Kaidah Badal (البدل) Lengkap dengan contoh ‘Irab

Must Read

Macam-Macam Maa (ما), fungsi dan ‘Irabnya

Ada berapa banyak jumlah Maa (ما) dalam bahasa arab dan bagaimana cara penggunaanya dalam kalimat ?. Kira-kira seperti itu...

Mengenal Uslub Qasam (أُسْلُوْبُ القَسَمِ)

Materi uslub qasam (sumpah) yang akan kita bahas meliputi pengertian uslub qasam secara bahasa, istilah, rukun, jumlah (kalimat) qasam,...

Bahasa Arab Mudah atau Sulit?

Bahasa Arab Mudah atau Sulit?  Perkembangan bahasa arab sudah berlangsung lama, bahkan jauh sebelum masehi. Abbas al-Aqqad seperti dikutip...
TMBAhttps://bahasa-arab.com/
Belajar Bahasa Arab tidak semudah membalikan telapak tangan, butuh keseriusan dan istiqomah. Namun tidak ada kata terlambat jika kita ingin ingin mempelajarinya.

4.9
(684)

Setelah kita selesai membahas materi Na’at, Taukid dan ‘Athaf. Pada kesempatan kali ini kita akan mempelajari Tawaabi’ yang ke empat (terakhir) yaitu Badal

مَا هُوَ البَدَلُ، وَمَا أنْوَاعُهُ، وَمَا أحْكَامُهُ ؟

Apa yang di maksud dengan Badal, jenis dan hukumnya ?

Mafhum Badal (مفهوم البدل)

Pada materi badal terdapat dua istilah yaitu Badal (بدل) sebagai pengganti/pengikut dan Mubdal Minhu (مُبْدَلٌ مِنْهُ) sebagai yang diganti/diikuti

Perhatikan contoh berikut:

جَاءَ النَّاجِحُ إِلى بَيْتِي

Seorang yang sukses telah datang ke rumahku

رَأَيْتُ التَّاجِرَ

Aku melihat seorang pedagang

Ketika seseorang mendengar dua kalimat di atas, pasti merasa ada sesuatu yang belum sempurna sebab tidak jelas siapa yang dimaksud dengan “seorang yang sukses” dan “seorang pedagang“. Disini Badal berperan untuk memperjelasnya. Misalkan kita tambahkan lafadz خَالد dan زَيْد (sebagai Badal), maka semuanya terlihat jelas bahwa yang dimaksud orang sukses dan pedagang tersebut adalah Kholid dan Zaid.

جَاءَ النَّاجِحُ إِلى بَيْتِي خَالِدٌ

Seorang yang sukses yaitu (Kholid) telah datang ke rumahku

النَّاجِحُ : مبدل منه / متبوع + فاعل
خَالِدٌ : بدل / تابع

رَأَيْتُ التَّاجِرَ زَيْدًا

Aku melihat seorang pedagang yaitu (Zaid)

التَّاجِرَ : مبدل منه / متبوع + مفعول به
زَيْدًا : بدل / تابع

Definisi Badal (تعريف البدل)

هو اللفظ التابع المقصود وحده بالحكم نسب إلى تابعه من غير أن تتوسط بينهما في الأغلب واسطة لفظية

قال ابن مالك
التَّابعُ المَقْصُودُ بالْحُكْمِ بلا # وَاسِطَةٍ هُوَ المُسَمَّى بَدَلا

Badal adalah lafadz yang mengikuti lafadz Mubdal Minhu yang berperan sebagai objek atau target yang dimaksud dari Mubdal Mihu.

Pada umumnya antara badal dan mubdal minhu tidak terdapat perantara. Maksud perantara di sini yaitu sesuatu yang menghubungkan antara Badal dan Mubdal Mihu. Hubungan keduanya tidak seperti yang terjadi pada ‘Athaf Nasaq yang diperantarai dengan Huruf ‘Athaf.

Ini dilihat dari keumuman. Adapun apabila posisi Mubdal Minhu berada pada tempat Majrur dengan Huruf Jar, maka badal boleh diperantarai dengan cara mengulangi huruf Jar tersebut.

Contoh:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ

رَبَّنَا أَنْزِلْ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِنَ السَّمَاءِ تَكُونُ لَنَا عِيدًا لِأَوَّلِنَا وَآخِرِنَا

Dhamir لَكُمْ dan عَلَيْنَا pada kedua Ayat AlQuran di atas adalah Mubdal Minhu yang menempati posisi Majrur dengan Huruf Jar. Lalu kedua lafadz لِمَنْ dan لِأَوَّلِنَا sebagai badal. Keduanya sama-sama didahului huruf Jar seperti pada mubdal minhu.

Contoh Badal;

كَانَ رَئِيْسُ اِتِّحَادِ الطَّلَبَةِ خَالِدٌ صَادِقًا وَ عَادِلاً

Ketua senat mahasiswa (kholid) dia jujur dan adil.

