Kaidah ‘Athaf (عطف النسق والبيان) Lengkap dengan ‘Irab

TMBA
4.8
(252)
Read Time35 Minutes, 50 Seconds

سم الله الرحمن الرحيم

Melanjutkan Pasal Tawaabi’ yang ketiga setelah Taukid (التوكيد) yaitu ‘Athaf (العطف)

إن شاء الله سندرس قواعد العطف و سنتعرف على أنواعه وكيفية إعرابه مع أمثلة واضحة من القرآن الكريم

I. Mafhum ‘Athaf

العطف اتباع اللفظ لأخر إما أن يتوسط بين التابع و متبوعه حرف عطف ويسمى عطف نسق وإما عدم حاجة فيه إلى حرف عطف ويسمى عطف بيان

‘Athaf yaitu menghubungkan suatu lafadz dengan lafadz lainya melalui perantara huruf ‘athaf yang disebut dengan istilah (Athaf Nasaq). Atau dengan tanpa perantara huruf ‘athaf yang disebut dengan istilah (‘Athaf Bayan).

Pembahasan Pertama: ‘Athaf Nasaq ( عطف نسق )

II. Definisi ‘Athaf Nasaq

هُوَ تَابِعٌ يَتَوَسَّطُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ مَتْبُوْعِهِ حَرْفٌ مِنْ حُرُوْفِ العَطفِ

” ‘Athaf Nasaq adalah Ta’bi yang mengikuti Matbu’ yang dihubungkan dengan Huruf ‘Athaf”

Dalam stuktur kalimat ‘Athaf Nasaq terdapat tiga istilah pokok yang disebut dengan (Huruf ‘Athaf), (Ma’tuf ‘Alaih) dan (Ma’tuf)

Ma’tuf ‘Alaih = Lafadz yang diikuti
Ma’tuf = Lafad yang mengikuti
Huruf ‘Athaf = Penghubung antara Ma’tuf ‘Alaih dan Ma’tuf

Contoh:

ذَهَبَ خَالدٌ وَ زَيْدٌ إِلَى المَدْرَسَةِ

Kholid dan Zaid pergi ke Sekolah

خَالدٌ : فاعل + معطوف عليه
وَ : حرف عطف
“زَيْدٌ : معطوف على “خَالد

قال ابن مالك
تَالٍ بحَرْفٍ مُتْبعٍ عَطْفُ النَّسَقْ # كَاخصُصْ بوُدٍّ وَثَنَاءٍ مَنْ صَدَقْ

Isim Tabi’ (yg mengikuti) dengan perantara Huruf ‘Athaf (antara Tabi’ dan Matbu’nya), seperti contoh

“اُخصُصْ بوُدٍّ وَثَنَاءٍ مَنْ صَدَقْ “

“Istimewakan dengan kasih sayang dan pujian terhadap orang-orang yg jujur”

Ma’tuf ‘Alaih dan Ma’tuf yang dihubungkan dengan Huruf ‘Athaf tidak hanya berlaku pada bentuk Mufrad (satuan) seperti contoh diatas, namun banyak terjadi juga dalam bentuk (jumlah) kalimat. Akan diperluas pada masing-masing fungsi Huruf ‘Athaf dibawah.

III. Jumlah Huruf ‘Athaf

Huruf yang digunakan sebagai penghubung antara Ma’tuf ‘Alaih dan Ma’tuf berjumlah 10 Huruf dan masing-masing memiliki spesifikasi khusus.

Huruf-huruf tersebut adalah:

الوَاو / الفَاء / ثُمَّ / أَوْ / أَمْ / إمَّا / لَكِنْ / لاَ / بَلْ / حَتَّى

1. Huruf Wawu ( الواو ) = dan

A. Kandungan makna

1). Mengandung arti bersama-sama dan berkumpul dalam satu waktu (مطلق الاشتراك والجمع). Berfungsi mengikat Ma’tuf ‘Alaih dan Ma’tuf keduanya berada dalam satu waktu yang sama.

قال ابن مالك
فاعْطِفْ بِوَاوٍ سَابِقَاً أَو لاَحِقَاً #  فِي الحُكْمِ أَو مُصَاحِبَاً مُوَافِقَاً

“Hubungkanlah (Ma’tuf) dan (Ma’tuf ‘Alaih)dengan memakai Wawu dalam hal hukum atau bersamaan dan kesesuaian”.

Contoh:

وَصَلَ خَالدٌ وَ زَيْدٌ

Kholid (dan/bersama) zaid telah sampai.

Kholid dan Zaid sampai pada waktu bersamaan. Artinya, waktu sampainya mereka berdua tidak saling berurutan atau saling mendahului.

2). Mengandung arti Tartibi (urutan). Hal Ini terjadi ketika ada indikasi yang menunjukan adanya jarak waktu dalam kalimat ‘Athaf dan Ma’thuf.

Contoh:

وَصَلَ القِطَارُ وَالسَّيَّارَةُ بَعْدَهُ

Kereta telah sampai (dan) mobil setelahnya

قال تعالى: وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا وَإِبْرَاهِيمَ

“Dan sungguh kami telah mengutus Nuh dan Ibrahim”

Masa diutusnya Nabi Nuh dan Ibrahim tentu terjadi di zaman berbeda dan dalam jangka waktu panjang.

3). Mengandung arti pilihan (تخيير). Hal ini terjadi ketika “Wawu ‘Athaf” terletak sebelum إِمَّا

Contoh:

اِذْهَبْ إلى المدرسةِ إِمَّا مَشْيًا وَإِمَّا رُكُوْبًا

Pergi kau ke sekolah, baik sambil berjalan (dan) atau berkendara.

4). Tidak mengandung arti sama sekali (tidak bersama-sama, tidak berurutan atau dan tidak juga saling mendahului)

Contoh:

حَضَرَتْ الطَّيَّارَةُ، وَ لَمْ تَحْضُرْ السَّيَّارَةُ

Pesawat telah datang dan mobil belum.

B. Syarat dan Ketentuan Wawu ‘Athaf:

قال ابن مالك

فاعْطِفْه بِواو سابقًا، أو لاَحِقًا # في الحُكْم، أَوْ مُصاحِبًا مُوافِقًَا # واخْصُصْ بِها عطف الَّذِي لا يُغْنِي # متْبُوعُه، كاصْطَفَّ هذَا وابْنِي

1). Wawu ‘Athaf boleh menghubungkan banyak Ma’tuf dan yang menjadi Ma’tuf ‘Alaih hanyalah Lafadz yang paling depan.

Contoh:

قَرَأْتُ الكِتَابَ، وَالرِّسَالَةَ، وَالمَجَلَّةَ, وَ المَقَالَةَ، وَالقِصَّةَ

Aku telah membaca buku dan surat dan majalah dan cerpen dan kisah

الكتاب : معطوف عليه
الرسالة : معطوف على الكتاب
المجلة : معطوف على الكتاب
المقالة : معطوف على الكتاب
القصة : معطوف على الكتاب

2). Wawu ‘Athaf boleh menghubungkan Ma’tuf dan Ma’tuf ‘Alaih yang keduanya berbentuk Mufrad atau Jumlah (kalimat), baik Ismiyyah atau Fi’liyyah dan Syibhul Jumlah.

Contoh Mufrad:

وَصَلَ خَالدٌ وَ زَيْدٌ

Kholid dan Zaid telah sampai

خَالدٌ : معطوف عليه مفرد
زَيْدٌ : معطوف مفرد

Contoh Jumlah Ismiyyah:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَ مَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ. سورة فصلت ٤٦

Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hamba-Nya.

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ : جملة اسمية معطوف عليها
الواو : حرف العطف
ومَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا : معطوف على ما قبلها

Contoh Jumlah Fi’liyyah:

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَ تَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَ تُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَ تُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ. العمران ٢٦

Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.

تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ : معطوف عليها
وَ : حرف العطف
تَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ : معطوف على ما قبلها
وَ : حرف العطف
تُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ : معطوف على ما قبلها
وَ : حرف العطف
تُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ : معطوف على ما قبلها

  • Contoh Syibhul Jumlah:

Jar Majrur

كَذَلِكَ يُوحِي إِلَيْكَ وَ إِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ اللَّهُ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ. الشورى ٣

Demikianlah Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, mewahyukan kepada kamu dan kepada orang-orang sebelum kamu.

إِلَيْكَ : معطوف عليه
و : حرف العطف
إِلَى الَّذِينَ : معطوف على “إِلَيْكَ”

Dzharaf

رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِينَ. الأعراف ٧٩

Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya.

بَيْنَنَا : معطوف عليه
الواو : حرف العطف
بَيْنَ قَوْمِنَا : معطوف على “بَيْنَنَا”

C. keistimewaan Wawu ‘Athaf (Pendapat Mayoritas)

1). Menjadi penghubung Ma’tuf dan Ma’tuf ‘Alaih pada ‘Amil (Fi’il) yang maknanya tidak sempurna apabila hanya memiliki satu Fa’il tanda di’Athafkan.

تَقَاتَلَ / تَعَاوَنَ / تَشَاركَ

Contoh:

…تَقَاتَلَ النَّمِرُ

Harimau saling membunuh

Maknanya kurang lengkap karna harimau belum ada lawan. Disini Wawu ‘Athaf berperan istimewa karna hanya dia yang bisa dijadikan ‘athaf.

تَقَاتَلَ النَّمِرُ وَ الفِيْلُ

Harimau dan gajah saling membunuh

2). Menjadi penghubung Ma’tuf yang ‘Amilnya dibuang

Contoh:

قَضَيْنَا فِي الحَدِيْقَةِ يَوْمًا سَعِيْدًا أَكَلْنَا أشهَى الطَعَامِ، وَأَطْيَبَ الفَاكِهَةِ، وَأَعْذَبَ المَاءِ

Kita menghabiskan hari bahagia di taman, kita makan makanan lezat (dan) buah enak (dan) air tawar.

‘Amil pada Ma’mul kalimat (وأطيب الفاكهةِ) sama dengan ‘Amil pada kalimat (أشهَى الطَعَامِ) yaitu Fi’il (أَكَلْنَا) hanya dibuang diperkirakan. Maka dari itu, Wawu ‘Athaf berperan istimewa dalam menghubungkan Ma’tuf dan Ma’tuf ‘Alaih ketika ‘Amilnya dibuang.

Kalimat lengkapnya seperti ini:

قَضَيْنَا فِي الحَدِيْقَةِ يَوْمًا سَعِيْدًا أَكَلْنَا أشهَى الطَعَامِ، وَأَطْيَبَ الفَاكِهَةِ، وَأَعْذَبَ المَاءِ

Pertanyaanya: ‘Athaf kalimat وأَعْذَبَ المَاءِ ke lafadz yang mana، apakah ‘Amilnya sama dengan kalimat sebelumnya ?

Jika melihat ketentuan diatas, bahwa Wawu ‘Athaf boleh menghubungkan banyak Ma’tuf dan yang menjadi Ma’tuf ‘Alaih hanyalah Lafadz yang paling depan. Maka seharusnya untuk Ma’tuf ‘Alaih kalimat (وَأَعْذَبَ المَاءِ) adalah kalimat ( أشهَى الطعامِ ) karena lafadz ini berada diurutan paling depan. Namun ini akan merusak makna sebab jika di’Athafkan kepada kalimat tersebut, otomatis untuk ‘Amilnya juga dengan lafadz yang sama yaitu (أكل). Ini tidak tepat sebab air bukan untuk dimakan melainkan diminum.

Mayoritas Ulama: ” ketika ‘Amil pada Ma’tuf ‘Alaih tidak sejalan dengan ‘Amil pada Ma’tuf, maka disana terdapat ‘Amil yang dibuang dengan memperkirakan makna yang sesuai. Untuk perkiraan contoh diatas yaitu

وَشَرَبْنَا أَعْذَبَ المَاءِ

3). Huruf ‘Athaf Wawu boleh dibuang sekiranya dianggap aman dari terjadinya keraguaan atau ketidak jelasan kalimat.

Contoh:

زُرْتُ أَقَارِبِي فِي جَاكَرْتَا، وَقَابَلْتُ مِنْهُمْ: العَمَّ، وَالعَمَّةَ، الخَالَ، الخَالَةَ، أَبْنَاءَهُمْ

Aku mengunjungi kerabat di Jakarta dan bertemu paman dan bibi, om, tante, anak-anak mereka.

Contoh lain:

قَرَأْتُ اليومَ: الصُّحُفَ اليَوْمِيَّةَ، المَجَلاَّتِ، الرَّسَائِلَ، الأَخْبَارَ

Hari ini aku membaca koran harian, majalah, surat, berita.

4). Menjadi penghubung Ma’tuf dan Ma’tuf ‘Alaih yang keduanya memiliki arti sama (sinonim) dengan maksud mempertegas.

Contoh:

قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ. يوسف ٨٦

Ya’qub menjawab: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan (dan) kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya”.

Lafadz بَثِّي dan حُزْنِي adalah dua kata yang sama arti meskipun ketika diterjemahkan kedalam bahasa indonesia sedikit berbeda.

5). Menjadi penghubung Ma’tuf Nakirah dan Ma’tuf ‘Alaih Makrifat.

Contoh:

رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَنْ دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. نوح ٢٨

Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan”.

Kalimat وَلِوَالِدَيَّ makrifat sebab idhafat kepada ي mutakkalim dan kalimat وَلِمَنْ دَخَلَ Nakirah.

6). Menjadi penghubung Ma’tuf dan Ma’tuf ‘Alaih yang keduanya berpola negatif (didahului nafyi)

Contoh:

شُجَاعُ النَّفْسِ لاَ يُحِبُّ الجُبَنَ، وَلاَ الكَذِبَ، وَلاَ الرِّيَاءَ

Jiwa pemberani tidak suka pengecut, bohong dan riya.

7). Huruf ‘Athaf Wawu boleh terpisah (antara dia dan Ma’tufnya) oleh Dzharaf atau Huruf Jar

Contoh:

أينعتْ حديقتان؛ حديقةٌ أمام البيت، وخلفَه حديقةٌ

وَجَعَلْنَا مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ سَدًّا وَمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا. سورة يس ٩

Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.

مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ سَدًّا : معطوف عليه
وَ : حرف العطف
مِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا : معطوف على جملة ما قبلها

8). Huruf ‘Athaf Wawu menjadi penghubung dalam kaidah hitungan

Contoh:

لِي سَبْعَةٌ وَثَلاَثُوْنَ كَتَابًا وَ خَمْسَةٌ وَأَرْبَعُوْنَ قَلَمًا

Aku memiliki 37 buku dan 45 pena

9). Huruf ‘Athaf Wawu boleh berdampingan dengan Huruf ‘Athaf لكن

Contoh:

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ. سورة الأحزاب ٤٠

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi

10). Huruf ‘Athaf Wawu boleh berdampingan dengan ‘Athaf إِمَّا

Contoh:

نَجَحَ إِمَّا خَالدٌ، وَإِمَّا زَيْدٌ

Telah lulus Kholid dan atau zaid

Siapa yang berhak di’irab sebagai Huruf ‘Athaf ketika keduanya bergandengan seperti pada contoh diatas ( ولكن dan و إما ) ? jawabanya ada di spesifikasi لكن dan إما dibawah.

