Definisi Kalam Khabari (الكلام الخبري) Fungsi dan Tujuanya

Must Read

Tasybih dalam Ilmu Bayan: Pengertian, Rukun dan Jenisnya

Seperti yang kita kaji di pembahasan sebelumnya dalam Ilmu Bayan dan Tiga Obyek Pembahasannya kita mengenal tiga pokok pembahasan...

Ilmu Bayan dan Tiga Obyek Pembahasannya

Sebelumnya kita telah mengetahui bahwa ada tiga pembahsan utama dalam Ilmu Balaghah. Yaitu; Ilmu Ma’ani, Bayan dan Ba’di. Tulisan...

Definisi Kalam Khabari (الكلام الخبري) Fungsi dan Tujuanya

Objek pembahasan pertama ilmu ma'ani yaitu ahwal isnad al-khabari (أحوال الإسناد الخبري) yaitu berkaitan dengan suatu kalimat khabari (berita/informasi)....
TMBAhttps://bahasa-arab.com/
Belajar Bahasa Arab tidak semudah membalikan telapak tangan, butuh keseriusan dan istiqomah. Namun tidak ada kata terlambat jika kita ingin ingin mempelajarinya.

5
(4)

Objek pembahasan pertama ilmu ma’ani yaitu ahwal isnad al-khabari (أحوال الإسناد الخبري) yaitu berkaitan dengan suatu kalimat khabari (berita/informasi). Lihat artikel sebelumnya: 8 Objek Pembahasan Ilmu Ma’ani

Istilah kalam khabari dan insya’i muncul pada masa Khalifah Al-Ma’mun ketika terjadi perselisihan antara Ahlus Sunnah wal Jama’ah dengan mu’tazilah terkait apakah Al-Quran itu merupakan makluk atau kalamullah.

Aliran Mu’tazilah mengatakan bahwa jika Al-Quran itu wahyu, maka ia adalah makhluk sebab ayat-ayat-Nya tidak terlepas dari kata perintah, larangan dan kabar berita. Ketiga point ini merupakan indikasi bahwa hal tersebut adalah baru (makhluk). Dari sinilah, mulai muncul definisi-definisi terkait suatu kalimat khabar dilihat dari isi kandunganya benar atau bohong.

Definisi Kalam Khabari (معنى الكلام الخبري)

  • Pendapat Al-Nidham (mu‟tazilah)

صدق الخبر أو كذبه هو في مطابقته لاعتقاد المخبر أو عدم مطابقته، فالخبر عنده يكون صادقا بشرط مطابقته لاعتقاد المخبر حتى ولو كان ذلك الاعتقاد خطأ في الواقع. وكذلك يكون الخبر عنده كاذبا بشرط عدم مطابقته لاعتقاد المخبر حتى ولو كان ذلك الاعتقاد صوابا في الواقع

Kabar berita yang benar adalah suatu kabar yang sesuai dengan keyakinan mutakallim (pembawa kabar) walaupun keyakinan itu salah. Dan kabar yang bohong adalah yang tidak sesuai dengan keyakinan mutakallim walupun pada kenyataannnya benar. Artinya, suatu kabar dikatakan benar atau bohong tergantung keyakinan si pembawa kabar.

Seseorang yang menginformasikan suatu kabar kepada orang lain, lalu setelahnya terungkap bahwa kabar tersebut tidak sesuai dengan kenyataan, maka tidak disebut kebohongan menurut “Al-Nidham” melainkan suatu kesalahan.

  • Pendapat Al-Jahid (murid Al-Nidham)

الخبر عنده ثلاثة أقسام وهو صادق، كاذب، غير صادق وكاذب. فالخبر الصادق عنده هو المطابق للواقع مع الاعتقاد بأنه مطابق، والخبر الكاذب هو الذي لا يطابق الواقع مع الاعتقاد بأنه غير مطابق. أما الخبر غير الصادق والكاذب هو أربعة أنواع

/الخبر المطابق للواقع مع الاعتقاد بأنه غير مطابق
/الخبر المطابق للواقع بدون الاعتقاد
/الخبر غير المطابق للواقع مع الاعتقاد بأنه مطابق
الخبر غير المطابق للواقع بدون الاعتقاد

