Monday, May 25, 2020

Kaidah Dzharaf [مفعول فيه]Lengkap dengan contoh dari AlQuran

Must Read

Kitab Nahwu Al-‘Ashry [Sulaiman Fayyad]

عنوان الكتاب: النحو العصري  المؤلف: سليمان فياض  حالة الفهرسة: غير مفهرس  الناشر: مركز الأهرام للترجمة والنشر  سنة النشر: ١٩٩٥  عدد المجلدات: ١  رقم الطبعة: ١  عدد...

Kitab Jami’udurus Alarabiyyah

عنوان الكتاب: جامع الدروس العربية  المؤلف: مصطفي الغلاييني  حالة الفهرسة: غير مفهرس  الناشر: المكتبة العصرية  سنة النشر: ١٤١٥ - ١٩٩٤  عدد المجلدات: ٣  رقم الطبعة:...

Perbedaan Harokat Dzahirah dan Muqaddarah

BismillahiRahmaniRahim. Sambungan dari tanya jawab Nahwu Sharaf Bagian#1 الحَرَكَاتُ الظَاهِرَةُ وَ المُقَدَّرَةُ Harokat Dzahirah dan Muqaddarah Harokat Dzahiran adalah harokat suatu kata yang...
TMBAhttps://bahasa-arab.com/
Belajar Bahasa Arab tidak semudah membalikan telapak tangan, butuh keseriusan dan istiqomah. Namun tidak ada kata terlambat jika kita ingin ingin mempelajarinya.

4.9
(497)

Maf’ul Fih ( Dzorof Zaman & Makan)

Perhatikan contoh berikut:

ضَرَبَ خَالِدٌ الكَلْبَ ثم جَلَسَ

Kholid telah memukul seekor anjing

Dari contoh diatas, Kita mengetahui bahwa sudah terjadi pemukulan yang dilakukan Kholid kepada anjing, lalu kemudian setelah itu Kholid duduk. Namun Kita tidak mengetahuinya, kapan pemukulan itu terjadi dan dimana tempat Kholid duduk.

Setelah kita tambahkan lafadz مساء dan lafadz أمام misalkan, seperti ini:

ضَرَبَ خَالِدٌ الكَلْبَ مساءً، ثم جَلَسَ أَمَامَ التِلْفَازِ

Maka terlahirlah suatu petunjuk baru yang menunjukan bahwa pemukulan itu terjadi diwaktu sore dan tempat duduknya Kholid didepan telivisi. Inilah yang dinamakan dengan Dzhorof Zaman dan Makan (Maf’ul Fih)

Baik, Kita masuk definisi terlebih dahulu.

Definisi Dzhorof:

الاسم الدال على الزمان أو المكان المنصوب باللفظ الدال على المعنى الواقع فيه المتضمّن معنى في الدالة على الظرفية

Isim yang menunjukan arti waktu atau tempat yang dinashabkan dengan lafadz yang menunjukan kepada terjadinya suatu perbuatan yang didalamnya mengandung siratan makna Fii في (di)
________

Apakah setiap Isim yang menunjukan arti waktu dan tempat bisa di’irab sebagai Dzhorof/Maf’ul Fih ?

Tidak, jika belum memenuhi ketiga syarat berikut:

Syarat dan Ketentuan

Syarat Pertama: Mengandung siratan makna Fii yang secara lafadz tidak nampak.

Syarat in berlaku untuk Dzhorof kategori Mutashorif yang kadang menjadi Dzhorof dan kadang tidak. Adapun Dzhorof Ghoir Mutashorif terutama yang Mabni, tidak memperkirakan makna Fii (di).

Begitu juga dengan Dzhorof Makan Mukhtas, seperti: البيت، الدار، المدرسة dkk, meskipun mengandung siratan makna Fii, namun tidak bisa dii’rab sebagai Dzhorof karena harus selalu didahului Huruf Jar, kecuali memenuhi syarat yang ditentukan

Contoh:

سكنت في البيت / ذهبت إلى المدرسة

Penjelasanya akan menyusul dibawah.

Lihat:

السيوطي، جلال الدين، الأشباه والنظائر في النحو، تحقيق دكتور عبد العال سالم مكرم، ج١,.ص ٨٢٦

قال ابن مالك

اَلظَّرْفُ وَقْتٌ أَوْ مَكَانٌ ضُمِّنَا  # فِي بِاطِّرَادٍ كَهُنَا امْكُثْ أَزْمُنَا

Syarat Kedua: Menunjukan arti tempat/waktu yang terkait dengan suatu kejadian.

Syarat ini sudah pasti mutlak harus dimiliki setiap Isim ber’irab Dzhorof, karena Dzhorof merupakan makna pelengkap untuk menunjukan waktu dan tempat kejadian. Jadi Dzhorof wajib berta’alluq ( keterkaitan makna dengan kejadian tersebut). Karena Dzhorof adalah wadah (وعاء) yang tidak mungkin berdiri sendiri. Adanya TKP ketika terjadinya perkara/kejadian/kasus, tanpa hal itu tidak mungkin ada TKP.

ضَرَبَ خَالدٌ زَيْدًا أمامَ المدرسةِ

TKPnya ada, kasus pemukulanya ada, yang memukul dan yang dipukul ada. Ini yang dimaksud menunjukan arti tempat/waktu yang terkait dengan suatu kejadian.

3. Manshub dengan Amilnya.

Manshub merupakan syarat mutlak untuk setiap Isim yang di’irab sebagai Dzhorof (Maf’ul Fih). Kecuali Dzhorof Makan Ghoir Mubham (Mukhtas) seperti yang telah disinggung diatas.

Manshubnya Isim yang dijadikan Dzhorof tidak nashab dengan sendirinya, melainkan dinashabkan oleh Amil-Amil yang memiliki keterkaitan makna.

قال ابن مالك
فَانْصِبْهُ بِالْوَاقِعِ فِيْهِ مُظْهَرَا # كَانَ وَإِلاَّ فَانْوِهِ مُقَدَّرَا

Adapun tanda Nashab Dzhorof tidak selalu Fathah Dzohirah, ada juga Muqodarrah disebabkan jenis Dzhorofnya bermacam-macam. Mu’rab, Mabni Dhommah, Mabni Kasrah, Mabni Fathah, Mabni Sukun.
___________
Bagaimana jika Isim-Isim Dzhorof ini tidak memenuhi syarat diatas, apakah tetap disebut dengan Dzhorof ( Maf’ul Fih) ?

Ketika Isim-Isim ini tidak memenuhi syarat diatas, mereka hanyalah Isim biasa yang hanya mengandung arti waktu dan tempat, tanpa ada keterkaitan dengan terjadinya suatu kejadian. Kedudukan I’rabnya disesuaikan dengan posisinya masing-masing dalam Jumlah.

Perhatikan kedua contoh berikut:

جاء خالد يومَ السبت / جاء يومُ السبت

Kholid tiba hari sabtu / Hari sabtu telah tiba

Kedua Lafadz يوم sama-sama mengandung arti waktu, namun keduanya berbeda dari segi ‘irab.

– Pada Lafadz يوم yang pertama, terdapat siratan makna Fii (di). Ketika artinya diterjemahkan dengan ( Kholid datang hari sabtu ataupun Kholid datang dihari sabtu), keduanya memiliki arti yang sama.

Berbeda dengan Lafadz يوم kedua yang tidak terdapat siratan makna Fii, ketika kita coba siratkan misalkan, (hari sabtu telah datang dan dihari sabtu telah datang), maka arti dari maksud kalimat terbukti rusak.

– Pada Lafadz يوم pertama terkait dengan suatu kejadian yaitu datangnya Kholid, namun pada Lafadz يوم kedua tidak terkait dengan kejadian apapun.

Dengan begitu, dia dia tidak berhak di’irab dengan Dzhorof melainkan sebagai Fa’il, karena hanyalah sebuah nama yang menunjukan arti waktu.

Lihat:

انظر : شرح الرضي على الكفاية، تحقيق يوسف حسن عمر، ص ٤٧٨

– Perbedaan yang paling menonjol yaitu terlihat dari kedua harokat يوم yang berbeda antara Dhammah dan Fathah. Artinya sudah jelas bisa diketahui bahwa yang satu adalah Dzhorof dan yang kedua bukan.
_________

Siapa Amil-Amil yang membuat nashab Dzhorof ?

Berikut Amil-Amil yang membuat Nashab Dzhorof dan contoh ‘irabnya.

