Definisi dan ‘Irab Isim Mutsanna (المُثَنَّى)

0
172
Advertisement
5
(1)

Apa itu Mutsanna?

Perhatikan contoh-contoh berikut: 

ذَهَبَ الطَّالِبَانِ إِلَى المَدْرَسَةِ / رَأَيْتُ الطَّالِبَيْنِ أَمَامَ المَدْرَسَةِ / سَلِّمْ عَلى الطَّالِبَيْنِ الجَالِسَيْنِ أَمَامَ المَدْرَسَةِ

Dua siswa pergi ke sekolah / Aku melihat dua siswa di depan sekolah / Sampaikanlan salamku kepada dua siswa yang duduk di depan sekolah

Apabila kita perhatikan dari ketiga contoh kalimat di atas terdapat kata-kata yang menunjukan kepada dua orang seperti (الطَّالِبَانِ dan الطَّالِبَيْنِ ). Kedua bentuk kata seperti ini disebut dengan istilah Isim Mutsanna.

A. Ta’rif Mutsanna

اسم يدل على اثنين متفقين في الحروف والحركات والمعنى بسبب زيادة في آخر الكلمة، وهذه الزيادة هي الألف وبعدها نون مكسورة، أو الياء وقبلها فتحة، وبعدها نون مكسورة.

Isim mutsanna adalah isim yang menunjukkan arti dua yang sesuai dari segi huruf atau lafadz, harokat dan makna. Isim ini ditandai dengan tambahan dua huruf di akhir kata yaitu huruf Alif yang setelahnya huruf Nun berharokat kasrah dan tambahan huruf Ya’ yang huruf sebelumnya berharakat Fathah dan huruf Nun setelahnya berharokat kasrah.

Perhatikan contoh:

طَالِبٌ + طَالِبٌ = طَالِبَانِ
مُجْتَهِدٌ + مُجْتَهِدٌ = مُجْتَهِدَانِ

Kata (طَالِبٌ + طَالِبٌ) lafadznya sama, harokatnya sama dan maknanya juga sama. Lalu digabungkan dengan menambahkan huruf Alif dan Nun maka jadilah Mutsanna (طَالِبَانِ) yang menunjukkan arti dua

B. Isim-Isim yang tidak termasuk Mutsanna

Isim-isim yang tidak memenuhi syarat dan kriteria sebagaimana tertera dalam definisi mereka tidak termasuk Isim Mutsanna.

Isim-isim tersebut diantaranya:

  • Setiap Isim Mufrad (bermakna tunggal). Contoh:

نَجْمٌ / كِتَابٌ / قَلامٌ / رَجْلاَن / شَعْبَانُ

Bintang / Buku / Pena / Berjalan kaki / Ular

Meskipun شعبان dan رجلان secara dzahir berakhiran Alif dan Nun namun secara makna keduanya menunjukan arti tunggal. Maka tidak masuk kriteria Isim Mutsanna.

Advertisement
  • Setiap isim yang menunjukan arti lebih dari dua (Isim Jamak). Contoh

نُجُوْمٌ / صَنْوَانُ/ قَوْمٌ

Bintang2 /anakan pohon kembar / kaum

  • Setiap isim yang menunjukan arti dua namun individu tunggalnya berbeda. Contoh

أَبَوَيَنِ

Kedua orang tua (ayah dan ibu)

Satu الأب + satu الأم berbeda lafadz sehingga tidak masuk kriteria Isim Mutsanna

  • Setiap isim yang menunjukan arti dua namun harokat huruf pada bentuk tunggalnya berbeda. Contoh

عُمَرُ + عَمْر = عُمَرَيْنِ

Dalam hadits Rasul Shalalahu’alaihiwasallam yang dimaksud dengan عُمَرَيْنِ adalah Umar Bin Khattab dan ‘Amru bin Hisyam (Abu Jahal).