11). Huruf ‘Athaf Wawu boleh menjadi pemisah antara Ma’tuf Dzharaf dan Ma’tuf ‘Alaih Dzharaf ( lafadz بين )

Contoh:

كَفَى بِالقَمَرِ شَاهِدًا بَيْنِي وَبَيْنَكَ

Cukuplah rembulan menjadi saksi antara aku dan kau.

12). Huruf ‘Athaf Wawu menjadi penghubung Ma’tuf yang menunjukan waktu lampau dan Ma’tuf ‘Alaih menunjukan waktu sekarang

Contoh:

كَذَلِكَ يُوحِي إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ اللَّهُ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ. الشورى ٣

Demikianlah Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, mewahyukan kepada kamu dan kepada orang-orang sebelum kamu

يُوحِي إِلَيْكَ : معطوف عليه يدل على وقت الحال
وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ : معطوف يدل على وقت الماضى

13). Huruf ‘Athaf Wawu tidak menjadi penghubung Ma’tuf dan Ma’tuf ‘Alaih jika keduanya berbeda pola (1 positif dan 1 negatif). Yang benar keduanya harus sama positif atau negatif

Contoh:

لاَ الشَّمْسُ طَالِعَةٌ وَالقَمَرُ ❌
لاَ الشَّمْسُ طَالِعَةٌ وَلَا القَمَرُ ⁦✔️⁩
الشَّمْسُ طَالِعَةٌ وَ القَمَرُ ✔️

14). Huruf ‘Athaf Wawu menjadi penghubung dalam ushlub kinayah ‘Adad seperti

كَيْت وكيْت
ذَيْت وذيت

|||Lihat kaidah Kinayah ‘Adad

Lihat referensi:

عباس حسن, النحو الوافي، ج٣, ص ٥٥٥ – ٥٧٠
______

2. Huruf (الفاء) = lalu

A. Kandungan makna

Penghubung yang memiliki arti urutan (ترتيب على التوالي ) mengikat Ma’tuf ‘Alaih dan Ma’tuf berada dalam waktu berurutan secara singkat

قال ابن مالك
وَالفَاءُ لِلتَّرْتِيْبِ بِاتِّصَالِ # وَثُمَّ لِلتَّرْتِيْبِ بِانْفِصَالِ

Huruf ‘Athaf Fa (الفاء) untuk menunjukkan makna urutan secara langsung dan Tsuma (ثُمَّ) untuk makna urutan tidak langsung.

Contoh:

جَاءَ خَالدٌ فَزَيْدٌ

Kholid datang lalu zaid

وَصَلَتِ الحَافِلَةُ إِلى المَحَطّةِ فَخَرَجَ الرُكَّابُ

Setelah bus sampai terminal lalu para penumpang keluar.

Jarak waktu setelah bus sampai dengan para penumpang keluar prosesnya berurutan dan pada masa yang singkat tidak pakai lama

B. Syarat dan Ketentuan Fa ‘Athaf

1). Fa ‘Athaf boleh menghubungkan banyak Ma’tuf dan yang menjadi Ma’tuf ‘Alaih adalah Lafadz yang posisinya berada langsung sebelum Huruf ‘Athaf Fa’. Ini berlaku juga pada Huruf ‘Athaf ثُمَّ

Untuk perbandingan dengan Ma’tuf ‘alaih huruf wawu, perhatikan contoh berikut:

جَاءَ صَالِحٌ وَخَالدٌ وَ مَحْمُوْدٌ فَزَيْدٌ, ثُمَّ خَلِيْلٌ

Soleh telah datang (dan) kholid (dan) mahmud (lalu) farid (kemudian) kholil.

جَاءَ : فعل
صَالِحٌ : فاعل + معطوف عليه
وَ : حرف العطف
خَالدٌ : معطوف على ” صَالِح”
وَ : حرف العطف
“مَحْمُوْدٌ : معطوف على ” صَالِح
فَ : حرف العطف
“زَيْدٌ : معطوف على ” مَحْمُوْد
ثُمَّ : حرف العطف
“خَلِيْلٌ : معطوف على ” زَيْد

Kedua Ma’tuf Lafadz (خَالدٌ, مَحْمُوْدٌ) ‘atafnya ke Ma’tuf ‘Alaih lafadz (صَالِحٌ) dan Ma’tuf Lafadz زَيْدٌ ‘atafnya ke Ma’tuf ‘Alaih lafadz مَحْمُوْدٌ lalu Ma’tuf Lafadz خَلِيْلٌ ‘atafnya ke Ma’tuf ‘Alaih lafadz زَيْدٌ

2). Fa ‘Athaf boleh menghubungkan Ma’tuf dan Ma’tuf ‘Alaih yang keduanya berbentuk Mufrad atau Jumlah (kalimat), baik Ismiyyah atau Fi’liyyah dan Syibhul Jumlah. Seperti halnya yang berlaku pada Wawu ‘Athaf.

3). Fa ‘Athaf tidak boleh terpisah antara dia dan Ma’tufnya. Ini berbeda dengan Wawu ‘Athaf yang boleh terpisah oleh kata lain bahkan dengan huruf ‘athaf sendiri.

4). Fa ‘Athaf boleh dibuang sekiranya dianggap aman dari terjadinya keraguaan atau ketidak jelasan kalimat. Ini sama berlaku juga dalam Wawu ‘Athaf.

Contoh:

أَنْفَقْتُ المَالَ مِائَةَ ألفِ روبيةٍ، مِائَتَى ألفِ روبيةٍ، ثَلاَثَمِائَةِ أَلْف روبيةٍ

Aku menginfaqan harta Rp. 100 ribu (Lalu) Rp. 200 ribu (lalu) Rpm 300 ribu

5). Fa ‘Athaf boleh dibuang bersamaan dengan Ma’tufnya

Contoh:

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ. البقرة ١٨٤

Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain

أصله : فأفطَرَ، فعدة من أيام أُخر

6). Fa ‘Athaf menjadi penghubung Ma’tuf yang ‘Amilnya dibuang. Ini sama berlaku pada Wawu ‘Athaf

أُرِيْدُكَ أَنْ تَكُوْنَ صَرِيْحًا لِي تَبْدَأُ مِنَ الآنَ فَصَاعِدًا

Aku ingin kau jujur kepada ku mulai sekarng dan (lalu) seterusnya

تَبْدَأُ مِنَ الآنَ : معطوف عليه
الفاء : حرف العطف
صاعدًا : حال منصوب تقديره ” فاستمر صاعدا
جملة ” فاستمر صاعدا ” معطوف على ” تَبْدَأُ مِنَ الآنَ

7). Fa ‘Athaf satu satunya huruf yang boleh masuk pada Fi’il bermakna Muthawa’ah (مطاوعة) “adalah Fi’il Lazim yang menunjukan pada peristiwa terjadinya perbuatan yang disebabkan oleh perbuatan Fi’il Muta’addi + Fa’il + Maf’ulnya”.

Contoh:

فَتَحْتُ البَابَ فَانْفَتَحَ

Aku membuka pintu (lalu) pintu itu terbuka.

8). Fa ‘Athaf satu satunya huruf yang menghubungkan Ma’tuf ketika (Ma’tuf ini) tidak layak disebut sebagai Shilah, Khobar, Na’at dan Hal kemudian dihubungkan dengan Ma’tuf ‘Alaih yang layak sebagai Shilah, Khobar, Na’at dan Hal disebabkan tidak adanya Dhamir Rabith (pengikat). Atau sebaliknya dari kaidah diatas (Ma’tuf layak dihubungkan kepada Ma’tuf ‘Alaih tidak layak).

قال ابن مالك
وَاخْصُصْ بِفَاءٍ عَطْفَ مَا لَيْسَ صِلَه #  عَلَى الَّذِي اسْتَقَرَّ أَنَّهُ الصِّلَهْ

Khususkan huruf ‘Athaf Fa untuk menghubungkan Jumlah yang bukan Shilah kepada Jumlah yang ditetapkan sebagai Shilah

Jangan bingung ! mari kita rinci dengan contoh.

Dari kaidah diatas, terdapat 8 ketentuan:

Pertama: Pada Jumlah Isim Maushul dan Shilah Maushul

a). Fa meng’athafkan yang bukan Jumlah Shilah kepada Jumlah Shilah

الَّذِيْ سَاعَدْتُهُ فَفَرِحَ الأَبُّ مَرِيْضٌ

Orang yang aku tolong adalah orang sakit (lalu) ayahnya senang

Kalimat فَرِحَ الأَبُّ tidak layak menjadi Shilah dari Isim Maushul الَّذِيْ karena tidak terdapat Dhamir pengikat seperti ini ( الَّذِيْ فَرِحَ أَبُوْهُ ), maka dihubungkan dengan Fa ‘Athaf kepada kalimat سَاعَدْتُهُ yang berkedudukan sebagai Shilah Maushul dari Isim Maushul الَّذِيْ

Perhatikan ‘Irabnya:

الذي : اسم موصول مبني في محل رفع مبتدأ
سَاعَدْتُه : فعل فاعل والهاء : مفعول به وهو ضمير رابط/ عائد الصلة
جملة “سَاعَدْتُه” : معطوف عليه
الفاء : حرف العطف
فَرِحَ الأَبُّ : فعل، فاعل
جملة “فَرِحَ الأَبُّ” : معطوف على جملة سَاعَدْتُه
مَرِيْضٌ : خبر

b). Meng’athafkan Jumlah Shilah kepada yang bukan Jumlah Shilah

Contoh:

الَّتِي وَقَفَ القِطَارُ فَسَاعَدْتُهَا عَلَى العُبُوْرِ عَجُوْزُ ضَعِيْفَةٌ

kereta berhenti – Orang yang aku tolong menyebrang adalah orang tua (pr) yang lemah

Kalimat فَسَاعَدْتُهَا layak menjadi Shilah dari Isim Maushul الَّتِي karena terdapat Dhamir pengikat, maka dihubungkan dengan Fa ‘Athaf kepada kalimat وَقَفَ القِطَارُ yang bukan Shilah Maushul dari Isim Maushul الَّتِي

Perhatikan ‘Irabnya:

الَّتِي : اسم موصول مبني في محل رفع مبتدأ
وَقَفَ القِطَارُ : فعل، فاعل
جملة ” وَقَفَ القِطَارُ” : معطوف عليه
فَسَاعَدْتُهَا : فعل فاعل والهاء : مفعول به وهو ضمير رابط/ عائد الصلة
جملة ” فَسَاعَدْتُهَا” : معطوف على جملة وَقَفَ القِطَار
عَلَى العُبُوْرِ : جار و مجرور
عَجُوْزُ : خبر + منعوت
ضَعِيْفَةٌ : نعت

Kedua: Pada Jumlah Na’at dan Man’ut

a). Meng’athafkan yang bukan Jumlah Na’at kepada Jumlah Na’at

Contoh:

هٰذَا أُسْتَاذٌ عَلَّمَ طُلابَهُ فَنَجَحَ الطُّلَّابُ

Ustad ini yang mengajar siswanya (lalu)mereka lulus

Kalimat نَجَحَ الطُّلَّابُ tidak layak menjadi Na’at dari Lafadz أُسْتَاذٌ karena tidak terdapat Dhamir pengikat seperti ini (نَجَحَ طُلابُهُ), maka dihubungkan dengan Fa ‘Athaf kepada kalimat عَلَّمَ طُلابَهُ yang berkedudukan sebagai Na’at dari lafadz أُسْتَاذٌ

Perhatikan ‘Irabnya:

هذا : مبتدأ
أُسْتَاذٌ : خبر + منعوت
عَلَّمَ : فعل، وفاعله ضمير مستتر لأستاذ
طُلابَ : مفعول به + مضاف
والهاء : مضاف إليه وهو ضمير رابط/ عائد
جملة “عَلَّمَ طُلابَهُ” : نعت + معطوف عليه
الفاء : حرف عطف
نَجَحَ الطُّلَّابُ : فعل، فاعل
جملة “فَنَجَحَ الطُّلَّابُ” : معطوف على جملة عَلَّمَ طُلابَهُ

b). Meng’athafkan Jumlah Na’at kepada Jumlah yang bukan Na’at

هٰذَا أُسْتَاذٌ نَجَحَ الطُّلَّابُ فَعَلَّمَ طُلابَهُ

Penjelasanya kebalikan dari point (b)No (1)

Perhatikan ‘Irabnya:

هذا : مبتدأ
أُسْتَاذٌ : خبر + منعوت
نَجَحَ الطُّلَّابُ : فعل، فاعل
جملة ” نَجَحَ الطُّلَّابُ” : معطوف عليه
الفاء : حرف عطف
عَلَّمَ : فعل، وفاعله ضمير مستتر تقديره هو لأستاذ
طُلابَ : مفعول به + مضاف
والهاء : مضاف إليه وهو ضمير رابط/ عائد
جملة “عَلَّمَ طُلابَهُ” : نعت + معطوف على خبر جملة نَجَحَ الطُّلَّابُ

Ketiga: Pada Jumlah Mubtada dan Khobar

a). Meng’athafkan yang bukan Jumlah Khobar kepada Jumlah Kobar

Contoh:

الأشْجَارُ يَرْعَاهَا خَالدٌ فَيَكْثُرُ الثَّمَرُ

Pohon yang dirawat kholid (lalu)berbuah banyak

Kalimat يكثُرُ الثَّمرُ tidak layak dijadikan Khobar dari Lafadz الأشْجَارُ karena tidak terdapat Dhamir pengikat seperti ini ( يكثر ثمرها), maka dihubungkan dengan Fa ‘Athaf kepada kalimat يرعاها خالد yang berkedudukan sebagai Khobar dari lafadz الأشْجَارُ

Perhatikan ‘Irabnya:

الأشْجَارُ : مبتدأ
يرعا : فعل
الهاء : مفعول به وهو رابط/ عائد
خالدٌ : فاعل
جملة ” يَرْعَاهَا خَالدٌ ” : خبر + معطوف عليه
الفاء : حرف عطف
يكثُرُ الثَّمرُ : فعل، فاعل
جملة “يكثُرُ الثَّمرُ” : معطوف على خبر جملة يرعاها الأشْجَارُ

Contoh Dalam AlQuran

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ أَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَتُصْبِحُ الْأَرْضُ مُخْضَرَّةً. سورة الحج ٦٣

Apakah kamu tiada melihat, bahwasanya Allah menurunkan air dari langit, (lalu) jadilah bumi itu hijau? Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.