Amil-Amil Dzhorof

1. Fi’il

Contoh:

ذَهَبَ خَالدٌ يَوْمَ الجُمْعَةِ

Fi’ilnya nampak jelas lafadz ‘ذَهَبَ’

ذَهَبَ خَالدٌ يَوْمَ الجُمْعَةِ
ذَهَبَ: فعل ماضي مبني على الفتح
خَالدٌ: فاعل مرفوع بالضمة الظاهرة.
يَوْمَ: ظرف زمان منصوب بالفتحة الظاهرة، وهو متعلق بالفعل ‘ذهب’. وهو مضاف
الجُمْعَةِ: مضاف إليه

2. Mashdar

السهرُ لَيلاً مُرْهِقٌ

Bergadang diwaktu malam melelahkan.

السهر: مبتدأ مرفوع بالضمة الظاهرة
ليلا: ظرف زمان منصوب بالفتحة الظاهرة، وهو متعلق بالسهر
مرهق: خبر مرفوع بالضمة الظاهرة

3. Isim Fa’il

خالدٌ قَادِمٌ غدًا

Kholid akan datang besok

خالدٌ : مبتدأ مرفوع بالضمة الظاهرة
قَادِمٌ : خبر مرفوع بالضمة الظاهرة
غدا: ظرف زمان منصوب بالفتحة الظاهرة، وهو متعلق بقادم

4. Isim Maf’ul

المدرسةُ مَفْتُوْحَةٌ صَبَاحًا وَمُغْلَقَةٌ مَسَاءً

Sekolah iti dibuka dipagi hari dan ditutup disore hari.

صباحا: ظرف زمان منصوب بالفتحة الظاهرة، وشبه الجملة متعلق بمفتوح
مساء: ظرف زمان منصوب بالفتحة الظاهرة،  متعلق بمغلق

5. Sifat Muysabahah

خالدٌ حَلِيْمٌ عِنْدَ الغَضَبِ

Kholid bersikap toleran ketika marah.

عِنْدَ : ظرف زمان منصوب بالفتحة الظاهرة،   متعلق بحليم

6. Syigh Mubalaghah

ِخالدٌ فَطِنٌ عندَ سِبَاقِ مهارةِ القراءة

Khilod sangat cerdas ketika lomba mahir membaca.

عِنْدَ : ظرف زمان منصوب بالفتحة الظاهرة،   متعلق بفطن

7. Isim Tafhdil

المريضُ اليومَ أحْسَن منه أمس

Hari ini orang sakit itu lebih baik dari hari kemarin

اليومَ : ظرف زمان منصوب بالفتحة الظاهرة،   متعلق بأحسن
أمس : ظرف زمان منصوب بالفتحة الظاهرة،   متعلق بأحسن

Catatan:

# Posisi Dzhorof dan Amilnya boleh saling mendahului, tidak mesti Dzhorof berada diposisi akhir.

Contoh:

حَالَةُ الجَوّ اليَوْمَ معتدلةٌ / اليومَ حالةُ الجو معتدلةٌ / حالةُ الجو معتدلةٌ اليومَ

Keadaan cuaca hari ini normal

#Untuk mengetahui fungsi dari pada Amil-Amil diatas, bisa melihatnya pada materi sebelumnya ( Muystaq )

Untuk perluasan silahkan lihat:

انظر: عباس حسن، النحو الوافي، ج ٤، ص ٢٤٥

___________
Apakah boleh satu Amil untuk beberapa Dzhorof ?

Boleh, jika Dzhorofnya berbeda (satu zaman dan satu makan)

Contoh1:

رَأيتُكِ يَوْمَ الوَدَاعِ خَلْفَ جُدران المدرسةِ بَاكيَةً

Dihari perpisahan, aku melihatmu dibelakang dinding sekolah sambil menangis.

Lafadz يَوْمَ (zaman) dan Lafadz خَلْفَ (makan) keduanya terkait dengan satu peristiwa yang sama atau dengan satu Amil yaitu رأي

Contoh2:

ِأنْتَظِرُكَ يومَ الجمعةِ أمامَ المدرسة

Aku akan menunggumu pada hari jumat didepan sekolah

يوم: ظرف زمان منصوب بالفتحة الظاهرة، وشبه الجملة متعلق بالفعل انتظر
الجمعة: مضاف إليه مجرور بالكسرة الظاهرة
أمام: ظرف مكان منصوب بالفتحة الظاهرة، وشبه الجملة متعلق بالفعل انتظر
البيت: مضاف إليه مجرور بالكسرة الظاهرة

Namun jika kedua Dzhorofnya sama jenis, tidak boleh kecuali dalam dua keadaan.

a. Menjadikan Dzhorof kedua sebagai Badal

أُقَابِلُكِ يَومَ السَبْتِ صَبَاحًا

Aku akan menemuimu dihari sabtu pada waktu pagi.

Lafadz صَبَاحًا di’irab sebagai Badal dari Dzhorof يَومَ karena berbeda jenis Dzhorofnya. Artinya waktu pagi merupakan bagian dari pada hari.

b. Ketika Amilnya berupa Isim Tafhdil

المريضُ اليومَ أحْسَنُ مِنْهُ أمسِ
خالدٌ اليومَ أكثرُ اجتهادا مِنْهُ أمسِ

Lafadz اليومَ dan أمسِ berta’alluq pada satu Amil yaitu Isim Tafdhil أحْسَنُ

Lihat:

حاشية الصبان، ص ١٨٣
 أبو حبان الأندلوسي، مسائل النحو والصرف في تفسير البحر المحيط، ج ١، ص ٢٢٣
___________

Apakah Amil-Amil ini keberadaanya selalu nampak.?

Tidak, ada beberapa tempat dimana Amil-Amil ini wajib dan boleh dibuang.

1. Amil boleh dibuang ketika sudah mafhum atau sudah terindikasi dari kalimat yang digunakan sebelumnya. Seperti bentuk jawaban untuk sebuah pertanyaan, misalkan:

أنا : مَتَى تَذْهَبُ ؟ يَا خَالدٌ
خَالدٌ : يَوْمَ الخَمِيسِ

Dalam jawaban Kholid, Amilnya dibuang karna sdh terindikasi didalam pertanyaan. Jadi kholid langsung menggunakan Dzhorof.

Lengkapnya:

خَالدٌ : أَذْهَبُ يَوْمَ الخَمِيس

2. Amil wajib dibuang dalam beberapa tempat berikut ini.

a. Jika Dzhorof berada diposisi Khobar

الامتحانُ غَدًا

Ujian akan berlangsung besok

الامتحان: مبتدأ مرفوع بالضمة الظاهرة
غدا: ظرف زمان منصوب بالفتحة الظاهرة متعلق بمحذوف خبر
تقدير : الامتحان حاصل غدا

Lafad حاصل adalah khobar yang dibuang dan diperkirakan lalu posisinya ditempati Dzhorof. Ini sesuai dengan pendapat yang menganggap bahwa Dzhorof wajib berta’alluq dengan Amil baik dibuang atau nampak. Meskipun sebagian pendapat menganggap bahwa Dzhorof itulah yang sebagai. Khobar.

Lihat:

شرح ابن عاقل، ج ١, ص ٥٢٨

b. Jika Dzhorof berada diposisi Hal

رَأَيْتُكَ بَيْنَ المُجَاهِدِيْنَ فِي سَبِيْلِ اللَّهِ

Aku melihatmu berada diantara Para Mujahidin Fisabilillah.

رأيتك : فعل، فاعل، مفعول به
بين : ظرف مكان منصوب وعلامة نصبه الفتحة الظاهرة على آخره ، متعلق بمحذوف حال وهو مضاف.
المجاهدين : مضاف اليه مجرور بالياء لانه جمع مذكر سالم.
في سبيل الله : جار و مجرور

تقدير : رأيتك واقفا بين المجاهدين في سبيل الله

Lafad واقفا adalah HAL yang dibuang dan diperkirakan lalu posisinya ditempati Dzhorof.

c. Jika Dzhorof berada diposisi Sifat

اِشْتَرَى خالدٌ الكتابَ مِنْ مكتبةٍ أمامَ المدرسةِ

Kholid membeli buku dari perpustakaan yang berada didepan sekolah.