Kabar berita menurut Al-Jahid terbagi tiga antara benar, bohong dan tidak keduanya. Kabar benar yaitu kabar yang sesuai dengan kenyataan dan diyakini. Kabar bohong yaitu kabar yang tidak sesuai dengan kenyataan dan diyakini. Sedangkan kabar yang tidak termasuk benar dan salah terbagi empat yaitu

  • Kabar yang diyakini tidak sesuai, namun ternyata sesuai kenyataan.
  • Kabar tanpa diyakini, namun sesuai kenyataan
  • Kabar yang diyakini sesuai, namun ternyata tidak
  • Kabar tanpa diyakini dan tidak sesuai kenyataan

Pendapat Al-Jahid intinya sama dengan Al-Nidham yaitu benar dan salahnya suatu kabar dikaitkan dengan keyakinan mutakallim (si pembawa kabar)

  • Pendapat Ahli Balaghah

كلام يحتمل الصدق والكذب في ذاته، احتمال الخبر للصدق والكذب إنما يكون بالنظر إلى الكلام الخبري ذاته دون النظر إلى المخبر والواقع، ومن الأخبار ما هو مقطوع بصدقه لا يحتمل الكذب وما هو مقطوع بكذبه لا يحتمل الصدق

Kalam Khabari adalah suatu kalimat yang kemungkinan mengandung berita benar maupun bohong dalam dzatnya. Artinya, Kemungkinan suatu kabar benar atau bohong tidak terkait dengan si pembawa kabar ataupun kesesuaian dengan kenyataan. Namun, ukuran benar dan salah terdapat pada berita itu sendiri. Sebabnya, ada berita yang benar mutlaq dan tidak mungkin bohong seperti Kalamullah, Sabda Nabi, atau perkataan semisal ‘air laut itu asin“, langit itu di atas kita dan bumi dibawah. Dan ada juga berita bohong dan tidak mengandung kebenaran. Misalkan “jumlah hari dalam seminggu 5 hari, amanah itu sifat jelek” dan lainya.

Struktur Kalam Khabari (تركيب الخبر)

Suatu Kabar/kalam/berita/kalimat/informasi memiliki struktur yang tidak terlepas dari yang namanya musnad dan musnad ilaih atau mahkum bih dan mahkum ‘alaih. Baik kalimat tersebut berupa jumlah ismiyyah (didahului dengan kata isim) atau jumlah fi’liyyah (didahului kata kerja fi’il).

Contoh 1: Musnad + musnad ilaih pada jumlah fi’liyyah

جَاءَ خَالدٌ

Kholid telah datang.

Orang yang dihukumi dan disandarkan dengan kabar kedatangan yaitu mas Kholid, sebab tidak ada seorang pun dalam kalimat tersebut kecuali dia. Dengan begitu, Kholid disebut dengan istilah Musnad Ilah المسند إليه atau Mahkum ‘Alaih المحكوم عليه (yang disandarkan/dihukumi dengan kata ‘datang’) Dan kata ‘datang’ sendiri disebut dengan istilah Musnad (المسند) atau Mahkum bih (المحكوم به)

Contoh 2: Musnad + musnad ilaih pada jumlah ismiyyah

النَّاجِحُ مَسْرُوْرٌ

Orang yang sukses bergembira.

النَّاجِحُ : المحكوم عليه / مسند إليه
مَسْرُوْرٌ : المحكوم به / المسند

Point ini nanti akan diperluas pada objek pembahasan ilmu ma’ani pasal ke-2 Musnad dan musnad ilaih.

Fungsi Kalam Khabari

a. Fungsi kalam khabari pada struktur jumlah ismiyah memiliki 3 fungsi yaitu: Al-tsubut (الثبوت), Al-dawam (الدوام), Al-istimrar (الاستمرار) yaitu menunjukkan pengertian yang kekal, tetap dan continue. Misalkan perkataan:

الشَّمْسُ مُضِيْئَةٌ

“Matahari adalah sesuatu yang menyinari”. Artinya, matahari tetap bersinar dan kekal.

Firman Allal Ta’ala:

إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ (١٣) وَإِنَّ الْفُجَّارَ لَفِي جَحِيمٍ (١٤) سورة الانفطار

Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti, mereka kekal dan continue dalam surga yang penuh keni’matan (13) dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka, mereka kekal dan continue berada dalam neraka.