Kalimat فَتُصْبِحُ الْأَرْضُ مُخْضَرَّةً (Ma’tuf) tidak layak dijadikan Khobar إن dari Isim Inna الله karena tidak terdapat dhamir pengikat, maka dia dihubungkan dengan Fa ‘Athaf kepada kalimat (أَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً) yang berkedudukan sebagai Khobar إن

b). Meng’athafkan Jumlah Khobar kepada yang bukan Jumlah Kobar

Contoh:

الأشْجَارُ أَهْمَلَ خالدٌ فَقَلَّ ثَمَرُهَا

Kalimat قلَّ ثمرها layak dijadikan Khobar dari Lafadz الأشْجَارُ karena terdapat Dhamir yang mengikat, maka dihubungkan dengan Fa ‘Athaf kepada kalimat أهمل خالد yang tidak layak sebagai Khobar dari lafadz الأشْجَارُ

Perhatikan ‘Irabnya:

الأشْجَارُ : مبتدأ
أَهْمَلَ خالدٌ : فعل، فاعل
جملة ” أَهْمَلَ خالدٌ” : معطوف عليه
الفاء : حرف عطف
قلّ : فعل
ثمرُ : فاعل + مضاف
الهاء : مضاف إليه وهو ضمير رابط/ عائد
جملة ” فَقَلَّ ثَمَرُهَا ” : خبر + معطوف على جملة أَهْمَلَ خالدٌ

Keempat: Pada kalimat Hal dan Sohibul Hal

a). Meng’athafkan yang bukan Jumlah Hal kepada Jumlah Hal

Contoh:

رَأيْتُ الأُسْتَاذَ يَضْحَكُ فَيَفْرَحُ الطُّلابُ

Aku melihat ustadz (dalam kondisi tertawa) lalu para siswa senang.

Kalimat يَفْرَحُ الطُّلابُ tidak layak dijadikan Hal dari Lafadz الأُسْتَاذَ karena tidak terdapat Dhamir pengikat antara hal dan sohibul hal, maka dihubungkan dengan Fa ‘Athaf kepada kalimat يَضْحَكُ yang layak sebagai Hal dari lafadz الأُسْتَاذَ

Perhatikan ‘Irabnya:

رَأيْتُ : فعل، فاعل
الأُسْتَاذَ : مفعول به + صاحب الحال
يَضْحَكُ : فعل، وفاعله ضمير مستتر تقديره هو لأستاذ، وهو ضمير رابط / عائد
جملة ” يَضْحَكُ” : حال + معطوف عليه
الفاء : حرف عطف
يَفْرَحُ الطُّلابُ : فعل، فاعل + معطوف على جملة ” يَضْحَكُ”

b). Meng’athafkan Jumlah Hal kepada yang bukan Jumlah Hal

Contoh:

رَأيْتُ الأُسْتَاذَ يَفْرَحُ الطُّلابُ فَيَضْحَكُ

Aku melihat ustadz – siswa senang – (lalu) ustadz tertawa

Penjelasanya kebalikan dari point (d) No (2)

Perhatikan ‘Irabnya:

رَأيْتُ الأُسْتَاذَ يَفْرَحُ الطُّلابُ فَيَضْحَكُ

رَأيْتُ : فعل، فاعل
الأُسْتَاذَ : مفعول به + صاحب الحال
يَفْرَحُ الطُّلابُ : فعل، فاعل + معطوف عليه
الفاء : حرف عطف
يَضْحَكُ : فعل، وفاعله ضمير مستتر تقديره هو لأستاذ، وهو ضمير رابط / عائد لأستاذ
جملة ” يَضْحَكُ” : حال + معطوف عليه


Kandungan makna lainya untuk Huruf Fa Athaf:

Selain bermakna (lalu), Fa ‘Athaf juga memiliki kandungan makna seperti

1). Sababiyah (السببية) adalah Fa ”Athaf yang berfungsi mengikat dua kalimat, dimana kalimat kedua merupakan akibat (konsekwensi) dari kalimat pertama

Syarat Fa Sababiyah

a). Kalimat pertama harus Nafyi atau Menunjukan Thalab

b). Setelah Fa berupa Fi’il Mudhari’ Manshub dengan أن tersembunyi.

Contoh:

كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَلَا تَطْغَوْا فِيهِ فَيَحِلَّ عَلَيْكُمْ غَضَبِي ۖ وَمَنْ يَحْلِلْ عَلَيْهِ غَضَبِي فَقَدْ هَوَىٰ. سورة يوسف ١٠٩

Makanlah di antara rezeki yang baik yang telah Kami berikan kepadamu, dan janganlah melampaui batas padanya, yang menyebabkan kemurkaan-Ku menimpamu. Dan barangsiapa ditimpa oleh kemurkaan-Ku, maka sesungguhnya binasalah ia.

2). Fasihah (الفصيحة) adalah Fa ‘Athaf yang berfungsi menghubungkan Ma’tuf Kepada Ma’tuf ‘Alaih + Fa yang keduanya dibuang.

Contoh:

وَإِذِ اسْتَسْقَىٰ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ فَقُلْنَا اضْرِب بِّعَصَاكَ الْحَجَرَ ۖ فَانفَجَرَتْ مِنْهُ اثْنَتَا عَشْرَةَ عَيْنًا. البقرة ٦٠

Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman: “Pukullah batu itu dengan tongkatmu”. Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air.

Perkiraanya seperti ini:

فَقُلْنَا اضْرِب بِّعَصَاكَ الْحَجَرَ (فضرب بعصاه الحجر) فَانفَجَرَتْ مِنْهُ

إعراب
فَانفَجَرَتْ : الفاء عاطفة وجملة انفجرت معطوفة على جملة محذوفة والتقدير فضرب بعصاه الحجر فانفجرت.

3). Fa ‘Athaf Shurah La Haqiqah ( صورة لا حقيقة) adalah Fa yang bentuknya layaknya huruf Athaf Fa namun dia bukan sebenarnya

فشكلها وظاهرها أنها عطف، مع أنها في الحقيقة والواقع مهملة وليست عاطفة،

Contoh:

ثُمَّ أَوْلَىٰ لَكَ فَأَوْلَىٰٓ. القيامة ٣٥

Lihat Referensi berikut:

عباس حسن، النحو الوافي، ج٣ ،ص٥٧٥
عزيزة فوال بابتي ،الدكتور، معجم المفصل في النحو العربي، ج١, ص٣٦١
ابو فارس الدحداح، شرح ألفية ابن مالك، ص٣٦٧
عباس حسن، النحو الوافي،ج٤, ص٣٣٣
___________

3. Huruf (ثُمَّ) = kemudian

A. Kandungan makna

Penghubung yang memiliki arti urutan namun berjangka (ترتيب على التراخي ) berfungsi mengikat Ma’tuf ‘Alaih dan Ma’tuf berada dalam jangka waktu panjang.

Contoh:

جَاءَ خَالدٌ ثُمَّ زَيْدٌ

Kholid datang (kemudian) zaid

دَخَلَ خَالدٌ الفَصْلَ فِي السَّاعَةِ العَاشِرَةِ صَبَاحًا ثُمَّ خَرَجَ مِنْهُ فِي السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ مَسَاءً

Kholid masuk kelas pukul 10 pagi (kemudian) keluar pukul 4 sore.

Terdapat jeda waktu cukup panjang antara masuk dan keluarnya kholid. Kecuali kholid masuk kelas hanya setor absensi doank, boleh lah pakai Huruf ‘Athaf الفاء 😀

B. Syarat dan Ketentuan Tsuma ‘Athaf

1). Tsuma ‘Athaf boleh menghubungkan banyak Ma’tuf dan yang menjadi Ma’tuf ‘Alaih adalah Lafadz yang posisinya berada langsung sebelum Huruf ‘Athaf Tsuma. Persis seperti yang berlaku pada Fa ‘Athaf

Contoh:

جَاءَ صَالِحٌ، ثُمَّ حَامِدٌ، ثُمَّ خَلِيْلٌ، ثُمَّ مُحَمَّدٌ

2). Tsuma ‘Athaf boleh menghubungkan Ma’tuf dan Ma’tuf ‘Alaih yang keduanya berbentuk Mufrad atau Jumlah (kalimat), baik Ismiyyah atau Fi’liyyah dan Syibhul Jumlah. Seperti halnya yang berlaku pada Wawu dan Fa ‘Athaf.

3). Boleh dimasuki Huruf Ta Ta’nits Maftuhah (تَ). Ini dikhususkan pada ‘Athaf Jumlah

Contoh:

مَنْ ظَفِرَ بِحَاجَتِهِ ثُمَّتَ قَصَّرَ فِي رِعَايَتِهَا كَانَ حُزْنُهُ طويلًا، وغُصَّتُهُ شديدة

4). Tsuma ‘Athaf terkadang bermakna الواو (dan)

Contoh 1:

لَمَّا اِنْقَضَى اللَّيْلُ، وَاسْتَنَارَ الكَوْنُ، ثُمَّ طَلَعَتِ الشَّمْسُ، وَاقْتَرَبَ ظُهُوْرِ الفَجْرِ – سَارَعَ النَّاسُ إِلى أَعْمَالِهِمْ

Ketika malam sudah lewat (dan) jagat raya mulai bersinar (dan) matahari mulai terbit (dan) waktu fajar telah dekat. Orang-orang bergegas menuju aktivitasnya

Contoh 2:

كَلاَمُنَا لفظٌ مفيدٌ؛ كاستقمْ # واسمٌ، وفعلٌ، ثُمَّ حرفٌ، الكَلِمْ

4). Tsuma ‘Athaf terkadang bermakna الفاء (lalu)

شَرِبَ خَالدٌ ثُمَّ ارْتَوَى

Kholid minum (lalu) rasa dahaga hilang

Lihat referensi:

عباس حسن، النحو الوافي، ج٣ ،ص ٥٧٧
________

Catatan Wawu, Fa dan Tsuma

1). Huruf ‘Athaf Wawu (الواو), Fa (الفاء) dan Tsuma (ثم), boleh terletak langsung setelah Hamzah Istifham (Berlaku pada Athaf Jumlah)

Contoh:

أَوَلَمْ يَتَفَكَّرُوا مَا بِصَاحِبِهِمْ مِنْ جِنَّةٍ إِنْ هُوَ إِلَّا نَذِيرٌ مُبِينٌ. الأعراف ١٨٤

Apakah (mereka lalai) dan tidak memikirkan bahwa teman mereka (Muhammad) tidak berpenyakit gila. Dia (Muhammad itu) tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan lagi pemberi penjelasan.

أَ : الهمزة للاستفهام
الواو : حرف العاطفة
______

أفلم يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كانَ عاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ دَمَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ ۖ وَلِلْكَافِرِينَ أَمْثَالُهَا. سورة محمد ١٠

Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi sehingga mereka dapat memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka; Allah telah menimpakan kebinasaan atas mereka dan orang-orang kafir akan menerima (akibat-akibat) seperti itu.

أَ : الهمزة للاستفهام
الفاء : حرف العاطفة


Adapun untuk perangkat Istifham lain (selain Hamzah), tidak boleh mendahului ketig huruf diatas.

Contoh:

وَ كَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنْتُمْ تُتْلَى عَلَيْكُمْ آيَاتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ. العمران ١٠١

Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu ?

الواو : حرف العاطفة
كيف : اسم استفهام
______

فَهَلْ يُهْلَكُ إِلَّا الْقَوْمُ الْفَاسِقُونَ. الأحقاف ٣٥

Maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik.

الفاء : حرف ابتداء / استئناف
هل : حرف الاستفهام

2). Wawu (الواو), Fa (الفاء) dan Tsuma (ثم), tidak selalu menjadi Huruf ‘Athaf, terkadang juga menjadi Huruf Istinaf

سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ بَدَأَ الْخَلْقَ ثُمَّ اللَّهُ يُنْشِئُ النَّشْأَةَ الْآخِرَةَ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. العنكبوت ٢٠

Katakanlah: “Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

ثُمَّ : حرف استئناف

Lihat referensi:

انظر : عباس حسن، النحو الوافي، ج٣, ص ٥٧١ – ٥٧٩
_______________

4. Huruf (حَتَّى) = Hingga/Sampai

A. Kandungan makna

Penghubung yang memiliki arti batas penghabisan/sasaran/tujuan ( بلغ الغاية )berfungsi menghubungkan Ma’tuf dimana menjadi sasaran dari pada Ma’tuf ‘Alaih, baik dalam hal kejelakan atau kebaikan.

Contoh:

حَبِسَ البَخِيْلُ أَمْوَالَهُ حَتَّى الرُوْبِيَةَ

orang bakhil menahan hartanya hingga satu rupiah pun

أَمْوَالَهُ : معطوف عليه
حَتَّى : حرف العطف
الرُوْبِيَةَ : معطوف على ” أَمْوَالَهُ”
_______

لَمْ يَبْخَلْ الغَنيُّ الورعُ بالمَالِ حَتَّى الملياراتِ

Orang kaya yang wara’ tidak bakhil dengan hartanya hingga miliyaran.

بالمَالِ : معطوف عليه
حَتَّى : حرف العطف
الملياراتِ : معطوف على ” بالمَالِ”

B. Syarat dan ketentuan Hatta ‘Athaf

قال ابن مالك
بَعْضَا بِحَتَّى اعْطِفْ عَلَى # كُلَ وَلاَ يَكُونُ إِلاَّ غَايَةَ الَّذِي تَلاَ

‘Athafkan dengan Huruf Hatta makna sebagian kepada makna keseluruhan, dan makna yang terkandung merupakan tujuan dari lafadz yang mengikuti.

Artinya, Makna ma’tuf merupakan bagian dan sasaran yang hendak di capai oleh Ma’tuf ‘Alaih.

1). Lafadz Ma’tuf harus berupa Isim (Bukan Fi’il, Huruf atau Kalimat) dan Lafadz Ma’tuf harus berupa Isim Dzahir (Bukan Dhamir)

Contoh

اِسْتَخْدَمْتُ وَسَائِلَ النَقْلِ حَتَّى الطَّيَّارَةَ

Aku menggunakan sarana transfortasi hingga pesawat terbang.

Perhatikan ‘Irabnya:

وَسَائِلَ الاِنْتِقَالِ : مفعول به + معطوف عليه
حَتَّى : حرف عطف مبني على السكون
الطَّيَّارَةَ : اسم معطوف على مفعول به منصوب ” وَسَائِلَ الاِنْتِقَالِ”

Tidak boleh seperti contoh dibawah, sebab tidak memenuhi syarat di atas (Ma’tufnya bukan Isim)

صَفَحْتُ عَنِ المُسِيءِ حَتَّى خَجِلَ❌

Aku memaafkan orang jahat sampai dia malu.

Tidak boleh juga seperti contoh dibawah, sebab Ma’tufnya bukan Isim Dzahir

اِنْصَرَفَ المَدْعُوُوْنَ حَتَّى أَنَا ❌

Tamu undangan bubar hingga aku

2). Ma’tuf harus merupakan bagian dari Ma’tuf ‘Alaih, baik bermakna haqiqi (bagian dari inti, individu dari kelompok atau bagian dari jenis). Atau bermakna bukan haqiqi (bukan esensi dari inti seperti Ilmu, warna, suara (bermakna sesuatu yang dimiliki).