اشتري خالدٌ الكتابَ : فعل، فاعل، مفعول به
مِنْ مكتبةٍ : جار و مجرور
أمام المدرسةِ : ظرف مكان منصوب وعلامة نصبه الفتحة الظاهرة على آخره، متعلق بمحذوف صفة و هو مضاف.
المدرسةِ : مضاف اليه
تقدير : مِنْ مكتبةٍ كائنةٍ أمام المدرسةِ

Lafad كائنةٍ adalah Sifat/Na’at yang dibuang dan diperkirakan lalu posisinya ditempati Dzhorof.

d. Jika Dzhorof berada diposisi Shilah Maushul

اشتري خالدٌ الكتابَ مِنَ المكتبة التي أمامَ المدرسةِ

Kholid membeli buku dari perpustakaan itu yang terletak/berada didepan sekolah.

اشتري خالدٌ الكتابَ : فعل، فاعل، مفعول به
مِنْ المكتبة : جار و مجرور
أمام المدرسةِ : ظرف مكان منصوب وعلامة نصبه الفتحة الظاهرة على آخره، متعلق بمحذوف صلة لا محل له من الإعراب و هو مضاف.
المدرسةِ : مضاف اليه
تقدير : اشتري خالدٌ الكتابَ مِنَ المكتبة التي تَقَعُ أمامَ المدرسةِ

Lafad تَقَعُ adalah Shilah Maushul yang dibuang dan diperkirakan lalu posisinya ditempati Dzhorof.

e. Jika Dzhorof berada diposisi Maysgul ‘Anhu ( مشغول عنه / مشتغل عنه)

Artinya ketika Isim Dzhorof berada diposisi sebelum ‘Amilnya

يَوْمَ الخَميس صُمْتُ فِيْهِ

Dihari kamis aku berpuasa.

تقدير :صُمْتُ يَوْمَ الخَميس صُمْتُ فِيْهِ

Lafad صُمْتُ adalah مشغول عنه yang dibuang lalu posisinya ditempati Dzhorof.

Materi ini khusus dibahas dalam pasal ( الاشتغال) Mendahulukan Ma’mul dari ‘Amilnya dengan menambahkan Dhomir yang kembali ke Ma’mul. Jika dalam susunan Fi’il+Fa’il+Maf’ul Bih seperti ini:

خَالدًا ضَرَبْتُهُ

Kholid-saya telah memukul-dia

قال ابن مالك
إِنْ مُضْمَرُ اسْمٍ سَابِِقٍ فِعْلاً شَغَلْ # عَنْـهُ بِنَصْبِ لَفْظِـهِ أَوِ الْمَحَلّ # فَالسَّابِقَ انْصِبْهُ بِفِعْـلٍ أُضْمِـرَا # حَتْماً مُوَافِقٍ لِمَا قَــدْ أُظْـهِرَا

Ini hanya contoh supaya nyambung, silahkan diperdalam dalam pasal khusus ( الاشتغال)

f. Karena Sima’i, seperti : حينئذٍ الآن
حين + إذ

Dua dzhorof yang disatukan menjadi satu kesatuan. Dalam hal ini, teekadang salah satu ‘Amil dibuang atau keduanya (Wajib)

تقدير : قد حدث ما تذكر حين إذ كان كذا، واسمع الآن

Yang kau ingat itu kejadian masa lalu tatkala bla, bla, sekarang dengarkanlah. bla bla

Lebih detail Lihat:

انظر : عباس حسن، النحو الوافي، ج ٢, ص ٢٤٧
__________

Apakah Dzhorof mempunyai pengganti ( نائب ) yang bisa mewakilinya ketika Dzhorof itu dibuang ?

Ya, diantara Isim-Isim yang bisa mewakili posisi Dzhorof diantaranya:

1. Mashdar

Sering sekali Mashdar menjadi Mudhof Ilaih bagi Dzhorof dan mewakili posisinya ketika Dzhorof itu dibuang. Mashdar di’irab sebagai Dzhorof dengan syarat Mashdar tersebut menjadi makna penjelas bagi Dzhorof yang dibuang.

Contoh 1:

أنْتَظِرُكَ طُلُوْعَ الشَّمْسِ

Aku akan menunggumu diwaktu terbitnya matahari

Lafadz طُلُوْعَ adalah Mashdar sebagai wakil dari Dzhorof yang dibuang. Maksud dari terbitnya matahari adalah waktu terbit.

Perkiraanya:

أنْتَظِرُكَ (وَقْتَ) طُلُوْعِ الشَّمْسِ

أنْتَظِرُكَ : فعل، فاعل، مفعول به
طُلُوْعَ : ظرف زمان نيابة عن ظرف زمان مخدوف ( وقت ) وهو مضاف
الشَّمْسِ : مضاف إليه

Contoh 2:

جَلَسْتُ قَرْبَ خَالدٍ
تقدير : جَلَسْتُ مَكانَ قَرْبِ خَالدٍ

Aku duduk dekat kholid, artinya aku duduk ditempat dekat Kholid.

Lihat:

انظر : السيوطي، همع الهوامع في شرح جمع الجوامع ، ج ١، ص ١٧١

2. Isim ‘Ain ( اسم العين)

Isim ‘Ain mewakili posisi Dzhorof ketika Dzhorof itu diidhofatkan kepada Mashdar, lalu Dzhorof dan Mashdar yang Idhofat itu dibuang secara bersamaan dan kemudian posisinya ditempati Isim ‘Ain.

أَنْتَظِرُكَ الفَرْقَدَيْنِ

Aku akan menunggumu saat muncul kedua bintang itu.

تقدير : أَنْتَظِرُكَ وَقْتَ ظُهُوْرِ الفَرْقَدَيْنِ

Lafadz perkiraan وَقْتَ ظُهُوْرِ dibuang secara bersamaan dan posisinya ditempati Isim الفَرْقَدَيْنِ

3. Lafadz-Lafadz ( كل/بعض/عامة/نصف/ربع)

Jika menemukan lafadz-lafadz seperti diatas, ‘irablah sebagai dzhorof manshub karena mereka menjadi penggatinya Dzhorof, dengan syarat lafadz-lafadz tersebut diidhofatkan kepada Isim Dzhorofnya.

سَهَرْتُ كُلَّ الليلِ -» أي في كل الليلة
كَتَبْتُ نِصْفَ السَاعةِ -» أي في نصف الساعة

Aku bergadang setiap malam, artinya aku bergadang disetiap waktu malam.

Aku menulis 1/2 jam, artinya aku menulis diwaktu 1/2 jam.

4. Sifat Dzhorof

Sifat mewakili posisi Dzhorof yang dibuang

صُمْتُ طَويلًا / وَقَفْتُ قَلِيْلًا
تقدير : صُمْتُ زَمَنًا طَويلًا / وَقَفْتُ وَقْتًا قَلِيْلًا

Lafadz طَويلًا adalah sebagai sifat dari dzhorof yang dibuang lalu menempati posisinya
________

Jangan dulu pusing, kita baru muqodimmah :D. Pahami pelan-pelan dan baca bulak-balik.

Baik Kita lanjut ke pembagian Dzhorof Zaman dan Makan.

Pembahasan Dzhorof Makan dan Zaman akan dipisah supaya tidak tercampur.

Pembagian Dzhorof

A. Dzharaf Zaman

1. Dzhorof Zaman (Dari sisi kandungan makna)

Secara kandungan makna, Dzhorof Zaman terbagi menjadi dua bagian:

a. Zaman Mubham ( زمان مبهم )

هو كل اسم دل على ظرف زمان غير معلوم أو معين

Setiap Isim yang menunjukan waktu tidak tertentu، baik Makrifat maupun Nakirah

Seperti:

أبَد / أَمَد / حين / وقت / زمان / لحظة / دهر / مدّة / بُرْهَة

Dzhorof-dzhorof diatas belum diketahui masa/ priodenya berapa lama.

Contoh :

أَمْضَي خَالِدٌ وَقْتًا طويلاً فِي طلبِ العِلْمِ

Kholid menghabiskan waktu lama dalam menimba ilmu.

Dzhorof- Dzhorof Zaman Mubham beralih menjadi Mukhtas ketika diidhofatkan seperti:

قوله تعالى
اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنفُسَ حِينَ مَوْتِهَا. سورة الزمار ٤٢

Allah memegang nyawa (seseorang) pada saat kematiannya

b. Zaman Mukhtas/Ghoir Mubham (مختص أو غير مبهم)

هو كل اسم دل على ظرف زمان مقدر ومعين

Setiap Isim yang menunjukan waktu tertentu (Priodenya diketahui)

Seperti:

ساعة/ دقيقة / يوم/ليلة/ أسبوع/شهر/سنة/ عام / عشية / ضحى / صيف / ربيع / خريف / شتاء / قرن /

Dzhorof-dzhorof diatas sudah ma’ruf kita ketahui masanya, satu jam adalah 60 menit, satu hari adalah 24 jam, dll.

