Kaidah Idhafat (مضاف و مضاف إليه) Lengkap ‘Irab

TMBA
4.8
(368)
Read Time5 Minutes, 28 Seconds

بسم الله الرحمن الرحيم

Hukum ‘Irab قبل dan بعد (Materi Mudhof & Mudhof Ilaih)

Apa itu Idhofat (Mudhof dan Mudhof Ilaih)…?

Perhatikan contoh berikut:

رَأَيْتُ طَالِبَ المَدْرَسَةِ

Aku melihat seorang siswa sekolah

Kalimat طالب المدرسة adalah dua kata (isim) yang disatukan sehingga menjadi kalimat yang memiliki satu arti. Maka disebutlah kalimat seperti diatas dengan Istilah Idhofat.

Dalam pasal Idhafat terdapat dua istilah yaitu Mudhaf (Isim pertama) dan Mudhaf Ilaih (Isim kedua yang disandarkan)

طالب : مضاف
المدرسة : مضاف إليه

1. Definisi

الإضافة نسبة تقع بين اسمين توجب جر الثاني ، ويسمى الأول مضافا ، والثاني مضافا إليه ، بشرط أن يكون الأول نكرة ، والثاني إما أن يكون معرفة فيتم تعريفه ، أو نكرة فيتم تخصيصه

Terjadinya penyandaran antara dua Isim yang melahirkan suatu hukum wajib Jar untuk Isim yang kedua dengan syarat Isim pertama harus Nakirah/Umum dan Isim keduanya Boleh Makrifat atau Nakirah.

Contoh:

طُلّاَبُ المدرسةِ يَتَعَلّمُوْنَ اللُّغَةَ العربيّةَ بجدّيٍ وَ نشاطٍ

Para Siswa Sekolah sedang mempelajari bahasa arab dengan giat dan bersungguh.

‘Irab:

طلّاب : مبتدأ مرفوع وعلامته ضمّة لأنه جمع التكسير وهو مضاف
المدرسة : مضاف اليه مجرور وعلامة جره كسرة

2. Fungsi Idhofat

a. Meringkas الاختصار

Contoh:

ِأَنَا فِى غُرْفَةِ النَوْم

Aku berads di kamar tidur

Kalimat diatas susunanya lebih ringkas, padat dan tidak bertele-tele dibanding dengan kalimat berikut misalkan:

ِأَنَا فِى المَكاَنِ الَّذِي أَنَامُ فِيْه

b. Mengkhususkan (التخصيص)

Fungsi Idhafat untuk mengkhususkan terjadi apabila Mudhof Ilaih Makrifat ” bertanda (ال)”

Contoh:

حَدِيْقَةُ الحَيَوَنَاتِ

kata حديقة masih memiliki arti umum, lalu setelah disandarkan kepada kata الحيوانات menjadi bermakna khusus

c. Mengkhususkan (التخصيص)

Fungsi Idhafat untuk mengkhususkan terjadi juga apabila Mudhaf  Nakirah disandarkan kepada Mudhaf Ilah Nakirah Bertanwin

Contoh:

حديقةُ حيوانٍ / حديقة حيوناتٍ

Perbedaan makna point a & b adalah, jika point a kebun binatangnya sudah tentu namun untuk point b sebaliknya.

3. Kandungan Makna Idhafat

a. Kepemilikan (الملكية)

Contoh:

سيارةُ خالدٍ جميلةٌ

Mobil kepunyaan Kholid keren

Kata سيارة (mobil) masih umum, entah milik siapa, namun ketika ditambahkan kata Mudhaf Ilaih Kholid, maka melahirkan makna kepemilikan yaitu mobil kepunyaan Kholid.

b. Membatasi Bilangan ‘Adad (تمييز العدد)

Contoh:

لِي ثَلاَثُ سَيَارَاتٍ

Tiga mobil yang aku miliki menjadi pembatas/pembeda dari banyaknya mobil yang dimiliki orang lain.