  • Contoh1(Bermakna haqiqi):

اِجْتَمَعَ الأَبَاءُ حَتَّى الأبناءُ فِي المَسْجِدِ لِأَدَاءِ الصلاةِ

Orang tua hingga anak-anak berkumpul di Mesjid untuk melaksanakan sholat.

Lafadz الأبناءُ (anak-anak) adalah Isim Dzahir dan merupakan bagian dari bapak.

  • Contoh2 (Bermakna haqiqi):

سَهَرَ الجَيْشُ حَتَّى القَائِدُ

Tentara bergadang hingga pemimpinya.

Pemimpin adalah individu bagian dari kelompok militer

  • Contoh3 (Bermakna haqiqi):

النَبَاتُ نَافِعٌ حَتَّى الأَوْرَاقُ

Tumbuhan bermanfaat hingga daunya.

Daun adalah bagian dari tumbuhan.

  • Contoh4 (Bermakna ghoir haqiqi):

أَعْجَبَنِي العَصْفُوْرُ حَتَّى لَوْنُهُ

Burung itu membuatku kagum hingga warnanya.

Contoh5 (Bermakna ghoir haqiqi):

تَمَتَعَتْ الأُسْرَةُ بِعِيْدِ الفطرِ حَتَّى غَنَمُهَا

Sebuah keluarga bergembira di hari raya fitri hingga kambing (milik) mereka.

Kambing adalah bagian dari keluarga (sesuatu yang dimiliki).

3). Jika Hatta (حَتَّى) masuk pada jumlah fi’liyyah yang fi’ilnya berupa Madhi dan atau masuk pada jumlah ismiyyah, maka Hatta (حَتَّى) bukanlah Huruf ‘Athaf melainkan Istinaf/Ibtida (استئناف / ابتداء)

جَاءَ فَصْلُ الخَرِيْفِ حَتَّى تَسَاقَطَتْ الأَوْرَاقُ
جَاءَ فَصْلُ الخَرِيْفِ حَتَّى الأَوْرَاقُ مُتَسَاقِطَةٌ

Musim gugur tiba – daun daun berguguran

Huruf Hatta dalam kalimat diatas bukan Athaf sebab masuk pada jumlah Fi’liyyah dan Ismiyyah

Lihat referensi:

انظر : الخضري ج ٢, باب العطف عند الكلام على: حتى
انظر : عباس حسن، النحو الوافي، ج٣, ص٥٨٠

4). Wajib mengulangi Huruf Jar yang sama setelah Huruf حَتَّى pada Ma’tuf jika Ma’tuf ‘Alaihnya didahului huruf Jar

Contoh:

سَافَرْتُ فِي الأُسْبُوْعِ المَاضِي حَتَّى فِي آخِرِهِ

Aku bepergian di minggu yang lalu hingga di minggu terakhir.

Maksud kalimat adalah “pergi di minggu yang lalu, kemudian pergi lagi di minggu terakhir (Bepergian terjadi dua kali, minggu ke1 dan minggu ke 4). Namun Jika huruf Jar Fi tidak diulang, ada kemingkinan bermakna “pergi diminggu pertama hingga minggu terakhir (Bepergian terjadi dari minggu ke1 sampai minggu ke 4).

Perhatikan ‘Irabnya:

سَافَرْتُ : فعل، فاعل
فِي : حرف الجار
الأُسْبُوْعِ المَاضِي : مجرور + معطوف عليه
حَتَّى : حرف عطف مبني على السكون
فِي : حرف الجار
آخِرِ : مضاف + معطوف
الهاء : مضاف إليه

Lihat referensi:

عباس حسن، النحو الوافي ج٣, ٥٨٢

5). Huruf Hatta (حَتَّى) lebih banyak dipergunakan sebagai Huruf Jar dari pada Athaf

Contoh perbandingan:

قرأت الكتابَ حَتَّى الخاتمةَ/الخاتمةِ

Lafadz الخاتمةَ boleh Fathah dianggap sebagai Ma’tuf yang dihubungkan Hatta Athaf kepada Ma’tuf ‘Alai Lafadz (الكتابَ) dan boleh juga kasrah dianggap majrur oleh Jar حَتَّى “Orang Arab sendiri lebih banyak menggunakan Majrur”


5. Huruf (أَو) = atau

A. Kandungan makna

Penghubung yang memiliki arti pilihan ( تخيير و الإباحة و الشَكّ و الإبهام ). Berfungsi mengikat Ma’tuf ‘Alaih dan Ma’tuf berada dalam suatu pilihan (memilih salah satu atau boleh keduanya) atau berada dalam keraguan dan kesamaran.

Contoh 1: Bermakna pembolehan (إباحة). Syarat yang harus dipenuhi yaitu didahului kata perintah

اِشْرَبْ القَهْوَةَ أَوْ الشَّايَ

Minumlah kopi atau teh

Boleh memilih antara kopi atau teh atau bahkan keduanya jika mau. Ini yang dimaksud dengan Ibahah (إباحة)

Perhatikan ‘Irabnya:

اِشْرَبْ : فعل أمر مبني على السكون، والفاعل ضمير مستتر تقديره أنت
القَهْوَةَ : مفعول به منصوب علامته الفتحة + معطوف عليه
أو : حرف عطف مبني على السكون
الشَّايَ : اسم  معطوف على مفعول به، علامته الفتحة

Contoh 2: Memilih diantara dua (تخيير). Syaratnya sama harus didahului kata perintah

قَالَ الأَبُّ لابْنِهِ : “هَاتَانِ أُخْتَانِ نَبِيْلَتَانِ؛ فَتَزَوَجْ هٰذِهِ أَوْ تِلْكَ

Ayah berkata kepada anaknya: “Ini dua perempuan cantik bersaudara, nikahilah ini atau itu (pilih salah satu). Disini hanya boleh memilih salah satu, tidak keduanya sebab adanya faktor yang tidak memperbolehkan dari segi hukum Islam. Ini yang maksud dengan pilihan (تخيير)

Contoh 3: Berada dalam keraguan (الشك). Syarat yang harus dipenuhi yaitu (Au ‘Athaf harus berada dalam kalimat ikhbar (berita)

قَضَيْتُ وَقْتًا فِي الزِّيَارة ثَلاَثِيْنَ دَقِيْقَةً، أَوْ أَرْبَعِيْنَ دَقِيْقَةً

Aku habiskan waktu berkunjung 30 menit (atau) 40 menit.

Posisi Ma’tuf dan Ma’tuf ‘Alah berada dalam keadaan yang tidak pasti (ragu)

Contoh 4: Berada dalam kesamaran (الإبهام). Syaratnya sama harus berada dalam kalimat ikhbar (berita)

خالدٌ : مَتَى تَذْهَبُ إِلى شَاطِىءِ البَحْرِ لِأُشَارِكَكَ ؟

Kholid : Kapan kau akan pergi ke pantai, akan aku temani ?

زيدٌ : قَدْ أَذْهَبُ يَوْمَ الخَمِيْسِ أَوْ الجمعةْ، أَوْ السَّبْتْ

Zaid: Kemungkinan aku pergi hari kamis atau jum’at atau sabtu

Posisi Ma’tuf dan Ma’tuf ‘Alah berada dalam kesamaran yang tidak diketahui dengan pasti.

Lihat referensi:

عباس حسن، النحو الوافي، ج٣،ص٦٠٩

B. Syarat dan ketentuan ‘Athaf أو

1). Ma’tuf dan Ma’tuf ‘Alaih yang dihubungkan (أو) boleh berbentuk Mufrad atau Jumlah (kalimat), baik Ismiyyah atau Fi’liyyah dan Syibhul Jumlah.

2). Huruf ‘Athaf أو boleh dibuang

Contoh:

وَسَائِلُ السَّفَرِ مُتَنَوِّعَةٌ؛ يَتَخَيَّرُ مِنْهَا كُلُّ امْرِىءٍ مَا يُنَاسِبُهُ – يُمْكِنُكَ تُسَافِرُ بالطَّيَّارَةِ، القِطَارِ، البَاخِرَةِ، السَّيَّارَةِ

Sarana transfortasi bervariatif, seseorang boleh memilih yang sesuai – Kau bisa pergi dengan pesawat (atau) dengan kereta (atau)dengan kapal laut (atau) dengan mobil.

تقدير : بالطَّيَّارَةِ، أو القِطَارِ، أو البَاخِرَةِ، أو السَّيَّارَةِ

3). Huruf ‘Athaf أو jika dipergunakan menghubungkan 2 kalimat yang diawali dengan Nafyi atau Nahyi, dia berfaidah mengecualikan atau melarang keduanya (Ma’tuf dan Ma’tuf ‘Alaih)

Contoh:

لاَ أُحِبُّ مُنَافِقًا أَوْ كَاذِبًا

Aku tidak suka orang munafik atau pembohong

فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تُطِعْ مِنْهُمْ آثِمًا أَوْ كَفُورًا. الإنسان ٢٤

Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa (atau) orang yang kafir di antar mereka.

4). Huruf ‘Athaf أو boleh menghubungkan Ma’tuf dan Ma’tuf ‘Alah yang semakna (Sinonim)

Contoh:

وَمَنْ يَكْسِبْ خَطِيئَةً أَوْ إِثْمًا ثُمَّ يَرْمِ بِهِ بَرِيئًا فَقَدِ احْتَمَلَ بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا. النساء ١١٢

Dan barangsiapa yang mengerjakan kesalahan (atau) dosa, kemudian dituduhkannya kepada orang yang tidak bersalah, maka sesungguhnya ia telah berbuat suatu kebohongan dan dosa yang nyata.

5). Huruf ‘Athaf أو boleh digunakan dengan memiliki makna seperti و (dan)

قال ابن مالك
وَرُبَّمَا عَاقَبَتِ الوَاوَ إِذَا  # لَمْ يُلفِ ذُو النُّطْقِ لِلَبْسٍ مَنْفَذَا

Terkadang أو dipakai untuk menggantikan wawu, yaitu apabila orang yang mengucapkannya merasa aman dari keliru


6. Huruf (أَمْ) = atau

A. Kandungan makna

Penghubung yang memiliki arti pilihan seimbang/setara ( تخيير معادلة و تعيين ). Fungsinya mengikat Ma’tuf ‘Alaih dan Ma’tuf berada dalam suatu pilihan seimbang (memilih dan atau menentukan salah satu ).

Huruf ‘Athaf Am (أم) yang memiliki kandungan makna seperti di atas disebut Muttashilah. Sedangkan kandungan makna Huruf ‘Athaf Am (أم) Munfashilah berbeda. Akan diperluas dibawah.

Contoh:

أَخَالِدٌ جَاءَ أَمْ زَيْدٌ

Apakah yang datang kholid atau zaid ?

Disini maknanya harus memilik dan menentukan siapa yang datang

Perhatikan ‘Irabnya:

أ : حرف استفهام مبني على الفتح
خالد : مبتدأ مرفوع
جَاءَ : فعل ماضٍ مبني على الفتح، والفاعل ضمير مستتر والجملة في محل رفع خبر المبتدأ
أم : حرف عطف مبني على السكون
زَيْدٌ : اسم معطوف على مرفوع – خالد

B. Pembagian Huruf ‘Athaf (أَمْ)

قال ابن مالك
وَأَمْ بِهَا اعْطِفْ إِثْرَ هَمْزِ التَّسْوِيَهْ # أَو هَمْزَةٍ عَنْ لَفْظِ أَيَ مُغْنيَهْ

Dengan Am (أم) Athafkan setelah Hamzah Taswiyah atau setelah Hamzah yang menggantikan kedudukan lafadz Ayyun (Hamzah Istifham)

1). Huruf ‘Athaf Am Muttashilah/menyambung (متصلة)

Yaitu Huruf ‘Athaf yang didahului oleh Hamzah Taswiyah dan Hamzah Istifham

  • Hamzah Taswiyah yaitu Hamzah yang beriringan dengan kata (سَوَاءٌ) atau (لا أبالي) yang menunjukan bahwa dua kalimat yang dimasuki Am (أم) Muttashilah memiliki kesetaraan hukum.

Contoh:

سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَجَزِعْنَا أَمْ صَبَرْنَا مَا لَنَا مِنْ مَحِيصٍ. سورة إبراهيم ٢١

Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri”.

سَواءٌ : مبتدأ
عَلَيْنا : الجار والمجرور متعلقان بسواء
أَ : الهمزة للتسوية
جَزِعْنا : فعل و فاعل
أَمْ : حرف العاطفة
صَبَرْنا : معطوف على “جزعنا”

سَوَاءٌ عَلَيْكُمْ أَدَعَوْتُمُوهُمْ أَمْ أَنْتُمْ صَامِتُونَ

  • Hamzah Istifham bermakna (أَيٌّ) yang menunjukan bahwa dua kalimat yang dimasuki Am (أم) Muttashilah merupakan pilihan yang harus ditentukan salah satunya.

Keterangan: yang dimaksud adalah Hamzah Istifham Haqiqi (Bukan untuk mengingkari atau mengecualikan), akan diperluas dibawah.

Contoh:

أعَمُّكَ مُسَافِرٌ أَمْ أَخُوْكَ

Apakah pamanmu yang pergi atau saudaramu ?

Jika kalimat Am (أم) Muttashilah dimasuki Nafyi, maka kalimat yang dikecualikan harus diakhirkan.

Contoh:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لا يُؤْمِنُوْنَ. البقرة ٦

Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman.

Contoh dalam bahasa kita:

أَمَطَرٌ نَزَلَ أَمْ لَمْ يَنْزِلْ ✔️

Apakah hujan turun atau belum ?

أَمَطَرٌ لَمْ يَنْزِلْ أَمْ نَزَلَ ❌
________

Sisi perbedaan Am (أم) Muttashilah yang diiringi Hamzah Taswiyah dan Hamzah Istifham.

a). Kalimat Ma’tuf dan Ma’tuf ‘Alaih yang didahului Hamzah Taswiyah tidak membutuhkan jawaban, sedangkan dalam Istifham membutuhkanya.

b). Kalimat Ma’tuf dan Ma’tuf ‘Alaih yang didahului Hamzah Taswiyah berpotensi mengandung kabar benar atau bohong, sedangkan dalam Istifham hanyalah menentukan sesuatu yang benar

c). Kalimat Ma’tuf dan Ma’tuf ‘Alaih yang didahului Hamzah Taswiyah, keduanya harus berupa jumlah (kalimat), sedangkan pada istifham boleh mufrad dan kalimat.

Contoh Istifham dalam kalimat berbeda:

  • Pada Mufrad:

أَمُحَمَّدٌ أَمْ مَحْمُوْدٌ هُوَ الَّذِيْ فَازَ ؟

Apakah Muhamad atau Mahmud yang menang itu ?