Contoh:

أَنْتَظِرُكَ سَاعَةً تَحْتَ الشَّجَرةِ

Aku akan menunggumu satu jam dibawah pohon itu.

أَمْضَيْتُ فِي دِرَاسَةِ البَحْثِ العِلْمِي شَهْرًا

Aku menghabiskan waktu satu bulan dalam menyusun disertasi

قوله تعالى
اللَّهُ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ. سورة الحج ٦٩

Allah akan mengadili di antara kamu pada hari kiamat tentang apa yang kamu dahulu selalu berselisih padanya.

Kenapa disebut dengan Dzhorof Mukhtas ?

Karena beberapa hal berikut:

– Karena kandungan maknanya khusus dan diketahui takaran masanya.
– Karena Idhofat
– Karena dimasuki Lam Ta’rif

أنتظرك يَوْمًا
أنتظرك اليَوْمَ
أنتظرك يَوْمَ الخميس

Lafadz يْوْمٌ adalah umum, namun tetap Mukhtas karena takaran waktunya sudah diketahui, namun belum menunjukan hari tertentu kecuali ditambahkan ال atau Idhofat.

c. Zaman Muystaq

Adalah Isim Dzhorof Zaman yang dibentuk dari fi’ilnya dengan berwazan مَفْعِل / مَفْعَل

Isim Zaman Muystaq jika ingin dijadikan Dzhorof memiliki satu syarat yaitu: Ketika Isim Zaman ini diletakan dalam suatu kalimat, ‘Amilnya harus dari Fi’il yang Isim Zaman tersebut dibentuk.

Contoh:

جَلَسْتُ مَجْلِسَ الضَيْفِ -»أي جَلَسْتُ زمانَ/وَقْتَ مَجْلِسِ الضَيْفِ

Aku duduk diwaktu duduknya tamu.

Jika berbeda Lafadz maka harus didahului huruf jar.

جَلَسْتُ في مَقْعَدِ الضَيْفِ

Aku duduk diwaktu duduknya tamu.

Keterangan:

Setiap Dzhorof Zaman (Mubham dan Mukhtas) boleh dijadikan Dzhorof maupun Majrur, yang terpenting ketika dijadikan Dzhorof harus memenuhi ketiga syarat diatas. Kecuali Zaman Muystaq memiliki syarat tambahan.

2. Dzhorof Zaman (Dari sisi penggunaannya)

Dalam hal penggunaanya, Dzhorof Zaman diklasifikasikan menjadi dua bagian, mutasharif dan ghoir muthasorif

قال ابن مالك
وما يرى ظرفًا وغير ظرف # فذاك ذو تصرف في العرف

Maksud Mutasharif dan Ghoir Mutasharif disini bukan seperti perubahan tashrif Fi’il Madhi-Mudhori’-‘Amr dkk. Namun istilah untuk klasifikasi Isim-Isim Dzhorof Zaman antara yang setia dengan Fitrahnya sebagai Isim Manshub, dan yang berpaling ke lain ‘irab ( Marfu’, Majrur atau Manshub selain Dzhorof seperti Hal dan Maf’ul Bih).

a. Dzhorof Zaman Mutasharif (الظرفُ المُتَصَرِّفُ)

Definisi:

هو الذي لا يلازمُ النصبَ على الظرفيةِ ، وإنما يَتْرُكها إلى حالاتٍ أخرى من الإعراب فيكون مبتدأ وخبراً وفاعلاً ومفعولاً به

Adalah Isim Zaman yang tidak menetap dengan kenashabnya sebagai Dzhorofiyah, namun kadang berpindah kelain ‘Irab. Isim Dzhorof Zaman seperti ini tidak dinamakan lagi dengan Dzhorof, melainkan di’irab sesuai posisi dia dalam Jumlah. (Fa’il, Mubtada’, Khobar, Maf’ul Bih, Mudhof Ilaih)

Contoh1:

ذَهَبَ خَالدٌ إلى المدرسةِ يَومَ السَبْتِ

Lafadz يَومَ sebagai Dzhorof Zaman Manshub

Contoh2:

سيأتي يومٌ سعيدٌ نجتمع فيه

Lafadz يومٌ sebagai Fa’il Marfu’

Contoh3:

سِرْتُ نِصْفَ اليَوْمِ

Lafadz اليَوْمِ sebagai Mudhof Ilaih Majrur.

يَمينُك أوسعُ من شِمالِكَ

Lafadz يَمينُ sebagai Mubtada
_______

Hukum Dzhorof Zaman Mutasharif:

1. Mu’rab Munsharif

Artinya, tanda ‘Irabnya sesuai, misalkan ketika Rafa tandanya dengan Dhommah, ketika Majrur dengan Kasrah, ketika Manshub dengan Fathah. dll

Seperti:

يوم / شهر / سنة / أسبوع

2. Mu’rab Ghoir Munshorif

Artinya, tanda ‘Irabnya tidak sesuai, misalkan ketika Majrur seharusnya kasrah, malah fathah dan tidak menerima tanwin

Seperti: غدوة / بكرة / kedua Lafadz ini masuk kategori Dzhorof Mutasharif – Mu’rab – Ghoir Munshorif.

Contoh:

لأسيرنّ الليلةَ إلى غدوةَ أو بكرةَ

Dimalam ini, Sungguh aku akan berjalan sampai besok pagi.

Kedua Lafadz غدوةَ / بكرةَ adalah Dzhorof Zaman Mutasharif – Mu’rab – Ghoir Munshorif. Tanda Majrurnya dengan Fathah dan tidak menerima Tanwin.

Syarat supaya keduanya tetap menjadi Ghoir Munshorif yaitu harus terdapat ta’yyin/tahdiid/ petunjuk waktu yang dimaksud dalam kalimat tersebut.

Seperti pada contoh diatas, Lafadz غدوةَ atau بكرة dibatasi dengan petunjuk tertentu yaitu ‘pada malam itu’ artinya, waktu pagi yang terkait dengan perjalanan pada malam itu. Ini yang dimaksud dengan Ta’yiin diatas.

Jika tidak ada ta’yiin seperti diatas, maka kedua Dzhorof ini masuk kategori Mutasharif – Mu’rab Munshorif – (Bertanwin).

قوله تعالى
وَلَهُمْ رِزْقُهُمْ فِيْهَا بُكْرَةً وَّعَشِيًّا. سورة مريم ٦٢

Dan di dalamnya bagi mereka ada rezeki pagi dan petang.

Lihat:

انظر

– عباس حسن, النحو الوافي، ج ٢، ص ٢٦٠ – ٢٦٥ و ج ١، ص ٢٦١
– حاشية الصبان على شرح الأشمونى لألفية ابن ، ج ٢, أخر باب الظرف

3. Mabni

Arti Mabni yaitu ketika tanda ‘irabnya menetap dalam satu keadaan dimanapun dia posisinya. Misalkan, Mabni Sukun seperti ( إذ/ إذا)، Mabni Kasrah, (أمسِ) Mabni Dhommah (عَالُ) dkk.

Untuk cara penggunaan dan contoh ‘irabnya akan dibahas dibawah dalam kategori Dzhorof Mabni.

b. Dzhorof Zaman Ghoir Muthasorif (غَيْر المُتَصَرِّفُ)

قال ابن مالك
ذِي التَّصَرُّفِ الَّذِي لَزِمْ  # ظَرْفِيَّةً أَوْ شِبْهَهَا مِنَ الْكَلْمِ

Definisi:

وهو الذي لا يستعمل إلا ظرفًا، ومنه ما يستعمل ظرفًا وقد يترك الظرفية ولا يسمى ظرفًا إلى شبهها

Adalah Dzhorof Zaman yang selalu setia dan menetap dengan kenashabnya sebagai Dzhorofiyah (dikhususkan untuk Dzhorof Zaman) dan tidak mungkin menjadi yang lain dimanapun posisinya berada. Baik Mabni maupun Mu’rab. Kecuali jika didahului Huruf Jar. Dzhorof macam ini masuk jajaran Syibh Dzhorof/Syibhul Jumlah Jar Majrur.

Contoh:

– Lafadz قَطٌّ ( Dipergunakan untuk lampau, harus didahului Nafyi atau Istifham. ‘Irabnya Mabni Dhommah,

Contoh:

هل خَدَعْتَ أحدًا قطٌ

Apakah kamu sama sekali tidak pernah menipu seseorang..?

