Ilmu Nahwu (Sejarah dan Perkembanganya)

Must Read

Macam-Macam Maa (ما), fungsi dan ‘Irabnya

Ada berapa banyak jumlah Maa (ما) dalam bahasa arab dan bagaimana cara penggunaanya dalam kalimat ?. Kira-kira seperti itu...

Mengenal Uslub Qasam (أُسْلُوْبُ القَسَمِ)

Materi uslub qasam (sumpah) yang akan kita bahas meliputi pengertian uslub qasam secara bahasa, istilah, rukun, jumlah (kalimat) qasam,...

Bahasa Arab Mudah atau Sulit?

Bahasa Arab Mudah atau Sulit?  Perkembangan bahasa arab sudah berlangsung lama, bahkan jauh sebelum masehi. Abbas al-Aqqad seperti dikutip...
TMBAhttps://bahasa-arab.com/
Belajar Bahasa Arab tidak semudah membalikan telapak tangan, butuh keseriusan dan istiqomah. Namun tidak ada kata terlambat jika kita ingin ingin mempelajarinya.

5
(1)

Ilmu Nahwu

Gramatika bahasa Arab atau juga disebut dengan istilah Ilmu Nahwu (علم النحو) sejak awal perkembangannya sampai saat ini masih tetap menjadi bahan kajian yang terus berkembang di kalangan para pakar linguistik bahasa Arab.

Dalam praktiknya, Ilmu Nahwu mengenalkan kita bagaimana cara mengetahui ‘Irab (jabatan) sebuah kata dalam kalimat dan bagaimana cara menentukan harakat akhirnya. Kita juga akan dikenalkan bagimana menggabungkan fi’il (kata kerja) dengan Isim (kata benda) dan hurf yang akan melahirkan makna berbeda-beda.

Tujuan Mempelajari Ilmu Nahwu

Seseorang mempelajari Ilmu Nahwu pada dasarnya sebagai sarana/alat untuk mendalami bidang ilmu lain yang referensi utamanya ditulis dalam bahasa Arab, misalnya Ilmu Tafsir, Ilmu Hadits, Ilmu Fiqih dan lainya. Namun Ilmu Nahwu juga dipelajari sebagai tujuan utama ( spesialisasi Linguistik bahasa Arab).

Banyak dari Kalangan Ulama populer seperti Ibnu Katsir, An-Nawawi, Jalaluddin As-Suyuthi, Ibnu Hisyam, dan Az- Zamakhsyari, mereka tidak hanya handal dalam bidang ilmu agama, bahkan juga pakar dalam bidang Ilmu Nahwu. Namun dari kalangan Ulama juga seperti Imam Sibawaih, Al-Farra’, Ibnu Jinny, dan ‘Abbas Hasan dan lainya, mereka lebih populer sebagai pakar dalam bidang Nahwu.

Tidak kalah populer dengan Ulama-Ulama luar, Indonesia juga memiliki banyak tokoh agama yang sangat luar biasa dan mempunyai kemampuan penguasaan ilmu nahwu seperti Syekh Nawawi Banten, Buya Hamka, Prof. Mahmud Yunus, dan K.H. Bisri Musthafa

Dalam perkembanganya, Ilmu Nahwu tidak terlepas dari aliran-aliran madzhab dan fanatisme pendukungnya. Aliran yang paling populer seperti Bashrah, Kufah, Baghdad, Andalusia dan Mesir. Bashrah dan Kuffah adalah dua aliran utama dalam bidang ilmu nahwu yang mendominasi aliran-aliran lain karena keduanya mampu tampil dalam mewarnai perkembangan ilmu nahwu skaligus mereka memiliki otoritas dan independensi yang tinggi.

Di Indonesia, sejalan dengan perkembangan agama Islam, Ilmu Nahwu juga banyak dipelajari, namun dalam pembelajaranya, Ilmu Nahwu di Indonesia pada umumnya lebih cendrung sebagai alat untuk menggali kitab berbahasa Arab (Bukan spesialisasi ilmu nahwu).