  • Pada Jumlah Ismiyyyah:

أَضَيْفُكَ مُقِيْمٌ غَدًا أَمْ ضَيْفُكَ مُسَافِرٌ؟

Apakah tamu-mu besok menginap atau dia pergi ?

  • Pada Jumlah Fi’liyyah:

أَ مَارَسْتَ الكِتَابةَ، أَمْ مَارَسْتَ المُحَادَثَةَ ؟

Apakah kau rutin menulis atau rutin bercakap?

  • Pada kalimat silang (Ismiyyah vs Fi’liyyah)

أَأَنْتَ كَتَبْتَ الرِّسَالَةَ أَمْ أَبُوْكَ كَاتِبُهَا

Apakah kau yang menulis surat itu (atau) ayahmu yang menulisnya ?

  • Kalimat Ma’tuf dan Ma’tuf ‘Alaih yang didahului Hamzah Taswiyah, keduanya boleh ditakwil kedalam bentuk Mashdar lalu posisi ‘Athaf أم diganti dengan ‘Athaf Wawu, sedangkan pada Istifham tidak bisa.

Contoh:

سَوَاءٌ عَلَيْكُمْ أَدَعَوْتُمُوهُمْ أَمْ أَنْتُمْ صَامِتُونَ

تقدير : سواء عليكم دعاؤُكُم إياهم وصمْتُكُم

Lihat referensi

عباس حسن، النحو الوافي، ج٣، ص ٥٩٥

Penting! : Untuk contoh-contoh yang diambil dari AlQuran, diharapkan dibuka kembali Kitab Tafsier dan ‘Irabnya.


Sisi persamaan Am (أم) Muttashilah yang diiringi Hamzah Taswiyah dan Hamzah Istifham.

  • Kedua Hamzah ini boleh dibuang

قال ابن مالك
ورُبَّمَا أسقطت الهمزة إن # إن كان خفا المعنى بحذفها أمن

Terkadang hamzah dibuang apabila kesamaran makna kalimat dapat dihindari

Contoh membuang Hamzah Taswiyah:

سَوَاءٌ عَلى خَالدٍ رَاقَبَهُ أَبُوْهُ أمْ لَمْ يُرَاقِبْهُ، فَلَنْ يَفْعَلُ مَا نَهَاه عَنْهُ

Bagi kholid sama saja, diawasi bapaknya atau tidak diawasi, dia tidak akan melakukan apa yang dilarangnya.

تقدير : رَاقَبَهُ -»» أُرَاقَبَهُ

Contoh membuang Hamzah Istifham:

شَاهَدْتُ اليَوْمَ سِبَاقَ تِلاوَةِ القرآن؛ خَالدٌ هُوَ الَّذِي فَازَ أَمْ مَحْمُوْدٌ؟

Hari ini aku menyaksikan lomba tilawah AlQuran, apakah kholid yang menang atau mahmud ?

تقدير : أ خَالدٌ هُوَ الَّذِي فَازَ أَمْ مَحْمُوْدٌ؟


  1. Am (أم) Munfashilah/terputus (منفصلة)

Yaitu penghubung yang mengandung arti terbalik ( الإضراب ) seperti بَلْ = Bahkan/akan tetapi

قال ابن مالك
وَبِانْقِطَاع، وبِمَعْنى: “بَلْ” وَفَتْ # إِنْ تَكُ مِمَّا قُيِّدَتْ بِهِ خَلَتْ

Am ini dinamakan Munqathi’ dan mengandung makna بل apabila terlepas dari ikatan-ikatan diatas.

Am Munfashilah/Munqoti’ah menjadi penghubung dua kalimat (Ma’tuf ‘Alaih dan Ma’tuf) dimana kedua makna kalimat tidak saling berhubungan.

Masing-masing kalimat memiliki makna berbeda dan keduanya tidak berhubungan. Ini mengharuskan keduanya berada dalam suatu pilihan atau ditentukan salah satunya seperti pada Am Muttashilah.

Secara dzahir Am Munfashilah bisa dibedakan dari Am Muttashilah dengan tidak didahului Hamzah Taswiyah dan Hamzah Istifham (Haqiqi) dan juga beberapa indikasi berikut:

– Menunjukan kabar berita

وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ قَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُمْ هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ (٧) أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ. سورة الأحقاف

Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang menjelaskan, berkatalah orang-orang yang mengingkari kebenaran ketika kebenaran itu datang kepada mereka: “Ini adalah sihir yang nyata”. (Bahkan) mereka mengatakan: “Dia (Muhammad) telah mengada-adakannya (Al Quran)”.

هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ : معطوف عليه
أم : حرف عطف منفصل بمعنى “بل”
يَقُولُونَ افْتَرَاهُ : معطوف

– Terletak setelah Hamzah Istifham Ghoir Haqiqi (mengingkari)

Hamzah Istifham Haqiqi digunakan untuk menanyakan sesuatu yang benar-benar belum diketahui, adapun Hamzah Istifham Ghoir Haqiqi mengandung arti lain diantaranya mengingkari atau mengecualikan.

Contoh:

أَلَهُمْ أَرْجُلٌ يَمْشُونَ بِهَا أَمْ لَهُمْ أَيْدٍ يَبْطِشُونَ بِهَا أَمْ لَهُمْ أَعْيُنٌ يُبْصِرُونَ بِهَا أَمْ لَهُمْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا. الأعراف ١٩٥

Apakah berhala-berhala mempunyai kaki yang dengan itu ia dapat berjalan, (bahkan) mempunyai tangan yang dengan itu ia dapat memegang dengan keras, (bahkan) mempunyai mata yang dengan itu ia dapat melihat, (bahkan) mempunyai telinga yang dengan itu ia dapat mendengar?

Contoh Am Munfashilah/Munqotiah dalam penggunaan sehari-hari

اِسْتَيْقَظْتُ فِي الصَّبَاحِ فَرَأَيْتُ وَرَقَ الشَّجَرِ مَبْتَلًّا فَقَدْ سَقَطَ المَطَرُ ليلًا، أَمْ تَكَاثَرَ النَّدَى عَلَيْهِ؛ فَإِنِّي أَجِدُ الطُرُقَ جَافَةً؛ لاَ أَثَرٌ فِيْهَا لِلْمَطَرِ

Aku bangun pagi dan aku lihat dedaunan basah – dimalam hari hujan turun (akan tetapi) dedaunan banyak embun – aku lihat jalan kering tidak ada bekas hujan.

Pada kalimat pertama alasan daun basah disebabkan hujan, lalu pada kalimat kedua alasan daun basah karena banyak embun. Setelah itu terbukti dengan kondisi jalan yang kering sebagai pertanda bahwa hujan tidak turun. Ini adalah dua kalimat tidak semakna sehingga dihubungkan dengan Huruf Am Muqata’ah.

Catatan:

Dalam Huruf Am Munfashilah/Muqata’ah terdapat dua pendapat : “Bahwa huruf ini adalah huruf ‘Athaf (Minoritas) “Huruf ini bukan ‘athaf melainkan Ibtida/istinaf (Mayoritas).

Lihat referensi:

عباس حسن، النحو الوافي، ج٣, ص ٦٠٠


7. Imma (إِمَّا) = atau

Perhatikan contoh berikut:

اِمْنَحْ السَّائِلَ إِمَّا مِائَةَ ألفِ روبيةٍ وإمَّا مِائَتى ألفِ روبيةٍ

Berikan kepada pengemis itu Rp.100.000 dan atau Rp. 200.000

Pada contoh di atas terdapat dua إِمَّا (yang pertama dan kedua)

Para Ulama sepakat bahwa Huruf إِمَّا berfungsi untuk merinci (التفصيل), dan mereka juga sepakat bahwa Huruf إِمَّا pertama bukan ‘Ataf karena tidak ada Ma’tuf ‘Alaih.

Perbedaan pendapat terjadi pada Huruf إِمَّا kedua, apakah dia Huruf ‘Ataf atau bukan.

a). Ketika mereka sepakat bahwa Huruf إِمَّا yang pertama bukan Huruf ‘Athaf karena tidak ada Ma’tuf ‘Alaih, maka kata yang terletak setelah إِمَّا pertama di’irab sesuai ‘Amilnya. Boleh menjadi Fa’il, Maf’ul Bih, Hal, Badal dan lainya

Contoh ketika Isim setelah إِمَّا pertama berkedudukan sebagai Maf’ul Bih. Misalkan pada kalimat diatas lafadz مِائَةَ adalah Maf’ul Bih dari ‘Amil امنح

Contoh lain misalkan:

يَرْكَبُ خَالدٌ إِمَّا قطارًا وإِمَّا سَيَّارَةً

Kholid naik kereta (atau) mobil

يَرْكَبُ خَالدٌ : فعل ، فاعل
إِمَّا الأولى : حرف تفصيل
قطارًا : مفعول به

Contoh ketika Isim setelah إِمَّا pertama menjadi Fa’il

غَابَ إِمَّا خَالدٌ وَإِمَّا مَحْمُوْدٌ

Kholid tidak hadir (atau) mahmud

غَابَ : فعل
إِمَّا الأولى : حرف تفصيل
خَالدٌ : فاعل

Contoh ketika Isim setelah إِمَّا pertama menjadi Haal

إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورً. الإنسان ٣

إِمَّا الأولى : حرف تفصيل
شَاكِرًا : حال

Contoh ketika Isim setelah إِمَّا pertama menjadi Badal

حَتَّى إِذَا رَأَوْا مَا يُوعَدُونَ إِمَّا الْعَذَابَ وَإِمَّا السَّاعَةَ. مريم ٧٥

إِمَّا الأولى: حرف تفصيل
الْعَذَابَ : بدل

b). Ulama berbeda pendapat mengenai Huruf إِمَّا kedua

  • Pendapat pertama: Huruf إِمَّا kedua bukan Huruf ‘Athaf karena didahului Wawu. Huruf Wawu ini selalu menempel deengan إمَّا kedua dan dialah (الواو) yang menjadi Huruf ‘Athaf lalu ( إِمَّا ) sebagai Tafshil (Pendapat Rajih dan Jumhur)

Jadi Contoh ‘Irabnya seperti ini:

غَابَ إِمَّا خَالدٌ وَإِمَّا مَحْمُوْدٌ

غَابَ : فعل
إِمَّا : حرف تفصيل
خَالدٌ : فاعل + معطوف عليه
و : حرف عطف
إِمَّا : حرف تفصيل
مَحْمُوْدٌ : معطوف على خَالدٌ

  • Pendapat kedua: Huruf إِمَّا kedua adalah Huruf ‘Athaf bermakna أَو yang berfungsi dalam hal menjadikan Ma’tuf dan Ma’tuf ‘Alaih berada dalam suatu pilihan (memilih salah satu, boleh kedunya jika didahului kata perintah) atau (berada dalam keraguan dan kesamaran jika didahului kalimat kabar berita). Lihat contohnya pada pembahasan ‘Athaf أو

قال ابن مالك

وَمِثْلُ أَو القَصْدِ إِمَّا الثَّانِيَهْ #  فِي نَحْوِ إِمَّا ذِي وَإِمَّا النَّائَيِهْ

Sama maknanya dengan أو, yaitu Imma yang kedua seperti dalam contoh ini, imma dzi waimma naa iyyah (adakalanya orang ini atau orang yang jauh itu)

Lihat referensi;

عباس حسن، النحو الوافي، ج٣, ص٦٠١-٦١٥
_______

8. Huruf (لَكِنْ) = Tetapi

A. Kandungan makna

Penghubung yang memiliki arti berlawanan ( استدراك ). Fungsinya mengikat Ma’tuf ‘Alaih dan Ma’tuf berada dalam suatu kalimat berlawanan (Menetapkan hukum Ma’tuf dan meralat Ma’tuf ‘Alaih)

B. Syarat dan ketentuan لكن ‘Athaf

قال ابن مالك
وَأَولِ لكِنْ نَفْيَاً أو نَهْيَاً وَلاَ #  نِدَاءً أو أَمْرَاً أوِ اثْبَاتَاً تَلاَ

‘Athafkan Huruf لكن dengan didahului Nafyi atau Nahyi, dan Athafkan Huruf Laa dengan didahului Nida’ atau ‘Amr dan Isbat

Keterangan: ‘Athaf لكن dan لا menyatu dalam satu bait. Untuk penjelasan لا menyusul dibawah.

1). Harus didahului Nafyi (pengecualian)

Contoh:

مَاأَكَلْتُ لَحْمًا لَكِنْ سَمَكًا

Aku tidak makan daging tetapi ikan

مَا: حرف نفي
أَكَلْتُ : فعل، فاعل
لَحْمًا : مفعول به + معطوف عليه
لَكِنْ : حرف عطف مبني على السكون
سَمَكًا : معطوف

2). Harus didahului Nahyi (larangan)

Contoh:

لاَ تَأْكُلْ لَحْمًا فَجًّا لَكِنْ نَاضِجًا

Jangan kau makan daging mentah tetapi daging masak

لاَ : نهي
تَأْكُلْ : مضارع مجزوم
لَحْمًا : مفعول به + منعوت
فَجًّا : نعت + معطوف عليه
لَكِنْ : حرف عطف مبني على السكون
نَاضِجًا : معطوف على “فَجًّا”

3). Bentuk Ma’tuf untuk لكن hanya berupa Mufrad (bukan kalimat/jumlah)

4). Tidak didahului Huruf Wawu ‘Athaf, Jika didahului maka bukan merupakan لكن ‘Athaf melainkan Ibtida/istidrak

Contoh:

قوله تعالى
وَما ظَلَمْناهُمْ وَلكِنْ كانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ. البقرة ٥٧

جملة “وَما ظَلَمْناهُمْ” : معطوف عليه
و : حرف عطف
لكن : حرف ابتداء / استدراك مبني على السكون
جملة “كانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ” : معطوف

||| Lihat perbedaan  لَكْنْ dan لَكِنَّ 


9. Huruf (لا نفي) = Bukan

A. Kandungan makna

Penghubung yang mengandung arti pengecualian, fungsinya mengikat Ma’tuf ‘Alaih dan Ma’tuf, dimana hukum Ma’tuf ‘Alaih ditetapkan dan Ma’tuf dikecualikan

Contoh:

نَجَحَ المُجْتَهِدُ لاَ الكُسُوْلُ

Orang rajin itu yang sukses bukan pemalas

Kata rajin (Ma’tuf ‘Alaih) ditetapkan dan kata pemalas (Ma’tuf) dikecualikan sebab dimasuki لا

Contoh ‘Irab:

نَجَحَ : فعل
المُجْتَهِدُ : فاعل + معطوف عليه
لا : حرف عطف ونفي مبني على السكون
الكُسُوْلُ : معطوف

B. Syarat dan ketentuan

1). Bentuk Ma’tuf untuk ‘Athaf لا hanya berupa Mufrad (bukan kalimat/jumlah)

Jika tidak memenuhi syarat ini, maka Huruf لا tidak dianggap ‘Athaf + Nafyi melainkan hanya Nafyi saja dan kalimat setelah لا hukum ‘irabnya independen (tidak menjadi Ma’tuf).