ما خَدَعْتُ أحدًا قطٌ

Aku tidak menipu seseorang sama sekali sebelumnya.

Akan diperjelas dibawah

– Lafadz عَوْضٌ( Dipergunakan untuk mustaqbal, harus didahului Nafyi atau Istifham. ‘Irabnya Mu’rab jika diidhofatkan dan Mabni Dhommah jika tidak Idhofat. Perubahanya persis seperti قَبْلُ nanti dibahas dibawah.

Contoh:

لا أفعله عوضَ ذلك

Aku tidak akan melakukaanya diwaktu yang akan datang

Lafadz عوضَ Dzhorof Zaman Ghoir Mutasharrif, pada contoh diatas dia Mu’rab karena idhofat.

لا أفعله عوضٌ

Lafadz عوضَ Dzhorof Zaman Ghoir Mutasharrif, pada contoh ini dia Mabni Dhommah ditempat Nashab karena tidak idhofat.

– Lafadz سَحَرَ (artinya waktu sahur sebelum fajar). Dia Mabni Fathah ketika dalam penggunaanya menunjukan kepada waktu tertentu yang bisa mentaqyidnya dari kenakirahan.

Contoh:

اسْتَيْقَظْتُ لَيْلَةَ الخَمِيْسِ سَحَرَ

Malam kamis aku bangun tidur diwaktu sahur.

Lafadz سَحَرَ diikat oleh malam kamis, artinya waktu sahur tersebut sudah terjadinya dimalam kamis. Ketika taqyiid ini hilang, maka lafadz سَحَرَ tidak Mabni Fathah lagi karena tidak menunjukan kepada waktu khusus.

Dengan begitu , dia memungkinkan menjadi Majrur didahului huruf Jar dan bertanwin atau dimasuki Lam Ta’rif.

Contoh:

إِنَّا أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ حَاصِبًا إِلَّا آلَ لُوطٍ ۖ نَجَّيْنَاهُمْ بِسَحَرٍ  سورة القمر ٣٤

Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang membawa batu-batu (yang menimpa mereka), kecuali keluarga Luth. Mereka Kami selamatkan sebelum fajar menyingsing

الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنْفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ . سورة العمران ١٧

Orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur.
____________

Imam Al-Suyuti berkata: “Orang Arab memasukan Lafadz ذا dan ذات kedalam kategori Dzhorof Ghoir Muthasorif yang diidhofatkan kepada Dzhorof Zaman”. Seperti :

ذَا صباحٍ / ذَاتَ صباحٍ / ذا يومٍ / ذاتَ يومٍ / ذات مرّةٍ

Begitu juga dengan menyatukan dua dzhorof tanpa Idhofat. Seperti:

صَبَاحَ مَسَاءَ / يَوْمَ يَوْمَ

Keduanya berhukum Mabni Fathah karena tidak dimaksudkan Idhofat, adapun jika diidhofatkan, maka lafadz-tersebut masuk jajaran Dzhorof Mutashorif yang kadang menjadi Dzhorof dan kadang tidak.

Contoh dalam Sya’ir berikut:

وَلَوْلا يَوْمُ يَوْمٍ مَا أرَدْنَا، جَزاءك والفروض لها جزاء

Dia mengidhofatkan kedua lafadz يَوْمُ يَوْمٍ jadinya tidak mabni fathah lagi.

Lihat detail lihat:

انظر : السيوطي، همع الهوامع على شرح جمع الجوامع، ج ٢, ص ٢١٦

_____________
Hukum Dzhorof Zaman Ghoir Mutasharif:

1. Mu’rab Ghoir Munshorif

عَتمة / عشية / سَحَرَ / يَومَ يَوْمَ / صباحَ مساءَ

Lafadz-lafadz diatas adalah contoh Mu’rab yang masuk kategori Ghoir Munshorif, dengan syarat tidak diihofatkan, bertanwin dan ditempeli Lam ta’rif. Jika tidak memenuhi syarat, maka beralih menjadi Mu’rab Munshorif. Seperti yang sudah dijelaskan dalam lafadz سَحَرَ diatas.

2. Mu’rab Munshorif

بكرة / ضحى / صحوة / سُحَير / صباح / مساء / ليل / نهار / / عشاء /

Lafadz-Lafadz diatas contoh yang Mu’rab Munshorif. Untuk contohnya penggunaan dan ‘irabnya akan dibahas dibawah.

3. Mabni

Dzhorof-dzhorof ghoir mutasharif banyak sekali yang Mabni, seperti Mabni Sukun ( لَدُنْ)، Mabni Dhommah ( مُنْدُ / قَطّ)، Mabni Fathah karna Dzhorof Murakkab ( صباحَ مَساءَ/ يومَ يومَ

Lihat:

 :انظر
النحو الوافي، ج ٢، ص ٢٦٣
شرح الأشمونى، ج ١، ص ٤٨٩

Ket:

Pasal Dzhorof Zaman Mabni akan disatukan dengan Dzhorof Zaman Mabni diakhir pembahasan.

B: Dzhorof Makan

Seperti halnya Dzhorof Zaman, untuk Dzhorof Makan juga dilkasifikasikan menjadi beberapa kategori.

1. Dzhorof Makan dari sisi kandungan makna

a. Makan Mubham ( مبهم )

هو كل اسم دل على ظرف مكان غير معين أو محدود

Setiap Isim yang menunjukan tempat tidak tertentu.

– Dzhorof Makan Mubham yang disepakati Ulama seperti:

قُدَّامَ / وراء / عند / حذاء / إزَاء / هنا / تلقاء / ثَمَّ / لدى / وسط / بين /

– Dzhorof Makan Mubham yang terdapat perbedaan pendapat apakah termasuk Mubham atau harus didahului huruf jar seperti:

داخل / خارج / ظاهر / باطن/ جوف الدار / جانب / جهة / وجه / كنف

قابلته داخل المدرسة / قابلته في داخل المدرسة

Karena dalam Dzhorof Makan Mubham terjadi perbedaan, maka Dzhorof-dzhorof ini bisa menjadi dzhorof atau Majrur. Pendapat Mayoritas harus didahului huruf Jaf”.

Lihat:

انظر : حاشية الخضري، باب: “الظرف” ج1

– Mulhaaqat Dzhorof Makan Mubham ( Isim-Isim yang berhubungan dengan arah dan ukuran). Seperti

أمام – خلف – يمين – شمال- فوق – تحت– – جَنُوب – شَرْق – غَرْب –

الميل / الغلوة / الفرسخ /

– Dzhorof Makan Muystaq jika ingin dijadikan Dzhorof memiliki satu syarat yaitu: Isim Makan dan ‘Amilnya harus dari lafadz yang sama. (Sama seperti yang berlaku dalam Isim Zaman)

Contoh:

وقفت موقف الخطيب / وجلست مجلس المتعلم

Aku berdiri ditempat berdirinya khotib/aku duduk ditempat duduknya guru

موقف/مجلس : ظرف مكان منصوب

Jika lafadz keduanya berbeda, maka Dzhorof2 ini tidak bisa dijadikan Dzhorof Makan Mubham melainkan beralih menjadi Dzhorof Makan Mukhtas yang harus didahului huruf Jar في dan ‘irabnya menjadi Majrur.

Contoh:

جَلَسْتُ في مَدْخَلِ المدرسةِ
مَدْخَلِ : مجرور

Lihat cara pembentukan Isim/Dzhorof Makan Muystaq dihalaman berikut: Klik

b. Makan Mukhtas/Ghoir Mubham ( مكان غير مبهم )

هو كل اسم دل على مكان معين وهذا النوع لا يكون إلا مجرورا

Setiap Isim yang menunjukan tempat tertentu.

Dhorof Makan (Mukhtas) termasuk yang tidak menerima Manshub sebagai Dzhorofiyah karena wajib didahului Huruf Jar (في), seperti:

الفصل/ البيت / الدار / البلد / غرفة / dll

Kecuali dalam dua hal:

– Jika ‘Amil Dzhorof Makan Mukhtas tersebut, Fi’ilnya menggunakan ( دَخل / سكن/ نزل). Karena dengan 3 fi’il inilah Orang Arab menashabkan setiap Dzhorof Makan Mukhtas secara langsung.

Contoh:

دخلت الدار / وسكنت البيت / ونزلت البلد

Meskipun sebaiknya untuk Dzhorof-dzhorof makan seperti ini di’irab sebagai Maf’ul Bih (bukan sebagai dzhorof lagi).