  • Setiap isim yang menunjukan arti dua namun dari segi makna berbeda. Contoh

القَمَرَيْنِ

Bulan dan Matahari 

Arti yang benar yaitu kata القمر pertama dimaksudkan bulan dan kata القمر kedua dimaksudkan matahari. Dengan begitu tidak masuk Isim mutsanna

  • Setiap isim yang menunjukan arti dua yang secara lafadz, huruf, harokat dan makna semuanya sesuai namun cara penggabunganya bukan dengan penambahan Alif dan Nun, melainkan dengan cara menambahkan wawu ‘Athaf. Contoh

أَضَاءَ نَجْمٌ وَ نَجْمٌ / جَاءَ خَالِدٌ وَ خَالِدٌ

Dua bintang bersinar / Dua kholid datang

Isim-isim seperti ini juga tidak masuk kelompok mutsanna

  • Setiap isim yang menunjukan arti dua secara makna namun tidak terdapat tanda penambahan Alif dan Nun. Contoh

شَفْعٌ

Bilangan ganjil (bisa diartikan dua)

C. I’rob Isim Mutsanna

Isim mutsanna memiliki tanda i’rob far’iyyah berupa huruf yaitu

  • Rafa’ dengan Alif (pengganti dari dhommah) yang setelahnya huruf Nun berharakat Kasrah. Contoh

جَاءَ الطَّالِبَانِ مِنَ المَدْرَسَةِ

جاء : فعل ماضي مبنى على الفتح
الطَّالِبَانِ : فاعل مرفوع وعلامة رفعه الألف نيابة عن الضمة لأنه مثنى
مِنَ المَدْرَسَةِ : جار ومجرور متعلقان بفعل جاء

  • Nashab dengan Ya’ (pengganti dari fathah) yang sebelumnya terdapat huruf berharakat Fathah dan setelahnya huruf Nun berharakat Kasrah

رَأَيْتُ الطَّالِبَيْنِ أَمَامَ المَدْرَسَةِ

  • Jar dengan Iya (pengganti dari kasroh) yang sebelumnya terdapat huruf berharakat Fathah dan setelahnya huruf Nun berharakat Kasrah

سَلِّمْ عَلى الطَّالِبَيْنِ الجَالِسَيْنِ أَمَامَ المَدْرَسَةِ

D. Isim-Isim Mulhaq Mutsanna

Mulhaq Mutsanna adalah isim-isim yang secara haqiqi bukan merupakan isim mutsanna namun dia nampak mirip mutsanna. Untuk ‘Irab Isim-isim seperti ini mengikuti ‘Irab Isim Mutsanna yaitu marfu’ dengan alif (pengganti dari dhommah), manshub dengan Ya’ (pengganti dari fathah), dan majrur dengan Ya’ (pengganti dari kasroh).

Berikut Isim-Isim yang termasuk kelompok Mulhaq:

  • Itsnani اثْنَانِ (Mudzakkar) dan Itsnatani اثْنَتَانِ Muannats

Kedua isim ini hukum i’robnya mengikuti mutsanna baik dia menyendiri maupun murokkab (menyatu) dengan isim lain, seperti yang terjadi pada bilangan belasan (11-19).

Contoh ketika menyendiri:

جَاء اثْنَانِ مِن الطُّلابِ / رأيتُ اثْنَيْنِ مِن الطُّلابِ / مَرَرْتُ بِاثْنَيْنِ مِن الطُّلابِ

Datang  dua orang siswa / aku melihat dua orang siswa / aku berpapasan dengan dua orang siswa

جَاءَتْ اثْنَتَانِ مِنَ الطَّالِبَاتِ / رأيتُ اثْنَتَيْنِ مِنَ الطَّالِبَاتِ / مَرَرْتُ بِاثْنَتَيْنِ مِنَ الطَّالِبَاتِ

Datang  dua orang siswi / aku melihat dua orang siswi / aku berpapasan dengan dua orang siswi

Contoh ketika murakkab:

جَاء اثْنَا عَشَرَ طَالِبًا / رأيتُ اثْنَى عَشَرَ طَالِبًا / مَرَرْتُ بِاثْنَى عَشَرَ طَالِبًا

Datang 12 siswa / aku melihat 12 siswa / aku berpapasan dengan 12 siswa

جَاءَتْ اثْنَتَا عَشْرَةَ طَالِبَةً / رأيتُ اثْنَتَى عَشْرَةَ طَالِبَةً / مَرَرْتُ بِاثْنَتَى عَشْرَةَ طَالِبَةً