Catatan:

Ketiga fungsi di atas berlaku untuk pola struktur jumlah ismiyyah yang khobarnya berbentuk mufrad atau berupa jumlah ismiyyah. Adapun apabila khobarnya berupa jumlah fi’ilyyah, maka fungsinya berubah menjadi At-tajaddud (التجدد). Misalkan;

خَالدٌ ضَرَبَ زَيدًا في المدرسةِ

Kholid telah memukul zaid di sekolah.

Kalimat di atas berupa susunan jumlah ismiyyah yang didahului dengan Isim (mubtada‘) dan khabar dari mubtada yaitu kalimat (ضرب زيدا) berupa jumlah fi’liyyah. Dengan begitu, fungsinya tidak lagi kekal, tetap dan continue, melainkan At-tajaddud (التجدد). Artinya, pemukulan yang dilakukan mas Kholid terhadap Om Zaid tidak kekal dan tidak juga terus-menerus, namun pemukulan yang terjadi di masa lampau.

b. Fungsi kalam khabari pada struktur jumlah fi‟liyah berfungsi At-tajaddud (التجدد) dan Al-huduts (الحدوث), yaitu menunjukkan peristiwa yang berubah-ubah
sesuai dengan waktunya (Madhi, Hal dan Mustaqbal). Misalkan:

عَادَ خَالدٌ إلى قَريتِهِ / يَعُوْدُ خَالدٌ إلى قَريتِهِ / سَيَعُوْدُ خَالدٌ إلى قَريتِهِ

Kholid telah mudik ke kampungnya / Kholid sedang mudik ke kampungnya / Kholid akan mudik ke kampungnya

Kalimat berita seperti ini (yang didahului kata kerja fi’il) tidak memberikan faidah apapun untuk si mukhattab (lawan bicara) kecuali sebuah informasi terkait waktu mudik yang telah, sedang atau akan dilakukan kholid

Tujuan Kalam Khabar (أغراض الخبر)

a. Faidah Al-khabar (فائدة الخبر)

فائدة الخبر : إفادة المخاطب الحكم الذي تضمنته الجملة أو العبارة يجهلها

Yaitu menyampaikan suatu informasi kepada mukhathab (penerima), dimana informasi tersebut sama sekali belum diketahui oleh mukhattab. Artinya, informasi yang disampaikan si mutakkalim di luar pengetahuan si mukhathab. Dengan kondisi seperti ini, maka si mutakallim (selaku pembawa informasi), dia dituntut menyampaikanya dengan benar selama si mukhatab belum mengetahuinya. Informasi ini mencakup ilmu pengetahuan, sejarah, agama, seni, budaya dan lainya.

Contoh:

كان عمر بن الخطاب تولّى الخلافة الإسلامية بعد وفاة أبي بكر الصديق في ٢٣ أغسطس سنة 634 م، الموافق للثاني والعشرين من جمادى الآخرة سنة 13 هـ

Umar Bin Khattab menahkodai khilafah islamiyyah setelah wafatnya Abu Bakar Siddiq pada bulan 23 Agustus, Tahun 634 M, bertepatan tanggal 22 Jumadi Akhirah, Tahun 13 H.

Penyampaian Informasi sejarah seperti ini dimaksudkan untuk memberitahu mukhathab terkait sejarah khilafah Umar Bin Khatab.

b. Lazimah Al-faidah (لازمة الفائدة)

لازمة الفائدة : إفادة المخاطب أن المتكلم عالم بالحكم

Yaitu menyampaikan suatu informasi kepada mukhathab (penerima), bahwa mutakallim juga telah mengetahui informasi yang disampaikanya. Artinya, informasi yang disampaikan si mutakkalim sama sekali bukan untuk tujuan memberitahu si mukhathab tentang haqiqat informasi tersebut, sebab si mukhathab sudah mengetahuinya. Melainkan hanya untuk menginformasikan kepada si mukhattab bahwa si mutakkalim juga mengetahui informasi tersebut.

Contoh sederhana;

قال خالد لزيد : أنْتَ ضَرَبْتَ الكلبَ أمسِ

Kholid berkata kepada Zaid : ” Kau kemarin memukul seekor anjing”.