4. Syarat Idhofat

a. Membuang ال التعريف Alif Lam Makrifat dari Isim pertama (Mudhaf)

Contoh:

الكتاب + خالد = كتابُ خالدٍ

b. Membuang Tanwin dari Isim pertama (Mudhaf)

Contoh:

كتابٌ + خالدٌ = كتابُ خالدٍ

c. Membuang Huruf Nun ن dari bentuk Mutsana dan Jamak

Contoh:

طالبان + عِلْمٌ = طَالِبَا علمٍ

رأيتُ طالبَيْنِ + عِلْمٌ = رأيتُ طالبَيْ علمٍ

طَالِبُوْنَ + عِلْمٌ = طَالِبُوْ علمٍ

رأيتُ طالبِيْنَ + عِلْمٌ = رأيتُ طَالِبِي علمٍ

Huruf Nun dibuang dari Mutsana dan Jamak apabila  dijadikan Mudhof, baik dalam keadaan Rafa atau Nashab

4. Pembagian Mudhaf dan Mudhaf Ilaih

قال ابن مالك

وَذِى الإِضَافَةُ اسْمُهَا لَفْظِيَّهْ # وَتِلْكَ مَحْضَةٌ وَمَعْنَوِيَّهْ

Idhofat terbagi menjadi dua bagian yaitu

a. Maknawiyah (معنوية)

Apa itu Idhofat Maknawiyah..?
Adalah Idhafat yang melahirkan makna (ل) kepunyaan, (من) terbuat dari, dan (فى) didalam.

Jika kedua Isim sudah menyatu menjadi Mudhaf dan Mudhaf Ilaih (Idhofat) , maka didalamnya akan tersirat  ketiga makna diatas. ini disebut dengan Idhofat Maknawiyah.

Contoh bermakna kepemilikan

هَذَا كِتَابِى

Ini Buku Saya. Artinya, buku ini kepunyaan saya

Asal susunan sebelum disatukan seperti ini

هَذَا كِتَابٌ لِى

Contoh bermakna (dari)

هذا ثوبُ حريرٍ

Ini Baju Sutra. Artinya, baju ini terbuat dari sutra

Contoh bermakna (di)

ٌجوُّ اليومِ صَافِي

Cuaca hari ini cerah. Artinya, Cuaca dihari ini cerah

b. Lafdiyah (لفظية)

Berbeda dengan Maknawiyah yang didalamnya terdapat siratan ketiga makna diatas, untuk Lafdziyah tidak terdapat pengkhususan dari segi makna.

Terjadinya penyandaran hanyalah untuk tujuan Takhfif Lafadz (Peringanan), baik dengan Tanwin atau membuang huruf Nun Mutsana dan Jama’.

Perhatikan contoh:

هٰذَا الرَّجُلُ طَالِبُ علمٍ
خَالدٌ وَ زَيْدٌ هُمَا طَالِبَا عِلْمٍ
خَالدٌ وَزَيْدٌ وَإِبْرَهِيْمُ هُمْ طَالِبُوُ علمٍ

Perhatikan kata علمٍ dia adalah Mudhof Ilaih, menurut lidah orang Arab lebih ringan diucapkan dibanding apabila susunanya bukan Idhafat, Misalkan:

هذا الرجل طالبُ علمًا

5. Hukum ‘Irab Mudhof & Mudhof Ilaih

Mudhaf di’Irab sesuai posisi dia didalam susunan kalimat, bisa menjadi apapun seperti Mubtada‘, Khobar, Fa’il, Maful Bih dan lainya.

Adapun untuk ‘Irab Mudhof Ilaih, selamanya wajib Majrur, tanda Majrurnya bermacam-macam tergantung bentuk Isimnya.

Mufrad dan Jamak Muannats Salim tandanya dengan kasrah, Mutsana dan Jamak dan Isim Lima tandanya dengan Iya. Bisa dipelajari dalam pasal Alamatul’Irab

Contoh:

رِيَاضُ الجَنّةِ
Taman Syurga
رِيَاضُ الصَالِحِيْنَ
Taman Orang2 Sholih
ابْنُ أَخِيْكَ
Anak SaudaraMu
اتِّفَاقُ / مُوَافَقَةُ الجِهَتَيْنِ
Koalisi dua kubu

6. Hukum Membuang Mudhof

قال ابن مالك
وَمَا يَلِى الْمُضَافَ يَأْتِى خَلَفَا # عَنْهُ فى الإِعْرَابِ إِذَا مَا حُذِفَا

Mudlof Ilaih boleh mengganti posisi Mudhof yang dibuang dan ‘irabnya Mudlof Ilaih tersebut sesuai kedudukan Mudhof yang dibuang, baik menjadi Fa’il, Maful Bih dan lainya.

Syarat Ketentuan:

Mesti terdapat indikasi makna yang tersirat yang menunjukan bahwa telah terjadi pembuangan Mudhof. Hal ini membantu untuk memperkirakan kata apa yang dibuang.

Contoh dalam AlQuran:

قوله : وَجَاءَ رَبُّكَ
قوله : وَاسْأَلِ الْقَرْيَةَ

Mudhof dalam kedua Ayat diatas telah dibuang dan posisinya ditempati Mudhof Ilaih.