Datang 12 siswi / aku melihat 12 siswi / aku berpapasan dengan 12 siswi

Lebih detail terkait hitungan murakkab 11-19 lihat pada pasal Adad dan Ma’dud

  • Hadzani هٰذَانِ (Mudzakkar) dan Haataani هاتَانِ (Muannats)

Contoh:

هٰذَانِ الطَالِبَانِ / رأيتُ هٰذَيْنِ الطَّالِبَيْنِ / مَرَرْتُ بِهٰذَيْنِ الطَّالِبَيْنِ

هاتَانِ الطَالِبَتَانِ / رأيتُ هاتَيْنِ الطَّالِبَتَيْنِ / مَرَرْتُ بِهاتَيْنِ الطَّالِبَيْنِ

Lihat perluasan هٰذَانِ/هاتَانِ pada pasal Isim Isyarah

  • Alladzaani اللَّذَانِ (Mudzakkar) dan Allatanaati اللَّتَانِ

Contoh:

جَاءَ اللَّذَانِ نَجَحَا / رأيتُ اللَّذَيْنِ نَجَحَا / مَرَرْتُ بِالَّذَيْنِ نَجَحَا

جَاءَتْ اللَّتَانِ نَجَحَتَا / رأيتُ اللَّتَيْنِ نَجَحَتَا / مَرَرْتُ بِالَّتَيْنِ نَجَحَا

Lihat perluasan هٰذَانِ/هاتَانِ pada pasal Isim Maushul

  • Kilaa كِلَا (Mudzakkar) dan Kiltaa كِلْتَا (Muannats)

kedua isim ini memiliki dua ketentuan ‘irab

Pertama, dii’rob seperi i’rob mutsanna apabila kedua isim ini diidhofahkan kepada dhomir (kata ganti).

Berikut contoh dan cara ‘irabnya:

ذَهَبَ الطَّالِبَانِ كِلَاهُمَا إِلَى المَدْرَسَةِ

Dua siswa keduanya pergi ke sekolah

كِلَاهُمَا : توكيد مرفوع وعلامة رفعه الألف لأنه ملحق بالمثنى ، وهو مضاف ، و ( هما ) ضمير متصل مبني على السكون في محل جر مضاف إليه

رَأَيْتُ الطَّالِبَيْنِ كِلَيْهِمَا أَمَامَ المَدْرَسَةِ

Aku melihat kedua siswa di depan sekolah

كِلَيْهِمَا : توكيد منصوب وعلامة نصبه الياء لأنه ملحق بالمثنى ، وهو مضاف ، و ( هما ) ضمير متصل مبني على السكون في محل جر مضاف إليه

مَرَرْتُ بِالطَّالِبَيْنِ كِلَيْهِمَا مُبْتَسِمَيْنِ

Aku berpapasan denga kedua siwa (dalam keadaan) mereka berdua tersenyum

كِلَيْهِمَا : توكيد مجرور وعلامة جره الياء لأنه ملحق بالمثنى ، وهو مضاف ، و ( هما ) ضمير متصل مبني على السكون في محل جر مضاف إليه

ذَهَبَتْ الطَّالِبَتَانِ كِلْتَاهُمَا إِلَى المَدْرَسَةِ / رَأَيْتُ الطَّالِبَتَيْنِ كِلْتَيْهِمَا أَمَامَ المَدْرَسَةِ / مَرَرْتُ بِالطَّالِبَتَيْنِ كِلْتَيْهِمَا مُبْتَسِمَتَيْنِ

Kedua, dii’rob seperti isim maqshur yaitu Marfu’ dengan dhammah muqaddarah, Manshub dengan fathah muqaddarah dan Majrur dengan fathah muqaddarah. Apabila kedua isim ini diidhafatkan kepada Isim Dzahir (selain dhamir)

Berikut contoh dan cara ‘irabnya:

َذَهَبَ كِلَا الطَّالِبَيْنِ إِلَى المَدْرَسَةِ

كِلَا : فاعل مرفوع وعلامة رفعه الضمة المقدرة على الألف للتعذر وهو مضاف
الطَّالِبَيْنِ : مضاف إليه

رَأَيْتُ كِلَا الطَّالِبَيْنِ أَمَامَ المَدْرَسَةِ

كِلَا : مفعول به منصوب وعلامة نصبه الفتحة المقدرة على الألف للتعذر وهو مضاف
الطَّالِبَيْنِ : مضاف إليه