Si pembawa kabar yaitu kholid dan si penerima kabar yaitu Zaid. Kholid menyampaikan kabar tersebut bukan bermaksud menyampaikan informasi agar zaid mengetahuinya, namun Khalid bermaksud memberitahu Zaid bahwa dia (Khalid) juga mengetahui bahwa zaid memukul anjing. Adapun Zaid sendiri sudah tentu mengetahui hal tersebut, sebab dialah pelakunya. Artinya, si penerima kabar sama sekali tidak mendapatkan faidah dari informasi yang disampaikan.

Pola kalam khabari atau informasi seperti ini (Lazimah Al-faidah) pada umumnya untuk ungkapan sebuah pujian, celaan atau teguran.

Tujuan kalam khabar tidak terbatas untuk Faidah Al-khabar dan Lazimah Al-faidah, terdapat juga beberapa tujuan lainya diantaranya:

  • Idzhar Al-Dha’fi (إظهار الضغف)

Untuk tujuan menunjukan ketidak mampuan, seperti kisah Nabi Jakariya dalam Firman Allah Ta’ala:

قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُن بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا. مريم ٤

Dia (Zakaria) berkata, “Ya Tuhanku, sungguh tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku

  • Istirham/Isti’thaf (استرحام / استعطاف)

Untuk tujuan meminta belas kasihan, seperti kisah Nabi Musa dalam Firman Allah Ta’ala

فَسَقَىٰ لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّىٰ إِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ. القصص ٢٤

“Maka dia (Musa) memberi minum (ternak) kedua perempuan itu, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan (makanan) yang Engkau turunkan kepadaku.”

Contoh dalam Syair Mutanabbi:

دَعَوتُكَ عِندَ اِنقِطاعِ الرَجاءِ # وَالمَوتُ مِنّي كَحَبلِ الوَريدِ # دَعَوتُكَ لَمّا بَراني البَلاءُ # وَأَوهَنَ رِجلَيَّ ثِقلُ الحَديدِ

  • Idzhar Al-Tahassur/At-tahazzun (إظهار التحسر أو التحزن)

Untuk tujuan menunjukan suatu kenistaan atau kesedihan seperti kisah dilahirkanya Siti Maryam as dalam Firman Allah Ta’ala:

فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ إِنِّي وَضَعْتُهَا أُنثَىٰ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنثَىٰ ۖ وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ. العمران ٣٦

“Maka ketika melahirkannya, dia berkata, “Ya Tuhanku, aku telah melahirkan anak perempuan.” Padahal Allah lebih tahu apa yang dia lahirkan, dan laki-laki tidak sama dengan perempuan. ”Dan aku memberinya nama Maryam, dan aku mohon perlindungan-Mu untuknya dan anak cucunya dari (gangguan) setan yang terkutuk.”

  • Al-Madh (المدح) Untuk tujuan memuji
  • Al-Hatsu ‘Alahjadd (الحث على الجد) Untuk tujuan memotivasi
  • Al-Fakhru (الفخر) Untuk tujuan kebanggaan
  • At-tabdzir (التدبير) Untuk tujuan memberikan perhatian

Sumber: kitab Ilmu Ma’ani karya DR. Abdul Aziz ‘Atiiq, Hal 50-65

Cara Penyampaian Kalam Khabari (أضرب الخبر)

Dalam menyampaikan sebuah kabar/informasi baik untuk tujuan Faidah Al-khabar maupun Lazimah Al-faidah, seorang mutakallim dituntut agar mengetahui kondisi lawan bicara/penerima kabar (mukhathab) dengan cara mengemukanan informasi secukupnya (tidak ditambah dan tidak juga dikurangi).