Perkiraanya:

قوله : وَجَاءَ أمرُ رَبِّكَ
قوله : وَاسْأَل أهلَ الْقَرْيَةِ

Contoh ‘Irab  setelah dibuang:

رَبُّكَ : فاعل مرفوع، حل محله مضاف اليه وعلامته الضمة لأنه اسم مفرد

الْقَرْيَةَ : مفعول به منصوب، حل محله مضاف اليه وعلامته الفتحة لأنه اسم مفرد

Apakah boleh ketika Mudhof dibuang namun ‘Irab Mudhof Ilaih tidak mengikuti kedudukan ‘Irab Mudhof yang dibuang (alias tetap Jar)….?

قال ابن مالك

وَرُبَّمَا جَرُّوا الَّذِى أَبْقَوْا كَمَا # قَدْ كَانَ قَبْلَ حَذْفِ مَا تَقَدَّمَا # لَكِنْ بِشَرْطِ أَنْ يَكُونَ مَا حُذِفْ # مُمَاثِلاً لِمَا عَلَيْهِ قَدْ عُطِفْ

Terkadang Mudhof Ilaih tetap Jar sebagaimana posisinya seperti ketika sebelum Mudhof dibuang.

Syaratnya:

Mudhof yang terbuang mesti mumatsil ( sama ) dengan mudlof yang menjadi ma’thuf alaih

Contoh dalam Syair:

أَكُلَّ امْرِئٍ تَحْسَبِينَ امْرَأً # ونارٍ تَوَقَّدُ بالليلِ نَارَا

Lihat kata نارٍ tetap Jar dengan kasrah meski Mudhofnya sudah dibuang dengan perkiraan:

وكلَّ نارٍ

Hal ini terjadi setelah melihat susunan kalimat pertama yaitu lafadz ( أَكُلَّ امْرِئٍ) yang merupakan indikasi bahwa lafadz Mudhaf yang dibuang pada Susunan kedua sama lafadznya yaitu kata (كل)

Ini  menjadi syarat dalam memperkitakan mudhaf Ilah yang dibuang pada kalimat kedua

7. Hukum Membuang Mudhof Ilaih

Jika diatas yang dibuang adalah Mudhof, sekang adalah Mudhof Ilaih.

قال ابن مالك

وَيُحْذَفُ الثَّانِى فَيَبْقَى الأَوَّلُ # كَحَالِهِ إِذَا بِهِ يَتَّصِلُ # بَشرْطِ عَطْفٍ وَإِضَافَةٍ إلَى # مِثْلِ الَّذِى لَهُ أَضَفْتَ الأَوَّلاَ

Terkadang Mudhof Ilaih dibuang dan menetapkan hukum Mudhof seperti masa ketika masih berduaan dengan Mudlof Ilaih

Syarat ketentuan:

Mesti memiliki dua rangkaian kalimat Idhafat yang dihubungkan oleh Athof, dimana setiap Mudhaf dalam kedua kalimat tersebut diidhafatkan kepada lafadz Mudhaf Ilah yang sama.

Perhatikan contoh berikut:

قَطَعَ اللهُ يَدَ ورِجْلَ مَن قَالَها

Pada contoh di atas terdapat dua susunan kalimat yang dihubungkan dengan Wawu ‘Athaf yaitu (قَطَعَ اللهُ يَدَ) dan (رجل من قاله). Mudhaf Pada kalimat pertama diidhafatkan kepada lafadz yang sama dengan Mudhaf Ilah pada kalimat kedua yaitu من, Artinya Mudhaf Ilah pada kalimat pertama dibuang.

Perkiraan:

قَطَعَ اللهُ يَدَ مَنْ ورِجْلَ مَنْ قَالَها

8. Mudhof dan Mudhof Ilaih berupa Dhomir

Mudhof hanya boleh berupa Isim Dzahir sedangkan Mudhof Ilaih boleh dan bahkan banyak dijumpai dari bentuk dhomir.

Contoh:

خالد كتابه جديد
كتابه : الهاء : ضمير متصل مبنى فى محل جر مضاف اليه

9. Hukum Harokat  قبل/بعد dkk

Pembahasan lengkap sudah dibahas dalam Pasal Dzharaf (Maf’ul Fih), disini akan dibahas sekilas karena kedua hukum Qabla dan Ba’da tidak terlepas dari kaidah Idhafat.