مَرَرْتُ بِكِلاَ الطَّالِبَيْنِ أَمَامَ المَدْرَسَةِ

كِلَا : اسم مجرور بحرف الجار وعلامة جره الكسرة المقدرة على الألف للتعذر وهو مضاف
الطَّالِبَيْنِ : مضاف إليه

ذَهَبَتْ كِلَتَا الطَّالِبَتَيْنِ إِلَى المَدْرَسَةِ/ رَأَيْتُ كِلَتَا الطَّالِبَتَيْنِ أَمَامَ المَدْرَسَةِ / مَرَرْتُ بِكِلَتَا الطَّالِبَتَيْنِ أَمَامَ المَدْرَسَةِ

Contoh كلا dalam AlQur’an:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓاْ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ ٱلْكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّۢ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا. سورة الإسراء ٢٣

كلاهما: معطوف على أحدهما مرفوع وعلامة الرفع الألف فهو ملحق بالمثنّى

E. ketentuan Isim-Isim agar bisa dirubah dengan Mutsanna

Mayoriyas Ulama Nahwu menetapkan beberapa syarat agar isim-isim bisa dibentuk dengan Mutsanna yaitu:

  • Harus Mu’rab

Syarat pertama yaitu harus dari kelompok Isim Mu’rab (Isim yang harokat akhirnya berubah-ubah). Adapun untuk kelompok Isim-isim Mabni tidak bisa dirubah dengan Mutsanna kecuali untuk Isim Isyarah dan isim maushul هٰذَا/ هٰذه / الذي / التي meskipun keempat isim ini dalam bentuk Mufradnya termasuk Mabni. Contoh

هٰذَانِ كِتَابَانِ / اشْتَرَيْتُ هٰذَيْنِ كِتَابَيْنِ / اسْتَفَذْتُ مِنْ هٰذَيْنِ كِتَابَيْنِ

Lebih detail terkait hadza dan kawanya lihat pada pasal Isim Isyarah

  • Harus Mufrad

Syarat kedua agar isim bisa dirubah ke bentuk Mutsanna yaitu harus tunggal. Contoh

نَجْمٌ -» نَجْمَانِ / وَلَدٌ -» وَلَدَانِ / كِتَابٌ -» كِتَابَانِ

Dengan demikian Jamak Mudzakkar dan Muannats Salim tidak bisa dibuat menjadi Mutsanna. Adapun untuk Jamak Taksir terkadang bisa dirubah ke bentuk Mutsana seperti

جِمَالٌ -» جِمَالَيْنِ
رَكْبٌ -»رَكْبَيْنِ

kata جِمَالٌ bentuk jamak dari جَمَلٌ (unta) dan (رَكْبٌ) bentuk jamak dari رَاكِبٌ (menunggang)bisa juga bentuk jamaknya رَاكِبُونَ atau رُكَّابٌ

  • Harus Nakirah (umum)

Syarat ketiga agar isim bisa dirubah ke bentuk Mutsanna yaitu harus Nakirah. Dengan demikian untuk Isim Alam tidak bisa dirubah ke Mutsanna maupun Jamak sebab berstatus Makrifat. Terkecuali Isim ‘Alam tersebut akan kehilangan status makrifatnya maka boleh dirubah ke bentuk Mutsanna maupun Jamak Mudzakar Salim. Contoh

زَيْدٌ

Nama Zaid (Mufrad Makrifat)

زَيْدَانِ

Dua nama zaid (Mutsana nakirah)

Apabila Mutsanna lafadz زَيْدَانِ ingin dimakrfatkan kembali, kita mesti menambahkan Alif Lam Ta’rif, Ya’ Nida atau diidhafatkan kepada isim makrifat. Contoh

جاءَ الزَيْدَانِ
يَا زَيْدَانِ
جاءَ زَيْدَاكَ

  • Tidak Murakkab (baik Mazji, Isnadi, Idhafi dan ‘Adadi). Ketentuanya sama seperti yang sudah dibahas sekilas pada pasal Jamak Mudzakkar Salim.