Terdapat 3 kondisi si penerima kabar (mukhathab) dalam menerima sebuah informasi:

  • Ibtida’iyan/Permulaan (ابتداءي)

أن يكون المخاطب خالى الذهن من الحكم، وفي هذه الحالة يلقى إليه الخبر خاليا من أدوات التوكيد

Apabila mukhathab tidak ragu dan tidak mengingkari informasi yang disampaikam (khali al-dzihn), maka kalimat khabar tidak mesti memakai alat taukid (penegas), Contoh

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا. الكهف ٤٦

  • Thalabi/Tuntutan (طلبي)

أن يكون المخاطب مترددا وشاكا في الحكم وينبغي الوصول إلى اليقين في معرفته، وفي هذه الحالة يحسن توكيده له لتمكن من نفسه ويحل فيها اليقين محل الشك

Apabila mukhatab merasa ragu namun dia ingin sekali mengetahui haqiqat informasi tersebut, maka sebaiknya kalimat disampaikan dengan memakai alat taukid agar hilang keragunya. Contoh

يا خالد، أنت ناجح في الامتحان

Apabila kholid ragu dengan kabar kelulusan dia dalam ujian, sebaiknya tambahkan taukid, misalkan

يا خالد، أنت لناجح في الامتحان / يا خالد، إنَّكَ ناجح في الامتحان

Firman Allah Ta’ala:

إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

  • Inkari/Pengingkaran (إنكاري)

أن يكون المخاطب منكرا لحكم الخبر ففي هذا الحال يجب أن يأكد له الخبر بمأكد أو أكثر على حسب درجة إنكاره من جهة القوة وا الضعف

Apabila mukhatab mengingkari informasi yang disampaikan, maka wajib memakai satu alat taukid atau lebih sesuai dengan kuat dan lemahnya pengingkaran tersebut. Contoh:

يا خالد، أنت ناجح في الامتحان

Apabila kholid ingkar (tidak percaya sama sekali) dengan kabar kelulusanya, maka wajib menambahkan 1 atau lebih taukid, misalkan

يا خالد، إنك ناجح في الامتحان / يا خالد، إنك لناجح في الامتحان / يا خالد، والله إنك لناجح في الامتحان

Firman Allah Ta’ala:

قَالُوا رَبُّنَا يَعْلَمُ إِنَّا إِلَيْكُمْ لَمُرْسَلُونَ. يس ١٦

Alat untuk mentaukid (mempertegas) bisa menggunakan perangkat seperti Lam Ibtida, Qad, qasam, nun taukid, huruf zaaidah, huruf tanbih dan lainya. Atau mentaukid dengan mengulang-ulang kata.

Wallahu’alam.

Pembahasan selanjutnya In Syaa Allah masih seputar kalam yaitu “Kalam Insya’i” yang mencakup thalabi dan ghair thalabi.

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 4

No votes so far! Be the first to rate this post.

Tinggalkan Komentar

Latest News

Tasybih dalam Ilmu Bayan: Pengertian, Rukun dan Jenisnya

Seperti yang kita kaji di pembahasan sebelumnya dalam Ilmu Bayan dan Tiga Obyek Pembahasannya kita mengenal tiga pokok pembahasan...

Ilmu Bayan dan Tiga Obyek Pembahasannya

Sebelumnya kita telah mengetahui bahwa ada tiga pembahsan utama dalam Ilmu Balaghah. Yaitu; Ilmu Ma’ani, Bayan dan Ba’di. Tulisan...

Juha Penjual Kain Sutra

جُحَا بَائِعُ الحَرِيْرِ Juha Penjual Kain Sutra قَالتْ زَوْجَةُ جُحَا : خُذْ هٰذَ الحَرِيْرَ وَبِئْهُ لَنَا فِي السُّوْقِ، قَالَ جُحَا : اطْمَئِنِّى فَإِنِّي سَوْفَ آتِى لَكِ...

Dialog Bahasa Arab Ketika Belanja di Pasar

Buku " Ta'bir Silsilah Ta'lim Al- Lughah Al-Arabiyyah Mustawa Dua"   (كتاب تعبير سلسلة تعليم اللغة العربية (المستوى الثانى Buku yang diterbitkan Universitas Islam Muhammad bin...

Syarah Kitab Atta’rif Bi Dharuri Attashrif

الكتاب : شرح التعريف بضروري التصريف المؤلف : ابن إيّاز (المتوفى: 681 هـ) تحقيق : أ. د. هادي نهر - أ. د. هلال ناجي الناشر...

Mengetahui Kata kerja Perintah (Fi’il ‘Amr)

KATA KERJA PERINTAH فعل الأمر Bentuk redaksi perintah didalam Bahasa Arab terdapat 4 bentuk antara lain: الأمر / الطلب يأتي بأربعة صيغٍ 1. Dengan redaksi bentuk Fi'il Amr...

More Articles Like This