Lafadz رَئِيْسُ adalah mubdal minhu dan lafadz Kholid sebagai Badal

Contoh ‘Irab:

كَانَ : فعل ناقص / ناسخ
رَئِيْسُ : اسم كان + مبدل منه + مضاف
اِتِّحَادِ : مضاف إليه
الطَّلَبَةِ : مضاف إليه
خَالِدٌ : بدل
صَادِقًا : خبر كان + معطوف عليه
وَ : حرف عطف
عَادِلاً : معطوف

Fungsi Badal

¤ Memperjelas dan memperkuat makna Mubdal Minhu

¤ Membatasi kemungkinan lahirnya multi tafsir dari yang dimaksud dengan Mubdal Minhu

Pada umumnya, ketika fungsi dari pada Badal ini adalah untuk memperkuat, maka kedua lafadz badal dan Mubdal Minhu harus dari lafadz berbeda. Meskipun ada juga dari lafadz yang sama, namun sedikit. Seperti pada Surah Al-Fatihah.

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ. سورة الفاتحة ٦-٧

Terjemah: Tunjukilah kami jalan yang lurus (6). Yaitu Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Lafadz الصِّرَاطَ pertama adalah Mubdal Minhu dan الصِّرَاطَ kedua adalah Badal Muthabiiq

Adapun apabila keluar dari fungsi di atas (tidak berfaidah memperjelas), maka sama sekali tidak dikatakan badal melainkan sebagai Taukid Lafdzi Seperti

جَاءَ خَالدٌ خَالدٌ

Lihat Referensi:

عباس حسن، النحو الوافي، ج ٣, ص٦٦٤

Jenis/Pembagian Badal

قال ابن مالك
مُطَابِقَاً أَو بَعْضَاً أَو مَا يَشْتَمِل عَلَيْهِ يُلفَى أَو كَمَعْطُوفٍ بِبَل

1. Badal Muthabiiq (مُطَابِق)

وهو بَدَلُ الشيء مما هو مُطابقُ له

Badal Muthabiiq atau disebut juga Kul Min Kul ( كل مِنْ كل) adalah Badal yang memiliki tingkat kesamaan dan kesetaraan dengan Mubdal Minhu

Perhatikan contoh-contoh berikut:

الطَّبِيْبُ خَالدٌ يُعَامِلُ المَرضَى مُعَامَلَةً حَسَنَةً

Seorang dokter yaitu (Kholid) memperlakukan Fasien dengan baik.

الطَّبِيْبُ : مبدل منه + مبتدأ مرفوع
خَالدٌ : بدل مطابق مرفوع


اِحْتَرَمَ زَيْدٌ أُسْتَاذَهُ خَالِدًا

Zaid menghormati gurunya yaitu (Kholid)

أُسْتَاذَ : مبدل منه + مفعول به منصوب
خَالِدًا : بدل مطابق منصوب

_________

أَنَا سَأَزُوْرُ إِلَى جَاكَرْتَا مَعَ الصَّدِيْقِ خَالِدٍ

Aku akan berkunjung ke Jakarta bersama seorang kawan yaitu (Kholid)

الصَّدِيْقِ : مبدل منه + مجرور
خَالِدًا : بدل مطابق مجرور

2. Badal Ba’du Min Kul ( بعض من كل )

وهو الذي يكون فيه البدل جزءاً حقيقياً من المبدل منه وهو بدل الجزء من الشيء كله

Badal ba’du minkul adalah badal yang merupakan bagian pokok dari stuktur yang dimiliki oleh Mubdal Minhu, baik bagian ini hanya separuh kecil, besar atau bahkan sama rata.

Perhatikan contoh-contoh berikut:

تَصَدَّقْتُ المالَ نِصْفَهُ

Aku bersedekah harta 1/2 nya. Setengah adalah bagian dari pada harta

المالَ : مبدل منه + مفعول به منصوب
نِصْفَ : بدل بعض من كل، منصوب + مضاف
الهاء : مضاف إليه


فَحَصَ الطَّبِيْبُ المَرِيْضَ أَسْنَانَهُ

Seorang dokter memeriksa fasien yaitu (giginya). Gigi adalah bagian pokok dari apa yang ada pada tubuh yang dimiliki fasien.

المَرِيْضَ : مبدل منه + مفعول به منصوب
أَسْنَانَ : بدل بعض من كل، منصوب + مضاف
الهاء : مضاف إليه


تسَلَّمَ خَالدٌ على أَهْلِ القَرْيَةِ زَعِيْمِهِمْ

Kholid bersalaman kepada penduduk kampung yaitu (pemimpin mereka). Pemimpi adalah bagian dari pada penduduk kampung

أَهْلِ : مبدل منه,مجرور + مضاف
القَرْيَةِ : مضاف إليه مجرور
زَعِيْمِ : بدل بعض من كل، مجرور + مضاف
هِمْ : بدل بعض من كل، منصوب + مضاف إليه

_______

أُعْجِبْتُ بِالسَّيَّارَةِ لَوْنِهَا

Aku kagum dengan mobil ini yaitu kagum dengan (warnanya). Warna adalah bagian dari apa yang dimiliki oleh mobil.