Hal ini bisa dilihat dari referensi yang banyak mengedepankan buku-buku yang bersifat instant dan textbook oriented yang substansinya mengacu pada peran nahwu sebagai alat bantu pembelajaran agama (Islam), sementara buku-buku yang bersifat historis teoretis cenderung kurang mendapat perhatian. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika referensi nahwu yang banyak ditemukan di pesantren-pesantren maupun di kalangan perguruan tinggi Islam adalah buku-buku semacam Al- Ajrumiyyah dengan berbagai syarah-nya, Alfiyah Ibnu Malik dengan berbagai syarahnya, dan Al-‘Umrithiy. Sementara, buku-buku yang banyak menyinggung aspek historis seperti Sirru Shina’atil I’rab karya Ibnu Jinny, Al-Mazhar karya Jalaluddin Assuyuthi, dan Mizanudz Dzahab karya Ibnu Hisyam kurang populer.

Pioneer Cikal Bakal Ilmu Nahwu

Mayoritas pakar linguistik Arab bersepakat bahwa penggagas pertama awal berkembang Ilmu Nahwu adalah Ali bin Abi Thalib saat beliau menjadi khalifah. Gagasan ini didasari oleh dua faktor penting yaitu agama dan sosial budaya.

a. Faktor agama adalah usaha penjagaan Al-Qur’an dari lahn (salah baca). lahn ini pernah muncul pada masa Nabi Muhammad masih hidup. Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa ada seorang yang berkata salah (dari segi bahasa) dihadapan Nabi, maka beliau berkata kepada para sahabat:

لحَن أحدهم أمام رسول الله صلى الله عليه وسلم، فقال: أرشِدوا أخاكم؛ فقد ضلَّ

“Bimbinglah teman kalian, sesungguhnya ia telah tersesat“.

Seiring perkembangan bahasa arab dan mulai menyebar ke negara-negara non arab, dimana penomena Lahn prekuensinya semakin lama semakin sering terjadi sehingga dikhawatirkan akan terjadi juga pada waktu membaca Al-Qur’an.

b. Sosial budaya, bangsa Arab berusaha keras untuk memurnikan bahasa Arab dari pengaruh bahasa asing. Tahap demi tahap mereka mulai memikirkan langkah-langkah pembakuan bahasa dalam bentuk kaidah-kaidah. Selanjutnya, dengan prakarsa Khalifah Ali dan dukungan para tokoh yang mempunyai komitmen terhadap bahasa Arab dan Al-Qur’an, sedikit demi sedikit disusun kerangka-kerangka teoritis yang kelak kemudian menjadi cikal bakal pertumbuhan Ilmu Nahwu.

Peletak Dasar Pertama Ilmu Nahwu

Mengenai tokoh peletak batu pertama Ilmu Nahwu, para ahli berbeda pendapat. Sebagian berpendapat adalah Abul Aswad Ad-Du’ali. Dan Sebagian yang lain mengatakan, Nashr bin ‘Ashim. Ada juga yang mengatakan, Abdurrahman bin Hurmus (Dlaif, 1998:13). Mayoritas pendapat dan yang paling populer jatuh pada Abul Aswad Ad-Du’ali didasarkan atas jasa-jasanya yang fundamental dalam membidani lahirnya Ilmu Nahwu.

Abul Aswad Ad-Du’ali (wafat 69 H) adalah tangan kanan pertama yang mendapat mandat dan tugas dari Khalifah Ali bin Abi Thalib untuk menangani dan mengatasi masalah lahn yang mulai mewabah di kalangan masyarakat awam.

Abul Aswad Ad-Du’ali berasal dari penduduk Bashrah yang dikenal dengan kejeniusan otaknya, memiliki wawawan luas dan berkemampuan tinggi dalam bahasa arab. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa suatu ketika, Abul Aswad melihat Ali sedang termenung memikirkan sesuatu, ia mendekatinya dan bertanya: “Wahai Amirul Mu’minin! Apa yang sedang engkau pikirkan?” Ali menjawab: “Aku dengar di negeri ini banyak terjadi lahn, maka aku ingin menulis sebuah buku tentang kaidah dasr bahasa Arab”. Selang beberapa beberapa hari, Abul Aswad kembali mendatangi Ali Bin Abi Thalib dengan membawa lembaran yang bertuliskan antara lain:

الكلام كله: اسم، وفعل، وحرف، فالاسم: ما أنبأ عن المسمى، والفعل: ما أنبأ عن حركة المسمى، والحرف: ما أنبأ عن معنى ليس باسم ولا فعل

Semua kalimat terdiri dari pada isim, fi’il dan harf. Isim adalah kata yang mengacu pada sesuatu (nomina), fi’il adalah kata yang menunjukkan aktivitas, dan harf adalah kata yang menunjukkan makna yang tidak termasuk kategori keduanya.