– Jika yang digunakan sebagai Dzhorof Makan Mukhtas itu lafadz الشام dengan ‘Amilnya berupa Fi’il Lafadz ذهب dan untuk Lafadz مكة ‘Amilnya berupa Fi’il Lafadz تَوَجّه

Kenapa khusus dengan kedua kota الشام dan مكة dan kenapa dengan hanya menggunakan kedua lafadz ini ? karena itulah yang biasa dipakai oleh orang Arab Qudamaa dalam hal langsung menashabkanya tanpa didahului Huruf Jar.

Maksudnya, dua keadaan ini dikecualikan dari kaidah yang mengikat Dzhorof Makan Mukhtas, dalam arti jika tidak memakai kedua lafadz diatas, Orang Arab menambahkan Huruf Jar sebelum Dzhorof Makan Mukhtas tersebut.

Contoh;

ذَهَبتُ الشَامَ / تَوَجَهْتُ مَكّةَ

Lihat:

انظر : عباس حسن، النحو الوافي، ج ٢، ص ٢٥٣ – ٢٥٥
____________

2. Dzhorof Makan (dari sisi penggunaan)

a. Mutasharif

Setiap Dzhorof Makan yang tidak selalu terikat untuk dijadikan Dzhorfiyah. I’rabnya berubah seperti pada Zhorof Zaman. (Mubtada, Khobar, Fa’il dll)

يمين / مكان / شمال / ذات شمال / ذات اليمين /

b. Ghoir Mutasharif

Setiap Dzhorof Makan yang selalu menjadi Dzhorfiyah, kecuali didahului Huruf Jar, maka menjadi Syibhul Jumlah (Jar Majrur)

بَدَلَ / فَوْقَ / تحتَ / أينَ / ثَمَّ / حَيْثُ / شَطْرَ /حَوْلَ /
__________

Lalu apa perbedaan Mutasharif dan Ghoir Mutasharif jika kenyataanya dalam Ghoir Mutasharif juga masih terdapat Dzhorof yang tidak setia dengan kenashabanya ?

Perbedaanya adalah: Jika Dzhorof Mutashorif pindahnya ke berbagai macam ‘irab (Mubtada, Khobar, Maful bih dll), sedangkan Dzhorof Ghoir Mutasharif pindahnya hanya ke satu ‘irab (Majrur).


Baik, Kita lanjutkan untuk memperdalam Dzhorof Mabni dan Mu’rab. Perlu diketahui bahwa tidak semua Dzhorof menetap dalam kemabnianya, terkadang berubah menjadi Mu’rab dengan alasan tertentu. Jadi akan Kita bahas detail mulai spesifikasi, syarat dan contoh penggunaanya.

Dzhorof Mabni dan Mu’rab

a. Khusus Dzhorof Zaman

1. Idz ( ْإذ ) Tatkala

Spesifikasi:

Lafadz ini untuk menunjukan zaman lampau
– Termasuk kategori Dzhorof Zaman Mutasharif yang kadang dijadikan Dzhorof dan kadang tidak.
– Hukumnya Mabni Sukun
– Harus diidhofatkan pada jumlah setelahnya.
– Terdapat dua jenis (Isim dan Huruf)

Ketika Idz إذ masuk kategori Isim, kedudukan ‘irabnya berbeda-beda. Kadang menjadi Dzhorof, Mudhof Ilaih, Maf’ul Bih, Badal Isytimal.

– Contoh ketika menjadi Dzhorof:

إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ. سورة الكهف ١٠

إِذْ : اسم ظرفي مبني على السكون في محل النصب على الظرفية الزمانية للماضي متعلق ب ‘عجبا’. مفعول فيه

أوى الفتية : في محلّ جرّ مضاف إليه

– Contoh ketika menjadi Mudhof Ilaih:

رَبَّنا لا تُزِغْ قُلُوبَنا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنا وَهَبْ لَنا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ. العمران ٨

إِذْ : اسم ظرفي مبني على السكون في محل في محلّ جرّ مضاف إليه

– Contoh ketika menjadi Maf’ul Bih:

وَاذْكُرُوا إِذْ أَنْتُمْ قَلِيلٌ مُسْتَضْعَفُونَ فِي الْأَرْضِ. الأنفال ٢٦

إِذْ : اسم ظرفيّ مبني على السكون في محلّ نصب مفعول به

– Contoh ketika menjadi Badal Isytimal:

وَاذْكُرْ فِي الْكِتابِ مَرْيَمَ إِذِ انْتَبَذَتْ مِنْ أَهْلِها مَكاناً شَرْقِيًّا. مريم ١٦

إِذْ : اسم ظرفيّ مبنى على السكون في محلّ نصب بدل اشتمال من مريم أو من محذوف هو مضاف أي خبر مريم

Ketika Idz إذ masuk kategori Huruf, kedudukan ‘irabnya juga sama berbeda-beda. Kadang menjadi فجائية dan تعليلية.

– Contoh ketika menjadi تعليلية

مَنَحْتُ خَالدًا الهَدِيَةَ إذْ نَجَحَ

Aku memberi kholid hadiah karna dia lulus

إِذْ : حرف تعليل مبنى على السكون لا محل له من الإعراب

– Contoh ketika menjadi فجائية
Harus terletak setelah بَيْنَ / بَيْنَمَا

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ، إِذَ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ…..

إذْ: حرف مفاجأة مبنى على السكون لا محل له من الإعراب

Dari Umar Radhiallahu ‘anhu: “Ketika kami duduk di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba muncullah seorang pria yang sangat putih bajunya….

Terkait Idz إذ yang terletak setelah بَيْنَ / بَيْنَمَا terdapat tiga pendapat berbeda:

– Menurut أبو الفتح عثمان بن جني :”Dzhoof Zaman/Makan”.

– Menurut ابن مالك :”Huruf Fajaaiyyah”.

– Menurut أبو عبيدة و إبو قتيبة :”Huruf taukid tambahan”.

Lihat:

انظر : ابن مالك، شرح التسهيل، ص ١١٩

Diatas disebutkan bahwa إذ digunakan untuk waktu Lampau, Lalu kenapa dalam Surah Ghafir Ayat 71 ta’alluqnya dengan Fi’il Mudhori’ ?

الَّذِينَ كَذَّبُوا بِالْكِتَابِ وَبِمَا أَرْسَلْنَا بِهِ رُسُلَنَا ۖ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ (٧٠) إِذِ الْأَغْلَالُ فِي أَعْنَاقِهِمْ وَالسَّلَاسِلُ يُسْحَبُونَ ٧١

Jawab: Lafadz إذ disini ta’alluqnya dengan fi’il يَعْلَمُونَ, mustaqbal secara lafadz dan madhi secara makna. Untuk menunjukan kebenaran haqiqi bahwa ‘adzab itu benar-benar nyata dan pasti. Seakan ‘adzab itu sudah menimpa mereka atas kebohongan yang mereka perbuat.

Lihat:

انظر : تفسير الوسيط لطنطاوي
انظر : تفسير الطبري
انظر : نصر الدين فارس، وعبد الجليل زكريا، المنتصف في النحو واللغة والإعراب، ص ١٢

2. Idza ( إذا ) Tatkala

Spesifikasi:

Lafadz ini untuk menunjukan zaman mustaqbal
– Termasuk Isim Syarat yang tidak Menjazemkan Fi’ilnya
– Termasuk kategori Dzhorof Zaman Mutasharif yang kadang dijadikan Dzhorof dan kadang tidak.
– Hukumnya Mabni Sukun
– Terdapat dua jenis (Isim dan Huruf)
– Jika sebagai Dzhorof, dia khusus masuk Jumlah Fi’liyyah.

Ketika Idza إذا masuk kategori Isim, kedudukan ‘irabnya berbeda-beda. Kadang menjadi Dzhorof, Hal dan Majrur.

– Contoh ketika menjadi Dzhorof

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ تَقُومَ السَّمَاءُ وَالْأَرْضُ بِأَمْرِهِ ثُمَّ إِذَا دَعَاكُمْ دَعْوَةً مِنَ الْأَرْضِ… الروم ٢٥

إذا : اسم ظرفي مبنى على السكون في محل النصب علي الظرفية الشرطية الزمانية غير الجازمة للمستقبل

Contoh ketika menjadi Hal (Atas pendapat Ibnu Hisyam) Adapun pendapat Jumhur adalah Dzorof . Bisa lihat dalam kitab I’rab AlQuran  Tafsir إعراب لدعاسى

وَاللَّيْلِ إِذا يَغْشى . الليل ١

إِذا : اسم ظرفي مبنى على السكون في محل النصب حالا لأنها وردت بعد القسم

– Contoh ketika menjadi Majrur

حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَٰبُهَا. الزمر ٧٣

إِذَا : اسم ظرفي مبنى على السكون في محل الجر مجرور ب (حتى)

Dalam hal ini ada perbedaan pendapat antara إِذَا dii’rab sebagai Majrur karena حتى atau sebagai Dzhorof dan حتى disebut sebagai Ibtidaiyyah.