السَّيَّارَةِ : مبدل منه,مجرور
لَوْنِ : بدل بعض من كل، مجرور + مضاف
الهاء : مضاف إليه

________

Pada umumnya, pada badal ba’du minkul harus terdapat dhamir pengikat yang sesuai dengan Mubdal Minhu dari segi Mudzakar, Muannats dan jumlah bilanganya seperti pada ketiga contoh di atas.

Namun boleh juga tidak menyertakan dhamir, apabila dianggap aman dari kesalahfahaman dan apabila memenuhi salah satu ketiga syarat berikut:

  • Apabila Badal Ba’du Minkul Ma’rifat dengan Alif Lam

Contoh;

إِذَا رَأَيْتَ وَالِدَكَ، قَبِّلْهُ اليَدَ

Apabila kau melihat Ayahmu, kau cium-lah tanganya.

Perhatikan Lafadz اليَدَ (Badal Ba’di Min Kul) namum tidak terdapat dhamir pengikut dengan Mubdal Minhu sebab sudah diganti dengan Alif Lam yang maknanya kembali kepada Ayah. Artinya, tangan adalah bagian dari yang dimiliki oleh Ayah. Ketiga susunan dibawah adalah benar.

إِذَا رَأَيْتَ وَالِدَكَ، قَبِّلْهُ اليَدَ ✔️
إِذَا رَأَيْتَ وَالِدَكَ، قَبِّلْهُ يَدَهُ ⁦✔️⁩
إِذَا رَأَيْتَ وَالِدَكَ، قَبِّلْهُ اليَدَ مِنْهُ ⁦✔️

  • Apabila Badal Ba’du Min kul menjadi Badal dari Mubdal Minhu yang berada pada posisi Mustastna Minhu pada susunan Ististna Taam Manfi. Alasan tidak mesti memakai dhamir pengikat sebab Mustastna sudah merupakan bagian dari pada Mustasna Minhu.

Contoh;

مَا قَامَ الطُّلاَبُ إِلاَّ وَاحِدٌ ✔️
مَا قَامَ الطُّلاَبُ إِلاَّ وَاحِدًا ⁦✔️

Jadi dalam hal kedudunya ‘Irabnya boleh dua. Dijadikan Badal dan mengikuti ‘Irab Mundal Minhu atau dijadikan Mustastna yang dikecualikan dengan Illa إلا

Baca materi : Uslub Ististna

  • Apabila setelah Badal Ba’du Min kul terdapat lafadz (kata) yang masih merupakan bagian dari pada Mubdal Minhu

Contoh:

الكَلِمَةُ ثَلاَثَةُ أَقْسَامٍ اسْمٌ وَ فِعْلٌ وَ حَرْفٌ

Kalimat memiliki 3 bagian Isim, Fi’il dan Huruf.

Lafadz اسْمٌ adalah Badal Ba’du Min Kul (bagian) dari lafadz ثَلاَثَةُ dimana setelahnya terdapat lafadz فِعْلٌ dan حَرْفٌ yang keduanya masih merupakan bagian dari pada Lafadz ثَلاَثَةُ. Jadi dalam kasus seperti ini tidak mesti ada dhamir pengikat.

Lihat Referensi:

عباس حسن، النحو الوافي، ج٣, ص ٦٦٨

3. Badal Isytimal ( بدل الاشتمال )

وهو بدل الشيء مما يتضمنه ويشتمل عليه، شريطة ألا يكون جزءاً حقيقيا من أجزاء المُبدل منه

Badal Isytimal adalah badal yang bukan merupakan bagian pokok dari stuktur yang dimiliki Mubdal Minhu. (kebalikan dari Badal Ba’du Min Kul)

Contoh:

أَعْجَبَنِي خَالِدٌ شَجَاعَتُهُ

Kholid membuatku kagum (keberanianya).

Berani adalah sesuatu yang bukan pokok pada tubuh Kholid sebagaimana kepala, tangan dan mata. Namun sifat tambahan yang dimiliki Kholid.

خَالِدٌ : مبدل منه + فاعل مرفوع
شَجَاعَتُهُ : بدل الاشتمال مرفوع + مضاف و الهاء : مضاف إليه

________

أَعْجَبتْنِي الوَرْدَةُ رَائِحَتُهُا

Bunga ini membuatku kagum (aromanya).

Aroma bukan merupakan pokok yang dimiliki setiap bunga seperti halnya warna, sebab banyak juga bunga yang tidak beraroma namun tetap memiliki warna.

الوَرْدَةُ : مبدل منه + فاعل مرفوع
رَائِحَتُهُا : بدل الاشتمال مرفوع + مضاف و الهاء : مضاف إليه


Terkait dhamir pengikat yang nempel pada Badal isytimal, ketentuanya sama seperti Ba’du Min Kul yaitu boleh diganti dengan Alif Lam

Contoh:

قُتِلَ أَصْحَابُ الْأُخْدُودِ (٤) النَّارِ ذَاتِ الْوَقُودِ(٥). سورة البروج

Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit. Yaitu parit yang didalamnya berapi dengan kayu bakar.

