rab Manshub (Fathah)
  • Nakorah bertanwin Ketika putus dari Idhafah yang ‘irabnya menjadi Hal (معًا) bermakna (جميعًا)

Contoh:

يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ. سورة التوبة ١١٩

مَعَ: ظرف مكان منصوب على الظرفية المكانية متعلق بالخبر المخدوف
الصَّادِقِينَ : مضاف إليه مجرور بالياء لأنه جمع مذكر سالم

Contoh ketika tidak diidhafatkan dan menjadi Hal bermakna جميعًا:

جَلَسَ خَالدٌ و زَيْدٌ مَعًا

Kholid dan zaid telah duduk bersama-sama.

مَعًا : حال منصوب

5. ‘Al ( عَالُ ) Diatas bermakna فوق

Spesifikasi:

  • Wajib didahului huruf Jar مِنْ
  • Wajib putus idhafat secara lafadz (Mudhof Ilaih dibuang secara lafadz dan diperkirakan secara makna)
  • Mabni Dhammah

Contoh:

يا خَالدٌ، خُذْ الكتابَ مِنْ عَالُ

Perkiraanya:

يا خَالدٌ، خُذْ الكتابَ مِنْ فَوْقِ المكتبِ

Kholid ambil buku itu dari atas meja (atau dr atas apapun yg diisyaratkan)

مِنْ عَالُ : اسم ظرفي مبنى على الضمة في محل النصب على الظرفية المكانية، متعلق ب خذ


Demikian pembahasan tentang dzharaf (Maf’ul Fih), segala kekuranganya silahkan merujuk kitab yang dijadikan referensi. Apabila ada kesalahan pemberian harakat atau ada hal yang ingin ditanyakan langsung, silahkan ketik di kolom komentar.

Materi dzharaf banyak diwarnai perbedaan pendapat dengan argumentasi masing-masing. Dari sini Kita mengetahui betapa kayaknya bahasa arab. Kita belajar untuk selalu menghargai pendapat orang lain dan tidak mudah untuk menyalahkan selagi masih terdapat alasan-alasan dan rujukan yang bisa dipertanggung jawabkan.

Untuk contoh-contoh yang digunakan dari AlQuran dan Hadist, saya harap untuk membukanya kembali dalam Kitab Tafsier dan ‘irabnya langsung.

Penting! Terkadang pada penjelasan ‘irab maf’ul fih, penulis hanya menyebutkan dzharaf saja atau menjadi dzharaf (tidak menyebutkan dzharfiyyah atau maf’ul fih), sedangkan tidak setiap dzharaf di’irab sebagai maf’ul fih. Itu hanyalah kata-kata ringkas agar simple. Adapun maksudnya adalah dzharfiyyah /Maf’ul fih. Adapun untuk latihan mengasah kemampuan, sebaiknya meng’irabnya dengan lengkap.

Wallahu’alam.

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 4.9 / 5. Vote count: 500

No votes so far! Be the first to rate this post.

7 COMMENTS

  1. Assalamualaikum.
    diartikel menyebut 3 macam zharf zaman – mubham, ghair mubham dan musytaq.
    tapi zharf makan tidak menyebut musytaq.ada jgk kan? kalau ya, apakah syarat penggunaannya sama dgn zaman? iaitu dgn fil yg sama atau dgn harf jarr..

Tinggalkan Komentar

Latest News

Macam-Macam Maa (ما), fungsi dan ‘Irabnya

Ada berapa banyak jumlah Maa (ما) dalam bahasa arab dan bagaimana cara penggunaanya dalam kalimat ?. Kira-kira seperti itu...

Mengenal Uslub Qasam (أُسْلُوْبُ القَسَمِ)

Materi uslub qasam (sumpah) yang akan kita bahas meliputi pengertian uslub qasam secara bahasa, istilah, rukun, jumlah (kalimat) qasam,...

Mengenal 4 Tanda Fi’il ( علامة الفعل )

Tanda Fi'il (علامة الفعل) Bait ke#11 Jika pada Bait ke #10 Kita mengenal tanda Isim, sekarang Kita akan mengenal Tanda Khusus Fi'il. Sebelumnya sudah diulas bahwa Fi'il...

Mengenal Uslub Istifham (أدوات الاستفهام)

بسم الله الرحمن الرحيم Sebagai pecinta bahasa arab baik yang baru mulai belajar di Sekolah, Pesantren, Majlis Ta'lim, Otodidak online dan lainya, pasti sudah hafal...

Juha dan Tetangga Pelit

جُحَا وَ الجَارُ البَخِيْلُ Juha dan Tetangga Pelit كَانَ يَسْكُنُ بِجِوَارِ جُحَا رَجُلٌ غَنِيٌّ وَ لَكِنَّهُ بَخِيْلٌ، وَ قَدْ تَعَوَّدَ هَذَا الجَارُ اسْتِعْمَالَ حَاجَاتِ غَيْرِهِ مِنَ...

Kitab Qawa’id Asasiyyah [Nahwu Sharaf]

مؤلف : يوسف الحمادي وآخرون قسم : علم النحو والصرف العربي اللغة : العربية الصفحات : 256 عدد الملفات : 1 حجم الملفات : 10.78 ميجا بايت نوع الملفات : PDF مع أطيب التمنيات بالفائدة والمتعة, كتاب القواعد...

More Articles Like This