Lihat:

انظر : نصر الدين فارس، وعبد الجليل زكريا، المنتصف في النحو واللغة والإعراب، ص ١٧

Terkadang Lafadz إذا menunjukan waktu lampau dan tidak mengandung makna syarat seperti dalam AlQuran.

وَإِذا رَأَوْا تِجارَةً أَوْ لَهْواً انْفَضُّوا إِلَيْها وَتَرَكُوكَ قائِماً. الجمعة ١١

Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah)

Maknanya menunjukan bahwa bubarnya mereka dari Khutbah Rasul Muhammad sudah terjadi dan mereka tidak akan kembali. Karna mereka lebih mementingkan perdagangan dan permainan. kecuali tersisa dari mereka 14 orang atau 40 orang dalam sebagian riwayat.

Lihat:

انظر : تفسير ابن عاشور

Ketika Lafadz Idza إذا masuk kategori Huruf, maka menjadi فجائية itupun menurut sebagian Ulama (الكوفيون و ابن مالك), dan menurut sebagian lagi إذا Fazaaiyyah termasuk Isim ( الكسائي وسيبيويه)

Sekilas perbedaan إذا Fazaaiyyah dan Syartiyyah adalah:

Syartiyyah membutuhkan jawaban,sedangkan Fazaaiyyah tidak
– Setelah Syartiyyah berupa Jumlah Fi’liyyah dan setelah Fazaaiyyah Jumlah Ismiyyah
– Syartiyyah untuk mustaqbal dan Fazaaiyyah untuk hal
– Jumlah setelah Syartiyyah berada ditempat Jar karna Idhofat dan Jumlah setelah Fazaaiyyah tidak ada tempat dalam ‘irab
– Syartiyyah terletak diawal jumlah dan Fazaaiyyah tidak

Nanti kita bahas dalam pasal khusus, disini hanya sekilas saja, bahwa ‘irab إذ dan إذا tidak hanya sebagai Dzhorfiyah.

3. Alaan ( الآن) sekarang

Spesifikasi:

Mabni Fathah
– Masuk kategori Dzhorof Ghoir Mutasharif yang hanya berubah ‘irab ketika dimasuki Huruf Jar
– Selalu dimasuki ال
– Menunjukan waktu hal (sekarang)
– Tidak ada bentuk Tastniyah dan Jamak

Menurut sebagian Ulama: ” Asal katanya dari أوان، huruf waw ditukar Alif lalu dibuang karna bertemu dua suku, lalu tambahkan ال

افعلْ الآن -» افعلْ في هذا الوقت

Apakah الآن Isim atau Huruf ?

Dia adalah Isim, tandanya bisa dimasuki ال Ta’rif, bisa dimasuki Huruf Jar seperti :

حتى الآن / إلى الآن / منذ الآن / من الآن

Perhatikan perbedaan Contoh ‘irabnya ketika dimasuki huruf jar dan tidak:

أَذْهَبُ الآن
الآن : اسم ظرفي مبني على الفتح في محل النصب على الظرفية الزمانية للحال، متعلق بالفعل ‘ أَذْهَبُ’

أَجْتَهِدُ من الآن فصاعدًا
من : حرف جر
الآن : اسم ظرفي مبني على الفتح في محل جر بحرف الجر، شبه الجملة( الجار والمجرور) متعلق بالفعل ‘ أَجْتَهِدُ’

4. Amsi (أمس) Kemarin

Spesifikasi:

Termasuk Isim Ma’rifat meski tidak dimasuki ال
– Termasuk Isim Zaman Mutashorif yang kadang menjadi Dzhorof dan kadang tidak
– Jika dijadikan Dzhorof, hukumnya Mabni Kasrah

Contoh:

ذَهَبْتُ إلى المدرسةِ أَمْسِ

Kemarin aku telah pergi kesekolah

أَمْسِ : اسم ظرفي مبني على الكسر في محل النصب على الظرفية الزمانية، متعلق بالفعل ‘ ذهب’

Contoh diatas kedudukanya sebagai Dzhorof dan Mabni Kasrah.

Jika dimasuki ال makrifat atau didahului Huruf Jar, maka berubah ‘irabnya. Contoh:

لَقَيْتُ خَالدًا بالأمسِ في المدرسةِ

Aku ketemu kholid kemarin disekolah

بالأمسِ : اسم ظرفي مجرور وعلامة جره الكسرة الظاهرة وهو شبه جملة ( الجار و المجرور) متعل بالفعل لقي

Contoh lain:

كان الأمسُ طيّبًا / إنّ الأمسَ طيّبٌ

Lihat:

انظر :
– عباس حسن, النحو الوافي، ج٢, ص ٢٨٢
السيوطي، الهمع، ج٢, ص ١٣٨

5. Ayyana (أيَّانَ) Kapan/kapankah

Lafadz أيَّانَ asalnya أَيُّ أوَان. Huruf Hamzah dan salahsatu Huruf ي dibuang. Menjadi أَيُوَان، lalu huruf و ditukar dengan ي kemudian idghamkan menjadi أيَّانَ

Lalu apa bedanya متى dengan أيَّانَ ?
Lafadz متى lebih banyak dipergunakan karena lebih ringan ketika diucapkan. Penggunaan أيَّانَ lebih kepada bertanya sesuatu hal yang besar/luar biasa.

Lihat:

انظر : شرح المفصل في صنعة الإعراب، ج ٢, ص ٥٠٣

Spesifikasi:

Menunjukan makna mustaqbal
– Termasuk Isim Istifham
– Termasuk Isim Syarat yang menjazemkan 2 fi’il
– Mabni Fathah

يَسْأَلُ أَيَّانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ. القيامة ٦

Dia bertanya, “Kapankah hari Kiamat itu?”

أَيَّانَ : اسم استفهام مبنى على الفتح في محل نصب على الظرفية الزمانية متعلق بمحذوف خبر مقدم

Disamping أَيَّانَ sebagai Isim Istifmam, dia juga termasuk Isim Syarat yang menjazemkan 2 fi’il.

Contoh:

أيّانَ تُسَاعِدْ الآَخَرِيْنَ يُسَاعِدْكَ اللَّهُ

Bilamana kau membantu orang lain, maka Allah akan membantumu.

6. Bainamaa / Bainaa ( بَيْنَا / بَيْنَمَا)

Kedua Lafadz ini asalnya بَيْنَ (Dzhorof Makan) bermakna وَسَط, lalu ketika ditambahkan Alif dan Mim menjadi bermakna إذْ (tatkala) dan masuk jajaran Dzhorof Zaman Ghoir Mutasharif. Ketika di’irab bisa disatukan antara بين dan ما atau dipisah.

Spesifikasi:

Mu’rab Manshub (ketika masuk ما, Mabni Sukun)
– Harus idhofat kepada Jumlah (Ismiyyah/Fi’liyyah).
– Membutuhkan jawaban untuk menyempurnakan makna karena mengandung makna syarat
– Mengandung makna kejutan مفاجأة
– Termasuk Dzhorof Zaman Ghoir Mutasharif.