Contoh:

تصبان الممالك بالجيوش والأعمال، لا تصان بالخطب والآمال.

Lihat:

عباس حسن، النحو الوافي، ج٣, ص ٦١٩

2). Kalimat sebelumnya harus positif (bukan negatif seperti didahului Nafyi). Kalimat positif mencakup kalimat perintah dan nida (panggilan).

  • Contoh kalimat positif biasa seperti

نَجَحَ المُجْتَهِدُ لاَ الكُسُوْلُ

  • Contoh kalimat positif perintah

اِضْرِبْ خَالدًا لاَ زَيْدًا

Pukulah Kholid bukan Zaid

  • Contoh kalimat positif Nida (Panggilan)

يَا خَالدُ لا زَيْدُ

Hai khalid, bukan zaid

4). Salah satu Ma’tuf dan Ma’tuf ‘Alaih tidak boleh dari isim jenis bermakna ganda

Contoh:

مَدَحْتُ رَجُلًا لاَ قَائِدًا ❌

Aku memuji seorang lelaki bukan komandan

Lelaki adalah isim yang menunjukan jenis banyak dan komandan merupakan bagian dari lelaki. Jadi tidak boleh ber’athaf satu sama lain baik berada diposisi Ma’tuf atau Ma’tuf ‘Alaih.

Lebih jelas perhatikan contoh lain:

أَكَلْتُ تُفَّاحًا لاَ فَاكِهَةً ❌

Aku memakan apel bukan buah

Tidak boleh seperti diatas karna apel bagian dari pada buah.

5). Huruf ‘Athaf لا tidak boleh disatukan dengan Huruf ‘Athaf lainya, jika terjadi maka لا bukan huruf ‘athaf lagi tapi hanya nafyi

Contoh:

أَسَابِيْعُ الشَّهْرِ ثَلاَثَةٌ، لاَ بَلْ أَرْبَعَةٌ ❌

Jumlah minggu dalam sebulan adalah 3, (bukan) (tapi) empat

أَيَّامُ الأُسْبُوْعِ سِتَّةٌ لاَ بَلْ سَبْعَةٌ❌

Jumlah hari dalam seminggu adalah 6, bukan tapi 7

Pada kedua contoh diatas terdapat dua ‘Athaf rangkap لا dan بل jadi huruf لا hanya sebagai Nafyi.

Perhatikan ‘Irabnya:

أَيَّامُ : مبتدأ + مضاف
الأُسْبُوْعِ : مضاف إليه
سِتَّةٌ : خبر + معطوف عليه
لاَ : حرف نفي
بَلْ : حرف عطف
سَبْعَةٌ : معطوف على خبر “سِتَّةٌ”

6). Huruf ‘Athaf لا tidak boleh diulang dalam satu kalimat, namun harus diiringi dengan ‘Athaf Wawu dan status لا hanyalah nafyi (bukan ‘athaf)

Contoh:

حَضَرَ خَالدٌ لاَ زَيْدٌ لاَ مَحْمُوْدٌ ❌
حَضَرَ خَالدٌ وَ لاَ زَيْدٌ وَ لاَ مَحْمُوْدٌ ⁦✔️⁩
__________

10. Huruf (بَلْ) Tetapi

A. Kandungan makna

Makna dan hukum Huruf بَلْ dipengaruhi kata atau kalimat setelahnya, dia bisa mengandung arti pernyataan perpindahan ( الإضْرَاب الانتقاليّ ) atau pernyataan pembatalan (الإضْرَاب الإبطالى)

1). Ibthali (الإبطالى) berfungsi mengikat dua kalimat, dimana hukum kalimat pertama dibatalkan karena tidak benar dengan kalimat kedua. Dalam hal ini huruf بل bermakna لا

Contoh:

الأَجْرَامُ السَّمَاوِيَّةُ ثَابِتَةٌ، بَلْ الأَجْرَامُ السَّمَاوِيَّةُ مُتَحَرِّكَةٌ

Planet planet itu diam, tidak (sebenarnya) Planet planet itu bergerak (berotasi)

Perhatikan ‘Irabnya:

الأَجْرَامُ السَّمَاوِيَّةُ ثَابِتَةٌ: مبتدأ + خبر
بَلْ : حرف إضراب إبطالي / ابتداء
الأَجْرَامُ السَّمَاوِيَّةُ مُتَحَرِّكَةٌ : مبتدأ + خبر

Dalam AlQuran

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا سُبْحَانَهُ بَلْ عِبَادٌ مُكْرَمُونَ. الأنبياء ٢٦

Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai) anak”, Maha Suci Allah. Tidak, sebenarnya (malaikat-malaikat itu), adalah hamba-hamba yang dimuliakan

2). Intiqali (الانتقالى) berfungsi mengikat dua kalimat, dimana kalimat pertama awalnya menjadi maksud sasaran lalu setelah adanya huruf بل sasaran ini berpindah ke kalimat kedua tanpa merubah dan membatalkan status hukum kalimat pertama.

Contoh:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى (١٤) وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى بَلْ تُؤْثِرُونَ (١٥) الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى. سورة الأعلى

Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman, dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang (Tetapi) kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.

Maksud sasaran dalam kalimat pertama diatas adalah keta’atan, bersuci dari dosa dan ibadah shalat kemudian beralih kepada kalimat kedua menjadi cinta terhadap dunia.

B. Syarat dan ketentuan ‘Athaf بل

1). ‘Huruf ‘Athaf بل hanya dikhususkan untuk menghubungkan bentuk Mufrad

Contoh:

مَارَأَيتُ خَالِدً بَلْ زَيْدًا

Aku tidak melihat kholid, tetapi zaid

Perhatikan ‘Irabnya:

مَارَأَيتُ خَالِدً بَلْ زَيْدًا

مَا: حرف نفي
رَأَيتُ : فعل، فاعل
خَالِدً : مفعول به + معطوف عليه
بل : حرف عطف مبني على السكون
زَيْدًا : معطوف على “خَالِدً”

2). Jika بل dipakai menghubungkan antara kalimat, maka huruf بل bukan menjadi ‘Athaf tapi Ibtida. Jadi dalam meng-‘irabnya cukup pakai kata للإضراب الانتقاليّ atau للإضراب الإبطالي tanpa mencantumkan kata ‘Athaf

Contoh:

بَلْ يُرِيدُ كُلُّ امْرِئٍ مِنْهُمْ أَنْ يُؤْتى صُحُفاً مُنَشَّرَةً. المدثر ٥٢

بل : للإضراب الانتقاليّ

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى ، وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى، بَلْ تُوثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا

بل : للإضراب الانتقاليّ

Lihat referensi:

عباس حسن، النحو الوافي، ج٣ ،ص ٦٢٤

3). Ketika بل didahului kalimat positif atau perintah, dia berfaidah mengecualikan Ma’tuf ‘Alaih dan beralih ke hukum Ma’tuf

  ابن مالك
وَانْقُل بِهَا لِلثَّانِ حُكْمَ الأَوَّلِ #  فِي الخَبَرِ المُثْبَتِ وَالأَمْر الجَلِي

Pindahkanlah hukum yang pertama kepada yang kedua melalui بل dalam kalimat berita yang mutsbat (positif) dan kalimat (kata perintah).

Contoh:

أَعْدَدْتُ الرِّسَالَةَ بَلْ القَصِيْدَةَ
لَبِسْتُ المِعْطَفَ بَلْ الثِيَابَ
عَاوِنْ المُحْتَاجَ بَلْ الضَعِيْفَ

Kata الرِّسَالَةَ/المِعْطَفَ/المُحْتَاجَ semuanya dikecualikan lalu menetapkan hukum القَصِيْدَةَ/الثِيَابَ/الضَعِيْفَ

4). Ketika بل didahului kalimat negatif (didahului nafyi atau nahyi), dia berfaidah membenarkan hukum Ma’tuf ‘Alaih lalu menetapkan hukum Ma’tuf, dalam hal ini bermakna لكن

قال ابن مالك
وَبَل كَلكِنْ بَعْدَ مَصْحُوبَيْهَا # كَلَمْ أكُنْ فِي مَرْبَعٍ بَل تَيْهَا

Huruf بل sama dengan لكن ketika didahului nafyi dan nahyi seperti “Lam Akun Fi Marba’in Bal Taihan” (aku tidak berada dalam kebun tetapi padang sahara)

Contoh:

مَازَرَعْتُ الرُّزَ بَلْ القَطَنَ

Aku tidak menanam padi tetapi kapas

Tidak menanam padi itu benar karna yang ditanam adalah kapas

لاَ تَأكُلْ السَّمَاكَ بَلْ اللحمَ

Jangan kau makan ikan tetapi daging.

5). Tidak boleh menggunakan بل dalam kalimat yang didahului Istifham (pertanyaan)

Contoh:

أَحَفِظْتَ القُرْآنَ بَلْ الحَدِيْثَ ❌

Apakah kau menghafal AlQuran tetapi Hadist ❌

6). Dalam keadaan tertentu, boleh masuk Huruf wawu setelah بل namun jarang dipergunakan.

Contoh perkataan Saidina ‘Ali R.A:

إِنَّمَا يَحْزَنُ الحَسَدَةُ أَبَدًا؛ لِأَنَّهُمْ لاَ يَحْزَنُوْنَ لَمَّا يَنْزِلُ بِهِمْ مِنَ الشَّرِ فَقَطْ، بَلْ وَلَمَّا يَنَالُ النَّاسُ مِنَ الخَيْرِ

Orang-orang hasad itu merasa berduka selamanya karna mereka tidak hanya sedih ketika mendapatkan keburukan saja, tetapi juga ketika orang lain mendapatkan kebaikan.

Lihat referensi:

الجندي وزميليه, سجع الحمام، في حكم الإمام, ص ١٢٨
__________

IV. Hukum Membuang Huruf ‘Athaf dan Ma’tuf

قال ابن مالك
وَالفَاءُ قَدْ تُحْذَفُ مَعْ مَا عَطَفَتْ  #  وَالوَاوُ لاَ لَبْسَ وَهْيَ انْفَرَدَتْ

Fa ‘Athaf dan Wawu ‘Athaf terkadang dibuang berserta Ma’tufnya sebab tidak terjadi kekeliruan pemahaman dan Wawu ‘Athaf memiliki keistimewaan tersendiri.

Dalam syarat dan ketentuan masing-masing huruf ‘athaf sudah disinggung bahwa khusus untuk Wawu dan Fa ‘Athaf boleh dibuang dan bahkan bersamaan dengan Ma’tufnya jika tidak menimbulkan salah pemahaman. Contohnya bisa dilihat kembali pada kedua syarat huruf tersebut.


V. Hukum Membuang Ma’tuf

Ini perluasan dari yang sudah sedikit disinggung pada spesifikasi Huruf ‘Athaf Wawu.

قال ابن مالك
بِعَطْفِ عَامِلٍ مُزَالٍ قَدْ بَقِي  #  مَعْمُولُهُ دَفْعَاً لِوَهْمٍ اتُّقِي

‘Amil yang di’athafkan boleh dibuang, sedangkan ma’mulnya masih tetap ada untuk menolak kesalah fahaman.

Ma’tuf boleh dibuang ketika Ma’tuf ini berupa ‘Amil dan yang nampak tinggal Ma’mulnya, baik (Ma’mul ini) dalam posisi Rafa’, Nashab atau Jar

Huruf ‘Athaf yang memiliki keistimewaan menghubungkan Ma’tuf (yang dibuang) dengan Ma’tuf ‘Alaih hanya Huruf Wawu.

Sebelumnya fahami apa itu Amil dan Ma’mul

Amil adalah sesuatu yang menghukumi dan mempengaruhi Ma’mul dalam hal ‘Irab, seperti : Fi’il, Huruf Jar, Perangkat Syarat, ‘Amil Nawashib, Jawazim dll.

Ma’mul adalah kata atau kalimat yang dihukumi dan dipengaruhi oleh ‘Amil dalam hal ‘irab, seperti: Fa’il, Isim Majrur, Maf’ul Bih dkk.

Contoh:

ذَهَبَ خَالدٌ إِلى المَدْرَسَةِ

ذَهَبَ : عامل
خَالدٌ : معمول
إِلى : عامل
المَدْرَسَةِ : معمول

Baik kita lanjut ke contoh Ma’tuf yang dibuang berupa ‘Amil

1). ‘Amil dibuang dan menyisakan Ma’mul dalam keadaan Rafa’

Contoh:

اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ

Lafadz زَوْجُ adalah Ma’mul dalam keadaan Rafa’ sebagai Fa’il dari ‘Amil yang dibuang lafadz ( لِيَسْكُن )

‘Amil yang dibuang ini menjadi Ma’tuf dan dihubungkan oleh Wawu kepada Ma’tuf ‘Alaih kalimat ( اسْكُنْ أَنْتَ )

‘Irab:

اسْكُنْ أَنْتَ : معطوف عليه
وَ : حرف العطف
زَوْجُكَ : فاعل لفعل مخدوف تقديره  لِيَسْكُن زوجك” و الجملة المقدرة معطوفة على ” أسكن

Contoh ‘irabnya hanya diambil bagian yang sesuai pembahasan ‘Athaf saja, tidak terperinci setiap kata. Silahkan dikembangkan sendiri buat latihan.

2). ‘Amil dibuang dan menyisakan Ma’mul dalam keadaan Nashab

Contoh:

قوله تعالى : وَالَّذِينَ تَبَوَّأُوا الدَّارَ وَالْأِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ

Lafadz الْأِيمَانَ adalah Ma’mul dalam keadaan Nashab sebagai Maf’ul Bih dari ‘Amil yang dibuang dengan perkiraan lafadz ( ألفوا )

‘Amil yang dibuang ini menjadi Ma’tuf dan dihubungkan oleh Wawu kepada Ma’tuf ‘Alaih kalimat ( تَبَوَّأُوا الدَّارَ )

‘Irab:

تَبَوَّأُوا : معطوف عليه
وَ : حرف العطف
الْأِيمَانَ : مفعول به لفعل محذوف تقديره ” ألفوا الإيمان ” والجملة المقدرة معطوفة على “تبؤوا

3). ‘Amil dibuang dan menyisakan Ma’mul dalam keadaan Majrur

Contoh:

مَا كُلُّ السَّوْداءِ فَحْمَةٌ، وَلاَ البَيْضَاءِ شَحْمَةٌ

Tidak setiap yang hitam itu arang dan tidak setiap yang putih itu lemak

Lafadz البَيْضَاءِ adalah Ma’mul dalam keadaan Majrur dari ‘Amil yang dibuang lafadz ( كُلُّ )

‘Amil yang dibuang ini menjadi Ma’tuf dan dihubungkan oleh Wawu kepada Ma’tuf ‘Alaih kalimat ( كُلُّ السَّوْداءِ )

VI. Hukum membuang Ma’tuf ‘Alaih

قال ابن مالك
وَحَذْفَ مَتْبُوعٍ بِدَا هُنَا اسْتَبِحْ #  وَعَطْفُكَ الفِعْلَ عَلَى الفِعْلِ يَصِحّ

Diperbolehkan membuang Matbu’ (Ma’tuf ‘Alaih) dan dianggap sah meng’athafkan Fi’il pada Fi’il lainnya.