Lafadz النَّارِ adalah badal Isytimal makrifat dengan Alif Lam sebagai ganti dari pada dhamir Pengikat.

تقدير : نار فيه ذات الوقود

4. Badal Mubaayanah (مباينة)

وهو إبدال الشيء مما يغايره (يخالفه) بحيث لا يكون مطابقاً له في المعنى

Badal Mubaayanah atau disebut juga Mughaayarah adalah badal yang memiliki fungsi meralat Mubdal minhu dengan alasan kesalahan, lupa atau memalingkan. Biasanya ini terjadi dalam ucapan (bukan tulisan)

Badal seperti ini dikelompokan menjadi tiga kategori

a. Badal Gholat (بدل الغلط)

يُذكرُ المبدلُ منه خطأً، ويأتي البدلُ ليُصَوّبَ الخطأَ

Badal Gholat adalah badal yang berfungsi meralat kesalahan Mubdal Minhu

Contoh:

زُرْتُ اليَوْمَ إِلَى بَيْتِ خَالِدٍ – زُرْتُ اليَوْمَ إِلَى بَيْتِ زَيْدٍ

Hari ini aku berkunjung ke rumah kholid. Diralat dengan berkunjung ke rumah zaid. Hal ini semata-mata disebabkan kesalahan menyebut dan tidak bermaksud seperti itu.

بَيْتِ خَالِدٍ : مبدل منه مجرور بحرف الجر + مضاف و مضاف إليه
بَيْتِ زَيْدٍ : بدل الغلط مجرور بحرف الجر

b. Badal Nisyan (بدل النسيان)

يذكر فيه المبدل منه قصدا ويتبين للمتكلم فساد قصده

Badal Nisyan adalah badal yang berfungsi meralat maksud dari Mubdal Minhu disebabkan lupa

Contoh:

صَلَيْتُ أَمْسِ العَصْرَ فِي المَدْرَسَةِ – صَلَيْتُ أَمْسِ المغْرِبَ فِي المَدْرَسَةِ

Kemarin aku sholat Ashr di sekolah – diralat dengan sholat Maghrib. Kata Ashr pada awalnya adalah yang dimaksud, namun sebab lupa waktu pastinya, kemudian diralat dengan Maghrib.

العَصْرَ : مبدل منه + مفعول به منصوب
المغْرِبَ : بدل النسيان منصوب

c. Badal Idhrab (بدل الإضراب)

وهو الذي يذكر فيه المبدل منه قصدا. ولكن ينصرف عنه ويتركه

Badal Idhrab adalah badal yang berfungsi memalingkan maksud dari Mubdal Minhu.

Contoh:

اِذْهَبْ إِلَى المَدْرَسَةِ رَاكِبًا الدَّرَّاجَةَ – اِذْهَبْ إِلَى المَدْرَسَةِ رَاكِبًا السَّيَّارَةَ

Pergilah ke sekolah naik sepeda. Diralat dengan naik mobil. Memalingkan dari naik sepeda lalu diganti dengan naik mobil, secara tersirat mengandung larangan menaik sepeda meskupun tidak terdapat Nahyi secara dzahir.

الدَّرَّاجَةَ : مبدل منه + مفعول به منصوب
السَّيَّارَةَ : بدل الإضراب منصوب


Catatan:

¤ Pada ketiga Badal ini (Gholat, Nisyan dan Idhrab) tidak disyaratkan terdapat Dhamir Pengikat antara Badal dan Mubdal Minhu)

¤ Untuk membedakan Badal Ghalat dan Idhrab cukup mudah. Apabila Mubdal Minhu disebut dengan tanpa maksud (alasanya samata-mata karena kesalahan), maka dia Badal Ghalat. Namun apabila disebut dengan sengaja dimaksud (bukan kesalahan) lalu dipalingkan, maka dia Badal Idhrab.

قال ابن مالك
وَذَا لِلاضْرَابِ اعْزُ إِنْ قَصْدَاً صَحِبْ وَدُونَ قَصْدٍ غَلَطٌ بِهِ سُلِبْ

_______

Sebagian Ulama ada yang menambahkan selain ke 4 badal di atas yang disebut dengan Badal Kul Min Ba’di (بدل الكل من البعض) yaitu Pengganti keseluruhan dari sebagian.

Contoh:

فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلا يُظْلَمُونَ شَيْئًا(٦٠) جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدَ الرَّحْمَنُ عِبَادَهُ بِالْغَيْبِ (٦١). سورة مريم

Lafadz الْجَنَّةَ adalah Mubdal Minhu dan Lafadz جَنَّاتِ adalah Badal Kul Min Ba’di.

Lihat Referensi:

عباس حسن،النحو الوافي، ج٣، ص ٦٧٤

Ketentuan dan Hukum Badal

1. Dari segi harakat ‘irab

Kita ketahui bahwa Badal merupakan bagian dari pada Tawaabi’ yang keadaan ‘irabnya mesti sesuai dengan Matbu’nya. Badal dan Mubdal Minhu harus sesuai dari segi Harakat ‘Irab Rafa’, Nashab dan Jar.