Contoh:

بَيْنَا/بَيْنَمَا نَحْنُ في الطريقِ جَاءَ الأُسْتَاذُ
بَيْنَا/بَيْنَمَا كُنَا نَلْعَبُ جَاءَ الأُسْتَاذُ

Tatkala kami dijalan, tiba-tiba ustadz datang / Tatkala kami bermain, tiba-tiba ustadz datang

Bisa juga dengan menambahkan إذ فجائية menjadi (إِذْ جَاءَ الأُسْتَاذُ)

Contoh ‘Irabnya ketika disatukan:

بَيْنَا/بَيْنَمَا : اسم ظرفي مبنى على السكون في محل نصب على الظرفية الزمانية

Contoh ‘irabnya ketika dipisah:

بين : ظرف منصوبٌ وعلامة نصبه الفتحة

ما : كافَّةٌ عن العمل مَبنيَّةٌ على السُّكون لا محلَّ لها من الإعراب
ما : حرفٌ زائدٌ مَبنىٌّ على السُّكون لا محلَّ له من الإعراب

Karna dalam بَيْنَا/بَيْنَمَا nempel Huruf Alif dan Mim Zaaidah (tambahan), yang berfungsi untuk إشْبَاع/كافَّةٌ “Ibnu Malik”, maka dianggap cukup untuk mewakili syarat Idhofatnya dan tidak perlu kepada jumlah Fi’liyyah/Ismiyyah setelahnya. Oleh karna itu Jumlah yang terletak setelah بَيْنَا/بَيْنَمَا, berstatus Marfu sebagai Ibtida (permulaan)

7. Raitsa / Raitsama ( رَيْثَ / رَيْثَمَا)

kedua Lafadz ini adalah bentuk Mashdar dari dari kata kerja

رَاث – يَرِيثُ – رَيْثًا

Asal artinya yaitu lambat/melambatkan/lama menunggu, namun setelah masuk kategori Dzhorof Zaman, arti yang dimaksud adalah takaran waktunya (hingga/sampai).

Contoh:

اِنْتَظِرْنِي رَيْثَ / رَيْثَمَا جِئْتُكَ
أي اِنْتَظِرْنِي قَدْرْ مُدّةِ مَجِيْئِي

Tunggulah hingga aku datang.

Fi’il setelah رَيْثَ / رَيْثَمَا jika bentuk Fi’il Madhi, maka رَيْثَ / رَيْثَمَا Mabni Fathah dan jika Mudhori’ di’irab Manshub dengan Fathah.

Lihat:

انظر : مصطفى الغلايينى، جامع الدروس العربية، ج ٣, ص ٦٥

9. Hina ( حِيْنَ ) Ketika

Spesifikasi:

Termasuk Dzhorof Zaman Mubham Mutasharif (Terkadang di’irab sebagai dzhorof dan terkadang tidak). Menyesuaikan posisinya
– Harus diidhofatkan baik kepada Mufrad atau Jumlah
– Jamaknya أَحْيَان
– Mabni Fathah ketika menjadi Dzhorof dan Mu’rab ketika selain dzhorof.

Contoh yang diidhofatkan kepada Jumlah:

وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ حِينَ تَقُومُ. سورة الطور ٤٨

Dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri

Contoh yang diidhofatkan kepada Mufrod:

اللَّهُ يَتَوَفَّى الأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا. سورة الزمر ٤٢

حِينَ : اسم ظرفي مبنى على الفتح في محل نصب على الظرفية الزمانية متعلق بالفعل ‘يَتَوَفَّى’

Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya.

Contoh yang didahului Huruf Jar:

وَدَخَلَ الْمَدِينَةَ عَلَىٰ حِينِ غَفْلَةٍ مِّنْ أَهْلِهَا. سورة القصص ١٥

عَلَىٰ حِينِ : شبه جملة ( الجار والمجرور

Contoh ketika حِينَ keluar dari Dzhorfiyah dan di’irab sesuai kedudukanya dalam kalimat.

هَلْ أَتى عَلَى الْإِنْسانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئاً مَذْكُوراً. سورة الدهر ١

حِينٌ : فاعل مرفوع

تُؤْتِي أُكُلَها كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّها وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ. سورة إبراهيم ٢٥
كُلَّ : ظرف زمان
حِينٍ : مضاف إليه مجرور

Lafadz حِينٍ jadi Mudhof Ilaih dan Lafadz كُلَّ yang mewakilinya menjadi Dzhorof. Lihat: “kaidah diatas tentang Isim-Isim yang mewakili posisi dzhorof”.

10. ‘Aod ( عَوْض)

Lafadz ini bentuk Mashdar dari عَاضَ – يَعُوْضُ عَوْض

Ini sudah dibahas sekilas diatas, disini akan ditambahkan lagi kekuranganya berikut contoh ‘irabnya.

Spesifikasi:

Mengandung استغراق المستقبل (Meniadakan Zaman Mustaqbal)
– Termasuk Dzhorof Zaman Ghoir Muthasarif
– Mabni Dhommah jika tidak idhofat, seperti ‘irab قبل
– Mu’rab jika Idhofat
– Harus didahului Nafyi atau Istifham

Contoh ketika diidhofatkan, tanda ‘irabnya fathah (Mu’rab)

لا أفعله عوضَ ذلك

Aku tidak akan melakukaanya diwaktu yang akan datang

عوضَ : اسم ظرفي منصوب بالفتح وعلامته الفتحة الظاهرة على الظرفية الزمانية متعلق بالفعل ‘أفعل’

Contoh ketika tidak idhofat, tanda ‘irabnya Mabni Dhammah.

لا أفعله عوضٌ

عوضٌ : اسم ظرفي مبنى على الضمة في محل نصب على الظرفية الزمانية متعلق بالفعل ‘أفعل’

Sama dengan ‘irab قبل dan بعد nanti dibahas dibawah.

11. Qottun ( قَطّ) Sama sekali /sebelumnya

Lafadz قَطٌّ ( Dipergunakan untuk lampau, harus didahului Nafyi atau Istifham. ‘Irabnya Mabni Dhommah,

Spesifikasi:

Mengandung استغراق الماضي (Meniadakan Zaman Lampau)
– Termasuk Dzhorof Zaman Ghoir Muthasarif
– Mabni Dhommah
– Harus didahului Nafyi atau Istifham

Contoh:

هل خَدَعْتَ أحدًا قطٌ

Apakah kamu sama sekali tidak pernah menipu seseorang..?

ما خَدَعْتُ أحدًا قطٌ

Aku sama sekali tidak pernah menipu seseorang.

قط: اسم ظرفي مبني على الضم في محل النصب على الظرفية الزمانية متعلق بالفعل ‘خدع’

Lafadz قطٌ adalah Dzhorof Zaman, Ghoir Mutashorif, Mabni Dhommah ditempat Nashab، Maknanya berkaitan dengan ‘Amilnya yaitu kata خدع

12. Mata ( متى) kapan

Spesifikasi:

Mabni Sukun
– Digunakan untuk Zaman Lampau dan Mustaqbal
– Termasuk Isim Istifham
– Termasuk Isim Syarat yang menjazemkan dua fi’il
– Terkadang didahului Huruf Jar

Contoh:

Ketika متى sebagai Isim Istifham:

متى ذَهَبْتَ إلى المدرسةِ /متى تَذْهَبُ إلى المدرسةِ

Kapan kamu sudah/akan pergi ke sekolah ?

متى : اسم استفهام مبنى على السكون في محل النصب على الظرفية الزمانية متعلق بالفعل ‘ذهب’

Contoh Ketika متى sebagai Isim Syarat:

متى تُذَاكِرْ دُرُوْسَكَ تَنْجَحْ في الامتِحَانِ

Manakala kamu menghafal pelajaranmu, maka kamu akan lulus dalam ujian.

متى : اسم الشرط الجازم مبنى على السكون في محل النصب على الظرفية الزمانية متعلق بالفعل ‘ذاكر’

Contoh ketika متى didahului Huruf Jar

إلى مَتى سَتَفْعَلُ مَا نَهَا اللَّهُ عَنْهُ ورسولُهُ

Sampai kapan kau akan melakukan yang Allah dan Rasulnya larang ?

وحَتّى متى يبقى الضّال في ضلالهِ

Sampai kapan orang sesat berada dalam kesesatanya ?

إلى/حتى مَتى : شبه جملة ( الجار والمجرور ) متعلق ‘فعل/يبقى’

lihat:

انظر : مصطفى الغلايينى، جامع الدروس العربية، ج ٣, ص ٦٠

13. Lamma (لَمَّا ) Ketika/tatkala

Spesifikasi:

Termasuk Isim syarat yang tidak menjazemkan
– Membutuhkan jawaban untuk menyempurnakan maknanya
– Fi’il setelahnya berupa fi’il madhi (Ittifaq Ulama)
– Mabni Sukun
– Kadang Ta’alluqnya kepada ‘Amil yang menjadi Jawabanya.
– Kadang jawabanya dibuang
– Kadang bermakna إلا Ististna (pengecualian)
– Terkadang Jawaban memakai إذا فجاءية atau الفاء رابطة

Contoh:

فَلَمَّا نَجَّاكُمْ إِلَى الْبَرِّ أَعْرَضْتُمْ. الإسراء ٦٧

Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling.

فَ: حرف عطف
لَمَّا : اسم ظرفي بمعنى حين متضمّن معنى الشرط مبني على السكون في محل النصب على