Boleh membuang Ma’tuf ‘Alaih sendirian jika tidak berpotensi salah faham. Ini berlaku untuk yang dihubungkan dengan Huruf ‘Athaf ( الواو، الفاء ، أم متّصلة ، لا )

1). Contoh ketika Ma’tuf ‘Alaih dibuang dan tersisa Wawu ‘Athaf dan Ma’tufnya

خالد : مَرْحَبًا بِكَ يَا زَيْدُ
زيد : بَكَ وَأَهْلاً وَسَهْلاً

Jawaban Zaidan menunjukan terdapat Ma’tuf ‘Alaih yang dibuang yaitu kata مَرْحَبًا

Perhatikan ‘Irabnya:

بَكَ وَأَهْلاً وَسَهْلاً

بَكَ : متعلق بكلمة “مرحبا” المخدوفة
الواو : حرف العطف
أَهْلاً : معطوف على كلمة “مرحبا” المخدوفة
الواو : حرف العطف
سَهْلاً : معطوف على كلمة “مرحبا” المخدوفة

Kalimat kumplit:

مَرْحَبًا بِكَ وَأَهْلاً وَسَهْلاً

|||Untuk ‘Irab kalimat keseluruhan sudah dibahas dalam Pasal Maf’ul Bih 

2). Contoh ketika Ma’tuf ‘Alaih dibuang dan tersisa Fa ‘Athaf dan Ma’tufnya

أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ. محمد ١٠

‘Irab:

والتقدير: أمكثوا فلم يسيروا
أ : حرف الاستفهام
مكثوا : معطوف عليه المخدوفة
الفاء : حرف العطف
لم : حرف النفي والجزم
يسيروا : معطوف على الفعل المخدوف ” مكسوا

Terjemah setelah menampakan perkiraan fi’il yang dibuang:

Maka apakah mereka (berdiam saja) tidak mengadakan perjalanan di muka bumi sehingga mereka dapat memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka.

3). Contoh ketika Ma’tuf ‘Alaih dibuang dan tersisa Am ‘Athaf Muttashilah dan Ma’tufnya

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ. العمران ١٤٢

‘Irab:

والتقدير: أعلمتم أن دخول الجنة يسير أم حسبتم أن تدخلوا الجنة
أعلمتم أن دخول الجنة يسير : معطوف عليه المخدوف
أم : حرف العطف
حَسِبْتُمْ : معطوف على المخدوف أعلمتم

Terjemah setelah menampakan perkiraan fi’il yang dibuang:

Apakah kalian -wahai orang-orang mukmin (apakah kalian mengira bahwa masuk surga itu mudah atau kalian mengira akan masuk surga tanpa ujian dan kesabaran yang memperlihatkan siapa orang-orang yang benar-benar berjihad di jalan Allah dan bersabar terhadap cobaan yang mereka hadapi di medan jihad?

4). Contoh ketika Ma’tuf ‘Alaih dibuang dan tersisa La ‘Athaf dan Ma’tufnya

عَاهَدْتُ نَفْسِي أَنْ أَعْمَلَ الخَيْرِ … لا قليلا، وَأَنْ أَقُوَل الحَقَّ … لاَ بَعَضَ الأَوْقَاتِ

Pada titik-titik terdapat dua Ma’tuf ‘Alaih yang dibuang. Isinya (كثيرا dan كل الأوقات)

Kalimat lengkap:

عَاهَدْتُ نَفْسِي أَنْ أَعْمَلَ الخَيْرِ كَثِيْرًا لاَ قَلِيْلاً، وَأَنْ أَقُوَل الحَقَّ كُلَّ الأَوْقَاتِ لاَ بَعَضَ الأَوْقَاتِ

Aku berjanji pada diriku untuk melakukan banyak amal kebaikaan (tidak sedikit), dan akan mengucapkan kebenaran disetiap waktu (bukan sebagian waktu)


VII. Pemisah antara Ma’tuf dan Ma’tuf ‘Alaih

Dari penjelasan sebelumnya kita ketahui bahwa Ma’tuf dan Ma’tuf ‘Alaih boleh berupa Mufrad, Jumlah dan Syibhul Jumlah. Baik itu Isim Dzahir kepada Isim Dzhari, Fi’il kepada Fi’il dll. Dan yang akan dibahas disini yaitu kaidah apabila Ma’tuf ‘Alaih berupa Dhamir

قال ابن مالك
وَإِنْ عَلَى ضَمِيْرِ رَفْعٍ مُتَّصِل # عَطَفْتَ فَافْصِل بِالضَّمِيْرِ المُنْفَصِل # أَو فَاصِلٍ مَّا وَبِلاَ فَصْلٍ يَرِدْ # فِي النَّظْمِ فَاشِيْاً وَضَعْفَهُ اعْتَقِدْ

Ibnu Malik berkata: “Apabila meng’athafkan kepada dhamir Rafa’ Muttashil, maka pisahkanlah dengan Dhamir Munfashil atau dengan pemisah apapun. Sering terjadi di dalam Syair tidak memakai pemisah, namun yakinilah bahwa hal tersebut dianggap lemah.

Bait ini menjelaskan bahwa jika kita ingin meng’athafkan Ma’tuf kepada Ma’tuf Alaih yang berupa Dhamir Rafa’ Muttashil baik Mustatir atau Bariz, baik dalam keadaan Rafa’ atau Jar. Maka ada dua opsi yang bisa dilakukan.

1). Menambahkan pemisah dengan Taukid (Lafdzi atau Maknawi) diantara Ma’tuf dan Ma’tuf ‘Alaih.

a). Contoh: Apabila Ma’tuf ‘Alaih berupa Dhamir Muttashil Bariz Marfu’ lalu dipisah dengan Taukid Lafdzi

كُنْتَ أَنْتَ وَصَدِيْقُكَ مُجْتَهِدَيْنِ

Kamu dan kawanmu rajin

Dhamir pada كُنْتَ disebut Dhamir Rafa’ Muttashil Bariz sebagai Ma’tuf ‘Alaih dan Dhamir أَنْتَ disebut Dhamir Rafa’ Munfashil Bariz sebagai Taukid Lafdzi yang berfungsi memisahkan Ma’tuf ,Alaih dan Ma’tufnya.

Perhatikan ‘Irabnya:

كُنْتَ : فعل ماض ناقص ناسخ واسمه, والتاء” هي الضمير المرفوع المتصل البارز وهي معطوف عليها
أنت : توكيد لفظي
الواو : حرف العطف
صَدِيْق : معطوف على ” الضمير المرفوع المتصل البارز” وهو مضاف
الكَاف : مضاف إليه
مجتهدين : خبر كان

b). Contoh: Apabila Ma’tuf ‘Alaih berupa Dhamir Muttashil Mustatir Marfu’ lalu dipisah dengan taukid lafdzi

اُسْكُنْ أَنْتَ وَأَخُوْكَ فِي بَيْتِي

Tinggalah kamu dan saudaramu di rumah ku

Dhamir pada اُسْكُنْ disebut Dhamir Rafa’ Muttashil Mustatir sebagai Ma’tuf ‘Alaih dan Dhamir أَنْتَ disebut Dhamir Rafa’ Munfashil Bariz sebagai Taukid Lafdzi yang berfungsi memisahkan Ma’tuf ,Alaih dan Ma’tufnya. Kemudian Wawu sebagai Penghubung dan lafadz أخو sebagai Ma’tuf.

‘Irab:

اُسْكُنْ أَنْتَ وَأَخُوْكَ فِي بَيْتِي
اُسْكُنْ : فعل الأمر مبني على السكون، وفاعله مستتر تقديره أنت
أنت : توكيد لفظي
الواو : حرف العطف
أَخُوْ : معطوف على ” الضمير المرفوع المتصل المستتر” وهو مضاف
الكَاف : مضاف إليه
فِي بَيْتِي : الجار و المجرور متعلق ب ” اُسْكُنْ”

Catatan: Untuk contoh yang dipisah taukid Maknawi tinggal ulangi saja lafadz Ma’tuf ‘Alainya, misalkan :

اُسْكُنْ اُسْكُنْ وَأَخُوْكَ فِي بَيْتِي

2). Menambahkan pemisah dengan mengulangi Huruf Jar atau mengulangi Mudhaf atau menambahkan Huruf Laa Nafyi

a). Contoh: Apabila Ma’tuf ‘Alaih berupa Dhamir Muttashil Bariz Majrur dengan huruf Jar lalu dipisah dengan cara mengulangi Huruf Jar

ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ وَهِيَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلْأَرْضِ ائْتِيَا طَوْعًا أَوْ كَرْهًا قَالَتَا أَتَيْنَا طَائِعِينَ . فصلت ١١

Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati”.

Perhatikan ‘Irabnya:

Dhamir الهاء pada لَهَا adalah Dhamir Muttashil Bariz Majrur dengan Huruf Jar Lam, posisi dia menjadi Ma’tuf ‘Alaih untuk Ma’tuf lafadz الأرض Jadi untuk memisahkan keduannya (Ma’tuf dan Ma’tuf ‘Alaih), mesti mengulangi huruf Jar yang sama sebagai pemisah

اللام : حرف الجار
الهَاء : ضمير متصل بارز مجرور بحر الجار
الواو : حرف العطف
اللام : حرف الجار
الأرض : معطوف على ضمير ” الهَاء

b). Contoh: Apabila Ma’tuf ‘Alaih berupa Dhamir Muttashil Bariz Majrur dengan Idhafat lalu dipisah dengan cara mengulangi Mudhaf

قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آبَائِكَ. البقرة ١٣٣

Mereka berkata: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu”

Perhatikan ‘Irabnya:

Dhamir الكاف pada إِلَهَكَ adalah Dhamir Muttashil Bariz Majrur dengan Idhafat. Dia menjadi Mudhaf Ilaih dan juga Ma’tuf ‘Alaih untuk Ma’tuf lafadz آبَائِكَ . Jadi untuk memisahkan keduanya, mesti mengulangi Mudhaf ‘Ilah yang sama pada Ma’tuf dan Ma’tuf ‘Alaih

‘Irab sebagian pendapat:

نَعْبُدُ : فعل و فاعل
إِلَهَ : مفعول به + مضاف
الكاف : ضمير متصل بارز مجرور ، وهو مضاف إليه + معطوف عليه
الوَاو : حرف العطف
إِلَهَ : مضاف
آبَاء : مضاف إليه + معطوف على ضمير متصل مستتر بارز مجرور
الكاف : ضمير متصل بارز مجرور ، وهو مضاف إليه

‘Irab Jumhur Ulama:

نَعْبُدُ : فعل و فاعل
إِلَهَ : مفعول به + مضاف
الكاف : ضمير متصل بارز مجرور ، وهو مضاف إليه
جملة “إِلَهَكَ” معطوف عليه
الوَاو : حرف العطف
إِلَهَ : مضاف
آبَاء : مضاف إليه
الكاف : ضمير متصل بارز مجرور ، وهو مضاف إليه
جملة ” إِلَهَ آبَائِكَ” معطوف على  إِلَهَكَ

Perkiraan kalimat:

نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَآبَائَكَ

c). Contoh: Apabila Ma’tuf ‘Alaih berupa Dhamir Muttashil Bariz Marfu’ dipisah dengan La Nafyi

سَيَقُولُ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا أَشْرَكْنَا وَلا آبَاؤُنَا. سورة الأنعام ١٤٨

Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, akan mengatakan: “Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya

Dhamir نحن pada أَشْرَكْنَا adalah Dhamir Muttashil Bariz Marfu, Dia menjadi Fa’il dan juga Ma’tuf ‘Alaih untuk Ma’tuf lafadz آبَاؤُنَا. Untuk memisahkan keduanya (Ma’tuf dan Ma’tuf ‘Alaih)maka ditambahkan prmisah “Laa Nafyi”

‘Irab:

أَشْرَكْنَا: فعل ماض مبني على السكون لاتصاله بنا الدالة على الفاعلين والنا : ضمير بارز متصل مرفوع مبني على السكون في محل رفع فاعل
الواو : حرف العطف
جملة “لا آبَاؤُنَا” معطوف على جملة  أَشْرَكْنَا

|||Untuk perluasan Dhamir-dhamir ini lihat pada pasal Taukid.


Pembahasan Kedua: ‘Athaf Bayan ( عطف بيان)

I. Definisi Athaf Bayan

Dari banyaknya definisi ‘Athaf Bayan, kita ambil tiga yang lebih mudah difahami.

اِسْمٌ غَير صفة يكشف عن المراد كشفها أتى به لبيان الأول. ¹

“Athaf Bayan adalah Isim (bukan sifat) untuk menjelaskan maksud Isim pertama

فَذُو الْبَيَانِ تَابعٌ شِبْهُ الصِّفَهْ # حَقِيقَةُ الْقَصْدِ بِهِ مُنْكَشِفَهْ ²

Athaf Bayan adalah Tabi’ yang menyerupai sifat berfungsi untuk menjelaskan hakekat yang dimaksud agar terungkap

هو التَّابِع الَّذي يَأتي لتوضيْحِ أَوْ لِتَخِصِيْصِ وَيَخْتَلِفُ عَنِ الصفة تكون مشتقة أو مؤولة بمشتق، أمّا عطف البيان فلا يكون إلا جامدًا³

Athaf Bayan adalah Tabi’ yang berfungsi untuk penjelas atau pengkhususan, jika bentuk sifat adalah Musytaq atau Muawwal Bil Musytaq, maka untuk ‘Athaf Bayan adalah Jamid.

________________
[1] ابن الحاجب، الإيضاح في شرح المفصل، ج١، ص ٤٥٣
[2] ابن مالك، ألفية باب العطف
[3] عباس حسن، النحو الوافي، ج ٣،ص ٥٤١

Kesimpulan Definisi:

‘Athaf Bayan adalah Isim yang mengikuti Isim sebelumnya dalam hal ‘Irab bentuknya Jamid (bukan seperti sifat yang dibentuk Isim Musytaq seperti Isim Fa’il, Isim Maf’ul dkk. Atau Sifat yang ditakwil dari bentuk Mashdar, fungsi ‘Athaf Bayan untuk memperjelas, mengkhususkan agar Isim pertama (Mat’bu) lebih jelas.

Contoh 1:

جَاءَ خَالدٌ أَخُوْكَ

kholid (saudaramu)telah datang

جَاءَ : فعل
خَالدٌ : فاعل + متبوع / معطوف عليه
أَخُوْكَ : عطف البيان / معطوف

Lafadz أَخُوْكَ adalah ‘Athaf Bayan berfungsi menjelaskan bahwa yang datang itu Kholid saudaramu bukan kholid yang lain.