Dalam riwayat lain, suatu ketika Abul Aswad mendengar seorang membaca ayat Al-Qur’an Surat At Taubah Ayat 3:

أَنَّ اللَّهَ بَرِيءٌ مِّنَ الْمُشْرِكِينَ ۙ وَرَسُولُهُ

Orang itu membaca (kasrah) huruf lam pada rasuluh. Dia baca rasulih yang seharusnya rasuluh (dhammah). Ini adalah lahn (salah baca) yang mengakibatkan salah pula makna ayat. Atas kejadian itu dia kemudian meminta izin kepada Ziyad bin Abieh, Gubernur Bashrah, untuk menulis buku tentang kaidah dasar bahasa Arab.

Baca juga: Belajar Bahasa Arab Mudah atau Sulit?

Diantara riwayat yang cukup populer dan diakui keabsahannya oleh para ahli atas jasa Abul Aswad dalam perkembangam bahasa arab yaitu dengan memberi syakal (tanda baca) pada mushaf Al-Qur’an yang pada awalnya, tulisan Al-Quran sama sekali tidak memiliki tanda baca dan tidak bertitik. Susah membedakan antara Dal dan Dzal, antara Jim, Kho, antara Ro dan Zai, antara Sin dan Syin dan lainya.

Banyak orang yang keliru dalam membaca Al-Qur’an, terutama umat Islam non-Arab (Umam, 1992). Sebab kekhawatiran makin mewabahnya kesalahan membaca, Ziad bin Abi Sufyan kemudian meminta Abul Aswad untuk mencari solusi yang tepat.

Berangkat dari permintaan itu akhirnya Abul Aswad menemukan solusi, yaitu dengan memberi tanda baca dalam Al-Qur’an. Dengan tinta yang warnanya berlainan dengan tulisan Al-Qur’an. Tanda baca itu adalah titik diatas huruf untuk fathah, titik dibawah huruf untuk kasrah, dan titik di sebelah kiri atas untuk dlammah. Karena tanda baca itu berupa titik-titik, maka dikenal dengan sebutan naqthul i’rab (titik penanda i’rab) (Sirajud- din, 1992:33).

Bashrah Merupakan Kota Kelahiran Ilmu Nahwu

Atas jasanya dalam memberi tanda baca mushaf Al-Qur’an, Abul Aswad kemudian dikenal sebagai peletak dasar ilmu I’rab. Setelah itu banyak orang yang datang untuk belajar ilmu qira’ah dan kaidah dasar ilmu i’rab.

Semenjak itu, kota Bashrah dikenal sebagai kota kelahiran Ilmu Nahwu. Banyak melahirkan murid-murid terbaik yang kemudian mereka menjadi generasi penerus yang mengembangkan gagasan-gagasan yang telah dirintisnya, diantara muridnya adalah Anbasah bin Ma’dan yang dikenal dengan panggilan Anbasah Al-fil, Nashr bin ‘Ashim al-Laitsiy (wafat 89H), dan Yahya bin Ya’mur Al-Adwaniy (wafat 129 H). Anbasah kemudian mempunyai seorang murid yang banyak berpengaruh dalam pengembangan Ilmu Nahwu yaitu Maimun Al-Aqran (Al-Fadlali, 1986:26).

Perkembangan Ilmu Nahwu yang sempat dicapai pada masa Yahya bin Ya’mur dan Nashr bin Ashim antara lain adalah:

  • Pembakuan sebagian istilah nahwu, seperti rafa’, nasab, jar, tanwin, dan i’rab
  • Perluasan beberapa pokok bahasan nahwu
  • Mulai dipakainya pendekatan
    nahwiyyah dalam pembahasan masalah-masalah ilmiyah di kalangan para ulama
  • Mulai bermunculannya karangan-karangan dalam bidang
    Ilmu Nahwu, sekalipun masih belum berbentuk buku.

Kota Bashrah juga dikenal dengan kota sebagai pusat kegiatan pengajian dan penelitian di bidang ilmu nahwu. Generasi Pakar Nahwu terus bergulir hingga masa Ibnu Abi Ishaq (wafat 117 H) dan Abu “Amr bin Al-‘Ala’ (wafat 154 H) yang keduanya terus berjuang dalam mengkaji dan meneliti berbagai masalah yang berkaitan dengan nahwu. Merekalah yang mula-mula mengembangkan metode induksi dan deduksi serta analogi dalam penyusunan Ilmu Nahwu.