Contoh:

جَاءَ النَّاجِحُ خَالِدٌ
رَأيْتَ النَّاجِحَ خَالِدًا
مَرَرْتُ بِالنَّاجِحِ خَالِدٍ

2. Dari segi Nakirah dan Makrifat

Pada Badal dan Mubdal Minhu tidak disyaratkan keduanya mesti Makrifat atau Nakirah.

Contoh keduanya Makrifat:

الر كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ (١) اللَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ(٢) سورة إبراهيم

Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji (1)

Yaitu Allah-lah yang memiliki segala apa yang di langit dan di bumi. Dan kecelakaanlah bagi orang-orang kafir karena siksaan yang sangat pedih (2).

Lafadz Jalalah اللَّهِ adalah Badal Makrifat dari Mubdal Minhu Lafadz الْعَزِيزِ yang keduanya sama Makrifat dengan Alif Lam.

Contoh keduanya Nakirah:

إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ مَفَازًا (٣٢) حَدَائِقَ وَأَعْنَابًا (٣٣). سورة النباء

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan(1). Yaitu kebun-kebun dan buah anggur.

Lafadz حَدَائِقَ adalah Badal Nakirah dari Mubdal Minhu Lafadz مَفَازًا yang keduanya sama Nakirah. Satu berta win dan satu tidak (حَدَائِقَ) sebab termasuk Syigat Muntahal Jumu’

Contoh Badal Makrifat dan Mubdal Minhu Nakirah:

وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (٥٢) صِرَاطِ اللَّهِ ٱلَّذِى لَهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ (٥٣) سورة الشورى ٥٢

Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus (52). Yaitu jalan Allah yang milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi (53).

Lafadz صِرَاطٍ pertama adalah Mubdal Minhu Nakirah dan صراط kedua adalah Badal Makrifat dengan Idhafat kepada lafadz اللَّهِ

Contoh Badal Nakirah dan Mundal Minhu Makrifat:

لَّا لَئِن لَّمْ يَنتَهِ لَنَسْفَعًۢا بِٱلنَّاصِيَةِ (١٥) نَاصِيَةٍۢ كَٰذِبَةٍ خَاطِئَةٍۢ (١٦). سورة العلق

Sekali-kali tidak! Sungguh, jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (ke dalam neraka) (15). Yaitu ubun-ubun orang yang mendustakan dan durhaka.

Lafadz بِٱلنَّاصِيَةِ adalah Mubdal Minhu Makrifat dengan Alif Lam, dan Lafadz نَاصِيَةٍۢ adalah Badal Nakirah.


Catatan: Menurut para Ulama: ” Yang dimaksud dengan Nakirah di sini adalah Nakirah Mukhtasah.

||| Lihat penjelasan Nakirah Mukhtashah pada pasal Nakirah & Makrifat

3. Dari segi Mudzakar dan Muannats

Untuk Badal Muthaabiq (Kul Min Kul) mesti ada kesesuaian dengan Mubdal Minhu dari segi Mudzakar dan Muannats. Sedangkan untuk Badal lainya tidak mesti sesuai.

Contoh:

رَأيتُ الجَمِيْلَ خَالِدًا
رَأيتُ الجَمِيْلَةَ فَاطِمَةً

4. Dari segi Mufrad, Mutsana dan Jamak

Untuk Badal Muthaabiq (Kul Min Kul) mesti ada kesesuaian dengan Mubdal Minhu dalam semua bentuk. Sdangkan untuk Badal lainya tidak mesti. Itupun apabila pada Badal Muthaabiq memugkinkan dibuat dalam bentuk Tastniyah dan Jamak. Namun apabila tidak, maka boleh berbeda seperti contoh dalam AlQuran.

إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ مَفَازًا (٣٢) حَدَائِقَ وَأَعْنَابًا (٣٣). سورة النباء

Lafadz مَفَازًا Mashdar Mimi sedangkan حَدَائِقَ Jamak Taksir.

Perluasan Masalah Badal

(1). Mubdal Minhu boleh dibuang apabila berada dalam posisi Shilah Maushul.

Contoh:

تَصَدَّقْ إِلَى الَّذِي عَرَفْتَ المُحْتَاجَ

Bersedekahlah kepada orang yang kau tahu dia itu membutuhkan.

Pada kalimat di atas, sah secara kaidah nahwu apabila menjadikan lafadz المُحْتَاجَ sebagai Badal dari Mubdal Minhu yang dibuang dengan memperkirakan fhamir Ha (الهاء) pada عَرَفْتَ . Perkiraan:

عَرَفْتَهُ

Ataupun menjadikan ‘irab lafadz المُحْتَاجَ sebagai Maf’ul Bih langsung tanpa memperkirakan Mubdal Minhu.