Untuk merubah isim murakkab ini kedalam bentuk Mutsana ketentuanya sebagai berikut:

a. Murakkab Mazji, Isnadi dan ‘Adadi dengan menambahkan kata ذوا

Sebelum lanjut perhatikan terlebih dahulu perubahan kata ذُو

Mufrad Mudzakar (Rafa’, Nashab, Jar)

ذُو / ذَا / ذِي

Mufrad Muannats (Rafa’, Nashab, Jar)

ذَاتُ / ذَاتَ / ذَاتِ

Mutsanna Mudzakar (Rafa’, Nashab, Jar)

ذَوَا / ذَوَيْ / ذَوَيْ

Mutsanna Muannats (Rafa’, Nashab, Jar)

ذَوَتَا / ذَوَتَيْ / ذَوَتَيْ

Jamak Mudzakkar (Rafa’, Nashab, Jar)

ذَوُوْ / ذَوِي / ذَوِي

Jamak Mudzakkar (Rafa’, Nashab, Jar)

ذَوَاتُ / ذَوَاتِ / ذَوَاتِ

Setelah mengetahu perubahan kata ذو selanjunya kita ambil bentuk Mutsanna untuk Mudzakkar dan Muannats agar sesuai dengan pembahasan materi mutsanna yaitu kata ذَوَا dan ذَوَتَا

Kenapa kedua kata ini tidak berakhiran Nun ? Sebab ketika disatukan dalam sebuah kalimat, lafadz ini harus idhafat baik dalam bentuk tunggal, mutsanna dan Jamak. Dengan alasan tersebut maka huruf Nun tidak disertakan agar simple.

Diatas disebutkan bahwa untuk merubah Isim Murakkab Mazjii, Isnadi dan ‘Adadi dengan menambahkan kata ذَوَا atau ذَوَتَا

Kita buat contoh:

  • Murakkab Mazji

جَاءَ ذَوا سيبويه / رَأيتُ ذَوَي سيبويه / مررتُ بِذَوَي سيبويه

Datang dua orang sibawaih / aku mllihat dua orang sibawaih / aku berpapasan dengan dua orang sibawaih

  • Murakkab Isnadi

ذَوا زَيْدٌ نَاجِحٌ/ رَأيتُ ذَوَي زَيْدٌ نَاجِحٌ / مررتُ بِذَوَي زَيْدٌ نَاجِحٌ

  • Murakkab ‘Adadi

ذَوا ثلاثةَ عَشَرَ رَجُلاً / رَأيتُ ذَوَي ثلاثةَ عَشَرَ رَجُلاً / مررتُ بِذَوَي ثلاثةَ عَشَرَ رَجُلاً

Adapun untuk Murakkab Idhafi, caranya yaitu dengan merubah Mudhaf menjadi bentuk Mutsanna tanpa merubah bentuk Mudhaf Ilaih. Contoh

هُمَا عَبْدَا الرحمنِ / رَأيتُ عَبْدَي الرحمنِ / مررتُ بِعَبْدَي الرحمنِ

Referensi:

عباس حسن، النحو الوافي ج١, ص ١١٧-١٣٥

Terkait pasal Mutsanna, Ibnu Malik berkata:

بِالأَلِفِ ارْفَعِ الْمُثَنَّى وَكِلا # إِذَا بِمُضَمَرٍ مُضَافاً وُصِلاَ # كِلْتَا كَذَاكَ اثْنَانِ واثْنَتَان # كَابْنَيْنِ وَابْنَتَينِ يَجْرِيَانِ # وَتَخْلُفُ الْيَا فِي جَمِيعِهَا الأَلِفْ # جَرًّا وَنَصْباً بَعْدَ فَتْحٍ قَدْ أُلِفْ

Rafa’kanlah dengan alif terhadap isim mutsanna dan juga lafadz killa dan kiltaa apabila tersambung dengan dhamir dengan menjadi mudhaf. Begitu jg dengan lafadz itsnaini dan itsnataini sama ‘irabnya seperti Ibnaini dan ibnataini yang keduanya contoh ketika jar. Ya’ menggantikan alif tanda rafa dalam semua isim mutsanna dan mulhaqnya yang terletak setelah harkat fathah yang dipertahankan.

Demikian sekilas tentang pasal isim mutsanana. Walahu’alam. Semoga bermanfaat.

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Advertisement

Tinggalkan Komentar