Dalam mengumpulkan data penelitian, mereka berdua mengunjungi berbagai pelosok jazirah Arab yang bahasanya dianggap masih murni, seperti Nejed, Hijaz, dan Tihamah. Dari daerah-daerah itu mereka pilih kabilah-kabilah yang benar-benar kuat dalam memegang kemurnian bahasa, seperti kabilah Tamim, Qais, Asad, Thayyi’, dan Hudzail.

Kufah Merupakan Kota Mata Rantai Ilmu Nahwu

Perkembangan Ilmu Nahwu di Kufah jauh lebih terlambat dibandingkan dengan Bashrah. Hal ini disebabkan mereka lebih disibukan pada pembacaan AlQuran, pengumandangan syair dan prosa. Mereka sadar atas ketertinggalannya dalam perkembangan ilmu Nahwu dan pada akhirnya Kufah juga menjadi mata rantai dari Ilmu Nahwu yang sudah berkembang terlebih dahulu di Bashrah.

Seorang tokoh Kufah bernama Khalil bin Ahmad al-Farahidi (100-170 H). Ia dikenal sebagai seorang memiliki pengetahuan luas dalam berbagi bidang ilmu dan didukung dengan kecerdasan yang mumpuni, Ilmu Nahwu ia kembangkan sekaligus memperluas gagasan-gagasan dasar Abu Aswad dan para muridnya.

Lahirlah kaidah dasar ilmu nahwu seperti Mubtada’, Khabar, Kana, Inna dan saudara-saudarinya. Ia juga mengklasifikasikan kata kerja kedalam dua bentuk transitif (Fi’il Mutaadi) dan Intransitif (Fi’il Lazim) dan kaidah dasar lainya.

Dalam hal ini Ibnu Salam berkata: “Bashrah lebih dahulu menaruh perhatian terhadap kaidah- kaidah bahasa Arab” (Ibnu Salam, tanpa tahun:12). Senada dengan itu, Ibnu Nadim(dalam Dlaif, 1968:20) mengatakan: “Saya lebih mengutamakan pendapat ulama Bashrah, karena dari merekalah Ilmu Nahwu mula-mula dipelajari”

Kedua aliran Bashrah dan Kufah selalu mengedepankan pendekatan yang berbeda yang menghasilkan sebuah kesimpulan berbeda pula. Keduanya tidak terlepas dari pada alasan dan dalil-dalil. Dalam hal ini aliran Bashrah terkenal dengan pendekatan ta’lil yang cenderung preskriptif sementara Kufah terkenal dengan pendekatan riwayah yang cenderung deskriptif [Fuad Munajad, makalah Nahwu Madzhab Kufah , hlm. 1]

Lihat: Jurnal Adabtyah Vol. X nomor 112010

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Tinggalkan Komentar

Latest News

Macam-Macam Maa (ما), fungsi dan ‘Irabnya

Ada berapa banyak jumlah Maa (ما) dalam bahasa arab dan bagaimana cara penggunaanya dalam kalimat ?. Kira-kira seperti itu...

Mengenal Uslub Qasam (أُسْلُوْبُ القَسَمِ)

Materi uslub qasam (sumpah) yang akan kita bahas meliputi pengertian uslub qasam secara bahasa, istilah, rukun, jumlah (kalimat) qasam,...

Ilmu Nahwu (Sejarah dan Perkembanganya)

Ilmu Nahwu Gramatika bahasa Arab atau juga disebut dengan istilah Ilmu Nahwu (علم النحو) sejak awal perkembangannya sampai saat ini masih tetap menjadi bahan kajian...

Terjemah Bait Alfiyah Ibnu Malik

Biografi Ibnu Malik Jika Kalian pernah mondok di pesantren pasti tidak akan asing dengan nama legendaris seperti Imam Ibnu Malik. Ya Beliau adalah Syeikh Al-Alamah...

Bahasa Arab (Pergi ke Restaurant)

Cerita Pendek Berbahasa Arab menceritakan ketika suatu saat terbangun dari tidur karna merasa perut lapar lalu diajak sama kawan pergi ke rumah makan  ( الْقِصَّةُ...

Kaidah Dzharaf [مفعول فيه]Lengkap dengan contoh dari AlQuran

Maf'ul Fih ( Dzharaf Zaman & Makan) Perhatikan contoh berikut: ضَرَبَ خَالِدٌ الكَلْبَ ثم جَلَسَ Kholid telah memukul seekor anjing Dari contoh di atas,...

More Articles Like This