Contoh 2:

أَلْقَى الأستاذُ كَلِمَةً حِكْمَةً أَمَامَ الطُّلابِ لِيَجْتَهِدُوا فِي دِرَاستهم

Seorang Guru menyampaikan kalimat wejangan di depan para murid agar mereka giat belajar.

أَلْقَى الأستاذُ : فعل + فاعل
كَلِمَةً : مفعول به + متبوع / معطوف عليه
حِكْمَةً : عطف البيان / معطوف

Lafadz حِكْمَةً adalah ‘Athaf Bayan yang berfungsi mengkhususkan bahwa perkataan yang disampaikan berupa wejangan.

Perhatikan kedua contoh diatas, kata yang dipakai ‘Athaf Bayan lebih spesifik dibandingkan Isim yang diikutinya. Kata “kholid” meskipun makrifat namun belum bisa dipastikan kholid yang mana sebab kholid bukan satu. Kata “wejangan” lebih khusus dari pada”kalimat” sebab wejangan bagian dari pada kalimat. Ini salah satu yang membedakan antara ‘Athaf Bayan dan Badal. Akan diperluas dibawah.

II. Fungsi ‘Athaf Bayan

a). Penjelas

يُفِيْدُ تَوْضِيْح المَتْبُوْع إن كان معرفة ¹

‘Athaf Bayan berfungsi sebagai penjelas apabila Matbu’nya Makrifat

Contoh:

جَاءَ أَبُو حَفْصٍ عُمَرُ
وَصَل خالدٌ أَخُوكَ
مَرَرْتُ بِالمُجْتَهِدِ زَيْدٍ
رَأيتُ الجَمِيْلَ إِبْرَاهِيْمَ

Perhatikan Lafadz-lafadz أَبُو حَفْصٍ / خالدٌ / لمُجْتَهِدِ / الجَمِيْلَ semuanya makrifat, lalu diperjelas dengan ‘Athaf Bayan lafadz عُمَرُ / أَخُوكَ / زَيْدٍ / إِبْرَاهِيْمَ

b). Pengkhususan

يُفِيْدُ تخصيص المَتْبُوْع إن كان نكرة وقد يكون عطف البيان ومتبوعه نكرتين²

‘Athaf Bayan berfungsi sebagai Pengkhusus apabila Matbu’nya Nakirah dan terkadang keduanya Nakirah.

Contoh:

سَمِعْتُ كَلِمَةً خُطْبَةً يَوْمَ الجُمْعَةِ

Aku mendengar kalimat (khutbah) pada hari jumat

Lafadz كَلِمَةً Nakirah (Matbu’) lalu diperkhusus dengan lafadz خُطْبَةً yang juga Nakirah (‘Athaf Bayan)

أَوْ كَفَّارَةٌ طَعَامُ مَسَاكِينَ. سورة المائدة ٩٥

Atau (dendanya) membayar kaffarat makanan (dengan memberi makan orang-orang miskin)

Lafadz كَفَّارَةٌ Nakirah ( Matbu’) lalu diperkhusus dengan lafadz طَعَامُ yang Makrifat sebab Idhafat (‘Athaf Bayan)

Referensi:

[1] ابن هشام، شرح شذور الذهب، ص ٤٠٦
[2] الأشموني، شرح الأشموني، ج ٢, ص ٣٥٦
__________

III: Hukum Kesesuaian antara ‘Athaf Bayan dan Matbu’nya

a). Kesesuaian dari segi tanda ‘irab Rafa, Nashab dan Jar keduanya mesti sesuai

Contoh:

وَصَل خالدٌ أَخُوكَ
رَأيْتُ خَالدًا أَخَاكَ
مَرَرْتُ بِخَالدٍ أَخِيْكَ

جاءَ المُجْتَهِدُ خَالدٌ
رَأيْتُ المُجْتَهِدَ خَالدًا
مَرَرْتُ بِالمُجْتَهِدِ خَالدٍ

b). Kesesuaia dari segi Nakirah dan Makrifat

Sebagian Ulama Basrah ada yang mengkhususkan ‘Athaf Bayan dan Matbu’nya harus Makrifat. Kemudian Sebagian Ulama Kuffah membolehkan keduanya Maktifat atau Nakirah. [¹]

Pendapat Jumhur termasuk Ibnu Malik dan Ibnu Hisyab berpendapat: “keduanya boleh berbeda (Makrifat + Makrifat), (Nakirah + Nakirah), (Nakirah + Makrifat)”. [²]

قال ابن مالك
فَقَدْ يَكُونَانِ مُنَكَّرَيْنِ # كَمَا يَكُونَانِ مُعَرَّفَيْنِ

Terkadang ‘Athaf Bayan dan Matbu’ keduanya dalam bentuk Nakiroh dan terkadang keduanya dalam bentuk Makrifat

c). Kesesuaian dari segi Mudzakar dan Muannats keduanya mesti sesuai

Contoh:

جاءَ المُجْتَهِدُ خَالدٌ
جَائَتْ المُجْتَهِدَةُ نُوْرَةٌ
أَلقى الأستاذُ كلامًا خِطَابًا
أَلقى الأستاذُ كَلمةً خُطْبَةّ

d). Kesesuaian dari segi Mufrad,Mutsana dan Jamak

إن عطف البيان يطابق متبوعه من حيث عدده، فإذا كان مفردا كان مفردا، وإذا كان متبوعه جمعا كان جمعا، وإذا كان متبوعه مثنى كان عطف البيان مثنى³

‘Athaf Bayan dan Matbu’nya mesti sesuai dari jumlah personilnya, apabila Matbu’ satu orang, Athaf Bayan juga satu orang. apabila Matbu’ dua atau banyak, Athaf Bayan juga menyesuaikan.

Contoh:

جاءَ المُجْتَهِدُ خَالدٌ
جاءَ المُجْتَهِدَانِ خَالدٌ وَ زَيْدٌ
جاء المُجْتَهِدُوْنَ إخْوَتُكُمْ

Kesimpulan:

Ulama sepakat bahwa ‘Athaf Bayan dan Matbu’ mesti ada kesesuaian dari segi Tanda ‘Irab (Rafa, Nashab dan Jar), (Mudzakar Muannats), (Mufrad, Mutsana, Jamak), adapun dari segi Makrifat dan Nakirah terdapat perbedaan pendapat.

قال ابن مالك
فَأَولِيَنْهُ مِنْ وِفَاقِ الأَوَّلِ #  مَا مِنْ وِفَاقِ الأَوَّلِ النَّعْتُ وَلِي

Perlakukanlah ‘Athaf Bayan sesuai apa yang terdapat pada Matbu’nya sebagaimana memperlakukan Na’at terhadap Man’utnya.


[1] السيوطي، همع الهوامع، ج ٥, ص ١٩١
[2] ابن مالك، شرح التسهيل, ج ٣, ص ٣٢٦ – ابن هشام، شرح قطر الندى، ص ٢٩٨
[3] ابن مالك، شرح التسهيل, ج ٣, ص ٣٢٥

IV: ‘Athaf Bayan VS Badal

1). Sisi persamaan

‘Athaf Bayan dengan Badal menjadi objek pembahasan serius Para Ulama Nahwu. Banyak sekali perbedaan pendapat dalam menentukan apakah dia ‘Athaf Bayan atau Badal.

Bahkan tidak sedikit yang berpendapat :”Apabila di’irab ‘Athaf Bayan, boleh juga di’irab dengan Badal”. Artinya, sisi persamaan keduanya lebih menonjol dari pada perbedaanya.

Maksud badal disini adalah Badal Kul Min Kul (بدل كل من كل)، sebagaimana pendapat Ibnu Hisyam:

جاز إعرابه بدلا، أعنى بدل كل من كل¹

Meskipun hampir dalam setiap keadaan ‘Athaf Bayan boleh di’irab Badal, namun Jumhur Ulama mengecualikan beberapa tempat dimana hanya di’irab dengan ‘Athaf Bayan seperti yang tertera dalam Bait Alfiyah Ibnu Malik, diantaranya:

a). Ketika Tabi’ bentuknya Mufrad , Makrifat dan Manshub, lalu Matbu’nya Mabni Dhammah sebab berada diposisi sebagai Munada Nakirah Maqsudah. [²]

قال ابن مالك
وَصَالِحَاً لِبَدَلِيَّةٍ يُرَى #  فِي غَيْرِ نَحْوِ يَا غُلاَمُ يَعْمُرَا

‘Athaf Bayan jika layak boleh dijadikan Badal kecuali pada contoh “Yaa Ghulamu Ya’muro” (Hai anak muda (alias) Ya’mura

Ya’mura =Nama orang

Dalam hal ini, Ya’mura hanya di’irab sebagai ‘Athaf Bayan sebab jika di’irab Badal maka mesti mengulangi ‘Amil Huruf Nida yang mengharuskan Lafadz Ya’mura Mabni Dhammah [³]

Contoh lain agar tidak pusing dengan nama “Ya’mura” pakai Mas Kholid.

يَا صَدِيْقُ خَالدًا

Hai kawan (alias) Kholid

  • Lafadz صَدِيْقُ adalah Munada, hukum ‘irabnya Mabni Dhammah sebab Munada Nakirah Maqsudah

  • Lafadz خَالدًا betuknya Mufrad (sendiri), Makrifat sebab Isim alam, dan Manshub. Maka ‘Irab yang pantas bagi dia hanyalah ‘Athaf Bayan.

Pertanyaanya: Kenapa lafadz خَالدًا Mansub, bukanya seharusnya Rafa’ dengan Dhmmah sebab menyesuaikan dengan Matbu’ dari segi ‘irab Rafa’, Nashab dan Jar ?

Jawab: Lafadz خَالدًا Manshub sudah sesuai kaidah sebab dia Mu’rab sedangkan lafadz صَدِيْقُ meskipun secara lafadz dia masuk kategori Mu’rab, namun posisinya mengharuskan dia Mabni Dhammah ditempat yang seharusnya Nashab. Dia diikat oleh hukum munada

Lafadz خَالدًا nashab karena dia tidak berada diposisi yang sama seperti صَدِيْقُ maka dia wajib Nashab. Terkecuali jika Huruf Nida diulangi maka Kholid juga ikut Mabni Dhammah.

b). Ketika Tabi’ tidak ber-Alif Lam sedangkan Matbu’ ber-Alif Lam lalu Matbu’ tersebut menjadi Mudhaf Ilaih dari Sifat yang ber-Alif Lam [4]

Bingung 😀

Perhatikan contoh:

أَنَا ابنُ الضَارِبُ الرَّجُلِ خَالدٍ

Aku adalah anak yang memukul lelaki itu (alias) kholid

  • Lafadz خَالدٍ adalah Tabi’ (‘Athaf Bayan) tidak ber-Alif Lam

  • Lafadz الرَّجُلِ adalah Matbu’ ber-Alif Lam dan dia menjadi Mudhaf Ilaih dari Lafadz الضَارِبُ (sifat) ber-Alif Lam.

Dalam kasus seperti ini, Lafadz خَالدٍ hanya berhak di’irab sebagai ‘Athaf Bayan) sebab jika di’irab Badal maka mesti mengulangi ‘Amil lafadz الضَارِبُ. Dan jika diulangi, maka akan merusak kaidah Idhafat, sebab Sifat Ber-Alif Lam tidak boleh diidhafatkan kecuali kepada lafadz yang sama Ber-Alif Lam.

أَنَا ابنُ الضَارِبُ الرَّجُلِ خَالدٍ ✔️
أَنَا ابنُ الضَارِبُ الرَّجُلِ الضَارِبُ خَالدٍ❌

قال ابن مالك
وَنَحْوِ بِشْرٍ تَابِعِ البَكْرِيِّ # وَلَيْسَ أَنْ يُبْدَلَ بِالمَرْضِي

“Dan seperti contoh Bisyrin yang menjadi Tabi’ dari lafadz AlBakri, ini tidak bisa dijadikan sebagai badal”.

Lihat referensi:

[1] ابن هشام، شرح شذور الذهب، ص٤٠٧
[2] عباس حسن، النحو الوافي، ج ٣, ص ٥٤٦
[3] ابن عقيل، شرح ابن عقيل، ج ٢, ص ٢٠٤
[4] السيوطي، همع الهوامع، ج ٥, ص ١٩٤

2). Sisi perbedaan

a). ‘Athaf Bayan bukan berbentuk Dhamir (mesti Isim Dzahir) dan tidak mengikuti Matbu’ Dhamir. Adapun Badal sebaliknya. [¹]

b). ‘Athaf Bayan hanya mengikuti Matbu’ yang Mufrad (bukan Jumlah) Badal terjadi pada keduanya

c). ‘Athaf Bayan dan Matbu’ pada kebanyakan kasus selalu sesuai dari segi Nakirah & makrifat (meski terdapat perbedaan), adapun Badal

[1] ابن هشام، مغني اللبيب، ج٢, ص ٥٢٦ – عباس حسن، النحو الوافي، ج ٣, ص ٥٥٠

V: Antara ‘Athaf Bayan VS Na’at

1). Sisi Persamaan

a). Keduanya memiliki fungsi sama yaitu menjelaskan Matbu’nya, meskipun. ‘Athaf Bayan menjelaskan jati diri Isim Matbu’nya secara langsung, sedangkan Na’at menjelaskan Matbu’nya dengan cara memberikan arti tambahan sifat. [¹]

b). ‘Amil pada keduanya (‘Athaf Bayan dan Na’at) sama seperti ‘Amil pada masing-masing Matbu’nya [²]

[1] ابن هشام، شرح قطر الندى، ٢٩٨
[2] ابن الأنباري، أسرار العربية، ٢٦٢

2). Sisi perbedaan

a). Bentuk ‘Athaf Bayan adalah Isim Jamid, sedangkan Na’at Musytaq. Kalaupun terdapat Isim Na’at bentuknya Jamid, maka dia ditakwil kedalam bentuk Musytaq. [¹]

b). ‘Athaf Bayan menyingkap sekaligus menjadi jawaban siapa jati diri Matbu’ yang sebanarnya, sedangkan Na’at tidak menyingkap jati diri Matbu’ sebab Matbu’ pada Na’at dialah jati diri yang sebenarnya. [²]

[1] الأشموني، شرح الأشموني، ج ٢ ص ٣٥٦
[2] ابن مالك، شرح التسهيل، ج٣, ص٣٢٣

VI: Posisi yang biasa ditempati ‘Athaf Bayan

a). Laqab setelah Isim

جَاء خَالدٌ سَيفُ اللهِ

b). Isim setelah Kunyah

كَرُمَ أبُو حَفْصٍ عُمَرُ

c). Maushuf setelah Sifat

جَاءَ المُجْتَهِدُ خَالدٌ


Alhamdulillah pembahasan Materi ‘Athaf selesai, Insya Allah selanjutnya tentang Badal.

TMBA
Zizo 14-10-2019

1 0

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 4.8 / 5. Vote count: 252

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Subscribe US Now

error: Content is protected !!