(2). Apabila Mubdal Minhunya Jamak ( mengandung arti banyak individu di dalamnya), maka untuk Isim setelahnya boleh mengikuti ‘irab Mundal Minhu dan dijadikan Badal atau tidak mengikuti dan ‘Irabnya Maqtu’ (terputus).

Contoh mengikuti dalam keadaan Jar:

مَرَرْتُ بِطُلاَبٍ خَالِدٍ زَيْدٍ مُحَمَّدٍ✔️

Contoh terputus menjadi Rafa dan Nashab:

مَرَرْتُ بِطُلاَبٍ خَالِدًا زَيْدًا مُحَمَّدًا✔️⁩
مَرَرْتُ بِطُلاَبٍ خَالِدٌ زَيْدٌ مُحَمَّدٌ✔️

Ketiganya adalah benar sesuai kaidah Nahwu. Pelajari terkait apa itu Maqtu’ sudah dibahas dalam pasal Na’at dan Man’ut

Lihat Referensi:

عباس حسن، النحو الوافي، ج٣، ص ٦٧٧

(3). Badal boleh berupa Isim Dzahir dari Mubdal minhu Isim Dzahir atau Dhamir. Ini terjadi dalam semua kategori Badal

  • Badal berupa Isim Dzahir dan Mubdal Minhu Isim Dzahir. Untuk contohnya seperti pada pembahasan di atas.
  • Badal berupa Isim Dzahir dan Mubdal Minhu berupa Isim Dhamir baik Ghaib maupun Mutakallim atau Mukhatab.

Contoh untuk Badal Kul Min Kul:

وَقَفْتُ أَمَامَ الدَّارِ أَنْتَظِرُ القَادِمِيْنَ فَلَمَّا جَاءُوا الأَصْدِقَاءُ صَافَحْتُهُمْ بِابْتِهَاجٍ

Aku berdiri di depan rumah menunggu yang akan datang. Tatkala mereka tiba, yaitu (kawan-kawan) aku menyalami mereka dengan senang.

Lafadz الأَصْدِقَاءُ adalah Badal Muthaabiq (Kul Min Kul) dari Isim Dhamir Ghaib (Wawu Jamak) sebagai Fa’il yang ada pada Fi’il جَاءُوا

Contoh untuk Badal Ba’du Min Kul:

وَقَفْتُ أَمَامَ الدَّارِ أَنْتَظِرُ خَمْسَةَ الأَصْدِقَاءِ فَجَاءُوا أَرْبَعَةَ مِنْهُمْ

Aku berdiri di depan rumah menunggu 5 orang kawan, mereka datang hanya 5 orang.

Lafadz أَرْبَعَةَ adalah Badal Ba’du Min Kul dari dari Isim Dhamir Ghaib (Wawu Jamak) sebagai Fa’il yang ada pada Fi’il جَاءُوا

Contoh untuk Badal Isytimal:

وَقَفْتُ أَمَامَ الدَّارِ أَنْتَظِرُ الأَصْدِقَاءَ فَجَاءُوا حَقَائِبُهُمْ

Aku berdiri di depan rumah menunggu kawan-kawan. Mereka datang (kopernya).

Lafadz حَقَائِبُهُمْ adalah Badal Isytimal dari dari Isim Dhamir Ghaib (Wawu Jamak) sebagai Fa’il yang ada pada Fi’il جَاءُوا


Contoh untuk Badal Isim Dzahir dan Mubdal Minhu Isim Dhamir Mutakallim (Badal Ba’du Min Kul)

عَالَجَنِي الطَّبِيْبُ أُذُنِي

Seorang dokter mengobatiku yaitu (telingaku)

Lafadz أُذُنِي adalah Badal Badal Ba’du Min Kul dari Dhamir Iya (الياء) Mutakkalim

Untuk contoh Dhamir-dhamir lainya sesuai dengan masing-masing badal silahkan buat sendiri.

(4). Isim Dhamir tidak menjadi Badal dari Mubdal minhu Isim Dhamir. Jikalaupun ditemukan susunan seperti itu maka masuknya Taukid Lafdzi

Contoh:

قُمْتُ أَنْتَ
رَأَيْتُكَ أَنْتَ
مَرَرْتُ بَكَ أَنْتَ

(5). Isim Dhamir tidak menjadi Badal dari Mundal minhu Isim Dzahir. Ini termasuk susunan rusak menurut Ulama Nahwu

Contoh;

رَأَيْتُ خَالِدًا إِيَّاهُ

(6). Terkadang Mubdal Minhu terdiri dari bentuk Istifham atau Syarat, maka dalam keadaan seperti ini، Badal wajib disertai Hamzah Istifham dan huruf In (إن) Syarat yang berfaidah untuk Tafshil (Merinci)

قال ابن مالك
وَبَدَلُ المُضَمَّنِ الهَمْزَ يَلِي، هَمْزَاً كَمَنْ ذَا أَسَعِيْدٌ أَمْ عَلِي

Contoh Mubdal Minhu Isim Istifham:

كَمْ سَيَارَاتُكَ ؟ أَ خَمْسَةٌ أَمْ سَبْعَةٌ

Berapa mobil-mobilmu ? Apakah tiga atau empat

Perhatikan ‘Irabnya:

كم : اسم استفهام في محل رفع خبر مقدم
سَيَارَاتُكَ : مبتدأ مرفوع مؤخر وهو مضاف والكاف مضاف إليه في محل جر
أ : الهمزة للاستفهام
خَمْسَةٌ : بدل مرفوع من كم استفهام
أم : حرف عطف
سَبْعَةٌ : اسم معطوف على مرفوع


Contoh Mubdal Minhu Isim Syarat:

مَا تَقْرَأْ إِنْ جَيِّدًا وَإِِنْ قَبِيْحًا، تَتَأَثَرْ بِهِ نَفْسُكُ

Apa yang kau baca apabila itu baik dan jelek, maka dirimu akan terpengaruh

Perhatikan ‘Irabnya;

ما : اسم شرط مبني على السكون في محل نصب مفعول به
تَقْرَأُ : فعل شرط مجزوم علامته السكون
إنْ : حرف شرط مبني على السكون تفيد لتفصيل
جَيِّدًا : بدل منصوب من “مبدل منه” اسم الشرط “ما
وَإِِنْ قَبِيْحًا : معطوف
تَتَأَثَرْ : جواب الشرط مجزوم علامته السكون

Contoh lain:

مَتَى تَزُرْنِي، إِنْ غَدًا وَ إِنْ بَعْدَ غَدٍ أَسْعَدْ بِلِقَائِكَ

Kapan kau akan mengunjungiku, apabila besok dan lusa, maka aku senang bertemu denganmu.

Perhatikan ‘Irabnya:

متى: اسم شرط جازم مبني على السكون في محل النصب على الظرفية الزمانية
تَزُرْنِي : فعل شرط مجزوم علامته السكون, وضمير ياء المتكلم في محل النصب مفعول به
إنْ : حرف شرط مبني على السكون تفيد لتفصيل
غَدًا : بدل منصوب من مبدل منه اسم استفهام “متى”
وَ إِنْ بَعْدَ غَدٍ : معطوف
أَسْعَدْ : فعل جواب شرط مجزوم علامته السكون
بِلِقَائِكَ : جار و مجرور

(7). Badal Fi’il dari Mubdal Minhu Fi’il

قال ابن مالك
وَيُبْدَلُ الفِعْلُ مِنَ الفِعْلِ، كَمَنْ يَصِل إِلَيْنَا يَسْتَعِنْ بِنَا يُعَنْ

Badal tidak hanya berlaku pada Isim namun juga pada Fi’il baik Mufrad maupun Jumlah

a. Badal Mufrad pada fi’il

¤ Contoh pada Badal Kul Min Kul

Contoh:

وَالَّذِينَ لا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلا بِالْحَقِّ وَلا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا (٦٨) يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا (٦٩)

Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan lain dan tidak membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina; dan barang siapa melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat hukuman yang berat (68). Yakni akan dilipatgandakan azab untuknya pada Hari Kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina (69).

Fi’il يُضَاعَفْ adalah Badal Kul Min Kul dari Mubdal Minhu Fi’il يَلْقَ

Badal ini menjelaskan maksud dari pada Mubdal Minhunya. Artinya, hukuman yang berat bagi orang yang membunuh dan berzina itu seperti apa ? Yaitu hukuman berupa azab yang dilipatgandakan pada hari kiamat, kekal dan terhina.

Perhatikan ‘Irabnya agar jelas:

مَنْ : اسم شرط جازم
يَفْعَلْ :  مضارع مجزوم لأنه فعل الشرط وفاعله مستتر
ذلِكَ : اسم الإشارة مفعول به
يَلْقَ : فعل مضارع مجزوم جواب الشرط وفاعله مستتر وهو مبدل منه
أَثاماً : مفعول به
يُضَاعَفْ : بدل كل من كل من مبدل منه فعل يَلْقَ

¤ Contoh pada Badal Ba’du Min Kul

إِنْ تُصَلِّ تَسْجُدْ لِلَّهِ يَرْحَمْكَ

Apabila kau sholat (bersujud kepada Allah), maka Allah akan merahmatimu.

Fi’il تَسْجُدْ adalah Badal Ba’du Min Kul dari Mubdal Minhu Fi’il تُصَلِّ Artinya sujud merupakan bagian pokok dari pada sholat.