قال ابن مالك
وَاضمُم بناءً غَيرًا إن عَدِمتَ مَا # لهُ أضِيفَ نَاوِيًا مَا عُدِمَـا# قَبلُ كَـ غَيرُ بَعدُ حَسبُ أوَّلُ # وَدُونُ والجِهَاتُ أيضًا وَعَلُ

Kata غَيْرُ hukumnya Mabni jika Mudhof Ilaihnya dibuang, begitu juga dengan lafadh قَبْلُ , بَعْدُ , حَسْبُ , اَوَّلُ , دونُ , Kata arah enam ( جِهَاتُ السِّتَّةُ ) dan عَلُ itu berlaku seperti غَيْرُ

Contoh:

فِي بِضْعِ سِنِينَ لِلَّهِ الأمْرُ مِنْ قَبْلُ وَمِنْ بَعْدُ وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ

Dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman

kedua lafadz قَبْلُ وَمِنْ بَعْدُ didahului Huruf Jar seharusnya Kasrah, kenapa dhammah ? karena disebabkan adanya Mudhaf Ilaih yang dibuang  yang mengharuskan dia ber’irab Mabni Dhammah.

Perkiraanya:

تقديره: لِلَّهِ الأمْرُ مِن قَبْلِ ذلك, او الغلب وغيرهما

||| Hukum ‘Irab kata قبل، بعد lebih lengkap, Silahkan masuk pada halaman Dzharaf (Maf’ul Fiih)

Lihat referensi:

المفصل فى صيغة الإعراب لأبى القاسم الزمحشرى

10. Faidah dibalik membuang Mudhof / Mudhof Ilaih

a. Al Ittisa’ fil Ma’na (الاتساع فى المعنى)

Makna satu kata dalam Ayat AlQur’an sungguh sangat luar biasa, ini menunjukkan bahwa bahasa Arab mempunyai keaneka ragaman arti dan makna yang sangat dalam. Sebabnya, apabila suatu kalimat tidak bisa lagi dipahami secara haqiqi, maka akan merujuk kaidah majaz untuk bisa memahaminya.

Contoh:

قوله تعالى : واسألِ القَريةَ الَّتِي كُنَّا فِيها وَالْعِيرَ الَّتِي أَقْبَلْنَا فِيهَا ۖ وَإِنَّا لَصَادِقُونَ . يوسف ٨٢

Tanyakan kepada desa yang tadi kita datangi! (QS. Yusuf: 82)

Dalam ayat diatas, yang disebutkan adalah tempat (Desa) namun yang dimaksud adalah penduduknya.

Dalam Ilmu Balaghah ini merupakam indikator dari bentuk Mazaz Mursal Almahaliyah

ذِكْرُ الْمَحَالِ وَإِرَادَةُ الْحَالِ

Yaitu menyebutkan tempat dan yang dimaksud adalah hal atau yang ada di tempat itu.

Tanya kampung dan semua isinya, penduduknya, hewan ternak, tanaman, benda mati dll. Bahwa kamu itu termasuk orang-orang yang benar

Demikian sekilas pembahasan tentang Mudhof dan Mudhif Ilaih. Semoga bermanfaat.

|||Baca juga Hukum Idhofat Isim-Isim kepada Ya Mutakalim

Latihan:

Terjemahkan kedalam Bahasa Arab.

  1. Aku melihat 2 orang pelajar siswa sekolah sesudah subuh

  2. Para Pelajar Sekolah berangkat sebelum pajar terbit.

هذا بالله والتوفيق

Zizo
10-02-2019
Tips Mahir Berbahasa Arab


المراجع

القران الكريم#
تفسير الألوسى،التحليل الموضوعى #
شرح الأشمونى لألفية ابن مالك#
المفصل فى صيغة الإعراب لأبى القاسم الزمحشرى#
النحو التطبيقي#
كتاب اللغة العربية لإعدادي#
تيسير قواعد النحو للمبتدئين لمصطفى محمود الأزهري#

0 0

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 4.8 / 5. Vote count: 368

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Mengenal Gaya Bahasa Sintaksis Ushlub Syarat (أُسْلُوْبُ الشَرْطِ)

4.8 (368) بسم الله الرحمن الرحيم Diawali dengan BismillahiRahmaniRahim semoga senantiasa Kita diberikan kesehatan Rahani & Jasmani. Dan semoga selalu istiqomah dalam menyebarkan kebaikan رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّن لِّسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي Insya Allah pada materi kali ini akan membahas seputar Gaya Bahasa (sintaksis) Uslub […]

Subscribe US Now

error: Content is protected !!