‘Irab:

إِنْ : حرف شرط جازم
تُصَلِّ : مضارع مجزوم بحذف حرف العلة لأنه فعل الشرط وفاعله مستتر وهو مبدل منه
تَسْجُدْ : بدل بعض من كل من مبدل منه فعل تُصَلِّ
لِلَّهِ : جار و مجرور
يَرْحَمْكَ : مضارع مجزوم لأنه جواب الشرط وفاعله مستتر وضمير الكاف مفعول به

¤ Contoh pada Badal Isytimal

إِنِّي لَنْ أُسِيْئَ إِلَى الحَيَوَانِ الأَلِيْفِ، أُزْعِجَهُ

Aku tidak akan menyakiti hewan jinak (mengganggunya)

Fi’il أُزْعِجَهُ adalah Badal Isytimal dari Mubdal Minhu Fi’il أُسِيْئَ. Artinya, mengganggu merupakan bagian dari pada menyakiti

لَنْ أُسِيْئَ : فعل مضارع منصوب وهو مبدل منه
أُزْعِجَهُ : بدل الاشتمال منصوب، والهاء مفعول به

b. Badal Jumlah

¤ Contoh pada Badal Kul Min Kul

اِقْطَعْ رُزَ الحَقْلِ، اِحْصِدْهُ

Potonglah padi di sawah (panenlah)

Kalimat اِحْصِدْهُ Badal dari Kalimat اِقْطَعْ

¤ Contoh pada Badal Ba’du Min Kul

وَاتَّقُوا الَّذِي أَمَدَّكُمْ بِما تَعْلَمُونَ (١٣٢) أَمَدَّكُمْ بِأَنْعامٍ وَبَنِينَ(١٣٣). سورة الشعراء

Dan bertakwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu apa yang kamu ketahui (132). Dia telah menganugerahkan kepadamu binatang-binatang ternak, dan anak-anak (133).

Kalimat أَمَدَّكُمْ kedua adalah Badal dari kalimat أَمَدَّكُمْ pertama. Artinya, anugrah berupa binatang ternak dan anak-anak adalah bagian dari pada anugrah dan nikmat yang diberikan Allah S.W.T.

‘Irab:

أَمَدَّكُمْ : ماض ومفعوله والفاعل مستتر والجملة صلة موصول + جملة مبدل منه
أَمَدَّكُمْ : ماض ومفعوله والفاعل مستتر والجملة بدل من أمدكم الأولى

¤ Contoh pada Badal Isytimal

قول الشاعر : أَقُوْلُ لَهُ اِرْحَلْ، لاَ تُقِيْمِنَّ عِنْدَنَا

Aku katakan kepadanya: “pergilah (jangan tinggal) bersama kita)

Kalimat لاَ تُقِيْمِنَّ Badal dari kalimat اِرْحَلْ

¤ Contoh pada Badal Gholat (Mubaayanah)

اِجْلِسْ، قِفْ
كُلْ ، اِشْرَبْ

Duduklah – berdirilah
Makanlah – Minumlah

Lihat Referensi:

عباس حسن، النحو الوافي، ج٣, ص ٦٨٧


Demikian pembahasan materi Badal, atas segala kekurangan silahkan untuk merujuk referensi tertera dan membuka Kitab Tafsir dan ‘Irabnya. Wallahu’alam

Lihat juga:  ‘Irab dan Tafsir AlQuran

16-11-2019

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 4.9 / 5. Vote count: 684

No votes so far! Be the first to rate this post.

2 COMMENTS

Tinggalkan Komentar

Latest News

Macam-Macam Maa (ما), fungsi dan ‘Irabnya

Ada berapa banyak jumlah Maa (ما) dalam bahasa arab dan bagaimana cara penggunaanya dalam kalimat ?. Kira-kira seperti itu...

Mengenal Uslub Qasam (أُسْلُوْبُ القَسَمِ)

Materi uslub qasam (sumpah) yang akan kita bahas meliputi pengertian uslub qasam secara bahasa, istilah, rukun, jumlah (kalimat) qasam,...

Demi Allah Aku tidak akan membelimu

وَاللَّهِ لَنْ أَشْتَرِيَكَ Demi Allah aku tidak akan membelimu أَرَادَ جُحَا أَنْ يَشْتَرِىَ حِمَارًا فَذَهَبَ إِلٕى السُّوْقِ، وَتَوَقَّفَ عِنْدَ حَمَارٍ أَعْجَبَهُ وَقَالَ لَصَاحِبِهِ بَعْدَ جِدَالٍ عَلى...

Uslub Kiasan/Kinayah ( أسلوب الكناية)

Dalam Bahasa Arab terdapat banyak Uslub (Gaya Bahasa) diantaranya: - أسلوب النفي / أسلوب الاستفهام / أسلوب الشرط / أسلوب النداء / أسلوب الكناية /أسلوب...

Isim Ma’rifat & Nakirah (khusus dan umum)

بسم الله الرحمن الرحيم Pada kesempatan kali ini kita akan mengenal apa itu Isim Ma’rifat (Khusus) & Isim Nakiroh (Umum) Perhatikan contoh berikut: فِى الحَدِيْقَةُ رَجُلٌ /...

Tidak perlu mengingat namaku

لاَ حَاجَةَ إٕلَى ذِكْرِ اسْمِيْ Tidak perlu mengingat namaku إِنَّ كُلَّ رَجُلٍ مِنَّا عَفَا اللَّهُ عَنَّا وَ عَنِ الْمُسْلِمِيْنَ إِذَا أَتَي بِمأثّرَةٍ أَوْ قَامَ بِعَمَلٍ يَسْتَرْعِي...

More Articles Like This